Vol. 9 No. 2, 2024 p-ISSN : 2502-8383 e-ISSN : 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ IMPLEMENTASI PENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING (CRT) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN IDENTIFIKASI UNSUR INTRINSIK CERITA PESERTA DIDIK KELAS VC SDN PAKIS V SURABAYA Assa Roseana Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Email : ppg. assaroseana01830@program. Anik Kirana Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Email : anikkirana. fbs@uwks. Ahmad KhoirussyifaAoAmrullah SDN Pakis V Surabaya Email : Syifaahmad9061@gmail. Abstrak: Tujuan dilakukan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengidentfikikasi unsur intrinsik cerita mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V-C di SDN Pakis V Surabaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VAeC SDN Pakis V Surabaya 2024/2025 yang berjumlah Penelitian ini terdiri dari variabel bebas (X) adalah implementasi pendekatan CRT dan variabel terikat (Y) adalah kemampuan identifikasi unsur intrinsik cerita peserta didik kelas V-C SDN Pakis V Surabaya. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kuantitatif berdasarkan persentase hasil belajar pada pra-siklus, siklus I, dan siklus II. Setelah dilakukan penelitian hasilnya yakni penerapan pendekatan culturally responsive teaching (CRT) dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia khususnya materi unsur intrinsik cerita. Sebelum dilakukan tindakan hanya 23% peserta didik yang mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita, pada siklus I meningkat menjadi 63% mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita, dan pada siklus II menjadi 87% yang mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik kelas V-C SDN Pakis V Surabaya mampu mencapai hasil belajar Bahasa Indonesia materi unsur intrinsik cerita dengan lebih baik jika menggunakan pendekatan culturally responsive teaching (CRT). Kata Kunci: Pendekatan pembelajaran. CRT. Unsur intrinsik cerita PENDAHULUAN Pelajaran Bahasa Indonesia menjadi dasar peserta didik untuk belajar dan Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar berperan penting dalam meningkatkan literasi siswa, khususnya dalam menyimak dan memahami. Menyimak merupakan proses yang melibatkan kegiatan mendengar, mengidentifikasi, memahami, menilai, dan memberikan respons terhadap makna yang terkandung di dalamnya. Proses menyimak bukan hanya mendengarkan saja melainkan proses memahami makna Tarigan. Menyimak sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa. yang disampaikan. Salah satu aktivitas menyimak di SD adalah mengidentifikasi unsurunsur intrinsik cerita. Unsur intrinsik cerita adalah elemen penting yang membentuk sebuah cerita. Unsur-unsur tersebut meliputi latar, tokoh, tema, amanat, dan alur. Latar menggambarkan informasi mengenai lokasi, waktu, dan suasana dalam cerita. Tokoh adalah pelaku atau pemain dari sebuah cerita. Tema merupakan gamabran dari inti kesuluruhan cerita tersebut. Amanat yakni berisikan pesan moral yang ingin disampaikan oleh penulis. Sementara alur adalah urutan peristiwa dan konlik yang membentuk jalannya sebuah cerita2. Kemampuan mengidentifikasi unsur intrinsik cerita seperti tema, tokoh, alur, latar, dan amanat merupakan komponen penting yang harus dikuasai peserta didik. Namun, banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami unsur-unsur ini karena pendekatan pembelajaran yang diterapkan belum efektif dan kurang relevan dengan pengalaman budaya mereka. Berdasarkan hasil tes yang dilakukan terkait unsur intrinsik cerita 0% peserta didik yang mampu secara mandiri mengidentiifkasi unsur intrinsik cerita, 23% mampu namun perlu pendampingan, 67% mulai mampu, dan 10% belum mampu mengidentifikasi. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa kemampuan mengidentifikasi unsur intrinsik cerita masih rendah karena hanya 23% atau 7 peserta didik yang masuk kategori mampu namun perlu pendampingan dengan nilai minimal 75, sedangkan sebanyak 21 peserta didik memiliki nilai dibawah 75. Permasalahan tersebut terjadi karena cerita yang disajikan menggunakan cerita yang tidak banyak dikenal oleh peserta didik sehingga susah untuk memahami isi dari cerita yang disajikan. Selain itu tidak ada penggunaan media pembelajaran untuk membantu peserta didik, hanya ada LKPD saja, serta model pembelajaran yang digunakan kurang mendorong peserta didik aktif dalam kegiatan Dari permasalahan diatas diperlukan tindakan lebih lanjut untuk meningkatkan kemampuan peserta didik mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik sebuah cerita. Salah satu alternatif yang dapat digunakan yakni pendekatan pembelajaran Culturally Responsive Teaching (CRT) saat membuat rancangan pembelajaran. Pendekatan Culturally Responsive Teaching . engajaran yang tanggap terhadap buday. merupakan strategi yang menghubungkan pengetahuan budaya, pengalaman hidup, dan beragam gaya belajar peserta didik untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna 3. Lasminawati dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran yang secara aktif melibatkan siswa dan mengaitkan materi dengan budaya serta kehidupan sehari-hari mereka dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi 4. Pendekatan CRT ini Cahyani. & Rosmana. Pendidikan bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press. Sulastri. Setiyawan. , & Widyaningrum. Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Dengan Menerapkan Pendekatan Culturally Responsive Teaching ( CRT ) Pada Siswa Kelas IV SDN Jajartunggal 3 Surabaya. Lasminawati. Kusnita. , & Merta. Meningkatkan Hasil Belajar dengan Pendekatan Pembelajaran Culturally Responsive Teaching Model Probem Based Learning. JSER Journal of Science and Education Research, 2. , 44Ae48. menawarkan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut dengan mengintegrasikan budaya siswa dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini menekankan pentingnya menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman budaya siswa, sehingga materi yang diajarkan dapat dengan mudah dipahami. Pembelajaran dengan mengintegrasikan budaya ini juga telah dikembangkan oleh Sulastri dalam menciptakan pembelajaran bermakna adalah dengan mengaitkan budaya peserta didik kedalam materi pembelajaran. Budaya merupakan inti dari proses pembelajaran, pedagogi yang responsif terhadap budaya digunakan sebagai alat penghubung antara peserta didik, guru, sekolah, dan komunitas, dengan cara menyesuaikan proses pembelajaran terhadap latar belakang budaya siswa. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang relevan dan bermakna, sehingga siswa merasa lebih terhubung dengan materi, serta mendukung kolaborasi yang lebih erat antara sekolah dan komunitas. Guru perlu memahami bahwa budaya sangat mempengaruhi pola pikir peserta didik. Rahmawati menyatakan bahwa mengintegrasikan latar belakang budaya peserta didik bertujuan untuk menghubungkan mereka dengan konteks pembelajaran serta meningkatkan kesadaran akan identitas budaya yang dimiliki. Di SDN Pakis V Surabaya, keberagaman budaya peserta didik belum sepenuhnya terintegrasi kedalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan rendahnya kemampuan peserta didik saat mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Sehingga dilakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul AuImplementasi pendekatan culturally responsive teaching (CRT) untuk meningkatkan kemampuan idenfitikasi unsur intrinsik cerita peserta didik kelas V SDN Pakis V SurabayaAy. Dengan menggunakan pendekaran culturally responsive teaching (CRT) diharapkan peserta didik dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengidentifikasi unsur intriksik pada sebuh cerita. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Dewi dan Budiharto menyatakan bahwa PTK merupakan sebuah proses refleksi diri bagi pendidik untuk meningkatkan rasionalitas dan praktik-praktik pendidikan 6. Selain itu penelitian tindakan kelas diartikan juga sebagai penelitian yang dirancang dan dilakukan oleh pendidik untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul didalam suatu kelas dengan cara merancang, melaksanakan, mengamati, dan melakukan refleksi tindakan dalam beberapa siklus pengajaran. Subjek penelitian yakni peserta didik kelas V Ae C SDN Pakis V Surabaya tahun ajaran 2024/2025 yang berjumlah 30 orang. Penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus yakni tahap pra-siklus sebagai langkah awal. Pada tahap pra-siklus ini melibatkan Rahmawati. Yuli. Ridwan. Achmad. Empowering Students' Chemistry Learning: The Integration Of Ethnochemistry In Culturally Responsive Teaching. Bulgarian Journal of Science Education. Dewi. , & Budiharto. Peningkatan kemampuan mengidentifikasi unsur intrinsik cerita fiksi melalui penerapan model pembelajaran cooperative integrated reading and composition ( CIRC ) pada peserta didik kelas IV sekolah dasar. , 56Ae61. wawancara dengan guru kelas dan melakukan obsrvasi terhadap peserta diidik dikelas saat kegiatan pembelajaran. Data yang diperoleh dari pra-siklus tersebut digunakan sebagai landasan dalam siklus pembelajaran pertama, selanjutnya hasil dari siklus pertama menjadi dasar dalam melakukan siklus kedua pembelajaran. Penelitian dilakukan di SDN Pakis V Surabaya. Penelitian ini menggunakan variabel bebas (X) adalah implementasi pendekatan CRT dan variabel terikat (Y) adalah kemampuan identifikasi unsur intrinsik cerita peserta didik kelas V-C SDN Pakis V Surabaya. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik observasi dan tes. Keberhasilan penelitian tindakan kelas ini diukur dari peningkatan kemampuan siswa dalam mengenali unsur intrinsik cerita melalui pendekatan CRT, dengan capaian ketuntasan belajar mencapai nilai Ou75 atau 70% dari jumlah peserta didik dengan nilai minimal 75. KAJIAN TEORI Pendekatan Culturally Rsponsive Teaching (CRT) Culturally Responsive Teaching adalah pendekatan pendidikan yang berfokus pada memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik tanpa memperhatikan perbedaan latar belakang budaya mereka7. Rahmawati menyatakan bahwa pendekatan CRT adalah usaha mengintegrasikan budaya kedalam pembelajaran dengan menghubungkan materi pelajaran serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap identitas budaya yang dimiliki8. Selaini itu menurut Sulastri pendekatan CRT adalah metode yang dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna dengan mengaitkan budaya peserta didik ke dalam konteks pembelajaran 9. Berdasarkan definisi tersebut maka pendekatan CRT adalah kegiatan pembelajaran yang menekankan kesetaraan pendidikan dengan mengintegrasikan budaya peserta didik ke dalam konteks pembelajaran yang membuat materi pelajaran lebih relevan dengan kehidupan seharihari siswa, sehingga meningkatkan keterlibatan mereka. Unsur-Unsur Intrinsik Cerita Nurgiyantoro menyatakan bahwa unsur intrinsik cerita adalah elemen-elemen yang membentuk dan menyusun sebuah karya sastra, menjadikannya sebagai sebuah karya yang lengkap dan utuh1 . Ketika seseorang membaca sebuah karya 0sastra, mereka Khasanah. Nuroso. , & Pramasdyahsari. Efektivitas Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II Sekolah Dasar. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial. Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 3, 1121Ae 1127 Rahmawati. Yuli. Ridwan. Achmad. Empowering Students' Chemistry Learning: The Integration Of Ethnochemistry In Culturally Responsive Teaching. Bulgarian Journal of Science Education. Sulastri. Setiyawan. , & Widyaningrum. Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Dengan Menerapkan Pendekatan Culturally Responsive Teaching ( CRT ) Pada Siswa Kelas IV SDN Jajartunggal 3 Surabaya. Nurgiyantoro. Burhan. Penilaian Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. akan langsung berhadapan dengan unsur-unsur yang membentuk cerita tersebut. Unsurunsur intrinsik seperti tema, latar, tokoh, penokohan, alur, dan amanat secara langsung berperan dalam membangun struktur cerita. Kesatuan dan kepaduan antara unsur-unsur ini adalah kunci dalam menciptakan sebuah karya sastra yang utuh. Menurut KBBI kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan. Kemampuan setiap individu merupakan kapasitas dari individu dalam mengerjakan berbagai tugas yang dimiliki. Sehingga kemampuan adalah kesanggunapan atau kecakapan individu saat menggunakan pengetahuannya untuk mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Sehingga kemampuan pada penelitia ini adalah adalah kemampuan dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Relevansi pendekatan CRT dalam meningkatkan kemampuan identifikasi unsur intrinsik cerita Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) memiliki relevansi yang kuat dalam meningkatkan kemampuan identifikasi unsur intrinsik cerita pada siswa, khususnya di tingkat SD. Arifin & Nurhayati menemukan bahwa CRT mampu meningkatkan kemampuan analisis siswa dalam membaca dan memahami cerita melalui penggunaan konteks budaya yang dikenal siswa1 . Dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan lingkungan sosial dan budaya siswa, keterampilan berpikir kritis mereka dalam memahami elemen-elemen cerita menjadi lebih terasah. Hal ini membantu siswa merasa lebih terhubung dengan materi yang diajarkan, termasuk dalam memahami unsur intrinsik cerita seperti tema, tokoh, latar, alur, dan amanat. Nurkumalasari menyatakan bahwa penerapan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) di sekolah dasar dapat meningkatkan hasil belajar siswa1 . Hal ini karena pendekatan tersebut mendorong siswa untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan karakteristik budaya dan kehidupan sehari-hari mereka, sehingga membuat proses pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna. Arifin. , & Nurhayati. Implementasi Pembelajaran Responsif Budaya dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menganalisis Unsur Intrinsik Cerita di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia, 12. , 220-230. Nurkumalasari. Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Dengan Pendekatan Culturally Responsive Teaching Model Problem Based Learning Pada Kelas II SD. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan di kelas V-C SDN Pakis V Surabaya dengan menerapkan pendekatan culturally responsive teaching (CRT) sebanyak dua siklus yang berfokus pada kegiatan pra siklus, proses pembelajaran, dan hasil kemampuan dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi hal-hal berikut: Gambar 1. Diagram batang KKTP pra siklus . ata awa. Pada gambar diatas diperoleh hasil tes evaluasi dari 30 peserta didik yakni dalam kategori mampu secara mandiri sebesar 0% atau peserta didik belum ada yang masuk dalam kategori mampu secara mandiri dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita, selanjutnya terdapat 23% atau 7 orang masuk kategori mampu namun perlu pendampingan dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita, sebanyak 67% atau 20 peserta didik yang termasuk dalam kategori mulai mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita, serta ada 10% atau 3 peserta didik yang termasuk dalam kategori belum mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Dari data pra-siklus hanya 23% peserta didik yang mendapatkan nilai diatas 75, hasil tersebut menjadi dasar untuk kegiatan pembelajaran siklus pertama, yang hasil pra-siklus tersebut menjadi dasar untuk pelaksanaan siklus pertama. Gambar 2. Diagram batang KKTP siklus pertama dengan pendekatan CRT. Pada gambar diatas diperoleh hasil kategori dari 30 peserta didik terdapat 23% 7 peserta peserta didik yang masuk kategori mampu secara mandiri mengidentifikasi unsur intrinsik cerita data tersebut naik sebanyak 23% dari data awal yang masih 0% atau belum ada peserta didik mampu secara mandiri mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Pada kategori mampu namun perlu pendampingan dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita tedapat kenaikan sebesar 17% dari data awal hanya 23% atau 7 orang yang masuk kategori mampu namun perlu pendampingan menjadi 40% atau 12 orang yang mampu namun perlu pendampingan dalam mengidentifikasi unsur intrinsik Pada kategori mulai mampu dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita tedapat penurunan sebesar 30% dari data awal hanya 67% atau 20 orang yang masuk kategori mulai mampu menjadi 37% atau 11 orang yang mulai mampu dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Berdasarkan data tersebut terdapat penurunan jumlah peserta didik dikategori mulai mampu dalam mengidentifikasi unsur ceritanya yang kemampuannya meningkat setelah dilakukan tindakan sehingga masuk kedalam kategori mampu namun perlu pendampingan. Pada kategori belum mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita terjadi penurunan yang awalnya terdapat 10% peserta didik yang termasuk dalam kategori tersebut, namun setelah dilakukan tindakan dikelas kemampuan peserta didik meningkat sehingga 0% atau peserta didik tidak ada yang termasuk dalam kategori belum mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Berdasarakan hasil siklus pertama hanya 63% peserta didik yang mendapatkan nilai diatas 75, sehingga peneliti memutuskan untuk melakukan tindakan pembelajaran disiklus kedua dengan harapan peserta didik yang mendapatkan nilai diatas 75 diatas 70% dari seluruh peserta didik dikelas. Gambar 3. Diagram batang kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran siklus kedua dengan pendekatan CRT. Pada gambar diatas diperoleh dari 30 peserta didik yang termasuk dalam kategori mampu secara mandiri dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita yakni ada kenaikan sebesar 27% dari siklus pertama . % atau 7 oran. yang naik menjadi 50% atau 15 peserta didik yang masuk dalam kategori mampu secara mandiri dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Berdasarkan data tersebut terdapat kenaikan jumlah peserta didik sebanyak 8 orang yang setelah dilakukan tindakan kemampuannya meningkat sehingga masuk kedalam kategori mampu secara mandiri mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Pada kategori mampu namun perlu pendampingan dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita tedapat penurunan sebesar 3% dari siklus pertama . % atau 12 oran. menjadi 37% atau 11 orang yang masuk kategori mampu namun perlu pendampingan dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Berdasarkan data tersebut terdapat penurunan jumlah peserta didik sebanyak 1 orang dikategori mampu namun perlu pendampingan dalam mengidentifikasi unsur cerita yang kemampuannya meningkat setelah dilakukan tindakan sehingga masuk kedalam kategori mampu secara Pada kategori mulai mampu dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita tedapat penurunan sebesar 24% dari siklus pertama . % atau 11 oran. menjadi 13% atau 4 orang yang masuk kategori mulai mampu dalam mengidentifikasi unsur intrinsik Berdasarkan data tersebut terdapat penurunan jumlah peserta didik sebanyak 7 orang dikategori mulai mampu dalam mengidentifikasi unsur cerita yang kemampuannya meningkat setelah dilakukan tindakan sehingga masuk kedalam kategori mampu namun perlu pendampingan. Pada kategori belum mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita tidak ada perubahan data dari siklus pertama sehingga tetap sebanyak 0% atau tidak ada peserta didik yang termasuk dalam kategori belum mampu mengidentifikasi unsur intrinsik Berdasarkan hasil siklus kedua menunjukkan adanya peningkatan jumlah siswa yang memperoleh nilai minimal 75 sebesar 24% dari siklus pertama sebesar 63% dan siklus kedua sebesar 87% atau dari 18 orang menjadi 26 yakni naik 8 peserta didik yang memiliki nilai minimal 75. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita meningkat melalui penerapan pendekatan culturally responsive teaching (CRT) selama proses pembelajaran, berdasarkan data dari tahap awal, siklus I, dan siklus II. Gambar 4. Grafik Ketuntasan penerapan pendekatan CRT Berdasarkan grafik tersebut, terlihat bahwa kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita meningkat dengan penerapan pendekatan culturally responsive teaching (CRT) di kelas V-C SDN Pakis V Surabaya. Pada tahap pra siklus terdapat 23% peserta didik masuk kategori mampu namun perlu pendampingan, kemudian naik pada siklus pertama menjadi 63% yang masuk kategori mampu namun perlu pendampingan dan mampu secara mandiri, dan naik pada siklus kedua yang mencapai 87% peserta didik yang masuk kategori mampu namun perlu pendampingan dan mampu secara mandiri dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Peningkatan tersebut diperoleh dari hasil penerapan pendekatan CRT saat proses pembelajaran dengan langkah-langkah yang sudah disesuaikan dengan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Hasil dari penerapan pendekatan CRT pada materi unsur intrinsik cerita yang proses pembelajarannya disajikan cerita rakyat dari daerah Jawa Timur khususnya Surabaya menunjukkan bahwa mampu meningkatkan kemampuan peserta didik mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Hasil dari penerapan pendekatan culturally responsive teaching (CRT) pada pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi unsur intrinsik cerita dikelas V-C SDN Pakis V Surabaya menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam mengenali unsur intrinsik cerita dengan meningkatnya presentase ketuntasan hasil belajar dan tuntasnya pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran culturally responsive teaching (CRT) mulai dari data awal, siklus I, dan siklus II. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan culturally responsive teaching (CRT) dalam proses pembelajaran efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Rahmawati menyatakan bahwa pendekatan CRT adalah usaha mengintegrasikan budaya kedalam pembelajaran dengan menghubungkan materi pelajaran serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap identitas budaya yang dimiliki. 1 Hal ini terlihat dari keterlibatan aktif siswa3dalam proses pembelajaran, yang berkontribusi pada peningkatan hasil ketuntasan belajarnya. Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil studi yang dilakukan oleh Nurkumalasari yang mengungkapkan bahwa penerapan pendekatan culturally responsive teaching (CRT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas II di SDN Sedati Gede 2 Sidoarjo1 . Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar 4 dari 31 siswa menunjukkan bahwa pada siklus 1, ketuntasan mencapai 87%, sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 90%. Sebelumnya, sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan, hasil belajar siswa hanya mencapai 65%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan CRT efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa di kelas II di SDN Sedati Gede 2 Sidoarjo. Pendekatan CRT pada sekolah dasar bisa meningkatkan hasil belajar, sebab pada proses belajarnya siswa diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan karakteristik budaya dan kehidupan sehari-hari mereka, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna. Serta didukung oleh penelitian yang dilakukan suastri yang menyatakan bahwa pendekatan CRT adalah metode yang dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna dengan mengaitkan budaya peserta didik ke dalam konteks pembelajaran. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan culturally responsive teaching (CRT) di kelas V-C SDN Pakis V Surabaya efektif dalam meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi unsur intrinsik cerita. Hal ini dikarenakan konten dalam pembelajaran yang disajikan menggunakan cerita rakyat yang sudah sering peserta didik dengar atau cerita yang sudah tidak asing lagi bari mereka, sehingga mampu memudahkan peserta didik dalam mengidentifikasi unsur intrinsik dalam sebuah cerita. Hasil penelitian ini dapat berdampak positif terdapat ketuntasan hasil belajar peserta didik karena jumlah peserta didik yang mampu mengidentifikasi unsur intrinsik cerita secara mandiri meningkat. Adapun hasil presentase meningkatnya kemampuan peserta didik mengidentifikasi unsur intrinsik cerita dimulai dari pra-siklus 23% dari 30 peserta didik, kemudian mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan disiklus pertama 63%, dan pada siklus kedua 87% yang dianggap menjadi hasil yang sangat baik. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa mengintegrasikan unsur budaya ke dalam materi pelajaran atau menggunakan pendekatan CRT dapat membantu Rahmawati. Yuli. Ridwan. Achmad. 3Empowering Students' Chemistry Learning: The Integration Of Ethnochemistry In Culturally Responsive Teaching. Bulgarian Journal of Science Education. Nurkumalasari. Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Dengan Pendekatan Culturally Responsive Teaching Model Problem Based Learning Pada Kelas II SD. Sulastri. Setiyawan. , & Widyaningrum,5 R. Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Dengan Menerapkan Pendekatan Culturally Responsive Teaching ( CRT ) Pada Siswa Kelas IV SDN Jajartunggal 3 Surabaya. peserta didik meningkatkan kemampuan mereka dalam mengidentifikasi unsur intrinsik DAFTAR PUSTAKA