Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. December 2024 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Meningkatkan Minat Pembelajaran PAI Melalui Teori Motivasi Pada Siswa Kelas Vi MTS Muhammadiyah Kampung Delima Reni Dianti Rukmini1. Dewi Purnama Sari2. Idi Warsah3 IAIN Curup renidianti10@gmail. dewi@gmail. warsah@iaincurup. Abstract Islamic Religious Education (PAI) has a very vital role in shaping the character, morals, and spiritual understanding of students. In addition to functioning as a means of providing religious knowledge. PAI also plays a role in instilling religious values that guide students in their daily lives. Various theories of motivation, including intrinsic and extrinsic motivation in building student motivation in increasing interest in learning PAI. The purpose of this study was to see the motivation of class Vi students of MTS. Muhammadiyah Kampong Delima in increasing interest in learning PAI. This study uses a qualitative research type. The results of the study indicate that motivation plays a very important role in influencing the behavior and achievement of an Both in terms of intrinsic motivation and extrinsic motivation. Keywords: Motivation Theory. Interest in Learning PAI. MTs Muhammadiyah Kampung Delima. How to cite this article: Rukmini. Sari. Warsah. Meningkatkan Minat Pembelajaran PAI Melalui Teori Motivasi Pada Siswa Kelas Vi MTS Muhammadiyah Kampung Delima. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 9. , 175-182. Received: 8/4/2024 Revised:1 1/2/2024 Accepted: 11/22/2024 176 | Reni Dianti Rukmini1. Dewi Purnama Sari2. Idi Warsah3 PENDAHULUAN Pendidikan adalah sebuah proses yang terorganisir dan terstruktur dengan tujuan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran dan (Rahman et al. , 2. Dalam konteks ini, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peranan yang sangat vital dalam pembentukan karakter, akhlak, dan pemahaman spiritual peserta didik. Dalam implementasinya. PAI tidak hanya berfokus pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga pada pengembangan sikap dan perilaku siswa yang mencerminkan prinsip-prinsip agama. Pendekatan ini mendorong siswa untuk menginternalisasi ajaran agama sebagai panduan hidup yang tidak hanya terbatas pada ruang lingkup sekolah, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari Dengan demikian, pendidikan agama Islam tidak hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi lebih kepada proses transformasi yang dapat membentuk individu yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai moral, etika, dan spiritual yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. (Aziz & Zakir, 2. Berdasarkan teori motivasi belajar yang dikembangkan oleh Abraham Maslow, salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling fundamental adalah pemenuhan kebutuhan Pendidikan Agama Islam, sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ini, tidak hanya memberikan pengetahuan tentang ajaran agama Islam, tetapi juga berperan dalam memotivasi siswa untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai moral yang tinggi, serta membangun rasa tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan. (Maslow, 2. Selain itu, motivasi intrinsik yang timbul dari pemahaman agama yang mendalam dapat memperkuat semangat siswa dalam belajar, serta meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan sosial mereka. Hal ini juga sejalan dengan prinsip Maslow tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan spiritual sebagai fondasi bagi pencapaian potensi diri secara (Yogi Fernando et al. , 2. Namun, meskipun PAI memiliki peran yang signifikan, kenyataannya minat siswa terhadap pelajaran ini mengalami penurunan yang cukup mengkhawatirkan. Beberapa faktor yang turut memengaruhi rendahnya minat ini antara lain adalah dominasi pengaruh budaya populer yang lebih menarik perhatian siswa serta kurangnya keterkaitan yang jelas antara materi yang diajarkan dalam PAI dengan kehidupan seharihari mereka. Ketidakterhubungan materi PAI dengan pengalaman nyata siswa menyebabkan mereka merasa bahwa pelajaran ini tidak relevan dan tidak memberikan kontribusi langsung terhadap pengembangan diri mereka. Hal ini, pada gilirannya, dapat mengurangi tingkat motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI. (Abnisa, 2. Dampak dari rendahnya minat terhadap pembelajaran PAI dapat memiliki konsekuensi serius terhadap perkembangan karakter dan moral siswa. Ketika siswa tidak memahami nilai-nilai agama dengan baik, mereka akan kesulitan dalam membangun landasan moral yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Hal ini dapat menyebabkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial dan agama, yang berpotensi mengarah pada terjadinya penyimpangan sosial dan ketidakmampuan dalam membuat keputusan yang etis. PAI, dalam hal ini, tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menambah pengetahuan agama, tetapi juga sebagai alat untuk menanamkan sikap Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 175-182 | 177 dan perilaku positif yang menjadi dasar dalam berinteraksi dengan sesama dan membangun kehidupan sosial yang harmonis. (Husni, 2. Dengan demikian, pentingnya mempelajari PAI di kalangan siswa tidak hanya terbatas pada penguasaan materi agama semata, tetapi juga dalam upaya membangun fondasi moral, etika, dan spiritual yang kokoh. Pendidikan Agama Islam harus dapat menjembatani antara nilai-nilai agama dengan realitas kehidupan siswa yang terus Dengan pendekatan yang tepat. PAI dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada siswa mengenai pentingnya ajaran agama dalam kehidupan mereka, sekaligus menumbuhkan karakter yang baik dan sikap bertanggung jawab. Oleh karena itu. PAI memiliki peran yang sangat krusial dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. (Zalsabella P et al. , 2. Salah satu faktor kunci yang dapat meningkatkan minat belajar PAI pada siswa adalah adanya motivasi yang kuat. Menurut teori motivasi, seperti yang dikemukakan oleh Deci dan Ryan dalam teori motivasi autodeterminasi, motivasi intrinsik yang tumbuh dari minat dan kepuasan pribadi lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu, penting bagi guru PAI untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi siswa, dengan mengaitkan materi yang diajarkan dengan kehidupan mereka, memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai relevansi ajaran agama dalam konteks kehidupan modern, serta menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. gan sekitar. (Zulmedia et al. , 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus untuk mengeksplorasi secara mendalam fenomena yang terjadi dalam konteks pendidikan. Lokasi penelitian dilakukan di MTS Muhammadiyah Kampung Delima, dengan fokus utama pada siswa kelas Vi yang mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Objek penelitian ini mencakup tiga kelompok partisipan utama, yaitu siswa, guru PAI, dan orang tua siswa, yang masing-masing memberikan wawasan berbeda terkait dengan motivasi dan minat belajar PAI. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang holistik dari setiap partisipan. Wawancara dilakukan dengan siswa untuk menggali pandangan mereka tentang pengalaman belajar dan persepsi terhadap mata pelajaran PAI, dengan guru untuk memahami metode pengajaran yang diterapkan, dan dengan orang tua untuk mengidentifikasi faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi minat belajar anak-anak mereka. Selain itu, observasi langsung terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dilakukan untuk mencatat interaksi antara siswa, guru, dan materi yang diajarkan, serta untuk mengidentifikasi elemen-elemen yang dapat mempengaruhi motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran. Data yang terkumpul dari wawancara dan observasi dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Dalam metode ini, data yang diperoleh dikelompokkan dalam kategori-kategori yang relevan dan kemudian dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi tema-tema sentral yang berhubungan dengan faktor-faktor yang memengaruhi motivasi dan minat belajar siswa terhadap PAI. Proses analisis ini bertujuan This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 178 | Reni Dianti Rukmini1. Dewi Purnama Sari2. Idi Warsah3 untuk mengidentifikasi pola-pola yang muncul serta untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika yang terjadi di lapangan, sekaligus memberikan gambaran tentang tantangan dan peluang yang ada dalam meningkatkan motivasi belajar PAI di kalangan siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Motivasi Belajar Menurut W. S Winkel motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan belajar. Pendapat yang sama pun diungkapkan oleh Muhibbin Syah . yang menegaskan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak yang ada di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar dapat tercapai penelitian sebelumnya. (Azis & Amiruddin, 2. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Namun, sebelum membahas lebih jauh tentang motivasi belajar maka perlulah dibedakan dahulu antara pengertian motivasi dan pengertian belajar. Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi Kedua hal tersebut merupakan daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Setelah mengetahui pengertian dari motif dan motivasi, berikut ada beberapa pendapat mengenai pengertian motivasi. Dalam motivasi terkandung keinginan yang mengaktifkan, menggerakkanmenyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar. Menurut Muhibbin Syah motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya . untuk bertingkah laku secara terarah. Menurut Sardiman motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan. (Ernata, 2. Hasil penelitian yang dibahas dalam artikel ini menunjukkan bahwa motivasi memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi perilaku dan pencapaian Temuan-temuan yang ada mengungkapkan bahwa individu yang termotivasi secara intrinsik yaitu yang didorong oleh rasa minat dan kepuasan pribadi terhadap suatu aktivitas cenderung memiliki komitmen yang lebih kuat terhadap apa yang mereka Mereka tidak hanya merasa lebih puas dengan hasil yang dicapai, tetapi juga mampu mempertahankan kinerja mereka dalam jangka panjang. Sebaliknya, individu yang lebih bergantung pada motivasi ekstrinsik sering kali terfokus pada imbalan atau penghargaan eksternal, seperti uang atau pengakuan. Meskipun ini bisa mendorong Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 175-182 | 179 mereka untuk mencapai tujuan jangka pendek, ketergantungan pada motivasi ekstrinsik dapat mengurangi kualitas keterlibatan dan ketahanan mereka dalam menjalani aktivitas tersebut, terutama ketika imbalan eksternal tidak lagi tersedia. (Akbar Abbas, 2. Kemudian, hasil penelitian ini juga memberikan bukti yang mendukung teori kebutuhan Abraham Maslow, yang menyatakan bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi secara bertahap. Ketika individu telah memenuhi kebutuhan dasar seperti fisiologis dan keamanan, mereka akan lebih terdorong untuk mencapai kebutuhan yang lebih tinggi, termasuk kebutuhan sosial, penghargaan, dan akhirnya aktualisasi diri. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa pemenuhan kebutuhankebutuhan dasar tersebut memberikan dasar yang kuat bagi individu untuk mengembangkan diri dan mengejar tujuan yang lebih tinggi, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Dengan kata lain, kebutuhan dasar yang terpenuhi berfungsi sebagai pendorong untuk motivasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya mendorong individu untuk mencapai potensi terbaik mereka. (Putra, 2. Selanjutnya, temuan dari penelitian ini juga mendukung Self-Determination Theory (SDT) yang dikemukakan oleh Edward Deci dan Richard Ryan, yang menekankan pentingnya pemenuhan tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, dan hubungan sosial. Ketika individu merasa memiliki kontrol atas pilihan dan tindakannya . , merasa kompeten dalam tugas yang mereka lakukan . , dan memiliki hubungan yang mendukung dengan orang lain . ubungan sosia. , mereka lebih cenderung menunjukkan motivasi intrinsik yang tinggi. Selain itu, mereka juga lebih mampu mengatasi hambatan atau tantangan yang muncul dalam perjalanan mereka, baik dalam konteks pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini terbukti menjadi faktor kunci dalam meningkatkan motivasi, kesejahteraan psikologis, dan efektivitas individu secara keseluruhan. Teori Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik Teori Motivasi Intrinsik Teori motivasi intrinsik mengacu pada dorongan untuk melakukan suatu aktivitas yang timbul dari dalam diri individu, yaitu motivasi yang muncul karena individu merasa puas, tertarik, atau memperoleh kepuasan langsung dari kegiatan tersebut, tanpa mengharapkan imbalan atau penghargaan dari luar. Dengan kata lain, individu yang termotivasi secara intrinsik terlibat dalam suatu aktivitas karena mereka menikmati proses atau tantangan yang ada, serta merasa bahwa aktivitas tersebut memiliki nilai atau makna yang penting bagi diri mereka. (Ena & Djami, 2. Motivasi intrinsik mengacu pada dorongan untuk belajar karena rasa minat atau kepuasan yang diperoleh dari proses belajar itu sendiri. Siswa yang termotivasi secara intrinsik akan belajar PAI karena mereka merasa bahwa materi yang dipelajari bermanfaat, menarik, atau dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang agama, tanpa harus bergantung pada imbalan eksternal. Misalnya, seorang siswa mungkin merasa bangga atau puas ketika mampu memahami nilai-nilai dalam agama Islam atau menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Teori motivasi intrinsik ini pertama kali diperkenalkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan melalui SelfDetermination Theory (SDT), yang menyatakan bahwa untuk mendukung motivasi intrinsik, kebutuhan dasar siswa akan otonomi, kompetensi, dan hubungan sosial harus This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 180 | Reni Dianti Rukmini1. Dewi Purnama Sari2. Idi Warsah3 Dengan memberikan siswa kebebasan dalam memilih cara belajar yang mereka sukai, tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka, serta kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman sekelas dan guru, motivasi intrinsik siswa dalam belajar PAI dapat meningkat. (Hamzah, 2. Teori Motivasi Ekstrinsik Motivasi ekstrinsik, di sisi lain, merujuk pada dorongan untuk belajar yang berasal dari faktor luar, seperti penghargaan, hadiah, atau pengakuan yang dapat diperoleh setelah mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), motivasi ekstrinsik sering muncul dalam bentuk keinginan siswa untuk meraih nilai baik, memperoleh pujian dari guru, atau mendapatkan penghargaan dari orang tua. Sebagai contoh, siswa mungkin terdorong untuk mempelajari materi PAI dengan tujuan untuk meraih prestasi akademik atau memenuhi ekspektasi orang lain, meskipun mereka mungkin tidak merasakan adanya hubungan pribadi dengan materi yang dipelajari. Dalam hal ini, motivasi ekstrinsik dapat memberikan dorongan awal yang kuat bagi siswa untuk terlibat dalam pembelajaran, karena penghargaan eksternal dapat memberikan insentif yang signifikan dalam jangka pendek. (Nasution et al. , 2. Namun demikian, meskipun motivasi ekstrinsik dapat berfungsi sebagai pendorong awal yang efektif, ketergantungan pada penghargaan eksternal dapat menyebabkan penurunan keterlibatan siswa dalam jangka panjang. Hal ini terutama terjadi apabila siswa tidak merasa adanya manfaat pribadi atau relevansi dengan materi yang dipelajari, yang akhirnya dapat mengurangi motivasi mereka untuk terus belajar. Dalam jangka panjang, motivasi ekstrinsik yang hanya berfokus pada pencapaian nilai atau penghargaan sering kali tidak efektif, karena penghargaan tersebut bisa berkurang atau tidak lagi memberikan kepuasan yang sama. Dalam teori Self-Determination (SDT) yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan, dijelaskan bahwa meskipun motivasi ekstrinsik dapat mendorong pencapaian tujuan jangka pendek, untuk menjaga keterlibatan siswa secara aktif dan mendalam dalam pembelajaran, diperlukan motivasi intrinsik yang lebih kuat dan berkelanjutan. (Ryan & Deci, 2. Oleh karena itu, dalam konteks pendidikan PAI, meskipun faktor eksternal seperti nilai dan penghargaan dapat memotivasi siswa pada awalnya, pengembangan motivasi intrinsik di mana siswa merasa ada keterkaitan pribadi dengan materi yang dipelajari merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan keterlibatan siswa yang Tanpa motivasi intrinsik, pembelajaran cenderung bersifat sementara dan tidak mampu mendorong siswa untuk terus menggali pengetahuan lebih dalam mengenai ajaran agama Islam. Untuk mencapai pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan, penting untuk mengimbangi motivasi ekstrinsik dengan pengembangan motivasi intrinsik yang dapat memperdalam pemahaman dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari siswa. (Royhanuddin, 2. KESIMPULAN Motivasi memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku dan pencapaian Motivasi intrinsik, yang didorong oleh minat dan kepuasan pribadi, terbukti lebih efektif dalam mempertahankan komitmen dan kinerja jangka panjang dibandingkan motivasi ekstrinsik yang bergantung pada imbalan eksternal. Temuan ini juga mendukung Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2024 | Pages. 175-182 | 181 teori Maslow yang menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar memberi dasar untuk pencapaian kebutuhan yang lebih tinggi. Dalam konteks pendidikan, khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), penerapan teori Maslow dan SelfDetermination Theory (SDT) dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pemenuhan kebutuhan siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi intrinsik mereka dan memperkuat motivasi belajar dalam jangka panjang. Hasil penelitian yang dilakukan di kelas Vi MTS. Muhammadiyah kampong delima menunjukkan bahwa motivasi memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi perilaku dan pencapaian individu seseorang. Baik dari segi motivasi instrinsik maupun segi ekstrinsik. DAFTAR PUSTAKA