Analisis Kausalitas Moneter Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. Equilibrium: Jurnal Ilmiah Kebijakan Ekonomi danDan Pembelajarannya P-ISSN: 2303-1565 Tersedia online di http://e-journal. id/index. php/equilibrium/index E-ISSN: 2502-1575 Analisis kausalitas kebijakan moneter dan kemiskinan di Indonesia periode 1992-2022 Deya Adeliya Usman1. Muhammad Amir Arham1. Boby Rantow Payu1 Fakultas Ekonomi Dan Bisnis. Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia, 96128, deausman11@gmail. com*, muhammad. arham@ung. id, bobbyrantow@gmail. Abstrak Kemiskinan adalah masalah penting di Indonesia. Untuk menanganinya, pemerintah telah menerapkan kebijakan moneter, biasanya melalui instrumen seperti suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar, dan inflasi. Data yang digunakan dalam studi ini diambil dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS). Penelitian ini memanfaatkan Vector Error Correction Model (VECM) untuk mengidentifikasi hubungan kausal antara kebijakan moneter dan kemiskinan di Indonesia. Hasil uji menunjukkan bahwa terdapat hubungan kausal satu arah antara suku bunga dan kemiskinan. Tidak ditemukan hubungan kausal antara kemiskinan dan jumlah uang beredar. Selain itu, terdapat hubungan kausal satu arah dari kemiskinan ke inflasi. Kata kunci: Kemiskinan. Kebijakan Moneter. Vector Error Correction Model (VECM) Causality Analysis of Monetary Policy and Poverty in Indonesia for the 1992-2022 Period Abstract Poverty is an important problem in Indonesia. To handle this, the government has implemented monetary policy, usually through instruments such as interest rates, money supply, exchange rates, and The data used in this study was taken from Bank Indonesia and the Central Statistics Agency (BPS). This research utilizes the Vector Error Correction Model (VECM) to identify the causal relationship between monetary policy and poverty in Indonesia. The test results show that there is a one-way causal relationship between interest rates and poverty. No causal relationship was found between poverty and the money supply. In addition, there is a one-way causal relationship from poverty to inflation. Keywords: Poverty. Monetary Policy. Vector. Error. Correctio Model (VECM) PENDAHULUAN Kemiskinan merupakan masalah umum yang dihadapi oleh hampir semua negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketidakmampuan masyarakat untuk menjalani kehidupan yang layak seringkali dianggap sebagai penyebab utama kemiskinan. Penanganan kemiskinan biasanya didasarkan pada jumlah penduduk miskin atau tingkat ketimpangan di suatu wilayah, sehingga semakin tinggi tingkat kemiskinan, semakin sulit untuk mengatasinya. Ketidakmerataan distribusi pendapatan menyebabkan ketimpangan, yang menjadi akar dari kemiskinan. Meskipun pendapatan nasional di beberapa negara berkembang telah meningkat, kemiskinan tetap menjadi masalah yang sangat kompleks di negara-negara tersebut (Sartika, 2. dalam (Zuhdiyati et al. , 2. Pemerintah Indonesia sangat menaruh perhatian pada isu kemiskinan karena menjadi salah satu masalah utama saat ini. Selama lebih dari lima puluh tahun. Indonesia terus berjuang melawan kemiskinan. Dibandingkan dengan negara-negara lain. Indonesia Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 161 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. masih jauh dari mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Kemiskinan mencakup berbagai aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain, sehingga membuat masalah ini sangat kompleks dan bervariasi. Kemiskinan tetap menjadi masalah besar di seluruh dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Akibat kemiskinan, jutaan anak tidak dapat melanjutkan pendidikan, kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, tingginya angka pengangguran, serta minimnya tabungan dan investasi (Prawoto, 2. Ketersediaan data kemiskinan yang akurat merupakan bagian penting dari strategi untuk mengatasi kemiskinan. Grafik 1 menunjukkan gambaran kemiskinan di Indonesia dari tahun 1992-2022, seperti berikut: Gambar 1 Kemiskinan Di Indonesia Tahun 1992-2022 Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia telah mengalami fluktuasi selama 30 tahun terakhir. Persentase tertinggi tercatat sebesar 24,23% pada tahun 1998, kemudian menurun menjadi 15,97% pada tahun 2005, sebelum naik kembali menjadi 17,75% pada tahun 2006. Pada tahun 2021, angka kemiskinan meningkat menjadi 10,14% akibat meluasnya pandemi COVID-19 di Indonesia. Namun, pada tahun 2022, angka kemiskinan kembali menurun menjadi 9,57%. Pemerintah Indonesia sedang melakukan berbagai upaya untuk mengurangi kemiskinan, termasuk pengendalian kebijakan moneter. Kebijakan moneter dianggap sebagai alat yang efektif untuk mengelola perekonomian (Yusuf, 2. Beberapa instrumen kebijakan moneter yang terkait dengan kemiskinan mencakup suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar rupiah, dan inflasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suku bunga, jumlah uang beredar, nilai tukar, dan inflasi terhadap kemiskinan di Indonesia (Susanto & Pangesti. Penelitian ini berfokus pada pengaruh inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di Indonesia. Namun, terdapat variasi dalam kebijakan moneter dari tahun 1992 hingga 2022 yang memengaruhi tingkat kemiskinan di negara ini. Diasumsikan bahwa jumlah uang beredar, nilai tukar, suku bunga, dan inflasi memiliki dampak terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 162 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. METODE PENELITIAN Hasil dari penelitian ini, yang menggunakan metode kuantitatif, memberikan penjelasan lebih rinci mengenai situasi dan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Penelitian ini juga menggambarkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat saat ini, serta pokok bahasan dan topik yang diteliti (Fardian, 2. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa data tahunan, atau data berkala, yang dikumpulkan dari tahun 1992 hingga 2022 dalam bentuk angka dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS). Penelitian ini mengumpulkan data mengenai suku bunga, jumlah uang beredar, inflasi, dan kemiskinan di Indonesia selama periode tersebut. Teknik pengumpulan data sangat penting dalam penelitian ini karena memungkinkan pengujian hipotesis yang telah Sumber data yang digunakan mencakup publikasi dari Badan Pusat Statistik (BPS). Bank Indonesia, dan sumber lainnya. Studi ini menggunakan metode analisis kuantitatif, di mana hubungan jangka pendek dianalisis dengan Vector Error Correction Model (VECM) dan hubungan jangka panjang dianalisis dengan uji kointegrasi. VECM adalah bentuk Vector Autoregressive (VAR) yang telah dikoreksi, dan analisis dilakukan menggunakan aplikasi Eviews 10. Tabel 1 Definisi Operasional Variabel Variabel Definisi Satuan Kemiskinan Merupakan suatu keadaan sulit yang dialami oleh masyarakat yang perlu adanya bantuan pemerintah Persen Suku bunga Merupakan imbalan yang diberikan oleh bank kepada nasabah yang membeli atau menjual produkproduknya. Persen Jumlah uang Merupakan jumlah uang dimiliki oleh masyarakat Rupiah Nilai tukar Merupakan perbandingan harga atau nilai mata uang suatu negara ketika diukur dengan mata uang negara lain Rupiah Inflasi Merupakan kenaikan harga barang dan jasa yang tinggi dan dapat menurunkan daya beli masyarakat Persen HASIL PENELITIAN Indonesia, resmi dikenal sebagai Republik Indonesia, adalah negara kepulauan yang terletak di Asia Tenggara. Terletak di jalur khatulistiwa antara Asia dan Oseania. Indonesia sering disebut sebagai penghubung antara kedua benua tersebut. Negara ini juga terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Dengan populasi lebih dari Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 163 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. 270 juta orang. Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia, serta memiliki keragaman demografis yang sangat tinggi. Masyarakatnya kaya akan keanekaragaman etnis, budaya, dan agama. Sebagian besar penduduknya beragama Islam, tetapi juga ada minoritas yang menganut agama Kristen. Hindu, dan Buddha. Selain itu. Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah yang digunakan oleh berbagai suku di seluruh nusantara, menunjukkan kekayaan budaya dan linguistik yang luar biasa. Pada tahun 2022 dan 2023, setelah mengalami tantangan berat akibat pandemi COVID-19, perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan yang signifikan. PDB naik tajam menjadi 4,56% pada tahun 2022 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 5,27% pada tahun 2023. Sektor-sektor utama seperti pertanian, industri, dan jasa terus menunjukkan pertumbuhan positif, menandakan adanya pemulihan ekonomi yang Uji Stasioneritas data Untuk memperoleh estimasi VECM, setiap variabel, baik variabel dependen maupun independen, perlu diuji untuk stasioneritas data. Uji Augmented Dickey Fuller (ADF) digunakan untuk menentukan apakah variabel-variabel dalam penelitian ini stasioner atau tidak. Hasil uji intercept adalah sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Uji Stasioner dengan Uji ADF pada level Variabel Probabilitas Keterangan Kemiskinan 0,7945 P > 0,05 (Data Tidak Stasione. Suku bunga 0,5946 P > 0,05 (Data Tidak Stasione. Jub 1,0000 P > 0,05 (Data Tidak Stasione. Kurs 0,6780 P > 0,05 (Data Tidak Stasione. Inflasi 0,0001 P < 0,05 (Data Stasione. Sumber: Olahan Eviews, 2024 Berdasarkan hasil uji yang tertera dalam Tabel 2, diketahui bahwa data mengenai kemiskinan, suku bunga, jumlah uang beredar, dan kurs belum stasioner pada level, dengan nilai p > 0,05. Hanya data inflasi yang sudah stasioner pada level, dengan nilai p < 0,05. Oleh karena itu, dilakukan uji stasioneritas kembali pada first difference. Hasil Uji Stasioner dengan Uji ADF pada First difference Tabel 3 Hasil Uji Stasioner dengan Uji ADF pada First difference Variabel Probabilitas Keterangan Kemiskinan 0,0095 P < 0,05 (Data Stasione. Suku bunga 0,0000 P < 0,05 (Data Stasione. Jub 1,0000 P > 0,05 (Data Tidak Stasione. Kurs 0,0002 P < 0,05 (Data Stasione. Inflasi 0,0000 P < 0,05 (Data Stasione. Sumber: Olahan Eviews, 2024 Berdasarkan hasil uji yang tercantum dalam Tabel 3, data mengenai kemiskinan, suku bunga, kurs, dan inflasi sudah stasioner pada first difference, dengan nilai p < 0,05. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 164 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. Namun, data jumlah uang beredar belum stasioner pada second difference, dengan nilai p > 0,05. Hasil Uji Stasioner dengan Uji ADF pada Second difference Tabel 4 Hasil Uji Stasioner dengan Uji ADF pada Second difference Variable Probabilitas Keterangan Kemiskinan 0,0001 P < 0,05 (Data Stasione. Suku bunga 0,0003 P < 0,05 (Data Stasione. Jub 0,0001 P < 0,05 (Data Stasione. Kurs 0,0053 P < 0,05 (Data Stasione. Inflasi 0,0003 P < 0,05 (Data Stasione. Sumber: Olahan Eviews, 2024 Pengujian dilakukan dengan menentukan lag optimal, karena data kemiskinan, suku bunga, jumlah uang beredar, kurs, dan inflasi telah stasioner pada second difference, dengan seluruh nilai p = 0,05, seperti yang ditunjukkan dalam hasil uji stasioner di Tabel Penentuan lag optimal Penentuan panjang lag bertujuan untuk mengukur lamanya dampak kebijakan baru terhadap suatu variabel, baik terhadap kebijakan sebelumnya maupun terhadap variabel endogen lainnya. Tabel 5 Hasil Penentuan Lag Optimal Lag LogL FPE AIC 53e-07 -1. 391375* -0. 89e-07 -1. 31e-07* -2. 442729* 1. Sumber: Olahan Eviews, 2024 Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai Akaike Information Criteria (AIC) yang terendah atau minimum digunakan untuk menentukan jumlah lag yang ideal dalam penelitian ini. Berdasarkan tabel tersebut, lag optimal ditemukan pada lag 1. Uji Stabilitas Jika nilai modulus kurang dari satu, maka perlu dilakukan uji kestabilan model untuk memastikan bahwa model tersebut stabil. Dalam penelitian ini, uji kestabilan VAR yang tertera di Tabel 6 menunjukkan bahwa model telah stabil dan berhasil melewati uji Nilai modulus yang tetap di bawah satu mendukung temuan ini, sebagaimana terlihat dari hasil uji stabilitas berikut: Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 165 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. Tabel 6 Hasil Uji Stabilitas Root Modulus 266572 - 0. Sumber: Olahan Eviews, 2024 Uji Kointegrasi Johansen Jika hasil uji kointegrasi menunjukkan adanya kointegrasi dengan tanda (*) pada none, at most 1, dan at most 3, serta terdapat tanda (**) atau tanda (*) pada minimal satu, maka metode Vector Error Correction Model (VECM) harus diterapkan untuk menyelesaikan persamaan tersebut. Tabel 7 Hasil Uji Kointegrasi Johansen Unrestricted Cointegration Rank Test (Trac. Hypothesized No. of CE. None At most 1 At most 2 At most 3 At most 4 Eigenvalue Trace Statistic Critical Value Prob. Sumber: Olahan Eviews, 2024 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa hanya satu kelas yang menunjukkan hubungan kointegrasi dalam probabilitasnya. Hal ini dapat dilihat dari nilai trace statistic 54112, yang melebihi critical value 0,05 sebesar 60. 06141, yang menunjukkan adanya hubungan jangka panjang . antara variabel-variabel dalam penelitian Dengan kata lain. H0 ditolak dan H1 diterima karena nilai critical value adalah 0,05. Uji Kausalitas Granger Uji kausalitas Granger dilakukan dengan tingkat kepercayaan 0,05 . %) dan panjang lag satu, sesuai dengan hasil pengujian lag optimal pada tahap sebelumnya. Hasil dari Granger Causality Test dapat dilihat pada Tabel 8 berikut: Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 166 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. Tabel 8 Hasil Uji Kausalitas Granger Null Hypothesis: Obs F-Statistic Prob. Birate does not granger cause kemiskinan Kemiskinan does not granger cause birate Jub does not granger cause kemiskinan Kemiskinan does not granger cause jub Kurs does not granger cause kemiskinan Kemiskinan does not granger cause kurs Inflasi does not granger cause kemiskinan Kemiskinan does not granger cause inflasi Sumber: Olahan Eviews, 2024 Hubungan kausalitas yang diidentifikasi ditampilkan pada tabel di atas dengan alpha 0,05. Jika probabilitas lebih kecil dari alpha 0,05, maka H0 ditolak. Uji Granger menunjukkan adanya hubungan kausalitas satu arah antara BI rate dan kemiskinan, di mana BI rate mempengaruhi kemiskinan secara statistik signifikan . ilai p = 0,0. , sehingga hipotesis nol ditolak. Sebaliknya, kemiskinan tidak mempengaruhi BI rate secara statistik signifikan. Variabel jumlah uang beredar (JUB) tidak mempengaruhi kemiskinan secara statistik signifikan . ilai p = 0,1. , dan kemiskinan juga tidak mempengaruhi JUB secara statistik signifikan . ilai p = 0,6. , sehingga hipotesis nol diterima. Dengan demikian, tidak ada hubungan kausalitas antara JUB dan kemiskinan. Selain itu, variabel kurs tidak mempengaruhi kemiskinan secara statistik signifikan . ilai p = 0,1. , sehingga hipotesis nol diterima. Untuk variabel inflasi, hasil menunjukkan bahwa inflasi tidak mempengaruhi kemiskinan secara statistik signifikan . ilai p = 0,7. , tetapi hipotesis nol ditolak. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya hubungan kausalitas satu arah dari kemiskinan ke inflasi, namun tidak sebaliknya. Estimasi VECM Salah satu tantangan dalam penelitian ini adalah estimasi VECM, yang melibatkan analisis hubungan antara variabel independen dan dependen, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Untuk menilai pengaruhnya, kita perlu membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. Jika nilai Jika , maka pengaruhnya dianggap Sebaliknya, , maka pengaruhnya tidak signifikan. Tabel 9 Hasil Estimasi VECM Dalam Jangka Panjang dan Jangka Pendek Jangka Panjang Variabel Koefisien Standar Eror t-Statistik D(Bi rate(-. ) D(Jub(-. ) Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 167 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. D(Kurs(-. ) D(Inflasi(-. ) Jangka Pendek CointEq1 D(Kemiskinan(-. ) D(Bi rate(-. ) D(Jub(-. ) D(Kurs(-. ) D(Inflasi(-. ) Sumber: Olahan Eviews, 2024 Terdapat korelasi signifikan antara mekanisme hubungan jangka pendek dan jangka panjang, seperti yang terlihat dari hasil estimasi jangka pendek VECM dalam Tabel 4. Nilai koefisien koreksi kesalahan untuk parameter CointEq1 adalah 0,059034 dengan t-statistik sebesar 0,054460 dan standar error sebesar 0,01840, yang lebih kecil dari 0,05. Hasil estimasi VECM jangka panjang menunjukkan bahwa suku bunga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan pada tingkat signifikansi 5%, dengan t-statistik suku bunga sebesar -2,49477, yang melebihi nilai t-tabel 2,042272. Demikian pula, hasil estimasi VECM jangka pendek menunjukkan bahwa suku bunga juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan pada tingkat signifikansi 5%, dengan t-statistik sebesar -2,18718, yang lebih besar dari t-tabel 2,042272. Sebaliknya, hasil estimasi VECM jangka panjang menunjukkan bahwa jumlah uang beredar tidak berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan pada tingkat signifikansi 5%, dengan t-statistik sebesar 0,37676, yang lebih rendah dari t-tabel 2,042272. Hasil estimasi VECM jangka pendek juga menunjukkan bahwa jumlah uang beredar tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemiskinan pada tingkat signifikansi 5%, dengan tstatistik sebesar 0,68572, yang lebih kecil dari t-tabel 2,042272. Dalam jangka panjang, nilai tukar memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan pada tingkat signifikansi 5%, dengan t-statistik sebesar -4,09160, yang lebih besar dari t-tabel 2,042272. Namun, dalam jangka pendek, nilai tukar tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemiskinan pada tingkat signifikansi 5%, seperti yang terlihat dari t-statistik sebesar -0,42720, yang lebih kecil dari t-tabel 2,042272. Hasil estimasi VECM jangka panjang menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan pada tingkat signifikansi 5%, dengan t-statistik inflasi sebesar -13,3787, yang melebihi t-tabel 2,042272. Namun, dalam jangka pendek, inflasi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemiskinan pada tingkat signifikansi 5%, dengan t-statistik sebesar -0,28789, yang lebih kecil dari t-tabel 2,042272. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 168 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. PEMBAHASAN Hubungan Kausalitas Suku Bunga Dan Kemiskinan Hasil estimasi menggunakan pendekatan VECM menunjukkan bahwa suku bunga mempengaruhi tingkat kemiskinan, sementara kemiskinan tidak mempengaruhi suku Ini menunjukkan adanya hubungan kausal satu arah, di mana perubahan suku bunga berdampak pada tingkat kemiskinan, tetapi tidak sebaliknya. Dalam jangka pendek, suku bunga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan. Temuan jangka panjang juga mengindikasikan bahwa suku bunga secara signifikan mempengaruhi kemiskinan. Penelitian ini konsisten dengan temuan Bank Indonesia . , yang menunjukkan adanya hubungan kausal antara suku bunga dan kemiskinan di Indonesia selama periode Penurunan suku bunga dapat membantu mengurangi kemiskinan, meskipun dampaknya bervariasi di antara berbagai kelompok masyarakat. Namun, hasil penelitian ini berbeda dengan temuan Damrony dan Mekhalath . , yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan kausal antara suku bunga dan kemiskinan. Weston dan Brighman berpendapat bahwa tingkat suku bunga yang tinggi dapat menurunkan perekonomian. Pada tahun 1997, kebijakan suku bunga tinggi . i atas 50%) diterapkan untuk mengatasi krisis moneter. Meskipun kebijakan ini membantu menstabilkan nilai tukar rupiah, dampaknya negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan secara signifikan meningkatkan tingkat kemiskinan. Hubungan Kausalitas Jumlah Uang Beredar Dan Kemiskinan Jumlah uang beredar bisa menjadi alat kebijakan moneter yang penting dalam mempengaruhi tingkat kemiskinan. Namun, perlu dicatat bahwa jumlah uang beredar hanyalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kemiskinan. Berdasarkan estimasi menggunakan pendekatan VECM, penelitian menunjukkan bahwa secara statistik, jumlah uang beredar tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemiskinan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Artinya, perubahan dalam jumlah uang beredar tidak secara langsung mempengaruhi tingkat kemiskinan, seperti yang terlihat dari nilai tstatistik yang lebih kecil dibandingkan dengan t-tabel. Penelitian ini konsisten dengan temuan A. Mahendar . , yang dalam studinya mengenai pengaruh jumlah uang beredar, suku bunga SBI, dan nilai tukar terhadap kemiskinan di Indonesia selama periode 2005 hingga 2014, menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi yang menyebabkan kemiskinan di Indonesia tidak secara langsung terkait dengan jumlah uang beredar. Jumlah uang beredar dikendalikan oleh bank sentral, sementara permintaan uang dipengaruhi oleh faktor seperti tingkat harga rata-rata dalam ekonomi. Permintaan uang untuk transaksi tergantung pada harga barang dan jasa yang tersedia. kenaikan harga mendorong peningkatan permintaan uang oleh masyarakat (Perlambang, 2. Namun, temuan ini berbeda dari hasil penelitian L. Nasution . , yang meneliti kebijakan moneter dan dampaknya terhadap tingkat kemiskinan di lima negara ASEAN. Penelitian tersebut menemukan bahwa di Thailand, jumlah uang beredar Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 169 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. merupakan indikator utama tingkat kemiskinan. Peningkatan jumlah uang beredar di masyarakat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan angka kemiskinan. Hubungan Kausalitas Nilai Tukar Dan Kemiskinan Nilai tukar dan kemiskinan adalah dua isu ekonomi yang saling berhubungan. Fluktuasi nilai tukar dapat berdampak signifikan pada tingkat kemiskinan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan estimasi menggunakan pendekatan VECM, penelitian menunjukkan bahwa nilai tukar tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemiskinan, dan begitu pula sebaliknya, kemiskinan tidak mempengaruhi nilai Ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan kausal antara nilai tukar dan Temuan ini konsisten dengan studi Amalia . yang berjudul "Pengaruh Nilai Tukar. Inflasi, dan Tingkat Pengangguran Terbuka terhadap Garis Kemiskinan". Amalia menemukan bahwa nilai tukar tidak berpengaruh signifikan terhadap garis kemiskinan. Namun, hasil ini berbeda dari temuan L. Nasution . , yang menunjukkan bahwa nilai tukar mempengaruhi tingkat kemiskinan di Myanmar. Laos. Filipina. Indonesia, dan Thailand. Pengaruh nilai tukar terhadap kemiskinan dapat bervariasi, tergantung pada faktor-faktor seperti struktur ekonomi negara, kondisi global, dan kebijakan pemerintah. Hubungan Kausalitas Inflasi Dan Kemiskinan Hubungan antara inflasi dan kemiskinan biasanya dianggap negatif, yang berarti bahwa kenaikan inflasi dapat memperburuk kemiskinan. Namun, berdasarkan estimasi menggunakan pendekatan VECM, penelitian menunjukkan bahwa inflasi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemiskinan secara statistik. Sebaliknya, kemiskinan secara statistik berpengaruh signifikan terhadap inflasi. Ini menunjukkan adanya hubungan kausal satu arah dari kemiskinan terhadap inflasi, tanpa pengaruh sebaliknya. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian Yuyun Rahman dan Prihatining Rahmah . , yang menyatakan tidak adanya hubungan kausalitas antara inflasi dan Perbedaan ini disebabkan oleh pola konsumsi yang berbeda antara orang miskin dan orang kaya. Orang miskin lebih banyak menghabiskan uang untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal, yang cenderung memiliki harga yang lebih stabil dan kurang dipengaruhi oleh inflasi. Sebaliknya, orang kaya mengalokasikan pengeluaran mereka untuk barang dan jasa non-esensial yang harga-harganya lebih mudah berfluktuasi akibat inflasi. Namun, temuan ini berbeda dengan hasil penelitian Budy P. Saptono . , yang menunjukkan adanya hubungan kausalitas antara inflasi dan kemiskinan. Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan ketidakpastian ekonomi, yang membuat orang miskin enggan berinvestasi atau mengambil risiko. Hal ini juga dapat menghambat perkembangan usaha kecil dan menengah (UKM) serta mengurangi peluang kerja, sehingga memperburuk Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 12 no 02 Hal 161-173 | 170 Analisis Kausalitas Kebijakan Moneter Dan Kemiskinan Di Indonesia Periode 1992-2022 (Usma. SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam jangka panjang variabel suku bunga, nilai tukar dan inflasi yang berpengaruh signifikan dengan kemiskinan sedangkan jumlah uang beredar tidak signifikan mempengaruhi kemiskinan. Kemudian dalam jangka pendek hanya suku bunga yang berpengaruh signifikan terhadap kemiskinansedangkan jumlah uang beredar, nilai tukar dan inflasi tidak signifikan mempengarhui kemiskinan. Berdsarkan hasil Granger causality test dapat disimpulkan bahwa terdapat kausalitas antara suku bunga dan kemiskinan. Pengaruh suku bunga terhadap kemiskinan itu kompleks dan tergantung pada berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi makro, struktur pasar keuangan, dan kebijakan pemerintah. Kebijakan suku bunga yang tepat dapat membantu mengurangi kemiskinan. Kemudian antara kemiskinan dan suku bunga tidak terdapat kausalitas. Hubungan antara kemiskinan dan suku bunga kompleks dan tidak langsung. Suku bunga tinggi dapat memperburuk kemiskinan, dan kemiskinan yang meluas dapat memengaruhi kebijakan suku bunga. SARAN Penelitian ini dapat menggunakan metodologi yang lebih canggih, seperti model ekonometrika yang lebih kompleks atau analisis panel data, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan reliable, penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan faktorfaktor lain yang mungkin mempengaruhi hubungan antara kebijakan moneter dan kemiskinan, seperti pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan dan faktor penelitian ini dapat dilakukan ditingkat regional utuk melihat apakah terdapat variasi dalam hubungan antara kebijakan moneter dan kemiskinan diberbagai daerah di Indonesia, penelitian selanjutnya dapat menggunakan data terbaru untuk melihat apakah terdapat perubahan dalam hubungan antara kebijakan moneter dan kemiskinan dari waktu ke waktu. DAFTAR PUSTAKA