Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Early Childhood Learning Through Islamic Values: A Classroom Action Research at RA Hidayatul Islamiyah Hadijah1. Hadirah2 1 RA Hidayatul Islamiyah 2 RA Sunan Kalijaga Correspondence: Hadijah375@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Early Childhood Education. Islamic Values. Classroom Action Research. Character Development. RA Hidayatul Islamiyah. Moral Education. Teacher Strategies. Child Engagement. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance early childhood learning at RA Hidayatul Islamiyah by integrating Islamic values into the educational process. Early childhood is a critical period for character development, and embedding Islamic teachings at this stage is essential for fostering moral and spiritual growth. The research focuses on identifying effective strategies to incorporate Islamic values, such as honesty, discipline, and compassion, into daily learning activities and observing their impact on childrenAos behavior, attitudes, and cognitive development. The study involves teachers and students from RA Hidayatul Islamiyah, with data collected through observations, interviews, and assessments of childrenAos progress in both academic and moral domains. The research is conducted in two cycles: the first focuses on planning and implementing teaching strategies that introduce Islamic values, while the second evaluates the effectiveness of these strategies and suggests improvements based on student responses. The classroom activities include storytelling, role play, and simple discussions about Islamic teachings in a child-friendly manner. Findings from the study indicate that integrating Islamic values in early childhood education positively impacts childrenAos behavior and learning Students demonstrate increased respect for others, better selfregulation, and improved engagement in classroom activities. Teachers report greater ease in managing classroom dynamics, as the childrenAos understanding of Islamic principles helps guide their interactions and This research highlights the importance of incorporating moral and spiritual teachings into early childhood education, providing a foundation for developing well-rounded individuals who are not only academically competent but also morally responsible. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan anak usia dini (PAUD) memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan karakter dan kepribadian anak. Pada usia dini, anak-anak mulai mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, dan moral yang akan membentuk dasar dari perilaku mereka sepanjang hidup. Oleh karena itu, pengajaran yang mengedepankan nilai-nilai moral dan spiritual sangat dibutuhkan dalam membentuk karakter anak yang kuat, khususnya dalam konteks pendidikan Islam (Yulia, 2. Salah satu lembaga pendidikan yang sangat berperan dalam hal ini adalah Raudhatul Athfal (RA), yang memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak dalam lingkungan Islam. RA Hidayatul Islamiyah, sebagai lembaga pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter dan pemahaman agama sejak usia dini, memiliki tanggung jawab besar untuk Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menanamkan nilai-nilai Islam kepada para siswanya. Pembelajaran di RA Hidayatul Islamiyah tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan spiritual anak melalui pengajaran nilai-nilai Islam yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Zahra, 2. Namun, tantangan dalam implementasi pendidikan Islam di RA Hidayatul Islamiyah tidak dapat diabaikan. Banyak orang tua dan pendidik yang menghadapi kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam kegiatan pembelajaran anak-anak. Terlebih lagi, metode yang digunakan dalam pengajaran akhlak dan agama sering kali masih terbatas pada metode konvensional yang kurang menarik dan tidak sepenuhnya dapat mengaktifkan potensi anak (Hakim, 2. Pendidikan karakter berbasis Islam harus bisa menjadi dasar untuk membentuk anak-anak yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi. Oleh karena itu, perlu adanya inovasi dalam metode pembelajaran di RA Hidayatul Islamiyah agar anak-anak dapat memahami dan menghayati ajaran-ajaran agama dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan usia mereka (Dewi, 2. Salah satu metode yang berpotensi untuk mencapai tujuan ini adalah metode pembelajaran yang berbasis pada nilainilai agama yang diterapkan melalui kegiatan yang bersifat menyenangkan, seperti cerita, permainan, dan kegiatan kelompok. Salah satu aspek penting dalam pendidikan karakter adalah pembentukan akhlak atau moral. Akhlak merupakan cerminan dari karakter seseorang yang tercermin dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari. Dalam konteks Islam, akhlak merupakan bagian dari ajaran agama yang harus diajarkan sejak usia dini agar anak-anak dapat mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan mereka. Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai akhlak dalam setiap kegiatan di RA Hidayatul Islamiyah memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter anak (Rahmawati, 2. Pengajaran akhlak pada anak usia dini di RA Hidayatul Islamiyah membutuhkan pendekatan yang menyentuh aspek emosional dan kognitif mereka. Metode yang digunakan harus mampu membuat anak-anak memahami nilai-nilai akhlak seperti jujur, sopan santun, tolongmenolong, dan lainnya, dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan usia mereka. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk memilih metode yang tidak hanya efektif secara kognitif, tetapi juga mampu menyentuh hati dan perasaan anak (Rina, 2. Di sisi lain, penting juga untuk memperhatikan peran orang tua dalam pendidikan karakter Pendidikan di rumah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan di Oleh karena itu, sinergi antara pendidikan yang diterima anak di RA Hidayatul Islamiyah dan pendidikan di rumah sangat diperlukan. Orang tua memiliki peran penting dalam mendukung anak untuk menerapkan nilai-nilai akhlak yang diajarkan di sekolah dalam kehidupan sehari-hari (Tariq, 2. Pendidikan agama Islam yang diterapkan di RA Hidayatul Islamiyah tidak hanya mengajarkan tentang ibadah dan ritual agama, tetapi juga tentang penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan agar anak-anak dapat menginternalisasi ajaran agama dengan lebih baik dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan pendekatan yang tepat, pembelajaran agama dapat menjadi bagian yang menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak (Mardiana, 2. Namun, kendala yang sering dihadapi dalam penerapan metode pembelajaran di RA Hidayatul Islamiyah adalah keterbatasan fasilitas dan sumber daya yang ada. Terkadang, keterbatasan ini membatasi kemampuan guru untuk menggunakan berbagai metode pengajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Hal ini berdampak pada kurangnya variasi dalam proses pembelajaran, yang dapat mempengaruhi antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran (Fajar. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, penting bagi RA Hidayatul Islamiyah untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada pengalaman Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan menggunakan permainan edukatif dan aktivitas berbasis cerita yang dapat membantu anak-anak memahami nilai-nilai Islam dengan cara yang lebih menyenangkan (Budi, 2. Lebih lanjut, implementasi teknologi juga dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan dalam pembelajaran. Dengan memanfaatkan teknologi. RA Hidayatul Islamiyah dapat memberikan variasi dalam kegiatan pembelajaran dan meningkatkan daya tarik bagi anak-anak. Misalnya, penggunaan aplikasi atau video pembelajaran yang menarik dapat membantu anak-anak memahami nilai-nilai akhlak dan ajaran agama secara lebih visual dan interaktif (Ilham, 2. Sementara itu, salah satu faktor penentu keberhasilan pengajaran di RA Hidayatul Islamiyah adalah kualitas pengajaran yang diberikan oleh guru. Guru yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang akhlak dan nilai-nilai agama Islam akan lebih mampu mengajarkan materi dengan cara yang menyentuh hati dan membangun karakter siswa. Oleh karena itu, pelatihan yang terus-menerus untuk para guru sangat diperlukan guna meningkatkan kompetensi mereka dalam mengajar (Mira, 2. Pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai Islam di RA Hidayatul Islamiyah harus mampu memberikan dampak positif dalam pembentukan karakter siswa. Dengan menerapkan nilainilai agama dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak tidak hanya akan tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia, tetapi juga siap menghadapi tantangan kehidupan dengan landasan moral yang kuat (Siti, 2. Pendekatan yang lebih berbasis pada nilai-nilai agama ini juga dapat membantu anak-anak untuk memahami pentingnya peran agama dalam kehidupan mereka. Ketika mereka belajar untuk menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan lebih mudah memahami mengapa nilai-nilai tersebut sangat penting bagi perkembangan diri mereka dan masyarakat sekitar (Shakira, 2. Secara keseluruhan, pendidikan karakter berbasis Islam di RA Hidayatul Islamiyah memiliki potensi besar untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia dan siap menghadapi kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Melalui pendekatan yang lebih inovatif dan berbasis pada nilai-nilai agama, pendidikan di RA Hidayatul Islamiyah dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan karakter anak-anak sejak usia dini (Indra, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dipilih karena tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pembelajaran di RA Hidayatul Islamiyah melalui penerapan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan berbasis nilai-nilai Islam. PTK memungkinkan peneliti untuk merancang, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan proses pembelajaran secara langsung, sehingga dapat dilakukan perbaikan secara berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan siswa (Dewi, 2. Subjek penelitian ini adalah anak-anak usia dini yang terdaftar di RA Hidayatul Islamiyah, dengan jumlah 25 siswa yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial dan budaya. Penelitian ini juga melibatkan guru sebagai kolaborator yang bertugas merancang dan menerapkan strategi pengajaran berbasis nilai-nilai Islam yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak (Fatimah, 2. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan guru dan orang tua, serta dokumentasi kegiatan pembelajaran selama proses penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus pertama difokuskan pada perencanaan dan pelaksanaan metode pengajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pendekatan yang lebih aktif dan menyenangkan, seperti permainan edukatif, cerita moral, dan kegiatan Setelah pelaksanaan siklus pertama, dilakukan evaluasi terhadap proses Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pembelajaran untuk melihat dampak metode yang diterapkan terhadap sikap dan perilaku siswa (Shakira, 2. Siklus kedua merupakan tindak lanjut dari evaluasi siklus pertama, dengan melakukan perbaikan pada beberapa aspek yang dirasa perlu ditingkatkan. Pada siklus kedua, penekanan diberikan pada peningkatan keterlibatan siswa melalui kegiatan refleksi dan dialog terbuka, serta penyesuaian materi ajaran agama agar lebih mudah diakses oleh anak-anak. Evaluasi pada siklus kedua dilakukan melalui observasi dan penilaian terhadap perubahan sikap dan kemampuan siswa dalam menerapkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari (Budi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi partisipatif, wawancara, dan analisis dokumen. Observasi dilakukan untuk melihat interaksi antara siswa dan guru selama pembelajaran serta perkembangan perilaku siswa. Wawancara dilakukan dengan guru dan orang tua untuk menggali informasi terkait dampak metode yang diterapkan terhadap perubahan sikap dan perilaku siswa. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran tentang perubahan yang terjadi pada siswa (Rina, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, observasi awal menunjukkan bahwa siswa RA Hidayatul Islamiyah masih cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran yang berbasis nilai-nilai Islam. Mereka lebih banyak mendengarkan daripada berpartisipasi aktif dalam diskusi atau kegiatan kelompok. Pembelajaran yang dilakukan sebelumnya berfokus pada hafalan dan kurang melibatkan anak dalam proses aktif berpikir dan berdiskusi. Melalui penerapan metode yang lebih interaktif dan berbasis pada pengalaman, seperti cerita moral dan permainan edukatif, terlihat peningkatan partisipasi siswa. Metode ini berhasil menarik perhatian siswa dan membuat mereka lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran dengan antusias (Hakim, 2. Peningkatan partisipasi ini menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih menyenangkan dan berbasis pada pengalamannya dapat mengubah dinamika kelas yang sebelumnya cenderung Siswa menjadi lebih berani berbicara dan menyampaikan pendapat mereka setelah mendengarkan cerita yang disampaikan oleh guru. Mereka mulai memahami nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tolong-menolong melalui konteks yang lebih praktis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka (Dewi, 2. Hal ini mencerminkan bahwa pembelajaran yang kontekstual lebih efektif dalam membentuk pemahaman mereka tentang akhlak Islam. Pada siklus kedua, dilakukan perbaikan dengan menambahkan elemen refleksi diri, di mana siswa diminta untuk merenungkan pengalaman mereka setelah kegiatan pembelajaran. Mereka diajak untuk menyampaikan bagaimana mereka dapat mengaplikasikan nilai-nilai yang telah dipelajari dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Kegiatan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam sikap siswa. Mereka mulai berbicara dengan lebih terbuka mengenai pengalaman pribadi mereka, seperti bagaimana mereka belajar untuk lebih jujur dalam bertindak atau lebih disiplin dalam menyelesaikan tugas (Zahra, 2. Selain itu, pengajaran melalui kegiatan berbasis cerita terbukti efektif dalam menyampaikan pesan moral kepada anak-anak. Dalam siklus kedua, metode cerita tentang para nabi dan sahabat yang menampilkan akhlak mulia diterima dengan sangat baik oleh siswa. Anak-anak menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dan aktif dalam bertanya mengenai tokoh-tokoh Mereka kemudian menyusun cerita mereka sendiri berdasarkan nilai-nilai yang mereka pelajari, menunjukkan bahwa mereka mulai mampu menginternalisasi ajaran agama dalam bentuk yang mereka pahami (Budi, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis narasi efektif dalam memperkuat pemahaman anak-anak terhadap akhlak Islam. Dalam hal pengelolaan kelas, siklus kedua juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Guru mulai mampu mengelola kelas dengan lebih baik melalui penerapan metode yang lebih variatif Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dan berbasis pada kegiatan interaktif. Guru berperan lebih sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk mengeksplorasi nilai-nilai Islam melalui pengalaman langsung, bukan hanya sebagai pemberi informasi. Hal ini membuat siswa merasa lebih dihargai dan lebih aktif terlibat dalam pembelajaran, karena mereka merasa pendapat dan pengalaman mereka dihargai dalam diskusi (Mira, 2. Salah satu temuan penting dalam siklus kedua adalah peningkatan dalam hal perilaku sosial Setelah terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang mengedepankan nilai-nilai akhlak Islam, siswa menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap teman-temannya. Mereka lebih sering membantu teman yang kesulitan, lebih sabar dalam menunggu giliran, dan lebih menghargai perbedaan pendapat dalam diskusi. Ini adalah indikasi bahwa mereka tidak hanya memahami nilai-nilai yang diajarkan, tetapi juga mulai mengaplikasikannya dalam interaksi mereka sehari-hari (Fajar, 2. Namun, meskipun ada perbaikan, beberapa siswa masih menunjukkan kesulitan dalam menerapkan nilai-nilai yang dipelajari dalam situasi yang lebih kompleks. Sebagai contoh, meskipun mereka memahami konsep kejujuran, masih ada beberapa siswa yang ragu untuk berbicara jujur ketika berada dalam situasi yang sulit. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak dapat tercapai dalam waktu singkat dan membutuhkan pembiasaan yang terus-menerus (Tariq, 2. Oleh karena itu, diperlukan dukungan lebih lanjut baik dari guru maupun orang tua untuk membantu anak-anak menginternalisasi nilai-nilai ini dalam kehidupan mereka. Selain itu, meskipun metode ini berhasil meningkatkan pemahaman moral anak, beberapa anak masih merasa kesulitan dalam mengaitkan ajaran agama dengan perilaku mereka di luar lingkungan sekolah. Beberapa siswa yang memiliki latar belakang keluarga dengan pemahaman agama yang berbeda merasa lebih sulit untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk melibatkan orang tua dalam mendukung pendidikan karakter anak-anak, agar ada keselarasan antara ajaran yang diterima di sekolah dan nilai-nilai yang diajarkan di rumah (Rina, 2. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap efektivitas metode yang diterapkan. Dalam siklus kedua, meskipun ada kemajuan, ada juga kesadaran bahwa setiap siswa memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan yang lebih personal untuk memastikan bahwa setiap siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi dalam kelompok kecil atau melalui kegiatan yang lebih terarah sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa (Ilham, 2. Secara keseluruhan, penerapan metode berbasis cerita dan permainan edukatif dalam pembelajaran akhlak di RA Hidayatul Islamiyah menunjukkan hasil yang positif. Siswa menjadi lebih terlibat dalam pembelajaran, lebih menghargai nilai-nilai akhlak Islam, dan mulai mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun masih ada tantangan dalam implementasi di lapangan, temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih menyenangkan dan berbasis pengalaman dapat sangat efektif dalam membentuk karakter anakanak (Mardiana, 2. Ke depan, untuk lebih meningkatkan pembelajaran ini, penting untuk terus memonitor perkembangan siswa dan melakukan perbaikan berkelanjutan dalam metode yang digunakan. Dengan terus berinovasi dan melibatkan seluruh pihak dalam pendidikan anak, seperti guru, orang tua, dan masyarakat, pembelajaran akhlak berbasis nilai-nilai Islam dapat semakin efektif dan memberikan dampak yang lebih besar terhadap karakter siswa (Indra, 2. Dengan segala temuan dan pembahasan ini, penelitian ini menyimpulkan bahwa pengajaran yang berbasis nilai-nilai agama melalui metode yang menyenangkan dan berbasis pengalaman memiliki potensi besar untuk mengembangkan karakter siswa di RA Hidayatul Islamiyah. Ini juga menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis agama perlu dilakukan dengan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, yang memadukan teori dengan praktik yang relevan dan menarik bagi mereka (Zahra, 2. CONCLUSION Penelitian ini mengungkapkan bahwa penerapan metode pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam di RA Hidayatul Islamiyah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan karakter dan sikap siswa. Melalui penggunaan metode yang interaktif dan berbasis pengalaman, seperti permainan edukatif, cerita moral, dan kegiatan refleksi diri, siswa menjadi lebih aktif dan terlibat dalam pembelajaran. Mereka tidak hanya menghafal nilai-nilai agama, tetapi juga mulai memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan partisipasi siswa dalam kegiatan kelas menunjukkan bahwa pembelajaran yang menyenangkan dan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang akhlak dan ajaran Islam. Salah satu temuan utama dalam penelitian ini adalah peningkatan kemampuan siswa untuk menerapkan nilai-nilai akhlak dalam interaksi sosial mereka. Pada siklus pertama, meskipun siswa mulai menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tolong-menolong, mereka masih kesulitan dalam menerapkannya dalam situasi kehidupan nyata. Namun, pada siklus kedua, dengan adanya kegiatan refleksi diri yang lebih mendalam, siswa mulai menyadari bagaimana mereka bisa mengimplementasikan nilainilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menunjukkan sikap yang lebih positif dalam berinteraksi dengan teman-teman dan guru, serta lebih menghargai perbedaan pendapat dan bekerja sama dengan lebih baik. Metode yang berbasis cerita dan permainan edukatif terbukti efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada anak-anak. Cerita-cerita moral tentang tokoh-tokoh Islam, seperti nabi dan sahabat, memberikan contoh nyata bagi siswa mengenai bagaimana mengamalkan akhlak mulia dalam kehidupan. Anak-anak tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga diminta untuk berpartisipasi dalam membuat cerita mereka sendiri berdasarkan nilai-nilai yang telah mereka Hal ini tidak hanya memperdalam pemahaman mereka tentang akhlak Islam, tetapi juga mendorong kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka. Meskipun ada peningkatan signifikan dalam pemahaman dan perilaku siswa, beberapa tantangan masih dihadapi. Salah satunya adalah perbedaan latar belakang sosial dan agama siswa yang mempengaruhi cara mereka menginternalisasi nilai-nilai yang diajarkan. Beberapa siswa yang berasal dari keluarga dengan pemahaman agama yang berbeda merasa kesulitan dalam mengaitkan ajaran Islam dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang lebih maksimal, diperlukan dukungan yang lebih kuat dari orang tua dan masyarakat dalam membimbing anak-anak untuk menerapkan nilai-nilai yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, penting untuk memperhatikan bahwa pembentukan karakter tidak dapat tercapai dalam waktu singkat. Meskipun siswa mulai menunjukkan perubahan positif dalam sikap dan perilaku mereka, pembiasaan nilai-nilai akhlak memerlukan waktu yang lebih lama dan pendekatan yang konsisten. Oleh karena itu, perlu ada evaluasi dan perbaikan berkelanjutan terhadap metode pengajaran yang diterapkan, agar siswa dapat terus mengembangkan karakter mereka dengan lebih baik. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa metode pembelajaran berbasis nilainilai Islam, yang melibatkan kegiatan yang menyenangkan dan berbasis pengalaman, terbukti efektif dalam membentuk karakter siswa di RA Hidayatul Islamiyah. Siswa tidak hanya belajar tentang akhlak Islam, tetapi juga mulai mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, keberlanjutan dan perbaikan metode ini sangat penting, agar pendidikan karakter berbasis agama dapat terus memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan moral dan sosial siswa, membentuk mereka menjadi individu yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES