JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Implementasi Pendidikan Karakter Religius dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri 08 Kikim Barat Pipit Meliani1, *Mohamad Joko Susilo2 Universitas Islam Indonesia Email: 25913019@students. ABSTRACT This study aims to analyze the implementation of religious character education in Islamic Religious Education (PAI) learning at the elementary school level, focusing on SDN 08 Kikim Barat. A descriptive qualitative approach was employed using observation, interviews, and documentation. The findings indicate that religious character education is implemented through the integration of religious values in PAI learning, teachersAo role modeling . swah hasana. , and daily worship habituation. The main values developed include religiosity, discipline, and responsibility. Theoretically, the findings demonstrate the integration of modern character education theory proposed by Thomas Lickona with classical Islamic thought, particularly Al-GhazaliAos concept of tazkiyah al-nafs and Ibn MiskawaihAos moral habituation. The theological foundation of religious character formation refers to QurAoan Surah Luqman verse 17. This study also reveals a structural gap between value formation at school and the home environment due to limited parental Furthermore, a positive correlation is found between studentsAo religious character and their mastery of PAI learning. The study concludes that successful religious character education requires sustained synergy between schools and families. Keywords: Religious Character Education. Islamic Education Learning. Elementary School Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi pendidikan karakter religius dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dasar, dengan studi di SDN 08 Kikim Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius diimplementasikan melalui integrasi nilai keagamaan dalam pembelajaran PAI, keteladanan guru . swah hasana. , serta pembiasaan ibadah harian. Nilai utama yang dikembangkan meliputi religiositas, kedisiplinan, dan tanggung jawab siswa. Secara teoretis, temuan penelitian menunjukkan keterpaduan antara teori pendidikan karakter modern Thomas Lickona dengan pemikiran Islam klasik, khususnya konsep tazkiyah alnafs Al-Ghazali dan pembiasaan moral Ibnu Miskawaih. Landasan teologis penguatan karakter religius merujuk pada QS. Luqman ayat 17. Penelitian ini juga mengidentifikasi adanya kesenjangan antara pembiasaan nilai di sekolah dan lingkungan keluarga akibat rendahnya partisipasi orang tua. Selain itu, ditemukan korelasi positif antara karakter religius siswa dan penguasaan materi PAI. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter religius memerlukan sinergi berkelanjutan antara sekolah dan keluarga. Kata Kunci: Pendidikan Karakter Religius. Pembelajaran PAI. Sekolah Dasar *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan sarana utama dalam membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Melalui pendidikan, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan potensi spiritual, emosional, dan moral sebagai bekal hidup di tengah Dalam konteks ini. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting sebagai media internalisasi nilai-nilai moral dan akhlak yang bersumber dari ajaran Islam. Pendidikan Agama Islam tidak hanya berfungsi untuk menanamkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga membentuk karakter religius peserta didik agar berperilaku sesuai dengan ajaran Al-QurAoan dan Hadis dalam kehidupan sehari-hari. (Sirait, 2. Secara ideal, pembelajaran PAI di sekolah dasar diharapkan mampu menciptakan generasi yang memiliki akhlak mulia, disiplin, dan tanggung jawab. Guru PAI seharusnya tidak hanya mentransfer ilmu agama, tetapi juga menjadi teladan . swah hasana. bagi peserta didik dalam bersikap dan bertutur kata. Lingkungan sekolah yang religius dan kegiatan pembiasaan seperti berdoa sebelum belajar, membaca surah pendek, serta salat berjamaah diharapkan menjadi bagian integral dari pembelajaran. Dalam kondisi ideal tersebut, seluruh warga sekolah dan orang tua turut berperan aktif membangun budaya karakter religius yang konsisten. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kondisi tersebut belum sepenuhnya terwujud. Berdasarkan hasil observasi awal peneliti di SDN 08 Kikim Barat, masih terdapat siswa yang belum menunjukkan perilaku religius secara optimal. Beberapa siswa masih kurang disiplin dalam beribadah, belum mampu membaca surahsurah pendek dengan baik, dan kurang menunjukkan adab terhadap guru dan teman Selain itu, kegiatan pembelajaran PAI terkadang masih berfokus pada aspek pengetahuan agama, sementara aspek pembentukan sikap dan kebiasaan religius belum tergarap maksimal. Hal ini menyebabkan nilai-nilai karakter yang diajarkan di kelas belum sepenuhnya terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari siswa. Kesenjangan yang terjadi antara harapan dan kenyataan menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter religius melalui pembelajaran PAI belum berjalan Walaupun kurikulum telah menekankan pentingnya pendidikan karakter, pelaksanaannya di sekolah masih menghadapi beberapa kendala: kurang optimalnya keteladanan guru, minimnya keterlibatan orang tua, dan keterbatasan sarana pendukung. Kesenjangan ini menghambat tujuan utama pendidikan Islam, yaitu membentuk peserta JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. didik yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Melihat kondisi tersebut, diharapkan implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran PAI dapat lebih dioptimalkan melalui strategi pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan, keteladanan guru yang konsisten, serta kerja sama aktif antara sekolah dan orang tua. Guru PAI harus menjadi figur sentral dalam menanamkan nilai-nilai moral melalui integrasi antara teori dan praktik keagamaan. Sekolah diharapkan menciptakan iklim religius yang kondusif dengan mendukung program pembiasaan dan kegiatan keagamaan rutin. (Bahansubu et al. , 2. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis sebagai media internalisasi nilai-nilai moral dan akhlak yang bersumber dari ajaran Islam, di mana keberhasilannya tidak hanya diukur dari penguasaan kognitif tetapi juga dari pembentukan karakter religius dalam kehidupan sehari-hari. Secara ideal, lingkungan sekolah dasar harus menjadi laboratorium karakter melalui keteladanan guru . swah hasana. dan pembiasaan ibadah yang konsisten, mulai dari doa bersama hingga salat Hal ini sejalan dengan pandangan Al-Ghazali mengenai penyucian jiwa . azkiyah al-naf. dan Ibnu Miskawaih tentang pentingnya pembiasaan . agar perilaku baik menjadi karakter tetap. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya pembelajaran PAI sering kali masih terjebak pada transfer pengetahuan semata, sehingga nilai-nilai karakter seperti disiplin dan tanggung jawab belum sepenuhnya terinternalisasi dalam perilaku nyata siswa. Dalam penelitian ini terletak pada ketimpangan antara penguasaan teori agama secara kognitif dengan internalisasi perilaku religius siswa di tingkat sekolah dasar, di mana strategi pembiasaan dan keteladanan guru sering kali terputus akibat kurangnya sinergi antara lingkungan sekolah dan peran orang tua di rumah. Meskipun konsep pendidikan karakter dari tokoh seperti Lickona. Al-Ghazali, dan Ibnu Miskawaih telah memberikan fondasi teoritis yang kuat mengenai pembiasaan, implementasi praktisnya di SDN 08 Kikim Barat masih menghadapi kendala struktural berupa keterbatasan sarana ibadah serta kendala kultural berupa rendahnya pengawasan orang tua saat siswa berada di luar sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini secara eksplisit bertujuan mengisi celah tersebut dengan mengeksplorasi bagaimana integrasi strategi keteladanan dan pembiasaan dapat tetap efektif membentuk karakter religius siswa di tengah keterbatasan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. dukungan lingkungan keluarga dan fasilitas pendukung yang minim. (Maulida et al. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru PAI, dan siswa SDN 08 Kikim Barat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Durasi Penelitian Dalam sumber disebutkan bahwa penelitian ini diawali dengan observasi lapangan yang dilakukan pada Senin, 25 Desember 2023 pukul 07:30 WIB di SDN 08 Kikim Barat. Proses analisis data kualitatif dalam penelitian ini dilakukan secara interaktif dan terus-menerus selama pengumpulan data hingga data tersebut dianggap jenuh . , yang kemudian dilanjutkan dalam jangka waktu tertentu setelah pengumpulan data selesai. (Manotar, 2023. Informan Penelitian:Informan atau subjek yang memberikan informasi langsung dalam penelitian ini terdiri dari beberapa elemen sekolah, yaitu: Kepala Sekolah SDN 08 Kikim Barat,Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya yang mengajar di kelas IV. Siswa Kelas IV SDN 08 Kikim Barat. Kriteria Pemilihan Subjek : Pemilihan subjek dalam penelitian ini didasarkan pada beberapa kriteria dan pertimbangan teknis:Unit yang Memiliki Data: Subjek dipilih karena dianggap sebagai individu atau kelompok yang memiliki data relevan terkait variabel penelitian, yaitu implementasi pendidikan karakter pada pembelajaran PAI. Representasi Fenomena: Informan dipilih karena dianggap mampu mewakili subjek penelitian untuk memahami fenomena perilaku, motivasi, dan tindakan secara Hasil Observasi Awal (Purposi. : Penentuan Siswa Kelas IV sebagai subjek utama didasarkan pada temuan peneliti saat observasi awal, di mana pada kelas tersebut ditemukan kesenjangan karakter religius, seperti siswa yang masih kesulitan membaca surah pendek, belum memahami makhorijul huruf, serta kurangnya menunjukkan adab terhadap guru dan teman. Kepentingan Akademik dan Minat: Peneliti memilih subjek di lokasi tersebut karena adanya minat mendalam dan potensi dampak yang dapat dihasilkan bagi komunitas ilmiah terkait topik tersebut(Manotar, 2023. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi pendidikan karakter di SDN 08 Kikim Barat dilakukan melalui integrasi nilai karakter dalam pembelajaran PAI, keteladanan guru, dan pembiasaan religius seperti doa bersama, salat berjamaah, dan kegiatan tadarus. Nilai-nilai yang dikembangkan meliputi religius, jujur, disiplin, tanggung jawab, dan sopan santun (Nursinah, 2. Faktor pendukung meliputi dukungan kepala sekolah, komitmen guru, dan kegiatan keagamaan sekolah. Faktor penghambat antara lain kurangnya keterlibatan orang tua dan keterbatasan sarana ibadah di sekolah. Strategi Integratif Implementasi Karakter Implementasi pendidikan karakter di SDN 08 Kikim Barat dilakukan melalui tiga pilar utama: integrasi kurikulum, keteladanan guru . swah hasana. , dan pembiasaan Nilai-nilai seperti religiusitas, disiplin, tanggung jawab, dan sopan santun tidak hanya diajarkan sebagai materi hafalan, tetapi diinternalisasikan melalui praktik nyata seperti doa bersama, tadarus, dan salat berjamaah. Keberhasilan ini didukung oleh komitmen kepemimpinan sekolah, namun masih terbentur pada keterbatasan sarana ibadah dan minimnya sinkronisasi pendidikan karakter di lingkungan rumah. (Andriani et , 2. Konsep Pendidikan Karakter Pendidikan karakter menjadi fondasi penting dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), karena berfungsi menanamkan nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual yang membentuk kepribadian siswa secara utuh. Menurut Ramatni, pengelolaan pembelajaran berbasis karakter dalam pendidikan Islam mampu meningkatkan keterlibatan emosional dan religius siswa dalam kegiatan belajar. Melalui pendidikan karakter, peserta didik diarahkan tidak hanya memahami nilai-nilai agama secara kognitif, tetapi juga menanamkannya dalam sikap dan perilaku nyata di sekolah maupun di rumah. (S et al. , 2. Selain itu. Astuti menyatakan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara efektivitas pendidikan karakter dan hasil belajar PAI, terutama dalam aspek penguasaan moral dan praktik keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran PAI yang menekankan pembentukan karakter akan lebih bermakna dibandingkan sekadar transfer pengetahuan (Supriadi et al. , 2. Guru perlu mengintegrasikan nilai-nilai religius seperti disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran ke dalam aktivitas belajar-mengajar sehingga siswa terbiasa berpikir dan bertindak sesuai ajaran Islam. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter merupakan usaha sadar untuk membantu peserta didik memahami, merasakan, dan melakukan nilai-nilai moral yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter dalam perspektif Islam memiliki kesamaan tujuan, yaitu menumbuhkan kepribadian berakhlak mulia . khlaq al-karima. Dalam pembelajaran PAI, guru berperan sebagai figur utama yang menginternalisasikan nilai-nilai tersebut melalui kegiatan belajar dan keteladanan. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan teori moral, tetapi juga mengarahkan peserta didik untuk mengamalkan nilai-nilai Islam dalam perilaku nyata seperti jujur, disiplin, dan menghormati sesama. Strategi di SDN 08 Kikim Barat mengafirmasi teori Lickona bahwa karakter melibatkan dimensi kognitif, emosional, dan perilaku. Keteladanan guru menjadi jembatan agar siswa tidak hanya "tahu" . oral knowin. apa yang benar, tetapi juga "merasakan" . oral feelin. urgensinya dan akhirnya "melakukan" . oral actio. kebaikan tersebut secara konsisten. (Mulajimatul Fitria & Slamet Slamet, 2. Pendidikan karakter memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Allah Swt. berfirman dalam Surah Luqman ayat 17 yang artinya: AuHai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah . berbuat yang maAoruf dan cegahlah . dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkanAy(QS. Luqman . : . Ayat ini menegaskan tiga dimensi karakter utama dalam Islam, yakni ketaatan ibadah, kepedulian sosial, dan keteguhan hati. Menurut Bahansubu dan Muhammadong , ayat ini mencerminkan konsep life skills Islami yang menumbuhkan kemampuan hidup berakhlak mulia serta bertanggung jawab dalam masyarakat modern. Oleh karena itu, pembelajaran PAI harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai QurAoani secara kontekstual dalam keseharian siswa, bukan hanya dalam hafalan atau teori. Guru PAI dapat menggunakan ayat ini sebagai bahan ajar yang kontekstual, misalnya dengan mengajak siswa merefleksikan makna salat, amar maAoruf nahi munkar, serta kesabaran dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai Al-QurAoan tidak hanya dipahami, tetapi juga dihidupkan dalam praktik belajar di sekolah. Pandangan Tokoh Islam Al-Ghazali menekankan bahwa Temuan mengenai pada akhlak mulia dan kesantunan selaras dengan konsep tazkiyah al-nafs . enyucian jiw. Secara analitis, pembelajaran PAI di sekolah ini berfungsi sebagai filter. memastikan ilmu agama tidak JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. sekadar menjadi pencapaian akademik, tetapi bertransformasi menjadi hikmah yang membersihkan perilaku siswa dari sifat tercela. MuAoti . menambahkan bahwa pendidikan agama Islam harus bersifat pluralistik dan kontekstual, yakni tidak hanya menanamkan doktrin moral, tetapi juga membangun kesadaran etika sosial yang Sementara itu. Ibnu Miskawaih dalam karyanya Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir alAAoraq menegaskan pentingnya pembiasaan moral secara terus-menerus agar menjadi kebiasaan yang tertanam kuat. Konsep ini sejalan dengan temuan Nadirah dan Retoliah . , bahwa pendidikan karakter dalam PAI akan lebih efektif bila diterapkan melalui pendekatan kontekstual dan partisipatif di kelas Praktik harian seperti bersalaman dan salat berjamaah merupakan manifestasi dari konsep habituation . Ibnu Miskawaih berargumen bahwa akhlak bukanlah sesuatu yang muncul spontan, melainkan hasil dari latihan berulang . athir al-aAora. Di SDN 08, pembiasaan ini menjadi instrumen untuk mengubah tindakan sadar menjadi karakter tetap yang melekat pada diri (Fatmawati et al. , 2. Implementasi di Sekolah Dasar Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran PAI di SDN 08 Kikim Barat dilakukan melalui strategi keteladanan, pembiasaan religius, dan integrasi nilai dalam kurikulum. Keteladanan guru menjadi kunci utama keberhasilan, karena siswa lebih mudah meniru perilaku nyata dibanding menerima nasihat lisan. Ramatni menegaskan bahwa model pendidikan karakter berbasis keteladanan guru adalah metode paling efektif untuk membangun nilai moral dalam diri anak usia sekolah dasar. (Muslim & Wekke, 2. Selain itu, pembiasaan religius seperti doa bersama, salat berjamaah, dan membaca Al-QurAoan menjadikan siswa terbiasa berperilaku Islami tanpa paksaan. Astuti menemukan bahwa pembelajaran PAI yang berorientasi pada aktivitas spiritual mampu memperkuat nilai religiusitas siswa secara signifikan. Namun, pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dasar masih menghadapi beberapa hambatan, seperti keterbatasan sarana ibadah dan kurangnya sinergi antara pihak sekolah dan orang tua. Oleh karena itu, perlu adanya kolaborasi berkelanjutan agar pembentukan karakter tidak berhenti di ruang kelas saja. (Janah, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Hasil observasi di SDN 08 Kikim Barat menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran PAI diterapkan melalui tiga strategi utama. Pertama, keteladanan guru, di mana guru menjadi contoh dalam sikap religius, disiplin, dan tanggung jawab. Guru yang selalu menjaga perilaku sesuai ajaran Islam akan lebih mudah diterima dan ditiru oleh siswa. Kedua, pembiasaan religius, seperti kegiatan doa bersama, membaca Al-QurAoan, dan salat berjamaah setiap hari Jumat. Kegiatan ini secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai religius dan kebersamaan di antara siswa. Ketiga, integrasi nilai karakter dalam materi pelajaran, misalnya mengaitkan tema kejujuran dalam kisah nabi, atau nilai tanggung jawab dalam pelajaran tentang ibadah (Amelia & Ramadan, 2. Meskipun demikian, masih ada faktor penghambat, seperti keterbatasan sarana ibadah, waktu yang terbatas, serta kurangnya keterlibatan orang tua dalam pembinaan akhlak anak di rumah. Oleh karena itu, perlu strategi sinergis antara pihak sekolah dan orang tua melalui komunikasi rutin dan kegiatan keagamaan bersama. Implementasi pendidikan karakter (Fadhilah & Deswalantri, 2. akan efektif apabila dilakukan secara berkelanjutan, konsisten, dan melibatkan seluruh komponen sekolah. Sinergitas Secara analitis, hambatan utama yang ditemukan yakni kurangnya keterlibatan orang tua menunjukkan bahwa pendidikan karakter di sekolah sering kali berdiri sebagai Aupulau terpencilAy. Tanpa adanya habituation yang berlanjut di rumah sebagaimana ditekankan Ibnu Miskawaih, nilai-nilai yang telah dibentuk di sekolah berisiko luntur. Oleh karena itu, efektivitas pendidikan karakter di SDN 08 Kikim Barat memerlukan transformasi dari sekadar program sekolah menjadi budaya kolektif antara guru dan orang KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa implementasi pendidikan karakter religius dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN 08 Kikim Barat telah berlangsung secara terintegrasi melalui kegiatan intrakurikuler, keteladanan guru, dan pembiasaan religius di lingkungan sekolah. Pembelajaran PAI tidak hanya berfungsi sebagai sarana penguatan pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai medium utama internalisasi nilai-nilai karakter religius pada siswa sekolah dasar. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai religiusitas, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan sopan santun berkembang secara efektif melalui strategi keteladanan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. swah hasana. dan pembiasaan ibadah harian, seperti doa bersama, tadarus AlQurAoan, dan salat berjamaah. Praktik ini membuktikan bahwa pendidikan karakter religius dalam pembelajaran PAI akan lebih bermakna apabila nilai-nilai moral tidak hanya disampaikan secara normatif, tetapi diinternalisasikan melalui pengalaman belajar yang konsisten dan kontekstual. Temuan ini memperkuat teori pendidikan karakter Thomas Lickona serta sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih yang menekankan pembiasaan dan keteladanan sebagai fondasi pembentukan akhlak. Secara teologis, implementasi pendidikan karakter religius tersebut relevan dengan nilai-nilai QurAoani sebagaimana tercermin dalam QS. Luqman ayat 17 yang menekankan integrasi antara ibadah, kepedulian sosial, dan kesabaran sebagai pilar karakter Islami. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya kendala struktural dan kultural, terutama keterbatasan sarana pendukung dan rendahnya keterlibatan orang tua dalam pembinaan karakter anak di lingkungan keluarga. *** DAFTAR PUSTAKA Amelia. , & Ramadan. Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5. , 5548Ae5555. https://doi. org/10. 31004/basicedu. Andriani. Saputro. , & MaAoani. Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Peserta Didik Sekolah Dasar. TIN: Terapan Informatika Nusantara, 4. , 407Ae411. https://doi. org/10. 47065/tin. Bahansubu. Muhammadong. Jalil. , & Mokodenseho. Analysis of the Importance of Islamic Religious Education and Life Skills in Forming a Noble Young Generation in Indonesia. Jurnal Pendidikan West Science, 1. , 809Ae816. https://doi. org/10. 58812/jpdws. Fadhilah. , & Deswalantri. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam AlQurAoan Surat Al-Hujurat Ayat 11-13: Kajian Tafsir Al-Azhar Karya Hamka. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6. , 13525Ae13534. https://doi. org/10. 31004/jptam. Fatmawati. Bafadal. , & Sobri. KOMUNIKASI KEPALA SEKOLAH DENGAN WARGA SEKOLAH UNTUK MEWUJUDKAN VISI DAN MISI SEKOLAH. Jurnal Administrasi Dan Manajemen Pendidikan, 1. , 198Ae205. https://doi. org/10. 17977/um027v1i22018p198 JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Janah. Pengaruh Komunikasi Interpersonal Kepala Madrasah Terhadap Kinerja Guru Di Mi As-Salaamah Pamulang Kota Tangerang Selatan. In Jakarta: FITK UIN Syarif A . 1Ae. Manotar. Metode Penelitian Metode Penelitian. In Metode Penelitian Kualitatif (Vol. Issue . http://repository. id/30547/5/BAB i. Manotar. Metode Penelitian Metode Penelitian. In Metode Penelitian Kualitatif (Vol. Issue . Deepublish. http://repository. id/30547/5/BAB i. Maulida. Hikmah. , & Faelasup. Analisis Konsep. Nilai, dan Strategi Efektif dalam Implementasi Pendidikan Karakter pada Pembelajaran PAI. Juperan: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 4. , 458Ae469. https://ojs. com/index. php/juperan/article/view/905 Mulajimatul Fitria, & Slamet Slamet. Upaya Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru. Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam, 2. , 404Ae415. https://doi. org/10. 61132/jmpai. Muslim. , & Wekke. Model penilaian kinerja guru. Journal of Chemical Information Modeling, 53. , 1689Ae1699. https://ejournal. id/index. php/altadib/search/authors/view?firstName=Ismail&middleName=Suardi&lastName=We kke&affiliation=Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong&country= Nursinah. PENGARUH PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP AKHLAK PESERTA DIDIK DI SMKN 4 GOWA. REFERENSI