62 HEME : Health and Medical Journal pISSN : 2685 Ae 2772 eISSN : 2685 Ae 404x Available Online at :https://jurnal. id/index. php/heme/issue/view/80 Peran Vitamin D dalam Regulasi Pubertas Dini dan Pubertas Prekoks Sentral pada Anak: Tinjauan Sistematis Diana Nurafifah1. Shavita Tri Andara Jovi1. Silvia Putri Fikma1. Kurnia Maidarmi Handayani2* Fakultas Kedokteran. Universitas Baiturrahmah. Padang. Indonesia Bagian Biokimia dan Gizi. Fakultas Kedokteran. Universitas Baiturrahmah. Padang. Indonesia Email: kurnia_maidarmi@fk. Abstrak Latar belakang: Pubertas prekoks, khususnya central precocious puberty (CPP), semakin sering dilaporkan dan berhubungan dengan konsekuensi jangka panjang. Vitamin D berperan dalam regulasi sumbu hipotalamusAe hipofisisAegonad (HPG), metabolisme tulang, dan fungsi reproduksi, namun bukti hubungan dengan pubertas dini masih bervariasi. Tujuan: Meninjau secara sistematis hubungan antara status vitamin D dan pubertas prekoks/CPP pada anak. Metode: Tinjauan ini mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan di PubMed. Scopus, dan EBSCOhost untuk artikel berbahasa Inggris tahun 2014Ae2024 dengan populasi anak usia 5Ae12 tahun, penilaian serum 25-hydroxyvitamin D . (OH)D], luaran pubertas prekoks/CPP, dan desain observasional. Sepuluh studi disertakan. Hasil: Mayoritas studi melaporkan kadar 25(OH)D lebih rendah dan prevalensi defisiensi vitamin D lebih tinggi pada anak perempuan dengan CPP dibanding kontrol. Kadar vitamin D rendah sering berhubungan dengan peningkatan risiko CPP, maturasi tulang lebih cepat, dan indeks massa tubuh lebih tinggi, meskipun beberapa studi tidak menemukan perbedaan bermakna. Obesitas, gaya hidup sedentari, paparan sinar matahari, dan faktor genetik tampak memengaruhi asosiasi ini. Kesimpulan: Status vitamin D merupakan salah satu faktor dalam regulasi waktu pubertas, tetapi bukan determinan tunggal. Optimalisasi kadar vitamin D dan intervensi gaya hidup dapat dipertimbangkan sebagai bagian pendekatan komprehensif, sementara bukti penggunaan vitamin D sebagai terapi tunggal pada CPP masih terbatas. Kata kunci: central precocious puberty. pubertas prekoks. pubertas dini. Abstract Background: Precocious puberty, particularly central precocious puberty (CPP), is increasingly reported and associated with adverse long-term outcomes. Vitamin D is involved in regulation of the hypothalamicAepituitaryAe gonadal axis and bone metabolism, but evidence linking vitamin D status to early pubertal onset is inconsistent. Objective: To review the association between vitamin D status and precocious puberty or CPP in children. Methods: This review followed PRISMA 2020. PubMed. Scopus, and EBSCOhost were searched for Englishlanguage articles published between 2014 and 2024. Eligible studies included children aged 5Ae12 years, serum 25-hydroxyvitamin D . (OH)D] measurement, pubertal outcomes, and observational designs. Ten studies were Results: Most studies reported lower 25(OH)D levels and a higher prevalence of vitamin D deficiency in girls with CPP than in controls. Low vitamin D levels were often associated with higher CPP risk, advanced bone maturation, and higher body mass index, although some studies found no significant differences. Obesity and limited sunlight exposure appeared to influence these associations. Conclusion: Vitamin D status is one of several factors that regulate pubertal timing, but is not a sole determinant. Optimizing vitamin D levels and lifestyle behaviors may be considered as part of a comprehensive strategy, while evidence for vitamin D as a stand-alone therapy for CPP remains limited. KeywordsAi central precocious puberty. precocious puberty. puberty timing. Email : heme@unbrah. Heme. Vol Vi No 1 January 2026 PENDAHULUAN Pubertas dini, yang ditandai dengan munculnya karakteristik seksual sekunder sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan 9 tahun pada anak laki-laki, dilaporkan semakin sering terjadi di berbagai negara. Central (CPP) merupakan bentuk pubertas dini yang disebabkan oleh aktivasi prematur sumbu hipotalamusAehipofisisAegonad (HPG). Kondisi ini tidak hanya berdampak pada percepatan pematangan tulang dan tinggi badan akhir yang lebih rendah, tetapi juga berhubungan dengan menarke yang lebih dini, risiko obesitas, sindrom metabolik, serta masalah psikososial seperti gangguan kecemasan dan penurunan kepercayaan diri. Sejak awal pandemi COVID-19, beberapa studi melaporkan peningkatan insidensi CPP dan pubertas dini terutama pada anak Peningkatan ini dikaitkan dengan perubahan gaya hidup yang terjadi selama masa pembatasan sosial, termasuk peningkatan waktu penggunaan gawai, penurunan aktivitas fisik, lonjakan indeks massa tubuh (IMT), perubahan pola tidur, serta berkurangnya paparan sinar matahari yang berpotensi menurunkan kadar vitamin 2 Studi lain juga menegaskan bahwa faktor gaya hidup seperti durasi penggunaan perangkat elektronik yang lebih lama, kurang olahraga, dan IMT yang lebih tinggi merupakan faktor risiko penting untuk pubertas dini, dan beberapa di antaranya berkaitan dengan rendahnya status vitamin Vitamin D memiliki peran biologis yang luas, tidak hanya dalam metabolisme kalsium dan kesehatan tulang, tetapi juga pada regulasi imun, fungsi reproduksi, dan homeostasis hormonal. 4Ae6 Reseptor vitamin D . itamin D receptor. VDR) diekspresikan secara luas, termasuk pada tulang, jaringan adiposa, pankreas, serta struktur endokrin dan saraf pusat seperti hipotalamus dan hipofisis, yang berperan dalam mengatur sekresi gonadotropin. 7 Hal ini mendukung memengaruhi waktu pubertas baik melalui mekanisme langsung pada sumbu HPG maupun secara tidak langsung melalui pengaruhnya terhadap metabolisme tulang, adipositas, dan resistensi insulin. Sejumlah studi observasional melaporkan bahwa anak perempuan dengan CPP atau pubertas dini memiliki kadar 25(OH)D yang lebih rendah dan prevalensi defisiensi vitamin D yang lebih tinggi dibandingkan anak dengan perkembangan pubertas Beberapa menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D merupakan faktor risiko independen untuk idiopathic central precocious puberty (ICPP) pada anak perempuan, dan bahwa rasio vitamin D/insulin dapat menjadi penanda metabolik yang berhubungan dengan risiko CPP dan ukuran uterus. 10 Meskipun demikian, temuan antar studi belum sepenuhnya konsisten, dan hubungan kausal maupun ambang kadar vitamin D yang relevan secara klinis terhadap onset CPP masih menjadi perdebatan. Selain faktor lingkungan, faktor genetik diketahui berkontribusi besar terhadap variasi waktu pubertas. diperkirakan sekitar 50Ae80% variasi usia pubertas ditentukan secara genetik. 12 Polimorfisme pada gen yang terlibat dalam regulasi sekresi gonadotropin dan perkembangan pubertas, seperti KISS1. LIN28B. VDR, dan ER, telah dikaitkan dengan pubertas dini, maupun variasi usia menarke. 13 Namun, interaksi antara defisiensi vitamin D dengan variasi genetik . isalnya polimorfisme VDR atau gen terkait sumbu HPG) terhadap risiko CPP masih belum sepenuhnya dipahami dan Dari perspektif terapi, agonis gonadotropinreleasing hormone (GnRH-. merupakan CPP, perhatian terhadap efek jangka panjang. Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 1 January 2026 biaya, dan kualitas hidup mendorong eksplorasi terapi adjuvan yang lebih aman dan terjangkau. Studi klinis terbaru menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D pada anak perempuan dengan CPP yang mendapatkan terapi kombinasi recombinant human growth hormone . hGH) dan GnRH-a dapat meningkatkan pertumbuhan linear dan parameter kesehatan tulang, sekaligus berpotensi memodulasi hormon seks. 14 Di Asia, berbagai formulasi herbal tradisional juga digunakan sebagai terapi komplementer untuk menunda progresi pubertas, dan metaanalisis terkini melaporkan bahwa Chinese herbal medicine dapat membantu menunda perkembangan karakteristik seksual primer dan sekunder bila digunakan sebagai adjuvan GnRH-a. Namun, keamanan dan efektivitas jangka panjang intervensi berbasis vitamin D maupun herbal pada CPP masih terbatas dan heterogen. Berdasarkan latar belakang tersebut, pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara status vitamin D dan CPP menjadi penting, baik untuk mengidentifikasi faktor risiko maupun untuk merancang strategi pencegahan dan intervensi yang lebih tepat. Sistematik review ini bertujuan untuk: . merangkum bukti ilmiah mengenai hubungan antara kadar vitamin D dan kejadian CPP pada anak perempuan, termasuk faktor-faktor perancu metabolik dan gaya hidup. mengeksplorasi peran faktor genetik yang relevan, khususnya gen yang berkaitan dengan VDR dan regulasi sumbu HPG. menelaah bukti terkini mengenai potensi terapi berbasis vitamin D dan herbal sebagai pendekatan preventif maupun adjuvan dalam tata laksana CPP. II. METODE DESAIN DAN PEDOMAN PELAPORAN Tinjauan sistematis ini disusun berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020 (Gambar . Pertanyaan Email : heme@unbrah. penelitian, kriteria kelayakan, strategi pencarian, serta prosedur seleksi dan ekstraksi data ditetapkan sebelum pencarian literatur dilakukan. SUMBER DATA DAN STRATEGI PENCARIAN Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed. Scopus, dan EBSCOhost untuk Inggris dipublikasikan antara Januari 2014 hingga Desember 2024. Kata kunci yang digunakan mengombinasikan istilah bebas dan istilah terkontrol yang berkaitan dengan vitamin D dan pubertas prekoks, antara lain: Auvitamin DAy. Au25-hydroxyvitamin DAy. Auprecocious pubertyAy. Aucentral precocious pubertyAy, dan Auearly pubertyAy, yang digabungkan dengan operator Boolean (AND. OR). KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI Kriteria kelayakan disusun menggunakan kerangka PICO-S. Studi diinklusikan bila A Populasi: anak, terutama perempuan, usia 5Ae12 tahun. A Paparan: status vitamin D serum yang dinilai sebagai kadar 25(OH)D. A Luaran: pubertas prekoks atau central precocious puberty (CPP). A Desain: studi observasional . otong lintang atau kasusAekontro. A Bahasa: artikel berbahasa Inggris dengan teks lengkap tersedia. A Periode: publikasi tahun 2014Ae2024. Studi dikecualikan bila: tidak relevan dengan PICO-S, tidak menilai hubungan vitamin D dan pubertas dini/CPP, bukan penelitian pada manusia, hanya berupa abstrak konferensi/editorial/tinjauan duplikasi, atau di luar periode dan bahasa yang ditetapkan. SELEKSI STUDI DAN EKSTRASI DATA Seluruh Heme. Vol Vi No 1 January 2026 Penapisan dilakukan berlapis, dimulai dari judul dan abstrak, diikuti penilaian teks lengkap berdasarkan kriteria inklusiAe Proses seleksi dirangkum dalam diagram alir PRISMA. Dari setiap studi yang terpilih diekstraksi: nama penulis dan tahun, negara, desain penelitian, jumlah dan karakteristik subjek, definisi dan kriteria diagnosis pubertas prekoks/CPP, metode dan cut-off 25(OH)D, serta temuan utama mengenai hubungan status vitamin D dan pubertas. Data disajikan dalam bentuk tabel karakteristik studi dan sintesis naratif. HASIL Secara observasional diinklusikan dalam tinjauan ini, mayoritas dengan desain kasusAekontrol dan sebagian lainnya potong lintang. Hampir semua penelitian berfokus pada anak perempuan dengan pubertas prekoks atau CPP, dengan beberapa studi tambahan pada populasi anak dan remaja umum (Tabel 1. Sebagian besar studi (Lee. Kaya. Zhao. Rafati. Li. melaporkan bahwa kadar 25(OH)D lebih rendah dan hipovitaminosis D lebih sering ditemukan pada anak dengan CPP atau pubertas dini dibandingkan Pada beberapa penelitian, kadar vitamin D yang lebih rendah dikaitkan dengan risiko CPP yang lebih tinggi, usia tulang yang lebih maju, serta IMT yang lebih tinggi, mengindikasikan adanya kaitan antara status vitamin D, maturasi tulang, dan 9,16Ae19 Studi Zhao mengidentifikasi titik ambang sekitar 31,8 ng/mL, di mana kadar di atas nilai ini berkaitan dengan risiko ICPP yang lebih melaporkan prevalensi hipovitaminosis D yang serupa pada anak CPP dan kontrol, meskipun kadar PTH lebih tinggi pada CPP. 20,21 Hal ini menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D memang sering dijumpai, tetapi tidak selalu membedakan CPP dari populasi prapubertas secara jelas. Penelitian oleh Fu D menyoroti peran faktor gaya hidup, terutama selama pandemi COVID-19, di mana peningkatan kasus PP berkaitan dengan durasi penggunaan gawai yang panjang, aktivitas luar ruangan yang rendah. IMT tinggi, dan defisiensi vitamin 22 Di sisi lain, studi genetik Li Y menunjukkan bahwa polimorfisme gen KISS1, LIN28B, VDR, berkontribusi terhadap variasi waktu dan kecepatan pubertas, mendukung peran interaksi antara faktor genetik dan jalur vitamin D/sumbu HPG. Xu dkk. melaporkan bahwa kekurangan vitamin D umum dijumpai pada semua tipe CPP, tetapi progresivitas . apid vs slo. lebih kuat dipengaruhi oleh usia saat onset. IMT. IGF-1, dan rasio LH/FSH. 24 Data NHANES Liu mengindikasikan bahwa kadar 25(OH)D yang memadai (Ou50 nmol/L) berkaitan dengan kemungkinan lebih rendah telah memasuki pubertas, meskipun efeknya relatif Secara ringkas, temuan studi-studi ini mendukung bahwa status vitamin D berperan sebagai salah satu faktor yang berhubungan dengan pubertas dini/CPP, tetapi efeknya tumpang tindih dengan obesitas, gaya hidup, musim, dan faktor genetik, sehingga tidak dapat dipandang sebagai determinan tunggal. Namun, tidak semua hasil konsisten. Duhil de Bynazy tidak menemukan hubungan bermakna antara status vitamin D dan karakteristik CPP, sementara Dura-Travy Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 1 January 2026 GAMBAR 1. DIAGRAM PRISMA IV. DISKUSI Tinjauan sistematis ini menunjukkan bahwa melaporkan kadar 25-hydroxyvitamin D . (OH)D] yang lebih rendah serta prevalensi defisiensi vitamin D yang lebih tinggi pada anak perempuan dengan pubertas prekoks atau central precocious puberty (CPP) perkembangan pubertas normal. Studi Lee . Zhao dkk. , dan Rafati dkk. perempuan dengan CPP/ICPP memiliki kadar 25(OH)D yang secara bermakna lebih rendah dibanding kontrol. 9,17,18 Beberapa penelitian juga melaporkan kaitan antara kadar vitamin D yang rendahkan dengan percepatan usia tulang dan indeks massa tubuh yang lebih tinggi, mengindikasikan bahwa hipovitaminosis D sering berkelindan dengan maturasi skeletal yang lebih cepat 10,18 Email : heme@unbrah. Heme. Vol Vi No 1 January 2026 TABEL 1. HASIL TINJAUAN SISTEMATIK Tahun Penulis Desain dan populasi Cross-sectional. 60 anak Lee H, dkk9 perempuan CPP, 30 kontrol KasusAekontrol. 23 anak CPP, 17 Kaya, dkk16 Duhil de Bynazy KasusAekontrol. 145 anak perempuan dengan CPP idiopatik KasusAekontrol. 280 anak Zhao, dkk17 perempuan ICPP, 188 kontrol Paparan dan luaran Temuan Utama 25(OH)D. CPP vs pubertas Rerata 25(OH)D lebih rendah pada CPP. anak CPP memiliki SDS TB dan BB lebih tinggi. 25(OH)D lebih rendah pada CPP . <0,. osteopenia lebih sering 25(OH)D. BMD, marker tulang pada CPP, tetapi tidak signifikan vs kontrol. 25(OH)D. karakteristik klinis Tidak ada hubungan bermakna antara status vitamin D dan CPP karakteristik CPP pada evaluasi awal. 25(OH)D lebih rendah dan defisiensi lebih sering pada ICPP. 25(OH)D. IMT, risiko ICPP infleksi 31,8 ng/mL terkait risiko ICPP lebih rendah. 25(OH)D lebih rendah pada CPP . =0,. mayoritas memiliki KasusAekontrol. 30 CPP, 30 25(OH)D, usia tulang, stadium Rafati, dkk18 hipovitaminosis D. usia tulang lebih maju dan berhubungan dengan Tanner kadar vitamin D lebih rendah. Dura-Travy. KasusAekontrol. 78 CPP, 137 Prevalensi hipovitaminosis D tinggi pada kedua kelompok, tanpa 25(OH)D. PTH kontrol prapubertas perbedaan bermakna. PTH lebih tinggi pada CPP. Peningkatan kasus PP selama pandemi. defisiensi vitamin D. IMT KasusAekontrol. 58 CPP, 58 PT, 25(OH)D. faktor gaya hidup & Fu D, dkk22 tinggi, waktu layar panjang, dan aktivitas luar ruangan rendah menjadi 124 kontrol risiko PP faktor risiko penting. Variasi gen KISS1. LIN28B. VDR, dan ER berkaitan dengan risiko KasusAekontrol. 41 early/fast Polimorfisme KISS1. LIN28B. Li Y, dkk23 pubertas cepat dan profil hormon. mendukung peran faktor genetik puberty, 152 kontro VDR. ER. hormon pubertas yang berinteraksi dengan jalur vitamin D/HPG. >50% CPP mengalami kekurangan vitamin D. tidak berbeda antara Cross-sectional. 340 CPP (SP25(OH)D, tipe CPP. IMT. IGFXu, dkk24 SP-CPP dan RP-CPP. Progresivitas lebih dipengaruhi usia. IMT. IGFCPP dan RP-CPP) 1, dan rasio LH/FS Setelah penyesuaian kovariat, 25(OH)D Ou50 nmol/L berkaitan dengan Cross-sectional (NHANES). Liu, dkk19 25(OH)D. status pubertas peluang lebih rendah telah memasuki pubertas pada laki-laki dan 318 anak 6Ae14 tahun CPP = central precocious puberty . ubertas prekoks sentra. ICPP = idiopathic central precocious puberty. PP = precocious puberty . ubertas prekok. PT = premature SP-CPP = slow-progressive central precocious puberty. RP-CPP = rapid-progressive central precocious puberty. 25(OH)D = 25-hydroxyvitamin D. BMD = bone mineral density . ensitas mineral tulan. IMT = indeks massa tubuh. TB = tinggi badan. BB = berat badan. SDS = standard deviation score. PTH = parathyroid hormone. LH = luteinizing hormone. FSH = follicle-stimulating hormone. IGF-1 = insulin-like growth factor 1. HPG = hypothalamicAepituitaryAegonadal . umbu hipotalamusAe hipofisisAegona. NHANES = National Health and Nutrition Examination Survey. Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 1 January 2026 Temuan ini sejalan dengan meta-analisis terbaru yang menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D berhubungan dengan peningkatan risiko pubertas prekoks. Cheng dkk. melaporkan bahwa anak dengan defisiensi vitamin D memiliki risiko pubertas dini yang lebih tinggi (OR sekitar 1,5Ae2,. , dengan kadar 25(OH)D yang secara bermakna lebih rendah pada kelompok pubertas prekoks dibanding kontrol. 25 Meta-analisis lain oleh Wu dkk. juga menyimpulkan bahwa kadar vitamin D yang rendah berkaitan dengan karakteristik pubertas dini, meskipun heterogenitas antar studi cukup tinggi. Secara keseluruhan, bukti kuantitatif ini mendukung arah asosiasi yang ditemukan dalam tinjauan kami, meskipun kekuatan Dari sisi teori, vitamin D dipahami berperan hipotalamusAe hipofisisAegonad (HPG) dan metabolisme Reseptor vitamin D (VDR) diekspresikan pada hipotalamus, hipofisis, ovarium, jaringan adiposa, dan tulang, sehingga secara biologis masuk akal bila status vitamin D dapat mempengaruhi sekresi GnRH, gonadotropin, dan hormon seks, serta memodulasi maturasi skeletal. Defisiensi vitamin D juga berkaitan dengan obesitas, resistensi insulin, dan inflamasi derajat rendah, yang dapat mempercepat pubertas melalui peningkatan leptin. IGF-1, dan sinyal inflamasi. Tinjauan naratif oleh Calcaterra dkk. menegaskan bahwa vitamin D merupakan salah satu regulator penting waktu pubertas dan usia menarke, meskipun bukan satu-satunya faktor. Selain itu, hasil studi dalam tinjauan ini menyoroti peran faktor gaya hidup dan Peningkatan kasus pubertas dini selama pandemi COVID-19 dilaporkan berkaitan dengan durasi penggunaan gawai yang lebih panjang, aktivitas luar ruangan yang berkurang. IMT lebih tinggi, serta defisiensi vitamin D. 2,10 Di sisi lain, variasi gen pada KISS1. LIN28B. VDR, dan ER Email : heme@unbrah. dilaporkan berhubungan dengan variasi usia dan kecepatan pubertas, mendukung adanya interaksi genAelingkungan dalam hubungan antara vitamin D dan CPP. 7,12,13 Dengan demikian, vitamin D kemungkinan berperan sebagai bagian dari jejaring faktor neuroendokrin, metabolik, lingkungan, dan genetik yang bersama-sama mengatur waktu Meski demikian, interpretasi temuan ini harus dilakukan dengan hati-hati karena sejumlah keterbatasan. Mayoritas studi yang diinklusikan menggunakan desain potong lintang atau kasusAekontrol, sehingga tidak dapat membuktikan hubungan kausal dan confounding . isalnya pola makan, paparan sinar matahari, status sosioekonom. yang tidak selalu terkontrol. Definisi defisiensi vitamin D, metode dan titik potong 25(OH)D, serta kriteria diagnosis CPP heterogenitas dan menyulitkan perbandingan langsung maupun meta-analisis yang lebih Selain itu, sebagian besar data berasal dari anak perempuan di wilayah tertentu dan hanya mencakup artikel berbahasa Inggris, sehingga generalisasi ke populasi yang lebih luasAitermasuk anak laki-laki dan berbagai etnisAiserta potensi publication bias tetap perlu dipertimbangkan. KESIMPULAN Tinjauan sistematis ini menunjukkan bahwa anak perempuan dengan pubertas prekoks, terutama central precocious puberty (CPP), umumnya memiliki kadar 25(OH)D lebih rendah dan mengalami hipovitaminosis D yang lebih sering dibandingkan anak dengan pubertas normal, dan vitamin D rendah sering berkaitan dengan peningkatan risiko CPP, maturasi tulang yang lebih cepat, dan IMT yang lebih tinggi. Temuan ini sejalan dengan teori bahwa vitamin D, melalui reseptor VDR dan regulasi sumbu hipotalamusAehipofisisAegonad, memengaruhi waktu pubertas, namun bukan Heme. Vol Vi No 1 January 2026 satu-satunya faktor karena obesitas, gaya hidup, paparan sinar matahari, serta faktor genetik juga berperan. Oleh karena itu, optimalisasi status vitamin D dan perbaikan gaya hidup layak dipertimbangkan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif terhadap pubertas dini, sementara bukti yang ada belum cukup untuk menjadikan suplementasi vitamin D sebagai terapi tunggal dan masih diperlukan studi prospektif serta uji klinis terkontrol untuk memperjelas hubungan kausal dan implikasi DAFTAR PUSTAKA