Journal for Quality in Women's Health | Vol. 2 No. 1 March 2019 | pp. 7 Ae 10 p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: 10. 30994/jqwh. Pengaruh Peran Penolong Persalinan terhadap Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini di Kabupaten Kediri Dian Kumalasari1. Candra Dewinataningtyas1. Erna Rahmawati1 Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata. Kediri. Indonesia Corresponding author: Dian Kumalasari . 88@gmail. Received 9 January 2019. Accepted 19 February 2019. Published 10 March 2019 ABSTRAK IMD sebagai tindakan penyelamatan untuk menurunkan angka kematian, kesehatan bayi dan perkembangan bayi serta pertumbuhan di masa depan. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan IMD adalah peran penolong persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi IMD di Kediri. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional di Kabupaten Kediri. Subyek penelitian adalah ibu pasca melahirkan sebanyak 80. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji Chi square. Hasil uji statistik diperoleh variabel peran penolong persalinan mempengaruhi pelaksanaan IMD. =0. OR=4. Peran penolong persalinan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD. Peran penolong persalinan yang besar dapat meningkatkan pelaksanaan IMD. Kata Kunci: Peran penolong, persalinan. IMD Copyright A 2019 STIKes Surya Mitra Husada All rights reserved. This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. PENDAHULUAN Masalah kesehatan yang terjadi di era globalisasi saat ini adalah rendahnya derajat kesehatan ibu dan anak yang masih kurang. Hal ini ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Angka Kematian Bayi merupakan indikator yang sensitif dari semua upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan. Pada tahun 2016 menurut Kemenkes RI. AKB mencapai 22,23/1000 kelahiran hidup, kondisi ini masih sangat jauh dari target SDGAos yang menurunkan AKB sebesar 12/1000 kelahiran hidup. Perhatian terhadap penurunan angka kematian neonatal . -28 har. menjadi sangat penting karena kematian neonatal memberi kontribusi terhadap 59% kematian bayi. Saat ini pemerintah terus melakukan upaya pencegahan untuk menurunkan AKB dan salah satunya dengan melaksanakan program Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah upaya pembelajaran kepada bayi untuk menyusu pertama kali dengan tindakan meletakkan bayi di atas perut atau dada ibu dan membiarkan terjadinya kontak kulit bayi dengan kulit ibu. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016, persentase bayi Website: http://jurnal. id/jqwh | Email: jqwh@strada. Dian Kumalasari, et. al | Pengaruh Peran Penolong PersalinanA. baru lahir yang mendapat IMD pada tahun 2016 sebesar 51,9% yang terdiri dari 42,7% mendapatkan IMD dalam <1 jam setelah lahir, dan 9,2% dalam satu jam atau lebih. Salah satu penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia adalah infeksi, termasuk infeksi saluran nafas dan diare. Selain itu, masalah gizi seperti kurang kalori dan protein, juga menjadi salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kematian bayi akibat masalah tersebut adalah dengan memperbaiki gizi bayi. Pemberian makanan yang tepat pada bayi adalah salah satu tindakan yang dapat dilakukan. Makanan yang tepat untuk bayi adalah air susu ibu (ASI), terlebih lagi pada bayi yang baru lahir. Penelitian di Ghana menunjukkan bahwa IMD dapat mencegah kematian neonatal, yaitu membuktikan adanya hubungan antara waktu menyusui dengan kelangsungan hidup bayi baru lahir. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dalam satu jam pertama dengan dibiarkan kontak kulit dengan ibu, maka 22% nyawa bayi berumur kurang dari 28 hari bisa diselamatkan. Dengan IMD, bayi akan segera mendapatkan kolostrum yang terbukti mampu meningkatkaan kekebalan tubuh bayi baru lahir. Tingkat immunoglobulin pada kolostrum menurun tajam setelah hari pertama kehidupan bayi, konsentrasi tertinggi pada hari 1, menurun 50% pada hari kedua dan setelah itu akan terus menurun secara perlahan-lahan. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan IMD adalah penolong persalinan. Penolong persalinan meliputi bidan dan dokter. Kerjasama antar ibu dan penolong persalinan bisa meningkatkan keberhasilan IMD. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh peran penolong persalinan terhadap pelaksanaan IMD. METODE Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di RS Aurasyifa dan kecamatan Gurah kabupaten Kediri pada bulan Mei-Juli Populasi adalah seluruh ibu pasca melahirkan sebanyak 80 ibu. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah peran penolong persalinan sedangkan variabel terikatnya adalah pelaksanaan IMD. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat digunakan untuk mengetahui frekuensi masing Ae masing variabel. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Variabel dikatakan berhubungan apabila nilai p value < 0,05. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan subyek penelitian 80 ibu pasca melahirkan. Tabel 1. Karakteristik Paritas. Jenis Persalinan dan Tempat persalinan Variabel Paritas Primipara Multipara Total Jenis persalinan Spontan Total Tempat persalinan BPM Total Journal for Quality in Women's Health 38,75 61,25 Dian Kumalasari, et. al | Pengaruh Peran Penolong PersalinanA. Tabel 1 menunjukkan paritas ibu sebagian besar multipara dengan jenis persalinan adalah spontan dan tempat persalinan paling banyak di BPM. Berikut disajikan data pelaksanaan IMD. Tabel 2. Pelaksanaan IMD Variabel Peran penolong persalinan Kecil Besar IMD Tidak Total Tabel 2 menunjukkan ibu yang memperoleh peran penolong persalinan lebih besar dapat melakukan IMD sebesar 60,3% daripada ibu yang memperoleh peran penolong persalinan lebih kecil. Hasil analisis Chi square menunjukkan bahwa variabel peran penolong persalinan memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap pelaksanaan IMD . =0. Ibu yang memperoleh lebih besar peran penolong persalinan memiliki kemungkinan melaksanakan IMD 4 kali lebih besar daripada peran penolong persalinan yang lebih kecil. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Tarigan . , bahwa peran penolong persalinan khususnya bidan mempengaruhi pemberian ASI segera setelah lahir. Penolong persalinan merupakan kunci utama keberhasilan dalam satu jam pertama menyusui setelah melahirkan karena dalam kurun waktu tersebut peran penolong masih dominan. Peran penolong persalinan pada saat proses melahirkan adalah dengan menciptakan kondisi yang nyaman dan yang paling penting adalah perhatian dan tanggapan yang positif dari petugas kesehatan yang ada di ruang bersalin. Sehingga ibu merasa tenang dan nyaman, dan hal ini akan memperlancar proses menyusui. Di Ghana, perhatian yang diberikan oleh petugas kesehatan yang membantu persalinan sangat menentukan pelaksanaan IMD dan kebutuhan dibuat kebijakan meningkatkan perhatian masyarakat untuk melaksanakan IMD. Peran penolong persalinan, khususnya bidan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD, karena mereka menolong langsung persalinan ibu. Dalam proses pertolongan persalinan, bidan harus melakukan semua langkah APN, salah satunya pelaksanaan IMD. Hal ini sejalan dengan penelitian Indramukti . mengungkapkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam 1 jam pertama adalah peran tenaga kesehatan karena dalam kurun waktu tersebut peran penolong persalinan masih dominan. Apabila tenaga kesehatan memfasilitasi ibu untuk segera memeluk bayinya maka interaksi ibu dan bayi dapat segera terjadi dan pemberian IMD pun dapat dilakukan dengan segera. KESIMPULAN Peran penolong persalinan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD. Disarankan kepada tempat persalinan terutama rumah sakit mengenai kebijakan pendampingan ibu oleh keluarga atau suami dan kebijakan mengenai tatalaksana IMD pada ibu melahirkan secara normal, maupun seksio sesarea sesuai dengan prosedur dan tatalaksana yang benar. REFERENSI