90 E-ISSN 2686-2042 Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol . No. Maret 2023, pp. Metode Storytelling Papeda dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Apresiasi Masyarakat Rantau dari Timur Lyly Soemarni 1 *. Ester Sekar Tajie 2 1, 2 Politeknik Sahid. Jl. Kemiri Raya No. Tangerang Selatan Banten 15418. Indonesia lylysoemarni@gmail. com*, 2 restersekar58@gmail. * corresponding author ARTICLE INFO ABSTRACT Article history : Received : 26-02-2023 Revised : 13-03-2023 Accepted : 31-03-2023 This study aims to determine the influence of storytelling methods on the appreciation of nomad communities from eastern Indonesia towards papeda The total sample was 57 respondents, distributed via online The method of this study is evaluative descriptive design by conducted one group pre-test-post. The results of this study obtained pre-test appreciation of respondents reaching a total score of 1-5, the category of less appreciation for papeda had responded by 35 people . 4%), and those who reached a total score of 6-9, for the category of good appreciation of papeda totaling only 22 people . 6%). As result for post-test appreciation was found that all respondents reached a total score of 8-14, for the category of good appreciation for papeda amounting to 57 people . 0%). It concluded that storytelling method is effective in increasing the appreciation of nomad communities from eastern Indonesia towards Papeda. Keywords : Storytelling Appreciation Papeda PENDAHULUAN Makanan khas suatu daerah merupakan salah satu hasil budaya masyarakat. Ketersediaan bahan baku di mana masyarakat bermukim dijadikan bahan utama untuk pengolah makanan, karena bahan baku ini dominan sehingga membuat makanan tersebut menjadi kekhasan masyarakat setempat. Misalnya, masyarakat yang tinggal di pesisir pantai akan menggunakan hasil laut sebagai bahan utama dalam mengolah makanan dan menggunakan bumbu yang tersedia di alam sekitarnya. Demikian pula masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan akan menggunakan hasil hutan berupa tanaman atau hewan buruan sebagai bahan utama untuk mengolah makanannya. (Haryono, 2. Salah satu bentuk kekayaan hutan Indonesia adalah adalah tanaman sagu (Metroxylo. , bagian yang diambil adalah bagian teras batang tanaman rumbia (Metroxlon sago Rott. yang disebut sagu setelah diproses akan berbentuk tepung. Populasi pohon sagu terbesar di Indonesia tersebar di wilayah yaitu Papua. Maluku. Riau. Sulawesi Tengah dan Kalimantan (Portal Berita Info Publik, 2. Masyarakat di wilayah tersebut memanfaatkan tanaman sagu menjadi bahan makanan, khususnya masyarakat Papua dan Maluku. Tepung sagu diolah menjadi bubur yang dikenal dengan sebutan Papeda dan Papeda merupakan makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Papeda kerap disajikan pada acara penting di wilayah Papua. Maluku, dan sekitarnya. Sehingga tak heran jika papeda menjadi salah satu warisan kuliner Nusantara yang khas (Portal Berita Info Publik, 2. Suku Nuaulu di Pulau Seram. Maluku, juga menyantap papeda yang di sana disebut sebagai sonar monne. Makanan itu telah disakralkan dalam ritual perayaan masa pubertas seorang gadis. Masyarakat Papua. Maluku dan sekitarnya menjadikan papeda sebagai makanan pokok mereka (Tulalessy, 2. Orang-orang Maluku dan Papua memperoleh pati sagu dengan menebang batang pohon palem sagu, memotongnya menjadi dua, dan mengikis bagian dalam batang yang lunak, empulurnya, menghasilkan tepung empulur sagu mentah. Tepung ini kemudian dicampur dengan air dan diperas untuk melepaskan pati dari tepung. Pati sagu yang masih lembab biasanya disimpan dalam wadah yang terbuat dari daun sagu, yang disebut tumang yang akan disimpan selama beberapa bulan sebelum terjadi fermentasi spontan akan membuatnya terlalu asam dan tidak cocok untuk membuat papeda. http://ojs. journaldestinesia@gmail. com/destinesiajournal@stiami. Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol . No. Maret 2023, pp. E-ISSN 2686-2042 Bergantung pada varietas dan kondisi pertumbuhannya, pohon sagu membutuhkan lima hingga lima belas tahun untuk mengumpulkan cukup banyak pati di batangnya sehingga membuat upaya penggaliannya jadi bermanfaat. Seiring kemajuan teknologi dan zaman yang semakin modern, papeda yang dahulu dijadikan tradisi masyarakat Maluku perlahan mulai pudar. Apresiasi dan kesadaran masyarakat mulai berkurang, perubahan pola konsumsi masyarakat Maluku memberikan pengaruh terhadap produksi sagu, di mana permintaan tepung sagu yang menurun mengakibatkan petani sagu mengalihkan lahannya untuk tanaman lain yang lebih memberikan nilai ekonomis yang tinggi. Abson Timisela, ketua kelompok budidaya tanaman sagu dan pengolahannya memiliki pendapat yang sama, permintaan sagu di pasar menurun dan harga jual pun menurun karena konsumen memilih bahan makanan lain. Akibatnya pemilik lahan sagu mulai beralih menanam jenis tanaman lain di lahan mereka atau lahan digunakan untuk pemukiman dan lainnya. Fenomena perubahan ini dikuartirkan akan menghilangkan hasil budaya masyarakat Maluku yang biasa mengkonsumsi Papeda sebagai makanan pokok (Info Publik, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ansar et al . tentang sagu, disebutkan bahwa pangan lokal masyarakat pada masa pandemi Covid-19 di kota Tidore kepulauan mengatakan dalam menghadapi kelangkaan pangan salah satu komoditas penghasil karbohidrat yang tinggi yang perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah komoditas sagu. Potensi satu rumpun sagu, yaitu mampu menopang kebutuhan pangan satu keluarga dalam satu rumah tangga, sehingga komoditas sagu pantas dan relevan disebut pilar kedaulatan pangan. Akselerasi pengembangan komoditas sagu berarti mengakselerasi terwujudnya kemandirian dan kedaulatan pangan, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat nasional. Storytelling memiliki makna berbagi pengalaman dan seni interprestasi. Alur cerita di dalam storytelling, menjadi sangat penting karena dapat mengisi kesenjangan bahasa, budaya dan pemisah. Teknik storytelling dapat diterima oleh semua usia sehingga storytelling dapat digunakan sebagai metode untuk menyampaikan nilai sosial, etik, norma budaya dan perbedaan (Atta-Alla, 2. Storytelling di dalam aplikasi sistem informasi wisata gastronomi dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk menyampaikan kearifan lokal tentang gastronomi suatu kota atau daerah (Sari et al. Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari (AsyAoariyah, 2. , tentang Storytelling Sebagai Upaya Meningkatkan Konsumsi Sayur, menggunakan metode Quasy experimental pre-test-post-test. Dari hasil penilitian didapatkan ada perbedaan pengetahuan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kontrol. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain deskriptif evaluatif, yaitu kegiatan mengumpulkan data-data atau informasi yang diperlukan kemudian dilakukan perbandingan antar kriterianya, sehingga mengahsikan sebuah simpulan, yang disebut sebagai evaluasi. Rancangan yang digunakan adalah One Group design pre-test Ae post-test. Dengan demikian apresiasi dinilai sebelum dan sesudah storytelling (Sugiyono, 2. Besar sampel ditentukan menggunakan tabel krejcie. Jumlah populasi dalam penilitian ini sebesar 65 orang. Dengan demikian jumlah sampel yang didapatkan adalah 57 responden. Penarikan sampel mengunakan nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono . purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Tujuan menggunakan teknik purposive sampling karena tidak semua sampel memiliki kriteria yang sesuai dengan fenomena yang diteliti, teknik purposive sampling menetapkan pertimbangan atau kriteria tertentu yang harus dimiliki oleh sampel-sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini yakni kriteria inklusi dan kriteria ekslusi (Sugiyono, 2. Proses perancangan yang pertama yaitu menentukan topik yang akan diteliti, kemudian melakukan proses perancangan yang kedua, yaitu tahap mengumpulkan data yang berkaitan dengan topik seperti buku-buku, jurnal yang berperan untuk menunjang pembuatan laporan. Proses perancangan ketiga, yaitu tahap analisa masalah dan kebutuhan, setelah data - data yang diperlukan Lyly Soemarni (Metode Storytelling Papeda dalam Meningkatkan Pengetahuan dan ApresiasiA) E-ISSN 2686-2042 Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol . No. Maret 2023, pp. sudah terkumpul maka melakukan analisa permasalahan serta kebutuhan yang diperlukan. Selanjutnya masuk ke proses perancangan. Keempat, yaitu tahap perancangan dan implementasi pada tahap ini merancang serta mengimplementasikan kegiatan storytelling, kemudian masuk ke perancangan kelima, yaitu tahap pengujian. Di akhiri dengan tahap pengujian kegiatan storytelling yang telah dirancang dan diimplementasikan pada tahap sebelumnya. Jika pada tahapan pengujian ini berhasil maka lanjut ke tahap penyusunan laporan dan dokumentasi, tetapi jika gagal dalam pengujian maka akan mengulang kembali ke tahap sebelumnya yaitu perancangan dan implementasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Tabel 1. menunjukkan bahwa responden berjenis kelamin laki-laki yaitu 30 orang . 6%), dan perempuan berjumlah 27 orang . Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Domisili Domisili Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Total Tabel 2. menunjukkan bahwa sebagian besar bedomisili di Jakarta Selatan, yaitu berjumlah 16 orang . 1%). Lyly Soemarni (Metode Storytelling Papeda dalam Meningkatkan Pengetahuan dan ApresiasiA) Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol . No. Maret 2023, pp. E-ISSN 2686-2042 Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Daerah Asal Daerah Asal Maluku Maluku Utara Maluku Tenggara Papua Papua Barat Lainnya Total Berdasarkan Tabel 3, sebagian besar responden berasal dari Maluku, yaitu 22 orang . 6%), dari data di atas juga menunjukan bahwa kategori lainnya adalah responden yang berasal dari NTT, yaitu berjumlah 8 orang . %). Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Pelajar Mahasiswa PNS Karyawan Swasta Wirausaha Total Berdasarkan Tabel 4, sebagian besar pekerjaan responden yaitu karyawan swasta berjumlah 20 orang . 1%). Lyly Soemarni (Metode Storytelling Papeda dalam Meningkatkan Pengetahuan dan ApresiasiA) E-ISSN 2686-2042 Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol . No. Maret 2023, pp. Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Umur Umur 12-15 Tahun 16-19 Tahun 20-23 Tahun 24 Tahun ke atas Total Berdasarkan Tabel 5, sebagian besar responden berusia di atas 24 tahun, yaitu berjumlah 30 orang . 6%). Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Skor Pre-test Skor 1-5 (Kuran. 6-9 (Bai. Total Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Skor Post-tes Skor 8-14 (Bai. Total PEMBAHASAN Apresiasi Masyarakat Rantau dari Indonesia Timur terhadap Papeda Penelitian ini dilakukan untuk masyarakat Indonesia Timur yang merantau di Jakarta, terkait apresiasi terhadap makanan khas papeda. Menurut Adler dan Fagley . , apresiasi didefinisikan sebagai mengakui nilai dan makna sesuatu, suatu peristiwa, seseorang, perilaku, objek, dan merasakan hubungan emosional yang positif terhadapnya. Apresiasi telah dikatakan menjadi faktor kunci menempa dan mempertahanakan ikatan sosial (Adler & Fagley, 2005. Algoe, 2012. Adler & Fagley 2012. Aloe. Gable & Maisel, 2. Pada Tabel 6 hasil apresiasi pre-test didapatkan bahwa responden yang mencapai total skor 1-5 (Kuran. berjumlah 35 orang . 4%), dan yang mencapai total skor 6-9 (Bai. berjumlah 22 orang . 6%). Menurut asumsi peneliti, apresiasi pada pre-test dari responden didapatkan 35 orang . kurang memiliki apresiasi. Karena dilatar belakangi rasa suka terhadap papeda bukan berdasarkan rasa apresiasi terhadap papeda itu sendiri. Dengan demikian masyarakat Indonesia Timur yang merantau atau yang berdomisili Jakarta belum memahami makna kearifan lokal kuliner papeda. Dan faktor yang mengakibatkan apresiasi berkurang adalah karena muncul rasa jenuh dan rasa ingin mencoba makanan khas lain. Faktor lainnya adalah pati sagu sulit didapatkan di daerah Jakarta. Menurut hasil wawancara dengan salah satu responden. Tn. D, cara mendapatkan pati sagu murni di Jakata, yakni dikirim melalui Lyly Soemarni (Metode Storytelling Papeda dalam Meningkatkan Pengetahuan dan ApresiasiA) Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol . No. Maret 2023, pp. E-ISSN 2686-2042 kantor pos atau dikirim melalui rekan yang datang ke Jakarta. Kemudian menurut Tn. D hal ini tergolong sulit dan hanya pada acara tertentu oleh karena itu Tn. D mengobati rasa rindu terhadap makanan khas papeda dengan cara membeli sagu tani sebagai pengganti pati sagu murni. Menurut wawancara terkait pengalihan fungsi lahan tanaman sagu. Tn. F mengatakan di Distrik Sentani Jayapura Papua, lahan gambut adalah tempat bertumbuhnya pohon sagu yang mulai terancam oleh perkebunan dan pembangunan lahan infrastruktur karena dianggap sebagai lahan yang tidak produktif, padahal lahan sagu itu merupakan sumber kehidupan bagi sebagian besar masyarakat Sentani. Papua. Lebih lanjut menurut Tn. F, budidaya tanaman sagu mulai tergeser dengan masuknya perusahan-perusahan yang menutup wilayah tanaman sagu diganti dengan tanaman sawit dan karet, akibatnya masyarakat yang tinggal di tengah hutan sagu mengalami krisis pangan, padahal mereka hidup ditengah hutan sagu yang notabennya merupakan sumber pangan, karenanya masyarakat beralih ke beras. Pengetahuan Masyarakat Rantau dari Indonesia Timur Sebelum dan Sesudah Mendapatkan Storytelling Table 7 membuktikan bahwa masyarakat Indonesia Timur memiliki pengetahuan yang baik setelah diterapkan metoda storytelling. Hal ini dibuktikan dengan jumlah rata-rata tiap item jawaban pre-test 23,44% sedangkan post-test 56. Menurut Notoatmodjo . , pengetahuan adalah hasil dari kesadaran atas apa yang terjadi melalui melalui panca indera, yaitu indera penglihatan, pendengaraan, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan yang diterima seorang manusia sebagian besar diperoleh melalui indera pengeliatan dan pendengaran. Pengukuran pengetahuan dapat diketahui dengan menanyakan kepada seseorang agar ia mengungkapkan apa yang diketahui dalam bentuk Jawaban tersebut yang merupakan reaksi dari stimulus yang diberikan baik dalam bentuk pertanyaan langsung maupun tertulis. Pengukuran pengetahuan dapat menggunakan kuesioner maupun wawancara (Sekaran and Bougie, 2. Hasil perhitungan presentase pada setiap item pernyataan yang menunjukan presentasi dominan tinggi adalah item penyataan nomor 8 dengan presentase pre-test 50,9% dan post-test adalah 98,2%, sedangkan presentase yang rendah terdapat pada item pernyataan nomor 5 yakni presentase pre-test 3% dan post-test 100%. Peneliti menyimpulkan bahwa responden belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang papeda sebelum diberikan metode storytelling. Hal ini dibuktikan oleh jawaban pret-test dari responden pada item pertanyaan nomor 5 tentang zat yang terkandung di dalam papeda. Masyarakat Indonesia Timur pada dasarnya hanya memiliki pengetahuan mencakup sejarah dan filosifi pada papeda dikarenakan papeda selalu dikaitkan dengan budaya masyarakat setempat dibandingakan dengan riset pengetahuan terkait papeda maupun manfaat papeda bagi kesehatan. Dampak Metode Storytelling terhadap Apresiasi pada papeda Hasil penelitian post-test dari Tabel 7 menunjukkan bahwa semua responden mencapai total skor 8-14 (Bai. berjumlah 57 orang . 0%). Menurut Gottschall (Juraid & Ibrahim, 2. mendongeng tidak terbatas pada transfer pengetahuan dan pemahaman saja, tapi juga memainkan peran penting dalam memotivasi, melibatkan dan berinteraksi dengan pendengar. Karena kegiatan storytelling ini penting bagi anak, maka kegiatan tersebut harus dikemas sedemikian rupa supaya menarik. Di mana papeda memiliki makna yang sangat besar dalam kearifan lokal masyarakat Indonesia Timur. Masyarakat Indonesia Timur menjadikan sagu sebagai bahan makanan pokok, yaitu papeda yang sangat memiliki kaitan erat dengan filosofi, budaya dan kearifan lokal kuliner. Papeda memiliki tekstur yang lengket dan tidak mudah untuk putus, hal ini membuktikan bahwa papeda dapat mempersatukan tali persaudaraan (Pelupessy, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryandi . Perbedaan Konsumsi Sayur Sebelum Dan Sesudah Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Storytelling Pada Anak Sekolah Dasar di SDN Mulyoagung 04 Dau Malang. Desain penelitian ini menggunakan desain preexperiment tanpa kelompok kontrol dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon didapatkan nilai signifikan 0,002 dengan nilai p-velue <0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan konsumsi sayur sebelum dan sesudah Lyly Soemarni (Metode Storytelling Papeda dalam Meningkatkan Pengetahuan dan ApresiasiA) E-ISSN 2686-2042 Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol . No. Maret 2023, pp. Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari (AsyAoariyah, 2. , tentang Storytelling sebagai Upaya Meningkatkan Konsumsi Sayur, menggunakan metode Quasy experimental pretest-posttest Hasil uji statistik Mann-Whitney U Test diperoleh p=0,000 sehingga p<0,05 yang artinya ada perbedaan pengetahuan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kontrol. Menurut Echols & Shadily (Wahyuni et al, 2. storytelling terdiri atas dua kata yaitu story berarti cerita dan telling berarti menceritakan. Penggabungan dua kata storytelling berarti penceritaan cerita atau menceritakan cerita. Selain itu, storytelling disebut juga bercerita atau mendongeng. Storytelling merupakan usaha yang dilakukan oleh pendongeng dalam menyampaikan isi perasaan, buah pikiran atau sebuah cerita kepada anak-anak serta lisan. Hal ini didukung oleh Stanley & Dillingham (Hidayati, 2. menyatakan bahwa storytelling adalah kegiatan lisan untuk menarik perhatian penonton dengan menggunakan emosi. Merangsang semua sensori yang ada dari suatu peristiwa dalam sebuah cerita yang melibatkan improvisasi dalam bercerita, gestur, mimik wajah dan gerakan tubuh. Dalam teori lain Champion mengatakan bahwa bercerita adalah kegiatan lisan di mana bahasa dan gerak tubuh digunakan menambahkan warna dalam setiap urutan cerita. Menurut Gibson (Hidayati, 2. bercerita adalah proses aktif yang mendorong anak untuk merekonstruksi teks, juga memungkinkan terjadinya interaksi antara tutor dan anak. Kelebihan storytelling dalam penelitian ini adalah cerita disampaikan menggunakan dialeg Indonesia Timur walaupun masih terdapat beberapa dialeg dan aksen yang belum fasih disampaikan. Dalam storytelling, storyteller melakukan interaksi dua arah dengan pendengar. Pada proses inilah akan terjalin komunikasi antara storyteller dengan pendengarnya (Wardiah, 2. Agar proses storytelling menarik bagi pendengar menurut Geisler dan Asfandiyar (Pitaya, 2. perlu memperhatikan teknik dan tahapan dalam kegiatan storytelling. Storyteller sebaiknya selama bercerita memperhatikan kontak mata dengan pendengarnya, cerita, gerakan tubuh dan intonasi suara juga menjadi mendukung jalan cerita agar lebih menarik dan dapat menggambarkan dan menghidupkan cerita tersebut. Pendapat beberapa responden terkait metode storyterling dari penelitian ini yakni: AuVideo storytelling papeda sangat bagus sekali, karena bisa menambah wawasan saya tentang makanan pokok masyarakat bagian timur Indonesia terutama masyarakat Ambon, keren banget penjelasannya tentang papedaAy. Pendapat lain yakni AuVideonya sangat bagus, karena menjelaskan makanan khas Indonesia Timur. Mengingat bahwa papeda adalah makanan khas Indonesia Timur yang mengandung banyak sekali manfaatnya untuk manusia, maka dari itu patut untuk dilestarikan. Dan sekarang ini banyak pohon sagu yang sudah di tebang dan tidak ditanam kembali, dan tempat yg menjadi populasi pohon sagu sudah dijadikan lahan untuk pembangunan infrastruktur baik pemerintah maupun perorangan. Jika hal ini dibiarkan terus menerus bukan tidak mungkin populasi pohon sagu akan semakin berkurang bahkan hilang/musnah. Maka dari itu pohon sagu wajib untuk dilestarikan. LAWAMENA HAULALA. PELE PUTUS MALINTANG PATA. Ay. SIMPULAN DAN SARAN Tabel 6 menujukkan hasil apresiasi pre-test dan didapatkan kesimpulan bahwa sebelum dilakukan metode storytelling masih ada responden yang mencapai total skor 1-5 yaitu kategori apresiasi kurang terhadap papeda berjumlah 35 orang . 4%). Dapat disimpulkan bahwa ada responden yang memiliki apresiasi kurang dan dilatar belakangi oleh rasa suka terhadap papeda bukan berdasarkan apresiasi. Dengan demikian masyarakat Indonesia Timur yang merantau di Jakarta belum menyadari akan makna kearifan lokal kuliner papeda. Hasil penelitian post-test dari Tabel 7 menunjukkan bahwa sesudah diterapkan metode storytelling, semua responden mencapai total skor 8-14 yaitu kategori apresiasi baik terhadap papeda berjumlah 57 orang . 0%). Dapat disimpulkan bahwa metode storytelling efektif dalam meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia Timur karena sebagian besar responden memberikan Lyly Soemarni (Metode Storytelling Papeda dalam Meningkatkan Pengetahuan dan ApresiasiA) Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol . No. Maret 2023, pp. E-ISSN 2686-2042 tanggapan positif terkait metode storytelling yang di terapkan karena memberikan pengetahuan dan mendorong responden menjadi lebih menghargai makanan papeda. Untuk saran, diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dalam melanjutkan penelitian selanjutnya dengan menambah variabel yang berhubungan dengan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap makanan khas papeda. DAFTAR PUSTAKA