Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. https://doi. org/10. 35877/panrannuangku4227 ISSN: 2798-1096 . Inovasi Produk Olahan Buah Lontar (Borassus flabellifer L) sebagai Strategi Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Jeneponto Jurnal Syarifa. Zakia Asrifah Ramlya*. Ardiansah Hasina. Maipha Deapati Ariefb Universitas Indonesia Timur. Makassar. Indonesia Akademi Komunitas Industri Manufaktur Bantaeng. Indonesia Abstract Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah buah lontar (Borassus flabellifer L) melalui diversifikasi produk bernilai jual tinggi, serta mendorong perbaikan gizi dan peningkatan ekonomi masyarakat Desa Bulo-Bulo. Kecamatan Arungkeke. Kabupaten Jeneponto. Kelompok PKK sebagai mitra utama dilibatkan secara aktif dalam pelatihan pembuatan nata de lontar, energy bar lontar, dan selai lontar. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi potensi buah lontar, pelatihan teknik pengolahan modern, pendampingan pengemasan berbasis food grade, serta pemasaran digital melalui platform e-commerce dan media sosial. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test pengetahuan, observasi keterampilan, serta wawancara. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan sebesar 61,6% dan keterampilan sebesar 60,4%. Masyarakat kini memahami manfaat gizi buah lontar dan mampu mengolahnya menjadi produk yang lebih menarik dan tahan Selain peningkatan kapasitas individu, hasil lain yang dicapai mencakup perbaikan desain kemasan, munculnya strategi pemasaran sederhana, serta mulai dikenalnya produk olahan melalui media sosial lokal. Program ini berkontribusi pada penguatan UMKM berbasis potensi lokal, peningkatan literasi pangan, serta mendukung kemandirian ekonomi rumah tangga di wilayah Kegiatan ini membuktikan bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal dapat menjadi solusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Keywords: Lontar, diversifikasi produk, pemberdayaan masyarakat, gizi, ekonomi lokal. Introduction*atau Penamaan lainnya (Times New Roman 10 p. Potensi pengembangan sumber daya lokal merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat desa. Buah lontar (Borassus flabellifer L) merupakan salah satu komoditas lokal potensial yang tumbuh subur di wilayah Indonesia bagian timur (Rahmawati dan Syahruddin 2. , termasuk di Kabupaten Jeneponto. Sulawesi Selatan (Sirajuddin dkk, 2. Desa Bulo-Bulo, yang terletak di Kecamatan Arungkeke, dikenal sebagai kawasan penghasil buah lontar dengan populasi pohon yang mencapai ratusan ribu (Tahnur dkk, 2. Meskipun demikian, pemanfaatan buah lontar oleh masyarakat masih bersifat tradisional, terbatas pada produksi gula merah dan minuman segar . allo teAon. Hal ini menyebabkan rendahnya nilai tambah ekonomi dari komoditas tersebut serta kurang optimalnya kontribusi terhadap ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Padahal, buah lontar memiliki kandungan gizi yang menjanjikan, antara lain elektrolit alami, vitamin C, mineral, serta serat pangan (Nasri dkk, 2017. Islamiyah, 2. Potensi ini belum dimaksimalkan melalui inovasi pengolahan modern yang dapat menghasilkan produk siap konsumsi dan bernilai jual tinggi. Di tengah tantangan ekonomi rumah tangga pasca pandemi, upaya diversifikasi produk pangan lokal menjadi langkah strategis yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak untuk dilakukan (Prasetyo dkk, 2. Selama ini, masyarakat desa belum banyak mengetahui alternatif pengolahan lontar yang lebih inovatif dan modern. Minimnya keterampilan pengolahan dan keterbatasan akses terhadap informasi serta teknologi menjadi hambatan utama dalam optimalisasi potensi buah lontar. Di sisi lain, kebutuhan akan produk pangan lokal yang sehat, bergizi. Corresponding author: E-mail address: zakiaasrifah28@gmail. Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat is licensed under an Attribution-NonCommercial 4. 0 International (CC BY-NC 4. Ramly et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 110Ae114 dan mudah diakses terus meningkat, terutama pasca pandemi yang mendorong kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi sehat dan keberlanjutan ekonomi rumah tangga. Melalui skema Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) pendanaan Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdikbudristek tahun 2025, dilakukan pendampingan dan pelatihan kepada kelompok ibu-ibu PKK di Desa Bulo-Bulo. Kegiatan ini mengusung tema AuDiversifikasi Pengolahan Buah Lontar Menjadi Produk Bernilai Jual Tinggi sebagai Upaya Meningkatkan Nilai Gizi dan Perekonomian MasyarakatAy. Pelatihan difokuskan pada pemanfaatan buah lontar menjadi produk olahan modern seperti nata de lontar, energy bar lontar, dan selai lontar, dengan pendekatan teknologi tepat guna yang mudah diaplikasikan oleh Selain pengolahan, kegiatan ini juga mengajarkan teknik pengemasan, desain label produk yang menarik, serta pemasaran berbasis digital melalui platform seperti WhatsApp Business dan Shopee (Wijaya dan Hasanah, 2. Tujuannya adalah meningkatkan daya saing produk lokal, memperluas akses pasar, dan mendorong terbentuknya usaha mikro berbasis rumah tangga yang berkelanjutan (Azis dkk, 2. Dengan pendekatan ini, diharapkan ibu-ibu PKK tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga terdorong untuk menjadi pelaku usaha yang mandiri dan inovatif (Tambuhan, 2. Melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendikti-Saintek tahun 2025, dilakukan pendampingan intensif kepada kelompok ibu PKK di Desa Bulo-Bulo. Tujuannya adalah mengembangkan keterampilan warga dalam mengolah buah lontar menjadi berbagai produk seperti nata de lontar, energy bar lontar, selai lontar, dan gula kristal lontar, dengan pendekatan teknologi tepat guna dan strategi pemasaran digital. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat desa dalam pengolahan pangan lokal, tetapi juga mendorong terbentuknya usaha mikro yang berkelanjutan. Dengan pengemasan modern dan akses pasar yang diperluas melalui platform digital, produk olahan buah lontar berpotensi menjadi ikon kuliner sehat khas Jeneponto (Yuliani dan Pratama, 2. Oleh karena itu, penelitian dan pendampingan ini penting dilakukan sebagai bagian dari kontribusi akademik dalam mendorong kemandirian pangan dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Methods atau Penamaan lainnya (Times New Roman 10 p. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui lima tahapan utama, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di Desa Bulo-Bulo. Kecamatan Arungkeke. Kabupaten Jeneponto, dengan melibatkan mitra utama yaitu kelompok ibu-ibu PKK Desa Bulo-Bulo. Sosialisasi Tahap awal dimulai dengan kegiatan sosialisasi kepada pemerintah desa, pengurus PKK, dan calon peserta kegiatan. Sosialisasi dilakukan secara luring di Kantor Desa Bulo-Bulo dan bertujuan untuk memperkenalkan maksud, tujuan, serta tahapan pelaksanaan program. Pada tahap ini juga dilakukan identifikasi potensi buah lontar dan permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam pemanfaatan komoditas tersebut, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun akses pasar. 2 Pelatihan Setelah sosialisasi, dilakukan pelatihan keterampilan pengolahan buah lontar yang dibagi menjadi beberapa sesi. Materi pelatihan meliputi pengolahan buah lontar menjadi nata de lontar, energy bar, dan selai lontar. Proses pelatihan difasilitasi oleh tim dosen dan mahasiswa yang memiliki latar belakang keahlian di bidang kesehatan, teknologi pangan, dan analisis kimia. Selain itu, peserta juga diberikan materi sanitasi, keamanan pangan, dan manajemen usaha mikro. 3 Penerapan Teknologi Pada tahap ini, peserta mulai mengaplikasikan keterampilan yang telah diperoleh selama pelatihan dengan menggunakan peralatan sederhana dan teknologi tepat guna yang disediakan oleh tim pengabdi. Teknologi yang diterapkan mencakup penggunaan alat pencetak nata, pengering gula lontar, serta alat pengaduk manual. Peserta dibimbing untuk memproduksi olahan lontar secara mandiri, dengan memperhatikan prinsip higienitas, efisiensi, dan daya simpan produk. Ramly et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 110Ae114 Pendampingan dan Evaluasi Pendampingan dilakukan secara intensif selama proses produksi dan distribusi awal. Tim pengabdi mendampingi peserta dalam mengemas produk, membuat desain label yang menarik, serta menyusun strategi pemasaran produk melalui platform digital seperti WhatsApp Business dan Instagram. Selain itu, diberikan juga simulasi perhitungan biaya produksi, harga jual, serta margin keuntungan agar peserta memahami aspek ekonomi dari usaha yang Evaluasi dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu observasi langsung terhadap proses dan hasil produksi serta penyebaran kuisioner kepada seluruh peserta. Tujuan evaluasi adalah mengukur peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk merancang program lanjutan, termasuk usulan pembentukan kelompok usaha bersama berbasis olahan Metode ini dirancang agar menghasilkan perubahan yang berkelanjutan dalam masyarakat, tidak hanya dari sisi keterampilan teknis tetapi juga dari sisi pemberdayaan sosial dan ekonomi Result and Discussion atau Penamaan lainnya (Times New Roman 10 p. Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di Desa Bulo-Bulo. Kecamatan Arungkeke. Kabupaten Jeneponto, menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat dalam mengolah buah lontar (Borassus flabellife. menjadi produk bernilai jual tinggi. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman warga tentang potensi ekonomi dan gizi buah lontar melalui pelatihan dan pendampingan pembuatan selai lontar, nata de lontar, dan energy bar lontar. Gambar 1. Demonstrasi tim kepada mitra Kegiatan dimulai dengan memberikan evaluasi kepada mitra. Evaluasi dilakukan melalui angket pre-test dan posttest, observasi proses produksi, serta wawancara mendalam terhadap peserta pelatihan. Tabel 1 berikut menyajikan data peningkatan pengetahuan peserta pelatihan: Tabel 1. Persentase Pengetahuan Masyarakat Sebelum dan Sesudah Pelatihan Aspek Pengetahuan Pemahaman manfaat buah lontar secara ekonomi Pengetahuan gizi buah lontar Pengetahuan proses pembuatan selai lontar Pengetahuan pembuatan nata de lontar Pengetahuan pengolahan energy bar lontar Sebelum Pelatihan (%) Sesudah Pelatihan (%) Ramly et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 110Ae114 Data menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 61,6% dalam aspek pengetahuan setelah pelatihan. Hal ini menegaskan bahwa pelatihan yang dilakukan berhasil memperkenalkan potensi buah lontar sebagai sumber pangan lokal yang kaya manfaat serta memiliki peluang pasar yang menjanjikan. 2 Peningkatan Keterampilan Produksi Masyarakat Aspek keterampilan masyarakat dinilai melalui observasi langsung terhadap kemampuan peserta dalam mengolah buah lontar menjadi produk olahan, serta mengemas dan memasarkan produk tersebut secara sederhana. Gambar 2. Proses Pelatihan, diskusi dan praktik langsung oleh masyarakat mitra Dalam mengukur keterampilan produksi masyarakat dalam mengolah lontar diberikan evaluasi pre-test dan post-test. Tabel berikut menunjukkan peningkatan keterampilan produksi masyarakat: Tabel 2. Persentase Keterampilan Masyarakat dalam Pengolahan Produk Lontar Aspek Keterampilan Mengolah buah lontar menjadi selai Membuat nata de lontar Meracik energy bar berbasis lontar Mengemas produk dengan standar sederhana Menyusun strategi pemasaran lokal Sebelum Pelatihan (%) Sesudah Pelatihan (%) Peningkatan keterampilan rata-rata mencapai 60,4%, menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam praktik sehari-hari. Kegiatan ini juga memperkuat ketahanan pangan dan potensi ekonomi desa melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Penelitian oleh Hasan et al. menunjukkan bahwa diversifikasi pangan lokal mampu meningkatkan gizi keluarga sekaligus membuka peluang usaha kecil berbasis rumah tangga. Suryani dan Mufidah . menyebutkan bahwa pelatihan pengolahan pangan lokal berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi perempuan di pedesaan. Sementara itu, studi oleh Rahman & Ningsih . menyoroti bahwa olahan berbahan dasar buah lontar mengandung serat dan mineral penting, serta berpotensi sebagai pangan fungsional. Dari perspektif sosial dan ekonomi, kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. , terutama pada poin 1 (Tanpa Kemiskina. , 2 (Tanpa Kelapara. , dan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonom. Pendekatan berbasis potensi lokal ini juga sesuai dengan konsep pembangunan berbasis masyarakat . ommunitybased developmen. , yang menempatkan warga sebagai subjek aktif dalam peningkatan kualitas hidup mereka. Kontekstualisasi pelatihan di Desa Bulo-Bulo memperlihatkan bahwa inovasi sederhana dari bahan lokal dapat memperkuat kemandirian ekonomi, meningkatkan literasi pangan, serta menumbuhkan budaya wirausaha komunitas. Dengan demikian, program ini dapat direplikasi dan dikembangkan di wilayah lain yang memiliki potensi serupa, menjadikan buah lontar tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber kesejahteraan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dan pedesaan. Conclusion atau Penamaan lainnya (Times New Roman 10 p. Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Bulo-Bulo berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah buah lontar menjadi produk bernilai jual seperti selai, nata de lontar, dan energy bar. Terdapat peningkatan rata-rata pengetahuan sebesar 61,6% dan keterampilan sebesar 60,4%. Program ini terbukti Ramly et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 110Ae114 efektif dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan gizi keluarga, serta pemberdayaan ekonomi lokal berbasis potensi sumber daya alam yang tersedia. Acknowledgements Kami mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi. Sains dan Teknologi atas dukungan pendanaan kegiatan pengabdian ini melalui kontrak nomor 259/UIT. PM/FO. PJ/VI/2025. Dukungan tersebut sangat membantu dalam pelaksanaan program diversifikasi pengolahan buah lontar di Desa Bulo-bulo ini sehingga dapat berjalan dengan lancar dan memberikan hasil yang signifikan. References