Journal of Basic Learning and Thematic Vol. No. Januari 2023, pp. Upaya guru dalam meningkatkan budaya literasi siswa SD Ryan Firmansyah a,1, . Yusroh Alquriyah a,2. Eka Danik Prahastiwi a,3* a Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacitan. Jl. Gajah Mada No. 20 Baleharjo. Pacitan 63511. Indonesia 3 prahastiwidanik@isimupacitan. * corresponding author INF O AR TI KE L Riwayat Artikel Received: 20 November 2022 Revised: 15 Desember 2022 Accepted: 25 Januari 2023 Kata Kunci Guru Budaya literasi Siswa SD AB S TR A K Penelitian ini berfokus pada literasi siswa dalam proses pembelajaran. Permasalah yang diungkap adalah lunturnya literasi siswa karena minat literasi siswa-siswi di Indonesia sangat kurang. Dalam menyikapi hal ini tentunya guru pendidikan agama Islam juga mengupayakan dalam meningkatkan literasi siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya guru dalam meningkatkan literasi siswa di SDIC Pacitan. Penelitian ini adalah penelitian kulitatif deskriptif. Sumber data utama yaitu kepala sekolah, guru kelas, pustakawan, siswa, dan sumber data tambahan berupa dokumen sekolah. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: . pembiasaan literasi membaca sebelum jam pembelajaran, . pembiasaan memanfaatkan jam kosong untuk membaca, . upaya yang dilakukan oleh guru kelas beragam, seperti mengembangkan kebiasaan membaca materi sebelum pembelajaran dimulai, melakukan kegiatan apersepsi . atau mengajukan pertanyaan tentang materi apa yang telah dibaca siswa, dan juga berdiskusi bersama antara guru dengan siswa. Selain itu juga guru kelas memberikan tugas hafalan dan melakukan pembelajaran diluar kelas, . faktor pendukung dari lembaga atau pihak sekolah, orang tua, guru, serta sarana dan prasarana yang mendukung, sedangkan faktor penghambat adalah dari dalam diri siswa. This is an open access article under the CCAeBY-SA license. Sitasi Artikel: Firmansyah. Alquriyah. , & Prahastiwi. Upaya guru dalam meningkatkan budaya literasi siswa SD. Journal of Basic Learning and Thematic, 1. , 8-13. Pendahuluan Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan faktor penting dalam meningkatkan taraf hidup Sumber daya manusia erat kaitannya dengan tingkat pendidikan masyarakat, di mana pendidikan tak lepas dengan adanya kegiatan pembelajaran. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak Dalam konsep pembelajaran, cara belajar yang baik adalah dengan mengarahkan dan mendorong Journal of Basic Learning and Thematic Vol. No. Januari 2023, pp. siswa untuk mengembangkan materi secara mandiri melalui diskusi, observasi, studi pustaka dan dokumentasi, serta metode pembelajaran yang dapat mengembangkan motivasi internal siswa dan mendorong mereka untuk belajar lebih dalam Noor Fitrihana . Hal ini diungkapkan dalam salah satu pilar pendidikan yang menyatakan bahwa proses pembelajaran harus mampu mengajarkan kepada peserta didik atau siswa Aulearning how to learnAy . elajar bagaimana cara belaja. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang dapat mengembangkan sumber daya manusia sehingga dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang berkualitas. Oleh karena itu, peran sekolah sangat penting sehingga harus diimbangi dengan kualitas tenaga pengajar yang baik, yaitu guru yang dapat berinteraksi dengan siswa secara sinergis, aktif mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan, memiliki keahlian dan kemampuan mengakses ilmu pengetahuan, melakukan penelitian serta kerjasama ilmiah. Lembaga pendidikan atau sekolah memiliki peran tersendiri dalam menanamkan dan meningkatkan budaya literasi pada kalangan pelajar. Sehingga sekolah harus memberikan motivasi penuh terhadap penumbuhan dan pengembangan budaya literasi di sekolah (Firanita Devi. Nissa, 2. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan menuntut setiap siswa memiliki kemampuan baca dan tulis yang lebih, dengan tujuan agar siswa memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup untuk dapat bersaing dan mengikuti perkembangan zaman. Kemampuan baca tulis lebih ini seringkali disebut dengan literasi. Untuk mewujudkan keterpaduan literasi dan kegiatan belajar mengajar, perlu adanya upaya dari guru dan pustakawan. Guru dan pustakawan harus bekerja sama untuk mencapai tujuan literasi, yaitu belajar sepanjang hayat. Peran guru dalam mewujudkan literasi menjadi sangat penting karena mereka harus mampu mentransfer konsep literasi kepada siswanya. Guru juga harus siap mengajar siswa untuk menjadi pengguna informasi yang kritis, ingin tahu, kreatif, dan baik. Evolusi informasi saat ini mengarah pada ledakan informasi yang tak terhindarkan. Hal ini sangat wajar mengingat banyaknya informasi yang tersedia, baik tertulis, rekaman maupun digital, yang terus beredar di kalangan masyarakat. Akibatnya, masyarakat berpotensi terjebak dalam jutaan informasi yang tumbuh dan menjadi semakin kompleks. Untuk menghindari hal tersebut, setiap orang harus dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan secara efektif dan efisien, menggunakannya, mengevaluasinya dan mengembangkannya menjadi pengetahuan baru. Budaya literasi merupakan cermin atas kemajuan bangsa. Di mana literasi dipandang sebagai titik pangkal pembeda antara masyarakat primitif dengan masyarakat beradab. Sebab untuk memajukan suatu bangsa harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan untuk dapat menguasai IPTEK harus dengan memiliki minat baca yang tinggi, bukan berdasar mendengar atau menyimak saja (Firanita Devi. Nissa. Literasi berguna di era globalisasi informasi yang kompetitif, jadi pintar saja tidak cukup, yang utama adalah kemampuan untuk belajar terus menerus. Dalam hal ini, siswa diharapkan memperoleh keterampilan membaca dan menulis untuk mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah, sehingga meningkatkan motivasi belajar. Pembelajaran adalah proses komunikasi dua arah, pelajaran dilakukan oleh guru atau pendidik, sedangkan pembelajaran dilakukan oleh siswa atau peserta didik (Sagala. Syaiful :2. Guru memiliki tanggung jawab kepada seluruh anak didiknya dan peranan guru sebagai pendidik profesional sesungguhnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas. Menelaah lebih lanjut maka seorang guru harus siap sedia mengontrol siswa kapan dan di mana saja. Guru melakukan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, dan saling menghormati (Majid. Abdul dan Dian Andayani:2. Guru kelas di jenjang Sekolah Dasar dan sederajat memiliki tantangan yang sangat besar dalam mengoptimalisasikan gerakan literasi. Sebab siswa pada jenjang pendidikan ini merupakan sangat mudah dipengaruhi oleh berbagai macam informasi. Apalagi melihat keberadaan teknologi informasi yang terus membuat siapa saja AohausAo akan informasi serta dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang memudahkan pengaksesan informasi. Adapun siswa dalam menemukan informasi melalui berbagai sumber seperti buku-buku pelajaran (LKS dan buku pake. , buku nonpelajaran . uku kontemporer, novel, majalah, artike. , serta berita dan artikel dari media elektronik, media cetak, maupun media Peran guru dalam memperhatikan arus deras informasi adalah dengan menanamkan kepada siswa agar melek informasi terutama untuk perkembangan sumber ilmu pengetahuan. Mendidik siswa agar mampu berpikir kritis dalam menganalisis kebutuhan informasi siswa, membiasakan siswa untuk Firmansyah et. al (Upaya guru dalam meningkatkan budaya literas. Journal of Basic Learning and Thematic Vol. No. Januari 2023, pp. dapat mengevaluasi informasi yang didapatkan dengan mudah melalui jejaring internet dan media Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat sehingga setiap orang dengan mudah dan cepat memperoleh informasi justru akan menjadi boomerang apabila tidak dilandasi dengan kecakapan literasi yang baik. Munculnya berita hoaks atau informasi yang tidak jelas kebenarannya, munculnya perilaku plagiarisme, serta munculnya perilaku intoleransi antar maupun inter umat beragama sehingga akan menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Dalam sebuah jurnal Oleh karena itu, guru perlu memahami terlebih dahulu konsep literasi sehingga mampu menciptakan kegiatan pembelajaran yang tidak sekadar belajar materi namun juga melatihkan kecakapan literasi untuk dapat menemukan dan mengklasifikasikan informasi agar siswa tidak salah persepsi. Metode Pendekatan yang digunakan sesuai dengan permasalahan yang menjadi focus dalam penelitian di SDIC Pacitan, maka penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk mengumpulkan informasi mengenai status gejala yang ada atau kejadian apa saja yang terjadi saat penelitian dilakukan. Adapun penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah penelitian dengan menggunakan data yang berbentuk non angka, seperti kalimatkalimat, foto atau rekaman suara dan gambar. Data dan informasi yang digunakan dalam penelitian ini di dapat dari studi kepustakaan, observasi dan wawancara. Informasi yang didapat dari observasi langsung, catatan wawancara, dan foto Informasi tersebut dalam bentuk dokumen dan catatan peristiwa yang diolah menjadi data. Hasil dan Pembahasan Pemahaman guru tentang konsep literasi Konsep literasi atau melek informasi adalah kemampuan mengetahui keadaan atau membaca situasi dimana kita menyadari bahwa kita membutuhkan informasi. Literasi tidak hanya memungkinkan siswa menjadi individu yang dapat menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang mereka butuhkan, tetapi siswa juga berkinerja baik dalam tugas sekolah dan belajar secara mandiri. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh The Southern Association of Collages and School yang mendefinisikan literasi . elek informas. sebagai Aukemampuan menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi untuk menjadi pelajar sepanjang hayat yang mandiriAy (Farida Ida: 2. Konsep literasi . elek informas. di suatu lembaga sekolah sangatlah penting di era informasi sekarang ini, dimana guru dan perpustakaan harus menyediakan pilihan informasi yang tersedia, baik itu tercetak, elektronik, grafik maupun visual untuk memenuhi kebutuhan informasi siswa. Deskripsi budaya literasi di SDIC Pacitan Budaya literasi bertujuan untuk mengembangkan kebiasaan berpikir, diikuti dengan proses membaca dan menulis, dan dalam proses menciptakan sebuah karya. Seperti halnya pembiasaan atau budaya literasi di SDIC Pacitan adalah dilakukannya literasi setiap pagi sebelum jam pelajaran Sebelum memulai pembelajaran para siswa diberi pembiasaan untuk berdoAoa, dilanjutkan dengan membaca Al-QurAoan yang kurang lebih diberi kesempatan waktu 5-10 menit. Selain itu disetiap ada jam kosong dilakukan pembiasaan literasi untuk dipergunakan membaca Al-QurAoan, sesudah atau sebelum mengerjakan tugas yang diberikan dari guru piket. Upaya guru dalam pengembangan literasi siswa Upaya yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam untuk meningkatkan literasi siswa di SDIC Pacitan, antara lain: Membaca Al-QurAoan dan hafalan asmaul husna sebelum jam pembelajaran dimulai. Menggunakan jam kosong unntuk membaca Al-QurAoan. Penambahan buku penunjang maupun e-book yang berbasis agama Islam. Firmansyah et. al (Upaya guru dalam meningkatkan budaya literas. Journal of Basic Learning and Thematic Vol. No. Januari 2023, pp. Membaca materi pembelajaran sebelum pelajaran dimulai. Memberikan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan materi yang dipelajari. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan atau menerangkan ke depan kelas tentang apa yang sudah dibaca. Memberikan waktu untuk siswa berdiskusi bersama dengan teman sekelas. Melakukan pembelajaran diluar kelas seperti di perpustakaan, supaya siswa tidak merasa bosan. Faktor pendukung budaya literasi Orang Tua atau Komite Sekolah Orang tua memiliki peran penting dalam meningkatkan budaya literasi siswa karena dengan dorongan dan juga motivasi yang diberikan oleh orang tua terhadap anaknya, maka siswa akan lebih termotivasi dalam hal literasi. Guru-guru Komitmen dari kepala sekolah dan semua guru yang tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Selain itu guru sebagai orang tua kedua disekolah bagi siswa, tentunya guru memiliki tanggung jawab dan berperan penting untuk membimbing serta memotivasi siswanya sehingga siswa pun akan lebih aktif dalam berliterasi dan memiliki wawasan yang luas. Sarana dan Prasarana Agar literasi siswa dapat berkembang dan dapat terlaksana dengan baik tentu harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Faktor penghambat budaya literasi Menurut hasil wawancara dengan beberapa narasumber, faktor penghambat berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, yang merupakan faktor internal. Masih adanya jiwa pemalas dari siswa, yang mengakibatkan keterlambatan siswa datang ke sekolah dengan alasan bangun kesiangan dan jarak rumah ke sekolah yang jauh. Adapaun sebagian kecil faktor penghambat berasal dari luar, misalnya sebagian kecil kurangnya konsistensi, kesadaran serta dorongan dari beberapa guru. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Literasi siswa di SMK Negeri Ngadirojo sudah sangat baik, dengan diadakannya kegiatan-kegiatan maupun pembiasaan literasi yang ditetapkan oleh sekolah. Dengan adanya kegiatan maupun pembiasaan tersebut, memiliki manfaat yang sangat besar. Salah satunya, siswa memiliki rasa akan pentingnya kesadaran beragama, menumbuhkan rasa percaya diri serta sifat pembicara, kerja sama, serta menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih sehingga siswa mempunyai daya tarik tersendiri akan pentingnya literasi. Upaya yang dilakukan guru pendidikan agama Islam untuk meningkatkan literasi siswa pun Membaca dan menghafal sebelum jam pembelajaran, memanfaatkan jam kosong, penambahan buku penunjang, berdiskusi bersama, serta juga mengajak siswa belajar di luar kelas. Semua hal tersebut merupakan upaya yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam di SMK Negeri Ngadirojo. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam meningkatkan literasi siswa, diantarannya: Faktor pendukung, adanya komitmen dari kepala sekolah dan semua guru yang tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), bimbingan serta motivasi dari guru, kemudian dukungan dari orang tua atau komite sekolahdan juga sarana serta prasarana yang memadai sehingga dapat mendukung literasi siswa berjalan secara lancer, efektif dan efisien Faktor penghambat, hal ini berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, yang merupakan faktor Masih kurangnya tingkat kesadaran siswa akan pentingnya literasi, masih adanya Firmansyah et. al (Upaya guru dalam meningkatkan budaya literas. Journal of Basic Learning and Thematic Vol. No. Januari 2023, pp. siswa yang datang terlambat ke sekolah. Dan sebagian kecil faktor penghambat berasal dari luar, misal kurangnya konsistensi, kesadaran serta dorongan dari beberapa guru. Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut: Bagi sekolah, sebaiknya memberi motivasi serta menumbuhkan tingkat kesadaran guru yang kurang konsisten akan pentingnnya literasi untuk siswa. Bagi guru pendidikan agama Islam, sebaiknya membuat suasana pembelajaran lebih kreatif dan menarik, juga lebih memotivasi siswa, supaya siswa lebih bersemangat dan aktif dalam melakukan literasi. Bagi siswa, sebaiknya mentaati semua peraturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah. Dan siswa juga harus menambah minat serta semangat dalam hal literasi. DAFTAR PUSTAKA