Raqib: Jurnal Studi Islam Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 ISSN: x-x | E-ISSN: x-x ISSN: 1978-1520 PERSPEKTIF AL-QURAoAN TERHADAP MITOS DALAM KEYAKINAN MASYARAKAT JAHILIAH (Al-QurAoan Perspective on Myths in the Beliefs of Jahiliah Societ. Baeti Rohman Universitas PTIQ Jakarta email: baetirohman@ptiq. Zaenal Abidin Riam Universitas PTIQ Jakarta email: abidinriam@gmail. Abstract Myths are an inseparable part of the life of ignorant Arab society, even though they are not accepted by common sense and cannot be proven to be true, ignorant Arabs have a high adherence to myths. Violations of myths can have a broad impact on an individual's life, he can be ostracized from society because he is considered to have great disgrace, there is an opportunity for the perpetrator to experience shame that he cannot bear. The emergence of a fanatical attitude towards myths is a consequence of the strict inheritance of myths from generation to generation, resulting in a perception that increasingly establishes fanaticism towards myths. They believe that belief in myths can prevent them from life's accidents. The truth of this assumption cannot be tested because myths basically do not contain truth. This research aims to produce a complete perspective on myths based on the perspective of the Al-Qur'an and the Islamic attitude towards myths. If a critical analysis is carried out, there are at least three factors that cause the emergence of myths in the ignorant Arab society. First, weak realistic Second, limited knowledge caused by limited sensing, both direct and indirect. Third, the limitations of human reasoning at that time. There were various mythical practices that flourished during the Arab era of ignorance, two of which were the most prominent and became a marker of the identity of the Arab community of ignorance, namely the act of burying baby girls alive after birth from their mother's womb and the practice of idolatry. The Koran as a source of Islamic teachings rejects all forms of mythical practices that are contrary to Sharia law. Keywords: Al-Qur'an. Perspective. Ignorant Arabs. Myth. Belief. Abstrak Mitos merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Arab jahiliah, meskipun tidak diterima akal sehat dan tidak mampu dibuktikan kebenarannya, orang-orang Arab jahiliah memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap mitos. Pelanggaran terhadap mitos bisa berdampak luas pada kehidupan individu, ia bisa dikucilkan dari pergaulan di tengah masyarakat karena dianggap memiliki aib yang besar, terbuka peluang bagi pelakunya untuk mendapat rasa malu yang tidak mampu ditanggung. Munculnya sikap fanatik terhadap mitos merupakan konsekuensi pewarisan mitos dari generasi ke generasi yang dilakukan secara ketat, sehingga terbentuk persepsi yang semakin memapankan fanatisme terhadap mitos. Mereka meyakini bahwa kepercayaan terhadap mitos mampu menghindarkan mereka dari kecelakaan hidup, asumsi ini tentu tidak bisa diuji kebenarannya karena mitos pada dasarnya hanya mengandung asumsi. Penelitian ini bertujuan melahirkan perspektif utuh terhadap mitos berdasarkan cara pandang Al-QurAoan serta bentuk penyikapan Islam terhadap mitos. Jika dilakukan analisis kritis paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan munculnya mitos di lingkungan masyarakat Arab jahiliah. Pertama, lemahnya kesadaran realistis. Kedua, keterbatasan pengetahuan yang disebabkan keterbatasan penginderaan baik langsung maupun tidak langsung. Ketiga, keterbatasan penalaran manusia pada masa itu. Terdapat berbagai praktik mitos yang tumbuh subur di masa Arab jahiliah, dua diantaranya yang paling menonjol dan menjadi penanda identitas masyarakat Arab jahiliah adalah tindakan mengubur bayi perempuan secara hidup-hidup pasca lahir dari rahim ibunya dan praktik penyembahan berhala. Al-QurAoan sebagai sumber ajaran Islam menolak segala bentuk praktik mitos yang bertentangan dengan hukum syariat. Kata kunci: Al-QurAoan. Perspektif. Arab Jahiliah. Mitos. Keyakinan. PENDAHULUAN Jauh sebelum Nabi Muhammad saw diutus sebagai nabi dan rasul, masyarakat Arab telah terjerumus ke dalam situasi jahiliah, kata jahiliah bermakna bodoh, namun kondisi mereka disebut jahiliah bukan karena tingkat kecerdasan yang sangat rendah, masyarakat Arab di masa itu merupakan komunitas yang memiliki ilmu khususnya dalam urusan dunia, bahkan terdapat kaum cerdik pandai di tengah masyarakat Arab jahiliah, pada saat yang sama mereka juga memiliki keunggulan dalam bidang sastra,banyak penyair handal yang lahir di masa tersebut. Masyarakat Arab pra Islam dilabeli jahiliah karena ketidakmampuan mereka mendayagunakan akalnya dengan benar. Mereka memiliki kecenderungan untuk menolak pesan kebenaran, nasihat kebenaran yang disampaikan justru dianggap sebagai kesalahan, sebaliknya ragam hal yang terang benderang sebagai kesalahan justru dianggap sebagai kebenaran. Praktik yang jelas mengandung kesalahan oleh masyarakat Arab jahiliah malah dijadikan sebagai tren lalu dimapankan sebagai tradisi. Ketidakmampuan dan kemalasan memberdayakan akal dengan benar mendatangkan berbagai praktik jahiliah misalnya membuat patung kemudian menyembah patung tersebut karena diyakini sebagai tuhan, anak perempuan yang dilahirkan ibunya dinilai sebagai pembawa sial, dan ragam praktik jahiliah lainnya. Di samping itu sebagai akibat dari situasi jahiliah perdamaian antara sesama kabilah Arab sukar terjadi, setiap kabilah merasa diri paling benar dan paling kuat, masalah yang muncul antara berbagai kabilah sering tidak diselesaikan lewat jalur perdamaian tetapi melalui peperangan yang menewaskan banyak nyawa. Pada saat yang sama masyarakat jahiliah juga menaruh kepercayaan kuat terhadap mitos, jika dicermati secara seksama mitos selalu tumbuh subur di tengah masyarakat yang tidak memaksimalkan kemampuan akal yang merupakan anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada umat manusia, komunitas manusia yang mengessampingkan akal mencari pembenaran pada mitos yang mereka ciptakan sendiri yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Memahami Mitos Secara Utuh Kata mitos merupakan kosakata yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mitos didefinisikan sebagai cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut serta mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib. Dari kata mitos lahir kosakata memitoskan yang berbentuk kata kerja yakni tindakan mengeramatkan, mengagungkan secara berlebih-lebihan tentang pahlawan, benda, dan sebagainya. Sedangkan proses perbuatan menjadikan sesuatu sebagai mitos disebut pemitosan. Ketiga kosakatan ini saling terkait, mitos akan diterima di tengah suatu masyarakat bila didahului tindakan memitoskan dan proses pemitosan. Pakar semiotika ternama Roland Barthes menyampaikan uraian yang menarik tentang mitos, bila dalam budaya keseharian mitos sering dipahami dengan sederhana maka tidak demikian halnya dengan Roland Barthes, ia memberikan pemaparan tentang mitos secara lebih mendalam dan komprehensif, ia juga memberikan tafsir baru terhadap pemaknaan mitos. Barthes membahas mitos secara lebih serius dalam bukunya berjudul Mythologies di bagian Myth Today, diterbitkan oleh Noondy Press 1 Barthes berpandangan mitos merupakan sebuah pesan yang disampaikan Roland Barthes. Mitologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 23 melalui penuturan, terdapat tuntutan untuk meyakini kebenaran pesan tersebut namun pada saat yang sama pesan tersebut tidak bisa dibuktikan kebenarannya, mitos sering disertai ancaman terhadap pihak yang menolak mitos tersebut, pada bagian ini sesungguhnya terjadi pemaksaan secara halus dan terselubung kepada manusia untuk mempercayai mitos. Mitos selalu lahir dalam bentuk tuturan namun ia tidak ditampilkan dalam tuturan biasa, biasanya aspek magis disertakan dalam tuturan tersebut, saat sebuah tuturan diutarakan secara biasa tanpa mengandung aspek magis maka tuturan tersebut tidak mampu melahirkan mitos. Barthes meyakini semua wacana berpotensi berubah menjadi mitos sepanjang wacana tersebut diuraikan dengan memasukkan unsur magis. Setiap peristiwa memiliki denotasi dan berpeluang melahirkan konotasi, denotasi merupakan makna asli dari sebuah peristiwa sedangkan konotasi adalah pengembangan lebih lanjut terhadap makna asli sehingga melahirkan makna baru yang berbeda dari makna asli, setiap peristiwa sepanjang dimaknai secara denotasi maka peristiwa tersebut tidak akan berubah menjadi mitos, sebaliknya bila peristiwa tersebut diberi makna konotasi maka peristiwa biasa tersebut berpeluang menjadi mitos. Contoh sederhana yang bisa disajikan dari budaya masyarakat jahiliah adalah tindakan mengubur bayi perempuan yang baru lahir karena diyakini bila bayi tersebut dibiarkan tetap hidup maka bisa mendatangkan kesialan atau kemalangan bagi keluarga. Tindakan mengubur bayi perempuan dituturkan secara lisan di tengah masyarakat Arab jahiliah dari masa ke masa, proses penuturannya tidak dilakukan secara biasa melainkan menyertakan aspek magis dengan mamasukkan narasi kesialan atau kemalangan yang tidak memiliki penjelasan rasional. Mitos ini juga mengandung ancaman bagi yang menolak mempercayainya yakni akan ada konsekuensi kemalangan bagi keluarga yang menolak mengubur bayi perempuan dalam keadaan hidup. Dari sisi makna denotasi dan konotasi, peristiwa penguburan pada dasarnya merupakan makna denotasi karena telah menjadi peritiwa umum di tengah masyarakat, akan tetapi saat dikembangkan menjadi makna konotasi dengan memberikan tafsir bahwa bayi perempuan yang lahir dari rahim ibunya harus segera dikubur dalam rangka menghindari kemalangan bagi keluarga maka di bagian ini peristiwa mengubur bayi perempuan berubah menjadi mitos. Lebih lanjut Barthes juga menekankan bahwa mitos tidak lahir dari ruang hampa, setiap mitos selalu memiliki agenda tertentu yang ingin dicapai, mitos sengaja diciptakan untuk memapankan kepentingan kelompok tertentu, sehingga bisa dipahami bahwa mitos selalu bergandengan dengan kepentingan. Dalam kasus masyarakat Arab jahiliah tuntutan mengubur bayi perempuan dalam rangka menghindari malapetaka atau kemalangan sengaja diprodukasi untuk memapankan sistem patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai penguasa utuh di tengah masyarakat. Terdapat potensi bila bayi perempuan dibiarkan hidup maka tidak mustahil akan muncul tokoh perempuan yang menggugat dan mengambil alih kekuasaan yang sebelumnya dikendalikan kaum laki-laki. Islam merupakan agama yang bersifat rahmatan lilalamin, ajaran Islam hadir sebagai petunjuk keselamatan bagi semua manusia, karena sifatnya yang terbuka dan diperuntukkan bagi semua manusia maka penyebaran agama Islam tidak bisa dibatasi pada wilayah dan komunitas tertentu. Sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam maka Islam juga bersedia melakukan dialog kebudayaan dengan tradisi yang telas eksis di tempat tersebut sebelum kedatangan Islam, pada saat yang sama mitos pada dasarnya merupakan bagian dari tradis yang telah diwariskan secara turun temurun dalam sebuah masyarakat. Kesediaan Islam berdialog dengan tradisi lama dilakukan dalam perspektif yang kritis, patokannya jelas yakni Al-QurAoan sebagai sumber ajaran Islam, bila sebuah mitos bertentangan dengan ajaran agama maka Islam secara tegas menolak mitos tersebut, namun bila mitos tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam maka ia tidak tertolak, sikap Islam yang menolak mitos yang bertentangan Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 24 dengan ajaran agama didasarkan pada sebuah pilihan kesadaran bahwa Al-QurAoan memiliki kebenaran yang bersifat pasti sebab berasal dari wahyu Allah, sedangkan mitos tidak memiliki kebenaran yang pasti bahkan tingkat kebenarannya diragukan karena tidak bisa dibuktikan secara faktual. Pada bagian ini sesungguhnya Islam melakukan pembebasan terhadap manusia agar terlepas dari belenggu mitos yang keliru. Islam membebaskan masyarakat Arab dari kebiasaan keliru yang mengubur bayi perempuan saat lahir dari perut ibunya. Sebagai bukti bahwa Islam tidak bersifat anti tradisi, dalam penetapan hukum Islam melalui proses ijtihad dikenal istilah AuurfAy, yakni menetapkan sebuah hukum berdasarkan tradisi yang telah mengakar dalam sebuah komunitas 2. Tradisi yang dimaksudkan adalah tradisi yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, jika tradisi tersebut bertentangan dengan ajaran Islam maka tidak bisa dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan hukum. Penting ditegaskan, penggunaan metode AuurfAy bukan merupakan upaya untuk mengkondisikan agar ajaran Islam mengikuti budaya. Islam tidak mungkin menjadi pengikut budaya atau tradisi, sebaliknya tradisi yang mesti menyesuaikan dengan kebenara ajaran Islam. Islam memiliki Al-QurAoan sebagai sumber hukum yang terjamin kebenarannya sedangkan tradisi termasuk mitos di dalamnya merupakan produk manusia yang memiliki kemungkinan benar namun juga memiliki peluang salah. Penggunaan metode AuurfAy merupakan bentuk kesadaran para ulama sebagai pewaris nabi untuk tidak mengasingkan Islam dari budaya. Islam tidak selalu harus diposisikan berhadapan dengan budaya, justru Islam bertindak sebagai pemandu budaya dengan cara mengapresiasi budaya yang tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Penyebab Kemunculan Mitos di Kalangan Masyarakat Arab Jahiliah Jika dilakukan analisis kritis paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan munculnya mitos di lingkungan masyarakat Arab jahiliah. Pertama, lemahnya kesadaran Manusia memiliki tiga kondisi jiwa yang saling berhubungan yakni id . , ego . ondisi realisti. , dan superego . Fenomena yang tidak jarang terjadi dalam kehidupan kekuatan insting individu lebih dominan dibandingkan kondisi realistis, pada titik ini fungsi superego mengalami pengurangan. Masyarakat Arab jahiliah lebih mempercayai insting mereka tentang mitos yang berangkat dari angan belaka dibandingkan kesadaran realistis yang bisa membuktikan fakta sesungguhnya dari mitos tersebut, situasi ini terjadi karena mereka berada dalam ketiadaan petunjuk kebenaran yang mampu membebaskan mereka dari belenggu insting yang keliru atau hadirnya rasa malas dalam diri mereka untuk mencari dan menemukan petunjuk kebenaranyang dahulu peranah ada di tengah mereka, akibatnya mereka ditimpa keraguan yang berujung pada pembenaran terhadap mitos, hal ini sebagaimana disinggung dalam dalan Al-QurAoan Surat Al-Hajj Ayat 53 AuAllah akan menjadikan waswas dan syubhat itu sebagai ujian bagi orang-orang munafik dan orang-orang kafir, agar kesesatan dan kejahatan mereka semakin bertambahAy. Ayat ini memberikan pesan penting bahwa orang yang berada dalam kondisi kafir dan munafik rawan tertimpa keraguan yang menyebabkan mereka semakin larut dalam kesesatan dan bertambahnya kejahatan. Faktor kedua, keterbatasan pengetahuan yang disebabkan keterbatasan penginderaan baik langsung maupun tidak langsung. Komunitas masyarakat Arab jahiliah berada dalam kondisi yang masih tertinggal secara pengetahuan, ketertinggalan pengetahuan menyebabkan mereka belum mampu membangun peradaban karena peradaban hanya bisa tumbuh dari masyarakat yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat, walaupun di tengah masyarakat Arab jahiliah terdapat orang-orang cerdik pandai namun Bayu Ramadhani dan Nur Muhammad Ervan. AuKeterkaitan Budaya Mitos Yang Dipercaya Masyarakat Terhadap Pandangan Agama Islam. Ay Jurnal Dinamika Sosial Budaya 25, no 2 (Desember 2. : 14-19. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 25 pengetahuan mereka masih sangat terbatas. Masyarakat yang masih berada dalam fase keterbatasan pengetahuan mengalami kendala dalam menjelaskan berbagai fenomena kehidupan secara akurat, banyak hal yang tidak mampu dijelaskan karena terbatasnya pengetahuan, pada saat yang sama mereka memiliki rasa ingin tahu yang menuntut jawaban memuaskan3, di tahap ini mereka kemudian berpaling kepada mitos untuk menemukan jawaban dari rasa ingin tahu tersebut. Masyarakat Arab jahiliah bukan tipe kaum yang terbiasa memaksimalkan penginderaan melalui penelitian, budaya riset belum ada di tengah mereka bahkan dalam bentuk yang paling sederhana. Faktor ketiga, keterbatasan penalaran manusia pada masa itu, penalaran merupakan proses berpikir yang bertolak dari pengamatan empirik yang positif dengan menghasilkan sejumlah konsep penjabaran dalam bentuk proposisi . ernyataan yang dapat dinilai benar atau sala. sehingga melahirkan kesimpulan baru. Penting ditekankankan bahwa tidak semua proses berpikir bisa disebut sebagai penalaran, berpikir tanpa menggunakan kerangka logika menunjukkan tidak terjadinya penalaran, terdapat proses berpikir tertentu yang tidak masuk kategori penalaran, kegiatan berpikir yang bukan bernalar misalnya mengingat-ingat sesuatu dan melamun. Penalaran erat kaitannya dengan pengetahuan, penalaran akan timbul dari tradisi berpikir yang kuat, tradisi berpikir hanya bisa lahir dari masyarakat yang memiliki kemapanan pengetahuan. Dalam konteks Arab jahiliah keterbatasan pengetahuan menyebabkan ketidakmampuan dalam melakukan penalaran secara maksimal. METODE Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan model kajian pustaka, pada bagian ini dilakukan pengkajian terhadap berbagai literatur dari Al-QurAoan, jurnal ilmiah, buku, dan artikel yang membahas perspektif Al-QurAoan terhadap mitos dalam keyakinan masyarakat Arab jahiliah. Kajian tentang cara pandang Al-QurAoan terhadap mitos khususnya di era Arab pra Islam yang masih bernuansa jahiliah berupaya dianalisis secara mendalam, ayat Al-QurAoan, jurnal ilmiah, buku, dan artikel yang berkaitan dengan judul penelitian dijadikan sebagai landasan kajian. Penelitian ini bertujuan melahirkan perspektif utuh terhadap mitos berdasarkan cara pandang AlQurAoan serta bentuk penyikapan Islam terhadap mitos. HASIL DAN PEMBAHASAN Mitos dalam kehidupan masyarakat Arab jahiliah telah menjadi tradisi yang diterima secara luas, tingkat penerimaannya di tengah masyarakat sangat tinggi, di masa itu bila terdapat oknum masyarakat yang menolak keabsahan mitos maka akan dikucilkan di tengah masyarakat, tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk kefanatikan terhadap praktik mitos yang mereka jalankan, munculnya sikap fanatik terhadap mitos merupakan konsekuensi pewarisan mitos dari generasi ke generasi yang dilakukan secara ketat, sehingga terbentuk persepsi yang semakin memapankan fanatisme terhadap mitos. Mereka meyakini bahwa kepercayaan terhadap mitos mampu menghindarkan mereka dari kecelakaan hidup, asumsi ini tentu tidak bisa diuji kebenarannya karena mitos pada dasarnya tidak mengandung kebenaran. Ragam Praktik Mitos di Era Masyarakat Arab Jahiliah Terdapat beberapa mitos yang rutin dipraktikkan masyarakat Arab jahiliah,namun ada dua diantaranya yang paling menonjol yakni praktik mengubur bayi hidup-hidup dan penyembahan berhala. Pertama, mengubur bayi perempuan yang baru saja dilahirkan dari rahim ibunya, bayi tersebut dikubur dalam keadaan hidup. Jika dicermati dari perspektif logika masyarakat modern tindakan ini sungguh tidak bisa diterima nalar Hubertus Hia. AuProblem Dunia Ilmiah dan Krisis Spiritual. Ay Melintas 34, no 2 (Desember 2. : 168-192. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 26 manusia, sedangkan dari sisi masyarakat Arab jahiliah ada tiga alasan yang menyebabkan langgengnya praktik mengubur bayi perempuan secara hidup-hidup. Alasan yang paling umum adalah munculnya kekhawatiran dari pihak orang tua akan ditimpa kemiskinan karena anak perempuan dinilai tidak produktif. Anak perempuan yang lahir dalam sebuah keluarga dianggap mendatangkan beban ekonomi yang signifikan bagi keluarga, orang tua diharuskan menyediakan biaya yang lebih banyak untuk merawat anak perempuan hingga tumbuh dewasa, situasinya akan semakin sulit bila bayi perempuan lahir di tengah keluarga miskin, orang tua akan semakin merasa terbebani sehingga menjadikan praktik penguburan hidup-hidup sebagai jalan pintas untuk menghilangkan beban tersebut. Alasan selanjutnya yang melatarbelakangi penguburan bayi hidup-hidup adalah pihak keluarga merasa takut bila kelak anak perempuan tersebut telah tumbuh dewasa ia bisa terperosok ke dalam kemiskinan. Anggapan ini muncul dari cara pandang yang menilai perempuan sebagai makhluk lemah, perempuan dinilai tidak mampu mandiri secara ekonomi bahkan saat ia telah dewasa, bila perempuan menikah dengan laki-laki kaya di masa itu maka terdapat peluang bagi perempuan untuk terhindar dari kemiskinan, namun peluang tersebut terbilang kecil karena laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di era jahiliah memiliki kecenderungan untuk mencari pasangan dari perempuan kaya dan terpandang pula. Alasan lain yang menyebabkan penguburan bayi perempuan hidup-hidup adalah adanya kekhawatiran menanggung malu bila suatu waktu terjadi peperangan dan anak perempuan tersebut menjadi tawanan perang dan diperkosa oleh musuh, hal ini mengingat peperangan antara suku di masa jahiliah lumrah terjadi. Jika saja masyarakat pada era itu berpikir dengan memprioritaskan keselamatan, maka mereka tentu akan berupaya menemukan cara efektif agar perempuan tidak menjadi tawanan, tapi pola pikir tersebut tidak terbangun, perempuan yang dipandang tidak memiliki kemampuan berperang dan mempertahankan diri hanya akan menjadi tawanan musuh, seolah mengubur bayi perempuan secara hidup-hidup tidak memalukan dibandingkan perempuan menjadi tawanan perang. Secara umum praktik mengubur bayi perempuan secara hidup-hidup merupakan tindakan yang terbentuk dari rendahnya penghargaan terhadap harkat dan martabat Rendahnya integritas turut memperparah situasi ini, integritas yang minim rawan menyebabkan manusia melakukan pelanggaran dalam berbagai bentuk. Perempuan di era Arab jahiliah diposisikan sebagai makhluk kelas dua di bawah lakilaki. Kehidupan gurun yang keras dijadikan dalih bahwa semuanya membutuhkan kekuatan fisik untuk bisa bertahan hidup, dan kekuatan fisik tersebut hanya ada pada diri laki-laki, padahal sebenarnya banyak aspek dalam kehidupan manusia yang membutuhkan keterlibatan perempuan dalam mengatasinya, manusia tidak mungkin membangun peradaban dengan mengesampingkan peran perempuan. Tindakan Arab jahiliah mengubur bayi hidup-hidup juga disinggung dalam Al-QurAoan Surat Al-AnAoam Ayat 137 AuDan demikianlah berhala-berhala mereka . menjadikan terasa indah bagi banyak orang-orang musyrik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka sendiri. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama hal . yang mereka ada-adakanAy. Ayat ini secara jelas menguraikan bahwa praktik membunuh anak perempuan merupakan konsekuensi dari penyembahan berhala, menyembah berhal sama saja dengan tunduk dan patuh kepada setan karena Zahfa Lisnaeni Putri dan Naqiyah. AyKontekstualisasi QS Al-IsrA . :31 tentang Larangan Pembunuhan Anak Pendekatan Tafsir Kontekstual Abdullah Saeed. Ay Maghza 8, no 1 (Juni 2. : 14-28. Sutiono AZ. AuPendidikan Perempuan Sebelum Islam. Ay Tahdzib Akhlaq 6, no 2 (Juni 2. Zaenal Abidin Riam. AuPeran Pendidikan Islam dalam Mendorong Kebijakan Antikorupsi. Ay Gapai 1, no 1 (Juni 2. : 90-98. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 27 pada hakikatnya setan yang menjerumuskan manusia pada praktik pennyembahan berhala, karena berada dalam kesesatan akhirnya setan dengan sangat mudah memanipulasi kesadaran masyarakat jahiliah sehingga mereka seolah merasa membunuh anak perempuan yang baru lahir adalah hal biasa. Kedua, praktik penyembahan berhala. Dari sisi sejarah, terdapat kesepakatan di antara para sejarawan muslim bahwa orang pertama yang menginisiasi ritual penyembahan berhala adalah Amr Bin Luhay, pemimpin Bani KhuzaAoah. Awallnya Amr Bin Luhay merupakan orang terpandang dan berpengaruh di Makkah, ia merupakan pribadi yang gemar membagikan hartanya kepada orang lain, karena sifat dermawannya tersebut sehingga ia dihormati oleh masyarakat Makkah, selain itu ia juga dikenal rajin beribadah dan memiliki perangai yang terpuji, tidak sedikit orang-orang yang menganggapnya sebagai ulama, mereka menjadikan Amr Bin Luhay sebagai tempat bertanya tentang perkara ibadah. Muhammad Ramadhan Al-Buthi dalam kitabnya Fikih Sirah mengutip riwayat Ibnu Hisyam, dikisahkan suatu hari Amr Bin Luhay melakukan perjalanan dari Makkah menuju Syam demi mengurus keperluan tertentu, ketika ia tiba di daerah MaAoab dari tanah Al-Balqa, di tempat itu terdapat anak keturunan Amlaq, dalam versi lain disebut Amliq Bin Laudz Bin Sam Bin Nuh yang sedang mempraktikkan penyembahan berhala, melihat kejadian tersebut Amr Bin Luhay lalu bertanya perihal berhala yang disembah keturunan Amlaq, mereka menjawab berhala tersebut mampu mendatangkan hujan dan bisa memberi pertolongan, mendengar jawaban tersebut Amr Bin Luhay kemudian meminta salah satu berhala dengan maksud akan membawanya ke Makkah untuk disembah oleh orang Arab, mereka lalu memberi Amr Bin Luhay berhala yang bernama Hubal, saat pulang ke Makkah Amr Bin Luhay memerintahkan masyarakat agar mengagungkan dan menyembah berhala tersebut, sejak saat itu praktik penyembahan berhala menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Praktik penyembahan berhala masuk kategori mitos karena perbuatan ini tidak memiliki dasar kebenaran namun masyarakat Arab jahiliah meyakininya seolah perbuatan tersebut benar. Anggapan bahwa berhala dapat mendatangkan hujan, memberi pertolongan, melancarkan rezeki dan segala urusan akan dimudahkan merupakan asumsi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Praktik penyembahan berhala yang menyebar dengan cepat di Jazirah Arab tidak lepas dari peran Amr Bin Luhay yang menggunakan pengaruhnya guna menyebarkan kepercayaan baru yang pada hakikatnya mengandung kesesatan nyata. Paling tidak ada dua faktor yang menyebabkan lahirnya praktik penyembahan berhala di era Arab Pertama, jarak masa yang terlalu jauh dari Nabi Ibrahim sebagai Rasul penyeru Ibrahim dan Ismail keduanya dikenal sebagai Rasul yang membangun KaAobah dan menjaga kemurnian ajaran tauhid, masyarakat di masa itu adalah orang-orang yang bertauhid, suasana ini bertahan hingga beberapa generasi, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu kemurnian ajaran tauhid yang dibawakan Nabi Ibrahim dan Ismail mulai tercemari oleh munculnya berbagai penyelewengan dari pihak yang tidak memahami dengan baik ajaran tauhid, pada saat yang sama di antara mereka tidak muncul golongan yang berani meluruskan pemahaman keliru tersebut, seiring dengan pergantian masa, penyimpangan terhadap tauhid semakin fatal hingga akhirnya berujung pada penyembahan terhadap berhala. Faktor kedua, terjadinya pergeseran peta politik kekuasaan di Makkah. Setelah Nabi Ibrahim dan Ismail wafat pengelolaan KaAobah dipegang oleh Suku Jurhum yang masih memelihara kemurnian ajaran tauhid, mereka menjaga KaAobah berdasarkan ajaran yang disampiakan Nabi Ibrahim. Secara historis Suku Jurhum berasal dari Yaman kemudian bermigrasi ke Makkah karena munculnya sumber air zamzam. Suku Jurhum bertanggungjawab penuh terhadap keamanan KaAobah dan para peziarah yang datang berkunjung ke Makkah, masa ini merupakan masa saat ajaran tauhid masih diterapkan dengan benar. Situasi kemudian Muhammad Ramadhan Al-Buthi. Fikih Sirah. Beirut: Daar al Fikr. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 28 berubah saat Bani KhuzaAoah menyerang dan menguasai Makkah termasuk KaAobah didalamnya, di masa Bani KhuzaAoah penyimpangan terhadap ajaran tauhid terjadi secara massif, puncaknya saat Bani KhuzaAoah memperkenalkan penyembahan berhala di Makkah. Sikap Al-QurAoan Terhadap Mitos Bagian ini terbagi ke dalam dua penjelasan inti, pertama respon spesifik Al-QurAoan terhadap tindakan mengubur bayi perempuan secara hidup-hidup dan tanggapan terhadap praktik penyembahan berhala. Sementara respon kedua diarahkan pada sikap Al-QurAoan secara menyeluruh terhadap segala praktik mitos yang tumbuh subur di masa Arab jahiliah. Respon menyeluruh sengaja dipaparkan agar lahir pemahaman utuh terhadap cara pandang Al-QurAoan tentang mitos. Merespon dua contoh mitos yang mengakar dan menjadi identitas masyarakat Arab jahiliah, maka Islam sebagai ajaran tauhid yang diturunkan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad saw untuk disebarluaskan kepada seluruh umat manusia memiliki sikap yang tegas terhadap kedua mitos tersebut. Dalam ranah Islam, al-QurAoan memberi kesaksian atas dirinya sendiri sebagai satu-satunya kitab suci yang terjaga orisinalitas dan keotentikannya yang merupakan jaminan Allah Swt yang telah menurunkan al-QurAoan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril9, oleh sebab itu respon Al-QurAoan terhadap sebuah perkara mengandung kebenaran yang pasti. Terkait praktik penguburan bayi perempuan secara hidup-hidup. Al-QurAoan memberikan gambaran tentang situasi psikologis yang dirasakan masyarakat Arab jahiliah tatkala menerima kabar bahwa istrinya melahirkan seorang bayi perempuan, hal tersebut terekam jelas dalam Al-QurAoan Surat An-Nahl Ayat 58-59 AuDan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan . anak perempuan, hitamlah . erah padamla. mukanya, dan dia sangat marah. Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah . idup-hidu. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkanAy. Ayat ini secara detail menguraikan rasa tidak senang yang muncul dalam diri orang-orang Arab Jahiliah ketika mendengar berita kelahiran anak perempuan, ekspresi yang muncul tidak hanya terbatas pada rasa tidak senang tapi juga meningkat ke level kemarahan, marah dalam konteks ini bisa dimaknai dalam dua hal, yakni marah karena harapan untuk mendapatkan anak laki-laki sirna, justru yang datang adalah anak perempuan, atau marah karena meyakini perempuan hanya akan mendatangkan beban berat bagi keluarga pada aspek biaya sehari-hari dan hal lainnya yang berkaitan dengan kehidupan perempuan saat beranjak remaja hingga dewasa. Sebab berita kelahiran perempuan dinilai sebagai kabar yang sangat buruk sehingga mereka merasa malu untuk bergaul secara normal di tengah masyarakat, terdapat kekhawatiran mereka akan menjadi bahan ejekan dan gunjingan oleh orang lain disebabkan hadirnya bayi perempuan dalam keluarga tersebut, di titik ini hanya ada dua pilihan yakni memelihara bayi perempuan tersebut dengan menanggung rasa malu atau menguburnya secara hidup-hidup demi menghilangkan rasa malu tersebut, kebanyakan dari mereka memilih mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena merasa tidak kuat menanggung malu sepanjang hidup. Di bagian akhir ayat Allah secara tegas mengecam perbuatan mereka yang mengubur bayi perempuan hidup-hidup, tindakan itu dinilai sebagai perbuatan Heri Firmansyah. AuMuhammad SAW Pada Periode Mekah. Ay At-Tafkir 12, no 1 (Juni 2. Baeti Rohman. AuOtentisitas Kitab Suci Agama Samawi dalam Al-QurAoan (Studi Pemikiran alQasimi dalam Tafsir al-Qasimy al-Musamma Mahasin al-TaAowi. Ay Al-Amin 3, no 2 (Juli: 2. : 112125. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 29 yang sangat buruk karena dengan sadar menghilangkan nyawa manusia tidak berdosa tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Islam secara tegas menolak perbuatan mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena hal tersebut merupakan tindakan merendahkan martabat perempuan, kaum hawa seolah dianggap tidak layak menghuni Jazirah Arab sehingga harus dibunuh sebelum tumbuh dewasa. Dari sisi pengabdian kepada Tuhan. Islam memberikan perlakuan yang setara antara laki-laki dan perempuan, tidak ada indikasi mendeskreditkan salah satunya, hal tersebut sebagaimana diuraikan dalam Al-QurAoan Surat Al-Hujuran Ayat 13 AuHai manusia. Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha MengenalAy. Ayat ini secara gamblang menjelaskan bahwa tingkat kemulian seorang hamba di hadapan Allah tidak diukur dari jenis kelamin melainkan dari kadar ketaqwaan, siapa saja yang paling bertaqwa maka dia akan mendapat derajat kemuliaan di sisi Allah,10 perempuan yang bertaqwa jauh lebih mulia di sisi Allah dibandingkan laki-laki yang tidak bertaqwa, sebab ukurannya adalah ketaqwaan maka baik perempuan maupun laki-laki memiliki peluang yang sama untuk meraih kemuliaan di sisi Allah, ini merupakan bentuk keadilan Tuhan. Persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan juga tercermin dalam kesempatan untuk mendapatkan pahala dan surga seperti diuraikan dalam Al-QurAoan Surat An-Nahl Ayat 97 AuBarangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakanAy. Poin penting dari ayat ini adalah Laki-laki dan perempuan sama-sama berhak masuk surga, keduanya juga diperbolehkan berpartisipasi aktif dan berlomba-lomba melakukan kebajikan, mengabdi kepada masyarakat, negara, dan agama, suatu konsep kesetaraan yang tidak mungkin dijumpai di masa jahiliah. Dari segi kepemilikan harta Al-QurAoan menghapuskan konsep lama di masa Arab jahiliah yang membatasi kepemilikan harta terhadap perempuan, penjelasan terkait hal ini dapat dijumpai dalam Al-QurAoan Surat An-Nisa Ayat 32 AuBagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakanAy. Ayat ini mengisyaratkan, bahwa perempuan sama dengan laki laki dalam hak-hak untuk memiliki, berdagang, dan mengembangkan hartanya. Walaupun perempuan itu terikat oleh perkawinan, bahkan perempuan berhak mempertahankan kekayaan yang ada di tangan mereka melalui jalur pendidikan atau upaya lain yang diisyaratkan. Islam hadir sebagai pembebas bagi perempuan setelah sekian lama tertindas dan tertekan,11 perempuan dalam kehidupan masyarakat Arab jahiliah lebih diposisikan sebagai komoditas yang bebas dikenai perlakuan, perempuan tidak memiliki otonomi atas hidup mereka sendiri, perempuan sepenuhnya tergantung pada keinginan kaum laki-laki, perempuan sama sekali tidak mendapat peran dalam domian publik, mereka dinilai tidak memiliki kompetensi untuk terlibat dalam pengaturan sektor publik. Terkait praktik penyembahan berhala. Al-QurAoan menggunakan tiga kata berbeda yang memiliki arti berhala yakni asnam, ansab, dan authan. Asnam dimaknai sebagai patung yang terbuat dari kayu, batu, dan lain sebagainya, yang menjadi objek sesembahan sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Lafal asnam Radhiatul Hasanah M. AuPendidikan Ketaqwaan dalam Al-QurAoan. Ay Murabby 4, no 1 (April 2. : 60-73. Muhammad Yusrul Hana. AuKedudukan Perempuan dalam Islam. Ay Fihros 6, no 1 (Agustus 2. : 1-9. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 30 disebutkan lima kali dalam Al-QurAoan, yakni pada QS. Al-AnAoam . : 74. QS. AlAAoraf . QS. Al-AnbiyaA . : 57 dan QS. Al-SyuAoara` . : 71. Lafal authan merupakan bentuk jamak dari lafal wathan yakni pahatan batu yang kemudian disembah. Berhala yang dipahat menyerupai tubuh seperti manusia yang kemudian disembah. Lafal authan dalam Al-QurAoan disebutkan tiga kali, diantaranya yakni QS. Al-Hajj . :30. QS. AlAnkabut . : 17 dan 15. Sedangkan lafal ansab merupakan bentuk jamak dari lafal nasab yang artinya pahatan batu yang kemudian disembah. nasab berarti sesuatu yang dibangun . kemudian disembah. Lafal ini disebutkan tiga kali dalam AlQurAoan, diantaranya QS. Al-Maidah . : 3 dan QS. Al-MaAoarij . : 43. Al-QurAoan secara tegas mengutuk tindakan menyembah berhala, tauhid sebagai bagian inti dalam ajaran Islam mengharuskan pemurnian prinsip ketuhanan, tidak ada tuhan yang disembah selain Allah, tindakan penyembahan terhadap selain Allah dihukumi syirik yang masuk kategori dosa besar. Praktik penyembahan berhala tidak diragukan lagi merupakan praktik kesyirikan yang dipertontongkan secara vulgar, praktik ini berada di bawah kendali setan sebagaimana dijelaskan dalam Al-QurAoan An-Nisa Ayat 117-119 ''Yang mereka sembah, selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala. (Dengan menyembah berhala it. mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka, yang dilaknati Allah. Setan itu mengatakan, 'Saya benar-benar akan mengambil bagian yang sudah ditentukan . ntuk say. dari hamba-hamba Engkau. Saya benar-benar akan menyesatkan mereka, akan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka, dan menyuruh mereka . emotong telinga-telinga binatang terna. , lalu mereka benar-benar memotongnya. Saya akan suruh mereka . engubah ciptaan Alla. , lalu benar-benar mereka mengubahnya. ' Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung, selain Allah, sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata''. Ayat tersebut secara tegas mendeskripsikan bahwa menyembah berhala sama saja dengan menyembah setan karena pada dasarnya setan ikut andil menggerakkan manusia untuk menyembah berhala, dalam setiap zaman setan selalu berupaya menjerumuskan manusia agar berpaling dari Allah, dalam kasus masyarakat Arab jahiliah, setan membisikkan kepada mereka seolah berhala memiliki kekuatan besar untuk menolong mereka saat kesusahan dengan syarat mereka harus melakukan berbagai ritual termasuk pengorbanan sebagai pembuktian penyembahan berhala, tentu semua ini merupakan angan kosong belaka yang tidak mengandung kebenaran karena faktanya berhala tidak lebih dari benda yang tidak bisa melakukan apapun. Manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dari patung berhala, oleh sebab itu segala bentuk penyembahan berhala merupakan usaha pelecehan terhadap nilai kemanusiaan. Kecaman terhadap penyembahan berhala juga tertera dalam Al-QurAoan Surat AnNajjm Ayat 19-23 ''Maka, apakah patut kamu . ai orang-orang musyri. menganggap al Lata, al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian . ebagai anak perempuan Alla. ? Apakah . untuk kamu . laki-laki dan untuk Allah . perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk . Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka''. Jika dicermati dengan seksama dari ayat ini bisa dipahami masyarakat Arab jahiliah ternyata tidak hanya sekadar menyembah berhala, namun mereka melangkah lebih jauh dengan mengarang mitos tambahan yang mempersepsikan bahwa terdapat berhala tertentu yang merupakan anak perempuan Allah, ini merupakan tindakan yang sungguh melampaui batas karena berhala sebagai sesuatu yang syirik dikaitkan dengan Allah yang maha suci dan tidak beranak serta tidak diperanakkan. Dari sisi sosiologis Salman Abdul Muthalib. AuMakna Lafaz al-Asnam, al-Authan, al-Ansab dan al-Tamathil dalam Al-QurAoan. Ay Jurnal Tafse: Journal of Qur'anic Studies 6. No. 1 (Juni 2. : 99-104. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 31 masyarakat Arab jahiliah, keyakinan bahwa Allah memiliki anak perempuan juga merupakan sebuah penghinaan lanjutan, masyarakat Arab jahiliah dikenal anti terhadap anak perempuan, memiliki anak perempuan dianggap sangat memalukan sehingga bayi perempuan dikubur hidup-hidup guna menghilangkan rasa malu tersebut, akan tetapi anehnya sesuatu yang memalukan tersebut dalam kehidupan mereka justru disematkan kepada Allah dengan anggapan bahwa Allah memiliki anak perempuan. Secara umum respon Islam terhadap seluruh mitos yang tumbuh di era masyarakat Arab jahiliah dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis. 13 Pertama, menolak secara total, sikap ini diarahkan pada segala bentuk mitos yang bertentangan dengan prinsip syariat Islam, menjaga kemurnian risalah ilahi merupakan prioritas pertama dan utama dalam ajaran Islam, segala bagian dari ajaran Islam tidak boleh bercampur baur dengan pandangan yang tidak bersumber dari perintah Allah, hal ini menjadi penekanan penting demi menjaga kemurnian ajaran Islam, segala bentuk akomodasi terhadap mitos yang bertentangan dengan prinsip Islam sangat rawan menyebabkan terjadinya penyimpangan terhadap ajaran Islam, contoh mitos yang secara total ditolak oleh Islam adalah praktik penguburan bayi hidup-hidup dan penyembahan berhala. Kedua, miitos atau tradisi yang secara utuh diterima oleh Islam, alasan penerimaannya karena mitos atau tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam, contohnya adalah puasa asyura. Masyarakat Arab jahiliah melaksanakan puasa pada hari asyura, tradisi tersebut telah diwariskan secara turun temurun, namun pada masa sebelum datangnya Islam kebiasaan menjalankan puasa asyura lebih dilandasi oleh keyakinan yang bersifat mistis karena merupakan perintah nenek moyang, tapi setelah kedatangan Islam, kaum muslim melaksanakan puasa asyura karena merupakan anjuran agama yang bersifat sunnat. Ketiga, menerima secara partikular, yakni mitos dalam bentuk tradisi yang sebagiannya diterima sedangkan sebagiannya lagi ditolak. Kasus ini terjadi pada praktik nikah, di masa jahiliah orang Arab memiliki empat model pernikahan namun dari keempat model tersebut hanya satu yang diterima Islam yakni seorang laki-laki meminang kepada wali sang wanita, kemudian memberikannya mahar lalu menikahinya. Model pernikahan inilah yang dipraktikkan dalam dunia Islam hingga sekarang, di bagian ini Islam terlihat menampakkan toleransi pada tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat, toleransi dalam Islam tidak hanya tumbuh sebagai gagasan, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan nyata. 14 Sementara tiga model lainnya ditolak karena bertentangan dengan ajaran Islam yakni model pertama memberikan izin kepada istri untuk digauli oleh laki-laki lain dengan maksud mendapatkan keturunan yang baik lalu setelahnya suami bisa menggauli kembali istrinya, model kedua beberapa orang laki-laki menggauli satu perempuan lalu setelah anaknya lahir maka perempuan tersebut akan memilih salah satu dari laki-laki tersebut menjadi pendampingnya, model ketiga beberapa orang laki-laki menggauli seorang wanita penghibur lalu setelah anaknya lahir maka dicari ahli nasab yang akan memutuskan anak tersebut akan dinasabkan pada salah satu laki-laki yang telah menggaulinya. Keempat, mitos yang telah menjadi tradisi lalu Islam memodifikasi mitos tersebut pada beberapa bagian. Contoh kasus terkait hal ini bisa dilihat dalam praktik aqiqah, di masa Arab jahilaih dahulu apabila salah seorang diantara mereka melahirkan anak laki-laki maka ia menyembelih seekor kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing tersebut. Kemudian tatkala AllAh menurunkan agama Islam maka kaum muslim menyembelih seekor kambing dan mencukur rambut bayi tersebut serta melumurinya dengan minyak wangi. Abdul Sattar. AuRespon Nabi Terhadap Tradisi Jahiliah: Studi Reportase Hadis Nabi. Ay Theologia 28, no 1 (Juni 2. Rohman. Baeti. Fikri Maulana, dan Zaenal Abidin Riam. "Peran Masjid dalam Penyebaran Toleransi: The Role of Mosques in Spreading Tolerance. " Jurnal Bimas Islam 16, no 2 (Desember 2. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 32 KESIMPULAN Mitos merupakan praktik yang lazim terjadi di masa masyarakat Arab jahiliah, mitos tersebut bahkan telah menjadi tradisi yang dipraktikkan secara turun temurun dari generasi terdahulu. Dari ragam mitos yang ada terdapat dua praktik mitos yang paling menonjol yakni penguburan bayi secara hidup-hidup dan praktik penyembahan berhala. Islam sebagai agama tauhid yang meyakini Allah sebagai Tuhan yang Esa dengan AlQurAoan sebagai kitab suci menolak kedua praktik mitos tersebut, mengubur bayi hiduphidup bertentangan dengan perintah syariat Islam yang mengharuskan menjaga keutuhan nyawa manusia, penyembahan berhala dikecam karena tergolong praktik syirik yang menduakan Tuhan. Secara umum sikap Islam terhadap mitos berdasarkan perspektif Al-QurAoan dapat dibagai ke dalam empat jenis yaitu pertama, menolak secara Kedua, menerima secara utuh. Ketiga, menerima secara partikular. Keempat, melakukan modifikasi terhadap beberapa bagian pada mitos tersebut. DAFTAR PUSTAKA