Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa Dwi Arief1. Syifa Khoirunnisa2 1,2Pendidikan Sosiologi. Universitas Pendidikan Indonesia. Jalan Dr. Setiabudhi No. Bandung Email Coresponden: dwiarief@upi. Abstrak Hadirnya perkembangan teknologi digital di kehidupan masyarakat menyebabkan perubahan secara fundamental terjadi. Perubahan tersebut dikenal dengan istilah era disrupsi yang bukan hanya membawa dampak positif saja, melainkan dampak negatif juga. Salah satu dampak negatifnya alah beredar berita hoax yang dapat menimbulkan suatu pertentangan. Untuk mengatasi dampak negatif yang dimaksudkan maka memerlukan suatu kemampuan, yaitu kemampuan nalar kritis. Kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh seseorang seringkali berkaitan dengan minat baca. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengindetifikasi keterkaitan antara minat baca dengan nalar kritis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data statistic deskriptif dan inferensial melalui regresi linear sederhana. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Aktif Pendidikan Sosiologi. Universitas Pendidikan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rhitung sebesar 4,015 > ttabel sebesar 1,984. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa minat baca dapat memengaruhi kemampuan nalar kritis seseorang mahasiswa. Kata Kunci: Era disrupsi, minat baca, nalar kritis, mahasiswa Abstract The presence of developments in digital technology in people's lives causes fundamental changes to occur. This change is known as the era of disruption which not only brings positive impacts, but also negative One of the negative impacts is the circulation of hoax news which can cause conflict. To overcome the intended negative impacts requires an ability, namely the ability to think critically. A person's critical thinking skills are often related to interest in reading. The aim of this research is to identify the relationship between reading interest and critical reasoning. The data analysis technique used is descriptive and inferential statistical data analysis through simple linear regression. The population in this study were Active Sociology Education Students. Indonesian Education University. The research results show that rcount is 4. 015 > ttable is 1. Thus, it can be concluded that interest in reading can influence a student's critical reasoning abilities. Keywords: Era of disruption, interest in reading, critical reasoning, students PENDAHULUAN Dewasa ini, era disrupsi telah masuk ke dalam kehidupan masyarakat yang ditandai dengan adanya perkembangan teknologi Hadirnya menyebabkan terjadinya berbagai bentuk perubahan secara fundamental (Ulfah et al. Teknologi digital berkaitan dengan intelligence sehingga membuat pekerjaan manusia dapat dilaksanakan dengan mudah, cepat, hemat dan efisien (Frieswaty et al. Ciri lain dari perkembangan teknologi digital ialah penyebaran informasi dengan mudah dan cepat diterima oleh masyarakat kapanpun dan dimanapun. Oleh karenanya, perkembangan teknologi digital terutama 151 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi media sosial menjadi salah satu faktor perubahan yang ada di kehidupan masyarakat (Tsaniyah, 2. Terlebih lagi, kehadiran teknologi digital memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari, salah satunya ialah berinteraksi melalui media Perubahan yang terjadi di kehidupan masyarakat disebut sebagai era disrupsi. Istilah era disrupsi memiliki arti sebagai suatu perubahan besar-besaran yang merambat terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat (Fikri, 2. Era disrupsi juga bercirikan sebagai revolusi dari era industri 4. 0 menuju era industri 5. 0 yang bertujuan untuk menjadikan manusia agar lebih dekat lagi dengan teknologi dalam menjalankan aktivitas Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . kehidupan sehari-hari (Musrafiyan, 2. Hal tersebut dibuktikan melalui keberadaan jenis pekerjaan dengan gaji tinggi ialah pekerjaan yang melibatkan teknologi digital seperti analisis data, editor, copy writing dan sejenisnya (Liliasari et al. , 2. Meskipun demikian, pekerjaan yang berkecimpung di perkembangan teknologi digital perlu memiliki kemampuan soft skill dan hard skill secara seimbang agar dapat menunjang suatu keberhasilan, salah satunya ialah kemampuan berpikir kritis. Pernyataan diatas secara langsung menegaskan keterkaitan dampak era disrupsi dengan dunia pendidikan (Salsabila, 2. Pada dasarnya, pendidikan memegang peranan penting dalam melahirkan lulusan yang memiliki kualifikasi di berbagai bidang Namun di era sekarang, pendidikan juga harus ikut memikirkan keterlibatan para akademisi di ruang publik dengan wawasan yang luas, analisis yang tajam serta pemikiran yang kritis sehingga mampu menyelesaikan berbagai masalah (Giroux, 2. Hal tersebut dimaksudkan agar para lembaga pendidikan kemampuan nalar kritis pelajar termasuk Menurut Hashemi yang dikutip oleh Marlina . bahwa berpikir kritis dapat melatih mahasiswa agar berpikir rasional sehingga mampu memberikan berbagai bentuk kontribusi di kehidupan masyarakat. Bukan hanya itu, di era disrupsi seringkali terjadinya permasalahan melalui teknologi digital yang merupakan suatu hal lumrah bagi mahasiswa (Naufal, 2. Sebagai contoh kasusnya, banyak beredar berita hoax di kalangan pelajar Indonesia sehingga menimbulkan suatu pertentangan (Suharyanto, 2. Dari kasus tersebut dapat diketahui bahwa nalar kritis menjadi keterampilan yang sangat penting untuk Pasalnya, keterampilan nalar kritis dapat membuat seseorang memilah-milih dan mengindentifikasi terkait kebenaran sebuah informasi yang beredar di teknologi digital. Kemampuan nalar kritis yang dimiliki oleh mahasiswa berkesinambungan dengan intelligence quotient (IQ). Menurut Jannah . bahwa mahasiswa yang memiliki memecahkan berbagai masalah. Nalar kritis juga dikenali sebagai level berpikir paling tinggi diantara tingkatan berpikir reflektif dan kreatif (Marlina, 2. Adapun tingkat IQ di Indonesia sendiri berada di angka 78,49 sehingga menempati posisi ke 130 dari 190 Pernyataan tersebut sesuai dengan data dari World Population Review (Aisyah, 2. Di era disrupsi dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang diberikan oleh mahasiswa sebagai generasi bangsa untuk senantiasa berpikir dan bertindak secara Hal ini selaras dengan pernyataan dari Sunaryo . bahwa kemampuan berpikir kritis ialah sebuah proses untuk menghadapi berbagai persoalan yang ada secara rasional. Oleh karenanya, berpikir dan bertindak secara rasional dapat dipahami sebagai bagian dari kemampuan nalar kritis. Selain itu, kemampuan nalar kritis mahasiswa seringkali dikaitkan dengan minat membaca yang dianggap dapat menentukan kualitas seseorang dalam berwawasan bahkan berpikir (Roshayanti, 2. Hal ini dikarenakan, membaca dapat melatih kemampuan nalar kritis seseorang dalam memahami makna ataupun arti yang tersirat dalam sumber bacaan (Restuningsih et al. , 2. Mengenai pernyataan tersebut. Yuono . menyatakan bahwa kemampuan 152 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . berpikir seorang mahasiswa tergantung dengan Namun kenyataannya, membaca merupakan persoalan yang terdapat dalam dunia pendidikan Indonesia. Adanya persoalan tersebut, membuat mengidentifikasi keterkaitan antara minat baca terhadap kemampuan nalar kritis mahasiswa. Yang kemudian dapat dijadikan sebagai novelty penelitian yaitu memberikan wawasan dan pengetahuan terbaru bagi para pembaca serta dapat dijadikan motivasi bagi para mahasiswa Indonesia dalam mengembangkan kemampuan nalar kritis. Penelitian ini dilakukan di kota Bandung yang merupakan kota terbesar ketiga di negara Indonesia sehingga mempunyai berbagai lembaga pendidikan universitas, salah satunya adalah Universitas Pendidikan Indonesia. Selain itu, kota Bandung juga masih mempunyai permasalahan dalam aspek pendidikan yaitu kemampuan nalar kritis yang dimiliki oleh (Wahyudi. Dengan demikian, penelitian ini memiliki pembeda dengan penelitian lainnya yang terletak dalam rumusan masalahnya yaitu apakah terdapat keterkaitan faktor minat baca terhadap nalar kritis mahasiswa Pendidikan Sosiologi UPI. Terlebih lagi, penelitian ini menggunakan teori belajar Connectionisme yang memiliki ciri sebagai pembelajaran Trial and error sebagai landasan dalam penyusunan instrumen penelitian dan juga sebagai alat dalam menganalisis data (Hariyanto, 2. METODE Metode Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat explanatory-research. Hal tersebut bertujuan untuk menjelaskan posisi variabel penelitian dan pengaruh antara satu variabel dengan variabel lainnya (Sugiyono, 2. Variabel-variabel yang telah ditetapkan oleh peneliti ialah variabel Minat baca (X) dan variabel Nalar kritis (Y) sehingga dapat digunakan untuk mengetahui kejelasan mengenai kedudukannya. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik analisis data statistik deskriptif guna mengukur posisi variabel X dan Y secara sistematis. Metode ini digunakan untuk menggambarkan sebuah data yang telah diteliti (Ferdinand, 2. Selain itu, peneliti juga menggunakan metode teknik analisis data statistik inferensial melalui regresi linear sederhana sebagai alat penguji keterkaitan antara variabel X dengan variabel Y (Trianggana, 2. Dengan demikian, variabel minat baca (X) dengan variabel nalar kritis (Y) dapat diukur mengenai keterkaitan antara satu sama lain. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket melalui fitur google form yang disebarkan kepada populasi dengan teknik random sampling. Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mahasiswa aktif Pendidikan Sosiologi. Universitas Pendidikan Indonesia, kota Bandung. Jawa Barat. Populasi tersebut diasumsikan memiliki kriteria yang selaras dengan kajian penelitian. Sebab, mempunyai kriteria yang sesuai dengan logos penelitian, terlebih lagi mahasiswa Pendidikan Sosiologi seringkali berkiprah di lingkungan Selain itu juga, peneliti mengkategorikan identitas responden ke dalam jenis kelamin . aki-laki dan perempua. , usia . -20 tahun, 21-23 tahun dan 23-25 tahu. dan angkatan . 1, 2022, 2023 dan 2. Adapun penentuan ukuran sampel dari populasi dalam penelitian ini melalui perhitungan rumus Lemeshow . , yakni: 153 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa Gambar 1. Perhitungan ukuran sampel dari populasi (Lemeshow, 1. Keterangan rumus tersebut adalah sebagai berikut ini. n = Jumlah sampel Z = Nilai pada convidence interval 5% P = Probabilitas maksimal estimasi d = Alpha Adapun, perolehan dari perhitungan diatas, yakni. n = 1,962 x 0,5 . -0,. = 96 0,012 Hasil perhitungan tersebut, kemudian dibulatkan oleh peneliti dari angka 96 menjadi 100 responden guna meminimalisir terjadinya kemampuan generalisasi serta memudahkan dalam menganalisa data. Analisis data dalam penelitian ini Microsoft excel dan SPSS. Selain itu, peneliti telah melewati berbagai tahapan dalam keperluan menganalisis data, diantaranya: Pertama, pengujian item pertanyaan melalui person product moment dengan catatan, item dinilai valid apabila nilai rhitung > rtabel sebesar 0,361. Kedua, pengujian cronbach alpha pada 30 responden dengan ketentuan reliable sebesar 0,50. Ketiga, pengujian normalitas dengan tujuan untuk mengetahui kewajaran distribusi data melalui teknik KolmogorovSmirnov. Pada terjadinya kesalahan, sebab sampel yang digunakan berjumlah 100 responden. Hal ini dilandasi karena adanya kondisi yang tidak normal dan lebih cenderung bersifat konservatif (Zahediasi, 2. Tahapan akhir, 154 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . peneliti melakukan uji linearitas dengan tujuan untuk mengetahui hubungan linear antara variabel X dan Y melalui rumus deviation from linearity, sehingga instrumen penelitian dapat digunakan dalam mencari data terkait kebutuhan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Pengkategorian karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup jenis kelamin, usia dan angkatan. Hal tersebut bertujuan agar populasi yang ada dapat berpartisipasi dalam penelitian ini. Terlebih lagi, penelitian ini menggunakan teknik random sampling dalam pengumpulan data. Adapun karakteristik responden dipaparkan dalam tabel 1, 2 dan 3. Tabel 1. Jenis kelamin responden Jenis Kelamin Laki-laki Jumlah Responden Persentase (%) Perempuan Jumlah Sumber: Data primer peneliti . Tabel 2. Usia responden Usia 18-20 tahun Jumlah Responden Persentase (%) 21-23 tahun 23-25 tahun Jumlah Sumber: Data primer peneliti . Berdasarkan pemaparan tabel 1 dapat diketahui sebagian besar responden ialah berjenis kelamin perempuan dengan persentase Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa sebesar 75% dan sisanya, berjenis kelamin laki-laki dengan persentase 25%. Hal tersebut dikarenakan, program studi Pendidikan Sosiologi. Universitas Pendidikan Indonesia mayoritas mahasiswanya ialah perempuan. Pada tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas usia responden adalah 18-20 tahun dengan persentase sebesar 90%, yang kemudian disusul dengan usia responden 21-23 tahun dengan persentase 7% dan sisanya, berusia 2325 tahun dengan persentase sebesar 3%. Tabel 3. Angkatan responden Angkatan Jumlah Persentase Responden (%) Jumlah Sumber: Data primer peneliti . Tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata angkatan yang berpartisipasi dalam penelitian ini terdiri dari empat angkatan, yaitu. angkatan 2021 dengan persentase sebesar 4%. angkatan 2022 dengan persentase sebesar . angkatan 2023 dengan persentase sebesar 6% dan . angkatan 2024 dengan persentase sebesar 54%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mayoritas angkatan responden adalah angkatan 2023. Analisis Data Statistik Deskriptif Tahapan ini dilakukan agar dapat mendeskripsikan terkait posisi dan keterkaitan antara variabel satu dengan variabel lainnya. Analisis deskriptif ini disajikan dalam bentuk rata-rata dan standar deviasi berdasarkan data yang telah diperoleh. Adapun hasil perhitungannya tertera dalam tabel 4 dan 5. 155 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . Tabel 4. Deskripsi variabel X Variabel Minat baca Mean Std. (X) Deviation Menyimpulkan pendapat orang lain 3,13 0,503 Menyampaikan hasil 3,27 0,548 analisa terkait topik Membaca membuat 3,13 0,503 kualitas berpikir saya Membaca 3,03 0,520 lingkungan sekitar Sumber: Data primer diolah peneliti . Berdasarkan pemaparan tabel 4 diatas, menunjukkan bahwa empat indikator variabel X memperoleh beberapa rata-rata dan standar deviasi, yaitu: . Menyimpulkan pendapat orang lain dengan rata-rata sebesar 3,13 dan 0,503. Menyampaikan hasil analisa saya terkait topik diskusi dengan rata-rata sebesar 3,27 dan standar deviasi 0,548. Membaca membuat kualitas berpikir saya berkembang dengan rata-rata sebesar 3,13 dan standar deviasi 0,503. Membaca memberikan pemahaman baru yang ada di lingkungan sekitar dengan rata-rata sebesar 3,03 dan standar deviasi sebesar 0,520. Tabel 5. Deskripsi variabel Y Variabel Nalar kritis Mean Std. (Y) Deviation Berpendapat yang terjadi Mencari 2,95 0,565 3,02 0,390 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa Memikirkan solusi 3,00 0,552 sesuai dengan faktor Peduli terhadap 2,75 0,541 lingkungan sekitar Menyampaikan solusi 3,07 0,607 penyelesaian masalah Bertindak secara 3,42 0,530 Menyampaikan 3,18 0,469 pertanyaan terkait hal yang tidak dimengerti Menjawab dari setiap 2,98 0,504 pertanyaan yang ada Berbicara ketika 3,47 0,566 Menerima pendapat 3,38 0,524 orang lain Sumber: Data primer diolah peneliti . Paparan tabel 5 menunjukkan bahwa sepuluh indikator variabel Y memperoleh berbagai rata-rata dan standar deviasi, . Berpendapat mengenai masalah yang terjadi dengan rata-rata sebesar 2,95 dan standar deviasi sebesar 0,565. Mencari faktor penyebab dari permasalahan yang terjadi dengan rata-rata sebesar 3,02 dan standar deviasi sebesar 0,390. Memikirkan solusi pemecah masalah sesuai dengan faktor penyebabnya dengan rata-rata sebesar 3,00 dan standar deviasi sebesar 0,552. Peduli terhadap permasalahan di lingkungan sekitar dengan rata-rata sebesar 2,75 dan standar deviasi sebesar 0,541. Menyampaikan solusi penyelesaian masalah dengan rata-rata sebesar 3,07 dan standar deviasi sebesar 0,607. Bertindak secara rasional 156 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . menyelesaikan masalah dengan rata-rata sebesar 3,42 dan standar deviasi sebesar 0,530. Menyampaikan pertanyaan terkait hal yang tidak dimengerti dengan rata-rata sebesar 3,18 dan standar deviasi sebesar 0,469. Menjawab dari setiap pertanyaan yang ada dengan rata-rata sebesar 2,98 dan standar deviasi sebesar 0,504. Berbicara ketika diminta untuk berpendapat dengan rata-rata sebesar 3,47 dan standar deviasi sebesar 0,566. Menerima pendapat orang lain dengan rata-rata sebesar 3,38 dan standar deviasi sebesar 0,524. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel minat baca dapat memengaruhi terhadap kemampuan nalar kritis seseorang dalam menjalani kehidupan seharihari. Analisis Data Statistik Inferensial Biasanya, langkah pertama dari analisis tersebut adalah tahap uji normalitas. Hal tersebut dilakukan agar dapat mengetahui keterangan data yang diperoleh dari sampel itu bersifat normal atau tidak. Terlebih lagi, uji normalitas menjadi tahapan penting dalam menguji hipotesis bahkan menarik kesimpulan di sebuah penelitian (Yusri, 2. Mengenai pernyataan tersebut, peneliti telah melakukan uji normalitas melalui teknik kolmogorovSmirnov dilakukannya tahapan uji regresi linear Adapun hasil dari perhitungannya tertuang dalam tabel 6 dan 7. Tabel 6. Hasil uji normalitas Keterangan Minat Baca (X) Nalar Kritis (Y) Test Statictic 0,255 0,197 Asymp. Sig. 0,150 0,150 -Taile. Sumber: Data primer diolah peneliti . Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . Adapun kriteria yang berlaku dalam penelitian ini adalah apabila nilai p. diperoleh > yu, maka sampel yang berasal dari populasi dapat dikatakan sebagai distribusi Begitupun sebaliknya, apabila nilai yang diperoleh < yu, maka sampel yang berasal dari populasi dapat dikatakan sebagai distribusi tidak normal. Untuk nilai taraf signifikan sendiri sebesar 0,05. Berdasarkan pemaparan tabel 6, menunjukkan bahwa variabel minat baca memperoleh angka sebesar 0,255 > 0,05. Sedangkan, untuk variabel nalar kritis memperoleh angka sebesar 0,150 > 0,05. Dengan demikian, dapat dikatakan baik itu variabel X ataupun Y memperoleh keterangan normal. Adanya hasil perhitungan uji normalitas yang menunjukkan kedua variabel normal, berarti tahapan uji regresi linear sederhana dapat dilakukan. Adapun hasil perhitungannya tertera pada Tabel 7. Koefisien regresi dan uji T Std. Standar F Sig Error Coeffic Beta Nalar 7,7 ,000 Kritis Minat ,848 ,211 ,466 4,0 ,000 Baca Sumber: Data primer diolah peneliti . Berdasarkan data tersebut, interpretasi koefisien regresi menunjukkan nilai constant sebesar 20,566 dan minat baca sebesar 0,848. Oleh karenanya, model regresi tersebut adalah Y= 20,566 0,848x. Dengan demikian, dapat disimpulkan apabila minat baca sebesar 0 maka nalar kritis meningkat sebesar 20,566. Kemudian, setiap peningkatan minat baca sebesar satu-satuan akan menyebabkan meningkatnya nalar kritis sebesar 0,848. Tabel tersebut juga menunjukkan nilai signifikansi uji-t sebesar 0,000. Sedangkan, thitung = 4,015. Lebih lanjut, untuk ttabel t-uji taraf signifikansi yang diberlakukan adalah sebesar 0,05 dengan derajat kebebasan . = n Ae k = . = 100-2. Hingga akhirnya, ttabel memiliki nilai sebesar 1,984 yang digunakan untuk tahapan selanjutnya yaitu pengujian nilai thitung dan . Apabila thitung < ttabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak . Apabila thitung > ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima Adapun kriteria pengujian tersebut ialah 4,015 > 1,984 yang berarti H0 ditolak dan Ha Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara Minat baca dengan Nalar kritis pada Mahasiswa Pendidikan Sosiologi. Universitas Pendidikan Indonesia. Keterkaitan Minat Baca Terhadap Nalar Kritis Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UPI Mahasiswa seringkali dipandang oleh masyarakat sebagai seseorang yang memegang poros utama dalam suatu perubahan. Namun, di era disrupsi mahasiswa dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang tidak lazim. Karena, permasalahan tersebut berasal dari media teknologi digital yang tidak terbatas, salah satunya adalah beredarnya berita hoax melalui media digital (Suadnyana, 2. Salah satu upaya yang dapat digunakan dalam menghadapi berita hoax ialah bernalar kritis (Suharyanto, 2. Artinya setiap informasi yang beredar, perlu terlebih dahulu disaring dan dianalisis terkait kebenarannya. Maka tidak jarang, seseorang yang menaruh minat membaca dapat dengan mudah menganalisis akan kebenaran dari sebuah informasi (Restuningsih et al. , 2. Sebagaimana mestinya, nalar kritis sangat perlu dimiliki oleh seluruh kalangan 157 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . masyarakat, namun yang menjadi titik perhatiannya adalah para pelajar termasuk Hingga akhirnya, tak jarang mahasiswa menaruh minat dalam membaca sebagai alternatif dalam menggali sebuah ilmu Secara tidak langsung, minat baca dapat memengaruhi terhadap kemampuan nalar kritis Hal ini serupa dengan pendapat Restuningsih . bahwa minat baca dapat menumbuhkan keterampilan nalar kritis seseorang dalam menjalani berbagai aktivitas Seperti seseorang yang memiliki minat baca tinggi cenderung mampu berpendapat dan bertindak secara logis serta memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat di depan umum. Berbeda dengan seseorang yang kurang menaruh minat dalam membaca lebih cenderung untuk berdiam diri ketika terjadi suatu permasalahan di lingkungan sekitarnya (Yuono, 2. Pernyataan tersebut juga selaras dengan hasil penelitian bahwa minat baca dapat memengaruhi terhadap nalar kritis mahasiswa Pendidikan Sosiologi. UPI. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil uji T yang menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan kriteria uji thitung sebesar 4,015 > ttabel sebesar 1,984. Bukan tanpa alasan, mahasiswa Pendidikan Sosiologi. UPI menaruh minat membaca agar dapat memiliki kemampuan nalar kritis. Yang berarti mahasiswa Pendidikan Sosiologi memerlukan berbagai kemampuan agar dapat menyesuaikan dan menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat. Mengenai persoalan minat baca memengaruhi terhadap nalar kritis mahasiswa Pendidikan Sosiologi. UPI terdapat teori belajar yang relevan yaitu teori connectionisme trial and error. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Edward lee Thorndike yang beranggapan pembelajaran perlu dilakukan dua hal yaitu stimulus dan respon (Firliani et al. , 2. Terlebih lagi, teori ini berpacu terhadap sebuah buku yang ia tulis dengan judul AuAnimal intelligence an experimental study of association process in animalAy bahwa hal pertama kali dalam belajar ialah melalui cara mencoba dan mengulang atau biasa disebut dengan istilah trial and error (Hanafy, 2. Teori ini didasarkan dengan adanya eksperimen melalui hewan kucing dalam memahami sebuah fenomena belajar. Dalam konteks ini. Trorndike berasumsi bahwa seekor kucing tersebut sedang berupaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Pratama. Oleh karenanya, hal tersebut selaras dengan proses belajar yaitu perlu adanya stimulus dan respon. Lebih lanjut teori ini memandang bahwa organisme termasuk manusia sebagai mekanismus dapat bergerak atau bertindak ketika dihadapkan dengan suatu hal yang dapat memberikan rangsangan (Rusuli, 2. Dalam kegiatan belajar teori ini sangat relevan untuk mengembangkan keterampilan nalar kritis mahasiswa. Terlebih mengembangkan potensi dalam diri yang sesuai dengan perkembangan zaman (Firliani et al. , 2. Dengan demikian, teori ini dapat dikatakan selaras dengan persoalan minat baca terhadap kemampuan nalar kritis. Pasalnya, di era disrupsi secara tidak langsung memberikan rangsangan terhadap mahasiswa Pendidikan Sosiologi untuk menaruh minat baca guna meningkatkan kemampuan nalar kritis dalam menghadapi permasalahan yang ada. Terlebih lagi, mahasiswa Pendidikan Sosiologi seringkali berkiprah secara langsung di masyarakat dengan berbagai permasalahan. 158 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Nalar Kritis dan Minat Baca di Era Disrupsi Pada Mahasiswa ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . Mengenai pernyataan tersebut, berkaitan dengan indikator variabel X dan Y yang memperoleh angka rata-rata dan standar deviasi tinggi, yakni menyampaikan hasil analisa terkait topik diskusi dan berbicara ketika diminta untuk berpendapat. Hal tersebut memiliki keterkaitan dengan konsep yang ada dalam teori trial and error. Tepatnya, ketika seseorang mahasiswa diberikan stimulus untuk menanggapi suatu hal yang dibahas. Mahasiswa Pendidikan Sosiologi. UPI seringkali dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan masyarakat yang merupakan bentuk dari stimulus dan tanggapan adalah bentuk dari respon. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis, temuan dan pembahasan yang telah disajikan dapat ditarik kesimpulan, diantaranya: Pertama, tingkat minat baca pada diri mahasiswa Pendidikan Sosiologi. Universitas Pendidikan Indonesia telah diuraikan ke dalam dua indikator yaitu variabel minat baca dengan persentase sebesar 0,255 dan variabel nalar kritis dengan persentase sebesar 0,197. Yang artinya kedua variabel tersebut teruji akan kenormalannya. Kedua, terdapat pengaruh minat baca terhadap nala kritis Mahasiswa Pendidikan Sosiologi. Universitas Pendidikan Indonesia yang telah diuji melalui thitung sebesar 4,015 > ttabel sebesar 1,984. Hal tersebut didasari dengan adanya berbagai permasalahan yang ada di era disrupsi membuat mahasiswa Pendidikan Sosiologi. UPI Terlebih lagi mahasiswa Pendidikan Sosiologi. UPI berkiprah secara langsung di kehidupan Selain itu, mahasiswa Pendidikan Sosiologi. UPI memiliki fokus kajian keilmuannya yang terletak pada kehidupan masyarakat baik itu fenomena ataupun Hingga tak jarang, berbagai persoalan yang ada di kehidupan masyarakat dapat dijadikan sebagai landasan dari teori connectionisme trial. Sedangkan, berbagai upaya yang ditujukan dalam menghadapi persoalan tersebut adalah bentuk dari teori connectionisme error. Yang berarti persoalan mengenai minat baca memengaruhi terhadap nalar kritis mahasiswa Pendidikan Sosiologi memiliki relevansi dengan kajian teori connectionisme trial and error yang dikemukakan oleh Edward lee Thorndike. Kemampuan nalar kritis sangat penting dimiliki oleh mahasiswa tanpa terkecuali agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan Meskipun era disrupsi dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat. Tidak jarang, permasalahan yang terjadi saat ini bersumber dari informasi yang beredar di media digital. Dengan demikian, kemampuan nalar kritis sangat diperlukan dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada di era disrupsi. Peneliti juga menyarankan untuk penelitian selanjutnya ialah membahas mengenai implementasi kemampuan nalar kritis dalam mengatasi permasalahan di era 159 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 DAFTAR PUSTAKA