Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan (JKPPK) Vol.2, No.2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 148-159 DOI: https://doi.org/10.59031/jkppk.v2i2.392 Pengalaman Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Seni Rupa untuk Anak Kelas I di MIN 2 Palangka Raya Dinna Aulia Putri Andani Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Jurusan Tarbiyah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya Korespondensi penulis: dinnauliaa30@gmail.com Istiyati Mahmudah Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Jurusan Tarbiyah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya E-mail: istiyati.mahmudah@iain-palangkaraya.ac.id Abstract. Education is the process of transferring knowledge, skills and values to shape individual development, both formally in educational institutions and informally. The goal is to improve physical, intellectual, emotional and social abilities so that individuals can play an active role in society. This research aims to explore teaching experiences and approaches in developing students' creativity and artistic talents. The research method used is a case study through in-depth interviews and direct observation in class. The research results found that having various positive experiences in teaching fine arts in grade 1 has influenced his teaching approach. By implementing various effective strategies in overcoming teaching obstacles and adapting methods to student characteristics. The main activities implemented are drawing and coloring projects to stimulate student creativity and expression. One significant approach is to involve students' parents in developing their artistic talents. This research reveals that the approach is very useful in motivating students and creating a pleasant learning climate. This has a positive impact in improving the quality of fine arts learning in grade 1 SD/MI. It is hoped that this research can become a reference in enriching the art learning experience at the initial level of basic education. Keywords: learning, fine arts, creativity Abstrak. Pendidikan adalah proses mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk membentuk perkembangan individu, baik secara formal di lembaga pendidikan maupun secara informal. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan sosial agar individu dapat berperan aktif dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman dan pendekatan mengajar dalam mengembangkan kreativitas dan bakat seni siswa-siswanya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus melalui wawancara mendalam dan observasi langsung di kelas. Hasil penelitian menemukan bahwa memiliki berbagai pengalaman positif dalam mengajar seni rupa di kelas 1 yang telah mempengaruhi pendekatan mengajarnya. Dengan menerapkan berbagai strategi efektif dalam mengatasi kendala pengajaran dan menyesuaikan metode dengan karakteristik siswa.Kegiatan utama yang diberlakukan adalah proyek menggambar dan mewarnai untuk merangsang kreativitas dan ekspresi siswa. Salah satu pendekatan yang signifikan adalah melibatkan orang tua siswa dalam pengembangan bakat seni mereka. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pendekatan sangat bermanfaat dalam memotivasi siswa dan menciptakan iklim belajar yang menyenangkan. Hal ini berdampak positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran seni rupa di kelas 1 SD/MI. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam memperkaya pengalaman belajar seni di tingkat awal pendidikan dasar. Kata kunci: pembelajaran, seni rupa, kreativitas PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu proses yang melibatkan pemberian pengetahuan, keterampilan, nilai, dan norma kepada individu agar dapat berkembang secara optimal. Pendidikan tidak hanya terjadi di lingkungan formal, seperti sekolah, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari, interaksi sosial, dan media. Secara umum, pendidikan bertujuan untuk Received Februari 10, 2024; Accepted Maret 19, 2024; Published April 30, 2024 *Dinna Aulia Putri Andani, dinnauliaa30@gmail.com Pengalaman Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Seni Rupa untuk Anak Kelas I di MIN 2 Palangka Raya membentuk kepribadian, memperluas wawasan, dan mengembangkan kemampuan individu dalam berbagai aspek kehidupan. (Kusumawati et al., 2023) Pendidikan formal adalah bagian terpenting dari proses pendidikan. Di dalamnya, siswa mendapatkan pengetahuan dari berbagai mata pelajaran seperti matematika, sains, bahasa, dan seni. Selain itu, pendidikan formal juga membantu mengembangkan keterampilan sosial, kritis, dan kreatif. Guru memiliki peran sentral dalam mendidik siswa, membimbing mereka untuk mencapai potensi terbaiknya. (Pristiwanti, Badariah, & Dewi Ratna Sari, 2022) Pendidikan juga memiliki dimensi non-formal yang mencakup pelatihan dan kursus di luar lembaga pendidikan resmi. Program-program ini dapat berfokus pada pengembangan keterampilan tertentu atau peningkatan pengetahuan dalam bidang-bidang spesifik. Misalnya, pelatihan vokasional membekali individu dengan keterampilan praktis untuk memasuki dunia kerja. (Pristiwanti et al., 2022) Selain itu, pendidikan informal juga berperan dalam perkembangan individu. Interaksi sehari-hari dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar memberikan pembelajaran yang berharga. Nilai-nilai, norma, dan etika juga diserap melalui interaksi ini, membentuk karakter dan sikap hidup seseorang. (Alivia, 2022) Pentingnya pendidikan dalam masyarakat tidak hanya terbatas pada tingkat individu, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan suatu bangsa. Dengan memiliki pendidikan yang baik, masyarakat dapat menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing tinggi di tingkat global. Oleh karena itu, investasi dalam bidang pendidikan dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk membangun masa depan yang lebih baik. (Alivia, 2022) Pembelajaran adalah proses di mana individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pemahaman melalui berbagai cara. Ini tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan formal, tetapi juga melibatkan pengalaman sehari-hari, interaksi sosial, dan eksplorasi mandiri. Pembelajaran dapat terjadi secara sadar atau tidak sadar, dan merupakan bagian integral dari perkembangan manusia sepanjang hidup. (Surur, 2020) Dalam konteks formal, pembelajaran sering dikaitkan dengan pengajaran di kelas. Proses ini melibatkan guru sebagai fasilitator yang membimbing siswa melalui materi pembelajaran. Pendekatan ini mencakup penyampaian informasi, diskusi, praktik, dan penilaian. Metode pengajaran yang beragam, seperti pengajaran langsung, pembelajaran berbasis proyek, atau diskusi kelompok, dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. (Abidin, 2007) Selain itu, pembelajaran tidak hanya terbatas pada ruang kelas. Pembelajaran melibatkan pengalaman di luar kelas, termasuk kunjungan lapangan, proyek ekstrakurikuler, 149 JKPPK - VOLUME 2, NO. 2, APRIL 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 148-159 dan penggunaan teknologi pendidikan. Dengan kemajuan teknologi, pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh juga semakin menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran fleksibel. (Lubis & Azizan, 2020) Pembelajaran bukan hanya tentang penyerapan informasi, tetapi juga melibatkan pemahaman dan aplikasi konsep dalam kehidupan sehari-hari. Konsep pembelajaran aktif menekankan peran aktif siswa dalam mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri melalui refleksi, diskusi, dan interaksi dengan materi pembelajaran. (Majid, 2014) Pentingnya pembelajaran tidak hanya mencakup perolehan pengetahuan, tetapi juga pengembangan keterampilan kritis, analitis, dan kreatif. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana individu dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut untuk mengatasi tantangan dan mencapai tujuan hidup mereka. (Wardana & Djamaluddin, 2021) Pembelajaran seni rupa di kelas 1 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah memiliki peran penting dalam mengembangkan kreativitas dan ekspresi anak-anak. Pada tingkat ini, pembelajaran seni rupa dirancang untuk merangsang imajinasi serta mengajarkan dasar-dasar keterampilan seni. Anak-anak di kelas 1 diperkenalkan dengan unsur-unsur dasar seni rupa, seperti garis, bentuk, warna, dan tekstur, melalui pendekatan yang bersifat menyenangkan dan sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. (Wardana & Djamaluddin, 2021) Guru seni rupa di kelas 1 berperan sebagai fasilitator yang memberikan panduan bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilan visual mereka. Aktivitas-aktivitas yang bersifat kreatif, seperti menggambar, mewarnai, dan membuat bentuk-bentuk sederhana, menjadi kegiatan pokok dalam pembelajaran seni rupa di tingkat ini. Selain itu, pameran hasil karya seni rupa anak-anak dapat diadakan untuk memberikan apresiasi dan dukungan terhadap kreativitas mereka. (Buchari, 2018) Pentingnya pembelajaran seni rupa pada tingkat SD/MI tidak hanya terkait dengan pengembangan keterampilan teknis, tetapi juga dengan pengembangan kemampuan ekspresi dan pemahaman estetika. Anak-anak belajar untuk menyampaikan ide, perasaan, dan pengalaman mereka melalui karya seni, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan komunikasi mereka. Pembelajaran seni rupa juga dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri anak-anak ketika mereka melihat hasil karya mereka dipamerkan atau mendapat pengakuan positif. (Laili & Agustin, 2020; Ulfa & Saifuddin, 2018) Kegiatan seni rupa di kelas 1 juga dapat terintegrasi dengan materi pembelajaran lainnya, memungkinkan anak-anak untuk mengaitkan konsep-konsep yang mereka pelajari di berbagai mata pelajaran. Misalnya, mereka dapat membuat karya seni yang terkait dengan Pengalaman Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Seni Rupa untuk Anak Kelas I di MIN 2 Palangka Raya cerita-cerita atau konsep matematika yang sedang dipelajari. Ini tidak hanya meningkatkan daya tarik anak-anak terhadap pembelajaran, tetapi juga memperkuat keterkaitan antarberbagai bidang studi. (Samsul, Sdn, & Batu, 2022) Selain itu, pembelajaran seni rupa di kelas 1 menciptakan lingkungan yang mendukung penghargaan terhadap keberagaman dan kreativitas. Anak-anak diajak untuk menghargai berbagai jenis seni rupa dari berbagai budaya serta mengembangkan toleransi dan apresiasi terhadap perbedaan. Dengan demikian, pembelajaran seni rupa pada tingkat ini bukan hanya tentang mengajarkan teknik seni, tetapi juga membentuk sikap positif terhadap seni dan keindahan dalam kehidupan sehari-hari. (Rohmah, Markhamah, Narimo, & Widyasari, 2023) METODE Penelitian terhadap Pengalaman Guru Dalam Menerapkan Pembelajaran Seni Rupa Untuk Anak Kelas I di MIN 2 Palangka Raya, metode kualitatif dipilih sebagai pendekatan yang tepat. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mendalami dan memahami secara mendalam pengalaman guru serta faktor-faktor yang memengaruhi pendekatan mereka dalam mengajar seni rupa kepada anak-anak kelas 1. Dengan fokus pada aspek kualitatif, penelitian ini dapat mengeksplorasi dinamika interaksi antara guru dan siswa, serta memberikan ruang bagi penjelasan yang mendalam tentang bagaimana pengalaman ini memengaruhi pembelajaran seni rupa di tingkat tersebut. Yuliani mengemukakan dalam jurnal nya bahwa deskriptif kualitatif merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mengkaji suatu penelitian yang bersifat deskriptif. Deskriptif kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang mengumpulkan data data menggunakan instrumen dari sebuah penelitian. (Yuliani, 2018) Proses penelitian kualitatif ini akan melibatkan teknik pengumpulan data seperti wawancara mendalam dengan guru-guru seni rupa di kelas 1, observasi langsung di kelas, dan analisis dokumen terkait kurikulum atau panduan pengajaran seni rupa. Pendekatan wawancara akan memberikan kesempatan bagi guru untuk menggambarkan pengalaman mereka secara detail, sementara observasi langsung akan memungkinkan peneliti untuk mengamati praktik pengajaran yang sebenarnya. Analisis dokumen akan memberikan konteks tambahan terkait kebijakan atau pedoman yang memandu pengajaran seni rupa di tingkat SD/MI. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini dapat merinci perbedaan pendekatan pengajaran antara guru-guru, menyoroti tantangan yang mereka hadapi, dan mengidentifikasi strategi yang efektif dalam mengajarkan seni rupa di kelas 1. Dengan mendalaminya secara kualitatif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan 151 JKPPK - VOLUME 2, NO. 2, APRIL 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 148-159 berharga yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran seni rupa pada tingkat awal pendidikan dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Seni rupa, sebagai cabang seni visual, mencakup berbagai bentuk ekspresi artistik yang dihasilkan melalui unsur-unsur visual seperti garis, bentuk, warna, tekstur, dan ruang. Dalam pengertian yang lebih luas, seni rupa adalah medium di mana seniman dapat menuangkan ide, perasaan, dan konsep ke dalam karya yang dapat dilihat dan dinikmati. Melalui seni rupa, manusia dapat mengungkapkan kreativitasnya, merespons lingkungan sekitar, dan menciptakan pemahaman mendalam tentang dunia. Seni rupa bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga mengenai interpretasi dan ekspresi pribadi. Setiap seniman memiliki kebebasan untuk menyampaikan pesan atau gagasan mereka melalui karya seni rupa. Hal ini menciptakan ruang bagi keragaman dan inovasi, sehingga seni rupa menjadi cermin dari keanekaragaman budaya, pandangan dunia, dan ekspresi individu. Seni rupa juga melibatkan proses pengamatan, pemikiran kritis, dan imajinasi, yang memberikan nilai tambah dalam pemahaman dan apresiasi terhadap karya seni. (Primawati, 2023) Mengenai hasil wawancara dengan Ibu Dewi Anggreini, seorang guru seni rupa yang mengajar di kelas 1 MIN 2 Palangka Raya, terungkap bahwa pengalamannya memiliki dampak signifikan terhadap pendekatan pengajarannya. Ibu Dewi menggambarkan bahwa tantangan utama dalam mengajar di tingkat ini adalah kebutuhan untuk memahami tingkat pemahaman siswa terhadap seni rupa yang masih dalam tahap awal. Oleh karena itu, ia telah mengembangkan pendekatan yang berorientasi pada eksplorasi dan pemahaman konsep dasar seni rupa. Dalam pengalamannya, Ibu Dewi menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas. Ia memahami bahwa anak-anak di kelas 1 memiliki daya imajinasi yang luar biasa, dan sebagai guru seni rupa, tugasnya adalah memberikan wadah untuk menggali potensi kreatif mereka. Dalam hal ini, Ibu Dewi menggunakan metode pengajaran yang melibatkan aktivitas kreatif, seperti membuat kolase sederhana, mewarnai, dan menciptakan bentuk-bentuk sederhana dengan bahan yang mudah ditemui. Selain itu, pengalaman Ibu Dewi juga mempengaruhi cara ia berinteraksi dengan siswa. Ia menciptakan hubungan yang akrab dan inklusif, memastikan bahwa setiap siswa merasa didukung dan dihargai dalam setiap langkahnya dalam proses pembelajaran seni rupa. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk merasa nyaman dalam berekspresi, yang pada gilirannya meningkatkan kreativitas mereka. Pengalaman Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Seni Rupa untuk Anak Kelas I di MIN 2 Palangka Raya Pengalaman Ibu Dewi dalam mengajar seni rupa di kelas 1 SD/MI juga mencerminkan kesadaran akan peran penting orang tua dalam mendukung pembelajaran seni rupa anak-anak. Ia mengenalkan proyek-proyek seni yang melibatkan kolaborasi antara siswa dan orang tua, seperti membuat karya seni bersama di rumah. Hal ini tidak hanya memperkuat hubungan antara sekolah dan rumah, tetapi juga memperluas dampak positif pengajaran seni rupa di luar lingkungan kelas. Dalam refleksi pengalaman belajarnya, Ibu Dewi menyadari bahwa setiap siswa memiliki keunikan dalam cara mereka menyampaikan ekspresi seni mereka. Oleh karena itu, pendekatannya terus berkembang untuk mengakomodasi keberagaman dalam kreativitas siswa. Dengan demikian, pengalaman Ibu Dewi Anggreini dalam mengajar seni rupa di kelas 1 SD/MI tidak hanya memengaruhi cara ia mengajar, tetapi juga meningkatkan pengalaman belajar dan ekspresi kreatif siswa-siswanya. Dalam pengalaman mengajarkan seni rupa di kelas 1 SD/MI, Ibu Dewi Anggreini menghadapi beberapa kendala yang memerlukan strategi penanggulangan khusus. Salah satu tantangan utama yang dihadapinya adalah perbedaan tingkat keterampilan siswa. Karena seni rupa pada tingkat ini bertujuan untuk merangsang kreativitas, tingkat keterampilan yang bervariasi di antara siswa dapat menjadi kendala dalam menyusun kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Untuk mengatasi hal ini, Ibu Dewi menerapkan pendekatan diferensiasi pembelajaran, mengadaptasi kegiatan seni rupa sesuai dengan tingkat pemahaman dan keterampilan setiap siswa. Kendala lainnya yang dihadapi Ibu Dewi adalah keterbatasan sumber daya, terutama dalam hal bahan seni. Beberapa siswa mungkin tidak memiliki akses ke peralatan atau bahan yang sama di rumah. Ia menciptakan strategi untuk mengatasi hal ini dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan kelas atau meminta dukungan orang tua untuk menyediakan bahan-bahan tersebut. Pendekatan ini membantu menjembatani kesenjangan dalam akses terhadap sumber daya dan memastikan bahwa setiap siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan seni rupa. Dalam mengatasi kendala waktu, Ibu Dewi mengembangkan strategi efektif dengan menyusun rencana pembelajaran seni rupa yang terstruktur. Dengan memprioritaskan aktivitas yang relevan dan berfokus pada tujuan pembelajaran, ia memastikan bahwa waktu yang terbatas di kelas 1 dapat dimanfaatkan secara optimal. Selain itu, Ibu Dewi juga mengajarkan siswa untuk mengelola waktu mereka sendiri dengan memberikan panduan jelas tentang durasi dan tahapan setiap kegiatan seni. 153 JKPPK - VOLUME 2, NO. 2, APRIL 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 148-159 Tantangan lain yang dihadapi oleh Ibu Dewi adalah adanya variasi dalam tingkat minat siswa terhadap seni rupa. Strategi yang diterapkannya untuk mengatasi hal ini adalah menciptakan proyek-proyek seni yang dapat disesuaikan dengan minat dan preferensi beragam siswa. Ia berusaha membuat kegiatan seni rupa menjadi menyenangkan dan bermakna bagi setiap siswa, sehingga mereka dapat terlibat dengan antusiasme dan memiliki motivasi tinggi untuk belajar. Ibu Dewi juga menghadapi tantangan dalam menyesuaikan pengajaran seni rupa dengan perkembangan anak-anak di kelas 1. Oleh karena itu, ia terus melakukan penelitian dan pembaruan terkait strategi pengajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak pada usia tersebut. Ia memanfaatkan pelatihan tambahan dan berkolaborasi dengan rekan guru untuk memperdalam pemahamannya tentang pendekatan terbaik dalam pengajaran seni rupa di kelas 1. Dengan berbagai strategi penanggulangan yang diimplementasikan oleh Ibu Dewi Anggreini, kendala-kendala yang muncul dalam mengajarkan seni rupa di kelas 1 SD/MI dapat diatasi dengan efektif. Pendekatan berbasis pemahaman dan adaptabilitasnya memastikan bahwa setiap siswa dapat mengatasi hambatan dengan baik, menciptakan pengalaman belajar yang positif dan mendukung perkembangan kreativitas mereka. Ibu Dewi Anggreini, memaparkan bahwa metode pengajaran seni rupa yang paling efektif di kelas 1 SD/MI adalah melalui proyek menggambar dan mewarna. Menurutnya, kegiatan ini memainkan peran kunci dalam merangsang perkembangan kreativitas dan ekspresi siswa pada tingkat pendidikan awal. Dalam kegiatannya, Ibu Dewi sering kali menghadirkan proyek-proyek yang menantang siswa untuk menggambar dan mewarnai sesuai dengan tema atau cerita tertentu. Proyek menggambar dan mewarna tidak hanya menjadi aktivitas rutin di kelas, tetapi juga menjadi media untuk menggali imajinasi anak-anak. Melalui kegiatan ini, Ibu Dewi membuka ruang bagi siswa untuk berekspresi dan mengembangkan ide-ide kreatif mereka. Proyek-proyek tersebut sering kali dikaitkan dengan materi pembelajaran lainnya, seperti cerita yang sedang dipelajari di kelas, sehingga siswa dapat menyampaikan pemahaman mereka melalui karya seni. Ibu Dewi menekankan pentingnya memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengekspresikan diri mereka melalui gambar dan warna. Ia percaya bahwa dengan memberikan kepercayaan pada siswa untuk mengembangkan kreativitas mereka, mereka dapat merasa lebih termotivasi dan merasa diterima dalam proses pembelajaran seni rupa. Pengalaman ini diharapkan dapat membantu membentuk dasar penting bagi perkembangan Pengalaman Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Seni Rupa untuk Anak Kelas I di MIN 2 Palangka Raya ekspresi dan kreativitas yang positif pada usia dini. Dalam proyek-proyek tersebut, Ibu Dewi juga memberikan panduan dan bimbingan yang tepat sesuai dengan tingkat pemahaman siswa kelas 1. Ia menyadari bahwa pada tahap ini, mereka masih membangun kemampuan motorik halus dan memahami konsep dasar tentang warna dan bentuk. Oleh karena itu, proyek-proyek ini dirancang sedemikian rupa untuk mendukung perkembangan keterampilan teknis siswa sekaligus meningkatkan kreativitas mereka. Pengalaman guru dalam mengajar seni rupa dengan proyek menggambar dan mewarna di kelas 1 SD/MI juga menciptakan pengalaman positif bagi siswa. Mereka merasakan kegembiraan dalam menciptakan karya seni mereka sendiri, yang pada gilirannya dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar. Pemilihan proyek-proyek yang sesuai dengan minat siswa turut berkontribusi pada suasana belajar yang positif dan interaktif di kelas. (Suryani & Rostika, 2023) Selain itu, Ibu Dewi merangkul prinsip bahwa pengajaran seni rupa bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga proses kreatif yang dialami oleh siswa. Ia mendorong siswa untuk berbicara tentang karya seni mereka, menjelaskan ide-ide di balik gambar mereka, dan berbagi pengalaman mereka dalam mewujudkan imajinasi menjadi karya nyata. Ini membuka ruang untuk diskusi dan meningkatkan pemahaman siswa tentang seni rupa sebagai bentuk ekspresi pribadi. Dengan proyek menggambar dan mewarna yang menjadi pusat pengajaran seni rupa, Ibu Dewi Anggreini menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kreativitas dan ekspresi siswa di kelas 1 SD/MI. Dengan memberikan wadah yang menyenangkan dan mendidik, ia berharap dapat merangsang potensi kreatif anak-anak pada tahap awal pendidikan, menciptakan fondasi positif untuk pemahaman dan apresiasi seni rupa di masa mendatang. Ibu Dewi Anggreini, guru seni rupa yang berpengalaman di kelas 1 SD/MI, mempertimbangkan beberapa faktor dalam pemilihan metode pengajaran seni rupa. Salah satu faktor kunci yang memengaruhi keputusannya adalah karakteristik siswa kelas 1. Ia menyadari bahwa pada tahap ini, siswa memiliki tingkat pemahaman yang beragam terhadap seni rupa. Oleh karena itu, Ibu Dewi menggunakan metode pengajaran yang dapat diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan beragam tersebut. Selain itu, faktor lain yang memainkan peran penting dalam pemilihan metode adalah tujuan pembelajaran. Ibu Dewi memastikan bahwa setiap kegiatan seni rupa yang dia pilih sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Misalnya, jika tujuannya adalah untuk merangsang kreativitas, maka proyek menggambar dan mewarna dijadikan pilihan 155 JKPPK - VOLUME 2, NO. 2, APRIL 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 148-159 utama. Sebaliknya, jika tujuannya adalah untuk mengajarkan konsep warna atau bentuk, metode yang lebih terstruktur mungkin dipilih. Pengalaman dan pengetahuan Ibu Dewi juga menjadi faktor yang memandu pemilihan metode pengajaran. Dengan pengalaman yang luas dalam mengajar seni rupa, Ibu Dewi dapat dengan bijak menyesuaikan metodenya dengan kondisi kelas dan kebutuhan siswa. Ia terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya melalui pelatihan tambahan dan kerja sama dengan rekan guru, sehingga metode pengajarannya senantiasa terkini dan relevan dengan perkembangan pendidikan seni rupa. Faktor-faktor eksternal juga turut berkontribusi pada pemilihan metode pengajaran seni rupa oleh Ibu Dewi. Ketersediaan sumber daya, seperti bahan seni, ruang kelas, dan dukungan administrasi sekolah, mempengaruhi keputusannya dalam menyusun dan melaksanakan kegiatan seni rupa. Ia selalu mencari solusi kreatif jika terdapat keterbatasan sumber daya, memastikan bahwa pembelajaran seni rupa tetap dapat dilaksanakan secara efektif. Selain itu, karakteristik siswa dan respons mereka terhadap metode pengajaran menjadi faktor evaluasi kontinu bagi Ibu Dewi. Ia selalu membuka komunikasi dengan siswa, mendengarkan masukan mereka, dan menyesuaikan metode pengajarannya berdasarkan tanggapan siswa. Hal ini menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan responsif terhadap kebutuhan siswa kelas 1. Pemilihan metode pengajaran seni rupa yang bijaksana oleh Ibu Dewi Anggreini memiliki dampak positif pada efektivitas pembelajaran. Metodenya yang berfokus pada kebutuhan dan perkembangan siswa, serta sesuai dengan tujuan pembelajaran, menciptakan pengalaman belajar yang berharga. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan terus mengembangkan diri, Ibu Dewi memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan mutu pendidikan seni rupa di kelas 1 SD/MI dan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendidik. Ibu Dewi Anggreini mengembangkan kolaborasi inovatif dengan melibatkan orang tua siswa dalam pengembangan bakat seni rupa anak-anak di kelas 1 SD/MI. Dalam konsep ini, siswa diminta untuk menunjukkan hasil karya mereka langsung kepada orang tua, menciptakan momen intim di mana kreativitas anak dapat diapresiasi di lingkungan rumah. Sambil melakukan pendekatan ini, Ibu Dewi juga memanfaatkan waktu saat pengambilan rapor untuk memberitahukan kepada orang tua jika ada anak yang menunjukkan bakat istimewa dalam menggambar dan mewarnai. Melibatkan orang tua dalam proses pengembangan bakat seni rupa anak tidak hanya menciptakan momen berharga dalam hubungan orang tua dan anak, tetapi juga memperkaya Pengalaman Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Seni Rupa untuk Anak Kelas I di MIN 2 Palangka Raya pengalaman seni rupa anak-anak di luar lingkungan sekolah. Kolaborasi ini menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari di rumah, memperkuat hubungan positif antara orang tua dan anak-anak mereka. Selama momen ketika siswa menunjukkan karya seni kepada orang tua, Ibu Dewi memanfaatkan kesempatan untuk mengidentifikasi bakat khusus yang mungkin dimiliki oleh beberapa siswa. Ketika ada anak yang menunjukkan potensi dan bakat istimewa dalam menggambar dan mewarnai, Ibu Dewi berkomunikasi dengan orang tua mereka. Dengan memberikan informasi tentang bakat anak dan memberikan saran tentang cara pengembangan lebih lanjut, Ibu Dewi berkontribusi dalam membimbing orang tua dalam mengenali dan merespons potensi seni rupa anak-anak mereka. Saat pengambilan rapor, Ibu Dewi memberitahukan secara khusus kepada orang tua jika ada anak yang memiliki bakat menggambar dan mewarnai. Hal ini memberikan pengakuan formal terhadap potensi anak dan memberikan dorongan positif kepada orang tua untuk lebih mendukung pengembangan bakat seni rupa anak-anak. Informasi ini juga menciptakan kesadaran tentang peran penting seni rupa dalam perkembangan anak dan menumbuhkan apresiasi terhadap potensi seni rupa di kalangan orang tua. Kolaborasi ini tidak hanya memberikan manfaat untuk anak-anak yang menunjukkan bakat istimewa, tetapi juga menciptakan kesadaran di kalangan orang tua tentang pentingnya seni rupa dalam pengembangan anak-anak. Dengan memberikan perhatian khusus dan bimbingan lebih lanjut untuk anak-anak yang memiliki bakat seni, Ibu Dewi berusaha menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan bakat dan minat seni rupa di kalangan siswa kelas 1 SD/MI. Dengan demikian, melalui momen siswa menunjukkan hasil karya dan pengembangan bakat di kelas 1 SD/MI, Ibu Dewi Anggreini berhasil menciptakan kolaborasi yang lebih personal dan mendalam dengan orang tua siswa. Tidak hanya sebagai informasi formal melalui pengambilan rapor, tetapi juga sebagai momen yang dapat memperkaya hubungan antara sekolah dan keluarga, serta memberikan dukungan yang lebih besar bagi perkembangan seni rupa anak-anak di masa depan. SIMPULAN DAN SARAN Seni rupa adalah bentuk ekspresi di mana seniman menggunakan warna, garis, bentuk, dan unsur visual lainnya untuk menyampaikan ide atau perasaan mereka. Ini bisa berupa lukisan, patung, atau karya seni visual lainnya yang dapat dilihat. Seni rupa memberikan cara bagi seniman untuk berbicara tanpa kata-kata, menghadirkan keindahan dan makna melalui 157 JKPPK - VOLUME 2, NO. 2, APRIL 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 148-159 karya-karya yang mereka ciptakan. Ibu Dewi Anggreini, guru seni rupa di kelas 1 SD/MI, menghadirkan pendekatan inovatif dengan melibatkan orang tua siswa dalam perkembangan seni rupa anak-anak. Tanpa mengadakan pameran, Ibu Dewi meminta siswa menunjukkan hasil karya mereka pada orang tua dan memberikan informasi khusus saat pengambilan rapor jika ada anak yang menunjukkan bakat istimewa. Pendekatan ini menciptakan kolaborasi yang lebih personal dan mendalam, memperkuat hubungan antara keluarga dan sekolah, serta membantu membangun apresiasi terhadap seni rupa di kalangan siswa dan orang tua. Melalui proses ini, Ibu Dewi tidak hanya meningkatkan kesadaran terhadap potensi seni rupa anak-anak, tetapi juga memberikan perhatian khusus dan bimbingan lebih lanjut bagi siswa yang menunjukkan bakat seni istimewa. Pendekatan ini menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan bakat dan minat seni rupa di kelas 1 SD/MI. Keseluruhan, pendekatan inovatif Ibu Dewi bukan hanya menciptakan pengalaman belajar yang positif, tetapi juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam menciptakan hubungan erat antara seni rupa, pendidikan, dan kehidupan keluarga di tingkat pendidikan dasar. DAFTAR REFERENSI Abidin, Z. (2007). ANALISI KEBUTUHAN PEMBELAJARAN DAN ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN. SUHUF (Vol. 19). Alivia, A. N. (2022). Pendidikan Karakter Anak Bangsa. Universitas Sebelas Maret. Buchari, A. (2018). Peran Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Iqra, 12(2). Laili, D. N., & Agustin, Y. I. (2020). Analisis Media Pembelajaran Poster, Materi Kegiatanku Untuk Anak Kelas 1 SD. Kusumawati, I., Lestari, N. C., Sihombing, C., Purnawanti, F., Soemarsono, D. A. P., Kamadi, L., … Hanafi, S. (2023). Pengantar Pendidikan. (Hamdani, Ed.). Batam: CV. Rey Media Grafika9. Lubis, M. A., & Azizan, N. (2020). Pembelajaran Tematik SD/MI. Jakarta : Kencana Prenada Media. Majid, A. (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Primawati, Y. (2023). Pengembangan Kreativitas Seni Rupa Anak Usia Dini. Journal of Early Childhood Studies (Vol. 1). Retrieved from https://journal.nubaninstitute.org/index.php/jecsNubanJagadithaCentre:https://journal. nubaninstitute.org/ Pristiwanti, D., Badariah, B., & Dewi Ratna Sari. (2022). Pengertian Pendidikan. Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 4(6). Rohmah, N. N. S., Markhamah, Narimo, S., & Widyasari, C. (2023). Strategi Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dimensi Berkebhinekaan Global di Sekolah Dasar. Jurnal Elementaria Edukasia, 6(3), 1254–1269. Pengalaman Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Seni Rupa untuk Anak Kelas I di MIN 2 Palangka Raya Samsul, N., Sdn, M., & Batu, P. (2022). PENINGKATAN KETRAMPILAN GURU DALAM PENYUSUNAN MODUL AJAR UNTUK PEMBELAJARAN KELAS 1 SD MELALUI SUPERVISI AKADEMIK. Jurnal Pendidikan Taman Widya Humaniora (JPTWH), 1(1). Retrieved from https://jurnal.widyahumaniora.org/ Surur, A. M. (2020). Ragam Strategi Pembelajaran, Dilengkapi Dengan Evaluasi Formatif. (A. Fakarinsi, Ed.). Banten: CV. AA RIZKY. Suryani, Z., & Rostika, D. (2023). Meningkatkan Kreativitas Siswa Kelas 1 SD Melalui Program Semester Kurikulum Merdeka Materi SBDP. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan (JURDIKBUD), 3(2), 209–216. https://doi.org/10.55606/jurdikbud.v3i2 Ulfa, M., & Saifuddin. (2018). Terampil Memilih dan Menggunakan Metode Pembelajaran. Jurnal Universitas Muhammadiyah Surakarta. Wardana, & Djamaluddin, A. (2021). BELAJAR DAN PEMBELAJARAN (Teori, Desain, Model Pembelajaran dan Prestasi Belajar). (A. Djamaluddin, Ed.) (2nd ed.). Parepare: Penerbit CV Kaaffah Learning Center. Yuliani, W. (2018). Metode Penelitian Deskriptif Kualitatif Dalam Perspektif Bimbingan dan Konseling. Journal Education, 2. 159 JKPPK - VOLUME 2, NO. 2, APRIL 2024