Jurnal Citra Pendidikan Volume 2 Nomor 3 Tahun 2022 ISSN 2775-1589 Hal. (JCP) http://jurnalilmiahcitrabakti. id/jil/index. php/jcp/index PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE ROTATING TRIO EXCHANGE UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 SUKASADA Ni Putu Suyasmini SD Negeri 2 Sukasada Irapratiwidesak96@gmail. Abstract This study aim was improvement students learning activeness and students learning achievement of rotating trio exchange type cooperative learning model implementation. This study was an action research conducted in two cycles. Subjects were student class V of SD Negeri 2 Sukasada academic year 2019/2020, which consist of 19 people. Learning activity data is collected by observation sheets and students learning achievement data by learning tests. The data obtained, analyzed by descriptive statistics. The result shows that . there are improvement in students learning activeness from first cycle is 57,92% enough categories to 71,08% active categories in second cycle, . an improvement in the average value of students learning achievement from first cycle . verage 65, absorption 65% medium category, learning mastery 63,16%) to the second cycle . verage 70,79, absorption 70,79% high category, and learning mastery 78,95%). Based on this result, it could be concluded that the implementation of rotating trio exchange type cooperative learning model implementation could improve the studentAos activeness and learning achievement of mathematics student class V of SD Negeri 2 Sukasada academic year 2019/2020. Abstrak Penelitian ini bertujuan meningkatkan keaktifan belajar siswa dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Sukasada Semester ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 19 orang. Data keaktifan belajar dikumpulkan dengan lembar observasi dan data hasil belajar siswa dengan tes belajar. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil analisis menunjukan bahwa . terjadi peningkatan keaktifan belajar siswa dari siklus I yaitu 57,92% katagori cukup menjadi 71,08% katagori aktif pada siklus II. terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I . ata-rata 65, daya serap 65% katagori sedang, ketuntasan belajar 63,16%) ke siklus II ( rata-rata 70,79, daya serap 70,79% katagori tinggi, dan ketuntasan belajar 78,95%). Dapat disimpulkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika pada siswa kelas V SD Negeri 2 Sukasada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Article History Received:20-04-2022 Reviewed:25-06-2022 Published:30-07-2022 Key Words achievement, and learning model Sejarah Artikel Diterima:20-04-2022 Direview:25-06-2022 Disetujui:30-07-2022 7 Kata Kunci keaktifan belajar, hasil pembelajaran kooperatif Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 591 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek yang penting bagi suatu bangsa. Pemerintah dapat mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki secara maksimal melalui pendidikan, untuk mencapai kesejahteraan bangsa dan membentuk manusia yang berkualitas serta bertanggung jawab terhadap tugasnya. Pendidikan juga menjadi tolak ukur suatu bangsa untuk dapat bersaing dalam dunia internasional. Sebagai fondasi, pendidikan memberi bekal ilmu pengetahuan, mengembangkan potensi bagi siswa, dan sarana transfer Hal tersebut diperkuat dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional menurut UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dalam Bab II Pasal 3 yaitu: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta membentuk peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. SD Negeri 2 Sukasada merupakan salah satu sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 dalam sistem pembelajarannya. Kurikulum tersebut memprioritaskan aspek keaktifan siswa dalam pembelajaran, dengan kata lain siswa sebagai pusat pembelajaran . tudent cente. sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator saja. Namun kenyataan di lapangan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar masih konvensional, lebih menekankan pada pengajaran dari pada pembelajaran. Pembelajaran berpusat pada siswa tersebut masih belum maksimal, yang berdampak terhadap keaktifan siswa yang masih kurang hal ini terlihat saat proses pembelajaran berlangsung, hanya ada 2 sampai 4 siswa yang bertanya kepada guru. Sedangkan siswa lainnya enggan bertanya tentang materi yang belum dipahami dengan alasan takut. Demikian juga saat diskusi banyak siswa yang masih bergantung pada siswa lain dalam mengerjakan tugas diskusi. Hanya beberapa siswa yang dapat menjawab pertanyaan ketika guru bertanya tentang materi yang Selain mengamati keaktifan siswa saat pembelajaran, dilakukan juga observasi hasil belajar siswa yang diperoleh dari hasil ulangan harian siswa. Hasil ulangan harian siswa menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar 53,68, daya serap 53,68% katagori rendah, dan ketuntasan belajar 42,11%, masih banyak siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Batas KKM mata pelajaran matematika kelas V yaitu 65. Sebagai langkah awal untuk mencari factor-faktor penyebab rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa maka peneliti melakukan pengamatan langsung di SD Negeri 2 Sukasada. Dari pengamatan langsung ini diperoleh temuan-temuan sebagai berikut: . Model dan metode pembelajaran matematika yang digunakan selama ini masih didominasi metode ceramah dan tanya jawab, hanya sekali-sekali diterapkan metode diskusi dan . Strategi pembelajaran matematika yang diterapkan guru selama ini, siswa Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 595 terlebih dahulu disajikan sejumlah konsep atau prinsip, setelah itu siswa diberikan sejumlah soal atau masalah, dan pembelajaran lebih menekankan pada produk. Interaksi dalam pembelajaran kurang bersifat multiarah, pembelajaran masih didominir guru, siswa duduk manis mendengarkan materi pelajaran dari guru. Pembelajaran di atas tidak sejalan dengan hakekat belajar dan mengajar menurut pandangan konstruktivisme. Belajar menurut kaum kontruktivis merupakan proses aktif pebelajar mengkontruksi arti, menciptakan makna dari apa yang dipelajari. Belajar juga merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertian dikembangkan (Suparno,1997:. Di lain pihak pembelajaran matematika yang hanya menekankan produk seperti menghapal konsep-konsep, prinsip-prinsip atau rumus tidak memberikan kesempatan kepada siswa terlibat aktif dalam menemukan makna dari apa yang dipelajari. Belajar aktif berarti proses mempelajari sesuatu dengan cepat, menyenangkan, penuh semangat, dan siswa terlibat secara langsung dengan sesuatu yang Silberman . berpendapat bahwa kegiatan belajar bersifat aktif apabila siswa akan mengupayakan sesuatu, misalnya siswa menginginkan suatu jawaban atas sebuah pertanyaan, membutuhkan suatu informasi untuk memecahkan masalah, atau mencari cara untuk mengerjakan suatu tugas, saat itulah belajar dikatakan aktif. Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada siswa secara bebas dapat terlibat aktif dalam kelompok masing-masing, sehingga terbentuk komunitas pembelajaran yang saling membantu satu sama lain (Huda, 2016:. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Model pembelajaran kooperatif tipe Rotating Trio Exchange (RTE). RTE memiliki langkah terperinci bagi siswa guna mendiskusikan permasalahan dengan sebagian teman sekelas mereka (Silberman, 2016:. Rotasi kelompok yang terjadi dalam model pembelajaran ini memungkinkan ada banyaknya pertukaran pendapat antar siswa yang terjadi, sehingga siswa akan memiliki konsep yang lebih luas terkait dengan materi yang diajarkan. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu diadakan penelitian dalam proses pembelajaran untuk mengetahui peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange (RTE). Silberman . 6: . menyebutkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange (RTE) merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif bagi siswa untuk berdiskusi tentang berbagai masalah pembelajaran dengan beberapa anak di dalam kelas. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange (RTE), diharapkan siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan belajar bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan terutama dalam mata pelajaran matematika. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, diperlukan upaya untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan menguji cobakan penerapan model pembelajaran kooperatif Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 596 tipe Rotating Trio Exchange (RTE). Oleh karena itu, dilaksanakan penelitian tindakan kelas yang berjudul AuPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Rotating Trio Exchange (RTE) untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Negeri 2 Sukasada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020Ao. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Sukasada dengan alamat Desa Bakung kecamatan Sukasada kabupaten Buleleng. Adapun batas sekolah SD Negeri 2 Sukasada adalah berbatasan dengan sungai di sebelah barat, sedangkan di sebelah timur dan utara berbatasan dengan rumah penduduk setempat, sedangkan batas sebelah selatan adalah jalan kabupaten yang menghubungkan antara kelurahan Sukasada dengan desa Sari Mekar. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap yakni tahap pra-tindakan dan tahap pelaksanaan penelitian. Tahap pra-tindakan merupakan tahap sebelum memulai siklus PTK. Sedangkan tahap pelaksanaan penelitian terdiri dari siklus I dan siklus II, dimana masingmasing siklus terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan yaitu data keaktifan dan hasil belajar siswa, maka digunakan observasi keaktifan dan teknik tes hasil belajar. Observasi keaktifan dilaksanakan saat pelaksanaan tindakan dan tes dilakukan setiap akhir siklus guna melihat hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran. Teknik tes tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. AyMetode tes adalah cara memperoleh data yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan oleh seseorang atau kelompok orang yang dites. Dari tes dapat menghasilkan skor yang selanjutnya dibandingkan dengan kriteria tertentuAy ( Agung, 1999 : . Berpedoman pada cara pengumpulan data seperti diuraikan di atas maka instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan butir soal tes yang digunakan untuk mengumpulkan data keaktifan dan hasil belajar siswa. Keaktifan belajar siswa yang diamati selama pembelajaran terdiri atas 13 indikator. Lembar observasi yang digunakan menggunakan pernyataan AuYaAy yang bernilai 1 dan AuTidakAy yang Nilai yang diperoleh siswa pada setiap indikator dicatat dalam lembar observasi . Langkah-langkah yang dilakukan yaitu: . Skor dari setiap indikator keaktifan siswa dijumlahkan untuk mengetahui nilai total keaktifan masing-masing indikator dan masingmasing siswa. Perolehan nilai total keaktifan setiap indikator dari setiap siswa dibandingkan dengan jumlah skor maksimal yang ditentukan . kor maksimal adalah jumlah siswa dalam pertemuan it. Persentase keaktifan siswa dalam satu indikator dapat dihitung dengan membandingkan skor setiap indikator yang diperoleh dengan jumlah siswa dikalikan 100% (Prosentase Keaktifan Tiap Indikator= y100%). JmlX . Persentase keaktifan siswa dalam satu kelas dapat dihitung dengan membandingkan nilai total setiap Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 597 indikator dengan perkalian jumlah poin indikator dan jumlah siswa dan dikalikan 100% (Prosentase Keaktifan Kelas = = y100%) jmlIxJmlX Ket : jmlskor I = Jumlah Skor Indikator jmlI x JmlX = Jumlah Indikator x Jumlah Siswa Pedoman penggolongan keaktifan belajar siswa pada penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Rotating Trio Exchange dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1 Pedoman Penggolongan Keaktifan Belajar Siswa KRITERIA KATAGORI 81 C x O 100 Sangat Aktif 61 C x O 80 Aktif 41 C x O 60 Cukup 21 C x O 40 Kurang 0 C x O 20 Sangat Kurang Penelitian tindakan kelas untuk mengetahui keaktifan belajar siswa ini dikatakan berhasil apabila keaktifan belajar siswa secara klasikal minimal berada dalam katagori aktif. Hasil belajar siswa yang berupa daya serap dikonversikan dengan PAP skala 5 untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa secara klasikal. Kriteria tersebut dapat dilihat dalam tabel 2 berikut. Tabel 2 Kriteria Hasil Belajar Siswa berdasarkan Daya Serap TINGKAT PENGUASAAN KATAGORI 85% - 100% Sangat Tinggi 70% - 84% Tinggi 55% - 69% Sedang 40% - 54% Rendah 0 % - 39% Sangat Rendah Adapun kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila nilai daya serap yang dicapai pada penelitian ini adalah 65% dan 75% dari keseluruhan siswa memperoleh nilai minimal 65. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Rekapitulasi hasil observasi keaktifan belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatife tipe rotating trio exchange pada siswa kelas V SD Negeri 2 Sukasada semester ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 disampaikan dalam tabel 3 sebagai Tabel 3. Rekapitulasi Prosentase Keaktifan Belajar Siswa pada Prasiklus. Siklus I dan Siklus II ASPEK YANG DIAMATI GURU PRA SIKLUS SIKLUS SIKLUS Memperhatikan penjelasan guru Mendengarkan penjelasan guru Berani menjawab pertanyaan dari guru Menulis pertanyaan tentang materi yang belum Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 598 Bertanya tentang materi yang belum dipahami kepada teman Menjawab pertanyaan dari teman yang belum paham materi Mengemukakan pendapat saat diskusi Mendengarkan pendapat teman saat diskusi Mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk Bekerjasama dalam menyelesaikan tugas Membuat rangkuman hasil diskusi Memperhatikan saat pembahasan hasil diskusi Mendengarkan saat pembahasan hasil diskusi Rata-rata 41,85% 57,92% 71,08% Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui rata-rata persentase keaktifan siswa pada prasiklus 41,85% katagori cukup. Pada siklus I rata-rata persentase keaktifan 57,92% katagori cukup, sedangkan pada siklus II rata-rata persentase keaktifan menjadi 71,08% katagori aktif. Berdasarkan temuan tersebut berarti keaktifan belajar siswa meningkat dari prasiklus dan siklus I katagori cukup ke siklus II katagori aktif. Dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange dapat meningkatkan keaktifan belajar Rekapitulasi hasil belajar siswa dan ketuntasan belajar klasikal disajikan dalam Tabel 4 berikut: Tabel 4 Rekapitulasi hasil belajar dan ketuntasan belajar klasikal No. Jenis Data Rata-rata Hasil Belajar Daya Serap Katagori Ketuntasan Belajar Pra siklus 53,68 53,68% Rendah Siklus Siklus I Sedang 63,16% Siklus II 70,79 70,79% Tinggi 78,95% Berdasarkan Tabel 4, diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Sukasada pada mata pelajaran matematika pada prasiklus tergolong rendah . ata-rata hasil belajar: 53,68, daya serap: 53,68% dan ketuntasan belajar 42%), meningkat pada siklus I tergolong sedang . ata-rata hasil belajar: 65, daya serap: 65% dan ketuntasan belajar 63,16%) dan meningkat juga pada siklus II tergolong dalam katagori tinggi ( rata-rata hasil belajar 70,79, daya serap 70,79% dan ketuntasan belajar 78,95%). Dengan demikian dapat disimpulkan model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika mengalami peningkatan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange pada materi hitung pecahan. Temuan tentang keaktifan siswa pada aspek pertama yang diamati sesuai indikator yaitu memperhatikan penjelasan Prosentase siswa yang memperhatikan penjelasan guru saat prasiklus yakni sebesar Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 599 68% menjadi 79% pada siklus I. Sebagian besar siswa sudah memperhatikan penjelasan guru di awal pembelajaran. Namun, masih ada beberapa siswa mengobrol dengan teman sebangkunya di tengah-tengah penjelasan guru. Prosentase siswa yang memperhatikan penjelasan guru saat siklus II mulai meningkat menjadi 87%. Peningkatan tersebut dikarenakan guru mengingatkan kembali di awal pelajaran agar siswa memperhatikan penjelasan guru terkait materi yang diajarkan agar dapat mengerjakan soal yang akan Aspek kedua yang diamati yakni mendengarkan penjelasan guru. Prosentase pada saat prasiklus sebesar 58%, prosentase tersebut meningkat saat siklus I mencapai Selanjutnya prosentase tersebut meningkat menjadi 89% pada siklus II. Adanya peningkatan prosentase aspek kedua dari prasiklus, siklus I ke siklus II disebabkan karena siswa mulai menyadari tes evaluasi diberikan sesuai dengan materi yang disampaikan oleh Oleh karena itu, siswa perlu mendengarkan guru secara seksama agar hasil evaluasi belajarnya baik. Aspek ketiga yang diamati yaitu berani menjawab pertanyaan dari guru. Aspek ini diamati saat pembelajaran di tahap diskusi kelompok. Di pertemuan prasiklus diperoleh prosentase aspek ini sebanyak 16% saja. Kemudian meningkat menjadi 29% saat siklus I. Selanjutnya meningkat lagi menjadi 40% pada siklus II. Cukup sedikit siswa yang mampu menjawab pertanyaan dari guru di pertemuan prasiklus I. Hal ini disebabkan karena saat siswa memiliki pertanyaan tentang materi yang belum dipahami, siswa enggan bertanya kepada guru atau bertanya kepada siswa lainnya. Oleh karena itu, siswa belum bisa menjawab pertanyaan dari guru ketika guru memberikan pertanyaan untuknya. Kemudian guru memberikan pengertian pada siswa agar berani bertanya apabila memang belum paham suatu materi, apabila siswa ada pertanyaan di sesi presentasi guru tetapi tidak berani menyampaikan, maka siswa dapat menulis pertanyaannya di lembar diskusi saat tahap diskusi kelompok. Di siklus II, ada beberapa siswa yang mau bertanya secara lisan kepada guru tentang materi yang belum dipahami, sehingga ketika guru bertanya, siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut walaupun jumlahnya belum mencapai setengah dari jumlah siswa di kelas itu. Aspek keempat yang diamati yakni menulis pertanyaan tentang materi yang belum dipahami. Prosentase yang diperoleh saat pertemuan prasiklus yaitu sebesar 0%, pada saat prasiklus, tidak ada siswa yang mau membuat atau menuliskan pertanyaan terkait dengan materi yang disampaikan guru. Selanjutnya guru menekankan di pertemuan pada siklus I bahwa siswa dapat menulis pertanyaan tentang materi yang belum di pahami di lembar diskusi agar materi yang belum dipahami dapat dibahas dan siswa mampu mengerjakan soal evaluasi. Kemudian prosentase naik menjadi 29% pada siklus I. Siswa mulai merasakan manfaat menulis pertanyaan di lembar diskusi, dan meningkat pada siklus II menjadi 47%. Hal ini dikarenakan siswa sudah cukup paham materi yang disampaikan guru, hanya beberapa poin penting saja yang masih belum dimengerti. Aspek kelima yang diamati yaitu bertanya tentang materi yang belum dipahami kepada teman yang juga diamati saat pembelajaran tahap diskusi kelompok. Prosentase Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 600 aspek ini saat pertemuan prasiklus sebesar 42%. Kemudian meningkat di pertemuan siklus I menjadi 61%. Tidak hanya sampai di situ, prosentase aspek ini meningkat lagi pada siklus II menjadi 71%. Prosentase yang didapat oleh aspek kelima ini tergolong cukup tinggi karena siswa memiliki kecenderungan lebih suka bertanya kepada teman daripada kepada guru. Aspek keenam yang diamati yaitu menjawab pertanyaan dari teman yang belum paham Prosentase yang didapat di pertemuan prasiklus yaitu 21%. Selanjutnya meningkat pada siklus I menjadi 32%. Banyaknya prosentase siswa yang bertanya kepada teman tidak berbanding lurus dengan kemampuan menjawab siswa. Di sela-sela diskusi ada siswa yang bertanya kepada guru ketika guru mengamati diskusi kelompok dan guru perlu menegaskan agar siswa berani bertanya saat guru menjelaskan suatu materi sebelum diskusi dimulai. Kemudian pada siklus II prosentase aspek ini mengalami kenaikan hingga 53%. Aspek ketujuh yang diamati yakni mengemukakan pendapat saat diskusi. Prosentase saat prasiklus sebesar 37%. Pada siklus I guru mengarahkan siswa sebelum tahap diskusi agar mau berdiskusi dengan siapapun teman kelompoknya, sehingga prosentase aspek ketujuh meningkat menjadi 53%. Prosentase aspek ini meningkat lagi menjadi 76% pada siklus II. Aspek kedelapan yang diamati yaitu mendengarkan pendapat teman saat diskusi. Prosentase aspek ini pada saat prasiklus yaitu 26% dan meningkat menjadi 69% pada siklus I, dan siklus II menjadi 87%. Prosentase aspek ini cukup bagus, namun tidak dapat mencapai 100% dikarenakan saat diskusi kelompok ada siswa yang mengabaikan pendapat temannya karena sibuk mencari sumber informasi lainnya untuk mengerjakan tugas, sehingga guru perlu mengarahkan siswa agar siswa menghargai teman kelompoknya yang sedang mengemukakan pendapat karena dengan begitu siswa dapat memperoleh pengetahuan materi dari pandangan yang lain. Aspek kesembilan yang diamati yaitu mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk Pada saat prasiklus aspek ini mendapat prosentase sebesar 58%. Hal ini dikarenakan siswa kurang memperhatikan petunjuk guru sebelum diskusi kelompok, sehingga siswa mengerjakan tugas semaunya sendiri dan tidak seperti yang dijelaskan guru. Kemudian guru menegaskan pada pertemuan siklus I agar siswa mengerjakan tugasnya sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan dan lebih mengarahkan siswa di tahap diskusi kelompok. Oleh karena itu, prosentase aspek ini meningkat menjadi 64% pada siklus I. Selanjutnya meningkat lagi pada siklus II menjadi 89%. Aspek ke sepuluh yang diamati yaitu bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok. Prosentase aspek ini di pertemuan prasiklus sebesar 68%, meningkat menjadi 74% pada siklus I. Kemudian meningkat lagi pada siklus II menjadi 87% Prosentase yang diperoleh di aspek ke sepuluh sudah cukup bagus. Namun, masih ditemukan beberapa siswa yang mengerjakan tugasnya secara individu tanpa bekerja sama dengan anggota kelompoknya. Hal ini dikarenakan siswa merasa sudah menguasai materi yang telah diajarkan dan siswa tidak terbiasa bekerja sama dengan anggota kelompok yang terbentuk. Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 601 Aspek ke sebelas yang diamati yakni membuat rangkuman hasil diskusi. Hanya ada beberapa siswa yang rajin membuat rangkuman tentang materi yang dipelajari saat pertemuan itu, sehingga prosentase yang diperoleh dari aspek ini cukup sedikit. Prosentase dari aspek ini pada prasiklus yaitu sebesar 16% dan meningkat pada siklus I menjadi 27%. Di pertemuan siklus II guru lebih mengarahkan siswa agar membuat rangkuman materi pelajaran agar siswa dapat mempelajari materi tersebut setelah pelajaran usai. Selanjutnya prosentase aspek ini meningkat menjadi 38% pada siklus II. Aspek kedua belas yang diamati yaitu memperhatikan saat pembahasan hasil diskusi. Aspek ini diamati ketika tahap pembahasan diskusi setelah diskusi kelompok. Pada pertemuan prasiklus, aspek ini mendapat prosentase sebanyak 68%, dan menjadi 79% pada siklus I. Selanjutnya meningkat lagi pada siklus II menjadi 82%. Prosentase yang diperoleh aspek ini cukup Aspek ketiga belas yang diamati yaitu mendengarkan saat pembahasan hasil Aspek terakhir ini mendapat prosentase 68% pada pertemuan prasiklus dan meningkat menjadi 79% di pertemuan siklus I. Kemudian meningkat lagi pada siklus II menjadi 82%. Prosentase aspek ketigabelas juga sudah cukup bagus, tapi masih ada siswa yang terlihat mengantuk dan bercanda saat pembahasan diskusi membuat prosentase aspek ini belum maksimal. Tentang hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari prasiklus hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata hasil belajar siswa sebelum tindakan untuk mata pelajaran matematika adalah53,68, daya serap 53,68% katagori rendah dengan ketuntasan klasikal sebesar 42%, mengalami peningkatan pada siklus I untuk mata pelajaran matematika skor rata-rata hasil belajar mencapai 65, daya serap 65% katagori sedang, dengan ketuntasan klasikal sebesar 63,16%. Menurut indikator keberhasilan yang telah ditetapkan bahwa hasil belajar dikatakan sudah tercapai jika skor rata-rata minimal 65 dan ketuntasan belajar klasikal mencapai 75%. Berdasarkan hal tersebut maka skor rata-rata hasil belajar sudah tercapai, tetapi ketuntasan belajar klasikal belum mencapai terget indikator keberhasilan. Berdasarkan Tabel 4, pada siklus II menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus II menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar mata pelajaran matematika dengan skor rata-rata sebesar 70,79 daya serap 70,79 katagori tinggi dengan ketuntasan klasikal sebesar 78,95% . Bila dilihat dari siklus I dan siklus II, skor rata-rata hasil belajar dan ketuntasan belajar klasikal siswa mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan pada siklus II skor rata-rata hasil belajar dan ketuntasan belajar klasikal telah mencapai target indikator Tingkat hasil belajar siswa pada prasiklus masih kurang sedangkan tingkat hasil belajar siswa pada siklus I sedang dan siklus II tinggi. Ini berarti dengan model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V SD N. 2 Sukasada tahun pelajaran 2019/2020. Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 602 Berdasarkan uraian di atas, bahwa terjadi peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Sukasada pada mata pelajaran Matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Rotating Trio Exchange seperti yang telah diuraikan. Hal tersebut tidak terlepas dari kelebihan yang dimiliki oleh model pembelajaran kooperatif tipe Rotating Trio Exchange Rotating Trio Exchange sebagai model pembelajaran kooperatif yang jumlah anggota dalam kelompoknya adalah 3 orang, adapun kelebihan dari model pembelajaran ini menurut Huda . Pembentukan kelompok lebih cepat dan lebih mudah. Interaksi yang terjadi antara siswa saat diskusi lebih mudah. Masing-masing anggota kelompok memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk berkontribusi dalam kelompoknya. Jumlah anggota ganjil, sehingga ada yang menjadi penengah saat diskusi. Siswa tidak bosan karena adanya rotasi anggota kelompok. Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian lain yakni penelitian yang berjudul AuPenerapan Model Pembelajaran Rotating Trio Exchange Menggunakan Superitem untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Pokok Bahasan Persegi dan Persegi PanjangAy oleh Idawati yang menerangkan bahwa strategi pembelajaran Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran Matematika. Minat belajar juga merupakan salah satu keaktifan belajar siswa yang termasuk dalam aktivitas emosional. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis dan temuan-temuan dalam pengembangan pembelajaran ini dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama penerapan model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchage dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran matematika pada siswa kelas V SD N 2 Sukasada Tahun Pelajaran 2019/2020. Peningkatan keaktifan belajar dapat dilihat dari adanya pencapaian indikator keberhasilan keaktifan belajar siswa setiap siklus. Pada siklus I Rata-rata persentase keaktifan belajar siswa 57,92% katagori cukup, dan pada siklus II menjadi 71,08% katagori aktif. Kedua, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran matematika. Hal tersebut terlihat dari peningkatan skor rata-rata kelas, daya serap dan persentase ketuntasan hasil belajar siswa dengan batas KKM 75. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa pada siklus I sebesar 65, daya serap 65 katagori cukup dan ketuntasan belajar 63,16% meningkat rata-rata hasil belajar menjadi 70,79, daya serap 70,79% katagori tinggi dan ketuntasan belajar 78,95% pada siklus II. Berdasarkan temuan-temuan dan pembahasan hasil penelitian ini, dapat diajukan beberapa saran berikut. Kepada siswa, hendaknya memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna serta hasil belajar yang memuaskan, dengan terlibat aktif dalam setiap Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 603 kegiatan pembelajaran dengan tidak takut mencoba dan mengemukakan pertanyaan maupun pendapat setelah mengamati suatu peristiwa tertentu dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari terkait materi pelajaran. Kepada para guru, hendaknya selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri khususnya kompetensi pedagogik sehingga memiliki kesempatan yang luas untuk selalu mencoba model pembelajaran yang inovatif jadi tidak hanya mengandalkan pembelajaran konvensional. Seperti model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchange karena terbukti dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Kepada sekolah, hendaknya hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk mengambil kebijakan dalam lembaga pendidikan sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan kualitas lulusan sekolah. Bagi peneliti lain yang mengambil indikator yang sama, diharapkan dapat menambah indikator keaktifan lainnya supaya hasil yang didapat lebih objektif. DAFTAR PUSTAKA