JIEB: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis pAeISSN: 0000-0000 e-ISSN: 0000-0000 Vol. No. Juni 2025 Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali Candra Kirana STAI Raudhatul Ulum Email: candrakirana@stit-ru. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali. Metode dalam penelitian ini lebih menekankan pada jenis penelitian kepustakaan . ibrary research (Subagyo, 1. diperoleh dari buku profil al-ghazali, pandangan dalam menanamkan nilai-nilai Pendidikan akhlak, manajemen pendidikan Islam. Teknik pengambilan data melalui sumber buku, jurnal, artikel maupun majalah dan internet yang berhubungan dengan biografi, profil singkat & konsep pemikiran Al Ghazali dalam Pendidikan, kurikulum, media & peserta didik serta Landasan Akhlak dan Konstribusi Konsep Al-Ghazali Terhadap Manajemen Pendidikan. Analisis data menggunakan teknik analisis yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dengan tahapan reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan . (Sugiyono, 2. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali menggabungkan antara kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali mengatakan bahwa AlQurAoan beserta kandungannya berisikan pokok-pokok ilmu pengetahuan. Isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan, membersihkan jiwa, memperindah akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah. Integrasi nilai-nilai pendidikan akhlak dalam manajemen pendidikan Islam sebagaimana diajarkan oleh Al-Ghazali menjadi kebutuhan mendesak dalam membangun peradaban Islam yang bermartabat. Al-Ghazali tidak hanya menawarkan pandangan teoretis tentang pendidikan, tetapi juga menyuguhkan prinsip-prinsip manajerial yang dapat diterapkan dalam konteks kelembagaan. Kata Kunci : Integrasi. Nilai Pendidikan. Akhlak. Manajemen Pendidikan Abstract This study aims to determine the integration of moral education values in Islamic education management from Al-Ghazali's perspective. The method in this study emphasizes more on the type of library research (Library research (Subagyo, 1. obtained from the book Al-Ghazali's profile, views in instilling the values of moral education. Islamic education management. Data collection techniques through sources of books, journals, articles or magazines and the internet related to the biography, short profile & concept of Al Ghazali's thoughts in Education, curriculum, media & students as well as the Foundation of Morals and Contribution of AlGhazali's Concept to Educational Management. Data analysis uses the analysis technique proposed by Miles and Huberman with the stages of data reduction, data presentation and drawing conclusions . (Sugiyono, 2. The results of the study show that good education is a way to get closer to Allah and gain happiness in this world and the hereafter. AlPage 1 of 14 Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali Candra Kirana Ghazali combines happiness in this world and the hereafter. Al-Ghazali said that the Qur'an and its contents contain the main points of knowledge. Its contents are very useful for life, cleanse the soul, beautify morals and get closer to Allah. The integration of moral values into Islamic educational management, as taught by Al-Ghazali, is an urgent need for building a dignified Islamic civilization. Al-Ghazali not only offers a theoretical perspective on education but also presents managerial principles that can be applied in an institutional context. Keywords: Integration. Educational Values. Morals. Educational Management PENDAHULUAN Dalam sistem pendidikan Islam, tujuan utama tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif semata, tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia. Di tengah krisis moral yang melanda berbagai sektor kehidupan, penting untuk menggali kembali khazanah pemikiran tokoh-tokoh klasik Islam seperti Imam Al-Ghazali. Gagasan Al-Ghazali tentang pendidikan akhlak tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga operasional dalam konteks manajemen pendidikan. Pemikirannya menjadi acuan penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam sistem manajemen pendidikan Islam kontemporer. Nama lengkapnya Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al Ghazali, lebih dikenal dengan Al Ghazali. Dia lahir di kota kecil yang terletak di dekat Thus. Provinsi Khurasan. Republik Islam Irak pada tahun 450 H . 8 M). Nama Al Ghazali ini berasal dari ghazzal, yang berarti tukang pintal benang, karena pekerjaan ayahnya adalah memintal benang wol. Sedangkan Ghazali juga diambil dari kata ghazalah, yaitu nama kampung kelahiran Al Ghazali dan inilah yang banyak dipakai, sehingga namanya pun dinisbatkan oleh orang-orang kepada pekerjaan ayahnya atau kepada tempat lahirnya. Orang tuanya gemar mempelajari ilmu tasawuf, karena orang tuanya hanya mau makan dari hasil usaha tangannya sendiri dari menenun wol. Ia juga terkenal pecinta ilmu dan selalu berdoAoa agar anaknya kelak menjadi seorang ulama. Amat disayangkan ajalnya tidak memberikan kesempatan padanya untuk menyaksikan keberhasilan anaknya sesuai doAoanya. Sejak kecil. Al Ghazali dikenal sebagai anak yang senang menuntut ilmu. Karenanya, tidak heran sejak masa kanak-kanak, ia telah belajar dengan sejumlah guru di kota kelahirannya. Diantara guru-gurunya pada Page 2 of 14 JIEB: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis. Vol. No. Juni 2025 waktu itu adalah Ahmad Ibn Muhammad Al Radzikani. Kemudian pada masa mudanya ia belajar di Nisyapur juga di Khurasan, yang pada saat itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia kemudian menjadi murid Imam Al Haramayn Al Juwaini yang merupakan guru besar di Madrasah An Nizhymiyah Nisyapur. Al Ghazali belajar teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam. Al Ghazali mendapat gelar kehormatan Hujjatul Islym atas pembelaannya yang mengagumkan terhadap agama Islam, terutama terhadap kaum bythiniyyah dan kaum filosof. Sosok Al Ghazali mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Dia seorang ulama, pendidik, ahli pikir dalam ilmunya dan pengarang produktif. Al Ghazali berpendapat bahwa watak manusia pada dasarnya adalah seimbang, dan lingkungan dan pendidikanlah yang memperburuknya. Sebagaimana prinsip Islam. Al Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang berkuasa dan sangat memelihara dan menjadi rahmatan lil Aoylamyn. Untuk taqarrub pada Allah, yang terpenting adalah muqyrabah dan muhysabah. Adapun kesenangan menurut Al Ghazali ada dua, yaitu kepuasan . ketika mengetahui kebenaran sesuatu dan kebahagiaan . aAoyda. ketika mengetahui kebenaran sumber dari segala kebahagiaan itu sendiri . aAorifatullyh disertai musyyhadah al qal. Pemikiran Al Ghazali banyak mempengaruhi pada masa setelahnya, karena sesuai dengan ajaran Islam. mendapat gelar Hujjatul Islym karena jasanya dalam mengomentari dan melakukan pembelaan terhadap berbagai serangan dari pihak luar, baik Islam maupun orientalis Barat. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali. Metode dalam penelitian ini lebih menekankan pada jenis penelitian kepustakaan . ibrary research (Subagyo, 1. diperoleh dari buku profil al-ghazali, pandangan dalam menanamkan nilai-nilai Pendidikan akhlak, manajemen pendidikan Islam. Teknik pengambilan data melalui sumber buku, jurnal, artikel maupun majalah dan internet yang berhubungan dengan biografi, profil singkat & konsep pemikiran Al Ghazali dalam Pendidikan, kurikulum, media & peserta didik serta Landasan Akhlak dan Konstribusi Konsep Al-Ghazali Terhadap Manajemen Page 3 of 14 Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali Candra Kirana Pendidikan. Analisis data menggunakan teknik analisis yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dengan tahapan reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan . (Sugiyono, 2. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali menggabungkan antara kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali mengatakan bahwa Al-QurAoan beserta kandungannya berisikan pokok-pokok ilmu pengetahuan. Isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan, membersihkan jiwa, memperindah akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah. Integrasi nilai-nilai pendidikan akhlak dalam manajemen pendidikan Islam sebagaimana diajarkan oleh Al-Ghazali menjadi kebutuhan mendesak dalam membangun peradaban Islam yang bermartabat. Al-Ghazali tidak hanya menawarkan pandangan teoretis tentang pendidikan, tetapi juga menyuguhkan prinsip-prinsip manajerial yang dapat diterapkan dalam konteks kelembagaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Singkat Imam Al-Ghazali dan Pemahamannya Al Ghazali. Nama lengkapnya ialah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Thusi al-Ghazali. lahir pada tahun 450 H/1058 M, di desa Thus, wilayah Khurasan. Iran. Namanya kadang diucapkan Ghazzali . ua Z), artinya tukang pintal benang. Karena pekerjaan ayah al-Ghazali ialah tukang pintal benang wol. Sedangkan yang lazim ialah Ghazali . atu Z), diambil dari kata Ghazalah nama kampung kelahirannya. Diceritakan bahwa orang tuanya adalah orang yang saleh yang tidak mau makan kecuali dari hasil tangannya sendiri. Dia bekerja memintal bulu domba lalu menjualnya di tokonya sendiri. Ketika kematian datangnya menjemputnya, dia berpesan tentang dia dan saudara lakinya yang bernama Ahmad kepada seorang sahabatnya yang merupakan seorang ahlu tasawuf dan suka melakukan kebajikan, dimana dia berkata kepadanya Au Sesungguhnya aku kesulitan yang sangat besar tentang pelajaran menulis dan aku sangat senang untuk menemukan apa yang terlewat dariku di dalam kedua orang anakku ini. Dan tidaklah mengapa darimu Page 4 of 14 JIEB: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis. Vol. No. Juni 2025 untuk menghabiskan semua yang aku tinggalkan untuk mereka berdua dalam hal ini. Ketika dia meninggal dunia, mulailah sang sufi mengajar mereka berdua sampai habis warisan yang secuil yang ditinggalkan oleh bapak merek berdua, maka dia berkata kepada mereka Au ketahuilah oleh kalian berdua bahwa sesungguhnya aku benarbenar telah membelanjakan apa yang telah menjadi hak kalian bedua untuk kalian berdua sementara aku hanya seorang lelaki miskin. Tidak ada hartaku yang dengannya aku dapat membantu kalian berdua. Hendaknya kalian bedua berlindung kepada sebuah madrasah karena sesungguhnya kalian berdua adalah penuntut ilmu sehingga kalian akan gmendapatkan kekuatan yang akan membantu kalian diatas waktu kalian. Kemudian keduanya melakukan hal itu dan inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan tingginya tingkatan mereka. Al Ghazaliy menceritakan hal tersebut dengan mengatakan Au Kami menuntut ilmu karena selain Allah SWT, lalu aku menolak agar itu hanya karena Allah SWTAy. Dimasa kecilnya al-Ghazali mengkaji sebagian kecil dari ilmu fiqh kepada Ahmad Muhammad ar Radzikaniy kemudian setelah itu dia menuju Naisabur dan menetap dikediaman Imam Al Haramain Abu al MaAoaliy al Juwainiy, dimana dia berusaha dengan tekun dan kesungguhan hati sampai dia betul-betul menguasai bidang madzhab, khilafiyah, perbebatan, manthiq, membaca ilmu hikmah dan filsafat, mengambil hikmah dari semua itu, memahami semua ucapan pakar ilmu tersebut, memberikan sanggahan dan menggagalkan berbagai klaim yang mereka ajukan, dan untuk setiap bidang dari berbagai ilmu pengetahua. Dia mengarang banyak kitab yang mempunyai susunan dan tematis yang sangat menawan. Al Ghazali merupakan figur seorang yang sangat genius, pandangan luas, kuat daya hafalnya, jauh dari tipu daya, begitu mendalam melihat suatu pengertian dan memiliki berbagai pandangan yang betul-betul beralasan. Dia adalah seorang guru, filosof, ahli debat, pembicara, pembaharu, dan sufi yang sangat pioneer dalam semua bidang tersebut. Dengan menjadi seorang tokoh intelektual yang besar, dia meninggalkan berbagai kesan dan pengaruh abadinya dalam otak dan hati jutaan hati manusia yang berpikir di dunia. Falsafahnya tentang ilmu pengetahuan dan belajar merupakan sebagian pandangan umumnya mengenai dunia yang dengan kebijaksanaan dan kecerdasannya, telah ia tuangkan kedalam berbagai bukunya yang sangat banyak. Page 5 of 14 Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali Candra Kirana Dalam perjalanan hidupnya ia dihadapkan oleh suatu masyarakat yang dibingunkan oleh beberapa pemandangan kelimpahan yang tidak dapat dipahami dan terganggu oleh kekacauan keberadaan pemandangan itu sendiri. Ghazali dengan gigih membela kebenaran Islam yang sesungguhnya dan bekerja untuk mewujudkan kesadaran atas kandungan yang murni dari masa-masa Islam dengan semangat yang cukup memadai. Dia berhasil mengeluarkan pertumbuhan liar hal-hal yang tidak rasional dan tidak berdasar serta pembaharuan-pembaharuan yang tidak Dalam pengantar buku termashurnya. Ihya AoUlum al-Din. Ghazali menyerang dan berdebat dengan orang-orang seusianya karena kesesatan mereka dari keimanan kebenaran yang sederhana pada kepercayaan yang jahat. Kebanyakaan orang seangkatannya yang telah menjadi mangsa bagi kesombongan, keras kepala, perseteruan pribadi, dan pemikiran sempit hanya seperti simpanse yang saling bertarung atas dasar perpecahan yang picik demi keuntungan dan kemewahan materi. Mereka telah mengesampingkan kebanggaan mereka ketika saling bertentangan dengan Ghazali yang mengakibatkan mereka merosot pada kadar mereka yang sebenarnya dalam berbagai diskusi. Ghazali, setelah menjadi seorang yang fundamental dan salaf yang terbina dan tercerahkan, tidak yakin atas argumentasi yang ada pada saat itu. Dia menolak untuk merasakan, melihat, memikirkan, mendengarkan, berhujah, bertindak, dan berkata di luar isi pokok islam. Dia berpendapat bahwa apabila dasar-dasar Islam tidak dipahami dengan jujur sebagaimana adanya dan tidak benar-benar diamalkan atas dasar ketentuan dari Al-QurAoan dan As-Sunnah penyimpangan pada aspek sekunder atau tertier sama saja dengan tidak melaksanakan Islam. Ghazali juga tidak berkompromi dengan prilaku apapun diluar keagamaan dan melampaui kewajaran moral dari sufi-sufi dizamannya baginya, sebagaimana yang kemudian ia yakini, tasawuf merupakan satu-satunya jalan sempurna untuk memperoleh pengetahuan tentang Yang Maha Gaib dan mencari keselamatan, tetapi pada saat yang sama, dia berkeyakinan bahwa tasawuf tidak akan pernah dicapai dengan kesesatan atau tindakan yang melewati batas kehidupan sebagaimana yang dilukiskan dan diresepkan oleh Islam. Bagi Al-Ghazali tujuan hidup adalah sadar akan diri dan Tuhan. Page 6 of 14 JIEB: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis. Vol. No. Juni 2025 Ilmu pengetahuan adalah sarana, upaya, dan perangkat untuk mewujudkan tujuan akhir yang agung tersebut. Menyadari diri berarti menemukan orang yang sebenarnya dalam batin, yakni siapa yang menjadi perwujudan moral dan rohaniah secara sempurna. Menurut Al-ghazali, lapangan filsafat ada enam, yaitu matematika, logika, fisika, etika, dan metafisika. Hubungan lapangan-lapangan tersebut berbeda dengan agama, ada yag berlawanan dan ada yang tidak berlawanan. Al-ghazali berpendapat bahwa agama tidak melarang atau memrintahkan mempelajari matematika karna ilmu ini adalah hasil pembuktian pemikiran yang tidak bisa di ingkari sesudah di ketahui dan di fahami. Logika menurut al-ghazali, tidak ada sangkut pautnya dengan Logika besisi penyelidikan tentang dalil-dalil pembuktian, silogisme, syaratsyarat pembuktian, definisi. Semua persoalan ini tidak perlu di ingkari, sebab masih sejenis dengan di pergunakan mutakallimin. Ilmu fisika Al-ghazali, membicarakan tentag planet-planet, unsur-unsur tunggal, benda-benda tersusun, sebab-sebab perubahan kedokteran. dalam agama tidak di syaratkan mempelajari ilmu kedokteran sama halnya dengan ilmu fisika tidak perlu untuk di ingkari, kecuali dalam empat persoalan yaitu yang dapat di simpulkan bahwa alam semesta ini di kuasai oleh tuhan, tidak bekerja denga dirinya sendiri, tetapi bekerja karna tuhan, dzat penciptanya. Mengenai filsafat etika Al-Ghazali secara sekaligus dapat kita lihat pada teori tasawufnya dalam buku IhyaAo AoUlumuddin. Dengan kata lain, filsafat etika Al-Ghazali adalah teori tasawufnya itu. Mengenai tujuan pokok dari etika Al-Ghazali kita temui pada semboyan tasawuf yang terkenal AuAl-Takhalluq Bi Akhlaqihi AoAla Thaqah alBasyariyah, atau Al-Ishaf Bi Shifat al-Rahman AoAla Thaqah al-BasyariyahAy. Maksudnya adalah agar manusia sejauh kesanggupannya meniru perangai dan sifat-sifat ketuhanan seperti pengasih, pemaaf, dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, jujur, sabar, ikhlas dan sebagainya. Sesuai dengan prinsip Islam. Al-Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat . bagi sekalian alam. Berbeda dengan prinsip filsafat klasik Yunani yang menganggap bahwa Tuhan sebagai kebaikan yang tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu pendekatan diri dari manusia, dan menganggap materi sebagai pangkal keburukan sama sekali. Page 7 of 14 Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali Candra Kirana Al Ghazali dimakamkan di luar kebun Thabiran, yaitu pohon tebu di daerah Thus, semoga Allah SWT selalu melimpahkan Rahmat kepadanya. Konsep Pendidikan Al-Ghozali Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqorrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan Al-Ghazali berkata: Auhasil dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, selain itu beliau juga mengatakan bahwa tidak ada yang berani mengingkari bahwa al-QurAoan dan Sunnah Nabi SAW yang merupakan sumber berbagai pemikiran dan ilmu pengetahuan. Rumusan tujuan pendidikan didasarkan kepada firman Allah SWT, tentang tujuan penciptaan manusia yaitu:Audan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Ay (QS. Al-Dzariyat: . Menurut al-Ghazali, pendekatan diri kepada Allah merupakan tujuan Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu tidak akan diperoleh kecuali melalui Kesimpulan tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali dapat diklasifikasikan kedalam beberapa point berikut: . Mendekatkan diri kepada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dan dengan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan . Menggali dan mengambangkan potensi atau fitrah manusia. Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya. Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela. Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manusiawi. Page 8 of 14 JIEB: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis. Vol. No. Juni 2025 b. Kurikulum Pendidikan Kurikulum dimaksudkan disini adalah kurikulum dalam arti sempit, yaitu seperangkat ilmu yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik agar dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Pandangan Al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dipahami dari pandangan mengenai Ilmu Pengetahuan. Kurikulum pendidikan yang disusun al-ghazali sesuai pandangannya mengenai tujuan pendidikan yakni mendekatkan diri kepada Allah yang merupakan tolak ukur manusia. Untuk menuju kesana diperlukan ilmu pengetahuan. Mengurai kurikulum pendidikan menurut al-ghazali, ada dua hal yang menarik bagi kita. Pertama, pengklasifikasian terhadap ilmu pengetahuan yang sangat terperinci dalam segala aspek yang terkait dengannya. Kedua, pemikiran tentang manusia dengan segala potensi yang dibawanya sejak lahir. Imam Ghazali pernah berkomentar tentang konsep kurikulum pendidikan, bahwa mata pelajaran yang harus di sampaikan kepada anak didik didasarkan kepada dua pendekatan, antara lain: Pendekatan Agama Menurut Imam Ghazali bahwa mata pelajaran yang utama dan harus terdapat dalam kurikulum pendidikan adalah ilmu Agama. Seperti al-QurAoan dan al-Hadits, ilmu fiqh, ilmu tafsir dan lain sebagainya. Pendekatan Pragmatis Maksud dari pendekatan di sini adalah bahwa setiap ilmu yang memiliki dampak positif, baik kepada peserta didik maupun kepada masyarakat, maka pelajaran tersebut harus ada dalam kurikulum pendidikan, seperti ilmu kedoteran, ilmu matematika dal lain sebagainya. Klasifikasi ilmu tersebut sepertinya Imam Ghazali ingin mengatakan bahwa pada dasarnya ilmu terbagi kepada dua macam yaitu: pertama. Disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh setiap individu ummat Islam. Ilmu inilah yang masuk dalam katagori fardhu AoAin. Karenanya tidak ada pilihan lain kecuali disiplin ilmu ini harus dimasukan kedalam kurikulum pendidikan. Kedua. Disiplin ilmu yang tidak menuntut kepada setiap individu untuk menguasainya, tetapi cukup diwakili oleh beberapa ummat Islam saja. Disiplin ilmu inilah yang disebut dengan istilah fardhu kifayah. Karenanya jika ada sebagian ummat Islam telah memilikinya maka sudah terwakili. Page 9 of 14 Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali Candra Kirana Dalam kesempatan lain, al-Ghazali pernah menawarkan konsep kurikulum yang dikaitkan kepada ilmu pengetahuan. Dalam pandangan beliau bahwa ilmu terbagi kepada tiga bagian besar, antara lain: Ilmu yang terkutuk, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaAoatnya, baik di dunia maupun di akhirat, seperti ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan. Menurut pandangan Imam Ghazali bahwa ilmu-ilmu tersebut adalah tercela dan sesat, karena dapat mendatangkan ke madharatan, baik bagi pemiliknya maupun bagi orang lain. Ilmu yang terpuji, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan per ibadahan dan segala macamnya, seperti ilmu kebersihan atau bersuci, ilmu yang mendatangkan kemaslahatan bagi pemiliknya maupun kepada orang lain. Ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, namun tercela jika dipelajari secara Karena jika dipelajari secara mendalam maka akan menyebabkan kekacawan, kemadharatan bahkan menjadikan kafir bagi pemiliknya, seperti ilmu filsafat. Dengan demikian, pada intinya al-Ghazali berkesimpulan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu agama dan semua ilmu yang berhubungan dengannya. Karenanya ilmu Agama harus terdapat didalam kurikulum pendidikan. Pendidik dan Peserta Didik Pendidik Dalam proses pembelajaran. Al-Ghazali berpandangan bahwa Pendidik merupakan suatu keharusan. Eksistensi pendidik merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan prosesi pendidikan. Dalam hal ini al-ghozali berkata: Aumakhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilanya ialah kalbunya. Guru atau pengajar selalu menyempurnakan, mengagungkan dan mensucikan kalbu itu serta menuntutnya untuk dekat kepada AllahAy. Dia juga berkata. Auseseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang dinamakan orang besar dibawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang menyinari orang lain. Page 10 of 14 JIEB: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis. Vol. No. Juni 2025 sedangkan ia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum. Ay. dalam hal ini sepertinya beliau begitu menekankan adanya keseimbangan antara keilmuan yang ia miliki dengan sikap dan prilakunya, seperti yang kita ketahui saat ini begitu banyak kita menemukan manusia antara perkataan dan perbuatannya tidak seimbang. Dalam firman-Nya Allah melarang manusia berbuat hal demikian. Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (Q. S As-Shaf : 2-. Peserta Didik Al-ghazali berkata: AuSeorang pelajar hendaknya tidak menyombongkan diri dengan ilmunya dan jangan menentang gurunya. Tetapi menyerah sepenuhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala nasihatnya sebagaimana seoorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli dan berpengalaman. Seharusnya seorang pelajar itu tunduk kepada gurunya, mengaharap pahala dan kemuliaan dengan tunduk kepadanya. Ay Ramayulis dalam bukunya AuEnsiklopedi Tokoh Pendidikan IslamAy menyebutkan beberapa sikap peserta didik yang harus diaplikasikan, diantaranya. pertama, peserta didik arus bersikap memuliakan pendidik dan rendah hati serta tidak takabbur. Kedua, peserta didik harus merasa satu bangunan dengan peserta didik lainnya. Sebagai satu bangunan, maka peserta didik harus saling menyayangi, tolong menolong sesama. Ketiga, peserta didik harus menjauhkan diri dari membaca mazhab yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran. Dan keempat, peserta didik tidak hanya mempelajari satu ilmu pengetahuan saja, tapi semua jenis ilmu pengetahuan yang bermanfaat harus dipelajari. Metode dan Media Metode dan media yang dipergunakan menurut Al-Ghazali harus dilihat secara psikologis, sosiologis, maupun pragmatis dalam rangka keberhasilan proses Metode pengajaran tidak boleh monoton, demikian pula media atau alat pengajarannya. Perihal kedua masalah ini, banyak sekali pandapat Al-Ghazali tentang metode dan metode pengajaran. Misalnya menggunakan metode mujahadah dan riyadhlah, pendidikan praktek kedisiplinan, pembiasaan dan penyajian dalil nagli Page 11 of 14 Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali Candra Kirana dan aqli, serta bimbingan dan nasehat. Sedangkan media/alat digunakan dalam Beliau menyetujui adanya pujian . dan hukuman . , di samping keharusan menciptakan kondisi yang mendukung terwujudnya akhlak yang mulia . Maka dari itu, metode pendidikan Islam harus digali, didayagunakan, dikembangkan dengan mengacu pada nilai-nilai Islam dengan harapan proses tersebut dapat diterima, dapat dipahami, dihayati, dan diyakini sehingga dapat memotivasi peserta didik untuk mengamalkannya dalam bentuk Proses Pembelajaran Menurut Al-Ghazali, pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga pembinaan jiwa . azkiyat al-naf. Akhlak yang baik adalah buah dari proses penyucian hati, pembiasaan amal saleh, dan keteladanan. Ia menekankan bahwa ilmu harus mengantarkan seseorang pada kedekatan kepada Allah dan perilaku yang Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus menjadi substansi dari setiap tahapan pendidikan, termasuk dalam aspek manajerialnya. Al-Ghazali mengajukan konsep integrasi antara materi, metode dan media atau alat pengajarannya. Seluruh komponen tersebut harus diupayakan semaksimal mungkin, sehinga dapat menumbuhkembangkan segala potensi fitrah anak, baik dalam hal usia, intelegensi, maupun minat dan bakatnya. Jangan sampai anak diberi materi materi pengajaran yang justru merusak akidah dan akhlaknya. Anak yang dalam kondisi taraf akalnya belum matang, hendaknya diberi materi pengajaran yang dapat mengarahkan kepada akhlak yang mulia. Adapun ilmu yang paling baik diberikan pada tahap pertama ialah ilmu agama dan syariat, terutama al-QurAoan. Landasan Akhlak dan Konstribusi Konsep Al-Ghazali Terhadap Manajemen Pendidikan. Manajemen pendidikan Islam, dalam perspektif Al-Ghazali, tidak terlepas dari nilai-nilai akhlak yang menjadi pondasi setiap tindakan. Dalam konteks ini, nilai-nilai Page 12 of 14 JIEB: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis. Vol. No. Juni 2025 akhlak berperan sebagai landasan normatif yang membimbing perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi pendidikan. Nilai-nilai pendidikan akhlak yang relevan dalam manajemen pendidikan antara lain: Ikhlas . iat lurus karena Alla. Ae Manajemen pendidikan harus berlandaskan pada niat yang ikhlas untuk mencerdaskan umat dan mendekatkan mereka kepada Allah. Amanah . anggung jawa. Ae Setiap pengelola pendidikan memikul amanah yang besar dalam mendidik generasi penerus. Adil Ae Dalam pengambilan keputusan, distribusi sumber daya, dan penilaian terhadap peserta didik atau tenaga pendidik. Syura . Ae Pengambilan kebijakan harus melibatkan banyak pihak secara bijak dan demokratis. TawadhuAo . endah hat. Ae Pemimpin pendidikan harus bersikap rendah hati, terbuka terhadap kritik dan masukan. Pemikiran Al-Ghazali tentang akhlak sangat relevan untuk diintegrasikan dalam manajemen pendidikan Islam masa kini. Tantangan modern seperti krisis moral, komersialisasi pendidikan, dan degradasi nilai sosial menuntut sistem pendidikan yang lebih menekankan etika dan spiritualitas. Beberapa kontribusi penting dari pemikiran Al-Ghazali antara lain. Memberi arah normatif terhadap visi dan misi lembaga pendidikan Islam. Menyediakan kerangka etik dalam pengambilan keputusan manajerial. Menumbuhkan budaya kerja yang spiritual dan berorientasi ibadah. Mengedepankan kualitas manusia seutuhnya, bukan hanya prestasi kognitif. KESIMPULAN Dari beberapa uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa menurut AlGhazali, pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali menggabungkan antara kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali mengatakan bahwa Al-QurAoan beserta kandungannya berisikan pokok-pokok ilmu pengetahuan. Isinya sangat bermanfaat 1Zarkasyi. Hamid Fahmy. Pendidikan Islam: Filosofi dan Konsep Dasar. Jakarta: Kencana, 2013. Page 13 of 14 Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali Candra Kirana bagi kehidupan, membersihkan jiwa, memperindah akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah. Integrasi nilai-nilai pendidikan akhlak dalam manajemen pendidikan Islam sebagaimana diajarkan oleh Al-Ghazali menjadi kebutuhan mendesak dalam membangun peradaban Islam yang bermartabat. Al-Ghazali tidak hanya menawarkan pandangan teoretis tentang pendidikan, tetapi juga menyuguhkan prinsip-prinsip manajerial yang dapat diterapkan dalam konteks kelembagaan. Oleh karena itu, pemikiran Al-Ghazali perlu terus dikaji, dikontekstualisasikan, dan diterapkan dalam praktik manajemen pendidikan masa kini guna melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak. DAFTAR PUSTAKA