P a g e | 34 Jurnal Kesehatan Primer Vol. No. May, pp. P-ISSN 2549-4880. E-ISSN 2614-1310 Journal DOI: https://doi. org/10. 31965/jkp Website: http://jurnal. id/index. php/jkp LITERATURE REVIEW: CHALLENGES IN REACHING VOLUNTARY COUNSELING AND TESTING SERVICES FOR HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS SUFFERERS Yublina Rohi1. Oklan B. Liunokas2. Maria Christina Endang S. Kartini Pekabanda4. Veronika Toru5. Ester Radandima6 Poltekkes Kemenkes Kupang. Indonesia Email: yubirohi12@gmail. ARTICLE INFO Artikel Histori: Received date: November/06/2024 Revised date: April/24/2025 Accepted date: May/30/2025 Keywords: Challenges of voluntary counseling and testing services, people with human immunodeficiency ABSTRACT/ABSTRAK Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a disease that works by damaging the body's immune system so that patients are susceptible to opportunistic infectious diseases when the number of CD4 . hite blood cells or lymphhocyte/T-cell. decreases or the viral load level increases. Objective: To identify challenges in achieving voluntary counseling and testing services for people with human immunodeficiency virus. Methods: literature review, literature search process using Google Scholar and Pubmed databases with the keyword 'Challengesi in Reaching Voluntary Counseling and Testing Services for Human Immunodeficiency Virus Sufferers'. The inclusion criteria are journals published in the 2021-2024 range, journal types of articles with quantitative, qualitative, empirical research methods, pdf full text journals, articles taken are national and international journal articles. Results: The challenges in achieving voluntary counseling and testing services for people with HIV are influenced by several things, including lack of cost, limited provision of logistics for examinations, stigma and discrimination both from patients and the community, including health workers, knowledge about HIV in at-risk people as well as the community, and limitedservice facilities and health human resources that are still limited both in terms of number and knowledge of VCT. Kata Kunci: Tantangan layanan konseling dan pemeriksaan sukarela, penderita human immunodeficiency virus P a g e | 35 Latar Belakang: Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah penyakit yang bekerja dengan cara merusak system imun tubuh sehingga penderita mudah terserang penyakit infeksi oportunistik bila jumlah CD4 . el darah putih atau limphocyte/Sel-T) menurun atau kadar viral loadnya meningkat. Tujuan: Untuk mengidentifikasi tantangan dalam menjangkau layanan konseling dan pemeriksaan sukarela bagi penderita human immunodeficiency Metode: literature review, proses penelusuran literature mengunakan database Google Scholar dan Pubmed dengan kata kunci AuChallengesi in Reaching Voluntary Counseling and Testing Services for Human Immunodeficiency Virus SufferersAo. Kriteria inklusi yaitu jurnal diterbitkan dalam rentang tahun 2021-2024, tipe jurnal artikel dengan metode penelitian kuantitatif, kualitatif, penelitian empiris, jurnal pdf full text, artikel yang di ambil adalah artikel jurnal nasional dan Hasil: Tantangan dalam mencapai layanan konseling dan pengujian sukarela bagi penderita HIV dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah kurangnya biaya, penyediaan logistik untuk peneriksaan terbatas, stigma dan diskriminasi baik dari penerita maupun masyarakat termasuk tenaga kesehatan, pengetahuan tentang HIV pada orang berisiko juga masyarakat dan fasilitas Layanan yang terbatas serta sumber daya manusia Kesehatan yang masih terbatas baik dari segi jumlah maupun pengetahuan tentang VCT. CopyrightA Year Jurnal Kesehatan Primer All rights reserved Corresponding Author: Name of first author: Yublina Rohi Program Studi D3 Keperawatan Waingapu. Poltekkes Kemenkes Kupang. Indonesia Email: yubirohi12@gmail. P a g e | 36 INTRODUCTION Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah penyakit yang bekerja dengan cara merusak system imun tubuh sehingga penderita mudah terserang penyakit infeksi oportunistik bila jumlah CD4 . el darah putih atau limphocyte/SelT) menurun atau kadar viral loadnya meningkat. (Kemenkes 2. Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS) adalah kumpulan gejala berbagai penyakit yang diakibatkan menurunnya daya tahan tubuh karena terinfeksi HIV (Kemenkes HIV menular secara langsung dari penderita HIV kepada orang lain melalui donor darah, bergantian alat suntik pada pengguna narkoba injeksi, hubungan seksual . airan sperma dan cairan vagin. , serta saat menyusu melalui air susu ibu (Setiarto et al 2. Dalam masa kehamilan, penularan HIV dapat terjadi dari ibu kepada anaknya. Ibu dengan HIV dapat menularkan virus ke anaknya pada saat hamil yaitu melalui placenta, pada kelahiran, saat janin melalui jalan lahir dan setelah lahir dengan memberikan air susu ibu (ASI) saat menyusui (Kemenkes RI 2. HIV/AIDS sudah menjadi penyakit epidemi di seluruh dunia. Manusia yang tertular HIV/AIDS atau yang disebut orang dengan HIV/AIDS (ODHA) semakin banyak. Indonesia, hingga tahun 2019 jumlah ODHA meningkat, jumlah yang tercatat yaitu 50. 282 kasus dan AIDS mengalami penurunan dari 10. 190 pada tahun 2018 menjadi 7. 038 pada tahun 2019 (Kemenkes RI 2. Program penanggulangan HIV/AIDS yang telah digalangkan oleh pemerintah yang bertujuan menurunkan atau menghilangkan kasus baru HIV dan mencegah kasus HIV menjadi AIDS. Program dilaksanakan secara terus menerus dimulai dari Pendidikan Kesehatan, pencegahaan, pengobatan dan pemulihan. Di Indonesia telah terjadi kemajuan terhadap terlaksananya program penanggulangan HIV. Penyusunan strategi serta rencana aksi secara nasionalpun dilakukan oleh pemerintah guna menanggulangi HIV dan AIDS di Indonesia. Target pemerintah terhadap penanggulangan HIV/AIDS ini adalah dengan menjalankan strategi 90-90-90 yang diharapkan tercapai pada tahun 2027 yaitu masyarakat mengetahui dirinya terinfeksi HIV terutama populasi kunci sebanyak 90%. ODHA yang mendapat pengobatan ARV 90 % dan ODHA yang mengakses ART tidak terdeteksi lagi virus HIV sebanyak 90% (Kemenkes RI 2020. WHO 2. Dengan strategi ini maka harapan pemerintah di tahun 2030 Indonesia maupun dunia mencapai 3 zero yaitu: . tidak akan ada lagi kasus baru HIV. tidak ada lagi ODHA yang meninggal karena AIDS. tidak ada lagi diskriminasi terhadap penderita HIV. Pemerintah berkomitmen untuk melakukan pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual dengan menjangkau populasi kunci yang dilakukan bersama masyarakat, melakukan standar pelayanan minimal terhadap HIV/AIDS, melakukan pemeriksaan HIV dan segera memberikan therapi ARV untuk mencegah TB dan melakukan tripel eliminasi terhadap HIV, siphilis dan hepatitis yang ditularkan oleh ibu kepada anak (WHO 2. Banyak layanan terhadap HIV telah tersedia dan orang telah mengunakan layanan tersebut dengan baik. Hal ini terlihat dari peningkatan total kasus HIV yang dicatat pada tahun 2009 hingga tahun 2012, dimana banyak orang yang memanfaatkan layanan konseling dan tes HIV (Kemenkes 2. Akan tetapi walaupun telah terjadi peningkatan penggunaan layanan, program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia belum berjalan dengan optimal. Banyak tantangan yang dialami dalam program penanggulangan HIV/AIDS ini yaitu adanya pandangan buruk . dan pembatasan social . terhadap ODHA dari keluarga dan masyarakat, pengetahuan yang rendah tentang HIV/AIDS, keterbatasan akses atau jangkauan layanan VCT, sumber daya baik obat-obatan, alat maupun tenaga serta jejaring dan rujukan antar pelayanan (Kemenkes RI 2. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti melakukan penelitian dengan tujuan mengidentifikasi tantangan dalam menjangkau layanan konseling dan pengujian P a g e | 37 sukarela bagi penderita human immunodeficiency Analisa Data (PICO) PICO Worksheet RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan metode literature review atau tinjauan pustaka, yang bertujuan untuk menganalisis hasil-hasil penelitian yang relevan dengan tema jangkauan terhadap HIV. Waktu menggunakan pembatasan dari 4 tahun terakhir yaitu sejak tahun 2021-2024. Sumber data pada tulisan ini adalah Google Scholar dan Pubmed. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian pada google scholar adalah Aujangkauan terhadap penderita HIV menjadi salah satu tantangan penanggulangan HIV/AIDSAy dengan rentang waktu 2021-2024, artikel yang ditemukan sebanyak 371 dan pada Pubmed kata kuncinya adalah Aureach to HIV patients is one of the challenges in combating HIV/AIDSAy. Rentang waktu pencarian sejak tahun 2021-2024 dengan free full text, artikel yang ditemukan sebanyak 2 Setelah artikel dikumpulkan dilakukan seleksi artikel yang dilakukan berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditetapkan untuk memastikan relevansi dan kualitas studi yang digunakan dalam penelitian ini. Artikel yang dipilih berbentuk penelitian empiris, baik kualitatif maupun kuantitatif, serta tinjauan sistematis yang membahas tantangan jangkauan terhadap penderita HIV. Setelah itu, dilakukan screening berdasarkan judul, abstrak, dan kata kunci untuk menyaring artikel yang relevan dengan topik penanggulangan HIV dan tantangan jangkauan terhadap penderita. Artikel yang tidak memenuhi kriteria seperti yang telah disebutkan . isalnya artikel yang tidak berkaitan dengan jangkauan layanan atau yang tidak memadai metodologiny. kemudian disingkirkan. Hasil screening ini tergambar dalam PRISMA chart. Setelah itu di review dengan menulis kembali isi berdasarkan sumbernya dengan kalimat yang mudah dipahami oleh penulis dan dilakukan analisis data. P (Proble. I (Interventio. C (Comparatio. O (Outcom. Clinical Question Keywords Database Time Jangkauan Penderita HIV Penanggulangan HIV Teridentifikasi Tantangan terhadap jangkauan penderita HIV Reach to HIV patients is one of the challenges in combating HIV/AIDS Jangkauan terhadap penderita HIV menjadi salah satu tantangan penanggulangan HIV/AIDS (Reach to HIV patients is one of the challenges in combating HIV/AIDS) Google Scholar Identifikasi PRISMA chart proses pencarian/penelusuran literature dan proses seleksi Dokumen diidentifikasi melalui database searching 4 tahun terakhir dan ditemukan di google scholar 371. Pubmed 2 Kelayakan Skrining 373 artikel telah ditemukan sesuai kata kunci 322 studi tidak relavan dengan topik Screening artikel berdasarkan judul dan abstrak . 55 artikel full text dinilai untuk Kelayakan 51 studi relevan 18 membahas PMTCT 9 membahas HIV pada anak 5 membahas dampak HIV pada ibu dan anak 7 artikel direview Bagan 1: Tantangan dalam menjangkau penderita Human Immunodeficiency Virus P a g e | 38 RESULTS AND DISCUSSION screening for HIV in Nepal: Results Nepal Demographic Health Surveys 2016 (Sabin et al. Hasil Tabel Matriks Analisis Artikel Judul. Penulis & Tahun Supply-side HIV Indonesia: Going the last mother-to-child transmission of HIV(Adawiyah et al. Evaluation of Process Indicators and Challenges of the Elimination of Mother-toChild Transmission of HIV. Syphilis, and Hepatitis B in Bali Province. Indonesia . 9Ae2. : A Mixed Methods Study (Armini et al. Factors Hasil Temuan This finding could reflect a lack ofcapacity among village midwives to recognise the need to refer women to health centres or hospitals . ncluding HIV testin. and reported delays and barriers to the transfer offunds government to support poorer dis- tricts to PMTCT services need to be ART treatment coverage for women with HIV showed an increasing coverage in certain districts, but challenges persist in achieving the WHO coverage requirement. Finally, identified challenges in eliminating mother-tochild information systems, limited involvement of the private sector in screening efforts, and a lack of standardized referral procedures Higher uptake of HIV screening was found Challenges to programs for the elimination of mother-tochild transmission of HIV, and hepatitis B into antenatal Experiences from Indonesia (Wulandari et all 2. among women from women who desired the pregnancy later and women with good knowledge of MTCT and the drugs available to prevent transmission. Lower education and having less than four ANC associated with lower This study provides new evidence on the barriers implementation of HIV, syphilis, and hepatitis B testing at ANC facilities Indonesia. implementation of the EMTCT Stakeholders reported stock-outs which were particularly most frequent and for longer durations for syphilis and hepatitis B, inadequate skills in training to run the EMTCT program, high staff turnover, highly complex and timeconsuming systems, high levels of stigma that prevented women from being partners being notified. P a g e | 39 reporting and referral ofwomen from private providers to public ones for testing. Sev- eral potential responses to these challenges have capacitybuilding activities for staff in key areas such as stock forecasting and stock monitoring and ongoing training for inexperienced staff in managing the program, conducting the tests, reporting procedures, and counselling skills. Last but not least, a arrangement between national and local governments, between private and public sector pro- viders, and between government organizations, including developing clear SOPs and guidelines to run the program, is critical. Supporting The Correlation Stigma Of Stigma and tantangan Lost To-Follow perawatan ODHA. Up in People Stigma With HIV and fenomena psikoAIDS (Arisudhana Artati keberhasilan Hubungan antara stigma dengan kejadian Lost To-Follow Up pada ODHA sangat Analisis Kebijakan Penanggulanga Human Immunodefficie Virus (HIV)/Acquired Immuno Defficiency Sindrome (AIDS) Kabupaten Rejang Lebong (Anssadad et al. <0,. Stigma mempengaruhi ODHA untuk mengalami LTFU Sumber daya yang tidak implementasi kebijakan jumlah sumber daya manusia dan keuangan yang tidak memadai. Keberhasilan implementasi kebijakan dapat dikaitkan dengan pelaksana dan sikap Komunikasi yang efektif telah terjalin antara dan ODHA. Namun, masyarakat luas belum Dalam dan sosial dapat dilihat Kabupaten Rejang Lebong belum memberikan dukungan yang memadai untuk pelaksanaan kebijakan pencegahan HIV/AIDS yang efektif. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya stigmatisasi dan masyarakat, serta masih adanya individu yang P a g e | 40 Implementasi Kebijakan Penanggulanga HIV/AIDS: Tantangan dan Hambatan Transpuan di Yogyakarta (Agung Virsa Paradissa pekerjaannya sebagai WPS. Hasil penelitian ini menemukan: Pertama, promosi kesehatan dan pencegahan berkaitan penggunaan kondom, intrapersonal maupun komunitas, dan juga promosi yang masih penggunaan istilah yang sukar dipahami oleh tenaga medis atau Kedua, sumber daya manusia kesehatan yang belum SOGIESC, tidak memiliki KTP dan berasal dari wilayah Ketiga, aspek kendala aspek ketaatan . keterbatasan biaya dan . bagi ODHA Keempat, pada aspek dukungan teman sebaya dan perhatian pemerintah terhadap exit program Pembahasan Kesadaran dari masyarakat dalam melakukan pemeriksaan HIV sangat berperan penting dalam kesuksesan program. Penularan dan pencegahan HIV sangat tergantung pada perilaku manusia sendiri tanpa melibatkan alam Kemungkinan karena hal ini juga maka pemerintah tidak serius dalam penanganan atau penanggulangan HIV/AIDS dan dianggap sama dengan penyakit menular lainnya, akibatnya kasus HIV/AIDS terus meningkat (Wahyuningsih Dkk Saat ini telah banyak berkembang layanan tentang HIV akan tetapi belum merata ke seluruh daerah sehingga masih sulit menjangkau orangorang berisiko di daerah-daerah. Kesadaran masyarakat dalam menggunakan layanan juga merupakan penyebab sulitnya menjangakau mereka yang berisiko. Hal ini terlihat dari masih banyak ditemukan kasus AIDS di Rumah Sakit dan sudah mencapai stadium lanjut yang sulit diobati. Keterjangkauan penderita terhadap layanan VCT dan pengobatan ARV menjadi salah satu tantangan dalam penanggulangan HIV. Keterjangkauan ini menyangkut jarak layanan VCT dan biaya yang digunakan ketika hendak melakukan pemeriksaan ataupun pengobatan. Banyak orang berisiko tidak tahu dirinya terinfeksi HIV, ditambah dengan keterbatasan dana, layanan VCT yang jauh maka mereka tidak melakukan pemeriksaan terhadap dirinya (Gebi dkk, 2018. Agung & Virsa Paradissa, 2024. Anssadad et al. , 2023. Wulandari et al. , 2. Kepatuhan ODHA dalam mengakses layanan VCT dan pengobatan ARV sangat dipengaruhi juga oleh dukungan keluarga dan juga dipengaruhi oleh P a g e | 41 keterjangkauan atau masalah ekonomi keluarga tersebut (Edy Bachrun 2. Keterjangkauan bukan semata karena jarak dan biaya namun juga ketersediaan alat pemeriksaan dan pengobatan yang masih terbatas sehingga tidak semua orang yang datang untuk VCT dilakukan pemeriksaan dan atau mendapat pengobatan (Sudrani, 2018. Adawiyah et al. , 2022. Wulandari et al. , 2. Hal ini disebabkan oleh karena biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan HIV masih sangat tergantung pada bantuan dana internasional sehingga kemungkinan untuk kekurangan sumber daya pengobatan sangat tinggi. Tantangan penanggulangan HIV dari segi keterjangkauan ini juga dipengaruhi oleh stigma dan diskriminasi, baik oleh diri penderita maupun Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang HIV menjadi penyebab terjadinya stigma dan diskriminasi. Mereka hanya mengetahui bahwa orang dengan HIV memiliki perilaku asusila. Masyarakat selalu menjauhi ODHA karena jika bergaul takut tertular. Padahal kenyataannya ibu rumah tangga yang hanya setia pada pasangannya dapat tertular HIV karena pasangan atau suaminya tidak setia. Begitu juga diskriminasi yang terjadi pada anak dengan HIV (ADHA). Mereka tertular dari ibunya, tetapi tetap mendapatkan diskriminasi, baik dalam sekolah/Pendidikan. Selain dari masyarakat umum, sikap tenaga Kesehatan yang tidak bersahabat menyebabkan ODHA merasa dipandang rendah (Dewi 2. Stigma dan diskriminasi ini menyebabkan masyarakat berisiko tinggi tidak menjangkau atau tidak melakukan pemeriksaan terhadap dirinya. Ketika telah terjadi AIDS barulah mereka mengakses layanan Kesehatan, sehingga terjadi keterlambatan penanganan dan menyebabkan Bila terjadi keterlambatan jangkauan atau periksaan pada orang berisiko tinggi yang menderita HIV, maka sangat berisiko orang tersebut menularkan HIV kepada orang lain. Selain itu penderita yang sudah berobat tidak lagi mengakses ARV dikarenakan stigma itu sendiri sehingga terjadi loss to-follow up terhadap pendertia tersebut (Arisudhana and Artati 2. Kebanyakan dari orang berisiko ini adalah laki-laki. Hal ini dibuktikan berdasarkan data Kemenkes RI . pada tahun 2019 di Indonesia, jumlah lakilaki dengan HIV 68. 59% dan AIDS 68. Kasus HIV/AIDS sudah merupakan peristiwa gunung es/iceberg phenomenon, diman yang nampak dipermukaan hanya sebagian kecil dan masih sangat besar yang tersembunyi. Ketika laki-laki berisiko ini terinfeksi HIV dan terlambat ditemukan maka ia telah menularkan HIV kepada istri (Sang Gede Purnama. Partha Muliawan 2. Tingginya penularan HIV pada ibu rumah tangga merupakan risiko tinggi meningkatnya penularan HIV. Penularan HIV tidak terbatas hanya kepada pasangan atau istri/perempuan, akan tetapi bila istri hamil maka janin yang dikandung akan tertular melalui proses kehamilan, persalinan, dan menyusui. Jumlah anak yang tertular HIV akan terus meningkat bila selama kehamilan tidak dilakukan pemeriksan. Anak dengan HIV(ADHA) akan menderita seumur hidup. Stigma terhadap diri anak akan terus terjadi sehingga masa depan dan Kesehatan mental ADHA dipertaruhkan (Susyanty. Handayani, and Sugiharti 2. Oleh karena itu, pemerintah membuat program untuk melakukan penjaringan ibu hamil terhadap HIV yaitu program prevention of mother to child transmition (PMTCT). Program PMTCT memiliki tujuan untuk menemukan ibu hamil yang terinfeksi HIV sejak dini sehingga dapat dilakukan atau diberikan ARV guna meminimalkan penularan kepada janin yang Program PITC juga telah dilaksanakan dimana provider atau tenaga Kesehatan pemeriksaan dengan targetnya yaitu ibu hamil dan anak yang kurang gizi atau mengalami malnutrisi, orang yang menderita penyakit infeksi yang berhungungan dengan HIV misalnya tuberkulosis dan infeksi menular seksual (Nurjanah and Wahyono 2019. Sudrani 2. Dengan adanya Program PITC maka diharapkan P a g e | 42 keterjangkauan terhadap kelompok berisiko akan lebih maksimal sehingga target yang diinginkan dapat tercapai. Permasalahan yang terjadi adalah keterjangkauan layanan atau belum semua daerah memiliki layanan PMTCT atau program PITC, keterbatasan tenaga terlatih serta adanya keterbatasan alat pemeriksaan HIV atau juga ARV penanggulangannya menjadi tidak optimal (Anssadad et al. Nurjanah and Wahyono Tantangan lain dalam menjangkau penderita atau kelompok berisiko adalah pemanfaatan sistem informasi yang kurang optimal, rendahnya pengetahun masyarat, keterlibatan sektor swasta yang terbatas dalam upaya skrining, dan kurangnya prosedur rujukan yang terstandarisasi (Anssadad et al. Armini et al. Sabin et al. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pemeriksaan dan pengobatan HIV menyebabkan penderita tidak mengakses layanan VCT. Hal ini disebabkan kurangnya promosi Kesehatan, penggunaan istilah yang sulit dipahami masyarakat, pemberian Pendidikan yang terbatas yaitu hanya kepada kelompok berisiko sehingga masyarakat umum tidak mampu mengkases pengetahuan dan pelayanan VCT (Agung and Virsa Paradissa 2. Penelitian ini hanya mengandalkan sumbersumber sekunder tanpa melakukan studi lapangan atau wawancara langsung. Akibatnya, hasil penelitian bergantung pada data dan analisis dari studi sebelumnya, sehingga tidak menggambarkan situasi terkini di lapangan secara CONCLUSION Keterjangkauan terhadap layanan VCT dan ARV masih merupakan tantangan besar dalam penanggulangan HIV/AIDS. Keterjangkauan ini dapat berupa jarak, sumber dana dari penderita keterjangkauan orang berisiko atau populasi kunci oleh tenaga Kesehatan serta ketersediaan alat pemeriksaan dan ARV. Keterjangakauan ini dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah kurangnya dana sehingga penyediaan logistic untuk peneriksaan terbatas. Stigma dan diskriminasi, pengetahuan tentang HIV pada orang berisiko juga masyarakat dan fasilitas Layanan yang terbatas, sumber daya manusia Kesehatan yang masih terbatas baik dari segi jumlah maupun pengetahuan tentan VCT. Saran