240 Jurnal Info Kesehatan Vol 15. No. Desember 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes Spatial Analysis of Filariasis Case Distribution in East Nusa Tenggara Province 2008-2012 Analisis Spasial Distribusi Kasus Filariasis Di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2008-2012 Ety Rahmawaty, 1bJohanis Jusuf Pitreyadi Sadukh, 1cOktofianus Sila Kesehatan Lingkungan. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: etyrahmawati@poltekkeskupang. Email: johanissadukh@poltekkeskupang. Email: oktofianussila@poltekkeskupang. ARTICLE INFO: Keywords: Spatial Distribution Filariasis Kata Kunci: Spasial Distribusi Filariasis ABSTARCT/ABSTRAK East Nusa Tenggara Province (NTT) is one of the endemic areas with the number of filariasis cases increasing from year to year. There are two types of filarial worms. Wuchereria bancrofti, and Brugia timori. Filariasis cases in NTT Province up to January 2013 were as many as 925 cases with a prevalence 20 A. Research Objectives to determine the distribution of filariasis cases in East Nusa Tenggara Province in 2008 - 2012. Types of Descriptive Research with secondary data study The results of the research data were analyzed descriptively and presented the data using tables and map The results of the study are expected to provide information to educational institutions and health agencies regarding the distribution of filariasis cases in East Nusa Tenggara Province in 2008 - 2012. The results showed that there were 12 districts . %) found filariasis cases in East Nusa Tenggara Province in 2008 - 2012 with prevalence of 0. 02 A 4. 37 A. Age> 15 years are the most sufferers . 93%), and men are the most sufferers . 31%). Central Sumba Regency. Rote Ndao District, and Alor Regency have mass treatment in total population . %), and nine districts are still under 85%. To improve the clinical case finding of filariasis, it is necessary to improve the surveillance performance of cases, among others by increasing the discovery and confirmation of cases and conducting refresher training / training for surveillance officers in the area. In the District Health Office, it is necessary to validate the reported case data. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah endemis dengan jumlah kasus filariasis meningkat dari tahun ke tahun. Terdapat dua jenis cacing filarial yaitu Wuchereria bancrofti, dan Brugia timori. Kasus filariasis di Provinsi NTT hingga Januari tahun 2013 sebanyak 925 kasus dengan prevalensi 0,20 A. Tujuan Penelitian untuk mengetahui distribusi kasus filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012. Jenis Penelitian Deskriptif dengan metode studi data sekunder. Data hasil penelitian dianalisis secara Deskriptif dan penyajian data dengan menggunakan tabel dan gambar peta. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi kepada institusi pendidikan dan instansi kesehatan tentang distribusi kasus filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012. Hasil penelitian menunjukan terdapat 12 kabupaten . %) yang ditemukan kasus filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012 dengan prevalensi 0,02A Ae 4,37A. Umur >15 tahun merupakan penderita terbanyak . ,93%), dan laki-laki sebagai penderita terbanyak . ,31%). Kabupaten Sumba Tengah. Kabupaten Rote Ndao, dan Kabupaten Alor telah melakukan pengobatan massal secara total penduduk . %), dan sembilan kabupaten masih dibawah 85%. Untuk meningkatkan temuan kasus klinis filariasis diperlukan peningkatan kinerja surveilans kasus antara lain dengan cara meningkatkan upaya penemuan dan konfirmasi kasus serta melakukan pelatihan/pelatihan penyegaran terhadap petugas surveilans di daerah. Pada Dinas Kesehatan Kabupaten perlu melakukan validasi data kasus yang dilaporkan. CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Ety Rahmawaty Jalan Piet A. Tallo. Kupang- 85111 Email: etyrahmawati@poltekkeskupang. PENDAHULUAN menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Filariasis adalah suatu infeksi sistemik Penderita menjadi beban keluarga dan yang disebabkan oleh cacing filaria yang Negara. Sampai dengan tahun 2004 di cacing dewasanya hidup dalam saluran limfe Indonesia diperkirakan 6 juta orang terinfeksi dan kelenjar limfe manusia dan ditularkan filariasis dan dilaporkan lebih dari 8. oleh serangga secara biologik. Penyakit ini diantaranya menderita klinis kronis filariasis bersifat menahun . dan bila tidak terutama di pedesaan. (Depkes, 2. pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Filariasis disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti. Brugia malayi, dan Brugia timori (Waluyo, 2. Anopheles spp. Aedessp. Armigeres sp. Mansoniasp. Dalam tubuh nyamuk vektor, mikrofilaria yang terhisap bersama darah berkembang menjadi larva infektif. Larva infektif masuk secara aktif kedalam tubuh hospes waktu nyamuk menggigit hospes dan dengan jumlah kasus filariasis meningkat dari tahun ke tahun. Terdapat dua jenis cacing filarial yaitu Wuchereria bancrofti, dan Brugia Kasus filariasis di Provinsi NTT hingga dengan prevalensi 0,20 A. Culex quinqquefasciatus di daerah perkotaan dan merupakan salah satu daerah endemis Januari tahun 2013 sebanyak 929 kasus Filariasis ditularkan melalui gigitan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Indonesia filariasis sebagai salah satu prioritas nasional pemberantasan penyakit menular dengan pengobatan massal di daerah endemis dan kecacatan melalui penatalaksanaan kasus klinis filariasis. melepaskan microfilaria kedalam peredaran Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis dengan angka Diperkirakan sekitar 1/5 penduduk dunia atau 1,1 milyar penduduk di 83 negara beresiko terinfeksi filariasis, terutama di daerah tropis dan beberapa daerah subtropis. Penyakit ini dapat menyebabkan kecacatan, stigma sosial, hambatan psikososial dan kerja penderita, microfilaria rate (MF rat. > 1% dengan unit kabupaten/kota. Beberapa kabupaten di Provinsi NTT telah melaksanakan kegiatan pengobatan massal tersedia data distribusi atau penyebaran kasus maupun pengobatan filariasis secara lengkap pada daerah yang endemis filariasis. Pemetaan sebaran penyakit secara epidemiologi penting dilakukan khususnya pemetaan penyebaran penyakit menular dan Dengan Variabel penelitian analisis spasial bukan hanya mengetahui . Kasus filariasis berdasarkan umur pola distribusi penyakit, tetapi juga untuk . Kasus filariasis berdasarkan jenis mengetahui sebaran program pengobatan filariasis yang telah atau sedang dilakukan. Kasus Namun program pengobatan penderita analisis spasial khususnya filariasis belum banyak dilakukan di Indonesia. Provinsi NTT hingga tahun 2012, distribusi kasus filariasis belum diketahui secara pasti, sehingga dipaparkan penulis meneliti lebih dengan menggunakan analisis spasial (SIG) kasus filariasis dan program pengobatannya. Definisi Operasional . Spasial distribusi kasus filariasis adalah gambaran sebaran kasus ditampilkan dalam bentuk peta yang berdasarkan umur penderita, jenis Tujuan penelitin ini secara umum kelamin penderita, dan program untuk mengetahui spasial distribusi kasus pengobatan penderita di Provinsi filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae tahun 2008 Ae 2012. Sedangkan tujuan . Kasus filariasis berdasarkan umur distribusi kasus filariasis berdasarkan umur filariasis kronis berdasarkan umur kasus filariasis berdasarkan jenis kelamin yang terdapat pada tiap kabupaten penderita, dan mengetahui spasial distribusi di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 - 2012. pengobatan penderita di Provinsi Nusa . Kasus filariasis berdasarkan jenis Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012. Hasil kelamin adalah banyaknya penderita penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat filariasis kronis berdasarkan jenis bagi pemerintah sebagai informasi dan acuan kelamin yang terdapat pada tiap pencegahan penularan filasiasis. Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 - 2012. Kasus METODE PENELITIAN Jenis Data program pengobatan yang terdapat dikumpulkan, selanjutnya dianalisa pada tiap kabupaten di Provinsi secara spasial dan deskriptif Nusa Tenggara Timur tahun 2008 - mengetahui distribusi kasus filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun Prosedur penelitian 2008 - 2012. Data ditampilkan dalam Data kasus filariasis tahun 2008 Ae 2012 bentuk peta wilayah . dan yang berdasarkan pada umur, jenis kelamin, dan dikumpulkan dari Dinas Kesehatan HASIL DAN PEMBAHASAN Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kasus filariasis berdasarkan umur Dinas Kesehatan Kabupaten yang ada pada Kasus filariasis di Provinsi NTT Provinsi Nusa Tenggara Timur. Data pada tahun 2008 Ae 2012 hanya kasus tersebut diinput ke dalam aplikasi Arcgis untuk ditampilkan dalam bentuk Penderita Penelitian ini dilaksankan pada dalam golongan umur < 15 tahun dan bulan Juni hingga Juli 2013. golongan umur > 15 tahun. Kasus filariasis berdasarkan umur penderita Analisa Data dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Distribusi kasus filariasis berdasarkan umur di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012 Kabupaten Umur . < 15 Sumba Tengah Sikka Jumlah Prevalensi (A) > 15 4,37 0,66 Rote Ndao 1,73 Belu 0,19 Sumba Timur 0,10 Sumba Barat Daya 0,35 Nagekeo 0,05 Manggarai Timur 0,01 Kupang 0,02 Alor 0,02 Lembata 0,18 Ende 0,03 0,20 Jumlah (Prov. NTT) Selain pada tabel 1. di atas, distribusi kasus filariasis di Provinsi NTT tahun 2008 Ae 2012 secara jelas dapat dilihat melalui gambar peta berikut ini. Gambar 1. Peta distribusi kasus filariasis berdasarkan umur penderitadi Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012 Berdasarkan tabel 1 dan gambar 1. Kabupaten Sumba Tengah sebanyak 306 Kabupaten Sumba Tengah sebanyak 306 kasus, sedangkan pada kelompok umur < 15 tahun tidak ditemukan. kasus, dan yang terendah pada Kabupaten Manggarai Timur Berdasarkan kelompok umur, penderita filariasis terbanyak pada kelompok > 15 dibandingkan dengan kelompok umur < 15 tahun yaitu 140 kasus. Penderiata pada kelompok umur > 15 tahun terbanyak di Hasil penelitian tersebut, memiliki kesamaan dengan kasus filariasis di tempat Seperti hasil penelitian Deasy . di Desa Mainang, juga ditemukan prevalensi filaria tertinggi terdapat pada kelompok umur> 15 tahun yaitu umur 21 Ae 30 tahun. Selain Laumalai penelitian di Desa Gaura Kabupaten Sumba Barat dan di Desa Ole Dewa Kabupaten daerah dengan mikrofilaria sub periodik Sumba Tengah, penderita > 15 tahun nokturna dan non periodik, penularan dapat sebayak 83% dan 80%. terjadi siang dan malam hari. Jenis cacing filarial yang ditemukan di wilayah Nusa Banyaknya penderita pada umur > 15 Tenggara Timur adalah Brugia timori dan tahun dapat terjadi, apabila dikaitkan dengan waktu timbulnya gejala klinis terjadi setelah 10 Ae 15 tahun serangan akut pertama. Anopheles Kedua nyamuk tersebut aktif banyak yang menggigit pada malam hari, dan masyarakat menunjukkan gejala klinis. Gejala tersebut Anopheles Sehingga pada penderita yang berusia di bawah 15 tahun belum Wucheria yang berusia > 15 tahun . lebih banyak beraktvitas pada malam hari dan di luar rumah, seperti menjaga ternak maupun membebani keluarganya. nelayan, sehingga lebih beresiko mendapat Selain itu periodisitas mikrofilaria dan Untuk perilaku menggigit nyamuk berpengaruh terhadap resiko penularan. Mikrofilaria yang bersifat periodik nokturna . ikrofilaria hanya aktivitas di luar rumah agar menggunakan terdapat di dalam darah tepi pada waktu pakaian tertutup seperti lengan panjang dan mala. memiliki vektor yang aktif mencari celana panjang, atau menggunakan obat oles anti nyamuk. penularan juga terjadi pada malam hari. Kasus filariasis berdasarkan jenis kelamin penderita Kasus filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012 berdasarkan jenis kelamin penderita dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Distribusi kasus filariasis berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012 Kabupaten Umur . Jumlah Prevalensi (A) Sumba Tengah 4,37 Sikka 0,66 Rote Ndao 1,73 Belu 0,19 Sumba Timur 0,10 Sumba Barat Daya 0,35 Nagekeo 0,05 Manggarai Timur 0,01 Kupang 0,02 Alor 0,02 Lembata 0,18 Ende 0,03 0,20 Jumlah (Prov. NTT) Keterangan : L = laki-laki. P = perempuan Selain pada tabel 2 di atas, distribusi Hasil penelitian ini, sesuai dengan kasus filariasis berdasarkan jenis kelamin di hasil penelitian yang dilakukan oleh Laumalai Provinsi NTT tahun 2008 Ae 2012 secara jelas di Desa Gaura Kabupaten Sumba Barat dapat dilihat pada gambar 2. Berdasarkan bahwa laki-laki yang menjadi penderita tabel 2 dan gambar 2, jumlah kasus filariasis filariasis terbanyak yaitu 58 %. Selain itu juga berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Nusa didukung oleh Depkes RI . yang Tenggara Timur Ae menyatakan pada umumnya laki-laki lebih laki-laki dominan terinfeksi, karena memiliki lebih dibandingkan perempuan, yaitu pada laki-laki banyak kesempatan untuk mendapat infeksi sebanyak 613 kasus, sedangkan perempuan . sebanyak 312 kasus. Gambar 2. Peta distribusi kasus filariasis berdasarkan jenis kelamin penderita di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012 Kasus filariasis banyak ditemukan di daerah Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut, jika dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat di perdesaan Nusa Tenggara Timur pada umumnya laki- panjang saat beraktivitas di luar rumah. laki yang lebih banyak beraktivitas di luar Sedangkan puskesmas dan dinas kesehatan setempat dibandingkan perempuan, seperti menjaga ternak, bertani maupun nelayan. Sehingga masyarakat tentang pencegahan filariasis, laki-laki lebih beresiko mendapat penularan filariasis dari nyamuk Anopheles barbirostris dan Anopheles subpictus yang lebih senang menggigit di luar rumah. nyamuk dewasa, dan menabur larvasida Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk mematikan jentik nyamuk. Selain itu perlu ada dukungan dari pengendalian nyamuk yang jadi vektor penular filariasis, baik yang harus di lakukan adanya kebijakan yang mendukung upaya oleh masyarakat sendiri maupun instansi Masyarakat dapat melakukan upaya sehingga tidak timbul kasus filariasis baru. Kasus filariasis berdasarkan program pengobatan penderita Pelaksanaan program pengobatan filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012, dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Distribusi kasus filariasis berdasarkan program pengobatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, tahun 2008 Ae 2012 Kabupaten Jumlah Program pengobatan Jumlah Sumba Tengah 100,00 Sikka 2,64 Rote Ndao 100,00 Belu 9,69 Sumba Timur Sumba Barat Daya 42,75 Nagekeo 46,88 Manggarai Timur Kupang Alor 100,00 Lembata Ende 83,39 30,66 Jumlah (Prov. NTT) Selain pada tabel 3. di atas, distribusi kasus filariasis berdasarkan program pengobatan di Provinsi NTT tahun 2008 Ae 2012 secara jelas dapat dilihat pada gambar berikut ini. Gambar 3. Peta distribusi kasus filariasis berdasarkan program pengobatan penderita di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 -2012 Berdasarkan Tabel 3 dan gambar 3, menunjukkan terdapat dua kabupaten yang telah melaksanakan program pengobatan filariasis pada seluruh penduduk . %) yaitu Kabupaten Sumba Tengah. Kabupaten Rote Ndao, dan Kabupaten Alor. Sedangkan program pengobatan . %) sebanyak empat kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur. Kabupaten manggarai Timur. Kabupaten Kupang, dan Kabupaten Lembata. Pengobatan pengobatan Massal dengan obat Diethil Carbamazine Citrate (DEC). Albendazole dan Paracetamol dengan dosis tunggal yaitu sekali setahun selama berturut-turut. minimal 5 tahun Pemberian berdasarkan kelompok umur. Sedangkan pada pengobatan individual pada penderita dengan microfilaria rate (Mf-rat. > 1% dalam filariasis dengan obat Diethil Carbamazine jangka lama. Citrate (DEC) dan Paracetamol (Depkes. Tujuan umum dari program eliminasi Program Eliminasi Filariasis masalah kesehatan masyarakat di Indonesia merupakan salah satu program prioritas pada tahun 2020. Sedangkan tujuan khusus nasional pemberantasan penyakit menular program adalah . menurunnya angka sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 7 tahun 2005. Program kurang dari 1% di setiap Kabupaten/Kota, . eliminasi terutama mencegah dan membatasi kecacatan karena pengobatan massal di daerah endemik Hingga saat ini. DEC merupakan satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis bankrofti, dosis 6mg/kg badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filaria brugia, dosis yang dianjurkan adalah 5mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, artralgia, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis brugia, efek samping yang ditimbulkan lebih Sehingga, dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi waktu . icrofilaria pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Dalam menggunakan DEC ada beberapa cara yaitu dosis standard, dosis bertahap dan dosis Penduduk usia < 2 tahun, hamil. DEC diberikan secara oral setelah makan dan dalam keadaan istirahat. Diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih (Kurniawan, 1. Mekanisme Kerja Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur mikrofilaria, yaitu mematikan mikrofilaria. tahun 2008-2012, cakupan POMP filariasis Sedangkan berkisar antara 2,68%-100% dengan rata- mematikan makrofilaria dan menghambat rata 33,66%. Dari 12 Kabupaten yang ditemukan kasus filariasis, terdapat tiga DEC Absorbsi ekskresi DEC yaitu absorbsi cepat di saluran Kabupaten Diekskresi dalam 48 jam melalui urin pengobatan massal secara total . %) yaitu (Depkes, 2. Kabupaten Sumba Tengah. Kabupaten Rote Untuk filariasis bankrofti, dosis yang dianjurkan adalah 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filaria brugia, dosis yang dianjurkan adalah 5 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Pada occult filariasis dipakai dosis 5 mg/kg BB selama 23 Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, artralgia, sakit kepala, mual hingga muntah. Efek samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama. Ndao, dan Kabupaten Alor. Sedangkan Sembilan kabupaten lain masih dibawah Cakupan ini masih jauh dari cakupan Agar pengobatan massal bisa tercapai, maka pencapaian cakupan. Hal ini perlu menjadi bagi progam pemerintah kabupaten/kota sebagai unit hilang spontan setelah 25 hari dan lebih Kabupaten Alor merupakan contoh sering terjadi pada penderita mikrofilaremik kabupaten yang telah melakukan POMP Pada pengobatan filariasis Brugia, efek Program Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dilakukan sejak tahun 2002. Berdasarkan hasil penelitian Supali . , penelitian pengobatan dilakukan dalam waktu yang dilakukan pada desa dengan prevalensi lebih lama (FKUI, 2. esa Mainan. merupakan desa Berdasarkan buku " Preparing and Implementing a National Plan to Eliminate Lymphatic Filariasis" (WHO, 2. target program filariasis disebutkan bahwa cakupan Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) filariasis minimal yang harus dicapai untuk memutus rantai penularan sebesar Berdasarkan Dinas rujukan yang perlu diperiksa penduduknya setiap tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi microfilaria rate . f rat. sudah menurun dari 27% menjadi kurang dari 1% yaitu mf rate 0,15% melalui Hal PemberianObat Massal Pencegahan (POMP) filariasis di Kabupaten melakukan pelatihan/pelatihan penyegaran Alor terhadap petugas surveilans di daerah. pengobatan massal selama 6 tahun. Namun demikian, tetap perlu dilakukan evaluasi dan pengawasan setiap tahun sehingga tidak akan muncul kasus baru. SIMPULAN Terdapat 12 kabupaten . %) yang ditemukan kasus filariasis di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae Tingkat endemisitas filariasis suatu daerah dinyatakan berdasarkan prevalensi 2012 dengan prevalensi 0,02A Ae 4,37A . ata-rata 0,2A). infeksi microfilaria rate . f rat. , demikian Distribusi penderita filariasis terbanyak halnya dengan program pengobatan massal pada umur >15 tahun . ,93%) di juga dilaksanakan berdasarkan prevalensi Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun infeksi microfilaria rate . f rat. Namun data 2008 Ae 2012. filariasis dari Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara microfilaria rate. Program pencegahan filariasis akan berhasil dengan baik apabila didukung oleh perencanaan yang baik. Untuk menyusun rencana yang baik dibutuhkan data dan informasi yang valid. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kinerja surveilans kasus antara lain dengan cara meningkatkan upaya penemuan dan konfirmasi kasus serta Laki-laki merupakan penderita filariasis terbanyak . ,31%) di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 Ae 2012 Kabupaten Sumba Tengah. Kabupaten Rote Ndao, dan Kabupaten Alor telah melakukan pengobatan massal secara total penduduk . %), dan sembilan kabupaten masih dibawah 85%. REFERENCES