ANALISIS PENGARUH PROFITABILITY. NET WORKING CAPITAL, LIQUIDITY. DAN FIRM SIZE TERHADAP CASH HOLDING PADA PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA Velen He email: velennlen@gmail. Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widya Dharma Pontianak ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh Profitability. Net Working Capital. Liquidity dan Firm Size terhadap Cash Holding pada perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia. Populasi pada sektor ini berjumlah empat puluh tujuh perusahaan. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan kriteria khusus. Kriteria dalam pengambilan sampel tersebut yaitu perusahaan yang IPO sebelum tahun 2016 dan menyajikan laporan keuangan secara lengkap dari tahun 2016 sampai tahun 2020 sehingga diperoleh sampel sebanyak empat puluh perusahaan sektor pertambangan. Dalam penelitian ini. Penulis menggunakan bentuk penelitian asosiatif. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan uji hipotesis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Profitability berpengaruh positif terhadap Cash Holding. Net Working Capital berpengaruh positif terhadap Cash Holding. Liquidity tidak berpengaruh terhadap Cash Holding, dan Firm Size tidak berpengaruh terhadap Cash Holding pada perusahaan sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia. Kata Kunci: Profitability. Net Working Capital. Liquidity. Firm Size. Cash Holding PENDAHULUAN Setiap perusahaan membutuhkan kas dalam rangka menunjang kegiatan operasional perusahaan. Perusahaan harus dapat menentukan jumlah kas yang optimal dan efektif agar semua kebutuhan perusahaan dapat terpenuhi dengan baik. Penentuan jumlah kas ini dapat disebut sebagai Cash Holding. Cash Holding merupakan jumlah kas atau setara kas yang disediakan oleh perusahaan untuk membiayai kegiatan atau aktivitas Profitability merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada suatu periode. Return On Asset merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur berapa laba atau keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam memanfaatkan aset yang dimilikinya. Perusahaan dengan laba yang tinggi cenderung membutuhkan kas yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki laba yang rendah. Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 Net Working Capital atau modal kerja bersih merupakan selisih antara aset lancar yang dimiliki perusahaan dengan kewajiban lancar perusahaan. Jika perusahaan memiliki aset lancar yang lebih besar dibandingkan dengan kewajiban lancarnya, maka akan menghasilkan modal kerja yang positif. Perusahaan yang memiliki modal kerja yang besar dapat menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki kas dalam jumlah yang Liquidity merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Current Ratio (CR) adalah salah satu rasio likuiditas yang membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar yang dimiliki perusaahaan. Perusahaan dengan tingkat likuiditas yang tinggi cenderung memiliki tingkat kas yang tinggi. Firm Size adalah skala yang mengelompokkan perusahaan kedalam beberapa kelompok, yaitu perusahaan besar, sedang dan kecil. Pengelompokkan ukuran suatu perusahaan dapat didasarkan pada total aset, modal, dan lain-lain. Semakin besar ukuran perusahaan dapat menunjukkan bahwa aset yang dimiliki perusahaan tersebut juga semakin besar. Sektor pertambangan merupakan bagian dari industri yang mengelola hasil-hasil tambang yang berasal dari alam. Kebutuhan masyarakat akan barang tambang semakin meningkat sehingga membuat pangsa pasar barang tambang juga mengalami Adapun subsektor pertambangan yaitu subsektor pertambangan batu bara, pertambangan minyak mentah dan gas bumi, pertambangan logam dan mineral, dan pertambangan batu-batuan. KAJIAN PUSTAKA Cash Holding Kas merupakan bagian dari aset lancar yang memiliki peran penting dalam kehidupan setiap perusahaan. Kas dapat terdiri dari uang tunai atau surat berharga yang dimiliki oleh perusahaan yang digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional dan investasi perusahaan. Oleh karena itu, ketersediaan kas menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh setiap perusahaan. Aktivitas atau kegiatan perusahaan tidak akan berjalan dengan lancar apabila perusahaan tidak mempunyai kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Liadi dan Suryanawa . berpendapat bahwa kemampuan Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 atau kinerja perusahaan dapat dilihat dari cara perusahaan mengelola jumlah kas yang Marfuah dan Zulhilmi . menyatakan bahwa Auketika perusahaan memperoleh arus kas masuk, maka manajer harus membuat sebuah keputusan apakah akan membagikan kepada pemegang saham berupa dividen, melakukan pembelian kembali saham, melakukan investasi atau menyimpannya untuk kepentingan perusahaan di masa Ay Ketersediaan kas pada perusahaan menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh manajer perusahaan. Perusahaan perlu menentukan jumlah kas yang tepat yang dimiliki atau yang disediakan oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan jumlah kas yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat memberikan kerugian bagi perusahaan. Penentuan jumlah kas yang dimiliki oleh perusahaan dapat disebut sebagai cash Menurut Gill dan Shah . Aucash holding merupakan kas yang tersedia untuk investasi dalam bentuk aset fisik dan untuk didistribusikan kepada investor. Ay Setiap perusahaan memiliki kebijakan Cash Holding yang berbeda-beda. Hal ini karena adanya perbedaan keadaan atau masalah yang sedang dihadapi setiap perusahaan. Manajer harus menentukan jumlah kas yang ideal dan optimal agar semua kebutuhan perusahaan dapat terpenuhi dan tidak menganggu keberlangsungan hidup perusahaan. Menurut Hanaputra dan Nugroho . Auketika jumlah kas yang dipegang perusahaan jumlahnya berlebihan, hal ini dapat menimbulkan kerugian karena adanya kas menganggur . Ay Menahan kas terlalu banyak dapat menyebabkan kurang maksimalnya pemanfaatan kas dalam kegiatan produksi perusahaan sehingga hasil atau keuntungan yang diperoleh perusahaan juga tidak maksimal. Di sisi lain, menahan kas dalam jumlah yang terlalu sedikit akan membuat perusahaan mengalami masalah Profitability Profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada periode tertentu. Semakin tinggi rasio profitabilitas dapat menunjukkan bahwa laba atau keuntungan yang dihasilkan perusahaan juga semakin tinggi. Pengukuran rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan membandingkan laba bersih yang dihasilkan perusahaan dengan penjualan, aktiva, investasi, dan modal yang dimiliki oleh perusahaan. Menurut Sujarweni . 0: . Aurasio ini digunakan untuk mengukur tingkat imbalan atau perolehan . Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 dibandingkan dengan penjualan atau aktiva, mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, aktiva maupun laba dan modal sendiri. Ay Hal ini berarti bahwa profitabilitas merupakan hasil yang diperoleh perusahaan dengan menggunakan aset milik perusahaan dalam menjalankan akivitas Return On Asset (ROA) adalah salah satu jenis rasio profitabilitas yang sering Return On Asset merupakan tingkat profitabilitas yang dikaitkan dengan penggunaan aset perusahaan (Prihadi, 2019: . Return On Asset adalah rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau keuntungan dengan memanfaatkan aset yang dimiliki perusahaan. Perusahaan harus dapat memanfaatkan dan mengelola aset yang dimilikinya secara efektif dan efisien agar mampu mendukung kegiatan penjualan sehingga profitabilitas yang dihasilkan dapat mengalami peningkatan. Semakin tinggi laba yang dihasilkan oleh perusahaan, maka semakin besar juga aset perusahaan yang dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi perusahaan. Semakin besar kemampuan suatu perusahaan dalam memperoleh keuntungan, maka semakin besar juga jumlah kas yang dimiliki perusahaan (Kusumawati dan Mardiati, 2. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa semakin tinggi rasio profitabilitas perusahaan, maka jumlah kas yang dibutuhkan oleh perusahaan juga semakin besar. Peningkatan rasio profitabilitas juga menunjukkan adanya peningkatan produktivitas perusahaan dalam memperoleh laba sehingga kas yang diperoleh perusahaan juga mengalami peningkatan. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Saputri dan Kuswardono . yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap Cash Holding. Net Working Capital Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan. Menurut Musthafa . 7, . Aumodal kerja yang disebut working capital merupakan investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek . ktiva Ay Modal kerja perusahaan dapat terdiri dari modal kerja kotor dan modal kerja Net Working Capital atau modal kerja bersih merupakan selisih antara aset lancar dengan kewajiban lancar yang dimiliki oleh perusahaan. Menurut Sari dan Hastuti . Aumodal kerja bersih merupakan bagian dari aktiva lancar yang dapat digunakan untuk membiayai biaya operasional perusahaan tanpa mengganggu likuiditas perusahaan. AyJika Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 aset lancar yang dimiliki oleh perusahaan lebih besar dari kewajiban lancarnya, maka perusahaan akan menghasilkan modal kerja positif. Sebaliknya jika perusahaan memiliki kewajiban lancar yang lebih besar dibandingkan dengan aset lancar, maka perusahaan akan menghasilkan modal kerja negatif. Nilai Net Working Capital yang tinggi menunjukkan perusahaan memiliki banyak aset lancar sehingga dapat terhindar dari masalah likuiditas. Peningkatan nilai Net Working Capital juga dapat menunjukkan terjadinya peningkatan pada saldo kas. Hal ini dikarenakan perusahaan yang likuid cenderung memiliki saldo kas yang tinggi juga. Selain itu, kas juga merupakan bagian dari aset lancar yang kemudian dikurangi dengan kewajiban lancar sehingga menghasilkan Net Working Capital. Pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dan Setiawan . yang menyatakan bahwa adanya hubungan yang positif dan signifikan dari Net Working Capital terhadap Cash Holding. Liquidity Rasio likuiditas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya berupa hutang-hutang jangka pendek. Menurut Kasmir . 1: . Aurasio likuiditas berfungsi untuk menunjukkan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang sudah jatuh tempo baik kewajiban luar perusahaan . ikuiditas badan usah. maupun di dalam perusahaan . ikuiditas perusahaa. Ay Salah satu rasio likuiditas yang sering digunakan adalah Current Ratio. Current Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dimilikinya. Harjito dan Martono . 4: . menyatakan bahwa current ratio yang tinggi memberikan indikasi jaminan yang baik bagi kreditor jangka pendek dalam arti setiap saat perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban-kewajiban finansial jangka pendeknya. Nilai Current Ratio yang tinggi menunjukkan perusahaan memiliki banyak aset lancar yang dapat digunakan untuk melunasi kewajiban lancarnya. Semakin tinggi rasio likuiditas, maka jumlah kas yang dimiliki oleh perusahaan juga akan semakin besar. Hal ini karena kas merupakan aset paling likuid yang dimiliki perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Alwi Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 dan Santioso . yang menunjukkan adanya hubungan positif antara likuiditas dan Cash Holding. Firm Size Firm Size atau ukuran perusahaan merupakan skala atau ukuran yang digunakan untuk menilai besar kecilnya suatu perusahaan. Ukuran perusahaan dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu perusahaan kecil, perusahaan sedang dan perusahaan besar. Besar kecilnya ukuran suatu perusahaan dapat diukur dari aset, modal, penjualan dan lain-lain. Dalam penelitian ini, ukuran perusahaan diukur dari total aset yang dimiliki perusahaan Perusahaan besar pada umumnya memiliki kebutuhan yang lebih besar juga. Hal ini membuat perusahaan besar menyimpan kas dalam jumlah yang besar. Setiap perusahaan harus mampu mengelola aset yang dimilikinya dengan baik sehingga mampu menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan besar memiliki teknologi dan sistem yang lebih baik sehingga memudahkan manajemen dalam menggunakan aktiva perusahaan yang akan mendorong peningkatan kinerja perusahaan (Wati, 2019: . Semakin besar ukuran suatu perusahaan dapat menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki aset yang besar. Perusahaan dengan aset yang besar memiliki kemampuan untuk meningkatkan kas yang dimilikinya. Hal ini karena aset yang besar membuat perusahaan lebih mudah untuk meningkatkan produktivitasnya sehingga keuntungan yang diperoleh juga meningkat. Selain itu, ukuran suatu perusahaan juga dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam mendapatkan pendanaan dari pihak investor maupun kreditor. Menurut Hery . 7: . Auinvestor cenderung memberikan perhatian khusus terhadap perusahaan besar karena memiliki kondisi yang lebih stabil dan lebih mudah dalam hal memperoleh sumber pendanaan yang bersifat internal maupun Ay Kemudahan dalam memperoleh sumber pendanaan tentunya akan berpengaruh juga terhadap tingkat Cash Holding. Simanjuntak dan Wahyudi . berpendapat bahwa semakin besar ukuran perusahaan, maka kas yang dimilikinya juga akan semakin besar karena memiliki sumber pendanaan yang besar dan tingkat penjualan yang besar. Perusahaan besar juga mempunyai kebutuhan yang lebih banyak sehingga membuat perusahaan besar menyimpan kas yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan Semakin besar ukuran perusahaan, maka semakin besar juga tingkat kas yang Liestyasih dan Wiagustini . berpendapat bahwa perusahaan besar pada Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 umumnya telah berada pada tahap maturity sehingga memiliki kemampuan untuk mempertahankan cash holding yang tinggi. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Elnathan dan Susanto . yang menyatakan bahwa Firm Size berpengaruh positif terhadap Cash Holding. Berdasarkan uraian tinjauan pustaka tersebut, maka Penulis merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: H1 : Profitability berpengaruh positif terhadap Cash Holding. H2 : Net Working Capital berpengaruh positif terhadap Cash Holding. H3 : Liquidity berpengaruh positif terhadap Cash Holding. H4 : Firm Size berpengaruh positif terhadap Cash Holding. METODE PENELITIAN Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara Profitability. Net Working Capital. Liquidity, dan Firm Size dengan Cash Holding. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumenter. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data laporan keuangan perusahaan yang dipublikasi setiap tahun selama periode 2016 sampai 2020. Data laporan keuangan perusahaan tersebut diperoleh dari website resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan total populasi berjumlah empat puluh tujuh perusahaan. Dalam penelitian ini, sampel penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria penentuan sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang listing sebelum tahun 2016 dan melaporkan laporan keuangan secara lengkap selama tahun penelitian yaitu dari tahun 2016 sampai tahun 2020 sehingga sampel yang diambil berjumlah empat puluh perusahaan. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan variabel Profitability. Net Working Capital. Liquidity, dan Firm Size merupakan variabel independen dan Cash Holding merupakan variabel dependen. Sutrisno . menyatakan bahwa Cash Holding dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Cash Holding = Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 Kas dan Setara Kas Total Aset Pada penelitian ini. Profitability diproksikan dengan menggunakan Return On Asset. Kasmir . 1: . menyatakan bahwa Return On Asset dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Return On Asset = Earning AfterInterest and Tax Total assets Pada penelitian ini. Net Working Capital dapat diformulasikan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Net Working Capital = Aktiva Lancar - Hutang Lancar Total Asset Pada penelitian ini. Liquidity diproksikan dengan menggunakan Current Ratio. Kasmir . menyatakan bahwa Current Ratio dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Current Ratio = Aktiva Lancar (Current Asset. Kewajiban Lancar (Current Liabilitie. Firmansyah dan Estutik . 1: . menyatakan bahwa ukuran perusahaan dapat diformulasikan dengan rumus sebagai berikut: Firm Size = Ln (Total Ase. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis statistik dengan menggunakan persamaan regresi berganda. Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah software Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 26. Prosedur ini dimulai dengan analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, regresi berganda, koefisien korelasi dan determinasi, uji F, dan uji t. PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Hasil analisis statistik deskriptif dari empat puluh perusahaan sektor pertambangan selama 5 tahun, yaitu periode 2016 sampai dengan 2020 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 Tabel 1 Statistik Deskriptif Descriptive Statistics Minimum Maximum Mean Std. Deviation ROA -3,9332 ,4556 -,000856 ,3351598 NWC -1,0555 ,6445 ,069561 ,2396313 ,0146 146,1302 3,089759 12,8934134 24,0413 32,2584 29,426827 1,5811306 ,0002 ,5797 ,100704 ,1055354 Valid N . Sumber: output SPSS 26, 2021 Return On Asset memiliki nilai minimum sebesai -3,9332 dan nilai maksimum sebesar 0,4556. Nilai rata-rata yang dihasilkan Return On Asset sebesar -0,000856 dan nilai standar deviasi sebesar 0,3351598. Net Working Capital memiliki nilai minimum sebesar -1,0555 dan nilai maksimum sebesar 0,6445. Nilai rata-rata yang dihasilkan Net Working Capital sebesar 0,069561 dan nilai standar deviasi sebesar 0,2396313. Current Ratio memiliki nilai minimum sebesar 0,0146 dan nilai maksimum sebesar 146,1302. Nilai rata-rata yang dihasilkan Current Ratio adalah sebesar 3,089759 dan nilai standar deviasi sebesar 12,8934134. Firm Size memiliki nilai minimum sebesar 24,0413 dan nilai maksimum sebesar 32,2584. Nilai rata-rata yang dihasilkan Firm Size sebesar 29,426827 dan nilai standar deviasi sebesar 1,5811306. Cash Holding memiliki nilai minimum sebesar 0,0002 dan nilai maksimum sebesar 0,5797. Nilai rata-rata yang dihasilkan Cash Holding sebesar 0,100704 dan nilai standar deviasi sebesar 0,1055354. Pengujian Asumsi Klasik Uji asumsi klasik pada penelitian ini terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteriskedastisitas, dan uji autokorelasi yang dilakukan dengan menggunakan bantuan dari program IBM SPSS versi 26. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai residual berdistribusi normal, tidak adanya multikolinearitas antara variabel independen tidak terdapat permasalahan heteroskedastisitas, dan autokoerelasi. Hasil penelitian tersebut menunjukan tidak terdapat permasalahan uji asumsi klasik. Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 Analisis Regresi Linear Berganda Berikut disajikan hasil analisis koefisien korelasi dan determinasi, uji F, dan Uji t pada perusahaan sektor pertambangan di BEI yang dapat dilihat pada Tabel 2: Tabel 2 Hasil Pengujian Keterangan Konstanta 0,001 0,008 0,072 4,218 0,246 7,221 0,000 0,416 0,009 1,231 Variabel Dependen: CH *Signifikansi level 0,000 Sig 0,994 0,000 0,000 18,937* 0,678 0,220 Adjusted R Square 0,530 0,266 Sumber: Data Olahan, 2021 Persamaan regresi linear berganda berdasarkan hasil yang disajikan dalam Tabel 2 CH = 0,001 0,072ROA 0,246NWC 0,000CR 0,009FS A Koefisien Korelasi (R) dan Determinasi (R. Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa nilai korelasi berganda (R) sebesar 0,530. Hal ini berarti terdapat hubungan yang cukup kuat antara Return On Asset. Net Working Capital. Current Ratio. Firm Size dengan Cash Holding karena berada di antara interval korelasi 0,400 sampai dengan 0,599. Berdasarkan Tabel 2 juga dapat diketahui nilai dari koefisien determinasi yaitu Adjusted R Square sebesar 0,266 atau 26,6 persen. Hal ini berarti persentase sumbangan pengaruh variabel independen dalam penelitian ini yaitu Return On Asset. Net Working Capital. Current Ratio, dan Firm Size terhadap variabel dependennya yaitu Cash Holding adalah sebesar 26,6 persen. Di sisi lain, sisanya sebesar 73,4 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. Uji F Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 . ,000 < 0,. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa model regresi dalam penelitian ini yaitu Return On Asset. Net Working Capital. Current Ratio dan Firm Size terhadap Cash Holding merupakan model yang layak untuk diujikan. Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 Uji t Berdarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa variabel Return On Asset memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tingkat signifikansi 0,05 . ,000 < 0,. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Return On Asset berpengaruh positif terhadap Cash Holding. Oleh karena itu. H1 yang menyatakan bahwa Profitability berpengaruh positif terhadap Cash Holding diterima. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai ROA perusahaan, maka Cash Holding perusahaan juga akan semakin besar. Peningkatan nilai ROA menunjukkan adanya peningkatan produktivitas perusahaan sehingga laba yang diperoleh perusahaan mengalami peningkatan. Semakin tinggi laba yang dihasilkan oleh perusahaan, maka jumlah kas yang dimiliki perusahaan juga akan mengalami peningkatan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saputri dan Kuswandoro . , serta Hanaputra dan Nugroho . yang menyatakan bahwa profitability berpengaruh positif terhadap cash holding. Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa variabel Net Working Capital memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tingkat signifikansi 0,05 . ,000 < 0,. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Net Working Capital berpengaruh positif terhadap Cash Holding. Oleh karena itu. H2 yang menyatakan bahwa Net Working Capital berpengaruh positif terhadap Cash Holding diterima. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Net Working Capital perusahaan, maka Cash Holding perusahaan juga akan semakin besar. Net Working Capital yang tinggi mengidentifikasikan bahwa perusahaan memiliki aset lancar yang lebih besar dibandingkan dengan kewajiban lancar. Peningkatan Net Working Capital juga mengarah pada saldo kas yang tinggi. Hal ini karena perusahaan yang memiliki modal kerja bersih yang besar cenderung memiliki tingkat kas yang tinggi. Net Working Capital diperoleh dari aset lancar dikurangi dengan kewajiban lancar kemudian dibagi dengan total aset. Kas merupakan bagian dari aset lancar yang digunakan juga dalam mengukur Cash Holding. Oleh karena itu, apabila Net Working Capital meningkat, maka Cash Holding juga akan meningkat dan sebaliknya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahman . dan Wulandari dan Setiawan . yang menyatakan bahwa Net Working Capital berpengaruh positif terhadap Cash Holding. Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa variabel Current Ratio memiliki nilai signifikansi sebesar 0,678. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan dengan tingkat Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 signifikansi 0,05 . ,678 > 0,. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Current Ratio tidak berpengaruh terhadap Cash Holding. Oleh karena itu. H3 yang menyatakan bahwa Liquidity berpengaruh positif terhadap Cash Holding ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dan rendahnya nilai Current Ratio perusahaan tidak berpengaruh terhadap peningkatan maupun penurunan yang terjadi pada nilai Cash Holding perusahaan. Semakin tinggi nilai Current Ratio perusahaan tidak menjamin bahwa perusahaan tersebut memiliki tingkat kas yang tinggi juga. Current Ratio merupakan perbandingan antara aset lancar dengan kewajiban lancar perusahaan. Semakin besar nilai Current Ratio perusahaan, maka semakin besar juga aset lancar yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat digunakan sebagai pengganti Kas sehingga perusahaan cenderung memiliki Kas yang lebih sedikit karena sudah digantikan aset likuid lainnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Current Ratio yang tinggi dapat menurunkan Cash Holding juga. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alwi dan Santioso . yang menyatakan bahwa Liquidity berpengaruh positif terhadap Cash Holding. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ramhan . yang menyatakan bahwa Liquidity tidak berpengaruh signifikan terhadap Cash Holding dikarenakan perusahaan dengan hutang yang tinggi tidak perlu memegang kas dalam jumlah yang besar karena hutang dapat menjadi substitusi kas bagi perusahaan. Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa variabel Firm Size memiliki nilai signifikansi sebesar 0,220. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Firm Size tidak berpengaruh terhadap Cash Holding. Oleh karena itu. H4 yang menyatakan bahwa Firm Size berpengaruh positif terhadap Cash Holding ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dan rendahnya nilai Firm Size tidak berpengaruh terhadap peningkatan maupun penurunan yang terjadi pada nilai Cash Holding perusahaan. Semakin tinggi nilai Firm Size tidak menjamin bahwa perusahaan tersebut memiliki tingkat kas yang tinggi juga. Perusahaan besar memiliki kemudahan dalam memperoleh pendanaan dari pihak Hal ini membuat perusahaan menyimpan kas dalam jumlah yang sedikit karena berasumsi bahwa perusahaan dapat memperoleh pinjaman dengan mudah sehingga tidak perlu memegang kas dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu, semakin besar ukuran perusahaan dapat menurunkan Cash Holding juga. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Elnathan dan Susanto . yang menyatakan Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 bahwa Firm Size berpengaruh positif terhadap Cash Holding. Hasil penelitian ini selajan dengan penelitian yang dilakukan Wijaya dan Bangun . yang menyatakan bahwa Firm Size tidak memiliki pengaruh terhadap Cash Holding karena perusahaan besar lebih mudah untuk mengakses pasar modal sehingga lebih mudah untuk mendapatkan pendanaan dari luar sehingga kas yang dipegang oleh perusahaan juga semakin sedikit. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah Penulis kemukakan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Variabel Profitability yang diukur dengan menggunakan Return On Asset berpengaruh positif terhadap Cash Holding pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hal ini dibuktikan dari nilai signifikansi Return On Asset sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 dengan koefisien regresi arah positif sebesar 0,072. Variabel Net Working Capital berpengaruh positif terhadap Cash Holding pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hal ini dibuktikan dari nilai signifikansi Net Working Capital sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 dengan koefisien regresi arah positif sebesar 0,246. Variabel Liquidity yang diukur dengan menggunakan Current Ratio tidak berpengaruh terhadap Cash Holding pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hal ini dibuktikan dari nilai signifikansi Current Ratio sebesar 0,678 lebih besar dari 0,05 . ,678 > 0,. Variabel Firm Size tidak berpengaruh terhadap Cash Holding pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hal ini dibuktikan dari nilai signifikansi Firm Size sebesar 0,220 lebih besar dari 0,05 . ,220 > 0,. Adapun keterbatasan dalam penelitian ini yaitu nilai Adjusted R Square hanya sebesar 0,266 atau 26,6 persen. Hal ini berarti bahwa variabel independen dalam penelitian ini hanya berperan sebesar 25,6 persen dalam menjelaskan variabel dependen. Terdapat variabel lain yang berpengaruh namun tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Saran Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan yang telah diuraikan, serta mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini, maka dikemukakan saran yaitu bagi penelitian Jurnal FinAcc Vol 8. No. Juli 2023 ISSN 2988-5574 selanjutnya untuk menguji variabel independen lain selain Liquidity dan Firm Size karena tidak berpengaruh terhadap Cash Holding pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. DAFTAR PUSTAKA