ISSN : 2721-074X (Onlin. - 2301-6698 (Prin. Homepage : http://ejournal. id/index. php/AFP/index Research Article DOI : 10. 36728/afp. PENINGKATAN ADOPSI PETANI TERHADAP PENERAPAN GOOD AGRICULTURAL PRACTICES (GAP) PADI ORGANIK Suswadi1*). Arbianti. Mutiarra Ridyo Arum. Teguh Supriyadi. Faustina Yuniastuti. Suyanti. 1,2,3,4,5,6 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Tunas Pembangunan Surakarta Email: suswadi@lecture. ABSTRACT Penerapan Good Agricultural Practice (GAP) merupakan inovasi yang diimplementasikan pada Kelompok Tani Pangudi Bogo sebagai upaya dalam melaksanakan SOP-GAP padi organik agar padi yang dihasilkan dapat memenuhi standar. Namun, adopsi dari inovasi GAP padi organik belum diketahui apakah petani benarbenar mengimplementasikan sesuai dengan GAP padi organik. Tujuan penelitian ini . mengetahui adopsi petani terhadap penerapan GAP padi organik . mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi adopsi petani terhadap penerapan GAP padi organik . mengetahui bagaimana cara untuk meningkatkan adopsi petani terhadap penerapan GAP padi organik. Metode penentuan lokasi dengan purposive yaitu pada Kelompok Tani Pangudi Bogo. Jumlah sampel sebanyak 30 petani padi organik. Metode analisis data menggunakan analisis linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi petani terhadap penerapan Good Agricultural Practice (GAP) padi organic yang tergolong tinggi meliputi penggunaan lahan dan tanah, penggunaan benih, penanaman, pemupukan, transportasi dan pergudangan sedangkan untuk kategori sedang meliputi penyiangan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, panen dan pascapanen. Faktor yang mempengaruhi adopsi petani adalah partisipasi, penyuluhan, dan pengalaman bertani organic. Peningkatan adopsi dapat dilakukan dengan meningkatkan partisipasi dan keterlibatan petani dalam menerapkan SOP-GAP padi organic, meningkatkan frekuensi penyuluhan, dan menambah pengalaman bertani INFORMATION Received : 7 Mei 2025 Revised : 11 Juni 2025 Accepted : 2 Juli 2025 Volume : 25 Number : 2 Year : 2025 Copyright A 2025 KEYWORD Adopsi. Good Agricultural Practices (GAP). Organik. Padi This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International Licence PENDAHULUAN Kabupaten Boyolali merupakan salah satu penghasil padi di Provinsi Jawa Tengah. Luas panen, produksi, dan produktivitas padi di Kabupaten Boyolali (BPS, 2. sebagai berikut: JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . | 21 Tabel 1. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Tahun Luas Panen . Produksi . Produktivitas . u/h. 57,74 47,20 56,17 57,35 55,61 Sumber: Data BPS Provinsi Jawa Tengah, 2024 Berdasarkan Tabel 1, luas panen padi di Kabupaten Boyolali dari tahun 2019-2023 mengalami fluktuasi dari 47. 751 ha pada tahun 2019 meningkat menjadi 51. 247 ha pada tahun 2022 dan mengalami penurunan menjadi 49. 819 ha pada tahun 2023. Pada tahun 2020, jumlah produksi padi di Kabupaten Boyolali adalah sebanyak 225. 426 ton dengan kontribusi produksi dari Kecamatan Mojosongo sebanyak 7,3% yaitu 16. 550 ton (BPS Kabupaten Boyolali, 2. Salah satu daerah di Kecamatan Mojosongo yang mengembangkan pertanian organik adalah di Desa Dlingo. Salah satu kelompok tani yang ada di Desa Dlingo adalah kelompok tani Pangudi Bogo yang merupakan penghasil beras organik. Tujuan pertanian padi organik adalah untuk menjaga kelestaran lingkungan dan memenuhi permintaan pasar produk beras organik. Penerapan budidaya padi organik harus sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sudah ditetapkan. Standar Operasional Prosedur (SOP) dibuat berdasarkan SNI 6729:2016 dan Peraturan Menteri Pertanian No. Tahun 2023 tentang Sistem Pertanian Organik. ICS bertugas untuk memastikan bahwa petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Pangudi Bogo menerapkan praktik pertanian organik yang sesuai dengan SOP yang sudah ditetapkan. Sistem pertanian organik telah diterapkan oleh Kelompok Tani Pangudi Bogo di Kabupaten Boyolali khususnya komoditas padi dan sudah tersertifikasi oleh lembaga sertifikasi organik sehingga beras yang dihasilkan sudah terjamin kualitas dan organik. Sertifikasi merupakan prosesur dari lembaga sertifikasi pemerintah atau lembaga sertifikasi yang diakui pemerintah memberikan jaminan tertulis atau yang setara bahwa pangan atau sistem pengendalian pangan sesuai dengan persyaratan (Balitbangtan, 2. Tujuan sertifikasi organik adalah memberi bukti bahwa pelaku usaha telah menerapkan sistem pertanian organik, mewujudkan jaminan mutu produk pangan, sebagai bukti telah lulus uji sertifikasi pangan organik dan memberikan kepercayaan terhadap pelanggan/konsumen dengan menempelkan label organik pada kemasan. Sertifikasi yang sudah dimiliki Kelompok Tani Pangudi Bogo adalah sertifikasi lokal untuk pangsa dalam negeri dan jangkauan pemasaran beras organik Kelompok Tani Pangudi Bogo yaitu dalam negeri . emerintah dan masyaraka. Penerapan Good Agricultural Practice (GAP) merupakan inovasi yang diimplementasikan pada Kelompok Tani Pangudi Bogo sebagai upaya dalam melaksanakan SOP-GAP padi organik agar padi yang dihasilkan dapat memenuhi standar. Namun, adopsi dari inovasi GAP padi organik belum diketahui apakah petani benar-benar mengimplementasikan sesuai dengan GAP padi Adopsi inovasi Good Agricultural Practice (GAP) padi organik dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor, namun faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi GAP padi organik belum diketahui dan perlu diketahui agar dapat meningkatkan adopsi GAP padi organik. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian peningkatan adopsi petani terhadap 22 | JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . penerapan Good Agricultural Practices (GAP) padi organik. Tujuan penelitian ini adalah: . mengetahui adopsi petani terhadap penerapan GAP padi organik . mengetahui faktorfaktor yang memengaruhi adopsi petani terhadap penerapan GAP padi organik . mengetahui bagaimana cara untuk meningkatkan adopsi petani terhadap penerapan GAP padi METODE Metode dasar penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive yaitu pada Kelompok Tani Pangudi Bogo yang berlokasi di Kabupaten Boyolali dengan pertimbangan bahwa Kelompok Tani Pangudi Bogo menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) padi organik. Sampel dalam penelitian ini adalah petani padi organik yang tergabung dalam Kelompok Tani Pangudi Bogo. Jumlah sampel penelitian adalah 30 responden. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2025. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data sekunder dan data primer. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara terstruktur menggunakan kuesioner kepada responden penelitian. Pengukuran variabel dalam variabel penelitian menggunakan skala likert dengan skor 1-5. Metode analisis penelitian untuk mengetahui factor-faktor yang dapat mempengaruhi adopsi menggunakan analisis regresi linear berganda dengan formula : Y = a bX1 bX2 bX3 bX3 bX4 bX5 e Y = adopsi petani a = konstanta b = koefisien regresi X1 = partisipasi petani X2 = penyuluhan . X3 = pengalaman bertani organik . X4 = usia . X5 = pendidikan . e = error HASIL DAN PEMBAHASAN Adopsi Petani terhadap Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) Padi Organik Adopsi merupakan perubahan perilaku berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan pada seseorang setelah menerima inovasi dan bukan hanya sekadar mengetahui tetapi dapat menerapkan dengan benar (Mardikanto, 1. Menurut Soekartawi . , adopsi inovasi merupakan proses perubahan social adanya penemuan baru yang dikomunikasikan kepada pihak lain, kemudian diadopsi oleh masyarakat atau system social. Penerapan Good Agricultural Practice (GAP) dituangkan dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) padi Oleh karena itu, dalam melaksanakan usahatani padi organic petani seharusnya merujuk pada SOP-GAP yang sudah dibuat agar produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan standar padi organic. Adopsi petani terhadap penerapan GAP padi organik ditampilkan pada Tabel 2. JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . | 23 Tabel 2. Adopsi Petani Terhadap Penerapan Good Agricultural Practice (GAP) Komponen Adopsi Skor Responden Penggunaan lahan dan tanah Penggunaan benih Penanaman Penyiangan Pemupukan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Panen dan Pascapanen Transportasi dan Pergudangan Sumber: Analisis Data Primer, 2025 Skor Nilai Adopsi Maksimum (%) 85,46 83,55 68,13 76,41 Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Tinggi Penggunaan lahan dan tanah Berdasarkan Tabel 2, pengolahan lahan dan tanah termasuk ke dalam kategori adopsi petani terhadap penerapan Good Agricultural Practice (GAP) yang tergolong tinggi. GAP yang diadopsi oleh petani meliputi penggunaan lahan yang sudah berstatus organik dan sudah melalui proses konversi di masa lalu. Petani melakukan pengolahan tanah 1-2 bulan sebelum penanaman padi organic dilakukan. Dalam pengolahan tanah, sudah sesuai dengan anjuran yang ditetapkan pada SOP-GAP padi Pemupukan yang dilakukan saat kegiatan pengolahan tanah adalah pupuk Pengolahan tanah juga dilakukan dengan mempertahankan air dalam kondisi macak-macak. Penggunaan benih Adopsi petani terhadap penggunaan benih dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) yang sesuai dengan SOP termasuk dalam kategori tinggi. Petani menggunakan benih padi organic yang sesuai dengan mutu yang disyaratkan sesuai SOP. Varietas benih yang digunakan oleh petani merupakan varietas unggul yang sesuai dengan agroekosistem. Jumlah benih yang digunakan dalam usahatani sesuai dengan jumlah yang dianjurkan. Penanaman Adopsi petani terhadap penanaman yang sesuai dengan SOP-GAP padi organic termasuk dalam kategori tinggi. Kegiatan usahatani yang dilaksanakan petani pada saat penanaman adalah sesuai dengan waktu yang telah sesuai dan mempertimbangkan ketersediaan air. Jadwal penanaman yang dilakukan oleh Kelompok Tani Pangudi Bogo bertujuan dalam memastikan keberlanjutan produksi dalam memenuhi pasar beras organik. Jarak tanam yang dipakai petani dalam menanam padi organik sesuai dengan SOP-GAP. Penyiangan Adopsi petani terhadap penerapan GAP yang sesuai dengan SOP tergolong sedang. Penyiangan gulma dilakukan petani agar pertumbuhan tanaman padi organic dapat maksimal dan produksi tinggi. Petani menggunakan alat berupa sorok untuk menyiangi gulma padi. Pemupukan Adopsi petani terhadap pemupukan yang sesuai dengan SOP-GAP padi organic termasuk dalam kategori tinggi. Petani padi organic selalu menggunakan pupuk organic sesuai dengan dosis yang sesuai dengan rekomendasi. Waktu pemupukan 24 | JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . dengan pupuk organic juga sesuai dengan waktu yang dianjurkan. Pemberian pupuk organic dilakukan 2-3 kali selama masa pertumbuhan padi organic. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Adopsi petani terhadap pengendalian hama dan penyakit tanaman padi organic tergolong pada kategori sedang. Petani mengendalikan hama dan penyakit tanaman menggunakan pestisida berbahan organic dan bukan bahan kimiawi. Petani mengendalikan hama dan penyakit secara preventif . ebelum terserang ham. dan pengendalian yang dilakukan saat muncul adanya serangan pada tanaman. Panen dan Pasca panen Adopsi petani terhadap panen dan pascapanen yang sesuai dengan SOP-GAP padi organic tergolong dalam kategori sedang. Waktu panen padi organic sesuai dengan SOP-GAP padi organik. Penjemuran dilakukan dengan control pada satu lokasi sehingga kadar air gabah dapat sesuai dengan kualitas. Penyimpanan pasca panen pada tempat yang terhindar dari kontaminasi bahan anorganik. Petani menjual gabah kepada kelompok tani. Transportasi dan pergudangan Adopsi petani terhadap penerapan GAP padi organic pada tansportasi dan pergudangan tergolong dalam kategori tinggi. Transportasi yang digunakan petani dalam proses usahatani selalu memenuhi standar organic dan tidak tercampur bahan Proses pengiriman gabah ke kelompok tani juga terbebas dari resiko kontaminasi bahan anorganik. Fasilitas pergudangan sudah sesuai dengan standar organic termasuk suhu dan kelembaban ruangan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adopsi Petani terhadap Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) Padi Organik Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi petani terhadap penerapan GAP padi organic dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah partisipasi, penyuluhan, pengalaman bertani organik, usia, dan Hasil analisis regresi linear berganda menggunakan software STATA ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda X1 . X2 . X3 . engalaman bertani organi. X4 . X5 (Pendidika. Constant Prob > F R-squared Adj R-squared Coefficient 0,2274556 1,170425 0,7989569 0,1995359 -0,0476115 53,62562 = 0,0000 = 0,9335 = 0,9196 Std. 0,1098411 0,4854639 0,2864263 0,1029202 0,2343410 5,074081 2,07 2,41 2,79 1,94 -0,20 10,57 P > . 0,049 0,024 0,010 0,064 0,841 0,000 Sumber: Data Primer diolah, 2025 Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan hasil uji asumsi klasik didapat bahwa data terbebas dari multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Hasil adj r-squared . ,9. berarti bahwa variabel independen dalam penelitian ini yaitu partisipasi, penyuluhan, pengalaman bertani organic, usia, dan pendidikan memengaruhi adopsi sebanyak 91,96% sedangkan sisanya 8,04% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . | 25 Hasil regresi linear berganda dengan software STATA menghasilkan model persamaan sebagai berikut: Y = 53,62562 0,2274556 X1 1,170425 X2 0,7989569 X3 0,1995359 X4 -0,0476115 X5 Y = adopsi X1 = partisipasi X2 = penyuluhan X3 = pengalaman bertani organic X4 = usia X5 = pendidikan Nilai prob>F 0,0000 berarti bahwa secara bersama-sama variabel partisipasi, penyuluhan, pengalaman bertani organic, usia, dan pendidikan berpengaruh nyata terhadap adopsi. Berdasarkan model, diketahui bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap adopsi adalah variabel partisipasi . value 0,049 O . ), variabel penyuluhan . value 0,024 O . ), dan variabel pengalaman bertani organik . value 0,010 O . Variabel usia dan pendidikan tidak berpengaruh terhadap adopsi petani karena p value > . Nilai koefisien variabel partisipasi, penyuluhan, dan pengalaman bertani organik memiliki nilai positif berarti bahwa peningkatan variabel tersebut akan meningkatkan adopsi petani terhadap penerapan Good Agricultural Practice (GAP) padi organik. Peningkatan Adopsi Petani terhadap Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) Padi Organik Good Agricultural Practice (GAP) adalah teknis penerapan system sertifikasi proses produksi pertanian yang menggunakan teknologi maju ramah lingkungan dan berkelanjutan, sehingga produk aman dikonsumsi, kesejahteraan tenaga kerja diperhatikan, dan usahatani yang memberikan keuntungan ekonomi bagi petani (Kementerian Pertanian, 2. Petani menganggap bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian penting dari produksi dan good agriculture sangat penting untuk menjaga keberlanjutan usahatani, meningkatkan hasil panen, meningkatkan keuntungan (Tankosic et al. , 2. Petani di Desa Dlingo. Kecamatan Mojosongo. Kabupaten Boyolali telah mendapatkab bimbingan langsung dari dinas pertanian dan menghasilkan beras organic yang sudah sersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) (Majasto dan Suswadi, 2. Good Agricultural Practice (GAP) merupakan salah satu upaya dalam pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan dan perolehan devisa, namun juga merupakan factor penting dalam pertumbuhan wilayah pedesaan karena sebagian besar Masyarakat pedesaan bergantung pada sektor pertanian (Arbianti et al. Pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian (Aprilliyanti et al. , 2. Pertanian organic tidak hanya sebagai system yang menggunakan pupuk dan pestisida non kimia . tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya local dan terbarukan (Arum et al. , 2. Dalam menerapkan pertanian organic maka perlu ditingkatkan proses adopsi inovasi dalam hal ini adalah Good Agricultural Practices (GAP) sehingga implementasi di ingkat petani dapat sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan. Peningkatan adopsi petani terhadap penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dapat dilakukan melalui : Partisipasi Partisipasi petani merupakan keikutsertaan petani secara individu maupun kelompok secarasadar dan tanggungjawab dalam bidang usaha pertanian (Suswadi dan Sutarno. Dalam rangka meningkatkan adopsi petani terhadap penerapan Good Agricultural 26 | JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 25 NO 2 . Practices (GAP) padi organic maka dapat dilakukan dengan cara meningkatkan partisipasi Keterlibatan petani menjadi bagian penting dari proses adopsi GAP padi organic. Aspek yang dapat ditingkatkan adalah keterlibatan petani dalam penyampaian ide, pengambilan keputusan, implementasi, dan evaluasi. Hal ini didukung dari hasil analisis regresi bahwa partisipasi berpengaruh terhadap adopsi. Sejalan dengan penelitian Nyokabi et al. bahwa partisipasi berpengaruh terhadap adopsi di tingkat petani. Penelitian Yang dan Wang menunjukkan bahwa partisipasi petani dapat meningkatkan adopsi (Ma et al. , 2. Penyuluhan Berdasarkan analisis regresi linear berganda bahwa variabel penyuluhan berpengaruh terhadap adopsi penerapan GAP padi organic. Semakin tinggi frekuensi yang diberikan dalam penyuluhan akan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani sehingga petani akan cepat dalam mengadopsi GAP padi organic. Menurut Gunawan et al. , sdopsi petani dapat dipengaruhi oleh kegiatan penyuluhan yang dilakukan petani, semakin tinggi frekuensi penyuluhan maka semakin tinggi tingkat adopsi inovasi yang Sejalan dengan Hiola dan Indriana . bahwa intensitas kegiatan penyuluhan dapat mempengaruhi tingkat adopsi inovasi karena berkaitan dengan kemampuan penyuluh dalam menjalankan peran sebagai inovator dan motivator bagi petani. Peran penyuluh dalam mendukung adopsi Good Agricultural Practices (GAP) terdiri dari educator, fasilitator, motivator, inovator, dan advokasi (Kansrini dan Febrimeli, 2. Pengalaman bertani organik Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa pengalaman bertani organic berpengaruh terhadap adopsi penerapan GAP padi organic. Hal ini dikarenakan petani yang memiliki pengalaman lebih lama akan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai sehingga lebih cepat dalam menerima dan menerapkan usahatani yang sesuai dengan SOP-GAP padi organic. Sejalan dengan penelitian Jamala et al. bahwa pengalaman berusahatani dapat mempengaruhi adopsi teknologi padi. KESIMPULAN Adopsi petani terhadap penerapan Good Agricultural Practice (GAP) padi organic yang tergolong tinggi meliputi penggunaan lahan dan tanah, penggunaan benih, penanaman, pemupukan, transportasi dan pergudangan sedangkan untuk kategori sedang meliputi penyiangan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, panen dan pascapanen. Faktor yang mempengaruhi adopsi petani adalah partisipasi, penyuluhan, dan pengalaman bertani Peningkatan adopsi dapat dilakukan dengan meningkatkan partisipasi dan keterlibatan petani dalam menerapkan SOP-GAP padi organic, meningkatkan frekuensi penyuluhan, dan menambah pengalaman bertani organic. UCAPAN TERIMA KASIH Tim penelitian mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Tunas Pembangunan (UTP) atas dukungan pendanaan sesuai dengan Nomor Kontrak 012/PK-P/LPPM-UTP/XII/2024 Tahun Anggaran 2024/2025 sehingga kegiatan penelitian ini dapat berjalan lancar. DAFTAR PUSTAKA