Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Penerapan Model Focus Group Discussion untuk Meningkatkan Kompetensi Keagamaan Siswa SMK Negeri 1 Tarano: Sebuah Studi Kualitatif Ovi Soviya1. Lina Eta Safitri2. Musmulyadin3 RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-19 Revised : 2025-11-28 Accepted : 2025-11-29 KEYWORDS Focus Group Discussion. Islamic Religious Education. Religious Competence. Interactive Learning. State Vocational School 1 Tarano KATA KUNCI Focus Group Discussion. Pendidikan Agama Islam. Kompetensi Keagamaan. Pembelajaran Interaktif. SMK Negeri 1 Tarano Akademi Komunitas Olat Maras. Sumbawa STIKES Griya Huasada Sumbawa. Indonesia, 84371 Telp: 081237733009 E-mail: ovisoviya@gmail. ABSTRAC This study aims to analyze the implementation of Focus Group Discussions (FGD. in Islamic Religious Education (PAI) learning and its contribution to strengthening the religious competence of students at SMK Negeri 1 Tarano. PAI learning at the vocational high school level still faces the challenge of low student engagement, so more interactive and collaborative strategies are needed. This study used a descriptive qualitative approach involving PAI teachers and 25 grade XI students as participants. Data were collected through observation, interviews, documentation, and competency assessment using cognitive, affective, and psychomotor rubrics. The results showed that the implementation of FGDs significantly increased student engagement, characterized by an active participation rate of 80Ae88%, the ability to express opinions of 77Ae83%, and social interaction of 75Ae81%. Improvements in religious competence were also seen in the cognitive . Ae85%), affective . Ae82%), and psychomotor . Ae80%) Qualitative findings showed that the small group atmosphere, social closeness, and targeted teacher moderation contributed positively to the smooth discussion, while time constraints were the main obstacles. Overall, the FGDs were effective in deepening understanding, increasing students' confidence in speaking, and encouraging internalization of religious values. This research provides a practical contribution to the development of dialogue- and collaboration-based Islamic Religious Education (PAI) learning models. However, further research is needed with a wider range of schools and duration to strengthen the generalizability of the findings. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Focus Group Discussion (FGD) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) serta kontribusinya terhadap penguatan kompetensi keagamaan siswa SMK Negeri 1 Tarano. Pembelajaran PAI di tingkat SMK masih menghadapi tantangan rendahnya keterlibatan siswa, sehingga diperlukan strategi yang lebih interaktif dan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan guru PAI dan 25 siswa kelas XI sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan penilaian kompetensi menggunakan rubrik kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi FGD mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan, ditandai oleh tingkat partisipasi aktif 80Ae88%, 232 | JPI. Vol. No. November 2025 kemampuan menyampaikan pendapat 77Ae83%, serta interaksi sosial 75Ae81%. Peningkatan kompetensi keagamaan juga terlihat pada aspek kognitif . Ae85%), afektif . Ae82%), dan psikomotorik . Ae80%). Temuan kualitatif memperlihatkan bahwa suasana kelompok kecil, kedekatan sosial, dan moderasi guru yang terarah berkontribusi positif terhadap kelancaran diskusi, sementara keterbatasan waktu menjadi hambatan utama. Secara keseluruhan. FGD efektif dalam memperdalam pemahaman, meningkatkan keberanian berbicara, dan mendorong internalisasi nilai-nilai keagamaan siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan model pembelajaran PAI berbasis dialog dan kolaborasi, namun penelitian lebih lanjut diperlukan dengan cakupan sekolah dan durasi yang lebih luas untuk memperkuat generalisasi temuan. Pendahuluan Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk kompetensi keagamaan siswa, mencakup aspek pengetahuan, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai religius. Di lingkungan sekolah menengah kejuruan (SMK), tantangan pembelajaran PAI semakin kompleks karena siswa dituntut tidak hanya memahami konsep keagamaan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kondisi di SMK Negeri 1 Tarano menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam pembelajaran masih terbatas, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan mendorong partisipasi aktif. (Azlansyah & Saparudin, 2. Focus Group Discussion (FGD) menawarkan alternatif pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif melalui dialog terarah, kolaboratif, dan reflektif (Nur, 2. Berbagai penelitian menunjukkan FGD mampu meningkatkan aktivitas belajar, pemahaman materi, serta interaksi sosial siswa (Darniati et al. , 2024. MustadhAoafin & Suharyat, 2. Namun, kajian yang secara khusus meneliti penerapan FGD dalam penguatan kompetensi keagamaan masih terbatas, terutama pada jenjang SMK. Sebagian besar penelitian sebelumnya difokuskan pada peningkatan motivasi, kemampuan berpikir kritis, atau hasil kognitif semata, bukan pada kompetensi keagamaan secara holistik yang mencakup dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor (Ramlah, 2024. Ramadhani & Inayati, 2. Celah penelitian . esearch ga. ini menunjukkan bahwa penerapan FGD dalam konteks PAI di SMK masih belum banyak dieksplorasi, padahal karakteristik siswa vokasional memiliki dinamika tersendiri yang berpotensi memengaruhi efektivitas metode diskusi terfokus. Selain itu, belum ada kajian yang secara sistematis menjelaskan bagaimana FGD dapat memfasilitasi internalisasi nilai keagamaan, pembentukan sikap, serta perilaku beragama siswa dalam lingkungan belajar vokasional (Faizun et al. Ilmawan, 2. Berdasarkan latar belakang yang telah di jelaskan diatas, penelitian ini dirancang untuk menganalisis implementasi FGD dalam pembelajaran PAI dan kompetensi keagamaan siswa SMK Negeri 1 Tarano. Penelitian ini menawarkan kebaruan . berupa fokus khusus pada konteks SMK dan penilaian kompetensi keagamaan secara utuh melalui pendekatan kualitatif yang menggambarkan proses, dinamika kelompok, dan hasil pembelajaran secara empiris (Shodiq, 2024. Sugianto, 2. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama. Bagaimana implementasi model Focus Group Discussion dalam pembelajaran PAI di SMK Negeri 1 Tarano? Kedua. Bagaimana kontribusi FGD terhadap penguatan kompetensi keagamaan siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik? Dan ketiga Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat keberhasilan penerapan FGD dalam pembelajaran PAI? (Pediaqu Research Group, 2. Dengan perumusan masalah tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai efektivitas FGD sebagai strategi pembelajaran PAI, sekaligus menawarkan kontribusi praktis bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih dialogis, reflektif, dan kontekstual (Hendrayani, 2024. Yusriani & Mahdalena, 2. Tinjauan Literatur Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) selama ini masih banyak bergantung pada metode konvensional seperti ceramah dan pengajaran satu arah, yang cenderung membuat siswa bersikap pasif dan kurang terlibat secara mendalam dalam penyusunan pemahaman nilai-nilai keagamaan (Permata Sari & Kasduri, 2. Metode diskusi, khususnya dalam kelompok kecil . mall group Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 233 discussio. , semakin dianggap sebagai alternatif yang lebih interaktif untuk mendorong partisipasi aktif siswa. Sebagai ilustrasi. Akhyar . menunjukkan bahwa metode small group discussion mampu membentuk kompetensi abad ke-21 . Critical Thinking. Creativity. Communication. Collaboratio. pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti. Hasil ini memberikan dasar teoritis bahwa diskusi berkelompok dapat berkontribusi secara signifikan dalam mengembangkan aspek kognitif dan sosial siswa dalam konteks pendidikan religius. Secara lebih spesifik. Focus Group Discussion (FGD) telah diterapkan dalam pembelajaran PAI dan menunjukkan dampak positif yang cukup konsisten. Sebagai contoh. Darniati dkk. menemukan bahwa FGD meningkatkan antusiasme belajar siswa pada mata PAI di SMPN 1 Sungai Pua, dengan quasi-eksperimental perbedaan bermakna antara kelas eksperimen dan Studi ini memberikan bukti empiris penting bahwa FGD dapat menjadi strategi motivasional dalam konteks pembelajaran agama. Demikian juga. Ramadhani & Inayati . melaporkan bahwa penerapan FGD di SMA Batik 2 Surakarta memperdalam pemahaman siswa terhadap materi PAI dan meningkatkan partisipasi aktif mereka selama proses belajar-mengajar. Selain aspek motivasi dan partisipasi, literatur juga mencatat bahwa FGD dapat menumbuhkan pola pikir reflektif dan kritis. Setiawan. Mukromin, dan Firdaus . dalam penelitian kualitatif di SMP Ar-Ridwan Wonosobo menyimpulkan bahwa penggunaan FGD dalam pembelajaran PAI mendorong siswa untuk menyampaikan argumen secara logis, berpikir kritis, serta mengambil sudut pandang reflektif terhadap isu keagamaan. Namun, penelitian ini juga mencatat beberapa hambatan, seperti keterbatasan waktu diskusi, perbedaan kemampuan komunikasi antar siswa, dan kurangnya kepercayaan diri sebagian peserta untuk berbicara Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun FGD efektif, pelaksanaannya tidak tanpa tantangan. Di sisi lain, ada juga kajian mengenai metode diskusi umum . anpa label FGD) dalam pendidikan Lubis . menemukan bahwa metode keterampilan berpikir kritis siswa PAI, khususnya dalam analisis dan evaluasi argumen. Namun, penelitian tersebut juga mengungkap bahwa partisipasi siswa tidak merata: siswa yang cenderung pasif kurang memasukkan gagasan mereka, yang bisa melemahkan potensi diskusi kolektif. Niken Septantiningtyas dkk. juga menyatakan bahwa efektivitas diskusi sangat dipengaruhi oleh peran guru sebagai fasilitator dan moderator, karena guru mampu mengarahkan dan menjaga dinamika diskusi agar produktif dan inklusif. Lebih jauh, literatur tentang penerapan FGD di konteks non-PAI pun relevan sebagai perbandingan. Misalnya. Harfiah & Rahmawan . meneliti penggunaan FGD dalam pembelajaran kimia . ateri redok. dan menemukan bahwa metode ini meningkatkan kemampuan kognitif siswa serta keterampilan kerja sama. Temuan semacam ini penting karena menunjukkan bahwa FGD tidak hanya menguntungkan dalam pembelajaran sosial atau humaniora, tetapi juga dalam sains. Ini memperkuat argumen bahwa FGD adalah strategi fleksibel yang dapat diadaptasi lintas disiplin untuk menguatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. Namun demikian, meskipun bukti positif cukup banyak, sejumlah penelitian mengidentifikasi batasan signifikan dalam implementasi FGD di kelas Setiawan dkk. misalnya menyoroti hambatan organisasi kelas, distribusi kepercayaan diri siswa, dan manajemen waktu sebagai tantangan Selain itu, faktor-faktor seperti pelatihan guru . , kesiapan siswa, dan struktur diskusi yang jelas sangat berpengaruh terhadap hasil Kurangnya penelitian yang secara eksplisit mengeksplorasi bagaimana FGD dapat memperkuat kompetensi keagamaan siswa . ukan sekadar kognitif atau motivas. menciptakan celah penelitian yang penting: sebagian besar studi fokus pada aspek berpikir kritis atau motivasi, bukan pada internalisasi nilai-nilai keagamaan itu sendiri. Berkenaan dengan kompetensi keagamaan, kompetensi religius yang mencakup pemahaman nilai . , penghayatan spiritual . , dan pengamalan nilai dalam tindakan . Meski demikian, penelitian empiris yang secara sistematis menilai dampak FGD terhadap tiga dimensi kompetensi ini masih terbatas. Sebagian besar studi hanya mengukur hasil dalam bentuk motivasi, keterlibatan, atau berpikir kritis, tanpa alat ukur yang bisa membedakan sejauh mana siswa menginternalisasi nilai-nilai keagamaan sebagai bagian dari identitas mereka. Selanjutnya, terdapat perdebatan dalam literatur mengenai efektivitas FGD dibandingkan metode lain. Beberapa peneliti mempertanyakan apakah FGD memang lebih unggul dari ceramah atau metode kolaboratif lainnya dalam konteks pendidikan agama, terutama ketika mempertimbangkan keterbatasan sumber daya seperti waktu dan kompetensi fasilitator (Cicchocka, 2016. Marchlewska et al. Studi semacam ini menunjukkan bahwa Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 234 | JPI. Vol. No. November 2025 keberhasilan FGD sangat kontekstual dan bergantung pada faktor-faktor spesifik sekolah dan Oleh karena itu, menyelidiki penerapan FGD di konteks unik seperti SMK . i mana siswa mungkin memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda dari siswa sekolah menengah atas regule. menjadi sangat relevan. Berdasarkan tinjauan literatur di atas, jelas bahwa terdapat peluang penelitian yang signifikan dalam menguji implementasi model FGD untuk memperkuat kompetensi keagamaan siswa PAI dalam setting SMK. Penelitian ini diharapkan dapat mengisi gap dengan menilai tidak hanya aspek kognitif atau motivasional, tetapi juga bagaimana nilai-nilai diterjemahkan dalam komponen afektif dan perilaku Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menyokong literatur tentang pedagogi diskusi dalam pendidikan agama, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis bagi pendidik PAI dan pengambil kebijakan di sekolah vokasional untuk merancang pembelajaran yang lebih reflektif, dialogis, dan bermakna. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivis-sosial yang memandang bahwa pemahaman peserta didik terbentuk melalui interaksi, pengalaman, dan dialog (Ilmawan, 2. Desain ini dipilih untuk menggambarkan secara mendalam bagaimana Focus Group Discussion (FGD) diimplementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap penguatan kompetensi keagamaan siswa di SMK Negeri 1 Tarano (Nur. Darniati et al. , 2. Sumber data penelitian meliputi guru PAI sebagai informan kunci serta siswa kelas XI sebagai partisipan utama dalam kegiatan pembelajaran dan FGD. Pemilihan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan keterlibatan langsung mereka dalam kegiatan Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi, serta rubrik penilaian kompetensi keagamaan (Ramlah, 2024. MustadhAoafin & Suharyat, 2. Ringkasan hubungan antara sumber data, teknik pengumpulan, dan instrumen penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Sumber Data Teknik Pengumpulan Guru PAI Wawancara. Siswa kelas Observasi. FGD. Dokumen Dokumentasi Kompetensi Observasi Instrumen Pedoman Pedoman FGD, catatan Foto/video FGD. RPP. Rubrik Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah rubrik penilaian kompetensi keagamaan yang memuat tiga dimensi inti, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimensi kognitif mencakup kemampuan siswa memahami dan menjelaskan materi dasar PAI, seperti menafsirkan ayat atau menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kehidupan sehari-hari. Dimensi afektif mencakup sikap religius, kemampuan menerima sudut pandang orang lain, serta internalisasi nilai Sementara itu, dimensi psikomotorik mencakup perilaku yang mencerminkan pengamalan nilai agama dalam aktivitas belajar maupun interaksi sosial (Yusriani & Mahdalena, 2024. Lubis, 2. Setiap dimensi dilengkapi indikator deskriptif untuk memastikan penilaian dilakukan secara sistematis dan konsisten. Prosedur penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah persiapan yang mencakup penyusunan instrumen penelitian, pedoman FGD, serta koordinasi dengan guru dan Tahap kedua adalah pelaksanaan, di mana guru memoderasi FGD dalam kelompok kecil yang beranggotakan 5Ae6 siswa, sementara peneliti melakukan observasi non-partisipatif untuk mencatat dinamika diskusi, bentuk interaksi, dan partisipasi siswa (Ramadhani & Inayati, 2023. Sugianto, 2. Selanjutnya dilakukan wawancara dengan guru dan beberapa siswa untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang pengalaman mereka selama mengikuti FGD. Tahap ketiga adalah pendokumentasian data yang mencakup rekaman audio atau video, foto kegiatan, catatan lapangan, serta hasil penilaian kompetensi (Faizun et al. , 2. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 235 Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tiga langkah utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi dan mengorganisasi informasi penting dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penyajian data dilakukan melalui narasi deskriptif dan matriks tematik untuk memudahkan pemahaman pola atau hubungan antarkomponen. Kesimpulan kemudian diverifikasi melalui pengujian ulang pola, membandingkannya dengan data tambahan yang relevan (Hendrayani, 2. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi teknik dan sumber, yaitu membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi pada berbagai Selain itu, dilakukan member check untuk memastikan interpretasi peneliti sesuai dengan pengalaman guru dan siswa. Seluruh proses penelitian didokumentasikan secara sistematis untuk menyediakan jejak audit . udit trai. yang memungkinkan peneliti lain memahami dan mereplikasi prosedur penelitian bila diperlukan (Pediaqu Research Group, 2024. Shodiq, 2. Hasil Pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 1 Tarano menghasilkan beberapa temuan penting terkait dinamika diskusi, keterlibatan siswa, serta penguatan kompetensi Data diperoleh dari observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan guru serta siswa yang mengikuti FGD pada lima kelompok Secara umum, seluruh kelompok menunjukkan pola keterlibatan yang meningkat dibandingkan pembelajaran konvensional (Darniati et al. , 2024. MustadhAoafin & Suharyat, 2. Temuan observasi menunjukkan bahwa siswa lebih aktif merespons pertanyaan, mengajukan pendapat, serta berdiskusi dengan teman sebaya. Banyak siswa yang menyatakan bahwa FGD membantu mereka memahami materi karena prosesnya memungkinkan pertukaran pandangan secara langsung (Nur, 2. Salah satu siswa menyatakan. AuSaya jadi lebih paham materi karena bisa bertanya langsung kepada teman, bukan hanya mendengar penjelasan guru. Ay Siswa lain mengungkapkan bahwa suasana kelompok kecil membuat mereka lebih percaya diri: AuKalau kelompoknya kecil, saya merasa lebih berani bicara. Tidak takut salah. Ay (Ramadhani & Inayati, 2. Data observasi mengenai keterlibatan siswa dijelaskan melalui indikator partisipasi aktif, kemampuan menyampaikan pendapat, dan interaksi Rekapitulasi keterlibatan siswa setiap kelompok ditampilkan pada tabel berikut (Ramlah. Tabel 1. Tingkat Keterlibatan Siswa dalam FGD Kemampuan Interak Partisip Kelomp Menyampaik si asi Aktif an Pendapat Sosial (%) (%) (%) Selain peningkatan keterlibatan, penilaian kompetensi keagamaan siswa dalam tiga aspek utama kognitif, afektif, dan psikomotorik menunjukkan kecenderungan positif. Aspek kognitif tampak meningkat melalui kemampuan siswa menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan pengalaman sehari-hari, serta merumuskan pendapat berdasarkan dalil yang relevan (Lubis, 2. Seorang partisipan mengatakan. AuDiskusi membuat saya jadi ingat materi karena harus menjelaskan lagi dengan kata-kata saya sendiri. Ay Aspek afektif terlihat dari sikap siswa dalam berdiskusi, seperti kemampuan mendengarkan pendapat teman, menunjukkan empati, dan mengekspresikan nilai-nilai keagamaan dalam bentuk sikap (Faizun et al. , 2021. Yusriani & Mahdalena, 2. Guru PAI menyampaikan kesannya tentang perubahan sikap siswa: AuAnakanak jadi lebih menghargai pendapat teman. Mereka mulai belajar menyampaikan kritik tanpa Ay Sementara itu, aspek psikomotorik tercermin dari nilai-nilai keagamaan dalam simulasi atau studi kasus yang dibahas dalam FGD. Misalnya, ketika diberikan situasi mengenai kejujuran, sebagian besar siswa mampu menjelaskan contoh tindakan yang sesuai dengan nilai tersebut dan menghubungkannya dengan perilaku nyata di sekolah (Ilmawan, 2. Rekapitulasi hasil penilaian kompetensi keagamaan disajikan pada tabel berikut: Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 236 | JPI. Vol. No. November 2025 Tabel 2. Penilaian Kompetensi Keagamaan Siswa Kelompo Kogniti Afekti Psikomotori f (%) f (%) k (%) Selain data kuantitatif, temuan kualitatif juga memperlihatkan bahwa dinamika kelompok berpengaruh besar terhadap kelancaran diskusi. Kelompok yang anggotanya memiliki hubungan sosial lebih dekat cenderung berdiskusi dengan lebih terbuka (Azlansyah & Saparudin, 2. Salah satu siswa mengatakan. AuKalau teman satu kelompok sudah akrab, diskusinya jadi lebih enak. Tidak Ay Sebaliknya, mengungkapkan bahwa keterbatasan waktu membuat diskusi belum berjalan maksimal: AuKadang waktu habis padahal pembahasan masih Ay Guru PAI juga menegaskan bahwa kemampuan memoderasi diskusi memengaruhi kelancaran FGD. Ia menyatakan. AuKalau saya lempar pertanyaan yang terlalu umum, anak-anak sulit mulai. Tapi kalau pertanyaannya terarah, diskusinya lebih Ay (Pediaqu Research Group, 2. Secara menunjukkan bahwa implementasi FGD mampu meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat pemahaman materi, serta mendorong internalisasi nilai-nilai keagamaan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Temuan ini menjadi dasar untuk dianalisis lebih lanjut pada bagian pembahasan (Sugianto, 2024. Shodiq, 2. Pembahasan Temuan penelitian menunjukkan bahwa implementasi Focus Group Discussion (FGD) mampu meningkatkan partisipasi, pemahaman konsep keagamaan, serta keterlibatan emosional dan perilaku siswa dalam pembelajaran PAI. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme-sosial Vygotsky yang menekankan pembentukan makna melalui dialog dan interaksi sosial. Dalam konteks penelitian ini, siswa tidak hanya menerima pemahaman melalui pertukaran ide dalam kelompok Temuan tersebut mendukung laporan Darniati et al. , yang menyatakan bahwa FGD dapat meningkatkan antusiasme belajar dan keaktifan siswa dalam pembelajaran PAI. Hasil ini juga selaras dengan penelitian Ramadhani & Inayati . , yang menemukan bahwa FGD membuat siswa lebih terlibat dalam proses memahami materi keagamaan. Peningkatan kompetensi keagamaan siswa dapat Pertama, proses elaborasi, yaitu ketika siswa menjelaskan konsep dengan bahasa mereka sendiri, memperkuat retensi dan pemahaman Hal ini tampak dari pernyataan siswa yang mengatakan bahwa mereka Aulebih paham karena harus menjelaskan lagi dengan kata-kata sendiri. Ay Mekanisme ini konsisten dengan temuan Setiawan. Mukromin, dan Firdaus . , yang menunjukkan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa PAI. Kedua, negosiasi makna kolektif terjadi ketika siswa mempertukarkan pandangan keagamaan, menguji argumen, dan mencari kesepahaman nilai. Proses ini mendukung internalisasi afektifAiyang ditegaskan pula oleh Lubis . , bahwa diskusi dapat meningkatkan sensitivitas moral dan daya evaluatif siswa dalam memahami nilai keagamaan. Ketiga, modeling dan rehearsal, yaitu saat siswa mencontoh perilaku positif atau menerapkan nilai melalui simulasi kasus. mekanisme ini menjembatani pemahaman konseptual menuju pengamalan Selain itu, temuan lapangan menguatkan literatur tentang pentingnya moderator yang kompeten dalam FGD. Guru PAI menyatakan bahwa pertanyaan terarah membuat diskusi Aulebih hidup. Ay Hal ini konsisten dengan pandangan Niken Septantiningtyas et al. , yang menegaskan bahwa keberhasilan diskusi sangat dipengaruhi kemampuan guru mengelola dinamika kelompok. Penelitian Harfiah & Rahmawan . juga menunjukkan bahwa efektivitas FGD dalam pembelajaran bergantung pada kemampuan guru mengatur alur dialog agar tetap fokus dan produktif. Dengan demikian, efektivitas FGD bukan semata-mata berasal dari metodenya, tetapi dari interaksi antara metode, fasilitator, dan kesiapan peserta. Dalam konteks peningkatan kompetensi keagamaan, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa FGD mendorong internalisasi nilai secara lebih mendalam. Hal ini tampak dari peningkatan aspek afektif, seperti kemampuan siswa menghargai pendapat teman dan menunjukkan empati selama diskusi fenomena yang juga ditemukan oleh MustadhAoafin & Suharyat . dalam studi mereka mengenai peningkatan keaktifan belajar PAI melalui FGD. Aspek psikomotorik juga terlihat tumbuh melalui kemampuan siswa memberikan contoh konkret penerapan nilai dalam situasi yang mereka Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 237 Hal ini memperkuat temuan Azlansyah & Saparudin . , yang menyatakan bahwa diskusi dapat memfasilitasi pengembangan keterampilan bertindak sesuai nilai keagamaan. Dari sisi faktor pendukung, penelitian mengidentifikasi tiga hal utama: . ukuran kelompok kecil yang menciptakan ruang aman bagi siswa untuk berbicara, sesuai rekomendasi Ramadhani & Inayati . kedekatan sosial antar siswa yang memudahkan munculnya dan . instrumen rubrik yang dirancang sistematis untuk menilai kompetensi Namun demikian, terdapat pula beberapa faktor penghambat, seperti keterbatasan waktu yang membuat diskusi belum mendalam, serta ketimpangan kemampuan komunikasi yang menyebabkan sebagian siswa tetap pasif. Temuan ini menguatkan laporan Setiawan et al. yang menyebutkan bahwa hambatan utama diskusi kelompok adalah distribusi peran yang tidak merata dan kendala waktu. Dalam penelitian ini, pengaruh moderator juga tampak signifikanAiyang berarti bahwa tanpa fasilitasi terstruktur. FGD dapat kehilangan fokus dan tidak efektif. Interpretasi kritis terhadap temuan menunjukkan bahwa meskipun FGD efektif meningkatkan kompetensi keagamaan dalam jangka pendek, penelitian ini belum menguji efek jangka panjang, misalnya apakah peningkatan afektif dan benar-benar kehidupan sehari-hari. Selain itu, penilaian afektif dan psikomotorik masih mengandung unsur subjektivitas, meskipun rubrik telah digunakan. Hal ini sejalan dengan kritik literatur oleh Latipah . , yang menekankan bahwa metode diskusi cenderung sensitif terhadap bias fasilitator dan dinamika Dengan demikian, meski temuan penelitian ini kuat secara deskriptif, diperlukan penelitian lebih lanjut yang mengombinasikan pendekatan longitudinal atau triangulasi observasi lapangan dalam jangka panjang untuk menilai konsistensi pengamalan nilai keagamaan. Secara menunjukkan bahwa FGD memang memberikan kompetensi keagamaan siswa SMK melalui mekanisme interaksi sosial, elaborasi, dan dialog Namun, efektivitas ini sangat bergantung pada desain kegiatan, kemampuan moderator, komposisi kelompok, serta ketersediaan waktu dan dukungan pembelajaran. Dengan tambahan literatur empiris dari penelitian-penelitian sebelumnya, temuan penelitian ini menempati posisi penting dalam memperkaya diskursus mengenai pedagogi PAI berbasis diskusi di pendidikan vokasional. Kesimpulan Temuan Utama . Implementasi Focus Group Discussion (FGD) dalam pembelajaran PAI di SMK Negeri 1 Tarano berhasil meningkatkan keterlibatan siswa, baik dari segi partisipasi aktif, kemampuan menyampaikan pendapat, maupun interaksi sosial. Kompetensi keagamaan siswa menunjukkan peningkatan pada tiga aspek utama: Kognitif: kemampuan memahami konsep, menjelaskan materi, dan mengaitkan nilai keagamaan dengan pengalaman sehari-hari. Afektif: sikap menghargai pendapat, empati, dan penghayatan nilai moral. Psikomotorik: kemampuan menerapkan nilai-nilai agama dalam aktivitas dan perilaku nyata di sekolah. Dinamika kelompok, kedekatan sosial siswa, serta kualitas moderasi guru terbukti menjadi faktor yang memengaruhi kelancaran FGD. Kendala utama yang muncul adalah keterbatasan waktu diskusi dan ketimpangan partisipasi antar anggota kelompok. Implikasi Praktis . Guru PAI disarankan menjadikan FGD sebagai penginternalisasian nilai-nilai agama. Moderasi diskusi perlu dirancang dengan pertanyaan terarah agar proses FGD lebih fokus dan produktif. Sekolah dapat menjadikan model FGD sebagai bagian dari inovasi pembelajaran berbasis dialog, kolaborasi, dan penguatan karakter. Penilaian kompetensi keagamaan dapat diperkuat menggunakan rubrik terstruktur agar perkembangan siswa lebih mudah dipantau. Keterbatasan Penelitian . Jumlah peserta penelitian terbatas dan hanya melibatkan satu kelas. Penelitian hanya dilakukan pada satu sekolah, sehingga temuan ini belum dapat digeneralisasi ke konteks sekolah lain. Durasi pelaksanaan FGD relatif singkat perkembangan jangka panjang kompetensi keagamaan siswa. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 238 | JPI. Vol. No. November 2025 Saran untuk Penelitian Selanjutnya . Melibatkan lebih banyak sekolah dan peserta agar hasil penelitian lebih representatif. Menggunakan desain penelitian longitudinal untuk melihat perkembangan kompetensi keagamaan dalam jangka panjang. Mengombinasikan FGD dengan model pembelajaran lain, seperti project-based learning atau problem-based learning, untuk melihat efektivitas komparatif. Mengembangkan kompetensi keagamaan yang lebih mendalam, terutama untuk aspek afektif dan psikomotorik. Referensi