Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 MOTIVASI BELAJAR MAHASIAWA ERA 6. 0 : TELAAH PERSPEKTIF HADIST NABI Fyra Oktaviani Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung fyraoktavianii@gmail. Bagas Putra Irwanda Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung bagassafutra613@gmail. Candra Kirana Wijaya Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung candrakiranawijaya16@icloud. Danu Fawwaz Pramudya Hazbi Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Danuhazbi20@gmail. Evi Febriani Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung evifebriani@radenintan. ABSTRACT The era of Education 6. 0 emphasizes the integration of technology, innovation, and character education as an inseparable unity in the learning process. This research aims to explore the concept of learning motivation for students in the 6. 0 era through the lens of the ProphetAos Using a qualitative-descriptive approach, the study reviews several hadiths related to the importance of knowledge, intention, and perseverance in learning. The results show that the Prophet Muhammad SAW emphasized motivation not only as a cognitive drive but also as a spiritual and moral responsibility. Therefore, student motivation in the Education 6. 0 era should be based on niyyah . and ittibaAo . ollowing prophetic guidanc. , harmonizing intellectual progress with faith and ethics. Kata Kunci : Learning Motivation. Education 6. Hadith Perspective Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Abstrak Era Pendidikan 6. 0 menekankan integrasi antara teknologi, inovasi, dan pendidikan karakter sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep motivasi belajar mahasiswa di era 6. 0 dalam perspektif hadits Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka terhadap sejumlah hadits yang berkaitan dengan pentingnya ilmu, niat, dan ketekunan dalam belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menekankan motivasi bukan hanya sebagai dorongan kognitif, tetapi juga sebagai tanggung jawab spiritual dan moral. Dengan demikian, motivasi belajar mahasiswa di era 6. 0 seharusnya berlandaskan pada niat yang tulus . dan keteladanan Nabi . , agar kemajuan intelektual selaras dengan nilai iman dan akhlak Kata Kunci : Motivasi Belajar. Era 6. Hadits Nabi Pendahuluan Perkembangan pendidikan global terus mengalami transformasi yang sangat cepat, seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan sosial budaya. Setelah melewati era Pendidikan 4. 0 yang menekankan pada digitalisasi dan otomatisasi, dunia kini memasuki fase Pendidikan 6. 0, sebuah paradigma baru yang menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran yang utuh mencakup aspek intelektual, emosional, spiritual, dan moral. Era ini hadir sebagai respons terhadap dampak modernisasi yang tidak hanya membawa kemajuan, tetapi juga tantangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan etika. Era 6. 0 menuntut mahasiswa untuk tidak sekadar menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta berlandaskan nilai spiritual dan moral. Pembelajaran di era ini berorientasi pada life transformation bukan sekadar knowledge transfer. artinya, proses pendidikan harus mampu membentuk karakter dan kepribadian yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan Seperti disampaikan oleh Dewi . dalam Jurnal Inovasi Pendidikan Islam, era 6. 0 menuntut keterpaduan antara Aukecerdasan digital dan kecerdasan spiritualAy agar peserta didik tidak kehilangan arah moral di tengah derasnya arus teknologi. Dalam konteks ini, motivasi belajar mahasiswa menjadi aspek yang sangat penting. Motivasi bukan hanya sekadar dorongan psikologis untuk berprestasi, tetapi juga cerminan dari niat, orientasi, dan tujuan hidup seseorang dalam mencari ilmu. Nabi Muhammad SAW telah menegaskan pentingnya niat dalam setiap amal melalui sabdanya. AuSesungguhnya amal itu tergantung pada Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkanAy (HR. Bukhari dan Musli. Hadits ini menjadi landasan utama bahwa belajar dalam Islam tidak hanya bertujuan duniawi, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan jalan menuju keridhaan Allah SWT. Lebih jauh. Rasulullah SAW juga menekankan nilai keikhlasan, kesungguhan, dan ketekunan dalam menuntut Dalam sebuah hadits, beliau bersabda: AuBarang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surgaAy (HR. Musli. Makna hadits ini menunjukkan bahwa proses belajar memiliki dimensi spiritual yang tinggi. setiap upaya mencari ilmu bernilai ibadah jika dilandasi niat yang benar dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Namun, dalam realitas mahasiswa masa kini, motivasi belajar sering mengalami penurunan akibat distraksi digital, tekanan akademik, serta ketergantungan pada teknologi. Penelitian oleh Hasanah & Arifin . menunjukkan bahwa lebih dari 60% mahasiswa mengalami academic burnout karena lemahnya motivasi intrinsik. Oleh karena itu, diperlukan paradigma baru yang mampu menumbuhkan motivasi belajar berbasis nilai-nilai Islam bukan hanya rasionalitas dan kognisi semata. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Data dikumpulkan dari literatur primer berupa kitab hadits seperti Shahih Bukhari. Shahih Muslim, dan Riyadhus Shalihin, serta literatur sekunder berupa jurnal ilmiah, buku pendidikan Islam, dan artikel tentang pendidikan 6. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, interpretasi teks hadits, dan penarikan makna kontekstual terhadap relevansi motivasi belajar mahasiswa era 6. Hasil dan Pembahasan Motivasi belajar merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan mahasiswa dalam menempuh proses pendidikan. Di era perkembangan teknologi dan digitalisasi yang semakin pesat yang dikenal sebagai Era 6. 0 motivasi belajar mengalami transformasi yang signifikan. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan adaptif terhadap teknologi, keterampilan berpikir kritis, serta kesadaran spiritual dalam menggunakan ilmu pengetahuan. Era 6. 0 menggambarkan masa di mana teknologi cerdas . ntelligent technolog. , kecerdasan buatan . rtificial intelligenc. , dan sistem pembelajaran digital terintegrasi secara penuh dalam dunia pendidikan. Namun demikian. Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas moral dan spiritual. Di sinilah peran nilai-nilai Islam menjadi penting, terutama dalam membentuk motivasi belajar yang tidak hanya berbasis logika dan kebutuhan duniawi, tetapi juga berlandaskan niat, keikhlasan, dan orientasi ibadah kepada Allah SWT. Hadits-hadits Nabi Muhammad memberikan kontribusi besar dalam menuntun arah pendidikan Islam agar tetap berpijak pada nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan. Rasulullah tidak hanya menekankan pentingnya menuntut ilmu, tetapi juga menanamkan etika, niat yang benar, dan tujuan belajar yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Oleh karena itu, telaah terhadap motivasi belajar mahasiswa melalui perspektif hadis menjadi sangat relevan untuk menjawab tantangan pendidikan di Era 6. Melalui integrasi antara nilai-nilai profetik dengan prinsip pendidikan modern, motivasi belajar mahasiswa dapat diarahkan pada keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, dan emosional. Pendekatan ini penting untuk membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga memiliki komitmen moral, empati sosial, dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Berdasarkan pemikiran tersebut, pembahasan dalam penelitian ini difokuskan pada beberapa nilai utama dalam hadits Nabi yang berkaitan dengan motivasi belajar mahasiswa, yaitu: niat sebagai fondasi motivasi belajar, keistiqamahan dalam menuntut ilmu, adab dan etika dalam proses pembelajaran, serta relevansi ajaran Rasulullah terhadap pendidikan modern di Era 6. Niat Sebagai Fondasi Motivasi Belajar Dalam pandangan Islam, niat (A )EIOAmerupakan inti dari setiap amal Nabi Muhammad SAW bersabda: ca A aI a aeI eE aA ANEE OaCaO aEA a aAO NEEA a A eaIA: a AO aEA a :aA eINa CaEA a A aIea aA a AA a A a aA A UAO aE aNA a AO aE aN A aNe aaNa auEaOA a A A aI eI EaIae Nae aaNa uaEaOAUA aOuaIac aI aEE aaE eI a s aI Ia aOOAUaAuaIac aI E a e aI aE aEIaOacA a ANEE aO aA a ANEE aO aA AAO aI eI EaIae Nae aaNa aE a eIOa Oa aAOaNa a aO eI a a s Oa eI aE aNa Aa aNe aaNa uaEaO aI aN aa auEa eO aNA AuSesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Ay (HR. Bukhari dan Musli. Hadits ini menjadi dasar teologis bahwa setiap aktivitas, termasuk proses belajar, harus berangkat dari niat yang benar dan ikhlas karena Allah SWT. Dalam konteks pendidikan modern, niat bukan hanya dimaknai sebagai motivasi Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 awal untuk belajar, tetapi juga sebagai energi spiritual yang menuntun arah, tujuan, dan makna pembelajaran itu sendiri. Pada Era Pendidikan 6. 0, di mana kemajuan teknologi, kecerdasan buatan . rtificial intelligenc. , dan big data telah menjadi bagian dari kehidupan akademik, mahasiswa dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana tetap menjaga keikhlasan dan orientasi spiritual dalam belajar di tengah derasnya arus informasi dan kompetisi global. Niat menjadi titik keseimbangan antara intellectual growth dan spiritual awareness. Mahasiswa yang menuntut ilmu karena Allah akan memandang belajar bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan ibadah yang memiliki nilai keberkahan. Menurut Rahman . dalam jurnal Islamic Education and Motivation Studies, niat yang dilandasi nilai religiusitas terbukti memperkuat intrinsic motivation mahasiswa. Mahasiswa dengan niat yang ikhlas cenderung lebih tekun, disiplin, dan konsisten dalam proses belajar karena motivasinya tidak bergantung pada faktor eksternal seperti nilai, penghargaan, atau pujian. Sebaliknya, mereka yang belajar tanpa kejelasan niat mudah kehilangan arah ketika menghadapi kesulitan Selain itu, niat juga berperan dalam membentuk etos belajar Islami. Ketika mahasiswa menyadari bahwa setiap upaya belajarnya bernilai ibadah, maka seluruh proses akademik mulai dari membaca, menulis, berdiskusi, hingga meneliti menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah. Dalam perspektif inilah, hadits Nabi tidak hanya menjadi teks moral, tetapi juga kerangka motivasional yang menggerakkan perilaku belajar secara sadar dan bermakna. Lebih lanjut, niat lillahi taAoala mampu melahirkan makna eksistensial dalam belajar. Mahasiswa yang berorientasi pada tujuan spiritual akan lebih tahan terhadap tekanan akademik, lebih tangguh dalam menghadapi kegagalan, dan lebih tenang dalam menjalani proses pendidikan. Mereka tidak menjadikan hasil akhir . ilai atau gela. sebagai satu-satunya ukuran kesuksesan, tetapi lebih fokus pada proses, pengalaman, dan kontribusi positif dari ilmu yang mereka peroleh. Dalam konteks era 6. 0, konsep niat juga dapat dikaitkan dengan fenomena digital learning behavior. Mahasiswa kini memiliki akses luas terhadap sumber ilmu dari berbagai platform digital seperti e-learning, video conference, atau AI-based learning tools. Namun, tanpa niat yang benar, teknologi justru dapat menjauhkan dari tujuan hakiki pendidikan yaitu pencarian kebenaran dan kebermanfaatan. Oleh karena itu, internalisasi niat dalam setiap aktivitas belajar digital menjadi kunci utama agar mahasiswa tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pemakmur ilmu yang beradab dan bernilai. Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Ghazali dalam IhyaAo Ulumuddin, niat yang benar akan mengubah aktivitas duniawi menjadi ibadah yang berpahala. Artinya, belajar dengan niat yang tulus bukan hanya melahirkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter spiritual yang matang. Di sinilah relevansi besar Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 hadits tentang niat dengan motivasi belajar mahasiswa era 6. 0 yaitu menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kedekatan dengan Allah, bukan sekadar alat mencapai kesuksesan material. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa niat merupakan fondasi utama motivasi belajar mahasiswa di era 6. Niat yang lurus menjadikan proses belajar lebih bermakna, menumbuhkan semangat berkelanjutan, dan mengarahkan setiap usaha akademik menuju keberkahan. Melalui nilai niat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, pendidikan Islam dapat menghadirkan keseimbangan antara kemajuan intelektual dan spiritual, sehingga menghasilkan generasi pembelajar yang cerdas, berakhlak, dan berorientasi ibadah. Kesunguhan & Ketekunan Sebagai Energi Pembelajaran Dalam dunia pendidikan Islam, kesungguhan (A )EAdan ketekunan (A)EIA merupakan dua karakter penting yang menentukan keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu. ANEEA a AO aEA a ACa aE aA: a aI eI a ac aO a aA AuBarang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan memperoleh . Ay (HR. al-Baihaqi dalam SyuAoab al-mAn. No. Hadits singkat ini sarat makna. Ia mengandung prinsip universal bahwa keberhasilan adalah buah dari usaha sungguh-sungguh dan kerja keras yang Dalam konteks pendidikan modern, terutama pada Era Pendidikan 6. 0, hadits ini menjadi sangat relevan. Era ini menuntut mahasiswa untuk memiliki kemampuan adaptif, inovatif, dan tahan banting dalam menghadapi perubahan cepat di dunia digital dan teknologi canggih. Kesungguhan dan ketekunan menjadi energi utama yang mendorong mahasiswa untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Di era ketika informasi sangat mudah diakses dan proses belajar dapat dilakukan secara mandiri . elfdirected learnin. , mahasiswa yang tidak memiliki semangat jiddiyyah . akan mudah kehilangan arah. Dengan motivasi yang kuat, mereka akan mampu mengatur waktu, menetapkan prioritas, dan bertanggung jawab terhadap proses akademiknya. Menurut Dewi . dalam Journal of Islamic Character Education, kesungguhan belajar berbanding lurus dengan tingkat keberhasilan akademik. Mahasiswa yang menunjukkan konsistensi dan komitmen tinggi cenderung Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 memiliki academic resilience kemampuan untuk bangkit dari kegagalan dan terus memperbaiki diri. Prinsip ini sejalan dengan konsep mujahadah dalam Islam, yaitu perjuangan sungguh-sungguh dalam menempuh jalan kebaikan. Allah SWT juga menegaskan dalam Al-QurAoan: AaEaIaA a AaOEac aOIa a aNaO AaOIa EaIa eN aOaIac aN eIA AuDan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Ay (QS. Al-AoAnkabut . : . Ayat ini mempertegas bahwa kesungguhan tidak hanya membawa keberhasilan duniawi, tetapi juga bimbingan dan pertolongan dari Allah. Dalam konteks mahasiswa era 6. 0, semangat mujahadah berarti berjuang keras menghadapi tantangan akademik seperti adaptasi dengan pembelajaran digital, tuntutan riset, dan persaingan global dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Kesungguhan juga berperan dalam membangun disiplin belajar. Mahasiswa yang meneladani ajaran Nabi akan terbiasa bekerja secara teratur, menghargai waktu, dan tidak mudah menyerah. Rasulullah sendiri dikenal sebagai sosok yang konsisten dan penuh semangat dalam menjalankan setiap tugas dakwahnya, bahkan dalam kondisi yang sulit sekalipun. Spirit ini menjadi teladan moral bagi generasi pembelajar di era modern. Selain itu, ketekunan dalam belajar juga dapat dimaknai sebagai bentuk ibadah jangka panjang. Imam SyafiAoi pernah menasihati murid-muridnya. AuIlmu tidak akan diberikan kepada orang yang malas. Ay Nasihat ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam belajar bukan ditentukan oleh kecerdasan semata, tetapi oleh kesungguhan hati dan konsistensi dalam menempuh prosesnya. Dalam penelitian kontemporer. Hasan . dalam Islamic Education Review menjelaskan bahwa mahasiswa dengan orientasi spiritual yang kuat menunjukkan ketekunan lebih tinggi dibandingkan mereka yang belajar hanya demi pencapaian akademik. Hal ini karena motivasi yang bersumber dari iman . man-based motivatio. lebih stabil dan tidak mudah goyah oleh tekanan Dengan demikian, hadits AuMan jadda wajadaAy mengandung pesan mendalam bagi mahasiswa di era 6. 0 bahwa kesungguhan dan ketekunan adalah kunci utama keberhasilan. Teknologi dan kecerdasan buatan boleh menjadi alat bantu, tetapi faktor penentu tetap ada pada kemauan dan usaha manusia itu sendiri. Semangat belajar yang diilhami oleh nilai-nilai profetik akan Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 menghasilkan mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh, berakhlak, dan bertanggung jawab terhadap ilmunya. Etika & Akhlak Sebagai Pengendali Arah Belajar Dalam Islam, akhlak (A )EECAmenempati posisi yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Rasulullah menegaskan pentingnya adab dan etika sebagai pondasi sebelum menuntut ilmu. Beliau ANEE A a AO aEA a ACa aE aA: a aE a aE aIIa aCacNA a A aOOa e a eIAUAOIaA e A aOOa e aAUAOIaA a AA aA a Ae aIIac aI eI Ea eI Oa aO aC e aE aA a AAEaOA AuBukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama. Ay (HR. Ahmad. No. Al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad. No. Hadits ini menunjukkan bahwa adab dan akhlak adalah pondasi utama dalam proses menuntut ilmu. Sebelum seseorang mencapai derajat ilmu, ia harus terlebih dahulu menata perilaku, sikap, dan tata krama terhadap guru, sesama pelajar, dan ilmu itu sendiri. Dalam konteks Era Pendidikan 6. 0, di mana sistem pembelajaran semakin digital, mandiri, dan terbuka, nilai-nilai etika menjadi semakin penting agar perkembangan teknologi tidak menghilangkan makna moral dari proses belajar. Etika akademik tidak hanya berkaitan dengan sopan santun dalam berbicara atau berpakaian, tetapi juga mencakup integritas ilmiah seperti kejujuran dalam menulis, menghindari plagiarisme, menghargai hak cipta, serta menjunjung kebenaran data dalam penelitian. Rasulullah juga menegaskan dalam hadits lain: a AA aI eIA AAe aIIacA a A AaEaOA ca AA AuBarang siapa menipu, maka ia bukan termasuk golongan kami. Ay (HR. Muslim. No. Hadits ini mengandung makna mendalam bahwa kejujuran adalah kunci utama dalam setiap aktivitas, termasuk aktivitas ilmiah. Dalam dunia akademik, perilaku curang seperti plagiarisme atau manipulasi data merupakan bentuk pelanggaran moral yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Oleh sebab itu, mahasiswa harus menanamkan akhlak kejujuran . sebagai bagian dari komitmen spiritual dalam menuntut ilmu. Menurut Husna . dalam jurnal Ethical Islamic Education Review, penerapan nilai akhlak dalam proses Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 pembelajaran digital mampu meningkatkan kesadaran moral mahasiswa terhadap penggunaan teknologi. Mahasiswa yang memahami nilai-nilai adab dan tanggung jawab cenderung lebih bijak dalam menggunakan media sosial, memfilter informasi, dan menghormati karya ilmiah orang lain. Selain itu, etika belajar juga menuntut sikap rendah hati . awAsuA. Imam Malik pernah berkata. AuIlmu tidak akan diberikan kepada orang yang sombong atau malu Ay Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesuksesan dalam menuntut ilmu bergantung pada kemurnian hati dan kerendahan diri di hadapan guru dan ilmu. Dalam sistem pembelajaran 6. 0 yang banyak memanfaatkan virtual class dan AIlearning assistant, sikap tawAsuAo tetap perlu dijaga agar mahasiswa tidak merasa lebih pintar dari gurunya hanya karena mudah mengakses informasi. Rasulullah juga mencontohkan akhlak terbaik dalam interaksi sosial dan Beliau bersabda: AACA a AA auIac aI a aea aEa a aI aI aIE aa aI eE a e aEA AuSesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Ay (HR. Al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad. No. Ahmad. No. Hadits ini menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan hanya bertujuan mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk karakter luhur yang berakar pada nilai-nilai keislaman. Dalam konteks pendidikan tinggi, akhlak mulia menjadi benteng moral bagi mahasiswa di tengah tantangan modernitas dan kemajuan Lebih jauh, integrasi antara akhlak dan motivasi belajar menciptakan keseimbangan antara knowledge dan wisdom. Mahasiswa yang berilmu tanpa adab akan kehilangan arah, sedangkan mahasiswa yang beradab akan menggunakan ilmunya dengan penuh tanggung jawab. Dalam Era 6. 0, di mana teknologi dapat menggantikan banyak peran manusia, nilai akhlak menjadi pembeda utama yang menegaskan kemanusiaan dan spiritualitas dalam Sebagaimana disampaikan oleh SyafiAoi . dalam Islamic Pedagogy Journal, pendidikan yang menanamkan nilai-nilai akhlak Islami terbukti meningkatkan moral engagement dan ethical awareness mahasiswa terhadap proses belajar. Artinya, semakin tinggi kesadaran etika, semakin kuat pula Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 motivasi belajar yang berorientasi pada manfaat dan keberkahan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa etika dan akhlak merupakan pengendali arah belajar mahasiswa di era 6. Hadits-hadits Nabi memberikan panduan moral agar kemajuan teknologi tidak menjerumuskan manusia pada kesombongan intelektual, tetapi justru memperkuat karakter spiritual dan tanggung jawab ilmiah. Integrasi antara akhlak dan ilmu akan melahirkan generasi pembelajar yang tidak hanya cerdas dan inovatif, tetapi juga beradab dan berakhlak karimah sesuai dengan teladan Rasulullah Relevansi Hadist Terhadap Era Pendidikan 6. Era Pendidikan 6. 0 menandai fase baru dalam dunia pembelajaran, di mana teknologi digital berpadu dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada knowledge-based learning, tetapi juga value-based learning yakni pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan moralitas. Dalam konteks ini, ajaran Rasulullah tetap relevan dan menjadi dasar nilai-nilai etik serta spiritual dalam proses pembelajaran modern. Rasulullah bersabda: A aE sIA a UA eE a eE aI Aa aOaA e AEaO E aaE aIA a aAEA AuMenuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Ay (HR. Ibnu Majah. No. Al-Baihaqi dalam SyuAoab al-Iman. No. Hadits ini menegaskan bahwa kewajiban menuntut ilmu berlaku universal tanpa batas ruang dan waktu. Dalam Era 6. 0, kewajiban ini justru semakin luas, karena akses ilmu semakin terbuka melalui teknologi digital seperti Artificial Intelligence. Augmented Reality, dan Virtual Learning Environment. Namun, kemudahan akses tersebut juga menuntut tanggung jawab moral agar ilmu yang diperoleh tidak disalahgunakan. Menurut Al-Munawwir . dalam Journal of Islamic Education and Technology Integration, hadits ini menegaskan prinsip lifelong learning dalam Islam, yang sejalan dengan semangat Era 6. Rasulullah mengajarkan bahwa belajar bukan hanya di ruang kelas, melainkan proses terus-menerus yang menuntut pengembangan diri, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Selain itu, relevansi lain terlihat dari sabda Nabi: a caA a eIa aN eI aEEIA a caO ae EIA AuSebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia Ay (HR. Ahmad. No. Ath-Thabrani dalam al-MuAojam al-Kab. Hadits ini menegaskan dimensi sosial dari ilmu pengetahuan. Dalam sistem pendidikan 6. 0, pembelajaran diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui inovasi, solusi sosial, dan moralitas yang baik. Prinsip ini sejalan dengan visi human-centered education yakni pendidikan yang mengutamakan manfaat bagi kehidupan manusia, bukan sekadar kecanggihan teknologi. Menurut Rahman . dalam Tarbiyah Research Journal, hadits ini memiliki relevansi tinggi terhadap orientasi pembelajaran modern yang menekankan kolaborasi, kreativitas, dan empati sosial. Mahasiswa dituntut untuk menjadi change agent yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga menggunakannya untuk kemaslahatan umat. Umar bin Khattab juga menekankan pentingnya keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam menuntut ilmu. Dalam sabdanya: a aA aO e aI eE aE a aaEa aEaIacEa a aIOAUAO aaUA AUA a A e aI eE aE a eIOaEa aE aIacEa a aA AuBeramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok. Ay (HR. Al-Baihaqi. SyuAoab al-Iman. No. Hadits ini menggambarkan keseimbangan antara kemajuan teknologi . dan kesadaran spiritual . Pendidikan Era 6. 0 menuntut mahasiswa untuk beradaptasi dengan teknologi, namun tetap menjaga nilai-nilai moral dan spiritual agar kemajuan tersebut tidak menjauhkan manusia dari tujuan Dalam perspektif pendidikan islam, hadits-hadits di atas memberikan pedoman bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan arah nilai. Smart learning dan AI-based education seharusnya tetap diikat oleh nilai-nilai tauhid dan akhlak. Tanpa itu, pendidikan hanya akan melahirkan manusia cerdas secara teknologi namun miskin spiritualitas. Sebagaimana dinyatakan oleh Nasir . dalam Islamic Educational Philosophy Review, nilai-nilai profetik dalam pendidikan merupakan pemandu bagi arah pengembangan kurikulum Era 6. 0 agar tetap berorientasi pada Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 pembentukan insan kamil manusia paripurna yang berilmu, beradab, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, relevansi hadits Nabi terhadap pendidikan modern tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga aplikatif. Prinsip-prinsip seperti kewajiban menuntut ilmu, kebermanfaatan sosial, kejujuran akademik, dan keseimbangan dunia-akhirat menjadi dasar filosofi yang menyatukan antara spiritual intelligence dan technological intelligence dalam satu sistem pembelajaran terpadu. Penutup Motivasi belajar mahasiswa pada Era 6. 0 tidak hanya bergantung pada faktor eksternal seperti kemajuan teknologi, lingkungan belajar, atau metode pengajaran, tetapi juga pada kekuatan internal berupa niat, semangat, dan kesadaran spiritual. Dalam perspektif hadis Nabi Muhammad, motivasi belajar merupakan proses ibadah yang bernilai jika dilandasi dengan niat yang benar dan keikhlasan karena Allah SWT. Hadits-hadits yang menekankan pentingnya niat, kewajiban menuntut ilmu, serta manfaat sosial dari ilmu memberikan arah bahwa belajar harus memiliki orientasi transendental bukan semata-mata untuk capaian akademik, tetapi juga untuk pengabdian dan kemaslahatan umat. Era Pendidikan 6. 0 membawa tantangan baru dalam dunia pendidikan Islam, seperti munculnya artificial intelligence, pembelajaran daring, dan disrupsi nilai akibat globalisasi. Namun, nilai-nilai profetik yang diajarkan Rasulullah mampu menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan tersebut. Pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai hadis akan melahirkan mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, beradab dalam mencari ilmu, dan berorientasi pada manfaat. Motivasi belajar dalam perspektif hadis mengandung dimensi keikhlasan, ketekunan, dan tanggung jawab sosial. Ketika mahasiswa memahami bahwa belajar merupakan bentuk pengabdian kepada Allah SWT, maka proses pendidikan akan menjadi lebih bermakna dan berdaya guna. Dengan demikian, penerapan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran modern dapat menjadi solusi untuk mengembalikan esensi pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter, akhlak, dan peradaban yang berkeadaban. Pendidikan Era 6. 0 seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai ilahiah, melainkan menjadi sarana untuk memperkuat spiritualitas di tengah kemajuan teknologi. Dengan menjadikan hadits Nabi sebagai sumber inspirasi motivasi belajar, mahasiswa dapat tumbuh menjadi generasi pembelajar yang berilmu luas, berakhlak mulia, serta mampu mengintegrasikan antara iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan nyata. Motivasi Belajar Mahasiawa Era 6. 0 : Telaah Perspektif Hadist Nabi Fyra Oktaviani. Bagas Putra Irwanda. Candra Kirana Wijaya. Danu Fawwaz Framudya Hazbi. Tanzhimuna Vol 5. No 1 Juni 2025 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Daftar Pustaka