Oscar Ari Wiryansyah ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB EFUSI PLEURA DI RUMAH SAKIT PUSRI PALEMBANG TAHUN 2017 Oscar Ari Wiryansyah Program Studi S1 Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang. Komplek Kenten Permai Blok J No 9-12 Bukit Sangkal Palembang 30114 Email : oscarariwiryansyah@gmail. Abstrak Menurut WHO memperkirakan 20% penduduk kota dunia pernah menghirup udara kotor akibat emisi kendaraan bermotor, sehingga banyak penduduk yang berisiko tinggi penyakit paru dan saluran pernafasan seperti efusi pleura. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor penyebab efusi pleura. Ruang lingkup penelitian ini ditujukan pada responden yang di rawat Rumah Sakit Pusri Palembang. Sampel penelitian ini adalah sebagian pasien yang dirawat di Rumah Sakit Pusri Palembang tahun 2017 yang berjumlah 55 responden. Dalam penelitian ini sampel penelitian akan diambil dengan menggunakan teknik retrospektif yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria atau pertimbangan yang peneliti buat sendiri. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara umur dengan kejadian efusi pleura. dengan nilai p value = 0,008. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian efusi pleura dengan nilai p value = 0,007. Ada hubungan antara riwayat tuberculosis dengan kejadian efusi pleura. dengan nilai p value = 0,000. Diharapkan agar petugas kesehatan dapat meningkatkan pelaksanaan penyuluhan dan konseling mengenai penyakit efusi pleura, serta dapat meningkatkan standar pelayanan kesehatan sehingga dapat menghindari sedini mungkin penyakit efusi pleura. Kata Kunci : Efusi Pleura. Umur. Jenis Kelamin. Riwayat Tuberkulosis Abstract According to WHO estimates, 20% of the world's population inhaled polluted air by emitting motorized vehicles, leaving many residents at high risk for lung and respiratory diseases such as pleural The aim of this study was to determine the factors that cause pleural effusion. The scope of this study was addressed to respondents who were treated by Palembang Pusri Hospital. The sample of this study was a few patients treated at the Palembang Pusri Hospital in 2017, which corresponded to 55 In this study, the research sample is taken using a retrospective method, ie criteria or considerations that the researchers themselves undertake. From the results of the study, it was found that there was an association between the age and frequency of pleural effusion with a p-value = 0. There is a correlation between gender and the incidence of pleural effusion with a p-value = 0. There is an association between tuberculosis history and the incidence of pleural effusion with a p-value of 0. Health workers are expected to improve the implementation of advice and advice on pleural effusions and to improve health care standards to avoid the pleural effusion disease as early as possible. Keywords: Pleural Effusion. Age. Gender. History of Tuberculosis Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah PENDAHULUAN Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2014, efusi pleura merupakan suatu gejala penyakit yang dapat mengancam jiwa penderitanya. Secara geografis penyakit ini terdapat diseluruh dunia, bahkan menjadi problema utama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. negara-negara industri, diperkirakan terdapat 320 kasus efusi pleura per 100. 000 orang. Amerika Serikat melaporkan 1,3 juta orang setiap tahunnya menderita efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung kongestif dan pneumonia bakteri. Kasus efusi pleura mencapai 2,7 % dari penyakit infeksi saluran napas lainnya. WHO memperkirakan 20% penduduk kota dunia pernah menghirup udara kotor akibat emisi kendaraan bermotor, sehingga banyak penduduk yang berisiko tinggi penyakit paru dan saluran pernafasan seperti efusi pleura (Kemenkes, 2. Sedangkan etiologi tersering adalah tuberkulosis . ,2%) diikuti tumor paru . ,4%). Ada lebih dari 55 penyebab efusi pleura yang telah dicatat. Sedangkan insidensi berdasarkan penyebabnya sendiri bervariasi bergantung dari area demografik serta geografisnya. Menilai jenis efusi pleura, apakah transudat atau eksudat merupakan langkah awal yang penting dalam menentukan etiologi efusi pleura itu sendiri. Meskipun pemeriksaan klinis dan radiologis dapat memberikan petunjuk tentang etiologi efusi pleura, namun kebanyakan kasus perlu dievaluasi dengan torasentesis. Suatu memungkinkan dilakukan torasentesis adalah jika efusi yang didapati jumlahnya terlalu sedikit untuk diaspirasi . etebalannya <10 mm pada pemeriksaan USG . atau pemeriksaan foto toraks lateral dekubitu. atau jika efusi pleura yang disebabkan oleh gagal jantung kongestif . erutama jika efusi bilateral dan mengalami pembedahan abdominal dan riwayat post Namun begitupun, torasentesis dapat juga diindikasikan pada keadaan- keadaan diatas jika pasien mengalami perburukan (Kemenkes, 2. Akibat lanjut pada pasien efusi pleura jika tidak ditangani dengan Water Sealed Drainage (WSD) akan terjadi atalektasis pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura, fibrosis paru dimana keadaan patologis terdapat jaringan ikat paru dalam jumlah yang berlebihan, empiema dimana terdapat kumpulan nanah dalam rongga antara paru-paru . ongga pleur. , dan kolaps paru (Headher, 2. Menurut data dari medical record Rumah Sakit Pusri Palembang bahwa jumlah penderita efusi pleura pada tahun 2015 ada 41 orang dari 371 pasien rawat inap, pada tahun 2016 ada 38 orang dari 308 pasien rawat inap, pada tahun 2017 ada 39 orang yang menderita efusi pleura dari 337 pasien rawat inap (Medical Record Pusri Palembang, 2. Tingginya angka kejadian efusi pleura di rumah sakit tersebut membuat peneliti ingin mengetahui lebih lanjut dari METODE PENELITIAN Ruang ditujukan pada responden yang di rawat Rumah Sakit Pusri Palembang. Sampel penelitian ini adalah sebagian pasien yang dirawat di Rumah Sakit Pusri Palembang tahun 2017 yang berjumlah 55 responden. Dalam penelitian ini sampel penelitian akan diambil dengan menggunakan teknik retrospektif yaitu pengambilan sampel Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah berdasarkan kriteria atau pertimbangan yang peneliti buat sendiri. Data. Intrumen, dan Teknik Pengumpulan Data Jenis Penelitian Penelitian menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu dimana data yang menyangkut variabel bebas atau risiko dan variabel terikat atau variabel akibat akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Variabel dependen pada penelitian ini adalah umur, jenis kelamin dan riwayat tuberculosis dan variabel independen efusi pleura yang didapatkan dengan checklist. Penelitian pendekatan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu dimana data yang menyangkut variabel bebas atau risiko dan variabel terikat atau variabel akibat akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di ruang Flamboyan Rumah Sakit Pusri Palembang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Mei Ae 11 Juni 2018. Target/Subjek Penelitian Penelitian ini menggunakan data sekunder diperoleh dari Data Rekam Medik Rumah Sakit Pusri Palembang. Profil Dinkes Sumsel, buku, sumber internet dan sumber lainnya yang bukan dari tangan pertama. Peneliti memakai data sekunder karena dalam penelitian data diperoleh dari responden langsung dan sumber referensi Prosedur Sampel penelitian akan diambil dengan menggunakan teknik retrospektif yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria atau pertimbangan yang peneliti buat Kriteria sampel pada penelitian ini . Pasien yang dirawat inap di ruang Flamboyan Rumah Sakit Pusri Palembang. Data lengkap tercatat di rekam medik. Teknik Analisis Data Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang bersifat deskriptif Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitianan yaitu variabel independen penelitian ini adalah umur, jenis kelamin dan riwayat tuberculosis dan variabel dependen adalah kejadian efusi pleura yang di analisis dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Analisis bivariat adalah analisis data untuk mengetahui uji hubungan antara variabel umur, jenis kelamin dan riwayat tuberculosis dengan kejadian efusi pleura yang dianalisis dengan uji chi-square HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Karakteristik Responden Dalam responden dilihat dari umur dan jenis Usia < 40 tahun > 40 tahun Total Frekuensi Presentase (%) Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah Usia Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1: Karakteristik Responden Berdasarkan Usia di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2017 Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa responden dengan karakteristik usia < 40 tahun sebanyak 27 responden . %) sedangkan responden umur > 40 tahun sebanyak 28 responden . %). Jenis Kelamin Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2: Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2017 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total Frekuensi Presentase (%) Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa responden dengan karakteristik responden laki-laki sebanyak 17 responden . ,9%) sedangkan responden perempuan sebanyak 38 responden . ,1%). Analisa Univariat Analisa Univariat dilakukan untuk persentase dari variabel dependen . ejadian efusi pleur. dan variabel independen . mur, jenis kelamin dan riwayat tuberkulosi. Data disajikan dalam bentuk tabel dan persentase. Kejadian Efusi Pleura Kejadian efusi pleura dibagi menjadi 2 kategori yaitu ya (Bila pasien terdiagnosa mengalami efusi pleur. dan tidak (Bila pasien tidak terdiagnosa mengalami efusi pleur. , hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3: Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Efusi Pleura di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2018 No. Kejadian Efusi Pleura Tidak Jumlah Jumlah Persentase (%) Dari tabel diatas diketahui bahwa dari 55 responden yang dirawat sebanyak 17 responden . ,9%) yang mengalami kejadian efusi pleura dan 38 responden . ,1%) tidak mengalami efusi pleura. Umur Umur dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 kategori yaitu resiko tinggi . ila usia pasien > 45 tahu. dan resiko rendah . ila usia pasien < 45 tahu. , hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4: Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2018 No. Umur Jumlah Resiko tinggi Resiko rendah Jumlah Persentase (%) Dari tabel diatas diketahui bahwa dari 55 responden diketahui responden umur resiko tinggi sebanyak 15 responden . ,3%) dan Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah umur resiko rendah sebanyak 40 responden . ,7%). riwayat tuberculosis sebanyak 43 responden . ,2%). Jenis Kelamin Jenis kelamin dalam penelitian ini dibagi Analisa Bivariat Analisa mengetahui hubungan antara variabel dependen . ejadian efusi pleur. dan variabel independen . mur, jenis kelamin dan riwayat tuberculosi. , yang dianalisa dengan uji statistik Chi Square dimana confident interval 95% dengan derajat kemaknaan pada 0,05. bila p value O . artinya ada hubungan bermakna antara variabel No. Riwayat Tuberculosis Tidak Jumlah Jumlah Persentase (%) menjadi 2 kategori yaitu laki-laki dan perempuan, hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5: Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Responden Di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2018 No. Jumlah Persentase (%) dependen dengan variabel independen sedangkan bila p value > . maka tidak ada hubungan bermakna antara variabel dependen dan variabel independen. Dari tabel diatas diketahui bahwa dari 55 responden diketahui responden laki-laki sebanyak 17 responden . ,9%) dan responden . ,1%). Hubungan Antara Umur dengan Kejadian Efusi Pleura Pada penelitian ini dilakukan uji statistik bivariat antara umur dengan kejadian efusi pleura. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Riwayat Tuberculosis Riwayat tuberculosis dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 kategori yaitu ya . ila tuberculosi. dan tidak . ila pasien tidak memiliki riwayat penyakit tuberculosi. , hasil penelitian dapat dilihat pada tabel Tabel 7: Hubungan antara Umur dengan Kejadian Efusi Pleura di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2018 Tabel 6: Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Tuberculosis Di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2018 Dari tabel diatas diketahui bahwa dari 55 responden diketahui responden yang memiliki riwayat tuberculosis sebanyak 12 responden . ,8%) dan tidak memiliki Jenis Laki-laki Perempuan Jumlah Umur Resiko tinggi Resiko rendah Jumlah Kejadian Efusi Pleura Tidak Total Dari tabel diatas diketahui bahwa dari 15 responden yang umur resiko tinggi sebanyak 9 responden . %) mengalami efusi pleura Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah p value = 0,007 < = 0,05 yang berarti ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian efusi pleura. Dengan demikian hipotesis awal yang menyatakan ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian efusi pleura terbukti secara statistik. dan 6 responden . %) tidak mengalami efusi pleura sedangkan dari 40 responden umur resiko rendah sebanyak 8 responden . %) yang mengalami efusi pleura dan 32 responden . %) tidak mengalami efusi Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,008 < = 0,05 yang berarti ada hubungan antara umur dengan kejadian efusi Dengan demikian hipotesis awal yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan kejadian efusi pleura terbukti secara Hubungan Antara Riwayat Tuberculosis dengan Kejadian Efusi Pleura Pada penelitian ini dilakukan uji tuberculosis dengan kejadian efusi pleura. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Kejadian Efusi Pleura Pada penelitian ini dilakukan uji statistik bivariat antara jenis kelamin dengan kejadian efusi pleura. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel sebagai Tabel 8: Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kejadian Efusi Pleura di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2018 Jenis Laki-laki Perempuan Jumlah Kejadian Efusi Pleura Tidak 10 58,5 7 41,2 7 18,4 31 81,6 Tabel 9: Hubungan antara Riwayat Tuberculosis dengan Kejadian Efusi Pleura di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2018 Riwayat Tidak Jumlah Kejadian Efusi Pleura Tidak 10 83,3 2 16,7 16,3 36 83,7 Total Total Dari tabel diatas diketahui bahwa dari 17 responden yang laki-laki sebanyak 10 responden . ,5%) mengalami efusi pleura dan 7 responden . ,2%) tidak mengalami efusi pleura sedangkan dari 38 responden perempuan sebanyak 7 responden . ,4%) yang mengalami efusi pleura dan 31 responden . ,6%) tidak mengalami efusi Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Dari tabel diatas diketahui bahwa dari 12 tuberculosis sebanyak 10 responden . ,3%) mengalami efusi pleura dan 2 responden . ,7%) tidak mengalami efusi pleura sedangkan dari 43 responden yang tidak memiliki riwayat tuberculosis sebanyak 7 responden . ,3%) yang mengalami efusi pleura dan 36 responden . ,7%) tidak mengalami efusi pleura. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,000 < = 0,05 yang berarti ada hubungan antara riwayat tuberculosis dengan kejadian efusi Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah Dengan demikian hipotesis awal yang menyatakan ada hubungan antara riwayat tuberculosis dengan kejadian efusi pleura terbukti secara statistik. PEMBAHASAN Hubungan antara Umur dengan Kejadian Efusi Pleura Dari hasil penelitian univariat diketahui dari 55 responden yang dirawat sebanyak 17 responden . ,9%) yang mengalami kejadian efusi pleura dan 38 responden . ,1%) tidak mengalami efusi pleura, responden diketahui responden umur resiko tinggi sebanyak 15 responden . ,3%) dan umur resiko rendah sebanyak 40 responden . ,7%). Dari hasil analisa bivariat diketahui bahwa dari 15 responden yang umur resiko tinggi sebanyak 9 responden . %) mengalami efusi pleura dan 6 responden . %) tidak mengalami efusi pleura sedangkan dari 40 responden umur resiko rendah sebanyak 8 responden . %) yang mengalami efusi pleura dan 32 responden . %) tidak mengalami efusi pleura. Dari hasil uji statistik diperoleh nila p value = 0,008 < = 0,05 yang berarti ada hubungan antara umur dengan kejadian efusi pleura. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Yopi . tentang hubungan karakteristik dan etiologi efusi pleura di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Hasil penelitian Pasien efusi pleura paling banyak pada kelompok usia 45 Ae 64 tahun . ,2%), sebagian besar efusi pleura terjadi unilateral . ,5%) serta warna cairan pleura paling sering ditemukan kuning keruh . ,4%). Etiologi pada penelitian ini paling banyak tuberkulosis . ,3%). Jenis histopatologi pasien efusi pleura dikarenakan keganasan paru yang paling sering ditemukan adenokarsinoma . ,9%). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Jalil . tentang hubungan antara hubungan umur dan jenis kelamin dengan kejadian efusi pleura, hasil penelitian diketahui bahwa tidak ada hubungan antara umur dan jenis kelamin dengan kejadian efusi pleura di Rumah Sakit Adam Malik . value 0,100 < 0,. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Yopi . Pada kasus efusi pleura TB paling banyak terdapat pada kelompok usia pertengahan karena kelompok usia tersebut merupakan kelompok usia masa aktif dan produktif seseorang dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup sehingga sering kontak dengan masyarakat khususnya pasien TB dan cenderung lebih aktif sehingga daya tahan tubuhnya menurun dan memudahkan terjadinya infeksi TB. Efusi pleura disebabkan oleh keganasan pada umur lebih dari 45 tahun. Risiko terjadinya penyakit keganasan pada umur tersebut semakin besar. Berdasarkan penelitian diatas peneliti menyimpulkan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadi efusi bertambahnya umur maka semakin tinggi resiko terkena pajanan terhadap zat karsinogen semakin banyak baik melalui makanan dan minuman yang diawetkan, radiasi, terhirup ataupun terkontaminasi zat yang bersifat karsinogenik yang mulai menimbulkan efek pada usia tua. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kejadian Efusi Pleura Dari hasil penelitian univariat diketahui bahwa dari 55 responden diketahui responden laki-laki sebanyak 17 responden . ,9%) dan responden perempuan sebanyak 38 responden . ,1%). Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah Dari hasil analisa bivariat diketahui bahwa dari 17 responden yang laki-laki sebanyak 10 responden . ,5%) mengalami efusi pleura dan 7 responden . ,2%) tidak mengalami efusi pleura sedangkan dari 38 responden perempuan sebanyak 7 responden . ,4%) yang mengalami efusi pleura dan 31 responden . ,6%) tidak mengalami efusi Dari hasil uji statistik diperoleh nila p value = 0,007 < = 0,05 yang berarti ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian efusi pleura. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Romero dkk di Spanyol mendapatkan laki Ae laki 56% lebih dominan daripada perempuan demikian pula dengan Joseph di Uni Emirat Arab mendapatkan 58% subjek penelitiannya adalah laki-laki. Hasil berbeda didapatkan oleh Afful yang melakukan penelitian efusi pleura di Afrika mendapatkan subjek penelitian lebih banyak pada perempuan . %). Hal diatas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Afful bahwa sekitar dua per tiga efusi pleura ganas terjadi pada perempuan yang disebabkan karena kanker payudara dan serviks. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Yopi . tentang hubungan karakteristik dan etiologi efusi pleura di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Hasil penelitian Pasien efusi pleura paling banyak pada kelompok usia 45 Ae 64 tahun . ,2%), jenis kelamin pasien sama antara laki Ae laki dan perempuan, sisiparu yang terkena paling banyak pada paru kanan . ,2%), sebagian besar efusi pleura terjadi unilateral . ,5%) serta warna cairan pleura paling sering ditemukan kuning keruh . ,4%). Etiologi pada penelitian ini paling . ,3%). Jenis histopatologi pasien efusi pleura dikarenakan keganasan paru yang paling sering ditemukan adenokarsinoma . ,9%). Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Purba menemukan jenis kelamin laki Ae laki lebih banyakdengan penyakit tuberkulosis yaitu sebanyak 57,78%. Hasil penelitian tersebut dapat disebabkan laki Ae laki lebih banyak kontak dengan masyarakat terkhusus pasien TB dibandingkan perempuan dan cenderung lebih aktif sehingga menyebabkan daya tahan tubuhnya menurun dan memudahkan terjadinya infeksi penyakit. Faktor kebiasaan seperti merokok dan mempengaruhi hal tersebut. Efusi pleura yang disebabkan keganasan lebih banyak didapatkan pada perempuan . ,78%) dibandingkan laki Ae laki . ,67%). Berdasarkan penelitian diatas peneliti merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadi efusi pleura, disebabkan laki Ae laki lebih banyak kontak dengan dibandingkan perempuan dan cenderung lebih aktif sehingga menyebabkan daya tahan tubuhnya menurun dan memudahkan terjadinya infeksi penyakit. Faktor kebiasaan seperti merokok dan mengonsumsi alkohol diduga juga mempengaruhi hal tersebut. Hubungan Riwayat Tuberculosis dengan Kejadian Efusi Pleura Dari hasil penelitian univariat diketahui bahwa dari 55 responden diketahui tuberculosis sebanyak 12 responden . ,8%) dan tidak memiliki riwayat tuberculosis sebanyak 43 responden . ,2%). Dari hasil analisa bivariat diketahui bahwa dari 12 responden yang memiliki riwayat tuberculosis sebanyak 10 responden . ,3%) mengalami efusi pleura dan 2 responden . ,7%) tidak mengalami efusi Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah pleura sedangkan dari 43 responden yang tidak memiliki riwayat tuberculosis sebanyak 7 responden . ,3%) yang mengalami efusi pleura dan 36 responden . ,7%) tidak mengalami efusi pleura. Dari hasil uji statistik diperoleh nila p value = 0,000 < = 0,05 yang berarti ada hubungan antara riwayat tuberculosis dengan kejadian efusi Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Romero di Spanyol mendapatkan Tuberkulosis merupakan penyebab tersering terjadinya efusi pleura. Dibeberapa negara seperti pada hasil penelitian yang dilakukan Khan dkk di Qatar dan Tobing di Medan yang menyatakan penyebab efusi pleura yang paling banyak ialah TB paru yaitu sebesar 32,5% dan 44,1%. 3,10 Penelitian yang dilakukan oleh Khairani di Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta ditemukan bahwa tuberkulosis menjadi penyebab infeksi paling besar dan sisanya infeksi bukan tuberkulosis. Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Khan ditemukan penyebab efusi pleura kedua terbanyak setelah TB paru ialah pneumonia . %), diikuti oleh keganasan . ,5%) dan gagal jantung . %). Perbedaan ini biasanya dikarenakan perbedaan lokasi sehingga distribusi penyakit penyebab efusi pleura pun berbedaAebeda tergantung wilayah. Hal ini sesuai dengan penelitian Rubins di Minnesota keganasan sebagai penyebab tersering efusi Tuberkulosis menjadi penyebab efusi pleura yang paling besar dan sisanya infeksi bukan tuberkulosis sedangkan keganasan paling besar disebabkan oleh kanker paru sebanyak 38,7%, tumor mediastinum sebanyak 2,5% dan 1,7% dengan metastasis kanker payudara di paru. Sebagian besar Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Depkes . tingginya kasus penyakit TB disebabkan penyakit TB sampai saat ini sulit untuk diberantas karena penyakit ini mudah menular kepada orang lain baik melalui nafas maupun sputum pasien TB terutama bila orang yang tertular memiliki daya imun yang Selain itu dapat juga disebabkan karena pasien TB tidak patuh minum obat anti tuberkulosis (OAT) selama waktu yang telah ditentukan sehingga pengobatannya tidak tuntas akibatnya penyakit ini sering berulang dan sering timbul resistensi terhadap OAT yang telah diberikan. Berdasarkan penelitian diatas peneliti menyimpulkan bahwa riwayat penyakit tuberculosis merupakan salah satu penyebab terjadinya efusi pleura karena penyakit ini mudah menular kepada orang lain baik melalui nafas maupun sputum pasien TB terutama bila orang yang tertular memiliki daya imun yang lemah. Selain itu dapat juga disebabkan karena pasien TB tidak patuh minum obat anti tuberkulosis (OAT) selama waktu yang telah ditentukan sehingga pengobatannya tidak tuntas akibatnya penyakit ini sering berulang dan sering timbul resistensi terhadap OAT yang telah KESIMPULAN Penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur, jenis kelamin dan riwayat tuberculosis dengan kejadian efusi pleura di Rumah Sakit Pusri Palembang tahun 2018. SARAN Diharapkan agar petugas kesehatan penyuluhan, pendidikan dan konseling mengenai penyakit efusi pleura, serta dapat Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Januari 2019 Oscar Ari Wiryansyah meningkatkan standar pelayanan kesehatan sehingga dapat menghindari sedini mungkin penyakit efusi pleura. Notoatmodjo. Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta UCAPAN TERIMA KASIH Profil rumah sakit Pusri Palembang tahun Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing, penguji, staf rumah sakit tempat penelitian dan orang tua serta teman sejawat dalam memberikan dukungan moral dan materi dalam penyelesaian penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA