JURNAL VOICE OF MIDWIFERY Artikel Penelitian Volume 9 Nomor 2 September 2019 Halaman 857 - 866 HUBUNGAN STATUS GIZI BALITA USIA 3-5 TAHUN DENGAN KEJADIAN STUNTING THE CORRELATION OF BABY NUTRITIONAL STATUS AGED 3-5 YEARS WITH THE STUNTING EVENT Setyo Retno Wulandari1. Rista Novitasari2 1,2, STIKES Yogyakarta Alamat Korespondensi: 1d3. bidan@yahoo. com, 2ristanovi@gmail. ABSTRACT Background: The prevalence of stunting babbies in Indonesia in 2016 was The prevalence of stunting in infants is influenced by several related factors, one of which is the nutritional status of children. Based on the preliminary study, there were 35 babies who were stunting at Purwokinanti Pakualaman Posyandu. Objective: To determine the correlation between nutritional status and the incidence of stunting in babies. Method: This study is a quantitative correlation with a cross sectional approach. The population and sample in this study were 35 babies aged 3-5 years who weighed in Posyandu Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta. The research instrument was in the form of measurement and weighing data, as well as children's data at the Posyandu. The data analysis method using the Chi-Square Results: The nutritional status in babies aged 3-5 years is in the category of good nutrition by 62. The incidence of stunting of children aged 3-5 years is in normal condition at 68. There is a correlation between the nutritional status of children aged 3-5 years with the incidence of stunting based on A2 count . > A2 table . and Sig. < . Conclusion: There is a correlation between nutritional status of children aged 3-5 years with the incidence of stunting at Posyandu Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta. Keywords : Nutritional Status. Incidence of Stunting. Babies ABSTRAK Latar Belakang: Prevalansi anak balita stunting di Indonesia pada tahun 2016 adalah sebesar 37,2%. Prevalensi stunting pada balita dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait, salah satunya adalah status gizi balita. Berdasarkan studi pendahuluan, di Posyandu Purwokinanti Pakualaman terdapat 35 balita yang mengalami stunting. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian stunting pada balita Metode: Penelitian ini merupakan korelasi kuantitatif dengan pendekatan cross Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 35 balita usia 3-5 tahun yang melakukan penimbangan di Posyandu Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta. Instrumen penelitian berupa data hasil pengukuran dan penimbangan, serta data anak Metode menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Status gizi pada balita usia 3-5 tahun berada dalam kategori gizi baik sebesar 62,2%. Kejadian stunting balita usia 3-5 tahun berada dalam kondisi normal sebesar 68,9%. Ada hubungan status gizi balita usia 3-5 tahun dengan kejadian stunting berdasarkan N2hitung . > N2tabel . dan Sig. Kesimpulan: Ada hubungan status gizi balita usia 3-5 tahun dengan kejadian stunting di Posyandu Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta. Kata Kunci: Status Gizi. Kejadian Stunting. Balita 857a Jurnal Voice of Midwifery. Vol. 9 No. 2 September 2019 maupun PENDAHULUAN Menurut WHO, pada tahun 2016 (Sudiman, 2. lebih dari 25% jumlah anak yang berumur Prevalensi pendek . pada dibawah lima tahun yaitu sekitar 165 juta balita dipengaruhi oleh beberapa faktor anak yang mengalami stunting, sedangkan yang terkait, antara lain keadaan gizi ibu untuk tingkat Asia, pada tahun 2010-2016 ketika masa kehamilan, asupan gizi yang Indonesia menduduki peringkat kelima kurang pada bayi, kekurangan konsumsi prevalensi stunting tertinggi. Berdasarkan makanan yang berlangsung lama sehingga hasil Riskesdas 2016, untuk skala nasional, status gizi balita rendah (Riskesdas, 2. prevalansi anak balita stunting masih di Pada tahun 2016, tercatat kasus gizi Indonesia sebesar 37,2%, apabila masalah buruk di seluruh DIY sejumlah 229 kasus, yang hingga pengunjung 2016 terdata 80 merupakan masalah kesehatan masyarakat (WHO, 2. kabupaten & kota di DIY, kasus gizi buruk Stunting adalah pertumbuhan yang Dari terbanyak justru ada di Kota Yogyakarta ketidakcakupan asupan energi, zat gizi jumlah banyak. Menurut Dinkes DIY, makro dan zat gizi mikro dalam jangka waktu panjang, atau hasil dari infeksi terbanyak berada di Kota Yogyakarta kronis/infeksi yang terjadi berulang kali yakni 96 orang, disusul Bantul 43 orang, (Umeta, 2. Sleman 32 orang. Kulonprogo 31 orang. Kejadian stunting muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama dan Gunungkidul 27 orang (Dinkes DIY seperti kemiskinan, perilaku pola asuh Upaya yang tidak tepat, dan sering menderita masyarakat termasuk penurunan prevalensi penyakit secara berulang karena higiene balita pendek menjadi salah satu prioritas 858a Jurnal Voice of Midwifery. Vol. 9 No. 2 September 2019 pembangunan nasional yang tercantum status gizi balita usia 3-5 tahun dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun Posyandu Purwikinanti Pakualaman Yogyakarta. 2015 Ae 2019. Target penurunan prevalensi METODE PENELITIAN stunting (Pendek dan sangat pende. pada anak baduta (Dibawah 2 tahu. adalah menjadi 28% (RPJMN, 2015 -2. Oleh karenanya pemerintah merencanakan Hari Anak Balita setiap Tanggal 8 April terkait dengan upaya penurunan prevalensi balita pendek (Infodatin, 2. Penelitian ini merupakan korelasi Posyandu Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta balita, dari jumlah balita tersebut terdapat 2,8% atau sebanyak 35 balita yang mengalami status gizi kurang dan 2,8% atau sebanyak 35 balita yang mengalami stunting dan 3,6% atau sebanyak 43 balita cukup gizi, dari data terbukti bahwa di Posyandu Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta masih ada balita yang stunting. Lokasi Posyandu Pakualaman Yogyakarta yang dilaksanakan tanggal 6 Juni 2019. Variabel Independent adalah status gizi balita umur 3-5 tahun dan variabel Dependent adalah kejadian stunting pada balita umur 3-5 tahun. Sumber data ada dua antara lain data primer yaitu status gizi yang dimiliki pada balita yang diperoleh dari hasil ukur Z-score tentang kejadian stunting pada balita, sedangkan data sekunder yaitu jumlah balita usia 3-5 tahun Berdasarkan latar belakang masalah penelitian ini adalah 35 balita usia 3-5 telah dilakukan pada tanggal 05 Agustus Populasi dan sampel dalam Purwokinanti Berdasarkan studi pendahuluan yang Instrumen penelitian berupa data hasil pengukuran dan penimbangan, serta melakukan penelitian tentang AuHubungan 859a Jurnal Voice of Midwifery. Vol. 9 No. 2 September 2019 data anak di posyandu. Metode analisa menyatakan bahwa status gizi pada balita data menggunakan uji Chi-Square. di wilayah kerja Puskesmas Tahunan Jepara berada dalam kategori gizi baik HASIL dan PEMBAHASAN Analisis Univariat Tabel 1. Status Gizi Balita Usia 3-5 Tahun Frekuensi No. Status Gizi (%) (N) Gizi Buruk 8,6% Gizi Kurang 22,9% Gizi Baik 60,0% Gizi Lebih 8,6% Total 100,0% Sumber: Data Primer, 2019. sebesar 75,0%. Persamaan hasil ini dapat terjadi karena lokasi penelitian yang hampir sama, yaitu sama-sama di wilayah Masyarakat memperoleh informasi kesehatan, sehingga dapat memiliki pengetahuan yang baik Status gizi pada balita merupakan tentang status gizi makanan dan kesehatan. hal penting yang harus diketahui oleh Hasil penelitian ini menunjukkan setiap orang tua, sehingga diperlukan bahwa sebagian besar balita usia 3-5 tahun perhatian lebih dalam tumbuh kembang di di Posyandu Purwokinanti Pakualaman usia balita. Berdasarkan hasil penelitian. Yogyakarta memiliki status gizi baik yang dapat diketahui bahwa dari 35 balita usia dipengaruhi oleh akses fasilitas kesehatan 3-5 tahun di Posyandu Purwokinanti yang mudah dijangkau karena Posyandu Pakualaman Yogyakarta, terdapat paling ini berada di wilayah perkotaan. Fasilitas banyak balita yang memiliki status gizi kesehatan yang berada di sekitar Posyandu dalam kategori baik sebanyak 21 balita Puskesmas . ,0%). Meskipun sebagian besar balita Pakualaman. berada dalam kondisi gizi baik, masih Hal ini juga didukung oleh askes terdapat 8 balita . ,9%) dengan kondisi informasi yang mudah diperoleh oleh ibu gizi kurang, dan 3 balita . ,6%) dengan balita, diantaranya adalah informasi dari kondisi gizi buruk. media cetak, elektronik, internet, maupun Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sholikah . , yang 860a Jurnal Voice of Midwifery. Vol. 9 No. 2 September 2019 kesehatan. Menurut Depkes RI . , karena kedua penelitian dilakukan di status gizi dapat dipengaruhi oleh akses wilayah perkotaan, yang memiliki akses layanan kesehatan, seperti Posyandu dan yang baik terhadap layanan kesehatan. Puskesmas. Ibu balita dapat memperoleh Menurut asumsi peneliti, terjadinya stunting pada sebagian balita usia 3-5 Puskesmas Pakualaman Yogyakarta. Posyandu Purwokinanti Tabel 2. Kejadian Stunting BalitaUsia 3-5 Tahun Frekuensi No Kejadian Stunting (%) (N) Stunting 28,6% Tidak Stunting 71,4% Total 100,0% Pakualaman Yogyakarta dapat dipengaruhi oleh polusi yang ada di sekitar lokasi penelitian, dimana penelitian ini dilakukan di wilayah perkotaan yang banyak terdapat Sumber: Data Primer, 2019 Menurut Nuryanto . Kejadian faktor kepadatan penduduk dan polusi diketahui oleh setiap orang tua, sehingga mengalami ISPA. Balita dengan ISPA diperlukan perhatian lebih dalam tumbuh berpotensi mengalami stunting karena kembang di usia balita. Berdasarkan hasil proses pertumbuhannya terganggu. penelitian, dapat diketahui bahwa dari 35 Menurut Engel . , terdapat Posyandu tiga faktor utama yang mempengaruhi Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta, tumbuh kembang secara tidak langsung . nderlying facto. , yaitu pangan rumah memiliki pertumbuhan kategori normal dan juga sebanyak 25 balita . ,4%). Ketiga Hasil ini sesuai dengan penelitian mempengaru status Setiawan . , yang menyatakan bahwa tingkat kesehatan anak yang juga turut pertumbuhan balita di Puskesmas Andalas menentukan kualitas pertumbuhan serta berada dalam kategori normal sebesar perkembangan anak. 73,1%. Persamaan hasil ini dapat terjadi 861a Jurnal Voice of Midwifery. Vol. 9 No. 2 September 2019 Analisis Bivariat Tabel 3. Tabulasi Silang Status Gizi dengan Kejadian Stunting Balita Usia 3-5 Tahun Kejadian Stunting Total Status Gizi Stunting Tidak Stunting Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih Jumlah Sumber: Data Primer, 2019 usia 3-5 tahun dengan pertumbuhan Berdasarkan hasil tabulasi silang kategori normal, terdapat paling banyak 18 status gizi dengan kejadian stunting pada balita dengan status gizi kategori baik. Posyandu Hasil ini menujukkan bahwa balita usia 3- Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta, dapat dilihat bahwa dari 10 balita usia 3-5 cenderung memiliki status gizi kurang, tahun yang mengalami stunting, terdapat sedangkan balita usia 3-5 tahun dengan paling banyak 6 balita dengan status gizi pertumbuhan kategori normal cenderung kategori kurang. Kemudian dari 25 balita memiliki status gizi baik. Tabel 4. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 3-5 Tahun Variabel N2hitung N2tabel Sig. Hasil Status Gizi -Kejadian Stunting 11,783 7,815 0,008 Ho ditolak dan Ha diterima Sumber: Data Primer, 2019 Berdasarkan Chi- Square (N. , didapatkan hasil bahwa nilai Posyandu Purwokinanti Pakualaman YogyakartaAy adalah diterima. N2hitung . > N2tabel . dan Sig. Hasil ini berbeda dengan penelitian . < . , sehingga dapat yang dilakukan oleh Ningrum . , dikatakan bahwa hipotesis penelitian yang yang menyatakan bahwa tidak terdapat berbunyi. AuAda hubungan status gizi balita tidak ada hubungan antara status gizi usia 3-5 tahun dengan kejadian stunting di dengan perkembangan balita di wilayah 862a Jurnal Voice of Midwifery. Vol. 9 No. 2 September 2019 Puskesmas Padamara Purbalingga. Hasil perkembangan anak karena anak mendapat yang berbeda ini dapat dipengaruhi oleh perhatian lebih baik secara fisik maupun lokasi penelitian yang berbeda, yaitu pada emosional keadaan gizinya lebih baik penelitian Ningrum terletak di wilayah dibandingkan dengan teman sebayanya pinggiran kota, sedangkan penelitian ini di tengah perkotaan. Balita yang timbuh di (Soetjiningsih, 2. Menurut Marimbi . , status gizi memperoleh udara yang cukup bersih, balita merupakan hal penting yang harus sehingga potensi terkena penyakit ISPA diketahui oleh setiap orang tua, perlunya cenderung rendah. Menurut Gibney et. perhatian lebih dalam tumbuh kembang di . , penyakit infeksi termasuk faktor langsung penyebab terjadinya kurang gizi kekurangan gizi yang terjadi pada masa pada balita. Gangguan infeksi penyakit emas ini, bersifat irreversible. Asupan gizi dapat mengganggu pertumbuhan pada adalah indikator utama dalam tumbuh kembang anak, ditinjau dari sudut tumbuh Menurut asumsi peneliti, status gizi kembang anak masa bayi merupakan berhubungan dengan kejadian stunting kurun waktu pertumbuhan paling pesat pada balita karena balita yang memiliki status gizi yang baik cenderung akan mengalami pertumbuhan yang baik atau pemberian nutrisi yang adekuat yang normal juga. Proses pertumbuhan pada diberikan ibu memegang peranan penting balita dapat berlangsung dengan baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak ketika ibu balita memiliki pengetahuan (Latief, 2. Status gizi balita dapat yang baik tentang pola pengasuhan balita. dipantau dengan menimbang anak setiap Pola bulan dan dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) (Marimbi, 2. 863a Jurnal Voice of Midwifery. Vol. 9 No. 2 September 2019 Dalam proses pertumbuhan balita, informasi edukasi (KIE) kepada ibu hamil juga diukur tinggi badan yang disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin balita. mengkonsumsi zat besi sesuai dengan Balita dengan keadaan tinggi badan yang Disini peran kader Posyandu rendah disebut dengan stunting. Menurut berperan untuk mengatur pemberian zat Kartikawati . , kejadian stunting pada besi yang sesuai dengan dosis dan kondisi balita dapat disebabkan oleh asupan gizi ibu hamil dan ibu balita (Adriani, 2. yang kurang dalam waktu yang lama SIMPULAN akibat pemberian makanan yang tidak Berdasarkan dari hasil penelitian Efek dan pembahasan yang terdapat pada bab stunting balita juga dapat terjadi terhadap sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan perkembangan kecerdasan balita, dimana terdapat hubungan status gizi balita usia 3balita yang mengalami stunting rata-rata 5 tahun dengan kejadian stunting di Posyandu Purwokinanti Pakualaman Yogyakarta. (Kusharisupeni. UCAPAN TERIMA KASIH / ACKNOWLEDGEMENT Dalam pencegahan stunting pada Terima Institusi balita dapat dilakukan dengan beberapa STIKES Yogyakarta atas bantuan material yang diberikan kepada peneliti dan semoga memberikan ASI secara baik yang disertai penelitian ini dapat bermanfaat. dengan pengawasan berat badan melalui KMS. Pemberian ASI secara eksklusif REFERENCES