Penggalih, dkk / Tropical Animal Science 7. :9-15 Tropical Animal Science. Mei 2025, 7. :9-15 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas KINERJA PRODUKSI DAN INCOME OVER FEED COST PEMELIHARAAN AYAM BROILER PADA KANDANG CLOSE HOUSE (STUDI KASUS SUYATNO FARM DESA BANDARDAWUNG. KECAMATAN TAWANGMANGU) PRODUCTION PERFORMANCE AND INCOME OVER FEED COST OF BROILER CHICKEN REARING IN CLOSE HOUSE SYSTEM (CASE STUDY AT SUYATNO FARM. BANDARDAWUNG. TAWANGMANGU) Ratna lantip Penggalih. Ali Mursyid Wahyu Mulyono. Muhammad Husein Animal Husbandry Study Program. Faculty of Agriculture. Universitas Veteran Bangun Nusantara. Jl. Letjen Sujono Humardani No. Sukoharjo 57521- Indonesia *E-mail korespondensi: alimursyidwahyum@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan performa dari pemeliharaan ayam broiler dari 5 periode pemeliharaan ayam dengan variabel rerata bobot badan panen, nilai deplesi, konversi pakan, indeks performa (IP), dan Income Over Feed Cost (IOFC). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan kuesioner dengan subyek kandang closehouse Suyatno Farm. Penelitian ini menghasilkan rerata dari 5 periode yaitu pemeliharaan 19. 800, rerata bobot badan panen 1,98 kg/ekor, nilai deplesi 385 ekor atau 1,94 %, nilai konversi pakan 1,437, indeks performa (IP) 441, dan Income Over Feed Cost (IOFC) Rp 14. Dari penelitian ini di temukan bahwa periode 1 performa terbaik dari seluruh periode pada variabel rerata bobot badan panen 2,1 kg/ekor. IP 473, dan IOFC Rp 14. Periode 2 mendapatkan hasil terbaik dari seluruh periode pada variabel deplesi dengan nilai 348 ekor dengan persentase 1,65. Sedangkan koversi pakan terbaik terdapat pada periode 3 dengan nilai 1,410. Kata kunci: bobot badan rata-rata, laju deplesi, rasio konversi pakan (FCR), indeks performa (IP). Income Over Feed Cost (IOFC). ABSTRACT This study aims to determine the differences in broiler chicken performance across five rearing periods by analyzing the variables of average body weight, depletion rate, feed conversion ratio (FCR), performance index (IP), and Income Over Feed Cost (IOFC). Data collection techniques used in this research include observation and questionnaires, with the subject being the close house system at Suyatno Farm. The study produced the following: averages over five rearing periods: an average pololation 19,800 chickens, an average body weight of 1. 98 kg per bird, a depletion rate of 385 birds or 1. 94%, a feed conversion ratio of 437, a performance index (IP) is 441, and IOFC IDR 14,005. The results indicate that Period 1 had the best overall performance in terms of average final body weight 2. 1 kg per bird, performance index 473, and IOFC Penggalih, dkk / Tropical Animal Science 7. :9-15 IDR 14,660. Period 2 showed the best result in depletion rate, with 348 birds lost 1. Meanwhile, the best feed conversion ratio was recorded in Period 3 with a value of 1. Keywords: average body weight, depletion rate, feed conversion ratio (FCR), performance index (IP). Income Over Feed Cost (IOFC) PENDAHULUAN Ayam boiler merupakan jenis ayam yang memiliki laju pertumbuhan yang cepat, laju pertumbuhan ayam boiler yang cepat membuat satu kali siklus pemeliharaan ayam dari DOC hingga panen hanya membutuhkan waktu 5 minggu (Momongan et al. , 2. Menurut Tahu et al. , . laju pertumbuhan yang cepat oleh ayam broiler membuat kebutuhan pemeliharaan yang sangat intensif, hal ini bertujuan agar ayam broiler memiliki produksi daging yang tinggi. Ada 3 faktor pemeliharaan ayam boiler antara lain bibit . , pakan . , dan managemen (Nuryati, 2. Perkembangan teknologi peternakan peternakan ayam boiler di tahun-tahun belakang ini sangat cepat. Salah satu teknologi yang cepat berkembang adalah teknologi kandangan close house atau kandang tertutup. Menurut Sugito et al. , . kandang close house memiliki keunggulan yang mampu mengatur kondisi lingkungan ayam secara Cara pengontrolan temperatur, kelembapan, dan intensitas cahaya. Suhu dan kadar air di udara di sekitar tempat pemeliharaan yang meningkat dan dinamis menjadi hambatan kesuksesan ternak ayam broiler . Dalam memperhatikan beberapa variabel yang Konversi pakan merupakan salah satu variabel yang dapat digunakan dalam (Mulhimah & Lestari, 2. Dalam penelitian Woli et al. , . mortalitas ayam juga dapat digunakan dalam menganalisa performa Sedangkan Hidayatullah et al. , . Income Over Feed Cost (IOFC) Juga merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan dalam keberhasilan dalam berternak. Penelitian ini dilakuan bertujuan untuk menganalisa performa dari pemeliharan ayam boiler di kandang close house dari beberapa periode pemeliharaan, yang dilakukan pada Kandang Suyatno Farm. Berbeda dengan penelitian yang di lakukan oleh Kusuma et al. yang dilakukann pada dua kandang semi close house dengan satu kali periode Penelitian ini dilakukan pada kandang close house serta dilakukan pada 5 periode pemeliharan. MATERI DAN METODE Penelitian menggunakan 5 periode pemeliharaan ayam, terhitung mulai bulan mei 2024 sampai dengan Penelitian ini dilaksanakan pada peternakan ayam pedaging di Desa Bandardawung. Kecamatan Tawangmangu. Kabupaten Karanganyar. Provinsi Jawa Tengah. Indonesia. Penelitian menggunakan metode survei dengan subyek peternakan ayam pedaging Suyatno Farm. Penelitian dikakukan selama 5 periode pemeliharaan dengan rincian periode 1 (Mei sampai Juni, 2. , periode 2 (Juli sampai Agustus, 2. , periode 3 (September sampai Oktober, 2. , periode 4 (November Penggalih, dkk / Tropical Animal Science 7. :9-15 sampai Desember, 2. , periode 5 (Januari sampai Febuari, 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan Variabel data yang dikumpulkan meliputi populasi panen, deplesi, konversi pakan, indek produksi (IP), dan Income Over Feed Cost (IOFC). Variabel Pengamatan penelitian ini adalah bobot panen, konversi pakan. Indek performa, rerata umur panen, dan Income over feed ratio. Bobot panen adalah bobot ayam yang telah di panen dalam satu periode. Rerata bobot ayam yang dipanen, yang dapat dihitung dengan Total bobot panen . ABW = Populasi panen . keterangan: ABW = Rerata bobot badan panen. Deplesi ayam di hitung dengan rumus berikut Deplesi = ayam mati . Jumlah Ayam Mati . Deplesi(%) = y 100 Populasi Awal . Konversi pakan di hitung dengan rumus Total konsumsi pakan . Konversi Pakan = Total bobot panen . Indek performa (IP) di hitung dengan rumus . Oe deplesi(%)) y ABW . IP = FCR y rerata umur panen . (T1 y U. (T2 y U. A Rerata umur panen = Total populasi panen keterangan: ABW: Rerata bobot badan panen. FCR: Konversi pakan. T1. T2. TA: Total populasi ayam yang dipanen dalam satu hari. U1. U2. UA: Umur ayam dipanen Income over feed ratio (IOFR) di hitung dengan rumus berikut: IOFR = (A) Oe (B) A = BW . y Harga Ayam B = Konsumsi Pakan . y Harga Pakan Keterangan: : Pendapatan dari penjualan ayam : Biaya pakan yang dikonsumsi : Bobot badan panen HASIL DAN PEMBAHASAN Suyatno Farm adalah kandang ayam pedaging yang berdiri sejak tahun 2004 yang mulanya memiliki satu kandang yang menggunakan sistem open dengan kapasitas 500 ekor, kemudian bertambah satu kandang yang membuat kapasitas total populasi kedua kandang sejumlah 8. 000 ekor ayam. Pada tahun 2020 kemudian Suyatno Farm melakukan renovasi kedua kandangnya secara bertahap menjadi kandang close house dengan dua lantai yang mana memiliki populasi 000 ekor ayam. Suyatno Farm merupakan mitra usaha dari PT CIOMAS ADISATWA unit Solo. Usaha peternakan ayam pedaging ini menggunakan sistem kemitraan. sarana untuk day old chick (DOC), pakan. Obat vaksin kimia (OVK), tenaga ahli yang berupa petugas penyuluh lapangan (PPL), dan pemasaran disediakan oleh pihak inti. Kebutuhan kandang yang berupa kandang dan peralatannya, tenaga kerja, serta biaya pendukung selama proses pemeliharaan di sediakan oleh plasma, serta peternak pemeliharaan himgga panen. Harga day old chick (DOC), pakan, obat vaksin kimia (OVK), dan harga jual ayam ditentukan oleh inti, yang kemudian disepakati oleh plasma dalam bentuk kontrak perjanjian. Bibit ayam yang digunakan adalah DOC dengan strain MB 202 grade Platinum. Seluruh pakan ayam yang digunakan dalam pemeliharaan seluruh periode menggunakan pakan SB 10 SUPER. SB 11 SUPER, dan SB 12 SUPER PT. JAPFA COMFEED INDONESIA. Pakan SB Super digunakan dengan urutan: SB 10 Super digunakan umur 0 hari hingga umur 7 hari. SB 11 Super digunakan umur 8 hari hingga umur 21 hari, dan SB 12 Super digunakan pada umur 22 hingga panen. OVK yang diberikan oleh mitra indi adalah klorin, multi vitamin Astrevit dan Penggalih, dkk / Tropical Animal Science 7. :9-15 Agrivit power. Vaksin ND (Newcastle Diseas. BAN/AF, susu skim. Agricid. Benzalvaks, sorbitol, dan biostres. Tabel 1. Performa Produksi Usaha Ternak Ayam Pedaging Periode Pemeliharaan Variabel Performa Rerata Pemeliharaan . Populasi Panen . Bobot Badan Panen (K. Rerata Bobot Badan Panen . g/eko. 2,10 1,96 1,98 1,85 2,02 1,98 Deplesi . Deplesi (%) 1,76 1,65 2,21 2,14 1,98 1,94 Konsumsi Pakan (K. 49,500 Rerata Konsumsi Pakan (Kg/eko. 3,05 2,81 2,80 2,75 2,86 2,854 Konversi Pakan 1,446 1,429 1,410 1,483 1,417 1,437 Indeks Performa (IP) Bobot badan panen adalah jumlah kilogram bobot badan ayam yang telah di panen dari awal pemeliharaan hingga panen terakhir pada satu periode pemeliharaan. Berdasarkan Tabel 1, periode 3 mendapatka jumlah bobot badan panen yang paling rendah yaitu hanya 35. 103,5 kg, akan tetapi performa dari variabel bobot badan panen yang didapatkan pada periode 3 termasuk baik karena pemeliharaannya yang hanya 18. ekor dapat menghasilkan bobot badan panen 103,5 kg. Bila kita membandingkan variabel performa bobot badan panen dengan jumlah pemeliharaan pada Tabel 1, maka didapatkan bahwa periode ke 4 memiliki performa yang paling rendah yaitu 1. 820:1000 , sedangkan performa yang terbaik terdapat pada periode ke 1 dengan hasil perbandingan 2. 075:1000. Serupa dengan hasil perbandingan bobot badan panen dan jumlah pemeliharaan, variabel performa rerata bobot badan panen pada periode 4 memiliki nilai yang terkecil yaitu 1,85 kg/ekor, sedangkan periode 1 memiliki nilai tertinggi di angka 2,10 kg/ekor. Dalam Tabel 1 dapat dilihat bahwa rerata rerata bobot badan panen dari kelima periode didapatkan 1,98 kg/ekor. Pada penelitian Kusuma et al. , . didapatkan hasil ABW 2,00 kg/ekor pada polulasi awal 10. 000 ekor dan 2,06 kg/ekor pada polulasi awal 9. 000 ekor, yang mana hasil ini lebih tinggi dari rerata ABW pada Tabel 1 dengan nilai 1,98 kg/ekor. Susanti, et al. , . berpendapat bahwa pertambahan bobot badan ayam dipengaruhi oleh konsumsi pakan, kualitas pakan, kondisi lingkungan kandang yang optimak akan membuat konsumsi pakan akan baik jika konsumsi pakan baik, maka pertumbuhan juga akan baik. Deplesi adalah salah satu indikator penting dalam menganalis performa pemeliharaan ayam pedaging dilihat dari penurunan jumlah ayam dalam satu siklus pemeliharaan yang culling . Dari Tabel diperlihatkan bahwa nilai deplesi tertinggi ayam per ekor terdapat pada periode ke 4 yaitu 429 ekor dan nilai terrendah pada periode ke 2, sehingga dapat di artikan bahwa pada periode ke 4 ayam mengalami kematian dengn jumlah ekor ter banyak sedangkan periode ke 2 memiliki jumlah deplesi terendah dari 5 Penggalih, dkk / Tropical Animal Science 7. :9-15 periode yang di amati. Pada Tabel 1. memperlihatkan bahwa persentase deplesi tertinggi terdapat pada periode ke 3 dengan nilai persentase deplesi yaitu 2,21%. Nilai deplesi perekor tidak bisa berbanding lurus dengan persentase deplesi dikarenakan perbedaan jumlah awal pemeliharaan ayam per periode. Rerata deplesi per ekor dan persentase deplesi yang didapatkan dari ke 5 periode pemeliharaan adalah 385 ekor dan 1,93%. Menurut Wijayanto. standar presentase deplesi PT. Ciomas Adisatwa pada umur pemeliharaan antara 34 hari sampai 39 hari adalah 2,16 dapat lihat bahwa rerata persentade deplesi pemeliharaan Suyatno Farm yang bernilai 1,93% dibawah nilai standar PT. Ciomas Adisatwa. Nilai persentase deplesi yang lebih rendah berarti pervorma dari Variabel persentase Deplesi dapat dikatakan baik. Konversi pakan adalah kilogram pakan yang dibutuhkan ayam untuk mendapatkan satu kilogram daging, menurut Sugito Ed al, 2021 nilai konversi pakan yang semakin rendah menunjukan bahwa pemeliharan nilai konversi pakan tersebut semakin efisien. Pada Tabel 1. menunjukan konversi pakan yang didapatkan dari 5 periode pemeliharaan, nilai tertinggi pada periode ke 4 dengan nilai konversi pakan 1,483 yang mana dapat di artikan bahwa periode 4 mengalami penurunan performa terendah di antara 5 periode yang diamati. Sedangkan nilai terendah terjadi pada periode ke 5 dengan nilai konversi pakan 1,417 yang menunjukan bahwa pada periode pemeliharaan ke 5 performa ayam menurut variabel konversi pakan merupakan yang terbaik. Rerata konversi pakan ayam yang di dapatkan selama 5 periode pengamatan adalah 1,437 kg, oleh karena itu Fadiellah & Dian, . berpendapat bahwa konversi pakan tersebut termasuk performa yang baik menurut standar pemeliharaan oleh PT CIOMAS ADISATWA. Penelitian ini melakukan perhitungan Indeks Performance Produksi (IP) dengan menggunakan variabel penentu tingkat deplesi(%), average body weight (ABW), konversi pakan, dan umur panen. Pada Tabel 1. menunjukan bahwa periode 1 memiliki performa IP terbaik di pada angka 473, sedangkan periode ke 4 memiliki nilai IP terenda pada angka 386. Susanti, et al. , . berpendapat bahwa semakin tinggi nilai IP yang di dapat maka semakin baik performa pemeliharaan dalam satu periode, oleh karena itu dapat diartikan bahwa Performa IP terbaik dari kelima periode terdapat pada periode 1, sedangkan untuk performa Ip terendah terdapat pada periode 4. Nilai IP yang rendah pada periode ke 4 diakibatkan oleh faktor konversi pakan yang tinggi. ABW yang rendah, dan waktu panen yang lebih lama. Tabel 1. menunjukan rerata IP yang didapat dari kelima periode pemeliharaan yaitu 441, menurut Wijayanto. , . IP di angka 400 dapat dikategorikan performa yang baik. Tabel 2. Analisis Income Over Feed Cost (IOFC) Periode Pemeliharaan Variabel Performa Rerata Bobot ayam yang dipanen (K. 103,5 36. Asumsi harga ayam (/k. Jumlah konsumsi pakan . Asumsi harga pakan (/k. Income over feed cost (IOFC) (Rp/eko. Penggalih, dkk / Tropical Animal Science 7. :9-15 Income Over Feed Cost (IOFC) merupakan pendapatan yang diperoleh dari penjualan ayam perkilogram bobot panen ayam dikurangi dengan total biaya pakan yang digunakan dalam saperiode pemeliharaan. Asumsi harga ayam hidup dan harga pakan pada tabel 2. didapatkan dari rerata hargaharga beberapa sampel harga yang terdapat Rekapitulasi Tabel 2. menunjukan nilai IOFC pada periode 1 mendapatkan nilai tertinggi yang mencapai Rp14. 660 perekor, sedangkan periode 4 mendapatkan nilai terendah di angka Rp12. Menurut Rahmaniarsy, . konversi pakan yang semakin rendah akan meningkatkankan keuntungan. KESIMPULAN Dari penelitian yang dilakukan pada 5 periode pemeliharaan pada kandang Suyatno Farm. Penelitian ini menghasilkan rerata dari 5 periode yaitu pemeliharaan 19. 800, rerata bobot badan panen 1,98 kg/ekor, nilai deplesi 385 ekor atau 1,94 %, nilai konversi pakan 1,437, indeks performa (IP) 441, dan Income Over Feed Cost (IOFC) Rp 14. Dari penelitian ini di temukan bahwa periode 1 performa terbaik dari seluruh periode pada variabel rerata bobot badan panen 2,1 kg/ekor. IP 473, dan IOFC Rp 14. Periode 2 mendapatkan hasil terbaik dari seluruh periode pada variabel deplesi dengan nilai 348 ekor dengan persentase 1,65. Sedangkan koversi pakan terbaik terdapat pada periode 3 dengan nilai 1,410. Penelitian ini juga menemukan bahwa peridose 4 memiliki performa yang terburuk dari kelima periode pemeliharaan karena memiliki performa dibawah rata-rata pada variabel rerata bobot badan panen terendah 1,85 kg/ekor, memilikin nilai deplesi tertinggi 429 ekor . ,21%), nilai konversi pakan tertinggi 1,483, nilai indeks performa terendah yaitu 386, dan memiliki Income Over Feed Cost (IOFC) terrendah pada Rp 12. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Suyatno Farm atas fasilitas dan data yang telah diberikan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA