Jurnal Magistra Vol. 2 No. 1 Maret 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 161-171 DOI : https://doi. org/10. 62200/magistra. Ars Celebrandi Dalam Dokumen Desiderio Desideravi Yusuf Silaban Universitas San Beda Manila. Filipina Email: danonaulin67@gmail. Abstract This research was conducted in commemoration of the 60th anniversary of the Liturgical Document. Sacrosanctum Concilium . It is fitting that this moment is used to promote the liturgy, through the Desiderio Desideravi document. This article specifically explores the theme of Ars Celebrandi. For that purpose, this article is approached through a study of documents and literature. The results of the literature review are as follows: first, living in the post-modern with all its negative aspects, the faithful urged to stand firm in faith that true salvation comes from The Paschal Mystery of Christ. Second, the liturgy is the first and foremost place in which they celebrate His Mystery through the sacramental signs and symbols. Third, in celebrating the inestimable Mystery, the people of God are supported to realize the sense of ars celebrandi. celebrating the liturgy in faith, full, consciousness, and active participation, dedication, discipline, and elegancy. In keeping the sense of ars celebrandi, priests are reminded to not reduce liturgical celebration on a rubrical mechanism or creativity without rules, because the rite in itself is a norm, and the norm is never an end in itself, it is always at the service of a higher reality that it means to protect. Keywords: Ars Celebrandi. Salvation. Liturgy. Priests. Celebrate. Formation. Rubrics. Preparation. Elegancy. And Dedication. Abstaksi. Penelitian ini dilakukan dalam rangka memperingati 60 tahun Dokumen Liturgi. Sacrosanctum Concilium . Pantaslah momen ini dipergunakan untuk mempromosikan liturgi, lewat dokumen Desiderio Desideravi. Artikel ini mendalami secara khusus tema Ars Celebrandi. Untuk maksud itu, tulisan ini diolah didekati melalui studi dokumen dan literatur-literatur. Adapun hasil kajian literatur adalah sebagai berikut: pertama, dalam dunia post-modern, dengan segala ekses negatif yang menyertainya, umat beriman diharapkan tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa keselamatan bersumber dari Misteri Paska Kristus. Liturgi merupakan tempat utama dan istimewa merayakan Misteri Paskah dirayakan, lewat simbol dan tanda sakramental. ketiga, untuk merayakan peristiwa yang mengagumkan itu, para imam secara khusus, dan umat beriman secara umum, didorong untuk mendalami ars celebrandi . eni merayaka. merayakan dengan iman, kesadaran penuh, keindahan, keteraturan, keanggunan, bermartabat, dedikasi dan disiplin. Para imam didorong untuk merayakan ekaristi dengan sungguh, tidak mereduksi perayaan liturgi pada kebebasan yang kebablasan atau rubrikisme yang kaku, karena ritus itu sendiri merupakan norma, dan norma tidak pernah menjadi tujuan itu sendiri, tetapi selalu melayani realitas yang lebih tinggi yang berarti melindungi. Kata Kunci:Ars Celebrandi. Keselamatan. Liturgi. Imam. Merayakan. Pendidikan. Rubrik. Persiapan. Keanggunan. Dan Dedikasi. PENDAHULUAN Arus post-modernisme dan eksesnya telah membuat individu-individu manusia terasing dari Allah dan sesamanya. Barangkali inilah salah satu ekses dari kebangkitan Gnostisisme. Neo-pelagianisme dan Reduksionisme, yang telah berhasil menggeser peran Allah sebagai pusat semesta, diganti oleh manusia. Mengikuti gagasan Yuva Noah Harari, manusia pos-modern tidak membutuhkan Allah untuk mencapai keselamatan, karena manusia dengan segala kemampuan dan teknologi yang semakin sempurna, cepat atau lambat akan menemukan keabadian di dunia ini. Dengan itu mereka akan menjadi manusia Allah. Homo Deus (Harari Yuval Noah, 2023, pp. 67Ae. Manusia tidak membutuhkan Tuhan, doa, dan tidak ambil pusing lagi dengan ritual-ritual keagamaan termasuk perayaan liturgi. Received: Februari 28, 2024. Accepted: Maret 13, 2024. Published: Maret 30, 2024 * Yusuf Silaban, danonaulin67@gmail. Ars Celebrandi Dalam Dokumen Desiderio Desideravi Rasionalisme dan Empirisme, sebagai Auanak sulungAy abad Modern, sudah lama meruntuhkan kemampuan spiritual manusia untuk membaca dan menghayati makna simbol, tanda dan bahasa-bahasa simbolik. Tidak hanya itu, arus pos modern juga telah berhasil mengikis ketajaman intuisi untuk memahami realitas ilahi transendental (Tinambunan Laurentius, 2. Kini bahasa dan penghayatan manusia terhadap hidup tinggal pada tataran empiris dan praktis. Mereka kesulitan memahami makna dibalik ungkapan-ungkapan puitis dan simbolik. Bahasa post-modern menjadi sangat AudinginAy rasional, to the point, kaku, dan direduksi pada bahasa fisik dan kimia (Tinambunan Laurentius, 2023, pp. 71Ae. Gejala-gejala di atas itu berdampak langsung terhadap perilaku umat beriman, misalnya dalam menghayati dan merayakan liturgi. Mereka kehilangan kemampuan untuk membedakan antara tempat sakral atau ruang liturgi dengan tempat umum: kafe, taman, dan lain sebagainya. Bahkan muncul trend menjadikan ruang dan benda-benda sakral, seperti: panti imam, altar, mimbar, patung/gua Maria menjadi panggung selebrasi privat, spot selfie, instagramable atau public spot photo. Bagi umat beriman yang hidup di era post-modern, tidak ada sekat-sekat antara ruang sakral dengan ruang profan, antara tempat Sakramen Maha Kudus dan lemari pakaian, antara Altar dengan meja makan, antara Kitab Suci dengan buku jurnal harian atau novel. Menyadari bahaya dan pengaruh dan paham-paham post-modernisme. Paus Fransiskus menanggapi sekaligus membangunkan dunia dari AutidurnyaAy dengan menerbitkan dokumen Desiderio Desideravi yang dikeluarkan di Basilika Santo Yohanes Lateran. Roma, pada tanggal 29 Juni 2022, tepatnya pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus Rasul (Paus Fransiskus, 2. Di dalam dokumen ini. Paus memberi arah dan pedoman kepada segenap umat beriman untuk menghadapi paham-paham tersebut di atas dan menawarkan poin-poin penting untuk direfleksikan. Pertama, menemukan kembali dan menghayati kebenaran dan keindahan perayaan Kristiani. Kedua, melestarikan perayaan liturgi seraya menjauhkannya dari eksploitasi dan reduksi zaman. Dia mengajak umat beriman untuk mengagumi tindakan penyelamatan Allah, yang terjadi di masa lampau, namun tetap hadir pada masa kini dalam perayaan liturgi, yang tampak lewat tanda dan simbol sakramental. Liturgi sebagai tempat utama dan satu-satunya merayakan Misteri Paskah Kristus seharusnya dihargai, dihormati dan dihayati. Oleh karena itu liturgi adalah obat mujarab dan penangkal bari ekses-ekses post-modern. Umat beriman harus meraih kembali kemampuan spiritualnya agar menangkap makna-makna di balik simbol dan realitas kehidupannya serta mampu melihat keindahan dan kebenaran liturgi. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 161-171 Selain menjawab tantangan arus post-modern. Paus juga melanjutkan gagasan yang dia sampaikan kepada para Uskup dalam dokumen Traditionis Custodes (Fransiskus, 2. Ternyata, walaupun pembaruan Konsili Vatikan II telah berlangsung 60 tahun Ae dan masih terus berlangsung Ae masih ada kelompok-kelompok kecil di kalangan umat beriman yang ingin kembali ke semangat Konsili Trente. Mereka meminta izin kepada uskup untuk merayakan ekaristi dengan tata cara Konsili Trente. Bahkan kelompok tersebut cenderung menolak pembaruan Konsili Vatikan II serta buku-buku pembaruan liturgi yang diterbitkan. Untuk menyikapi fenomena ini. Paus lewat dokumen Traditionis Custodes, menghimbau para uskup, sebagai penjaga tradisi suci, untuk membatasi praktik Misa Tridentin di kalangan umat Lewat Desiderio Desideravi, dia mengajak segenap umat beriman di seluruh penjuru dunia, terutama mereka yang ingin mempertahankan semangat Konsili Trente, untuk menerima dan menaati pembaruan Konsili Vatikan II (Fransiskus, 2021, p. No. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi dokumen. Studi dokumen adalah salah satu metode pengumpulan informasi / data kualitatif dengan memandang dan menganalisis pelbagai dokumen yang dibuat oleh penulis-penulis tertentu atau oleh orang lain tentang subjek penelitian. Dapat juga dikatakan bahwa studi dokumen adalah metode yang digunakan dalam pengumpulan data atau informasi dengan cara memahami dan mempelajari pelbagai teori atau kajian serta analisis dari berbagai literatur yang tersedia dan berhubungan dengan penelitian tersebut. Terdapat 4 . langkah dalam studi dokumen, yaitu menyiapkan pelbagai sarana yang dibutuhkan, menyiapkan bibliografi kerja, mengorganisasikan waktu, serta membaca dan mempelajari pelbagai literatur tersebut untuk kemudian dijadikan bahan penelitian. Pengumpulan data tersebut menggunakan cara mencari sumber dan membangun / merekonstruksi dari berbagai sumber literatur seperti jurnal, buku, dan riset-riset yang pernah dilakukan serta Bahan literatur tersebut kemudian dipelajari dan dianalisis secara kritis dan mendalam sehingga kemudian mendukung jalan berpikir dalam penelitian ini (Sugyono. HASIL DAN PEMBAHASAN Allah menghendaki keselamatan. Sejak awal kalimat dokumen. Paus mengarahkan perhatian pembaca kepada peristiwa Perjamuan Terakhir, sebagai landasan teologis perayaan liturgi. Dokumen dibuka dengan kata Ars Celebrandi Dalam Dokumen Desiderio Desideravi AudesiderioAAy yang artinya aku . Dokumen ini diletakkan pada Lukas 22:15: Perjamuan Terakhir. Kata AudesiderioAy adalah kata kunci untuk mengerti seluruh isi dokumen Dengan istilah itu. Paus hendak menandaskan bahwa keselamatan adalah keinginan, desidero. Yesus bukan usaha manusia. Yesus menginginkan keselamatan dan berinisiatif menyelamatkan manusia. Jelaslah gagasan ini bertujuan untuk merespons paham postmodernisme yang mengatakan bahwa manusia mampu mencapai keselamatan tanpa bantuan Allah. Sebenarnya, ide penyelamatan telah digarisbawahi oleh Sacrosanctum Concilium . elanjutnya disingkat SC) dengan rumusan yang amat jelas: AuAllah menghendaki supaya semua manusia selamat dan mengenal kebenaranAy(Concilium Vaticanum II, 1963, p. No. Dengan meletakkan dokumen pada setting perjamuan malam terakhir. Paus bukan saja ingin meneruskan ide SC, tetapi juga kembali menggarisbawahi bahwa keselamatan adalah mutlak anugerah Allah, bukan usaha manusia(Fransiskus, 2. Dia menghendaki keselamatan manusia, seperti Yesus menghendaki makan bersama dengan para Rasul. Makan bersama dalam hal ini memiliki makna simbolik Ae sakramental yakni perjamuan keselamatan yang diwujudkan di dalam penyaliban. Karena itu Paus tidak ragu-ragu mengatakan bahwa ekaristi adalah anugerah Allah. Kalau ekaristi adalah rahmat Allah, maka setiap kali merayakan ekaristi, umat beriman sedang merayakan syukur atas penyelamatan Allah terhadap manusia dalam Yesus Kristus. Maka di dalam ekaristi dan perayaan-perayaan liturgi lainnya, manusia mestinya mengagumi cinta Allah yang menyelamatkan. Sebagai respons dari pihak umat beriman, mereka hendaknya berpartisipasi secara aktif, penuh dan optimal di dalamnya serta menghasilkan buah yang melimpah dalam kehidupan sehari-hari, lewat kata, tindakan dan perjuangan terhadap Pewarisan apostolik(Puglisi James F. SA, 2023, p. Yesus mewariskan perjamuan terakhir kepada para Rasul dan meminta mereka untuk mengenangkan peristiwa itu. Pewarisan itu diwariskan bukan kepada individu atau person . rang per oran. tetapi diwariskan secara komunal. Keberlanjutan mengenangkan peristiwa itu disampaikan kepada para Rasul sebagai kumpulan(Fransiskus, 2. Artinya perintah mengenangkan ditujukan kepada semua Rasul. Itu berarti perjamuan hanya dapat dirayakan dalam kesatuan dengan para Rasul. Hal itu sangat tampak sesudah kebangkitan Yesus. umat Kristen perdana memecahkan roti selalu di bawah bimbingan para Rasul. Di sini letak pewarisan apostolik . uccessio MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 161-171 Namun ekaristi tidak hanya dirayakan dalam kesatuan dan di bawah bimbingan para Rasul, tetapi juga Ae dan selalu Ae di dalam kebersamaan umat yang percaya kepada Tuhan. Kumpulan jemaat yang memecahkan roti di bawah bimbingan para rasul disebut Gereja. sinilah letak dimensi eklesiologis dokumen ini. Hubungan liturgi dan Gereja. Gereja mengenangkan misteri Kristus dalam liturgi, terutama dalam perayaan ekaristi. Karena itu liturgi menjadi tempat istimewa mengenangkan Tuhan dan untuk berjumpa dengan-Nya(Fransiskus, 2. Di sana dia hadir lewat Sabda, tanda dan simbol, ritus, doa terutama lewat roti dan anggur(Concilium Vaticanum II, 1. dalam liturgi umat beriman berbicara tentang kita, kebersamaan, bukan aku egoisme. Maka Paus mengatakan bahwa lewat penghayatan liturgi dunia dapat membangun persaudaraan Karena di dalam perayaan liturgi umat beriman berbicara tentang kita, persaudaraan dan kebersamaan. Aspek-aspek inilah yang tidak ditemukan dalam paham post-modernisme. Paus meneruskan ajaran tradisional gereja yang mengimani bahwa Gereja lahir dari Kristus. Dia menerangkan asal usul Gereja dengan mengutip SC 5: AuSebab dari lambung Kristus yang berada di salib muncullah sakramen seluruh Gereja yang mengagumkanAy. Kutipan ini ditemukan juga dalam komentar St. Agustinus atas Mazmur 138 dan dalam doa bacaan ketujuh pada perayaan Vigili Paska. Paus menerangkan asal usul Gereja dengan membawa imajinasi kita pada kisah penciptaan. Hawa berasal dari tulang Adam. Hawa baru, yaitu Gereja, berasal dari lambung Adam baru, yaitu Kristus. Adam mengatakan kepada Hawa: Auinilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Adam baru yakni Yesus, mengatakan kepada Gereja-Nya: Auinilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingkuAy(Fransiskus, 2. Respons manusia atas keselamatan. Menurut Paus satu-satunya syarat untuk masuk ke dalam perjamuan Yesus adalah mengenakan pakaian pesta(Fransiskus, 2. Pakaian pesta adalah simbol iman, keterbukaan dan ketaatan penuh cinta. Iman dan cinta menjadi syarat mutlak untuk masuk ke dalam perjamuan penyelamatan itu. Dengan kata lain, iman adalah syarat utama untuk merayakan liturgi. Ekspresi iman itu umat tampak secara ritual dalam partisipasi sadar dan aktif di dalamnya. sikap batin yang serasi di dalam perayaan dan mengamalkannya dalam hidup sehari-hari. Sikap-sikap ini pun merupakan bagian dari pakaian Pendidikan liturgi. Di dalam liturgi, perjamuan terakhir Tuhan dikenangkan secara Untuk memahami misteri agung itu, umat beriman perlu dibimbing ke dalam formasi liturgi. memahami liturgi dengan benar dan merayakan penuh iman. Segenap umat beriman dihimbau untuk merayakan liturgi dengan sungguh-sungguh. taat, tulus, serius, tidak Ars Celebrandi Dalam Dokumen Desiderio Desideravi abai dan takzim. Kita dihimbau untuk merayakan liturgi dengan baik dan benar, indah, anggun, hingga memperoleh buah-buah rohani. Paus menandaskan perlunya pendidikan liturgi bagi segenap umat beriman. Berangkat dari pemikiran Romano Guardini. Paus menawarkan dua bentuk formasi liturgi. Pertama pendidikan terhadap liturgi. Yang dimaksud dengan pendidikan terhadap liturgi adalah pendidikan formal. menggali dimensi teologi. Kitab Suci, historis dan antropologis. Pendidikan ini menyasar aspek kognitif. Kedua, pendidikan oleh liturgi(Fransiskus, 2. Pendidikan oleh liturgi adalah praktik atau perayaan liturgi terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari dan penghayatan atas perayaan itu sehingga liturgi itu akan membentuk karakter umat beriman. Pendidikan ini menyasar aspek mental, karakter dan operatif. Kedua bentuk pendidikan itu saling terkait dan saling memperkaya. Liturgi tidak boleh hanya dimengerti secara sistematis, liturgi mesti dirayakan, karena pada hakikatnya liturgi adalah doa dan perayaan iman. Boleh dikatakan bahwa pendidikan . endidikan terhadap liturg. pertama adalah langkah pertama untuk mengagumi liturgi. Pada tahap ini kekaguman kita bersifat kognitif pula. misalnya kagum pada sejarah dan formasi perayaan-perayaan liturgi, kagum pada spirit dan spiritualitas tokoh-tokoh Kristen pendahulu. Pendidikan kedua . endidikan oleh liturg. merupakan kelanjutan dari pendidikan pertama. umat beriman perjumpaan dengan Allah dalam perayaan. Di sini kekaguman menjadi sangat personal, terasa menggetarkan hati, karena bersentuhan langsung dengan tanda dan simbol sakramental. menerima Tubuh Kristus, mendengarkan Sabda Allah, menerima penumpangan tangan, pengolesan minyak dan lain sebagainya(Fransiskus, 2. Memahami Makna Ars Celebarandi Tema tentang Ars celebrandi ditemukan pada bagian akhir, tepatnya mulai nomor 48. Paus menandaskan bahwa ars celebrandi lebih dari sekadar mengikuti petunjuk atau rubrik. mengikuti petunjuk adalah langkah pertama dalam formasi ars celebrandi. Sebelum membahas lebih jauh, perlu dipahami arti ars celebrandi. Ars celebrandi berarti seni merayakan. Kata: Ars Ae artis (Lati. berarti: karakter, prinsip-prinsip, aturan, metode, cara, skill, trik, seni atau keahlian(Carboni C. , 2011, p. Kata: celebandi Ae bentuk gerundive dari kata dasar celebrare Ae berati merayakan. Bentuk Gerundive dipakai untuk menggarisbawahi kemutlakan, atau kewajiban. bentuk ini bisanya diterjemahkan dengan menambah kata AuharusAy(P. , 2009, p. Hlm. Jadi ars celebrandi berarti seni . ang haru. dilakukan, atau cara yang harus dilaksanakan atau langkah-langkah yang harus diikuti untuk Untuk lebih elegan ars celebrandi diterjemahkan dengan Auseni merayakanAy, namun mesti dipaham bahwa di sana tersirat kata harus. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 161-171 Seni dalam hal ini tidak boleh diartikan sebagai tindakan kreatif personal belaka, misalnya: merayakan liturgi seturut kehendak hati yang sedang bergejolak sehingga tampak tanpa kurang teratur, tidak juga seperti pelukis yang sedang menuangkan ide di atas kanvas untuk mewujudkan kreasi imajinatifnya. Kata ars memang mengandung aspek estetis dan fleksibilitas, konsistensi, keindahan tata gerak dan simbol. Penggunaan simbol-simbol tidak boleh bertentangan dengan ketentuan perayaan liturgi. Setiap kali imam merayakan liturgi, ia harus merayakan dengan konsisten, indah dan misalnya dalam bernyanyi, berbicara, melakukan gerakan dan memakai simbol. samping itu perlu memperhatikan keindahan ruangan, kebersihan serta kerapian pakaian, kewajaran bertindak, kesopanan bersikap dan keanggunan berjalan. Menciptakan keindahan dimulai dari hal sederhana: mengucapkan kata-kata elegan, jelas dan terukur, mengenakan pakaian bersih dan rapi, berdiri tegak, anggung dan berwibawa, berlutut dan memandang dengan tepat, gerak yang terukur dan wajar, intonasi dan vokal suara yang jelas, menyanyikan aklamasi-aklamasi dengan baik dan lain sebagainya. Mengabaikan hal-hal di atas akan menjadikan perayaan menjadi kaku, monoton dan tidak menarik. Bisa jadi perayaan tidak menjadi momen merayakan keselamatan melainkan merayakan kebosanan. Antara Ars celebrandi dan Rubrikisme Paus mengantisipasi agar para imam tidak jatuh pada rubrikisme atau kebebasan tak AuArs celebrandi tidak dapat direduksi hanya menjadi mekanisme rubrik, apalagi dianggap sebagai kreativitas fantasiAi terkadang liar Ai kreativitas tanpa aturan. Ritus itu sendiri merupakan norma, dan norma tidak pernah menjadi tujuan itu sendiri, tetapi selalu melayani realitas yang lebih tinggi yang berarti melindungi. (Fransiskus, 2. Ay Di satu sisi para imam diingatkan agar tidak jatuh pada mentalitas rubrikisme, di sisi lain Paus juga mengingatkan agar mereka tidak jatuh pada kreativitas yang tidak teratur. Sederhananya, hendak dikatakan: jangan terlalu kaku/terikat melulu pada rubrik, tetapi jangan terlalu bebas dan fleksibel sehingga tidak teratur. Artinya diperlukan kecakapan dan kecerdasan untuk memadukan dua sisi tersebut, sehingga perayaan terasa lebih hidup, menarik, memesona tetapi tetap teratur. Di sinilah letak ars celebrandi, seni merayakan liturgi. Untuk mengasah kecakapan ars celebrandi perlu diperhatikan hal-hal berikut. Pertama teologi perayaan liturgi. Liturgi adalah tempat merayakan Misteri Paskah. di sana Misteri dihadirkan secara sakramental. Perlu menghindari sikap sembrono dalam merayakan Misteri seagung itu. Oleh karena itu cara merayakan, berpakaian liturgi atau menggunakan simbol hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kedua ars celebrandi dan Roh Kudus. Ketika memimpin perayaan ekaristi, para imam mesti menyadari bahwa dia harus dituntun oleh Ars Celebrandi Dalam Dokumen Desiderio Desideravi Roh Kudus, bukan oleh kehendak atau kepentingan pribadi, emosi atau dorongan humanistis Karena itu, sejak persiapan, perlu diciptakan keheningan, ketenangan, untuk memberi diri dipimpin Roh Kudus. Ketiga, ars celebrandi dan kehendak Gereja. Para imam dipanggil untuk melayani umat Allah yang adalah Gereja. diperlukan ketaatan kepada ajaran Gereja serta kepentingan umat beriman. Doa-doa presidensial, misalnya, diucapkan dengan sangat jelas. Umat beriman berhak mendengarkan lantunan doa yang anggun. Umat berpartisipasi di dalam doa yang disampaikan oleh para imam, karena doa itu disampaikan atas nama umat Allah. Karena itu imam perlu memastikan agar doa-doa sampai dengan jelas ke telinga mereka. Membaca dengan terburu-buru, menyampaikan homili secara tidak serius atau sembarangan merupakan AupelecehanAy terhadap umat beriman. Keempat AumemeragakanAy simbol dan bahasa Perayaan liturgi penuh dengan simbol, gerak dan bahasa simbolik. Para imam harus cakap memakai simbol termasuk memadukan simbol dan kata/kalimat. Contoh ketika imam mengucapkan: Auberdoalah saudara-saudari supaya AAy pada saat itu tangan dan wajah imam sebaiknya tertuju kepada umat, karena kalimat itu sedang mengundang umat. Maka sangat baik kalau kalimat itu dapat diucapkan secara spontan tanpa melihat teks. Kalau imam harus melihat teks, maka hilanglah kontak antara imam dan umat. Contoh lain: saat imam berkata: Aulihatlah anak domba Allah AAy. sebaiknya imam mengucapkan itu secara spontan, tanpa harus melirik Sebaliknya, tidak perlu melihat atau menoleh ke arah umat saat mendoakan Doa Syukur Agung atau Prefasi. Dalam hal ini imam harus melihat teks dan membacakan dengan lambat dan jelas, disertai pemenggalan kalimat yang tepat dan singkat, agar umat dapat berpartisipasi di dalam doa itu. Ars Celebrandi: Dedikasi dan Rahmat Tahbisan Ars celebrandi menuntut dedikasi, disiplin terus menerus, dibarengi dengan kesetiaan untuk melepaskan sentimentalitas yang lemah, dan dalam ketaatan kepada Gereja(Fransiskus, 2. Paus mengetuk pintu hati imam untuk sungguh mengindahkan semangat ars celebrandi. Karena baik-buruknya perayaan sebagian besar tergantung kepada sikap imam, maka dia mendorong agar mereka tidak merayakan liturgi dengan Auasal-asalanAy, sembarang dan atau tanpa persiapan. Dia melihat fenomena bahwa para imam cenderung jatuh kepada rubrikisme atau kebebasan yang kebablasan. Dia mengatakan demikian: Auketaatan yang kaku atau kreativitas yang berlebihan, spiritualisasi mistisisme atau fungsionalisme praktis, terlalu cepat atau terlalu lama, kesembronoan yang ceroboh atau kerewelan yang berlebihan, keramahan yang berlebihan atau ketidak-pedulian hierarkisAy(Fransiskus, 2. Dia juga menduga bahwa ada gejala di kalangan para imam yang menjadikan diri menjadi pusat perhatian: Aupersonalisme MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 161-171 meningkat pada gaya merayakan yang kadang-kadang mengungkapkan keinginan yang berlebihan, yang tidak disembunyikan dengan baik, untuk menjadi pusat perhatianAy. Untuk memahami dan menghayati ars celebrandi para imam perlu merefleksikan Tahbisan merupakan rahmat dan belas kasih Allah. Sama seperti ekaristi adalah anugerah terindah Yesus kepada para Rasul, demikian juga tahbisan adalah rahmat terindah Yesus kepada para imam. Seperti perjamuan terakhir merupakan inisiatif Yesus dan bukan para Rasul, demikian juga tahbisan merupakan anugerah Allah, bukan prestasi personal imam. Maka hendaknya imam merayakan perayaan liturgi dalam perspektif rahmat tahbisan mereka. Pelayan tertahbis adalah salah satu wujud kehadiran Kristus. Dimensi kristologis ini digarisbawahi oleh Sacrosanctum Concilium Au A Kristus hadir dalam Kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan, karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu Salib AAy(Concilium Vaticanum II, 1. Fakta kehadiran Kristus dalam diri imam memberikan bobot sakramental untuk semua tata gerak para imam dalam memimpin perayaan liturgi. Artinya tindakan dan kata-kata para imam menjadi tindakan sakramental Kristus. Oleh karena itu hendaknya sungguh dipertimbangkan setiap ucapan, kata-kata, diksi, lelucon, ekspresi emosi selama merayakan liturgi. Sebenarnya tidak hanya selama perayaan liturgi, tetapi dalam seluruh hidup, karena tahbisan imamat melekat secara ontologis dalam diri imam. Dalam hal ini mereka perlu AuberpuasaAy untuk tidak melakukan gerak-gerik spontan yang merusak perayaan. Contoh sederhana: menggaruk kepala, hidung atau telinga, berbisikbisik atau tertawa lepas. Perlu misalnya memperhatikan cara duduk agar tidak terkesan sembarang, cara memandang agar tidak terkesan AuliarAy. Dalam hal ini para imam sungguh dituntut untuk AuberkorbanAy, dalam arti mengesampingkan kepentingan pribadi demi terciptanya suatu perayaan yang anggun dan pantas bagi umat. berkorban untuk tidak berburuburu mendoakan atau membacakan teks-teks doa-doa tahu bacaan liturgi. berkorban untuk tetap tenang selama perayaan berlangsung, walaupun ruangan terasa panas dan pengap. berkorban menerima kritikan kalau ada umat mengatakan bahwa: Ausuara pastor monoton, suara pastor kurang jelas, pastor tadi mengantuk di depan, homili pastor tidak jelasAy dan lain Bagaimana mengasah semangat Ars celebrandi? Paus mengatakan bahwa ars celebrandi tidak diperoleh di bangku kuliah atau dalam kursus public speakeing. Untuk meningkatkan ars celebrandi adalah dedikasi: AuDiperlukan dedikasi yang terus menerus untuk perayaan itu, yang memungkinkan perayaan itu sendiri menyampaikan kepada kita seninyaAy(Fransiskus, 2022, p. No. Merayakan liturgi setiap hari dengan benar dan penuh Ars Celebrandi Dalam Dokumen Desiderio Desideravi dedikasi, para imam akan dibentuk oleh liturgi itu sendiri melalui ritus dan Sabda Allah yang diletakkan pada bibir para imam(Fransiskus, 2. Penghayatan terhadap tahbisan imamat membuahkan dedikasi yang mendalam. Mereka akan mampu membedakan teks liturgi dari buku renungan harian. Mereka akan menghormati dan merayakan liturgi dengan penuh kehati-hatian dan dedikasi yang mendalam. Para imam akan memberikan perhatian serius pada setiap teks tata perayaan liturgi. Mereka akan mampu membedakan cara berbicara di ruang liturgi dengan cara berbicara ruang makan atau di ruang rekreasi. Mereka akan mampu membedakan cara duduk di ruang liturgi dari cara duduk di restoran, kafe atau ruang tunggu bandara. Mereka akan mampu memelihara keheningan, ketenangan, ketakziman sebelum dan selama perayaan. Antara Rubrikisme dan Ars Celebrandi Ada sebagian imam beranggapan bahwa untuk memimpin perayaan liturgi yang benar cukuplah mengikuti rubrik. AuIkuti saja petunjuk, itu sudah cukupAy, demikian komentar beberapa imam. Benar, bahwa mereka harus mengikuti petunjuk rubrik, tetapi rubrik hanya mengatur hal-hal esensial untuk menjamin keseragaman. Banyak hal perlu diperhatikan tetapi tidak diaturkan dalam rubrik, misalnya mengenai intonasi dan kejelasan suara, kepantasan busana dan lain sebagainya. Selain itu para imam perlu melihat situasi konkret di tempat pelayanan mereka masing-masing. Oleh karena itu para imam perlu membaca dan mendalami rubrik dan mencari makna dibalik petunjuk-petunjuk rubrik. Perlu dicatat bahwa rubrik selalu menyimpan latar belakang atau ajaran teologis. Misalnya rubrik TPE menetapkan waktu-waktu hening. sebelum imam mengucapkan doa pembuka/kolekta dan penutup, antara bacaan-bacaan, sesudah homili dan sesudah menerima tubuh Kristus. Pasti ada ajaran atau dibalik penentuan waktu hening itu. Pertama, keheningan adalah bagian dari liturgi. Ini perlu diresapi dan dihayati oleh para imam. Kedua, keheningan merupakan kesempatan meresapkan Sabda Allah sesudah mendengarkan homili. Ketiga, keheningan diperlukan untuk merasakan persatuan rohani dengan Kristus, sesudah menerima Keempat, keheningan perlu untuk menyampaikan doa pribadi sebelum doa pembuka/kolekta. KESIMPULAN Merayakan liturgi menuntut kesetiaan, ketaatan, semangat dan dedikasi. tidak cukup mengikuti rubrik saja. Para imam perlu mendalami rubrik untuk menemukan keindahan dan kebenaran liturgi dan dapat merayakan liturgi dengan kreatif, anggun dan indah. Perlu dihindari MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 161-171 selera, tren atau kecenderungan pribadi. Sebaliknya merayakan berdasarkan petunjuk Gereja dan demi kebaikan umat beriman. Yang terakhir ini sangat penting, untuk itu para imam Karena itu tafsiran, ide dan pendapat pribadi tidak boleh menggantikan kehendak Gereja. Sikap dan aksi ritual imam harus minimal sesuai dengan petunjuk gereja dan harus membatu umat yang hadir untuk berdoa. Merayakan liturgi berarti membawa umat ke hadapan Allah. memuliakan Allah melalui doa-doa. Tugas imam adalah menguduskan dan membantu mereka untuk bertemu dengan Allah. Merayakan liturgi, terutama ekaristi, berarti membawa umat untuk merasakan misteri Paska Kristus. Mengakhiri refleksi ini, saya mengutip ajakan Paus Fransiskus: AuMarilah kita meninggalkan polemik kita untuk bersama-sama mendengarkan apa yang dikatakan Roh Kudus kepada Gereja. Marilah kita menjaga persekutuan kita. Marilah kita tetap kagum akan keindahan liturgi. Kita telah dikaruniai Misteri Paskah. Marilah kita membiarkan diri kita dipelihara oleh kerinduan agar Tuhan terus makan Paskah bersama kitaAy(Fransiskus, 2. DAFTAR PUSTAKA