Dalle, dkk / Tropical Animal Science 7. :194-202 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 Tropical Animal Science. November 2025, 7. :194-202 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PEMETAAN WILAYAH POTENSIAL TERNAK RUMINANSIA MENGGUNAKAN ANALISIS LQ DAN ArcGIS KABUPATEN MANGGARAI TAHUN 2024 MAPPING OF RUMINANT LIVESTOCK POTENTIAL AREAS USING LQ and ArcGIS ANALYSIS OF MANGGARAI REGENCY IN 2024 Nautus Stivano Dalle1*. Hilarius Yosef Sikone1. Hendrikus Demon Tukan1. Juni Sumarmono2. Nurdin3. Maria Dortiana Sijung4 Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus RutengIndonesia 2Fakultas Peternakan. Universitas Jendral Soedirman. Indonesia 3Fakultas Pertanian. Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia 4Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai-NTT. Indonesia *Corresponding Author: ivandalle23@gmail. ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk memetakan wilayah potensial peternakan ternak ruminansia di Kabupaten Manggarai berdasarkan hasil perhitungan Location Quontient (LQ). Penelitian menggunakan perhitungan LQ kemudian diinterpretasikan pada peta menggunakan aplikasi ArcGIS. Data populasi ternak di Kabupaten Manggarai didapatkan dari data Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai tahun 2024 berdasarkan 12 Kabupaten di Kabupaten Manggarai. Berdasarkan hasil perhitungan wilayah Kecamatan Satar Mese. Satar Mese Barat. Satar Mese Utara. Ruteng. Cibal Barat. Reok dan Reok Barat mendapatkan hasil LQ>1 untuk komuditi ternak sapi. Sedangkan di Wilayah Kecamatan Satar Mese. Satar Mese Utara. Satar Mese Barat. Rahong Utara. Cibal Barat dan Cibal juga mendapatkan hasil LQ>1 untuk komuditi ternak Kerbau. Dan untuk wilayah Satar Mese Barat. Cibal. Cibal Barat. Reok Barat dan Rahong Utara mendapatkan hasil LQ>1 untuk ternak kambing. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemerintah daerah harus menunjang upaya peningkatan produksi ternak berdasarkan dengan hasil perhitungan LQ<1 seperti kecamatan Langke Rembong. Wae RiAoi dan Lelak. Kata Kunci: Pemetaan wilayah. Location Quontient. ArcGIS. ABSTRACT This study aims to map the potential area of ruminant livestock farming in Manggarai Regency based on the results of the Location Quontient (LQ) calculation. This study uses LQ calculations and then interprets them on maps using ArcGIS applications. Livestock population data in Manggarai Regency was obtained from data from the Manggarai Regency Livestock Service in 2024 based on 12 districts in Manggarai Regency. Based on the results of the calculation of the sub-districts of Satar Mese. Satar Mese Barat. Satar Mese Utara. Ruteng. West Cibal. Reok and West Reok, the results of LQ>1 for cattle commodities were obtained. Meanwhile, in the Satar Mese. North Satar Mese. West Mese Satar. North Dalle, dkk / Tropical Animal Science 7. :194-202 Rahong. West Cibal and Cibal sub-districts also received LQ>1 results for buffalo livestock commodities. And for the areas of West Mese Star. Cibal. West Cibal. West Reok and North Rahong, the results of LQ>1 for goat livestock were obtained. The conclusion of this study is that local governments must support efforts to increase livestock production based on the results of the LQ<1 calculation such as Langke Rembong. Wae Ri'i and Lelak sub-districts. Keywords: Area Mapping. Location Quontient. ArcGIS. PENDAHULUAN Sektor peternakan merupakan salah satu sektor strategis dalam pembangunan ekonomi nasional maupun daerah, terutama dalam penyediaan pangan asal hewani yang bergizi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan pendapatan masyarakat (Azis et al. , 2. Diantara berbagai jenis ternak yang Indonesia, ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba memiliki peranan penting karena mampu memanfaatkan limbah pertanian dan padang rumput sebagai sumber pakan, serta produk-produk ekonomi tinggi seperti daging, susu, kulit, dan pupuk organik. Kabupaten Manggarai, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk pengembangan peternakan ruminansia. Kondisi geografis yang sebagian besar berupa lahan kering, padang penggembalaan, serta ketersediaan sumber daya pakan lokal menjadikan daerah ini cukup ideal untuk pengembangan ternak ruminansia (Dalle et al. Selain itu, sebagian besar masyarakat Manggarai menggantungkan hidupnya pada sektor pembangunan subsektor peternakan memiliki nilai strategis dalam menunjang ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan, dan pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi Namun, pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten Manggarai masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah belum adanya pemetaan wilayah potensial yang berbasis data spasial dan analisis kuantitatif untuk mengetahui daerah mana yang benar-benar unggul dan layak dikembangkan sebagai sentra ternak ruminansia (Nursan & Septiadi. Selama ini, perencanaan pembangunan peternakan cenderung bersifat umum dan belum spesifik lokasi . ite specifi. , sehingga pengalokasian sumber daya dan intervensi program sering kali tidak optimal (Zahra et al. Oleh karena itu, diperlukan suatu mengidentifikasi wilayah dengan keunggulan komparatif dalam produksi ternak ruminansia. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi wilayah adalah analisis Location Quotient (LQ). Analisis ini digunakan untuk mengukur tingkat spesialisasi suatu sektor di wilayah tertentu dibandingkan dengan wilayah yang lebih luas . isalnya kabupaten terhadap provins. (Wijaya & Hasanah, 2. Pendekatan LQ dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu kecamatan di Kabupaten Manggarai memiliki keunggulan dibandingkan dengan daerah lainnya di tingkat provinsi. Nilai LQ > 1 menunjukkan bahwa sektor tersebut menjadi basis atau sektor unggulan di wilayah tersebut. Selain LQ, teknologi sistem informasi geografis (SIG) seperti ArcGIS juga menjadi alat yang sangat penting dalam mendukung perencanaan pembangunan peternakan yang berbasis ArcGIS memungkinkan visualisasi, analisis, dan interpretasi data spasial serta integrasi berbagai variabel pendukung seperti penggunaan lahan, topografi, ketersediaan air, dan jaringan infrastruktur (Hildawati et al. Dalle, dkk / Tropical Animal Science 7. :194-202 Penggabungan hasil analisis LQ dan pemetaan berbasis ArcGIS dapat dihasilkan informasi yang lebih komprehensif tentang distribusi spasial potensi pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten Manggarai. Kegiatan pemetaan wilayah potensial ternak ruminansia menggunakan pendekatan analisis LQ dan ArcGIS, diharapkan dapat wilayah-wilayah . yang layak menjadi sentra Informasi ini akan sangat berguna bagi dinas peternakan, penyuluh, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun kebijakan, program, dan intervensi pembangunan peternakan yang lebih terarah dan berbasis data. Dengan demikian, penelitian ini akan menjadi langkah strategis dalam mendukung pengembangan peternakan yang berkelanjutan, efisien, dan berbasis potensi lokal, serta sebagai upaya peningkatan daya saing sektor peternakan di Kabupaten Manggarai secara keseluruhan. MATERI DAN METODE Data populasi ternak ruminansia untuk setiap kecamatan didapatkan dari Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai dari tahun Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2025 di Kabupaten Manggarai. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi penelitian mencakup 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Manggarai dengan fokus pada analisis subsektor peternakan, khususnya ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, dan Analisis mengukur tingkat keunggulan komparatif subsektor peternakan ruminansia di setiap Rumus LQ berdasarkan Isyanto et , . adalah sebagai berikut: ycyeO/ycyei LQ= ycAyeO/ycAyei kecamatan . Et (Total populasi ternak semua jenis di kecamatan . Ni (Jumlah populasi ternak ruminansia di seluruh kabupate. , dan Nt (Total populasi ternak semua jenis di seluruh Nilai LQ diinterpretasi sebagai berikut: LQ > 1 (Subsektor peternakan ruminansia merupakan sektor basis . di kecamatan tersebu. LQ = 1 (Subsektor peternakan ruminansia memiliki peran yang sama dengan tingkat kabupate. , dan LQ < 1 (Subsektor peternakan ruminansia bukan merupakan sektor Hasil perhitungan LQ kemudian divisualisasikan dalam bentuk peta tematik menggunakan aplikasi ArcGIS. Proses ini meliputi: . Input data LQ ke dalam atribut shapefile kecamatan. Klasifikasi wilayah berdasarkan nilai LQ . ategori basis, nonbasi. Pembuatan peta wilayah potensial ternak ruminansia berbasis spasial. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis LQ ternak ruminansia di 12 Kecamatan di Manggarai dapat dilihat pada Berdasarkan hasil analisis LQ, sebanyak 7 kecamatan memiliki nilai LQ > 1 yaitu Kecamatan Satar Mese. Satar Mese Barat. Satar Mese Utara. Ruteng. Cibal Barat. Reok dan Reok Barat sehingga dapat diprioritaskan sebagai zona basis pengembangan sapi potong Kabupaten Manggarai. Nilai menunjukkan bahwa proporsi populasi ternak sapi di kecamatan-kecamatan tersebut lebih rata-rata kabupaten, sehingga menjadikannya sebagai wilayah basis atau unggulan dalam subsektor peternakan sapi. Nilai LQ yang tinggi mengindikasikan adanya konsentrasi produksi ternak sapi yang signifikan, baik karena faktor ketersediaan lahan penggembalaan, kecocokan iklim dan topografi, maupun tradisi masyarakat yang telah lama membudidayakan sapi, khususnya sapi Bali (Sheil et al. , 2. Keterangan dari rumus LQ yaitu Ei (Jumlah populasi ternak ruminansia di Tabel 1. Hasil Analisis LQ Termak Ruminansia Dalle, dkk / Tropical Animal Science 7. :194-202 Ternak Sapi Ternak Kerbau Ternak Kambing Satar Mese 2,4739 1,3664 0,8666 Satar Mese Barat 1,4228 4,4084 3,8135 Satar Mese Utara 1,3701 1,2890 0,6816 Langke Rembong 0,2719 0,1875 0,3764 Ruteng 1,1368 0,5703 0,5704 Wae Ri'i 0,2961 0,4543 0,6383 Lelak 0,1220 0,9563 0,7887 Rahong Utara 0,3275 1,7587 1,7107 Cibal 0,3016 1,7196 1,4692 Cibal Barat 1,3584 1,3712 1,6302 Reok 2,0873 0,5671 0,8810 Reok Barat 1,9877 0,7884 1,3056 Kecamatan Keterangan: Wilayah dengan nilai LQ<1 merupakan wilayah nonbasis ternak ruminansia Wilayah dengan nilai LQ>1 merupakan wilayah basis ternak ruminansia Sementara itu, 5 kecamatan lainnya yaitu Kecamatan Langke Rembong. Wae RiAoi. Lelak. Rahong Utara dan Cibal memiliki nilai LQ < 1, penguatan program peternakan untuk mendongkrak kontribusi mereka terhadap sektor peternakan sapi potong kabupaten Manggarai. Hal ini berarti bahwa kontribusi peternakan sapi potong di lima kecamatan tersebut terhadap total output sektor peternakan kabupaten masih di bawah ratarata, dan belum mampu memenuhi kebutuhan lokal secara optimal, apalagi berkontribusi dalam skala yang lebih luas seperti ekspor ke kecamatan lain. Rendahnya nilai LQ dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti keterbatasan sumber daya manusia, minimnya penerapan teknologi peternakan, kurangnya akses terhadap pasar dan fasilitas pendukung, serta lemahnya kelembagaan peternak yang ada. Kondisi mencerminkan adanya ketimpangan pengembangan sektor peternakan sapi potong di Kabupaten Manggarai, yang apabila dibiarkan dapat memperlambat pertumbuhan sektor secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang bersifat strategis dan berkelanjutan, seperti peningkatan kapasitas peternak melalui pelatihan dan penyuluhan, penyediaan sarana produksi peternakan, serta pembentukan kelompok atau koperasi ternak yang kuat. Dengan penguatan program-program tersebut, diharapkan kelima kecamatan tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan kontribusinya terhadap sektor peternakan sapi potong, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih merata dan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai. Pemetaan wilayah ternak kerbau berdasarkan hasil analisis LQ yaitu sebanyak 6 kecamatan memiliki nilai LQ > 1 yaitu Kecamatan Satar Mese. Satar Mese Utara. Satar Mese Barat. Rahong Utara. Cibal Barat dan Cibal sehingga dapat diprioritaskan sebagai zona basis pengembangan ternak kerbau di Kabupaten Manggarai. Nilai LQ kerbau yang kecamatan-kecamatan menunjukkan bahwa masyarakat setempat telah lama menggantungkan ekonomi rumah tangga mereka pada pemeliharaan kerbau, baik sebagai alat kerja, sumber tabungan keluarga, maupun untuk keperluan adat (Syarifuddin et al. , 2. Produksi daging kerbau meskipun secara kuantitas lebih kecil Dalle, dkk / Tropical Animal Science 7. :194-202 dibanding sapi, namun secara nilai sosial dan ekonomi tetap memiliki peran penting dalam pasar lokal dan budaya Manggarai. Contohnya daging ternak kerbau biasanya digunakan dalam ritual adat seperti penti, caci, dan pemakaman adat seperti ritual kilo atau ka duwa (Urak & Saffanah, 2. Sementara itu, 6 kecamatan lainnya yaitu Kecamatan Reok Barat. Reok. Wae RiAoi. Langke Rembong. Ruteng dan Lelak memiliki nilai LQ< 1, menandakan perlunya intervensi dan penguatan program peternakan untuk mendongkrak kontribusi mereka terhadap sektor peternakan ruminansia kabupaten Manggarai. Nilai Location Quotient (LQ) yang kurang dari 1 pada enam kecamatan di Kabupaten Manggarai, yaitu Reok Barat. Reok. Wae RiAoi. Langke Rembong. Ruteng, dan Lelak, menunjukkan bahwa subsektor peternakan ruminansia di wilayah-wilayah ini bukan merupakan sektor basis atau unggulan. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh keterbatasan lahan untuk penggembalaan dan produksi hijauan makanan ternak. Kecamatan seperti Langke Rembong dan Ruteng, misalnya, merupakan pusat kota dan pemukiman padat, di mana penggunaan lahan lebih dominan untuk kegiatan non-pertanian, seperti permukiman, fasilitas umum, dan Keterbatasan ruang terbuka ini menyebabkan sulitnya menyediakan hijauan dalam jumlah yang mencukupi, sehingga peternak harus membeli atau mendatangkan pakan dari luar, yang berdampak pada tingginya biaya produksi dan rendahnya efisiensi pemeliharaan ternak (Rusdiana & Praharani, 2. Pemetaan wilayah ternak kambing berdasarkan hasil analisis LQ sebanyak 5 kecamatan memiliki nilai LQ > 1 Satar Mese Barat. Cibal. Cibal Barat. Reok Barat dan Rahong Utara sehingga dapat diprioritaskan sebagai zona basis pengembangan ternak kambing di Kabupaten Manggarai. Nilai LQ > 1 di wilayah ini mengindikasikan bahwa berkembang secara intensif dibanding kecamatan lainnya. Hal ini mungkin didorong oleh faktor sosial ekonomi masyarakat yang lebih memilih ternak kecil dengan siklus reproduksi cepat, serta karena kambing relatif lebih mudah dipelihara dalam skala kecil dan memerlukan investasi awal yang rendah (Arezhi et al. , 2. Selain itu, kebutuhan pasar terhadap daging kambing cenderung stabil, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan dan upacara adat. Sementara itu, 7 kecamatan lainnya yaitu Kecamatan Reok. Wae RiAoi. Langke Rembong. Ruteng. Lelak. Satar Mese Utara dan Satar Mese memiliki nilai LQ < 1, penguatan program peternakan untuk mendongkrak kontribusi mereka terhadap sektor peternakan kambing kabupaten Manggarai. Pemetaan ruminansia pada 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Manggarai menggunakan aplikasi ArcGIS dapat dilihat pada gambar 1. Produksi hijauan makanan ternak (HMT) di Kabupaten Manggarai merupakan Berdasarkan kondisi geografis dan agroekologi wilayah, beberapa kecamatan di Kabupaten Manggarai memiliki potensi alamiah untuk mendukung ketersediaan pakan hijauan sepanjang tahun. Wilayah seperti Kecamatan Satar Mese. Satar Mese Barat, dan Satar Mese Utara diketahui memiliki topografi yang cukup terbuka dengan vegetasi padang rumput alami yang Keberadaan lahan ini menjadikan wilayah tersebut tidak hanya potensial dalam pengembangan ternak, tetapi juga sebagai sumber utama hijauan segar yang sangat diperlukan dalam sistem pemeliharaan ruminansia berbasis penggembalaan maupun semi-intensif. Dalle, dkk / Tropical Animal Science 7. :194-202 Gambar 1. Pemetaan Wilayah Peternakan Ruminansia Potensial di Kabupaten Manggarai Keterangan: : Wilayah dengan basis Ternak Kambing. Sapi dan Kerbau berdasarkan hasil perhitungan (LQ>. : Wilayah dengan Basis Ternak Sapi dan Kerbau berdasarkan hasil perhitungan (LQ>. : Wilayah dengan Basis Ternak Sapi berdasarkan hasil perhitungan (LQ>. : Wilayah dengan Basis Ternak Kambing dan Kerbau berdasarkan hasil perhitungan (LQ>. : Wilayah dengan Basis Ternak Kambing dan Sapi berdasarkan hasil perhitungan (LQ>. : Wilayah dengan hasil perhitungan LQ < 1 : Batas Wilayah Manggarai Barat dan Manggarai Timur: Hijauan makanan ternak (HMT) merupakan faktor penentu utama dalam sistem budidaya ternak ruminansia, karena ternak jenis ini sangat bergantung pada ketersediaan pakan berserat sebagai sumber energi dan protein utama. Di Kabupaten Manggarai, ketersediaan dan potensi produksi HMT sangat bervariasi antar kecamatan, dan hal ini tercermin dalam analisis nilai Location Quotient (LQ) untuk komoditas ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, dan kambing. Nilai LQ menjadi indikator tidak langsung terhadap ketersediaan pakan alami, karena tingginya konsentrasi populasi ternak di suatu wilayah biasanya didukung oleh kondisi pakan lokal yang cukup. Wilayah-wilayah yang memiliki nilai LQ>1, seperti Kecamatan Satar Mese. Satar Mese Barat. Satar Mese Utara. Cibal Barat. Reok, dan Reok Barat dapat dikatakan memiliki potensi produksi HMT yang tinggi. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut memiliki lahan yang relatif luas, topografi yang mendukung pertumbuhan vegetasi padang rumput, dan kondisi iklim yang cocok untuk pengembangan hijauan alami maupun budidaya rumput unggul. Di wilayah ini, sistem penggembalaan tradisional masih banyak diterapkan, sehingga ternak dapat memanfaatkan padang rumput, semak liar, dan tanaman leguminosa yang tumbuh secara Selain itu, praktik budidaya hijauan secara konvensional di pekarangan dan ladang berpola campuran dengan tanaman pangan juga cukup banyak dijumpai. Ketersediaan hijauan yang cukup memungkinkan peternak di daerah basis ini memelihara ternak dalam jumlah relatif besar, baik untuk tujuan konsumsi rumah tangga maupun untuk pasar. Namun demikian, meskipun wilayah basis ini memiliki potensi HMT yang besar, produktivitasnya masih belum optimal. Dalle, dkk / Tropical Animal Science 7. :194-202 Pengelolaan padang penggembalaan masih bersifat ekstensif dan kurang terkendali, yang berpotensi menyebabkan overgrazing dan degradasi lahan. Selain itu, kesadaran peternak untuk membudidayakan rumput unggul seperti rumput gajah, rumput raja, atau lamtoro masih terbatas. Untuk itu, dibutuhkan intervensi berupa pelatihan teknis dan penyediaan benih hijauan berkualitas guna meningkatkan produktivitas lahan pakan dan menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun, termasuk di musim kemarau. Sebaliknya, di wilayah dengan nilai LQ < 1 seperti Kecamatan Langke Rembong. Wae RiAoi. Lelak. Ruteng, dan sebagian Rahong Utara, kondisi produksi hijauan makanan ternak tergolong terbatas. Faktor pembatas utama di wilayah ini adalah keterbatasan lahan terbuka untuk penggembalaan, padatnya permukiman, serta orientasi pertanian yang lebih difokuskan pada tanaman pangan. Kondisi ini menyebabkan peternak sulit mengandalkan hijauan alami sebagai sumber utama pakan ternak. Sebagian besar peternak di daerah ini harus mengandalkan pakan tambahan, limbah pertanian seperti jerami, dan bahkan membeli hijauan dari luar Akibatnya, pemeliharaan ternak di wilayah ini menjadi kurang efisien dan kurang berkembang jika dibandingkan dengan wilayah basis. Selain keterbatasan lahan, keterbatasan pengetahuan mengenai teknik budidaya hijauan di lahan sempit juga menjadi tantangan serius. Praktik pembuatan kebun pakan atau silase belum banyak dikenal, padahal strategi ini sangat cocok diterapkan di wilayah-wilayah dengan tekanan lahan tinggi. Penelitian Khusnawati & Kusuma, . menyatakan bahwa penggunaan teknologi vertikultur, integrasi dengan limbah organik, serta pemanfaatan lahan marginal dapat meningkatkan produksi pakan hijauan di wilayah perkotaan atau dataran tinggi yang Pemerintah Kabupaten Manggarai perlu melihat disparitas ini sebagai peluang untuk merumuskan kebijakan produksi hijauan yang adaptif. Di wilayah basis dengan LQ > 1, pengelolaan padang penggembalaan, konservasi rumput, dan intensifikasi kebun pakan perlu digalakkan untuk menjaga keberlanjutan produksi. Sementara di wilayah non-basis dengan LQ < 1, pendekatan yang lebih inovatif seperti penggunaan teknologi budidaya pakan di pekarangan, pengolahan limbah menjadi pakan fermentasi, dan pemanfaatan tanaman sela perlu dipromosikan secara aktif kepada Pengelolaan hijauan yang tepat dan berbasis wilayah, maka produktivitas ternak signifikan dan merata di seluruh Kabupaten Manggarai. Hal ini menjadi fondasi penting dalam mendukung visi daerah untuk menjadikan subsektor peternakan sebagai salah satu pilar ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat perdesaan. Peran pemerintah daerah menjadi sangat Hasil pemetaan ini harus dijadikan acuan dalam perencanaan pembangunan subsektor peternakan yang lebih spesifik lokasi . ite-specifi. Pemerintah perlu menetapkan kecamatan-kecamatan dengan nilai LQ tinggi ruminansia berbasis komoditas. Di sisi lain, wilayah non-basis perlu mendapatkan intensifikasi, pelatihan teknis, pemberdayaan infrastruktur penunjang seperti jalan produksi, fasilitas pengolahan, dan sistem distribusi Selain penyusunan rencana tata ruang berbasis komoditas peternakan, serta pengembangan kemitraan antara peternak, koperasi, dan sektor swasta perlu didorong untuk menciptakan rantai nilai ternak yang berkelanjutan dan kompetitif. Temuan ini juga menguatkan berbagai studi sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Asis et al. , . dan Rusdiana & Praharani, . , bahwa analisis kuantitatif seperti LQ dan pendekatan spasial berbasis GIS sangat membantu dalam menata kembali strategi pembangunan Dalle, dkk / Tropical Animal Science 7. :194-202 peternakan daerah agar lebih berbasis potensi nyata dan kebutuhan lokal. Dengan demikian, produksi hijauan yang memadai, distribusi populasi ternak yang merata sesuai potensi wilayah, serta kebijakan pemerintah yang tepat sasaran akan menjadi fondasi penting dalam ruminansia yang berdaya saing tinggi di Kabupaten Manggarai. KESIMPULAN Analisis Location Quotient (LQ) pada beberapa kecamatan di wilayah Manggarai menunjukkan potensi unggulan dalam komoditas ternak tertentu. Kecamatan Satar Mese. Satar Mese Barat. Satar Mese Utara. Ruteng. Cibal Barat. Reok, dan Reok Barat memiliki potensi unggul dalam komoditas ternak sapi (LQ>. Kecamatan Satar Mese. Satar Mese Utara. Satar Mese Barat. Rahong Utara. Cibal Barat, dan Cibal unggul dalam komoditas ternak kerbau. Untuk ternak kambing, potensi unggulan terdapat di Kecamatan Satar Mese Barat. Cibal. Cibal Barat. Reok Barat, dan Rahong Utara. Pemerintah daerah perlu memberikan perhatian dan dukungan lebih kepada kecamatan yang memiliki nilai LQ<1, seperti Langke Rembong. Wae RiAoi, dan Lelak, guna mendorong peningkatan produksi dan pemerataan potensi ternak di seluruh wilayah. DAFTAR PUSTAKA