Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL TENTANG KAMU KARYA TERE LIYE Nurlian1. Abdul Hafid2. Ismail Marzuki3. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia1,2,3 Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong Email: mahudynurlian@gmail. com, hafidabdul838@gmail. ismailunimuda@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan citra perempuan dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan feminis. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka. Teknik analisis yang digunakan adalah model Miles dan Huberman. Citra perempuan dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye adalah . citra perempuan dari aspek fisik yang tergambarkan dalam novel Tentang Kamu adalah citra perempuan dari aspek fisik akan dilihat bagaimana fisik dari tokoh perempuan dalam novel Sri Ningsi, baik itu dari jenis kelaminnya, usianya, dan dari tanda-tanda jasmaninya. Citra perempuan dari aspek psikis yang tergambarkan dalam novel Tentang Kamu adalah kejiwaan seorang perempuan dewasa yang ditandai dengan sikap dan pertanggung jawaban yang penuh terhadap dirinya sendiri serta bertanggung jawab terhadap nasibnya sendiri untuk menerimah dan berdamai dengan segala bentuk cobaan yang datang padanya dengan tulus tanpa mengeluh. Citra perempuan dari aspek sosial yang tergambarkan dalam novel Tentang Kamu adalah digambarkan perempuan dalam lingkungan keluarga dan perempuan dalam lingkungan masyarakat. Kata kunci: Citra Perempuan. Tentang Kamu. Feminisme Abstract: This study aims to describe the image of women in the novel About You by Tere Liye. The method used in this study is a descriptive qualitative research method using a feminist approach. The data collection technique used in this research is library technique. The analytical technique used is the Miles and Huberman model. The image of women in the novel About You by Tere Liye is . the image of women from the physical aspect depicted in the novel About You is the image of women from the physical aspect. of his physical signs. The image of women from the psychological aspect depicted in the novel About You is the psyche of an adult woman who is characterized by an attitude and full responsibility towards herself and is responsible for her own destiny to accept and make peace with all forms of trials that come to her sincerely without sigh. The image of women from the social aspect depicted in the novel About You is depicted by women in the family environment and women in society. Keywords: Image of Women. About You. Feminism PENDAHULUAN Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki berbagai kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk ciptaan yang lain (Sauri, 2. Kelebihan itu mencakup kepemilikan dimensi akal, cipta, rasa, dan karsa sehingga mereka mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masing-masing individu dan masyarakat yang ada di sekitarnya (Akbar, 2. Salah satu hasil cipta manusia yang berfungsi menghibur, mendidik, sekaligus menggambarkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat adalah karya sastra (Hayati, 2. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 Karya sastra hadir sebagai wujud nyata imajinatif kreatif dari seorang sastrawan dengan proses yang berbeda antara pengarang yang satu dengan pengarang yang lain, terutama dalam penciptaan cerita fiksi. Menurut Hayati . Karya sastra adalah gambaran yang terdapat pada nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat. Konsep-konsep dari karya sastra dapat dilihat pada gambaran kehidupan sosial karena sastra dapat dilihat pada budaya yang dijumpai dilapisan masyarakat. Sastra merupakan salah satu karya seni yang memiliki arti yang sangat mendalam dihati masyarakat (Akbar, 2. Menurut Agustyaningrum. Purwadi & Sryantou . sastra merupakan salah satu bentuk atau hasil karya kreatif yang objek atau temanya adalah kehidupan manusia dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Sastra digunakan untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai di seluruh lapisan masyarakat. Sehingga permasalahan atau kisah-kisah yang terdapat dalam kalangan masyarakat dapat menjadi sebuah karya sastra yang di susun oleh seorang pengarang berdasarkan imajinasi yang Tokoh perempuan dapat dijadikan suatu tema yang sangat menarik untuk dibahas dalam karya sastra. Peran perempuan memiliki ruang yang khusus dalam teori sastra untuk dibahas secara detail (Anggraini, 2. Perempuan dikatakan sebagai wanita seutuhnya ketika dapat membuktikan diri melalui keterampilannya mengurus keperluan rumah tangga (Dewi. Andayani, & Wardhani, 2. Dalam karya sastra tokoh perempuan selalu digambarkan sebagai wanita yang lemah dan mudah menyerah. Masalah yang di hadapi oleh perempuan selalu diekspresikan oleh pengarang dengan membuat karya sastra sehingga permasalahan hidup tokoh-tokoh perempuan pada akhirnya di tentukan oleh citra seorang perempuan (Wardani & Ratih, 2. Citra tidak terlepas dari pentingnya sebuah penokohan sebab melalui penokohan dapat diketahui bagaimana citra yang dimiliki oleh para tokoh dalam sebuah cerita (Amanda, 2. Citra perempuan merupakan salah satu topik atau tema yang sangat menarik untuk dikaji karena kepribadian perempuan identik dengan sifat sabar, penyayang, dan lemah lembut dalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan keluarga maupun masyarakat (Rahima Ana, & Sulfiah, 2. Arzona. Gani, & Arief, . berpendapat bahwa citra perempuan dalam aspek sosial disederhanakan kedalam dua peran, yaitu peran perempuan dalam keluarga dan peran perempuan dalam masyarakat. Peran ialah bagian yang dimainkan seseorang pada setiap keadaan, dan cara bertingkah laku dalam menyelaraskan diri dengan keadaan (Majid. Teori yang dipakai untuk mengungkapkan citra perempuan, harus berhubungan dengan perempuan sebagai pusat analisis. Teori yang paling dekat untuk mengungkapkan citra perempuan adalah teori feminis (Mardiana, 2. Dalam analisis teori feminis, diperlukan alat berupa pengetahuan dan pengalaman mengenai konsep feminis (Arzona. Gani, & Arief. Karena feminisme merupakan salah satu ide yang sangat besar yang dapat memberikan hak dan kesamaan antara pria dan wanita dalam berbagai aspek. Ide besar feminisme adalah dapat memberikan kesempatan yang sama antara pria dan wanita dalam berbagai hal melalui pekerjaan, hak politik, hingga peran dalam keluarga serta masyarakat (Juanda & Aziz, 2018 . Mardiana, 2. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 Citra perempuan dalam sebuah novel adalah gambaran mengenai perempuan, bagaimana penggambarang tokoh perempuan di dalam novel, kemudian diungkapkan melalui kata, frasa atau kalimat di dalamnya (Julianto. Munaris, & Fuad, 2. Penelitian citra perempuan dengan teori feminisme terhadap karya sastra yang mengisahkan tentang seorang atau beberapa perempuan yang ada dalam novel tersebut yang dikarang oleh pengarang lakilaki adalah sesuatu hal yang menarik, karena menggambarkan perempuan dari sudut pandang seorang laki-laki, dan itu menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi wadah yang halus dalam mengungkapkan gagasan-gagasan mengenai sosok perempuan, peran perempuan dan berbagai macam karakter seorang perempuan (Juanda & Aziz, 2. Novel pada hakikatnya adalah cerita yang terkandung juga di dalamnya tujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca (Aisyah & Widodo, 2. Novel menjadi salah satu bagian dari sastra yang banyak digemari oleh kalangan masyarakat (Majid, 2. Novel adalah salah satu genre sastra yang memiliki bentuk utama prosa dengan bentuk pengungkapan cerita secara langsung yang mengambarkan kehidupan nyata dalam suatu plot yang cukup komplek (Sauri, 2. Menurut Aningsih. Munaris, & Nazaruddin, . novel merupakan jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang yang mengandung nilai kehidupan yang diolah menggunakan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulis. Salah satu novel yang menampilkan tokoh perempuan dalam permasalah kehidupannya adalah novel Tentang Kamu karya Tere Liye. Novel Tentang Kamu karya Tere Liye adalah satu novel yang dipilih untuk dianalisis dan telah disesuaikan dengan penelitian citra perempuan, dimana novel ini sebagaian besar ceritanya mengangkat tentang tokoh perempuan dengan dinamika kehidupan. Secara umum novel Tentang Kamu karya Tere Liye yang dijadikan objek penelitian oleh penulis banyak memberikan gambaran atau cerminan tentang perempuan, mengapa perempuan perlu melakukan perubahan dalam hidupnya dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Novel ini juga sangat menarik karena membahas tentang citra perempuan dalam kritik sastra feminis yang pada dasarnya mempunyai tujuan mendapatkan perlakuan yang lebih baik bagi perempuan, meningkatkan kedudukan dan peran perempuan untuk membentuk masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Berikut ini beberapa alasan mengapa peneliti memilih novel Tentang Kamu karya Tere Liye sebagai bahan penelitian : . tokoh utama dalam novel ini menceritakan tentang seorang perempuan yang bernama Sri Ningsih sebagai seorang perempuan kuat yang memiliki hati yang sabar serta menyayangi keluarganya, pintar dalam menjalankan usaha hingga mandiri dalam bidang ekonomi hingga berpendidikan. tokoh Sri Ningsi juga menjadi gambaran kehidupan perempuan yang tertindas baik itu dari segi kehidupan sosial, ekonomi serta pendidikan untuk segera bangkit agar sejajar dan mampu bersaing dengan laki-laki didalam kehidupan bermasyarakat, dan . alur cerita novel Tere Liye pada tokoh utama yang bernama Sri Ningsi digambarkan dengan latar belakang kehidupan di pulau Bungin perkampungan nelayan dan tokoh utama mampu ke berbagai negara hingga mampu beradaptasi dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang negara, budaya, ras agama yang berbeda sehingga menjadi contoh yang baik untuk hidup saling bertoleransi atau berdampingan. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas bahwa penelitian ini merumuskan masalah pada penelitian ini adalah AuBagaimanakah citra perempuan pada tokoh utama dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye?Ay METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan feminis artinya hasil analisisnya berbentuk deskripsi, tidak berupa angka angka atau koefisien tentang hubungan veriabel di dalam penelitian ini yang dikumpulkan berupa kutipan, kata-kata, frasa, klausa, dari novel Tentang Kamu karya Tere Liye. Objek penelitian ini adalah citra perempuan yang terdapat pada novel Tentang Kamu karya Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika Penerbit. Jakarta, 2019. Adapun data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, dan kalimat dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data kepustakaan yaitu buku, transkip, majalah yang terdapat dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka. Data di analisis mengunakan model Miles dan Huberman . dengan dimulainya reduksi data kemudian dilanjutkan dengan penyajian data kemudian dilakukan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Citra Perempuan dari Aspek Fisik Citra perempuan dari aspek fisik dapat dikongkretkan bahwa citra fisik wanita antara lain diwujudkan ke dalam fisik wanita dewasa. Aspek fisik wanita dewasa ini terkongkretkan dari ciri-ciri fisik wanita dewasa, misalnya pecahnya selaput darah, melahirkan dan menyusui anak, serta kegiatan-kegiatan kerumahtanggaan. AuHari berlalu berganti minggu. Bulan beranjak menyulam tahun. Tidak terasa Sri Ningsi sudah berusia delapan tahun. Sama seperti anak-anak lain warna kulitnya gelap, tubuhnya pendek, gempal, rambutnya panjang hingga ke punggung. Dia sering terlihat bermain dengan anak-anak lain, sesekali ikut melaut disekitaran pulau, atau ikut pergi ke Kota SumbawaAy (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan aspek fisik, kutipan diatas Sri Ningsi dicitrakan sebagai seorang perempuan yang berusia delapan tahun, kulitnya yang gelap akibat paparan sinar matahari karena Sri Ningsi warga nelayan yang tinggal dipesisir pantai Pulau Bungin. Di Pulau Bungin sangat sulit untuk mendapatkan air bersih karena tidak ada mata air bersih yang bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Masyarakat harus pergi ke pulau sebrang untuk mengambil air bersih atau menadah air hujan langsung, termaksud Sri Ningsi jika tidak hujan Sri Ningsi akan pergi ke pulau sebrang menggunakan perahu untuk pergi mengambil air Sri Ningsi sering mengangkut cerigen air yang lebih besar dari tubuhnya, hal ini yang membuat tubuhnya pendek dan gempal. rambutnya yang panjang juga menandakan kesibukannya setiap hari, sejak kecil dia sudah disibukan mencari nafkah untuk ibu dan adik sehingga dia tidak memiliki waktu untuk mengurus dirinya sendiri. Citra perempuan dari aspek fisik akan dilihat bagaimana fisik dari tokoh perempuan dalam novel Sri Ningsi, baik itu dari jenis kelaminnya, usianya, dan dari tanda-tanda jasmaninya, misalnya mengalami haid, dan perubahan fisik lainnya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muliana . bahwa ini adalah kodrat perempuan yang Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 sudah menjadi fitrah dan anugerah dari Tuhan. Tanda-tanda fisik ini akan mengantarkan seorang anak perempuan menjadi dewasa yang dapat mempengaruhi pula perilaku-perilaku yang dianggap pantas baginya sebagai perempuan dewasa. Citra perempuan dari aspek fisik adalah penggambaran fisik tokoh oleh pengarang yang berupa jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri muka dan semua yang berhubungan dengan fisik tokoh. Citra perempuan secara fisik yang digambarkan dalam novel ini adalah penggambaran bentuk tubuh secara nyata. Pengarang menggambarkan aspek fisik Sri Ningsi usia delapan tahun dengan lebih rinci. Pengambaran pengarang hanya berpusat pada keadaan fisik yang dialami oleh tokoh tersebut untuk mempresentasikan diri, sehingga penggambaran tersebut tidak lepas dari identitas tokoh sebagai perempuan. Selain itu perempuan juga identik dengan kecantikan, perempuan yang benar-benar memiliki kecantikan fisik alami tidak dapat menutupi kecantikan dari cara berpakaian. Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut. AuSebenarnya. Sri memang tidak sejelek itu. Sejak tinggal di London, kulit hitamnya berangsur lebih terang. NurAaini dulu benar, tinggal di tempat dingin dibanding pulau bungin, jelas akan berpengaruh dengan kesehatan kulit. Wajah Sri Ningsi juga lebih dewasa, lebih percaya diri. Dia memiliki kecantikan dengan definisi berbeda. Ay (Tere Liye, 2019 : . Pada kutipan tersebut berdasarkan aspek fisik. Sri Ningsih digambarakan sebagai wanita dewasa yang mengalami perubahan pada dirinya. Kulitnya yang dulunya hitam kini telah menjadi terang, hal ini diakibatkan oleh factor cuaca kota London yang dimana identik dengan musim dingin . Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fita & Badara . berpendapat bahwa perempuan dewasa itu sukar memberikan gambaran atau keperibadiannya secara bulat, karena sejak dahulu perempuan telah menampilkan kecantikan dirinya dengan berbagai cara untuk menarik simpatik dari seorang laki-laki. Citra perempuan adalah gambaran atau cerminan sosok perempuan yang merupakan makhluk yang sangat menarik. Gambaran citra fisik tokoh terlihat pada kecantikan tubuhnya. Kecantikan itu terlihat pada perubahan warna kulitnya yang mulai terang dan wajahnya yang semakin terlihat dewasa yang penuh dengan rasa percaya diri. Dalam hal ini setiap perempuan memiliki devinisi kecantikan yang berbeda. Sri Ningsi digambarkan sebagai perempuan dewasa yang memiliki kecantikan khas perempuan Indonesia yang lemah lembut. Kecantikan merupakan sesuatu yang identik dengan perempuan dan diinginkan oleh setiap perempuan dari berbagai kelompok sosial. Ciri khas seorang perempuan yang cantik itu tidak hanya berdasarkan kecantikan paras wajahnya, tetapi juga didukung dengan ciri-ciri yang lain seperti memiliki kulit putih, hidung yang mancung, serta bentuk tubuh yang ideal. Namun kecantikan wanita bukan hanya dapat dinilai dari luarnya saja, tetapi kecantikan dari dalam seperti, kecerdasan, sopan santun, dan kreatifitas yang dimiliki bisa menjadikan seorang wanita menjadi cantik. Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut. AuIbu Sri Ningsi jarang sakit. Fisiknya selalu aktif, dia masih gesit menaiki anak tangga mengurus kebun, tidak mau menggunakan lift. Satu-satunya sakit serius adalah sejak dua hari lalu. Dia terbaring lemah di atas ranjang. Dokter memeriksanya, bilang beliau kelelahan, butuh istrahat yang cukup. Kemarin sore dia jatuh di lantai saat hendak Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 mengambil air minum. Satu jam kemudian dia tidak sadarkan diri, hingga akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan aspek fisik. Sri Ningsi digambarkan sebagai wanita yang sangat aktif melakukan kegiatan apa pun selama di panti jompo, di usianya yang sudah lanjut fisiknya masih kuat untuk menaiki anak tangga dan melakukan pekerjaan seperti berkebun. Sri Ningsi juga sangat kreatif dia menyulap atap gedung yang kosong seluas tiga ratus meter persegi menjadi sebuah kebun yang indah dengan memanfaatkan bahan bangunan sisa renovasi gedung tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspita . dan Dewi. Andayani, & Wardhani . feminisme berupa gerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri berupa gerakan emansipasi perempuan. Citra perempuan secara fisik yang digambarkan pada tokoh Sri Ningsi adalah perempuan yang sangat aktif dan juga kreatif. Sifat kreatif merupakan suatu sikap seseorang yang senang menghasilkan sesuatu hal yang baru dengan cara yang belum pernah ada Orang kreatif sangat memahi potensi dirinya, berfikir kreatif juga sangat baik untuk kesehatan fisik dan mental mulai dari mengurangi kecemasan dan stres. Dalam hal ini Sri Ningsi adalah seorang perempuan yang tidak bisa berdiam diri saja, dia selalu memiliki ide-ide menarik untuk dapat melakukan apapun. Di usia tua, melakukan banyak aktifitas dapat membuat daya tahan tubuh menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan kesehatan tubuh. AuPositif. Sri hamil muda. Janinnya berusia dua bulan. Mengingat Ibu Sri Ningsi sudah berusia empat puluh tahun lebih, kehamilan ini beresiko tinggi. Jaga kesehatan, diet gizi seimbang, dan jauhi sumber stress. Ay Dokter memberitahu. Ay (Tere Liye, 2019 : . AuButuh waktu lama bagi Sri untuk pulih dari kejadian tersebut. Tempat tidur, peralatan, dan pakaian bayi kembali dimasukan ke dalam kardus. Dengan usia yang semakin tua, dan fakta perbedaan rhesus darah dengan Hakan, peluang Sri untuk melahirkan bayi dengan selamat sangat kecil. Dokter melarangnya hamil lagi, itu final. Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan aspek fisik pada kutipan tersebut. Sri Ningsi merupakan seorang wanita yang sudah lanjut usia yang dapat merasakan hamil dan melahirkan, namun kehamilannya yang berada pada usia lanjut yang dapat mengakibatkan resiko yang sangat besar seperti gampang stress dan juga bisa kehilangan banyinya. Sri Ningsih sangat trauma karena kehilangan bayinya. Jadi dengan usia yang sudah lanjut dokter menyarankan kepada Sri Ningsi untuk tidak hamil lagi, karena resikonya sangat besar bagi kesehatan Sri Ningsi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Majid . perempuan diciptakan hanya untuk hamil, melahirkan, menyusui, membesarkan anak, dan mendidik anak, selain itu perempuan juga hanya berperan sebagai pelayan suaminya seperti menyiapkan makan, mencuci baju, menyetrika pakaiannya, dan juga melayani suaminya. Perempuan yang dari lahir hanya mengikuti kodratnya sebagai perempuan saja dianggap sebagai perempuan yang tradisioal. Menurut Julianto. Munaris & Fuad . wacana tentang perempuan dahulu berkisar pada penggambaran kecantikan fisik dan moral saja, kemudian setelah pengambaran fisik ini akan dikatakan bahwa tugas wanita adalah melahirkan anak, memasak, dan berdandan . anak, masak, maca. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 Citra perempuan dalam aspek fisik yang terungkap dalam novel ini adalah perempuan dewasa, perempuan yang sudah memasuki taraf kedewasaan dan mengalami perubahan dalam dirinya yaitu secara biologis perempuan dewasa dicirikan oleh tanda-tanda jasmani seperti mengalami haid, dapat hamil, melahirkan, dan menyusui anak-anaknya. Namun sayangnya dalam tokoh Sri Ningsi dia digambarkan tidak dapat menjadi seorang ibu yang bisa membesarkan anaknya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan rhesus darah antara Sri Ningsi dan suaminya Hakan. Citra Perempuan dari Aspek Psikis Citra perempuan dari aspek psikis merupakan sosok individu yang mempunyai pendirian atau pilihan sendiri atas berbagai aktivitasnya berdasarkan kebutuhan-kebutuhan Berikut ini akan dipaparkan citra perempuan dari aspek psikis. Dikategorikan bahwa citra perempuan dari aspek psikis adalah makhluk psikologis, makhluk berfikir, berperasaan, dan beraspirasi. Hal ini terdapat dalam kutipan tersebut. AuEnam belas tahun beliau tinggal di panti ini, sejatinya, kamilah yang harus berterima kasih banyak. Ibu Sri Ningsi membawa semangat baru, kegembiraan, suka-cita. Dia dalah penghuni panti paling riang, paling aktif dan humoris. Akulah yang seharusnya berterima kasih diberi kesempatan bertemu dengan karakter yang begitu memesonaA. Tapi hari iniA. Hari ini dia pergi selama-lamanya. Aku ingat sekali wajahnya waktu itu, saat dia baru siuman, wajah dari seseorang yanh telah melewati pahit getir Wajah yang tetap damai dan tentram. Wajah yang selalu tabah dan berterima kasih. Hingga di hari terakhir, wajah itu tetap sama. Ay (Tere Liye, 2019 : . Dari aspek psikis, tokoh Sri Ningsi sebagai seorang perempuan yang selalu memberikan keceriaan dan kebahagiaan pada orang-orang disekitarnya, meskipun banyak masalah dan cobaan yang datang Sri Ningsi tetap tabah menjalaninya hingga akhir hidupnya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sakinah . peran perempuan sering kali diekspresikan dengan segala permasalahan dalam kehidupan dan bagaimana perempuan menghadapi permasalahannya. Citra perempuan secara psikis yang digambarkan dalam novel ini yaitu ketabahan hati seorang perempuan. ketabahan hati merupakan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki seseorang dalam menjalani permasalahan atau ujian hidup. Seseorang yang memiliki psikis tabah dia akan dapat melewati setiap permasalahan hidupnya, sebab dalam hidup ini manusia tidak dapat terlepas dari suatu permasalahan. Jadi seseorang harus bisa menerima, menjalani dan menyelesaikan setiap permasalahan yang ada dalam hidupnya. Perempuan yang memiliki sifat dan tindakan yang tabah dia tidak akan mudah terburuburu dalam mengambil keputusan, selalu tenang dalam menghadapi setiap cobaan dan tidak mudah putus asa karena ia tahu bahwa semua itu adalah ujian bagi dirinya. Dalam hal ini Sri Ningsi tetap menjalani hidupnya seperti sebelumnya, meskipun dia harus melewati berbagai cobaan yang datang padanya. Sri Ningsi harus tetap tersenyum, dan berdamai dengan segala rasa sakit hingga akhir hidupnya. Selain itu perempuan juga digambarkan sebagai seseorang yang memiliki rasa sabar yang luar biasa. Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut. AuSri berlarian di jalan setapak, melintasi rumah-rumah rapat, tidak tahu mau kemana. Dia tidak mau ada yang melihatnya menangis. Sejak kecil, sejak Nugroho mendidiknya menjadi anak yang kuat dan sabar, dia tidak pernah lagi menangis di depan orang lain. Gerimis menderas membungkus seluruh pulau. Sri terisak, dia tidak tahan lagi untuk Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 tidak menangis. Entahlah apakah dia harus berterima kasih kepada hujan, karena kali ini orang-orang tidak akan tahu dia sedang menangis sejadi-jadinya. Air matanya tercampur dengan air hujan. Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan aspek psikis, tokoh Sri Ningsi pada kutipan tersebut dijelaskan bahwa sejak kecil ayah Sri Ningsi (Nugroh. sudah mengajarkan Sri untuk menjadi seorang perempuan yang memiliki rasa sabar dan kuat dalam menghadapi cobaan hidup yang sulit sekalipun dan tidak menjadi perempuan yang mudah menyerah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Purwahida . bahwa perempuan tergolong feminim yaitu memiliki kepribadian yang dewasa, dipenuhi kelembutan, sabar dan penyayang. Citra perempuan secara psikis yang digambarkan dalam novel ini adalah kesabaran. Perempuan yang memiliki rasa sabar adalah orang-orang yang menjalani hidupnya dengan penuh keikhlasan, sabar bukanlah suatu hal bisa diterima dengan begitu saja. Sabar adalah menahan diri dalam menghadapi suatu cobaan baik permasalahan yang tidak diinginkan maupun suatu cobaan dalam kehilangan sesuatu. Dalam hal ini Sri Ningsi memiliki rasa sabar yang luar biasa sejak dia masih kecil, tidak semua perempuan memiliki sifat sabar sepertinya. Bersabar memang sangat sulit untuk dilakukan apalagi ketika dihadapkan dengan peristiwa yang mengandung emosi, amarah, seperti Sri Ningsi yang harus kehilangan ayahnya. Hal ini sesuai dengan gerakan feminisme yang menganjurkan wanita untuk bersikap kuat dan selalu sabar (Mulyadi, 2. Kesabaran dapat menguatkan manusia karena kesabaran dapat mendatangkan ketenangan dalam hati dan memberikan keyakinan yang kuat bahwa dalam setiap cobaan hidup yang sedang dialaminya harus diterima dengan ikhlas tanpa mengeluh bagaimanapun keadaannya. Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut. AuSri menangis dalam pelukan Hakan. Sejatinya. Sri ingin sekali bilang ke Hakan, apakah dia masih Aanak yang dikutukAo? Dulu, saat dia lahir, ibunya meninggal. Jauh sekali dia sudah pergi, kenangan di Pulau Bungin tetap mencengkeram kepalanya. Tetapi Sri tidak pernah berbagi kisah tentang masa lalu pada Hakan. Tidak pada siapa Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan aspek psikis, dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa Sri Ningsi masih merasa dirinya adalah pembawa sial bagi keluarganya. Sri Ningsi juga di citrakan sebagai orang yang tertutup, ia tidak mampu membagi semua kisah sedihnya kepada suaminya dan pada siapapun juga. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akbar . berpendapat bahwa apabila ada seseorang yang melukai hati seorang perempuan, maka citra bagi seorang perempuan biasanya ia akan melupakannya dengan menangis. Citra perempuan secara psikis yang digambarkan dalam novel ini adalah perasaan seorang perempuan. Sudah menjadi kodrat seorang perempuan memiliki perasaan yang lebih lembut dan sensitif, namun bukan berarti perempuan sebagai makhluk yang lemah. Justru perempuan sebagai sosok yang dapat diandalkan di saat-saat tertentu. Perempuan bisa memiliki perasaan senang dan sedih, karena seorang perempuan cenderung lebih mementingkan perasaan dari pada logika. Seperti Sri Ningsi yang merasa sedih karena kehilangan bayinya. Dalam hal ini perempuan sangat identik dengan hati yang mudah tersentuh maka tak jarang jika perempuan jadi mudah menangis, ini juga merupakan cara seorang perempuan mengekspresikan apa yang dia rasakan. Berdamai dengan segala masalah Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 yang ada adalah suatu hal yang harus dilakukan agar dapat melanjutkan hidup dengan baik. Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut. AuDalam hidupnya, banyak orang yang bisa memberikan kesaksian betapa Sri adalah wanita kuat, yang selalu bisa memeluk hal semenyakitkan apa pun, tapi dia bukan wanita super. Hatinya tidak terbuat dari baja, yang tidak bisa tergores. Dia tetaplah wanita biasa. Saat orang-orang melihatnya begitu tegar menghadapi apapun, orangorang tidak tau seberapa besar perjuangannya untuk membujuk dirinya sendiri sabar, membujuk dirinya untuk melepaskan, melupakan, dan semua hal yang ringan dikatakan, tapi berat dilakukan. Karena bila bicara tentang penerimaan yang tulus, hanya yang bersangkutanlah yang tahu seberapa ikhlas dia telah berdamai dengan Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan aspek psikis, pada kutipan tersebut Sri Ningsi bukanlah wanita kuat seperti yang orang-orang katakan, ia hanya wanita biasa pada umumnya yang dapat merasakan sakit karena kehilangan, melepaskan dan melupakan. Sri Ningsi harus mampu meyakinkan dirinya bahwa semua hal-hal tersebut bisa ia terima dengan ikhlas dan sabar meskipun dengan berat hati. Sri Ningsi harus menerimanya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arzona. Gani & Arief . berpendapat bahwa sifat sabar perempuan cenderung menerima saja dan memiliki pola tingkah laku yang lebih sering mengalah karena orang sabar adalah orang yang bersifat tenang, tidak terburu nafsu, dan tidak cepat marah. Citra perempuan secara psikis yang digambarkan adalah keikhlasan. Seseorang yang memiliki keikhlasan adalah dia yang dapat menerima dan berdamai dengan segala bentuk cobaan yang datang padanya dengan tulus tanpa mengeluh. Tidak semua orang mampu mengikhlaskan apa yang sudah terjadi seperti melepaskan, melupakan, dan semua hal yang ringan dikatakan. Dalam hal ini Sri Ningsi memiliki rasa ikhlas yang luar biasa, dia mampu memeluk segala rasa sakit yang ada. Psikis seorang perempuan juga dapat dilihat dari caranya mengendalikan dirinya dalam menghadapi setiap permasalahan hidup. Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut. AuSri menyadari, dia selama ini hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, merasa dialah yang paling berhak kehilangan, paling susah hidupnya. Hakan juga kehilangan bayibayi mereka, tapi Hakan memutuskan menyisikan hal itu, fokus membantu Sri agar kembali bergembira. Lantas apa yang Sri lakukan untuk Hakan? Apakah dia berusaha membantu Hakan melewati masa sulitnya? Dia hanya sibuk memasang wajah sedih, berdiam diri, bermuram durja. Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan aspek psikis, tokoh Sri Ningsi sangat menyesal karena kurang peduli pada suaminya (Haka. , sejak kehilangan bayi-bayinya Sri Ningsi terus bersedih dan berdiam diri. Sri Ningsi sampai lupa bahwa bukan hanya dia yang mengalami masa sulit. Hakan juga Namun Hakan lebih memilih untuk membuat Sri Ningsi kembali tersenyum. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspita . berpendapat bahwa istilah feminisme sering diberikan kepada sosok perempuan karena sifat lembut, pasif, penyayang, emosional dan menyukai anak-anak merupakan sifat alamiah yang seharusnya dimiliki oleh seorang perempuan yang dipandang sebagai sosok yang tidak lebih unggul dari laki-laki. Citra perempuan dalam aspek psikis yang terdapat dalam novel ini adalah perempuan yang digambarkan dari keadaan psikologisnya saat menghadapi permasalahan dari dalam Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 maupun dari luar . , seperti sabar dan kuat. sabar dalam menghadapi segala kesulitan seperti kehilangan orang-orang yang dia sayangi, dan juga kuat sebagai seorang perempuan dalam mengendalikan emosi batin dalam dirinya. Dalam aspek psikis kejiwaan seorang perempuan dewasa itu ditandai dengan sikap dan pertanggung jawaban yang penuh terhadap dirinya sendiri serta bertanggung jawab terhadap nasibnya sendiri. seorang perempuan diuji oleh sebuah permasalahan yang terjadi dalam kehidupan untuk melihat seberapa kuat psikis seorang perempuan dalam menghadapi ujian hidupnya. Menjadi seorang perempuan yang tangguh berarti memiliki kepribadian yang bisa membuatnya menjadi lebih kuat karena kepribadian itu terus berkembang dan bisa dibentuk. Citra Perempuan dari Aspek Sosial Citra Perempuan dari aspek sosial mempunyai peran penting dalam aspek keluarga dan Peran ini merupakan bagian yang dimainkan seseorang pada setiap keadaan, dan cara bertingkah laku untuk menyelaraskan diri dengan keadaan. AuSri dan Hakan adalah pasangan yang kompak. Mereka mengurus pekerjaan rumah berdua, berjalan-jalan berdua, ke mana pun tidak terpisahkan. Pagi-pagi mereka akan berangkat kerja bersama. Hakan menemani Sri hingga Cricklewood, baru kemudian naik jaringan kereta bawah tanah menuju Watford. Jam kerja Hakan tidak jauh berbeda dengan Sri. Sorenya dia kembali menjemput Sri di pool bus, pulang bersama, makan malam bersama di apartemen Ae kecuali ada gangguan besar dalam system kabel Kota London dan Hakan Pulang telat, atau sebaliknya Sri harus mengisi shift hingga larut Ay (Tere Liye, 2019 : . Kutipan di atas menunjukkan bahwa, dalam keluarga tokoh Sri Ningi di citrakan sebagai perempuan yang sangat aktif dan kompak dalam mengurus rumah tangga bersama Pada kutipa di atas dapat dijelaskan bahwa dalam sebuah rumah tangga kekompakan suami dan istri sangat di perlukan karena hal dapat menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aisyah & Widodo . berpendapat bahwa Rumah tangga adalah sarana agar mereka mampu melakukan komunikasi dengan masyarakat karena rumah tangga bukan sekedar ruang privasi, tetapi ruang terbuka yang dapat diketahui oleh masyarakat di sekitarnya. Citra perempuan secara sosial yang digambarkan dalam novel ini adalah tanggung jawab seorang perempuan sebagai istri. Dalam hal ini peran seorang perempuan ini merupakan peran yang sudah menjadi tanggung jawab yang harus dilakukan. Namun tidak semua peran perempuan harus dikerjakan oleh perempuan dan peran laki-laki harus dikerjakan oleh laki-laki. Seperti kutipan diatas pekerjaan mencari nafkah yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki sebagai kepala rumah tangga dapat dilakukan oleh perempuan. partisispasi perempuan dalam dunia kerja telah memberikan kontribusi yang besar terhadap kesejahteraan keluarga khususnya bidang ekonomi, perempuan yang bekerja keras akan menambah penghasilan keluarga yang dapat meningkatkan kualitas perekonomian keluarga. Selain membantu mencukupi kehidupan keluarga, seorang perempuan juga dicitrakan sebagai istri yang setia. Hal ini terdapat pada kutipan berikut. AuSri bergegas menyiapkan baju hangat, kompres, cokelat panas, apa pun yang bisa membuat demam Hakan membaik, merawat suaminya yang tiduran di ranjang. Ibu Rajendra Khan datang membawakan sup hangat, itu sudah menjadi tradisinya, selalu menyiapkan sup lezat bagi penghuni apartemen yang sakit. Keluarga Rajendra Khan Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 sempat berkumpul di unit 801. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hakan hanya demam biasa, besok pagi-pagi dia juga membaik. Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan kutipan di atas. Sri Ningsi di citrakan sebagi seorang istri yang sangat cekatan dalam mengurus suaminya yang sedang sakit. Sri menyiapkan apa pun agar demam suaminya segera membaik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Majid . dan Akbar . berpendapat bahwa jika seorang perempuan itu adalah seorang istri maka ia akan mematuhi dan menjalani hidup sesuai dengan kodratnya sebagai perempuan dan melakukan pekerjaan rumah seperti mengurus anak, melayani suami, dan membersihkan Citra perempuan secara sosial yang digambarkan adalah kesetiaan seorang perempuan. Seorang perempuan dapat dikatakan sebagai makhluk yang setia pada pasangannya dan menjadi motivator kegiatan suami. Seorang istri juga dapat menjadi seorang teman diskusi tentang masalah yang dihadapi oleh suami. Sehingga ketika suami mempunyai masalah yang cukup berat, istri dapat memberikan solusi maka beban yang dirasakan seorang suami dapat Peran perempuan sebagai istri dalam keluarga dapat menjadi teman, pendorong, dan penasehat yang bijaksana. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di atas Sri Ningsi dengan setia mendampingi suaminya dalam keadaan apa pun, tidak pernah mengeluh dia selalu bearada disampingnya memberikan semangat dan dukungan atas kesembuhan suaminya. Citra sosial perempuan diperankan perempuan dalam setiap keadaan dengan cara bertingkah laku sesuai dengan keadaan sosial. Citra sosial perempuan dapat terbentuk karena adanya pengalaman pribadi dan budaya yang berhubungan erat antara norma dan system nilai yang ada dalam masyarakat. Hal ini terdapat pada kutipan berikut. AuMinggu-minggu pertama proses adaptasi berjalan mulus. Sri Ningsi fasih berbahasa Bulan-bulan berlalu cepat. Sri Ningsi mulai menyatu dengan penghuni dan petugas panti. Dia menyibukkan diri di dapur, ikut memasak, membantu mengurus tetangga yang lebih sepu, menghadiri setiap acara panti, beteman dengan semua orang, dan dikenal banyak orang. Penghuni jalan Quay DAOrsay mengenal dirinya, yang suka berjalan-jalan setiap pagi menuju menara Eiffel, atau sekedar menatap sungai Seine. Sri Ningsi tidak pernah merepotkan orang lain, dia mengerjakan banyak hal sendirian, panca inderanya baik, fisiknya masih kuat-mengingat dia pernah menyeberangi Selat Inggris saat badai. Ay (Tere Liye, 2019 : . AuSri NingsiAAy Ibu NurAaini berkata lirih setelah kotak kayu berpindah tangan. AuAku ingin sekali punya hati seperti miliknya. Tidak pernah membenci walau sedebu. Tidak pernah berprasangka buruk walau setetes dia adalah sahabat terbaikku. Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan aspek sosial, pada kutipan novel di atas Sri Ningsi di citrakan sebagai seorang wanita yang mandiri dan mudah beradaptasi dengan orang-orang di sekelilingnya dan tidak perna membenci atau berprasangka buruk pada sahabatnya atau orang yang sudah Dia juga suka membantu orang lain yang lebih tua darinya, sehingga relasi dengan orang-orang disekitarnya berjalan dengan sangat baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Wardani & Ratih . berpendapat bahwa citra sosial perempuan dalam masyarakat berupa hubungan antara orang perorang dimasyarakat umum adalah sebagai perempuan yang ramah, mudah bergaul, dan aktif dalam kegiatan masyarakat. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 Citra perempuan secara sosial yang digambarkan dalam novel ini adalah seorang perempuan yang mandiri. Kemandirian menuntut seseorang untuk siap secara fisik maupun psikis untuk melakukan segala aktivitasnya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Hal ini dapat dilihat pada kutipan diatas bahwa Sri Ningsi selalu melakukan banyak hal sendiri tanpa merepotkan siapa pun selama tinggal di panti jompo. Bagi Sri Ningsi dalam usia lanjut, kemampuan untuk tetap mandiri adalah suatu yang di dambakan karena tidak sedikit orang tua yang tidak ingin merepotkan orang lain dan tetap berusaha untuk dapat berdiri di atas kakinya sendiri. sebab seseorang yang sudah menanamkan karakter kemandirian sejak dini ia akan berusaha bersikap dan berpikir dengan cara mandiri dalam menjalani hidupnya. Selain itu Sri Ningsi juga digambarkan sebagai perempuan yang memiliki nilai persahabatan. Nilai persahabatn ini merupakan suatu sikap seseorang yang senang bergaul, dan berteman dengan orang lain dalam lingkungannya. Nilai karakter ini terlihat pada tokoh Sri Ningsi, yang memiliki karakter mudah bergaul dan juga ramah dengan orang lain yang membuatnya dikenal banyak orang. Hal ini terdapat pada kutipan tersebut. AuSri Ningsi Sopir yang menyenangkan. Dia bergabung di rute ini tahun 1980. Awalnya hanya petugas cleaning service, mencuci mobil, mengelap kaca, menyikat lantai bus. Beberapa bulan kemudian dia melamar untuk posisi mengemudi, petugas seleksi memandangnya sebelah mata, tapi Sri lulus pada kesempatan pertama. Ay (Tere Liye, 2019 : . Berdasarkan kutipan di atas, tokoh Sri Ningsi dicitrakan sebagai seorang yang disenangi oleh rekan kerjanya karena kegigihannya dalam bekerja. Awalnya Sri Ningsi hanya bekerja sebagai cleaning servis dan kemudian berahli profesi menjadi seorang pengemudi bus. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Fita & Badara . yang berpendapat bahwa perempuan tidak bisa lepas dari lingkungan sosial sekitarnya sebab perempuan tidak dapat lepas dari peran untuk melakukan kegiatan di luar rumah yang biasanya disebut sektor publik. Citra perempuan secara sosial yang digambarkan pada novel in adalah kemampuan kerja keras. Dalam hidup ini tidak ada keberhasilan dan prestasi yang dapat dicapai tanpa adanya kerja keras, oleh karena itu kerja keras adalah hal yang sangat penting bagi setiap Hal ini dapat dilihat pada tokoh Sri Ningsi yang bekerja keras menjadi supir bus di kantor pool bus. Semangat kerja yang ada pada diri Sri Ningsi membuatnya terkenal sebagai supir wanita pertama di rute 16 dan juga mendapatkan penghargaan sebagai super terbaik. Kerja keras dapat dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan semua orang, orang yang berani untuk bekerja keras maka mereka juga akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Berdasarkan aspek sosial pada kutipan di atas manusia sebagai makhluk sosial, selalu membutuhkan manusia lainnya dalam hidupnya. Demikian juga dengan perempuan. hubungan tersebut dapat bersifat khusus maupun umum tergantung sifat hubungan tersebut. Citra Perempuan dalam masyarakat dicitrakan sebagai seorang perempuan yang senantiasa memerlukan manusia lain untuk mencapai kesempurnaan dirinya, perempuan yang memiliki pengaruh dalam mengatasi tekanan yang dialami masyarakat, dan perempuan yang ikut bersosialisasi dengan orang-orang terdekatnya, maupun masyarakat umum. Jurnal Frasa: Jurnal Keilmuan Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Volume . Nomor . Juli 2021 ISSN: 2721-1533 SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan citra perempuan pada tokoh utama dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye sebagai berikut. Citra perempuan dari aspek fisik yang tergambarkan dalam novel Tentang Kamu adalah citra perempuan dari aspek fisik akan dilihat bagaimana fisik dari tokoh perempuan dalam novel Sri Ningsi, baik itu dari jenis kelaminnya, usianya, dan dari tanda-tanda Citra perempuan dari aspek psikis yang tergambarkan dalam novel Tentang Kamu adalah kejiwaan seorang perempuan dewasa yang ditandai dengan sikap dan pertanggung jawaban yang penuh terhadap dirinya sendiri serta bertanggung jawab terhadap nasibnya sendiri untuk menerimah dan berdamai dengan segala bentuk cobaan yang datang padanya dengan tulus tanpa mengeluh. Citra perempuan dari aspek sosial yang tergambarkan dalam novel Tentang Kamu adalah digambarkan perempuan dalam lingkungan keluarga dan perempuan dalam lingkungan DAFTAR PUSTAKA