Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN PENERAPAN FUNGSI MANAJEMEN KELOMPOK WANITA TANI (KWT) DI KALURAHAN NGESTIHARJO. KASIHAN. BANTUL Application of Women Farmer Group (KWT) Management Function in Ngestiharjo Village. Kapanewon Kasihan. Bantul Regency Rohmat Hidayat Penyuluh Pertanian Kalurahan Ngestiharjo BPP Kasihan. Kabupaten Bantul. DIY Email: rohm4thidayat@gmail. ABSTRACT Eighteen Women Farmer Groups (KWT) were grown in Ngestiharjo Village from 2019 to 2021. It is hoped that the growth of KWTs will play a role in developing farmer farming. Training from the government and other stakeholders has not been able to make KWT carry out the functions of farmer groups optimally. This indicates that the application of group management functions is still low in carrying out farmer groups role. Good management will support KWT in developing independent and high productivity farming. This study aims to determine the application of the KWT management function in Ngestiharjo Village. Kapanewon Kasihan. Bantul Regency. Yogyakarta Special Region. This study was conducted in July 2023. Data collection methods use interview, questionnaires, and observation. Determination of village was purposive and respondents were two administrators/active members from each KWT in the Ngestiharjo Village. Processing data using descriptive analysis with quantitative approach. The study result shows that the percentage of management functions implementation: planning is 57. 02%, organizing is 47. 69%, actuating is 66. 17%, and controlling is It can be concluded that the implementation of four management functions is included in the less implementing category. Persuasive counseling is needed about the importance of management, especially organizing and controlling. Keywords: application, management. KWT ABSTRAK Delapan belas KWT ditumbuhkan di Kalurahan Ngestiharjo pada 2019 hingga 2021. Penumbuhan KWT diharapkan berperan dalam mengembangkan usahatani petani. pelatihan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lain belum mampu membuat KWT menjalankan fungsi kelompok tani secara optimal. Hal ini menandakan adanya penerapan fungsi manajemen kelompok yang masih rendah dalam menjalankan peran kelompok tani. Manajemen yang baik akan mendukung KWT dalam pengembangan usahatani yang mandiri dan berproduktivitas tinggi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan fungsi manajemen KWT di Kalurahan Ngestiharjo. Kapanewon Kasihan. Kabupaten Bantul. DIY. Kajian ini dilaksanakan pada JuliAgustus 2023. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, kuesioner, dan observasi. Penentuan kalurahan/ desa secara purposive dan responden merupakan dua pengurus atau anggota aktif dari masingmasing KWT se-Kalurahan Ngestiharjo. Pengolahan data menggunakan analisis deskriptif pendekatan Hasil kajian menunjukan prosentase penerapan fungsi manajemen: perencanaan sebesar 57,02%, pengorganisasian sebesar 47,69 %, pelaksanaan sebesar 66,17%, dan pengawasan sebesar 51,54%. Dapat disimpulkan bahwa penerapan keempat fungsi manajemen termasuk kategori kurang menerapkan. Diperlukan penyuluhan persuasif tentang pentingnya manajemen, terutama pengorganisasian dan pengawasan. Kata kunci: penerapan, manajemen. KWT Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN PENDAHULUAN Kasihan,2. KWT dibentuk dengan modal sosial berupa pendampingan dan motivasi dari PKK di masing-masing dusun/ RT dan didukung oleh kebijakan Lurah Ngestiharjo. Penumbuhan KWT diharapkan sebagai wadah merubah pola pikir petani agar mau mengembangkan usahataninya. Oleh sebab itu, kemampuan KWT dalam melaksanakan fungsinya merupakan syarat mutlak untuk mendukung tujuan penumbuhan KWT. Dukungan pemerintah untuk mendukung peningkatan kemampuan KWT di Kalurahan Ngestiharjo antara lain : . pelatihan untuk masing-masing KWT dari dana Kalurahan Ngestiharjo. pelatihan peningkatan kapasitas dari rintisan start up, dinas, dan perguruan tinggi. Kegiatan tersebut mulai dilaksanakan pada Tahun 2022 karena adanya pandemi Covid-19. Materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan KWT tersebut, baik teknis budidaya, pengolahan hasil pangan, pemasaran, maupun penguatan kelembagaan. Berbagai dukungan tersebut belum mampu membuat KWT menjalankan fungsi kelompok tani secara optimal. KWT juga belum berkembang dan belum mampu mandiri untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani anggota. Beberapa permasalahan yang ditemui adalah kurang optimalnya pemanfaatan lahan pekarangan untuk usahatani. Hal ini ditunjukkan dari 50% KWT belum memahami manajemen pengembangan demplot. kelompok petani belum lengkap pencatatan administrasinya dan 60 % kelembagaan petani belum melaksanakan pertemuan rutin (BPP Kasihan, 2. Selain itu, belum adanya dampak yang dihasilkan dari pelatihan dan peningkatan kapasitas yang didukung KWT menindaklanjuti di tingkat kelompok. Hal ini menandakan adanya penerapan fungsi manajemen kelompok yang masih rendah dalam menjalankan peran kelompok tani. Manajemen KWT sangat penting diterapkan untuk menjalankan agribisnis kelompok. Manajemen yang baik akan mendukung KWT dalam merencanaan usaha, penyediaan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang merupakan salah satu kelembagaan petani dibentuk untuk mendorong anggotanya untuk mampu membangun usahatani yang berdaya saing dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan posisi tawarnya (Kementerian Pertanian, 2. Menurut Nuryanti dan Swastika . , pembentukan KWT untuk: memperkuat pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasil secara kolektif. efisiensi diseminasi teknologi pertanian kepada petani karena menjangkau petani yang lebih banyak dalam satuan waktu tertentu. Perlu adanya suatu manajemen yang dijalankan sesuai dengan kesepakatan pengurus dan anggotanya untuk mencapai tujuan dibentuknya KWT. Untuk memajukan organisasi diperlukan pengelolaan kelompok yang menjalankan beberapa fungsi utama pengawasan (Nazaruddin, 2. Dalam Pemimpin memiliki peran yang penting untuk mempengaruhi dan memotivasi petani untuk mencapai tujuannya secara bersama-sama melalui KWT. Kementerian Pertanian telah mengatur bahwa peningkatan kemampuan pendekatanmanajemen yang dijalankan dari tiga fungsi kelompok tani, yaitu sebagai kelas belajar, unit produksi, dan wahana kerjasama. KWT yang dijalankan oleh ibu-ibu/ wanita memiliki peran yang strategis dalam agribisnis berkaitan pemanfaatan lahan pekarangan. Optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan dilakukan dengan melaksanakan usaha tani secara terpadu, berkelanjutan dan diarahkan menuju tahap kemandirian (Rodeni dkk. Pemilihan komoditas pertanian yang diusahakan memperhatikan potensi lokal sehingga mampu berkelanjutan. Sebanyak 18 KWT ditumbuhkan di Kalurahan Ngestiharjo pada 2019 hingga 2021 (BPP Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN sarana dan prasarana, budidaya tanaman, dengan penanganan hasil dan Usahatani yang dijalankan akan berkembang menjadi mandiri dan produktivitas tinggi. Penelitian Ferdinan . menunjukkan penerapan fungsi manajemen di Kelompok Cempaka di Kota Manado mampu mengembangkan potensi dan memotivasi anggota dalam meningkatkan pengolahan hasil produksi, akhirnya mampu meningkatkan kelas kemampuan kelompok tani ke Madya Tahun Penelitian dilaksanakan Muhammadun dkk . , menunjukkan rata-rata penerapan fungsi manajemen pada kelompok tani di Kalurahan Sumberarum. Sleman. DIY menunjukan bahwa hampir seluruh kelompok tani kurang menerapkan fungsi manajeman untuk menjalankan kelompok, sehingga kelompok belum bisa teroroganisir untuk mencapai kemandirian dan tujuan yang diharapkan. Berdasarkan kondisi yang diuraikan diatas maka peneliti melakukan kajian yang berjudul AuPenerapan Fungsi Manajemen KWT di Kalurahan Ngestiharjo. Kapanewon Kasihan. Kabupaten Bantul. DIYAy. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui penerapan fungsi manajemen KWT di Kalurahan Ngestiharjo. Kapanewon Kasihan. Kabupaten Bantul. DIY. sesuatu berupa data yang olah sedemikian rupa dan sebagaimana adanya tanpa bermaksud dibuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Teknik Pengambilan Sampel Menurut Sugiyono . , teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel untuk menentukan sampel yang akan pertimbangan tertentu. Cakupan wilayah kajian adalah Kalurahan Ngestiharjo. Teknik pengambilan sampel pada kajian ini sebagai Kapanewon Kasihan dan Kalurahan Ngestiharjo dipilih secara purposive sampling, dengan pertimbangan bahwa wilayah ini merupakan wilayah binaan Penentuan kelompok wanita tani dipilih secara purposive sampling yaitu KWT yang ditumbuhkan Tahun 2019-2021 sejumlah 18 KWT dan semuanya termasuk kelas Pengambilan sampel/ responden disetiap KWT dengan pertimbangan responden mengerti tentang manajemen kelompok dan aktif dalam pertemuan atau kegiatan (Muhammadun, 2. Diambillah dua pengurus atau anggota aktif dari masingmasing KWT. Total sampel yang diambil adalah 36 petani. METODE PENELITIAN Instrumen penelitian Waktu dan Tempat Penerapan manajemen kelompok tani adalah aksi atau tindakan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh kelompok tani untuk mencapai tujuan kelompok dengan mengoptimalkan potensi secara efektif dan Tujuan penerapan menajemen Perencanaan diukur dengan lima indikator seperti pendapat Muhammadun . dan Pembinaan kelembagaan petani Kementan Tahun 2016: . kelas belajar diukur dengan perencanaan Kajian ini akan dilaksanakan pada Bulan Juli-September 2023. Tempat kajian yaitu di Kalurahan Ngestiharjo. Kapanewon Kasihan. Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode Penelitian Jenis Penerapan Fungsi Manajemen KWT di Kalurahan Ngestiharjo. Kapanewon Kasihan. Kabupaten Bantul. DIY pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono . , metode deskriptif merupakan cara ISSN Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. wahana kerjasama diukur perencanaan kemitraan usaha, dan . unit produksi diukur dengan perencanaan kegiatan bersama melalui RDK dan RDKK, perencanaan kegiatan agribisnis Pengorganisasian diukur dengan tiga indikator sesuai dengan Pusluhtan . dan Kementan . : . kelas belajar diukur dengan aturan dan norma untuk kedisiplinan dan motivasi anggota. wahana kerjasama diukur dengan struktur . unit produksi diukur dengan admisnitrasi kelompok. Pelaksanaan atau actuating diukur dengan tujuh indikator sesuai dengan Pusluhtan . Kementan . , dan Muhammadun . : . kelas belajar kerjasama diukur dengan pemupukan . unit produksi diukur dengan pelaksanaan usaha bersama dan pelaksanaan penerapan teknologi sesuai Pengawasan diukur dengan tiga indikator dengan Pusluhtan . Kementan . , dan Muhammadun . Mengevaluasi kelembagaan, dan evaluasi pelaksanaan kegiatan kelompok tani. (Sugiyono, 2. Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan dari angket. Angket/ kuesioner merupakan pertanyaan yang tidak ditulis rinci dan berhubungan dengan permasalahan dan keadaan yang ingin diketahui. Wawancara dilakukan secara melalui tanya jawab dengan petani, tokoh masyaraat, hingga pemangku kepentingan di Ngestiharjo, yaitu Lurah dan pengurus PKK kalurahan. Kuesioner Menurut Sugiyono . , kuesioner adalah metode pengumpulan data dengan menggunakan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada responden. Dalam kajian ini, kuesioner yang digunakan adalah menyediakan beberapa alternatif jawaban pertanyaan/pernyataan Observasi Observasi adalah pengamatan dan pencacatan secara sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti di lapangan yang meliputi daerah penelitian dan pencatatan informasi yang diberikan oleh petugas maupun responden di lokasi. Analisis Data Analisis data menggunakan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel tanpa melakukan membuat analisis dan kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2. Pengolahan data bertujuan mengetahui bagaimana penerapan fungsi manajemen KWT di Kalurahan Ngestiharjo. Kapanewon Kasihan. Kabupaten Bantul. DIY. Langkahlangkah dalam analisis deskriptif sebagai Merekapitulasi data yang diperoleh ke dalam tabel tabulasi data untuk mengetahui jumlah skor yang diperoleh dari setiap alat ukur atau Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam kajian ini sebagai berikut. Wawancara Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk memperoleh informasi dengan face to face atau melalui media perantara lain sesuai kondisi Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN Data dalam bentuk skor dihitung jumlah, rata-rata. Nilai skor jawaban dari responden untuk menilai penerapan fungsi manajemen menggunakan skala likert meliputi: yaycuycyceycycycayco = ycIycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco Oe ycycoycuyc ycoycnycuycnycoycayco yaycycoycoycaEa ycoyceycoycayc yaycuycyceycycycayco = 100% Oe 33,33% = 22,22% Keterangan: Nilai maksimal Nilai minimal Selalu menerapkan : skor 4 Sering menerapkan : skor 3 Kadang-kadang menerapkan : skor 2 Tidak menerapkan : skor 1 Skor dari pertanyaan tentang sikap petani dihitung interval kelas dengan rumus sebagai berikut. : 3 . engan asumsi 100%) : 1 . engan asumsi 33,33%) Selanjutnya hasil dari skor nilai capaian dapat dianalisis ke dalam 3 kategori penerapan fungsi KWT yang telah ditentukan tersebut. Kemudian skor diklasidikasikan dalam kategori tinggi, sedang, dan rendah sebagai berikut: Tinggi = 77,78 Ae 100% Sedang = 55,56 Ae 77,77% Rendah = 33,33 Ae 55,55% Data dalam bentuk skor tersebut yang pernyataan pada setiap responden. Kemudian hasil olah data diakumulasi pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan dalam bentuk kerangka tabel dengan nilai penerapan fungsi dikategorikan menjadi tiga yaitu: Menerapkan = 77,78 Ae 100% kurang menerapkan = 55,56 Ae 77,77% tidak menerapkan = 33,33 Ae 55,55% HASIL DAN PEMBAHASAN Letak Wilayah Wilayah Desa Ngestiharjo dengan luasan 510 Ha, secara administratif berbatasan dengan: Utara Desa Trihanggo. Gamping. Sleman Timur berbatasan dengan Kelurahan Tegalrejo Bener (Kemantren Tegalrej. dan Kelurahan Pakuncen. Patangpuluhan. Wirobrajan (Kemantren Wirobraja. Barat Desa Banyuraden Kecamatan Gamping dan Desa Tamantirto Kecamatan Kasihan Selatan berbatasan dengan Desa Tirtonirmolo. Kecamatan Kasihan Jarak Kalurahan Ngestiharjo dengan kecamatan adalah 3 km, jarak Kalurahan Ngestiharjo dengan kabupaten adalah 12 km, dan jarak Kalurahan Ngestiharjo dengan ibukota provinsi adalah 15 km. Luas wilayah Kalurahan Ngestiharjo adalah 510 Ha dengan rincian penggunaan lahan dijelaskan pada Tabel 1. Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN Tabel 1. Penggunaan Lahan Kalurahan Ngestiharjo Penggunaan Luas . Sawah Pekarangan Hutan rakyat Kas Kalurahan Kantor Pemerintah Lapangan Fasilitas umum Jumlah Sumber : BPP Kasihan . Luasan sawah di Ngestiharjo adalah 52,6 ha dan sangat kecil dibanding dengan luas pekarangan yaitu 395,4 ha. Dengan lokasi Ngestiharjo yang merupakan wilayah pinggiran kota Jogja maka alih fungsi lahan pertanian akan terus terjadi. Potensi lahan pertanian di pekarangan dengan teknologi KRPL akan menjadi potensi yang bisa dikembangkan selain sawah. Penduduk Jumlah Kalurahan Ngestiharjo menurut jenis kelamin dijelaskan pada Tabel 2. Jumlah penduduk Kalurahan Ngestiharjo menurut tingkat Pendidikan yang ditempuh dijelaskan pada Tabel 3. Daftar Kelompok Wanita Tani Kalurahan Ngestiharjo yang dibentuk s. Tahun 2021 dapat dilihat dalam Tabel 4. Tabel 2. Penduduk Menurut Jenis Kelamin Kalurahan Ngestiharjo Tahun 2022 No. Desa Laki-laki (Jiw. Perempuan(Jiw. Jumlah (Jiw. Ngestiharjo Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Bantul, 2022 Tabel 3. Penduduk Ngestiharjo berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat pendidikan Jumlah Total Belum/ tidak sekolah Belum tamat SD Tamat SD/ sederajat Tamat SMP/ sederajat 2070 Tamat SMA/ sederajat 4995 DI/ DII Di/ Sarjana Muda D IV/ S1 10 S 3 Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Bantul, 2022 Tabel 4 Daftar Kelompok Wanita Tani Desa Ngestiharjo Nama Kelompok Alamat Jml Anggota Nama Ketua Ngudi Lestari Sonopakis kidul Sri Lestari Barokah Jomegatan Sri Wahyaningsih Dewi Sri Soragan Rt 1 Suprapti Melati Asri Tambak Aminul Alawiyah Sumber rejeki Sumberan Elly Tri Wahyuni Agrirejo Sidorejo Utami Dewi Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN Nama Kelompok Guyup Rukun Rimpang Makmur Sembodro Srikandi Ngudi Rejeki Tanjung Asri Migunani Guyup Saklawase Ngudi rukun Kenanga Mekar Janten Asri Alamat Sonopakis Lor Onggobayan RT 3 Onggobayan RT 4 Onggobayan RT 5 Onggobayan RT 8 Kadipiro Sonosewu Sumberan Sonopakis Lor Cungkuk Jomegatan Janten HASIL KAJIAN Karakteristik Responden Berdasarkan hasil jawaban kuesioner yang dilakukan terhadap 36 responden di KWT Kalurahan Ngestiharjo untuk menilai diperoleh gambaran karakteristik responden. Jml Anggota Nama Ketua Titik Ganiwati Idah Rosidah Sri Wahyuni Sri Wahyuni Erna Supraptinah Ida Maryamah Dra. Sri Sulastri Sumartinah Siti Sugiyanti Dwi Astuti Sukaryorini Wiratminingsih Dwi Lestari Umur Responden Usia manusia berdasarkan produktivitas kerja dapat dibedakan tiga kelompok umur menurut BPS, yaitu umur belum produktif (<15 tahu. , produktif . -64 tahu. , dan pascaproduktif (>64 tahu. Karakteristik responden menurut umur pada Tabel 5. Tabel 5. Karakteristik Responden Menurut Umur Umur . Jumlah responden . Persentase (%) 0 Ae 14 15 Ae 64 >64 Jumlah Sumber: Olahan data primer, 2023 Tabel sebanyak 34 orang atau 94,4% termasuk pascaproduktif atau 5,6% . Soekartawi . berpendapat makin muda petani, semakin cepat dalam melakukan adopsi inovasi meskipun belum berpengalaman. Responden yang merupakan pengurus dan anggota aktif KWT dapat dikatakan sebagai orang yang terdepan yang memberikan contoh tentang penerapan teknologi di tingkat kelompok. Pengurus merupakan orang yang dipilih dan dihormati karena dinilai memiliki kemampuan lebih baik dibanding dengan anggotanya dengan mempertimbangkan umur yang masih sehat/ produktif. Umur yang produktif menjadi modal yang dimiliki pengurus untuk mengelola KWT. Pendidikan Formal Terakhir Responden Tingkat pendidikan responden sebagian besar lulus SMA/SMK sebesar 17 orang . ,22%), sedangkan di urutan nomor dua adalah lulusan perguruang tinggi sebanyak 16 orang . ,45%) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6 semakin tinggi pendidikan, semakin mudah KWT menerima inovasi. Sebagian besar pengurus KWT di Ngestiharjo adalah tokoh masyarakat dan lulusan perguruan tinggi yang menjadi penggerak KWT untuk maju dan bisa Menurut Kurnadi . , petani golongan early adopter/ pengetrap dini memiliki status sosial dan pendidikan relative tinggi dan mampu mempengaruhi anggota lain dalam mengadopsi inovasi. Mereka berperan mengakses sumber-sumber informasi dalam agribisnis anggrek dan memanajemen Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN kegiatan KWT. Anggota KWT lainnya kesepakatan kelompok secara demokratis. Dengan kondisi latar belakang pendidikan yang sebagian SMA/SMK, anggota KWT mampu menerima berbagai informasi maupun inovasi yang akan disampaikan. Tabel 6. Karakteristik Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah Responden . Persentase (%) Tidak Tamat SD SMP 8,33 SMA/SMK 47,22 Perguruan Tinggi 44,45 Jumlah Sumber: Olahan data primer, 2023 Jabatan Lain Selain KWT Responden yang merupakan pengurus dan anggota aktif tidak hanya aktif mengelola KWT, tetapi juga diamanahi beberapa jabatan lain di lembaga sosial kemasyarakatan. Hal ini menjadi tantangan sekaligus potensi bagi perkembangan KWT. Dengan banyaknya relasi dan pengalaman berorganisasi di jabatan lainnya, membuat KWT lebih mudah dalam bermitra, berjejaring, dan bertukar Diperlukan pendelegasian wewenang ke pengurus lainya jika ada kegiatan bersamaan antara KWT dan lembaga lainnya. Hal ini membuat responden tetap mampu mengelola KWT di antara kesibukan lainnya. Sesuai dengan penelitian Nurmayasari dan Ilyas . bahwa salah satu faktor pendukung kelancaran kegiatan di KWT adalah Kerjasama yang baik dari anggota KWT Karakteristik responden menurut jumlah jabatan sosial di Tabel 7. Tabel 7. Karakteristik Responden Menurut jumlah jabatan yang dibebankan Jumlah Jabatan yang Jumlah responden . Persentase (%) diemban selain KWT KWT saja 8,33 1 jabatan lain 27,78 Jabatan lain >1 63,89 Jumlah Sumber: Olahan data primer, 2023 Jabatan di PKK menjadi jabatan terbanyak yang diemban oleh pengurus dan anggota aktif KWT di Kalurahan Ngestiharjo sebanyak 27 orang, diikuti 13 orang yang juga menjadi pengurus di posyandu/ posbindu, empat orang pengurus bank sampah, dan tiga orang di kegiatan PAUD. Jabatan lain yang kepengurusan di dasa wisma, bank sampah, serta organisasi lainnya. Demplot/ demonstrasi plot di dalam konsep KRPL merupakan salah satu instrumen yang wajib ada di KWT sebagai tempat untuk mempraktekkan teknologi dan ilmu yang diperoleh bisa disebarluaskan dan diterapkan di lingkungan pekarangan masingmasing. Demplot merupakan lahan yang disepakati bersama dan dipakai oleh KWT untuk pembelajaran teknologi baru. Demplot bisa di lahan pekarangan yang mudah akses untuk perawatan dan sesuai dengan Kepemilikan demplot KWT Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN sedang, 502-1000 m2/ luas ,>1000 m2/ sangat Karakteristik responden menurut luas pemilikan lahan secara rinci seperti dapat dilihat pada Tabel 8. Menurut Arifin dkk . , luas pekarangan rumah diklasifikasikan dalam empat kategori, <200 m2/ sempit, 200-500 m2/ Tabel 8. Karakteristik Responden Menurut Kepemilikan Lahan Pekarangan untuk demplot KWT Klasifikasi luas pekarangan Jumlah responden . Persentase (%) . Tidak ada demplot 27,78 <200 55,55 16,67 >1000 Jumlah Sumber: Olahan data primer, 2023 Tabel 8 menunjukkan sebanyak 20 responden/ 10 KWT memiliki demplot dengan kategori sempit . ,55%). enam responden/ 3 KWT memiliki demplot dengan kategori sedang . ,67%). Kalurahan Ngestiharjo yang Kota Yogyakarta dengan kepadatan penduduk yang tinggi membuat demplot menjadi hal yang tidak mudah untuk dimiliki oleh KWT. Data menunjukkan 10 responden / 5 KWT tidak punya demplot. Kegiatan usahatani dilaksanakan di rumah masing-masing. Dibutuhkan evaluasi di tingkat KWT sehingga diharapkan penerapan teknologi berhasil. Komoditas Unggulan KWT Komoditas KWT diartikan sebagai komoditas pertanian utama yang dikembangkan di masing-masing KWT. Komoditas tersebut dikembangkan dari mulai Komoditas unggulan dipilih sesuai dengan potensi wilayah, kemampuan KWT. KWT. Pengembangan KWT berdasarkan komoditas didukung oleh Lurah Ngestiharjo dan Sebaran komoditas KWT di Ngestiharjo bisa dibaca di Gambar 1. Komoditas KWT sayuran/ toga lidah buaya tanaman hias olahan pangan olahan telur bebek Gambar 1. Diagram komoditas unggulan KWT Sumber: Olahan data primer, 2023 Data menunjukkan sebanyak 12 KWT . ,67%) mengembangkan sayuran/ toga. Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN masing-masing KWT ,56%) mengembangkan anggrek, lidah buaya, mampu mendukung usahatani anggotanya. Tujuan organisasi KWT dituju dengan penerapan manajemen yang efektif . Kajian mengukur penerapan fungsi manajemen di KWT se-Ngestiharjo dan menunjukkan hasil prosentase capaian sebesar 55,6% termasuk dalam kategori kurang menerapkan. Dilihat dari capaian tiap aspek didapatkan prosentase pencapainnya pada Tabel 9. tanaman hias, sereh, olahan pangan, dan olahan telur bebek. Walaupun komoditas unggulan di KWT bukan sayuran/ toga. KWT tetap menanam sayuran untuk kebutuhan Hasil Analisis KWT diarahkan menjadi unit produksi, wahana kerjasama, dan kelas belajar yang Tabel 9 Rekapitulasi Capaian penerapan fungsi manajemen KWT di Ngestiharjo No Aspek Prosentase (%) Kategori 57,02 Kurang menerapkan 47,69 Tidak menerapkan 66,17 Kurang menerapkan 51,54 Tidak menerapkan Rata-rata 55,60 kurang menerapkan Sumber: Olahan data primer, 2023 Berdasarkan Tabel 9, capaian tertinggi terdapat pada aspek pelaksanaan sebesar 66,17% termasuk dalam kategori kurang menerapkan dan capaian terendah adalah aspek pengorganisasian sebesar 47,69% termasuk dalam kategori tidak menerapkan. KWT tidak terlepas dari aspek perencanaan. Perencanaan Perencanaan rencana pekerjaan yang nantinya akan Perencanaan kelembagaan yaitu KWT dikaitkan tiga tujuan utama kelompok, yaitu kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi. Tabel 10 menunjukkan rekapitulasi aspek kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis, sejumlah 18 KWT di Ngestiharjo secara umum kurang Pembahasan tentang penerapan fungsi manajemen di Tabel 10 Rekapitulasi Capaian penerapan fungsi manajemen aspek perencanaan Aspek Prosentase (%) Kategori Kelas belajar 56,94 Kurang menerapkan Wahana kerjasama 57,87 kurang menerapkan Unit produksi 56,25 Kurang menerapkan Rata-rata 57,02 kurang menerapkan Sumber: Olahan data primer, 2023 Tabel11. Distribusi petani terhadap perencanaan Kriteria 77,78-100 Kurang menerapkan 55,56-77,77 Tidak menerapkan 33,33-55,55 Rata-rata Jumlah Prosentase (%) 16,67 38,89 44,44 Berdasarkan Tabel 11, hasil tabulasi jawaban responden menunjukkan terdapat 16 ISSN Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. responden atau sebagian besar kelompok mengemukakan belum atau tidak menerapkan perencanaan kelompok dengan 44,44%. Hasil pernyataan fungsi perencanaan pada kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi secara terperinci dapat di lihat di Tabel 12. Tabel 12. Pernyataan penerapan perencanaan No Pernyataan Rerata Prosentase (%) Adanya perencanaan belajar 2,28 56,94 Kurang menerapkan Perencanaan musyawarah untuk 2,61 65,28 Kurang menerapkan menentukan keputusan Perencanaan kerjasama dan 2,28 56,94 Kurang menerapkan kemitraan usaha merencanakan penggunaan limbah 2,06 51,39 Tidak menerapkan rumah tangga merencanakan membuat pupuk 2,11 52,78 Tidak menerapkan sendiri menggunakan limbah rumah tangga merencanakan menerapkan Tidak menerapkan pengendalian OPT secara PHT menyusun kebutuhan usaha 2,44 61,11 Kurang menerapkan bersama kelompok Perencanaan usaha bersama 2,06 51,39 Tidak menerapkan Rerata 2,28 57,02 Kurang menerapkan Sumber: Olahan data primer, 2023 Tabel perencanaan musyawarah untuk menentukan prosentase tertinggi dengan capaian 65,28% / kategori kurang menerapkan. Beberapa KWT merencanakan pertemuan rutin yang telah disepakati sebelunya untuk membahas kegiatan kelompok secara musyawarah untuk menentukan keputusan kelompok. Pimpinan KWT musyawarah melalui pertemuan kelompok. Baru Sebagian KWT melaksanakan pertemuan rutin baik bulanan KWT melaksanakan pertemuan secara incidental/ jika diperlukan, dan Sebagian kecil yang tidak melaksanakan pertemuan rutin. KWT yang melaksanakan pertemuan rutin akan mendukung kemajuan KWT. Pertemuan menjadi tempat untuk tranfer teknologi, meningkatkan keakraban, dan pengambilan keputusan secara musyawarah. Item pernyataan dengan capaian terendah adalah perencanaan pengendalian OPT secara PHT. Kegiatan ini masuk dalam Sebagian besar KWT belum merencanakan secara tertulis, namun dilakukan secara incidental sesuai kebutuhan di usahataninya. Penerapan PHT dimulai dari merencanakan dengan pencegahan serangan OPT, sehingga butuh membuat rencana kegiatan. KWT masih belum memahami tentang PHT. Capaian fungsi perencanaan pada unit produksi adalah yang terendah . Perencanaan unit produksi terdiri dari menyusun kebutuhan usaha bersama kelompok dan perencanaan usaha bersama. Perencanaan yang dilakukan sebagian besar KWT tidak dilakukan secara tertulis. Kesepakatan yang diperoleh saat pertemuan dilaksanakan melalui diskusi. Kesepakatan yang tidak tertulis menyebabkan kegiatan yang akan dilaksanakan akan cenderung Evaluasi kegiatan yang tidak direncanakan tertulis menjadi sulit dilakukan karena indikator keberhasilan tidak jelas. Aspek pengorganisasian Pengorganisasian dalam kelompok merupakan kegiatan mengelola sumber daya yang ada dengan tugas dan komunikasi yang ISSN Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. penerapan aspek pengorganisasian pada aspek kelas belajar, wahana Kerjasama, dan unit produksi dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13 Rekapitulasi Capaian penerapan fungsi manajemen aspek pengorganisasian Aspek Prosentase (%) Kategori Kelas belajar 38,89 tidak menerapkan Wahana kerjasama 62,50 kurang menerapkan Unit produksi 41,67 tidak menerapkan Rata-rata 47,69 tidak menerapkan Sumber: Olahan data primer, 2023 Tabel 13 menunjukkan rerata capaian aspek pengorganisasian adalah 47,69 / kategori tidak menerapkan. Jika dilihat prosentase distribusi menurut kategori di Tabel 14. Sebagian besar responsen atau 20 responden . ,56%) yang masuk kriteria tidak Hasil pernyataan penerapan pengorganisasian KWT dapat di lihat di Tabel Tabel 14. Distribusi petani terhadap pengorganisasian Kriteria Prosentase (%) 77,78-100 Kurang menerapkan 55,56-77,77 44,44 Tidak menerapkan 33,33-55,55 55,56 Rerata Tabel 15. Pernyataan penerapan pengorganisasian Pernyataan Rerata Prosentase (%) Adanya aturan dan norma 1,56 38,89 Tidak menerapkan Adanya struktur organisasi Kurang menerapkan Mengelola administrasi 1,67 41,67 Tidak menerapkan Rerata 1,91 47,69 Tidak menerapkan Pengorganisasian pada kelas belajar adalah adanya aturan dan norma. Rerata jawaban responden adalah 1,56 . ,89%) atau tidak menerapkan. Sebagian besar KWT belum menerapkan aturan dan norma yang jelas dan tertulis. Aturan dan norma menjadi pedoman yang harus ditaati oleh aggota KWT. Contoh dari pengaplikasian aturan dan norma adalah aturan saat mengikuti pembelajaran, kewajiban untuk mempraktekkan hasil pelatihan dari masing-masing peserta, dan lain-lain. Salah satu dampaknya adalah lambatnya tindak lanjut dari pelatihan yang telah diberikan dan menurunkan keaktifan anggota dalam kegiatan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Qomaria . bahwa norma dan aturan yang tidak dilaksanakan akan membuat keaktifan anggota menurun. Pengorganisasian Kerjasama adalah adanya struktur organisasi. Rerata jawaban responden adalah 2,5 . ,5%) atau kurang menerapkan. Struktur organisasi yang efektif terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan ada seksi-seksi yang mendukung. Di dalam divisi/ seksi terbagi beberapa tugas dan dijalankan dengan baik oleh masing-masing anggota. Sebagian besar KWT di Ngestiharjo memiliki Struktur organisasi komplek . etua, sekretaris, bendahara, dan seks. ,ada pembagian tugas dan tertulis, namun belum tertib. Seksi belum memiliki kinerja efektif dan belum mandiri. Ide dan gagasan masih terpusat di ketua KWT. Pengorganisasian pada unit produksi adalah adanya pengelolaan administrasi. Rerata jawaban responden adalah 1,67 . ,67%) atau tidak menerapkan. Kementan . menjelaskan bahwa buku administrasi Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN yang dimililki oleh kelembagaan tani yang maju . elas utam. antara lain buku anggota, buku tamu, buku kegiatan, daftar hadir, notulen, buku kas, buku iuran/ tabungan, buku inventaris, dan buku rencana kegiatan. KWT di Ngestiharjo seluruhnya termasuk dalam kelompok pemula (BPP Kasihan, 2. Sebagian besar KWT baru memiliki pembukuan s. lima buku administrasi, antara lain buku anggota, buku tamu, buku notulen, buku daftar hadir, dan buku kas. KWT yang telah mengelola unit usaha Bersama selalu rutin mencatat keuangan di buku kas. Pencatatan buku kas dilaporkan secara rutin melalui pertemuan rutin, diskusi informal, atau melalui WhatsApp group KWT. Kegiatan pelaksanaan atau actuating adalah proses dalam membuat rencana menjadi sebuah tahapan atau tindakan yang Rekapitulasi capaian penerapan fungsi manajemen aspek pelaksanaan pada tujuan kelompok kelas belajar, wahana Kerjasama, dan unit produksi ditunjukkan pada Tabel . rerata capaian aspek pelaksanaan adalah 66,17% termasuk dalam kategori kurang Walaupun demikian, sebanyak 22,22% atau 8 responden yang menyatakan telah menerapkan manajemen di aspek pelaksanaan . Sebaran prosentase setiap pernyataan secara terperinci tentang pelaksanaan pada KWT di Ngestiharjo dapat dilihat pada Tabel 18. Aspek pelaksanaan Tabel 16 Rekapitulasi Capaian penerapan fungsi manajemen aspek pelaksanaan Aspek Prosentase (%) Kategori Kelas belajar 57,99 kurang menerapkan Wahana kerjasama 63,43 kurang menerapkan Unit produksi 77,08 kurang menerapkan Rerata 66,17 kurang menerapkan Sumber: Olahan data primer, 2023 Tabel 17. Distribusi petani terhadap pelaksanaan Kriteria Prosentase (%) 77,78-100 22,22 Kurang menerapkan 55,56-77,77 61,11 Tidak menerapkan 33,33-55,55 16,67 Rerata Tabel 18. Pernyataan penerapan pelaksanaan Pernyataan Rerata Prosentas kategori e (%) Pertemuan rutin 2,47 61,81 Kurang menerapkan Pelaksanaan belajar 2,17 54,17 Tidak menerapkan Pemupukan modal 2,33 58,33 Kurang menerapkan Menjalin kemitraan/ kerja 2,39 59,72 Kurang menerapkan menggunakan limbah rumah 2,94 73,61 Kurang menerapkan tangga untuk usahatani membuat pupuk sendiri 2,78 69,44 Kurang menerapkan menggunakan limbah rumah menerapkan pengendalian 2,94 73,61 Kurang menerapkan OPT secara PHT melaksanakan usaha Kurang menerapkan menerapkan teknologi sesuai 3,17 79,17 Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN Rerata 2,65 Data menunjukkan capaian tertinggi dari aspek pelaksanaan adalah item pernyataan penerapan teknologi sesuai rekomendasi . ,17%), termasuk menerapkan. Kegiatan usahatani yang dilakukan oleh sebagian besar KWT masih dalam subsistem budidaya. Masing-masing KWT sudah menerapkan teknologi budidaya sesuai rekomendasi dan mampu produksi dengan hasil panen yang Kegiatan budidaya dilaksanakan di dempot dan menjadi usaha bersama di KWT. Terlihat dari capaian dengan rerata 3 . %). Hasil panen dijual untuk menambah kas KWT dan dibagi anggota. Kegiatan ini mampu mengurangi pengeluaran rumah tangga anggota KWT karena tidak perlu membeli sayuran lagi sesuai dengan hasil penelitian Nurmayasari dan Ilyas . Namun agribisnis harus ditingkatkan ke kemampuan pengolahan dan pemasaran. Pelatihan tentang pengolahan dan pemasaran belum ditindaklanjuti oleh KWT secara optimal. Capaian pelaksanaan belajar . ,17%), termasuk tidak Pusluhtan . menjelaskan 66,17 Kurang menerapkan bahwa kelompok melaksanakan belajar dengan berperan aktif dalam proses belajarmengajar, termasuk mendatangi/ konsultasi ke sumber informasi. Sebagian besar KWT belum mampu melaksanakan pembelajaran mandiri secara rutin. Pembelajaran di KWT dilaksanakan sesekali dalam beberapa pertemuan dan diselenggarakan dengan dukungan dana dari pemerintah desa dan dinas setempat. Aspek pengawasan Pengawasan berperan penting demi menjaga kegiatan kelompok atau proses di direncanakan dan tidak menyimpang. Fungsi manajemen perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan tidak bisa berjalan lancar tanpa adanya pengawasan yang baik. Distribusi petani dalam aspek pengawasan (Tabel . menunjukkan 20 responden . ,56%) tidak menerapkan manajemen aspek pengawasan. Sebaran prosentase setiap pernyataan secara terperinci tentang pengawasan di KWT Ngestiharjo dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 19. Distribusi petani terhadap pengawasan Kriteria Jumlah Prosentase (%) 77,78-100 Kurang menerapkan 55,56-77,77 44,44 Tidak menerapkan 33,33-55,55 55,56 Rata-rata Tabel 20. Pernyataan penerapan pengawasan No. Rerata Pernyataan Evaluasi perencanaan Evaluasi kinerja organisasi/ kelembagaan evaluasi pelaksanaan pertemuan evaluasi hasil belajar evaluasi pemupukan modal evaluasi pelaksaan kemitraan evaluasi usaha bersama evaluasi pelaksanaan rekomendasi teknologi melaksanakan penyusunan laporan kegiatan Capaian tertinggi aspek pengawasan adalah Evaluasi usaha Bersama dengan 2,17 1,44 2,11 2,28 2,28 1,89 2,78 2,17 1,83 2,10 Prosentas e (%) 54,17 36,11 52,78 56,94 56,94 47,22 69,44 54,17 45,83 51,54 Tidak menerapkan Tidak menerapkan Tidak menerapkan Kurang menerapkan Kurang menerapkan Tidak menerapkan Kurang menerapkan Tidak menerapkan Tidak menerapkan Tidak menerapkan rerata 2,78 . ,44%) termasuk kategori kurang menerapkan. Unit usaha bersama ISSN Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. KWT di subsistem budidaya. Hasil panen dijual dan menjadi sumber pendapatan utama KWT. Diperlukan evaluasi dan rembug evaluasi berlangsung dalam pertemuan dan diskusi secara informal antaranggota di Adanya evaluasi adalah usaha memperbaiki hasil kegiatan untuk selanjutnya indicator adanya penerapan teknologi pekarangan. Menurut Aprilia dan Barlan . , penerapan teknologi pekarangan terdiri dari keberlanjutan produksi, keberlanjutan kemitraan, dan keberlanjutan ekonomi. Capaian terendah aspek pengawasan adalah evaluasi kinerja organisasi dengan rerata 1,44 . ,11%) termasuk kategori tidak Rendahnya evaluasi karena masih lembatnya regenerasi pengurus KWT Sebagian besar KWT belum ada penentuan berapa tahun lama kepengurusan KWT. Lambatnya rendahnya minat menjadi ketua KWT yang memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi dan waktu yang luang. manajemen aspek pengawasan walaupun dilaksanakan dengan diskusi secara informal. DAFTAR PUSTAKA Aprillia R, dan Barlan ZA. Hubungan antara Dinamika Kelompok dengan Keberlanjutan Kelembagaan. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM], 4. https://doi. org/10. 29244/jskpm. Arifin HS. Sakamoto K. Chiba K. Effects of the Fragmentation and the Change of the Social and Economical Aspects on the Vegetation Structure in the Rural Home Gardens of West Java. Indonesia. Japan Institue of Landscape Architecture J. Tokyo. Vol. : 489-494. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kasihan. Rencana Kerja Tahunan Penyuluh Desa Ngestiharjo 2023. Yogyakarta: BPP Kasihan. BPS. Usia Produktif. https://jateng. id/backend/images/ Komposisi-Penduduk-MenurutKelompok-Umur-2019-ind. Diakses 17 September 2023. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bantul. Buku Data Agregat Kependudukan Kab Bantul Semester 1 Tahun 2022. Disdukcapil Kab Bantul: Bantul. Ferdinan,KR. Melsje Y. Memah. Grace A. Rumagit. Penerapan Fungsi Manajemen dalam Kelompok Tani Cempaka di Kelurahan Meras Kecamatan Bunaken Kota Manado. Jurnal AgriSosioEkonomi Unsrat. ISSN 1907Ae4298. Volume 13 Nomor 3A. November 2017: Kementerian pertanian. Pedoman Peningkatan Kelas Kemampuan kelompok tani. Jakarta: BPPSDMP. ____________________. Peraturan Menteri Pertanian No 67 Tahun 2016 Tentang Pembinaan Kelembagaan Petani. Jakarta: Kementerian Pertanian. Kurnadi D. Dasar-dasar penyuluhan Pertanian. STPP Bogor. Bogor. Muhammadun. Penerapan Fungsi Manajemen pada Kelompok Tani di Kalurahan Sumberarum. Kepanewon Moyudan. Kabupaten Sleman. SIMPULAN Penerapan fungsi manajemen KWT di Kalurahan Ngestiharjo. Kapanewon Kasihan. Kabupaten Bantul. DIY masuk dalam kategori kurang menerapkan dengan prosentase capaian sebesar 55,6%. capaian tertinggi terdapat pada aspek pelaksanaan sebesar 66,17% termasuk dalam kategori kurang menerapkan dan capaian terendah adalah aspek pengorganisasian sebesar 47,69% termasuk dalam kategori tidak menerapkan. SARAN