JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 6 No. 1 Tahun 2021 | 1 Ae 10 JPK : Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan http://journal. id/index. php/JPK/index ISSN 2527-7057 (Onlin. ISSN 2549-2683 (Prin. Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-nilai Pancasila melalui Keteladanan dan Pembiasaan di Sekolah Dasar Fitri Kusumawardani A 1. Akhwani A 2. Nafiah A 3. Mohammad Taufiq A 4 Informasi artikel Sejarah Artikel: Diterima Desember 2021 Revisi Januari 2021 Dipublikasikan Januari Keywords : Pancasila. Character Education. Role Model. Habituation. How to Cite : Fitri Kusumawardani. Akhwani. Nafiah & Mohammad Taufiq . Pendidikan Karakter Berbasis Nilainilai Pancasila melalui Keteladanan dan Pembiasaan di Sekolah Dasar. Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 6. , pp. DOI: http://dx. org/10. 9/jpk. ABSTRAK Menurunnya kesadaran untuk menghayati dan menjiwai nila-nilai Pancasila akan menyebabkan terjadinya degradasi karakter bangsa. Jika terus dibiarkan akan berdampak pada moral dan akhlak generasi muda yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila melalui keteladaan dan pembiasaan. Penelitian didasarkan pada proses studi kepustakaan atau library research. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif-kritis yakni dengan lebih menekankan pada kemampuan analisis dan penelaahan terhadap sumber-sumber kepustakaan terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai Pancasila melalui keteladanan . ole mode. dilakukan dengan cara meningkatkan sisi religius siswa, memberikan bimbingan dan melatih ketaatan siswa untuk mematuhi tata tertib, membangkitkan semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air, menanamkan sikap demokratis pada siswa, mengajarkan peduli sosial dan tidak apatis. Implementasi nilai-nilai Pancasila melalui pembiasaan . dilakukan dengan membiasakan siswa memiliki sikap toleransi beragama, saling mencintai dan menghargai sesama manusia, tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk terpecah belah, terbiasa mengambil keputusan secara musyawarah, berteman dengan siapa saja dan memiliki solidaritas yang tinggi. ABSTRACT Character Education Based on Pancasila Values through Modeling and Habit in Elementary Schools. Decreased awareness to internalize and inspire the values of Pancasila will lead to the degradation of the nation's character. If left unchecked will have an impact on the morale and attitudes of the younger generation that are not in accordance with the values of Pancasila. This study aims to determine the implementation of character education based on Pancasila values through role models and habituation. This research is based on the library research process. The type of research used is descriptive qualitative-critical, namely by emphasizing the ability of analysis and analysis of selected library sources. The results showed that the implementation of Pancasila values through role models was done by improving the religious side of students, providing guidance and training students' obedience to obey the rules, arouse the national spirit and love of the motherland, instilling democratic attitudes in students, teaching social care and not apathetic. Whereas the implementation of the values of Pancasila through habituation is done by accustoming students to having an attitude of religious tolerance, mutual love and respect for fellow human beings, not making a difference as an excuse to be divided, accustomed to making deliberative decisions, making friends with anyone and having A Alamat korespondensi: Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Indonesia 1,2,3,4 A E-mail: sd16@student. akhwani@unusa. nefi_23@unusa. mtaufiq79@unusa. Copyright A 2021 Universitas Muhammadiyah Ponorogo PENDAHULUAN Pancasila merupakan identitas nasional Bangsa Indonesia. Jati diri bangsa yang di dalamnya melekat nilai-nilai luhur sekaligus cita-cita bangsa. Nilai-nilai Pancasila menjadi DOI: http://dx. org/ 10. 24269/jpk. pedoman dan rujukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sangat wajar jika nilai-nilai tersebut kemudian dipromosikan melalui berbagai bidang dan lapisan masyarakat. Sekolah merupakan salah satu instansi yang email: jpk@umpo. Fitri Kusumawardani, dkk | Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila konsisten mempromosikan Pancasila di bidang Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 37 disebutkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran wajib disetiap jenjang sekolah, mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Pendidikan Kewarganegaraan menjadi mata pelajaran yang secara fokus mengkaji dan mempromosikan Pancasila di berbagai jenjang pendidikan. Kebijakan menumbuhkembangkan Pancasila sebagai identitas nasional bangsa. Pancasila banyak dimaknai sebagai lima dasar dalam kehidupan berbangsa dan Artinya di dalam Pancasila terdapat lima prinsip dasar yang dijadikan pedoman hidup bermasyarakat di suatu negara. Lima prinsip tersebut menjadi konsensus dan terus dihayati setiap warganya. Menurut Warsono . Pancasila digali dari kearifan lokal serta budaya bangsa. Hakikat dan nilai-nilai Pancasila bersumber dari budaya yang hidup dan telah lama mengakar pada masyarakat Indonesia. Sila ke-Tuhan-an, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Lima sila yang tidak hanya dipahami namun juga diamalkan oleh masyarakat Indonesia. Pancasila digali dan diambil dari budaya bangsa, semestinya perwujudannya tidak susah untuk Pada setiap sila terdapat nilai-nilai karakter yang terkandung. Pada sila pertama mencerminkan karakter religius, nilai yang mengindikasikan hubungan manusia dengan Tuhan. Pada sila kedua, terkait dengan kemanusiaan mencerminkan karakter peduli Mengindikasikan hubungan hidup sesama manusia. Sementara sila ketiga, yakni Mencerminkan karakter patriotisme dan kebersamaan. Pada sila keempat, merujuk Sila yang mencerminkan karakter demokratis. Terakhir, pada sila kelima keadilan mencerminkan karakter adil. Adil bagi semua pihak tanpa pandang bulu. Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai luhur Pancasila seyogyanya tidak hanya dipromosikan pada tataran tekstual saja, melainkan lebih jauh pada tataran praksis. Menurut Waruwu & Sari . pendidikan karakter adalah pendidikan yang lebih mengedepankan hakikat dan makna terhadap moral dan akhlak. Pendidikan yang mampu membentuk pribadi yang terpuji dalam diri Pada konteks pendidikan karakter, . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan terdapat banyak sekali instrumen yang mempengaruhi, salah satunya adalah pendidikan Pendidikan formal memiliki peran penting dalam rangka pendidikan etika dan nilai (Akhwani, 2. Terlebih lagi dalam rangka mempersiapkan generasi masa depan bangsa. Disintegrasi nilai-nilai Pancasila kian hari semakin nampak. Berbagai permasalahan moral bangsa menjadi suguhan rutin setiap harinya. Anehnya anak-anak usia Sekolah Dasar turut nilai-nilai Pancasila. Pada tahun 2019 dalam rentang bulan Januari hingga April tercatat 37 kasus yang diadukan pada KPAI. Kasus-kasus tersebut didominasi oleh kekerasan dan perundungan. Presentase tertinggi yakni mencapai 67% atau sebanyak 25 kasus dari jumlah keseluruhannya terjadi di Sekolah Dasar (Rahayu. Detik. com:2. Kekerasan dan perundungan merupakan sebagian kecil dari sekian banyak kenakalan siswa yang melanggar nilai-nilai Pancasila. Hal ini menjadi bukti kelamnya pendidikan di Indonesia yang belum bisa dikatakan berhasil mendidik anak bangsa. Rachmah . memaparkan bahwa laju modernisasi dan perkembangan teknologi informasi serta komunikasi telah mendatangkan banyak dampak negatif yang mempengaruhi perilaku tidak terpuji dan tidak menghargai budaya bangsa. Pudarnya sikap kebhinnekaan dan kegotong-royongan serta anarkisme dan ketidakjujuran telah mencerminkan rendahnya moral dan akhlak bangsa saat ini Perilaku moral menyimpang sederhana seperti berbohong, membolos, dan mencontek, nantinya akan menjadi cikal bakal rusaknya moral yang lebih parah seperti tindak kekerasan, tawuran antar pelajar, merusak lingkungan dan alam sekitar, menjadi pengguna maupun pengedar narkoba, bahkan hingga sampai pada kasus pemerkosaan. Tindakan-tindakan tersebut sangat jelas sekali sudah jauh menyimpang dari moral dan akhlak pendidikan yang semestinya. Adanya degradasi karakter dalam pendidikan yang semakin marak dewasa ini menjadi bukti kuat perlu adanya implementasi pendidikan karakter berbasis nilainilai Pancasila di Sekolah Dasar. Dalam pandangan Rachmah. degradasi karakter yang melanda anakanak disebabkan karena adanya contoh kurang baik dari orang yang lebih dewasa. Anak-anak cenderung meniru perilaku yang telah dilakukan oleh orang dewasa. Jika hal demikian tidak segera dipangkas, maka regenerasi mendatang Fitri Kusumawardani, dkk | Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila akan menghasilkan masalah yang sama. Bisa jadi menabung permasalahan untuk masa depan. Orang tua, keluarga, sekolah dan lingkungan memegang peran penting dalam pembentukan karakter anak (Samani. Hariyanto. Orang dewasa memegang peranan penting dalam membentuk karakter Dalam konteks di sekolah, seorang guru merupakan pemegang peranan terpenting di lingkup sekolah dalam membentuk karakter melalui keteladan yang dicerminkan kepada siswanya (Hendriana. , & Jacobus. Kata kuncinya adalah pada keteladanan. Keteladan merupakan timbulnya sikap dan perilaku siswa karena meniru sikap dan perilaku Atau dengan kata lain siswa menjadikan guru sebagai role model. Guru seharusnya dapat menjadi teladan atau contoh yang baik dalam berbagai aspek seperti kejujuran, kedisiplinan, kerapian, kebersihan, tanggung jawab, dan lain Segala teori dalam buku yang telah diajarkan tidak sepatutnya hanya akan berhenti pada ujian saja. Teori tersebut semestinya diwujudkan dan diimplementasikan dalam praktek nyata kehidupan. Pembelajaran akan menjadi lebih bermakna jika siswa dapat melihat dan mengalami apa yang dipelajarinya secara Pembiasaan . merupakan perwujudan atas pemahaman, keterampilan, serta sikap dan karakter yang telah dipelajari selama ini (Muthoharoh. Tijan. , & Suprayogi. Suatu hal yang dibiasakan dan dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus, akan membuat siswa menjadi terbiasa. Pendidikan karakter yang ditanamkan dapat terimplementasi dengan baik apabila terus menerus dibiasakan dalam pelaksanaannya. Sehingga siswa akan menjadikan kebiasaan tersebut sebagai budaya yang akan terus dibawanya hingga tua nanti. Selain keteladan . ole mode. , strategi yang dapat digunakan untuk membentuk karakter siswa adalah melalui pembiasaan . Strategi ini tentunya juga dapat digunakan untuk menumbuhkembangkan nilainilai Pancasila. Sekolah perlu mengambil alih dan mencermati dua sisi ini dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila di Terlebih lagi pada usia Sekolah Dasar, implementasi Pendidikan karakter sangat Dari hasil beberapa sumber kepustakaan yang telah melakukan penelitian tentang pendidikan karakter berdasarkan Pancasila, menunjukkan hasil perubahan sikap dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui pendidikan karakter berdasarkan nilai-nilai Pancasila, maka peneliti melakukan penelitian tentang Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila Melalui Keteladanan (Role Mode. dan Pembiasaan (Habituatio. di Sekolah Dasar. METODE Penelitian ini didasarkan pada proses studi kepustakaan atau library research. Penelitian yang memanfaatkan sumber kepustakaan untuk memperoleh data penelitiannya (Zed, 2. Data yang didapatkan akan dipilih sesuai tujuan Dengan begitu, peneliti dapat memperoleh informasi tentang penelitian yang ada kaitannya dengan masalah yang akan dikaji. Data mengumpulkan sumber kepustakaan berupa karya ilmiah dari hasil penelitian maupun non penelitian, penulis buku, akademisi, intelektual dan ahli yang berkompeten di bidang kajian pendidikan karakter, bidang kajian Pancasila, serta bidang kajian keteladanan dan pembiasaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Jenis kualitatif-kritis menekankan pada kemampuan analisis dan penelaahan terhadap sumber kepustakaan yang didapat, data hasil penelitian lain, teori yang sesuai dengan topik penelitian, dan sebagainya yang dapat diarahkan pada tujuan utama Penelitian dimulai dari mengidentifikasi topik yang diteliti kemudian mencari dan mengumpulkan sumber data atau rujukan berupa buku, artikel, jurnal, dan karya ilmiah lainnya baik penelitian maupun non penelitian. Peneliti melakukan kajian secara mendalam terkait kepustakaan yang terpilih sebagai sumber data. Kemudian dilanjutkan dengan telaah kritis terhadap sumber data terpilih. Peneliti menentukan teori yang akan dijadikan landasan dalam penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Karakter berbasis nilai-nilai Pancasila Karakter dapat diartikan sebagai sifat kejiwaan, akhlak serta budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatnya berbeda jika dibandingkan dengan orang lainnya. Seseorang JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Fitri Kusumawardani, dkk | Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila yang berkarakter berarti memiliki sebuah watak serta kepribadian (Waruwu. , & Sari. Sedangkan pendidikan karakter merupakan suatu pendidikan yang memiliki tujuan untuk membentuk karakter, menanamkan moral dan akhlak mulia, serta memberikan pengetahuan tentang perilaku yang dilarang berkaitan dengan norma-norma. Upaya untuk implementasi pendidikan karakter berbasis Pancasila dapat dilakukan dengan cara menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pelaksanaan pendidikan karakter di Pancasila memiliki peran penting sebagai pondasi awal untuk membentuk karakter Salah satunya yakni dapat mengarahkan dan mengendalikan perilaku seseorang untuk menjalin hubungan sosial pada sesama manusia maupun alam sekitar dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana yang telah dituliskan oleh Darmodiharjo. dalam bukunya yang berjudul AuSantiaji PancasilaAy bahwasannya Pancasila memiliki fungsi sebagai pandangan hidup bangsa atau way of life. Maksudnya yaitu Pancasila berfungsi sebagai petunjuk hidup dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain. Pancasila digunakan sebagai petunjuk arah untuk melakukan segala kegiatan atau aktifitas hidup dan kehidupan di dalam segala bidang. Ini berarti bahwa semua tingkah laku dan tindak perbuatan setiap manusia Indonesia harus dijiwai dan merupakan cerminan dari semua sila Pancasila. Pancasila dinilai dapat menjalankan perannya sebagai pembentuk karakter dalam diri siswa yang nantinya setelah lulus dari sekolah diharapkan tidak hanya memiliki intelektual yang tinggi namun juga mempunyai moral dan akhlak yang baik dalam menjalani perannya di Implementasi pendidikan karakter berbasis Pancasila pada siswa sangat penting, karena bertujuan untuk membangun moral sesuai dengan karakter bangsa yang tertuang di dalam Pancasila. Siswa diharapkan dapat mempertahankan nilai-nilai Pancasila dan mempunyai filter terhadap budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia. Dengan begitu, sekolah sebagai lembaga pendidikan telah menjalankan perannya sebagai pembentuk karakter sesuai dengan tujuan sistem pendidikan nasional Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran penting untuk membentuk karakter siswa berlandaskan . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Pancasila. Pendidikan semestinya diimplementasikan pada setiap jenjang sekolah. Terutama pada jenjang Sekolah Dasar, sebagai pondasi awal yang dibangun sejak dini pada siswa. Pada usia Sekolah Dasar siswa akan lebih mudah dibentuk dan diarahkan daripada setelah dewasa. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 mengamanatkan pendidikan karakter di bidang Pendidikan tidak terbatas pada ranah kognisi atau psikomotor saja melainkan juga pada aspek afeksi. Pada ranah afeksi, dalam Juliardi, . 5:124-. menyebutkan bahwa Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan (PPK. sebagai sarana untuk nilai-nilai pendidikan karakter. Telah diketahui bersama bahwa PPKn adalah mata pelajaran yang memiliki peran pendidikan dalam pendidikan karakter berdasarkan nilai-nilai Pancasila Pada pembelajaran di Sekolah Dasar, materi PPKn sudah terintegrasi dengan materi yang lain. Kurikulum di sekolah dasar mengintruksikan menggunakan pembelajaran dengan tematik. Artinya Pendidikan karakter secara otomatis sudah masuk dalam kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar. Selain itu, tematema mengindikasikan tema yang mengarah pada pendidikan karakter. Sutarna N. 8:35-. dalam bukunya yang berjudul AuPendidikan Karakter Siswa Sekolah DasarAy menuliskan bahwa Pancasila dijadikan sebagai dasar dalam pengembangan pendidikan karakter. Timbulnya permasalahan kebangsaan seperti adanya penurunan kesadaran dalam menghayati nilai-nilai Pancasila menjadi salah satu penyebab yang melatarbelakangi Sebagai mewujudkan tujuan pembangunan nasional yakni menjadikan masyarakat berakhlaq mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab Pancasila, pemerintah menjadikan pembangunan karakter sesuai amanat Pancasila sebagai salah satu program yang diprioritaskan. Sehubungan dengan ini, dalam dunia pendidikan sudah semestinya siswa sebagai generasi penerus bangsa mampu memahami, menghayati, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila sejak dini. Sekolah Dasar merupakan wadah yang paling tepat dalam mengasah, mengasih, dan mengasuh siswa untuk menanamkan dan menerapkan karakter berdasarkan Pancasila. Fitri Kusumawardani, dkk | Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila Membangun Karakter Pancasila Melalui Keteladanan (Role Mode. Guru merupakan seseorang yang mempunyai keahlian, kemampuan, dan sikap serta perilaku yang pantas untuk dijadikan teladan atau contoh yang baik (Gunawan. 2016:77-. Oleh sebab itu guru memiliki peran yang cukup signifikan di sekolah dalam membangun karakter siswa. Guru haruslah memiliki sikap, perilaku, dan kepribadian yang Baik buruknya seorang guru akan menjadi cerminan bagi siswanya. Jika gurunya baik maka siswa juga akan baik, dan begitu pula sebaliknya. Meskipun begitu, tidak dibenarkan jika guru hanya berperilaku baik hanya pada saat di sekolah saja. Guru haruslah tetap berperilaku baik walaupun berada di luar sekolah terutama di Hal ini dapat mempengaruhi rasa kepercayaan dan keyakinan siswa akan sosok yang ia jadikan teladan. Keteladanan dapat menjadi salah satu penentu faktor keberhasilan pendidikan karakter di sekolah (Prasetyo. , & Marzuki. Sebagai seorang teladan bagi siswanya, guru memiliki beberapa peran yang harus dimainkan dengan baik, diantaranya adalah sebagai berikut: . guru terlibat langsung dalam proses pembelajaran sebagai upaya untuk membangun karakter. guru memiliki tanggung jawab penuh untuk menjadi model dalam memperagakan perilaku baik yang dicontohkan kepada siswanya. guru melakukan pemantauan secara berkala untuk mengetahui perkembangan karakter pada . guru berperan aktif dalam mengedukasi kepada siswa tentang nilai-nilai baik yang perlu diterapkan dan juga nilai-nilai buruk yang harus ditinggalkan (Cahyaningrum, . Sudaryanti. , & Purwanto. Siswa akan menjadikan guru sebagai role model atau panutan. Dalam akronim jawa, guru memiliki makna yang terdiri dari dua kata yakni digugu dan ditiru. Maksudnya adalah digugu atau dipercaya segala ucapannya dan ditiru segala perilaku serta perbuatannya. Seperti yang dikatakan oleh Hendriana. , & Jacobus. bahwa guru merupakan cermin indah bagi setiap anak didiknya. Apa yang dilakukan oleh guru adalah apa yang akan ditiru oleh siswa. Baik atau buruknya bergantung pada yang memberi contoh. Jika ingin siswa melakukan kebaikan, maka guru juga harus mencontohkan kebaikan pula pada siswanya. Suatu perkataan guru yang disertai dengan perbuatan akan lebih mudah diterima dan ditiru oleh siswa daripada hanya penjelasan secara teoretis saja. Senada dengan pepatah dalam bahasa inggris yang berbunyi Auaction speak louder than wordsAy bahwa segala tindakan yang dilakukan oleh seorang guru, akan dirasa lebih bermakna daripada hanya sekedar kata-kata yang terucap melalui teori dalam kelas. Berbicara merupakan hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh siapapun, tetapi tidak semua orang mampu mewujudkan perkataannya dengan perbuatan. Oleh karena itu sebuah keteladanan yang dicerminkan oleh seorang guru merupakan obat yang sangat manjur untuk dapat membentuk karakter pada siswa. Dengan melihat sikap dan perilaku guru yang menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian di sekolah, akan menjadikan siswa untuk turut menirunya. Siswa tidak hanya menghafal Pancasila secara tekstual saja, tetapi mampu mengerti dan memahami makna dari kelima sila Pancasila yang kemudian dipraktekkan langsung dalam kehidupan nyata. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Prasetyo. , & Marzuki. dan Mariatun. , & Indriani. menunjukkan hasil bahwa pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila diintegrasikan ke dalam pembelajaran. Upaya tersebut diketahui telah berhasil memunculkan karakter siswa yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. selain itu keteladanan dapat diterapkan dengan cara guru dan semua warga sekolah berusaha memberi contoh dengan berkelakuan baik dalam segala hal. Keteladanan tersebut meliputi perkataan, tingkah laku, dan juga tindakan. Pendidikan karakter yang diterapkan adalah dengan menjadikan Pancasila sebagai salah satu sumbernya. Sebelum membentuk karakter pada siswa, guru telah menguasai dan menerapkan karakter tersebut dalam dirinya sendiri terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar siswa dapat merasakan contoh nyata dan kemudian menjadi peniru yang handal. Pada sila pertama, guru mencerminkan karakter religius. Upaya guru dalam mencerminkan karakter religius terhadap siswa dilakukan dengan cara berusaha datang lebih awal ke masjid lalu duduk di barisan paling depan dan membaca Al-Quran sambil menunggu waktu sholat tiba. Guru memberikan kesempatan mengumandangkan adzan pada siswa yang datang paling awal. Sehingga siswa akan berlomba menjadi yang paling pertama tiba di JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Fitri Kusumawardani, dkk | Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila Selanjutnya, guru mencontohkan cara berpenampilan yang baik yaitu rapi dalam berpakaian dan tidak menggunakan bahan yang Selain itu guru juga selalu mengucap salam dan berdoa setiap akan memulai dan mengakhiri pelajaran. Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan harapan agar siswa dapat termotivasi untuk beribadah tepat waktu, menambah hafalan bacan Al-Quran, berpenampilan sesuai syariat agama, dan menjadikan salam sebagai ciri khas orang islam setiap bertemu dengan orang lain serta selalu mengucap doa dalam memulai dan mengkahiri segala kegiatan yang dilakukan. Pada sila kedua, keteladanan ditunjukan melalui bimbingan dan ketaatan. Ketika siswa menunjukkan sikap negatif di dalam kelas seperti membuat kegaduhan, guru tidak akan mengambil tindakan untuk menyuruh siswanya keluar kelas. Justru sebaliknya, guru akan terus berusaha untuk tetap membimbing siswa agar terlepas dari hal negatif tersebut. Sebab setiap siswa memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam belajar. Tata tertib dan peraturan yang telah disepakati juga diberlakukan untuk seluruh siswa tanpa terkecuali. Siapapun wajib mematuhi dan menerima hukuman jika Hal ini mampu mencontohkan sikap adil tidak pandang bulu dan melihat siapa serta darimana orang lain berasal. Pada sila ketiga, keteladanan dilakukan melalui membangkitkan semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air pada siswanya, setiap pagi hari sebelum dimulai pelajaran guru akan memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu nasional. Saat bernyanyi guru mengintruksikan semua siswa untuk berhenti dari aktifitasnya dan fokus memaknai setiap lirik lagu yang dinyanyikan. Selain itu kegiatan lain yang dapat menjadikan siswa bangga terhadap tanah air yakni pada saat perayaan hari bersejarah bangsa Indonesia seperti Hari Kartini. Memakai pakaian adat dapat membuat siswa mengenal dan mencintai keragaman budaya nusantara. Sementara itu pada sila keempat, guru memberikan teladan melalui cerminan karakter Guru melakukan komunikasi dua arah di setiap pembelajaran yang berlangsung di Tidak hanya menyampaikan pelajaran saja tetapi guru juga menerima respon secara langsung dari siswanya. Sebagai subjek pembelajaran, siswa dilatih untuk turut aktif berpendapat, mengajukan dan menjawab . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Guru dengan terbuka menerima jika ada perbedaan pendapat bahkan sanggahan dari Hal ini akan memicu tumbuhnya sikap demokratis dalam diri siswa untuk menerima pendapat orang lain. Selain itu, dalam setiap tugas yang membebaskan siswa untuk berdiskusi dan menyepakati keputusan yang dibuat oleh masing-masing Guru menjadikan dirinya sebagai seorang pemimpin dalam mengarahkan musyawarah pembentukan pengurus kelas, jadwal piket, peraturan dan tata tertib serta lainnya. Dengan begitu, guru telah mencontohkan musyawarah mufakat menerima dan menjalankan keputusan yang telah disepakati bersama. Sementara itu pada sila kelima keteladanan dilakukan melalui mencerminkan karakter peduli sosial. Guru melatih kepekaan siswa terhadap sesama dengan turut membantu dan meringankan beban serta peduli apabila ada warga sekolah yang sedang tertimpa musibah. Sekolah memiliki program beramal yang ditujukan untuk kegiatan bakti sosial secara Selain itu, jika ada yang sakit maka guru akan menyampaikan kepada siswa dan memimpin doa bersama memohon kesembuhan kepada Allah SWT. Kemudian guru jugalah yang akan mengkoordinasikan siswa agar menjenguk dan membawa buah tangan untuk warga sekolah yang sedang sakit. Hal yang sama juga akan dilakukan apabila mendengar kabar kematian. Bahkan guru mengajak dan menjadi imam bagi siswanya untuk melaksanakan sholat ghaib serta mendoakannya bersama-sama. Guru menjadikan dirinya sebagai teladan untuk turut peduli terhadap musibah dan kesedihan yang menimpa orang-orang disekitar. Maka dengan cara tersebut guru dapat mendidik siswa untuk tidak menjadi pribadi yang apatis dan anti sosial. Keteladanan memiliki pengaruh besar dalam tingkat keberhasilan pendidikan karakter Guru tidak akan dapat mengajarkan sebuah karakter jika karakter tersebut tidak Melalui pemodelan, siswa memiliki kecenderungan untuk meniru sikap dan perilaku baik yang telah ditampilkan oleh guru sebagai role model atau Membangun Karakter Pancasila Melalui Pembiasan (Habituatio. Fitri Kusumawardani, dkk | Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila Selain keteladanan, cara lain yang juga dinilai ampuh dalam implementasi pendidikan karakter berbasis Pancasila yaitu dengan . Pembiasaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan memiliki tujuan untuk membuat seseorang menjadi terbiasa dalam melakukan suatu hal. Sebuah gagasan akan melahirkan perbuatan, sebuah perbuatan akan melahirkan kebiasaan, sebuah kebiasaan akan melahirkan karakter, dan sebuah karakter akan menentukan nasib (Hendriana. , & Jacobus. Inti dari pernyataan tersebut adalah suatu kebiasaan dapat membentuk sebuah karakter. Jika kebiasaan yang dilakukan baik, maka akan baik juga karakter seseorang. Pierre Bourdieu menggagas hal ini dengan teori habitus. Maksud dari teori ini adalah kebiasaan merupakan perilaku yang tertanam sejak lama bahkan berlangsung dari generasi ke generasi sehingga sudah menjadi kebiasaan (Mustofa & Karya. Kebiasaan memberikan arahan bahwa penanaman karakter dilakukan melalui kondisi yang dilakukan secara Pembiasaan merupakan sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang yang bertujuan untuk membuat seseorang menjadi terbiasa dalam bersikap, berperilaku, bertindak dan berpikir menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Nisa. 2017:31-. Tujuan yang dimaksud yakni untuk membentuk karakter siswa yang menetap, karena dilakukan secara berulang-ulang agar terbiasa. Sehingga diharapkan di masa yang akan datang siswa dapat membawa kebiasaan baik tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan menjalankan perannya sebagai warga negara yang baik dan memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Efendi. , & SaAodiyah. menunjukkan hasil bahwa penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam kelima sila Pancasila, mulai dari penerapan sila pertama hingga sila kelima di sekolah, yaitu siswa tidak hanya mengembangkan daya intelektualnya namun juga sikap dan perilakunya. Sikap dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari merupakan cerminan dari karakter berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang berhasil diimplentasikan atau diterapkan oleh sekolah. Kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan . , dan konsisten oleh sekolah berkaitan dengan implementasi nilai-nilai Pancasila, dapat menjadikan siswa terbiasa. Sehingga nantinya siswa juga akan membawa kebiasaan tersebut di masa yang akan datang saat menjalani kehidupan bermasyarakat. Upaya sekolah untuk melakukan pembiasaan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dalam kegiatankegiatan yang telah disusun berkelanjutan dan terorganisir dengan baik. Ada banyak kegiatan yang bisa diadakan secara rutin oleh sekolah untuk menjadikan siswa terbiasa. Karena telah terbiasa maka siswa juga akan membawa kebiasaan tersebut walaupun ketika tidak sedang berada di lingkup sekolah. Hendriana. , & Jacobus. 6:2. menyatakan bahwa ada 18 karakter yang dapat diimplementasikan di sekolah untuk merealisasikan pendidikan karakter, diantaranya yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung Sedangkan beberapa contoh kegiatan yang dapat dibiasakan oleh sekolah yaitu seperti: membiasakan doa bersama, sholat berjamaah, budaya membuang sampah pada tempatnya, budaya disiplin, budaya sopan santun, budaya cinta lingkungan, budaya melestarikan tarian tradisional, dan lain sebagainya. Siswa Sekolah Dasar berada pada fase anak-anak yang belum mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Oleh sebab itu, mereka perlu melihat sosok ideal dan sempurna mencerminkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Sosok tersebut adalah seorang guru di sekolah. Jika siswa telah berhasil meneladani sikap dan perilaku guru, kemudian siswa mulai menunjukkan perubahan karakter dari belum baik menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik lagi maka karakter tersebut harus Siswa perlu dibiasakan untuk dapat terus mempertahankan karakter tersebut. Sesuatu yang telah menjadi kebiasaan di usia dini akan sulit untuk dirubah dan tetap dibawa hingga ia dewasa bahkan tua nanti. Berdasarkan hasil penelitian oleh Wahyono. di SDN 1 Sekarsuli Bantul Yogyakarta menunjukkan hasil bahwa sekolah telah menggunakan metode pembiasaan . untuk menerapkan nilai-nilai JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Fitri Kusumawardani, dkk | Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila Pancasila dalam berbagai kegiatan sehari-hari siswa di sekolah. Pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan tersebut diantaranya adalah: Implementasi sila pertama. Siswa dibiasakan untuk selalu mengucap salam dan berdoa setiap akan memulai dan mengakhiri Bagi siswa muslim dilanjutkan dengan membaca bacaan surat pendek dan berdoa bagi siswa non muslim. Selain itu kegiatan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah juga dilakukan setiap hari. Karena sudah terbiasa maka siswa akan mengerjakannya tanpa menunggu diperintah atau dipaksa. Saat siswa muslim beribadah, siswa non muslim tidak pernah mengganggu begitupun sebaliknya. Sikap toleransi akan tumbuh dengan sendirinya karena siswa saling menghargai walaupun berbeda agama dan keyakinan. Pada sila kedua, yakni melalui pembiasaan seperti senyum, salam, sapa, sopan, dan santun atau yang biasa dikenal dengan sebutan 5 S adalah budaya yang wajib dan telah dibiasakan kepada seluruh warga sekolah. Tersenyum, lalu megucap salam, kemudian saling bertegur sapa, yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Dengan begitu siswa akan memiliki sikap memanusiakan manusia, saling mencintai sesama, dan juga mempunyai adab yang baik. Implementasi dibiasaakan melalui Sholat berjamaah menjadi salah satu perantara untuk dapat menguatkan rasa persatuan antar siswa. Perbedaan ras, suku, golongan, bahkan warna kulit bukan merupakan alasan untuk terpecah belah. Selain itu, dengan menyanyikan dan memaknai lagu Indonesia Raya juga dapat membangkitkan semangat siswa untuk mencintai tanah air dan menghargai jasa para pahlawannya. Sementara itu, pada sila keempat, siswa dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran dan bebas mengungkapkan pendapatnya. Siswa juga dibiasakan untuk selalu mengambil keputusan secara musyawarah mufakat seperti pada saat pemilihan ketua kelas agar siswa dapat belajar menghargai pendapat orang lain, tidak kepentingan bersama, dan menerima dengan lapang hati serta menjalankan keputusan hasil Pada sila kelima. Siswa dibiasakan untuk berteman dengan siapa saja tanpa melihat perbedaan kasta atau golongan. Siswa juga tak segan saling berbagi satu sama lain. Hal ini dapat meningkatkan rasa kekeluargaan dan solidaritas . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan yang tinggi serta menekan sikap individualisme yang dimiliki siswa. Berdasarkan hasil penelitian oleh Rachmah. menunjukkan hasil bahwa pendidikan karakter yang dilakukan di sekolah dapat menekan angka degradasi karakter yang semakin banyak terjadi terutama pada anakanak. Hal ini disebabkan lantaran anak meniru perilaku negatif dari orang-orang disekitarnya. Upaya untuk menangani kasus tersebut yakni dengan menggunakan metode pembiasaan . sebagai upaya untuk membiasakan karakter-karakter baik agar tertanam dalam diri Pendidikan karakter dapat menumbuhkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Pancasila merupakan citacita dan tujuan bangsa. Karena di dalam pancasila terkandung aturan hidup untuk mengatur tingkah laku masyarakat Indonesia. Oleh dikembangkan dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Keteladan . ole mode. dan pembiasaan . dapat membentuk karakter yang relatif menetap dan tidak mudah berubah. Dengan menggunakan kedua metode atau cara tersebut maka implementasi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuannya, yakni melahirkan generasi muda sebagai manusia yang Tidak hanya menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, mengamalkannya dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. SIMPULAN Degradasi moral terjadi akibat adanya penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila. Oleh sebab itu perlu diadakannya pendidikan karakter yang mengacu dan menjadikan Pancasila sebagai sumber utamanya. Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa. Dalam kelima silanya terkandung nilai-nilai ideal bangsa yang dapat mengatur masyarakat Indonesia. Lembaga pendidikan Sekolah Dasar mengimplementasikan pendidikan karakter nilai-nilai Pancasila. Dalam pelaksanaannya, metode keteladanan . merupakan langkah menanamkan karakter Pancasila pada siswa. Implementasi nilai-nilai Pancasila melalui keteladanan . ole mode. dilakukan dengan cara guru memberi contoh untuk meningkatkan ibadah seperti sholat Fitri Kusumawardani, dkk | Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Pancasila berjamaah, membaca Al-Quran, berpakaian sesuai syariat, mengucap salam, serta berdoa sesuai dengan nilai-nilai sila pertama. Guru melakukan bimbingan dan melatih siswa menaati tata tertib sesuai dengan nilai-nilai pada sila kedua. Menyanyikan lagu nasional dan daerah, memperingati hari bersejarah, memakai baju adat sesuai dengan nilai-nilai sila ketiga. Guru melakukan komunikasi dua arah, melatih siswa berpendapat, mengadakan diskusi dan musyawarah sesuai dengan nilai-nilai sila Guru mengajarkan siswa untuk peka terhadap sesama dan menjauhi sikap apatis serta anti sosial sesuai dengan nilai-nilai sila kelima. Sedangkan implementasi nilai-nilai Pancasila melalui pembiasaan . dilakukan dengan membiasakan siswa untuk bertoleransi dan beribadah sesuai keyakinan masing-masing seperti pengamalan sila pertama. Membiasakan budaya 5 S, saling mencintai sesama, sopan santun, dan beradab baik seperti pengamalan sila Menerima perbedaan, memaknai lagu Indonesia Raya, dan menghargai jasa pahlawan seperti pengamalan sila ketiga. Siswa terbiasa mengambil keputusan secara musyawarah seperti pengamalan sila keempat. Siswa berteman dengan siapa saja, bersikap adil, saling berbagi, dan memiliki solidaritas tinggi seperti pengamalan sila kelima. Nilai-nilai Pancasila yang ditanamkan mampu menjadikan siswa berkarakter, yakni memiliki moral dan akhlak yang baik sebagai bekal untuk dapat menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan Nilai-nilai tersebut dijadikan dasar sebagai pengembangan karakter pada siswa yakni: karakter religius dalam sila Ke-Tuhan-an, karakter peduli sosial dalam sila kemanusiaan, karakter patriotisme dan kebersamaan dalam sila persatuan, karakter demokratis dalam sila musyawarah mufakat, dan karakter adil dalam sila keadilan. Siswa diharapkan tidak hanya menghafal Pancasila secara tekstual saja, tetapi juga mampu untuk mewujudkan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam menjalani kehidupan yang sebenarnya. DAFTAR PUSTAKA