Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. Volume 07 Nomor 02 Tahun 2026 (Hal: 11-. DOI: https://doi. org/10. 35310/tsarwatica. ISSN 2685-8320 (Prin. ISSN 2685-8339 (Onlin. AuThe Influence of Work Flexibility on Personal Interest in the Gig Economy Moderated by Self-Efficacy: An Islamic Work Ethics Perspective (Study on the Community in Subang Regenc. Ay Tigin Lugiani1 Nunik Nurmalasari2 Rd. Syeiren Christalia Nata Rahmat 3 1 STIE Sutaatmadja Subang. Indonesia 2 STIE Sutaatmadja Subang. Indonesia 2 STIE Sutaatmadja Subang. Indonesia Syeiren2002@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel : Tgl. Masuk: 07-12-2025 Tgl. Diterima: 16-01-2026 Tersedia Online: 26-01-2026 Keywords: The development of digital technology has led to the emergence of the gig economy, a flexible, project-based work system that is popular among young people. Flexibility in terms of time and location is the main attraction in choosing a job in this sector. However, not all individuals have the same interest in this work model, so it is necessary to understand the factors that influence this interest, one of which is work flexibility and self-efficacy. This study employs a quantitative approach using a survey method targeting 100 respondents in Subang Regency, selected through purposive sampling. The research instrument consists of a questionnaire analyzed using simple regression tests and Moderated Regression Analysis (MRA) to determine the relationships between The results indicate that work flexibility has a significant positive influence on an individual's interest in the gig economy. Self-efficacy also has a positive influence on this interest. However, self-efficacy was not found to significantly moderate the relationship between work flexibility and interest in the gig economy . = 0. 332 > 0. This finding confirms that both variables are independent factors contributing to the choice to work in the gig sector. Work Flexibility. Interest in Gig Economy. Self-Efficacy PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap dunia kerja secara kemunculan gig economy sebagai sistem kerja berbasis proyek yang menekankan fleksibilitas waktu dan lokasi kerja. Model kerja ini memberikan peluang baru bagi individu, khususnya generasi muda, untuk memperoleh penghasilan secara mandiri dengan memanfaatkan keterampilan dan teknologi digital. Gig economy dipandang sebagai alternatif terhadap sistem kerja konvensional yang cenderung bersifat kaku dan terikat oleh struktur organisasi Dalam perspektif ekonomi syariah, aktivitas kerja merupakan bagian dari ibadah dan ikhtiar manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup secara halal dan bertanggung jawab. Islam mendorong umatnya untuk bekerja secara produktif, adil, dan profesional, sebagaimana Fleksibilitas kerja dalam gig economy dapat dimaknai sebagai sarana untuk kehidupan kerja dan kehidupan pribadi Volume 07. No. 02 Ae Januari . orkAelife balanc. , serta sebagai upaya mewujudkan kemaslahatan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah Meskipun gig economy menawarkan fleksibilitas yang tinggi, tidak semua individu memiliki minat yang sama untuk terlibat dalam model kerja ini. Minat individu dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor eksternal seperti fleksibilitas kerja, maupun faktor internal seperti selfefficacy, yaitu keyakinan seseorang Dalam perspektif Islam, self-efficacy sejalan dengan konsep kepercayaan diri yang dibangun atas dasar ikhtiar, tawakal, dan tanggung jawab moral atas pekerjaan yang dilakukan. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja memiliki pengaruh positif terhadap minat dan keputusan individu dalam memilih pekerjaan di sektor gig economy. Demikian pula, self-efficacy berperan penting dalam membentuk keberanian dan kesiapan individu untuk bekerja secara Namun, hasil penelitian terkait peran self-efficacy sebagai variabel moderasi masih menunjukkan temuan yang beragam, sehingga diperlukan kajian empiris lebih lanjut, khususnya dalam konteks masyarakat lokal dan dengan pendekatan nilai-nilai etika kerja Islam. Secara umum, gig economy mengacu melaksanakan proyek-proyek jangka Sistem keuntungan bagi perusahaan, seperti biaya tenaga kerja yang lebih rendah, karena dapat menggunakan tenaga kerja terampil yang setara dengan karyawan tetap tanpa harus memberikan tunjangan tambahan seperti asuransi kesehatan, biaya hidup, uang pensiun dan sejenisnya (Puspitarini & Basit, 2. Gig economy dapat dipahami sebagai adaptasi modern dari akad kerja dalam Islam, seperti akad ijarah dan juAoalah, yang menekankan kejelasan kesepakatan, keadilan dalam pemberian upah, serta tanggung jawab moral antara pemberi dan Fleksibilitas ditawarkan dalam gig economy sejalan dengan prinsip kemudahan . dan keseimbangan . dalam Islam, namun tetap menuntut adanya amanah, profesionalisme, dan keadilan agar tidak . maupun eksploitasi. Oleh karena itu, kajian gig economy dalam perspektif Islam menjadi penting untuk memahami sejauh mana model kerja ini dapat memberikan kemaslahatan bagi individu dan masyarakat tanpa mengesampingkan nilai-nilai etika dan keadilan ekonomi Dalam praktiknya, gig economy di Indonesia berkembang dalam beragam tipologi pekerjaan berbasis platform digital non-platform, karakteristik fleksibilitas, pola imbalan, dan hubungan kerja yang berbeda. Variasi ini menimbulkan implikasi yang berbeda pula terhadap kejelasan akad, keadilan upah, dan tanggung jawab kerja, sehingga penting untuk mengkaji ekosistem gig Indonesia menganalisis minat individu dari perspektif etika kerja Islam. Gambar 1 Tipologi dan Ekosistem Gig Economy di Indonesia Sumber: . com, 2. Pada gambar 1 secara tipologi, gig economy dapat dibedakan menjadi dua Pertama, berbasis online. Dalam jenis ini, seluruh pekerjaan disampaikan tanpa melalui interaksi tatap muka atau bisa disebut sebagai crowdwork. Kategori kedua adalah gig berbasis . ocation-based pekerjaannya harus diselesaikan melalui interaksi tatap muka. Model yang paling umum dalam kategori ini adalah penyedia layanan transportasi . ide-hailin. , yang didominasi oleh Uber (AS). Didi (Cin. atau Lyft (AS). Model bisnis lainnya yang juga marak adalah jasa pengantaran makanan (Deliveroo. Justeat. UberEa. dan jasa kurir (Maxim dan Lalamov. Menariknya, platform yang mendominasi gig economy Indonesia seperti Gojek. Grab dan belakangan ini Shopee adalah platform yang mengombinasikan beragam layanan sekaligus atau biasa disebut sebagai superapp . Data Sakernas juga membantu mengidentifikasi karakteristik pekerja gig, misalnya terkait jam kerja, gender dan latar belakang pendidikan. Pekerja gig di sektor transportasi memiliki jam kerja yang tinggi hingga mencapai 57 jam per pekan. Hal ini sejalan dengan banyak riset yang pengemudi ojek daring dan kurir yang terpaksa bekerja dalam waktu sangat panjang untuk mencapai target dan bonus harian . co, 2. Tabel 1 Perbandingan Karakteristik Pekerja Gig. Pekerja di Sektor Formal dan Pekerja di Sektor Informasi Jumlah Proporsi Angkata n kerja Ratarata jam Proporsi Universit Pekerja Gig di Sektor Transpor Peker ja Gig Sekto Jasa Lainn Pekerj a di Sektor Formal di Luar Pertani 1,23 juta 1,10 48,34 Bekerj Sendiri (Sekto Inform di Luar Pertani 19,93 0,09% 0,8% 37,8% 15,6% 54 jam 45 jam 44 jam Ratarata (R. Ratarata Usia Persent Peremp Persent di kota Pekerja Gig di Sektor Transpor Peker ja Gig Sekto Jasa Lainn Pekerj a di Sektor Formal di Luar Pertani Bekerj Sendiri (Sekto Inform di Luar Pertani 3,05 juta 3,04 2,92 2,09 36 tahun 2,4% 36,4% 36,5% 45,9% Sumber: Data Sakernas, 2025 Menurut tabel 1 sektor transportasi berbasis gig di Indonesia didominasi oleh laki-laki . ,6%), sementara sektor jasa perempuan yang lebih seimbang . ,4%), mendekati proporsi di sektor formal. Fenomena gig economy terkonsentrasi di wilayah perkotaan, terutama di Pulau Jawa dan kawasan Jabodetabek, serta kota-kota seperti Denpasar. Malang, dan Yogyakarta, infrastruktur digital dan pasar urban. Gig economy ditandai dengan fleksibilitas, otonomi kerja, dan sistem kontrak jangka pendek tanpa ikatan kerja permanen. Secara demografis, mayoritas pekerja gig berasal dari Generasi Z dan milenial yang memiliki literasi digital tinggi dan preferensi terhadap pekerjaan fleksibel (Ramadani et al. , 2. Namun, meskipun menawarkan fleksibilitas, model kerja ini pendapatan yang fluktuatif dan minimnya jaminan sosial. Survei Marketplace dan Edison Research . menunjukkan bahwa 45% pekerja gig yang menjadikan pekerjaan ini sebagai sumber utama kecemasan tinggi akibat tekanan ekonomi dan ketidakpastian kerja. Volume 07. No. 02 Ae Januari Jenis Kelamin Total Laki-laki Grafik 1 Pekerja Gig Economy sesuai Jenis Kelamin Sumber: Marketplace-Edison Research. Pada grafik 1 pekerjaan gig dapat menjadi sumber penghasilan utama atau sumber penghasilan tambahan. Seperti yang ditunjukkan oleh data kami, mereka yang memperoleh penghasilan utama melalui pekerjaan di gig economy memiliki karakteristik dan tingkat kecemasan yang berbeda dari mereka yang berpartisipasi dalam gig economy hanya sebagai sumber penghasilan tambahan. Ketika utama melalui gig economy, dia lebih cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, takut akan pengeluaran tak terduga dan merasa secara finansial tidak Terdapat 24 persen orang dewasa berusia 18 tahun ke atas mendapatkan penghasilan melalui bekerja di gig Pria lebih cenderung menjadi pekerja gig daripada wanita, dengan 31% pria mengatakan mereka mendapatkan penghasilan melalui gig economy. Delapan belas persen wanita juga penghasilan melalui gig economy. Umur Total mencerminkan kombinasi faktor, seperti kebutuhan mahasiswa akan pekerjaan fleksibel, lulusan baru yang belum terserap pasar kerja formal, serta preferensi generasi muda terhadap teknologi dan Generasi umumnya memanfaatkan gig economy sebagai sumber penghasilan tambahan yang fleksibel (Hartono & Tarigas, 2. , sedangkan Gen X dan baby boomer cenderung memilih pekerjaan paruh waktu yang minim risiko (Laksana & Setyawan. Gig didominasi oleh kalangan usia produktif Meskipun menawarkan fleksibilitas dan potensi penghasilan, sistem ini juga menghadirkan tantangan serius, terutama bagi Gen Z yang tengah memasuki dunia Ketidakpastian keterbatasan perlindungan sosial, serta risiko kerentanan ekonomi menjadi isu strategis dalam pengembangan ekosistem kerja fleksibel di Indonesia (CuyulVysquez et al. , 2. Tabel 2 Distribusi Pekerja Gig Economy Berdasarkan Generasi di Indonesia Generasi Proporsi di Gig Gen Z 8,4Ae12,7% Milenial 35,3Ae40,5% Gen X 33,4Ae38,9% Baby Boomer 13,5Ae17,4% Karakteristik Utama Digital native, memilih fleksibilitas, pekerjaan variatif Terbiasa dengan teknologi, motivasi Pengalaman tinggi, lebih stabil secara Proporsi paling kecil, cenderung peran Sumber: Berbagai referensi, 2025 Grafik 2 Pekerja Gig Economy Sesuai Umur Sumber: Marketplace-Edison Research. Pada grafik 2 sebanyak 25% orang dewasa berusia 35Ae54 tahun dan 11% dari kelompok usia 55 tahun ke atas terlibat dalam pekerjaan gig. Komposisi usia ini Pada tabel 2 data ini menunjukkan Gen mendominasi pekerja gig economy di Indonesia, perkotaan dan sektor-sektor yang berbasis digital serta layanan transportasi. Gig economy terus mengalami pertumbuhan signifikan di Indonesia, dengan lebih dari 4 juta pekerja lepas tercatat oleh BPS. Model kerja ini memberikan fleksibilitas tinggi dan memungkinkan pekerja memilih waktu serta jenis pekerjaan secara mandiri, umumnya melalui platform digital seperti Sribulancer. Ruang Guru. Upwork, dan Fiverr. Pekerja gig berbeda dari pekerja kontrak (PKWT), karena tidak terikat hubungan kerja jangka panjang dan diselesaikan (Latri et al. , 2. Perusahaan yang memanfaatkan tenaga kerja gig mendapat keuntungan dalam hal efisiensi, terutama dalam Fleksibilitas ini memungkinkan manajer merestrukturisasi tugas dan mendistribusikannya melalui platform Selain itu, penggunaan elemen gamifikasi dalam platform gig berperan penting untuk menjaga keterlibatan dan kepuasan kerja para pekerja. Gig economy, yang berkembang pesat di sektor kreatif, teknologi, dan jasa, mencerminkan perubahan preferensi kerja generasi modern terhadap sistem kerja yang adaptif, responsif, dan berbasis proyek, dibandingkan hubungan kerja formal tradisional. Adapun tabel berikut menunjukkan perbedaan antara pekerja gig economy dan pekerja kontrak: Tabel 3 Perbedaan Gig Economy Dan Pekerja Kontrak Aspek Status Hukum Sistem Pembayaran Platform Kerja Pekerja Gig Mitra atau Berdasarkan tugas yang Platform digital . Gojek. Sribulance. Jaminan Sosial Umumnya tidak Fleksibilitas Waktu Sangat tinggi Hak dan Tunjangan Terbatas atau tidak ada Pekerja Kontrak (PKWT) Karyawan dengan kontrak tertentu Berdasarkan waktu atau proyek Tertentu (PKWT) dengan hak dan kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak. Meskipun memiliki tanggung jawab yang sama dengan karyawan tetap selama masa kontrak, mereka seringkali tidak memperoleh hak yang setara dalam hal tunjangan dan perlindungan kerja. Gig keunggulan fleksibilitas, terutama bagi Milenial dan Gen Z yang mengutamakan work-life balance dan otonomi kerja. Bagi perusahaan, sistem ini menawarkan efisiensi dan akses ke talenta global tanpa komitmen jangka panjang. Namun, pendapatan, minimnya jaminan sosial, dan rendahnya partisipasi pekerja gig dalam program perlindungan seperti BPJS Ketenagakerjaan tetap menjadi isu yang perlu perhatian. Freelance merupakan bentuk kerja dalam gig economy yang berbasis proyek jangka pendek dan bersifat on-demand. Didukung oleh teknologi digital, jenis pekerjaan ini diminati karena menawarkan fleksibilitas tinggi dalam memilih waktu, proyek, dan Menurut Permenaker No. 5 Tahun 2021 Pasal 1 Ayat 14, pekerja lepas dipekerjakan untuk menyelesaikan tugas tertentu dengan waktu dan kontinuitas yang bervariasi, serta menerima upah Tabel 4 Profesi Freelancer Tiap Generasi Umur Generasi Saat ini . Langsung dengan Diatur dalam UU Ketenagakerjaan . Terbatas sesuai jam kerja kontrak Beberapa hak ada . isalnya cuti. THR) Sumber: Referensi Latri et al. , 2025 Pada tabel 3 Pekerja kontrak, berbeda dengan pekerja lepas, memiliki hubungan kerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Gen Z Profesi Freelancer Ciri Utama dan Motivasi Content Creator. Dominasi Social Media Manager, eksplorasi, work-life Graphic balance, fleksibilitas Designer. Video Banyak yang 13Ae28 Editor. Penulis tahun Konten. Digital gig/freelance Marketing Specialist. Ojek Online. Epengalaman awal Commerce Officer Volume 07. No. 02 Ae Januari Umur Generasi Saat ini . Milenial 29Ae43 Gen X 44Ae59 Baby Boomers 60Ae78 Profesi Freelancer Ciri Utama dan Motivasi Graphic Sudah Designer. Copywriter, keahlian lebih tinggi. Digital Marketer, gig/freelance Web & Apps alternatif Developer. Fotografer. Motif Videografer, utama: fleksibilitas. Private Tutor, penghasilan. Konsultan Paruh mengisi waktu di Waktu luar kesibukan lain. Konsultan Umumnya (Bisnis. Keuangan. SDM), pengalaman Tutor. Event jejaring. Organizer, gig/freelance sering Fotografer/Video jadi Senior, penghasilan Penulis Ahli, peralihan Pelatih Bisnis kerja formal. Fokus Konsultan Ahli, memanfaatkan Mentor. Penulis pengalaman Buku. Pelatih profesional. Bisnis Pribadi, biasanya Tutor Privat Elite, dengan Reviewer informal atau paruh Sumber: Berbagai referensi, 2025 Pada tabel 4 dalam lanskap kerja fleksibel atau gig economy yang terus memunculkan variasi dalam pilihan profesi Setiap menunjukkan kecenderungan berbeda dalam beradaptasi dengan pola kerja lepas ini, baik dari segi bidang pekerjaan yang dijalani maupun motivasi utama yang Keterlibatan generasi dalam gig economy menunjukkan variasi peran dan motivasi berdasarkan usia. Generasi Z . Ae28 tahu. cenderung memilih Gig economy menawarkan fleksibilitas waktu dan lokasi kerja, memungkinkan pekerja lepas menyeimbangkan pekerjaan dengan Pemerintah memperluas akses pendidikan TIK guna meningkatkan keterampilan generasi muda agar mampu bersaing sebagai tenaga kerja digital terampil. Di Indonesia, sekitar 46,47 juta orang atau 32% dari total angkatan kerja merupakan pekerja freelance (BPS, 2. Mayoritas bekerja di bidang desain grafis, pemasaran digital, dan penulisan. Platform seperti FRAPP hadir sebagai perantara antara perusahaan dan freelancer . id, 2. Meskipun menjanjikan, pekerjaan freelance memiliki tantangan signifikan, termasuk tidak adanya kontrak formal, rendahnya akses terhadap jaminan sosial . ,5% tidak terdaftar BPJS), serta risiko kelelahan akibat beban kerja tinggi dan jam kerja tidak menentu. Selain itu, pengembangan karier jangka panjang, dan lemahnya perlindungan hukum membuat posisi pekerja freelance masih rentan dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia (Lingkaran. co, 2. Pekerjaan digital dan kreatif seperti pembuat konten dan desainer grafis eksplorasi karier. Bagi mereka, pekerjaan lepas sering menjadi langkah awal dalam membangun karier profesional. Generasi Milenial . Ae43 tahu. umumnya menjadikan pekerjaan freelance sebagai sumber penghasilan utama, memanfaatkan keterampilan di bidang teknologi dan pemasaran digital, dengan tetap mengutamakan kebebasan kerja. Generasi X . Ae59 tahu. dan Baby Boomers . Ae78 tahu. lebih banyak terlibat dalam peran konsultatif dan Dengan latar belakang pengalaman yang panjang, pekerjaan freelance dijalankan sebagai aktivitas produktif pasca-kerja formal atau sebagai bentuk kontribusi profesional di masa Tabel 5 Profesi Freelancer di Indonesia Kategori Pekerjaan Contoh Profesi Mobility & Delivery Pengemudi ojek online, kurir paket, kurir makanan Kreatif & Digital Desain grafis, content creator, content writer, copywriter Pemasaran & Bisnis Digital Penulisan & Penerjemahan Penulis konten, penerjemah Sumber: Berbagai referensi, 2025 Berdasarkan pada tabel 1. menunjukan keragaman profesi freelance di Indonesia yang tergolong dalam empat kategori utama yaitu Mobility & Delivery . isalnya pengemudi ojek online, kurir paket, kurir makana. Kreatif & Digital . esainer grafis, content creator, content writer, copywrite. Pemasaran & Bisnis . pesialis digital marketing, penyedia jasa Penulisan Penerjemahan . enulis Setiap mencerminkan sektor yang kini tumbuh dalam gig economy, yaitu sistem ekonomi berbasis proyek jangka pendek. JUMLAH PEKERJAAN FORMAL DAN INFORMAL Informal Formal Grafik 3 Karakteristik Penduduk Bekerja. Agustus 2022 - Agustus 2024 Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS). Pada grafik 3 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2024. Indonesia didominasi oleh sektor informal sebesar 63,03%, menyerap 36,97% tenaga kerja. Meskipun terjadi peningkatan jumlah pekerja pada kedua sektor, proporsi pekerja informal secara persentase mengalami penurunan. Dalam fleksibilitas menjadi daya tarik utama, ketidakpastian pendapatan dan minimnya perlindungan hukum. Pekerja kontrak independen mencakup 32% dari total angkatan kerja pada Februari 2023, menunjukkan tren meningkatnya peran pekerjaan non-konvensional berbasis proyek dan digital. Self-efficacy, khususnya digital selfefficacy (DSE), berperan penting dalam pekerjaan ini menuntut adaptabilitas tinggi terhadap teknologi digital (Maran et al. Individu dengan DSE tinggi psikologis yang lebih baik dan mampu menavigasi tantangan kerja fleksibel (Ulfert-Blank & Schmidt, 2. Di tengah ketidakpastian karier, pendekatan protean career menjadi pengembangan karier berbasis nilai personal dan penguasaan teknologi (Haenggli & Hirschi, 2. Pertumbuhan angkatan kerja yang mencapai 149,37 juta orang pada 2024 juga menandakan ekonomi digital. Pada tahun 2023, jumlah tenaga kerja perempuan diperkirakan mencapai 57,58 juta orang . ,98%), sementara laki-laki mendominasi dengan 85,24 juta orang . ,95%). Rasio partisipasi angkatan kerja antara laki-laki dan perempuan mendekati 3:2. Perbedaan ini sebagian besar disebabkan oleh norma gender tradisional dan beban kerja domestik yang lebih besar diemban oleh perempuan. Kondisi ini pelatihan keterampilan, serta program Meskipun demikian, pasar tenaga kerja Indonesia menunjukkan perbaikan. Tingkat pengangguran menurun dari 9,77 juta orang pada 2020 menjadi 7,86 juta pada 2023, dengan penurunan rata-rata 7,01% per tahun. Menurut BPS . TPT pada Agustus 2023 tercatat sebesar 5,32%, turun dari 5,86% pada tahun Namun, pengangguran tetap pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Volume 07. No. 02 Ae Januari pendidikan ke dunia kerja, meningkatkan kesiapan kerja, dan memperluas peluang Dengan demikian, penguatan fleksibilitas karier pengembangan sumber daya manusia yang kompeten dan adaptif. Gambar 2 Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Sumber: Data Badan Pusat (Statistik BPS) Berdasarkan gambar 2 meskipun tantangan dalam memperoleh pekerjaan Menurut BPS, pengangguran mencakup individu yang tidak aktif mencari kerja karena merasa sulit mendapatkannya, mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang kompleks. Hal ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri serta pertumbuhan angkatan kerja. Dalam konteks ini, minat terhadap gig economy, disertai pemahaman tentang dinamika pasar kerja, menjadi semakin relevan. Perluasan kesempatan kerja formal mendorong perpindahan tenaga kerja dari sektor informal menuju pekerjaan yang lebih stabil dan terlindungi. Meskipun demikian, jumlah pekerja di sektor informal masih mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi perbaikan struktural, sektor informal tetap menjadi penyerap tenaga kerja yang Berbagai studi menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja berperan penting dalam Dalam kerangka teori desain karier, fleksibilitas karier berkorelasi positif dengan kepuasan kerja dan keberhasilan pencarian kerja. Meningkatkan khususnya di kalangan mahasiswa. Gambar 3 Hasil VOSviewer Network Visualization Sumber: VOSviewer, 2025 Berdasarkan VOSviewer menggambarkan bagaimana kemampuan beradaptasi dalam karier memengaruhi berbagai aspek kehidupan profesional dan akademik, serta bagaimana fenomena seperti gig economy menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pekerja. Hubungan antara konsep-konsep ini memberikan wawasan mengenai faktorfaktor yang mendukung atau menghambat perkembangan karier seseorang dalam berbagai konteks. Gig economy diposisikan sebagai konsep sentral yang berkaitan erat dengan fleksibilitas kerja, kinerja individu, serta ketimpangan pendapatan. Fleksibilitas yang melekat dalam sistem kerja ini tidak hanya memengaruhi performa pekerja, tetapi juga berdampak pada dinamika sosial-ekonomi yang lebih luas. Dalam konteks ini, konsep mediasi menjadi penting untuk memahami faktor-faktor perantara yang menjembatani hubungan antara fleksibilitas kerja dan hasil Fleksibilitas kerja mencerminkan kemampuan individu untuk menyesuaikan jadwal dan metode kerja sesuai preferensi pribadi, terutama dalam lingkungan gig Kondisi ini memungkinkan pekerja untuk mengembangkan perilaku kerja yang adaptif dan inovatif. Fleksibilitas juga berhubungan erat dengan selfefficacy, yaitu keyakinan individu terhadap tantangan dan mencapai tujuan kerja. Self-efficacy memiliki korelasi positif dengan praktik kerja kreatif, kecerdasan emosional, serta motivasi berprestasi. Individu dengan tingkat self-efficacy yang tinggi lebih cenderung memiliki inisiatif dalam pengembangan karier, termasuk dalam konteks kewirausahaan. Oleh karena itu, hubungan antara self-efficacy, fleksibilitas, dan partisipasi dalam gig keberhasilan dalam sektor ini memerlukan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan lingkungan kerja yang tidak menentu. (Khan et al. , 2. mengungkap bahwa self-efficacy memengaruhi adopsi gig work melalui mediasi fleksibilitas kerja dan adaptabilitas karier, serta dipengaruhi negatif oleh isolasi profesional. Studi tersebut menekankan relevansi dukungan sosial dan regulasi adaptif, terutama dalam konteks digital seperti metaverse. Penelitian pendekatan (Khan et al. , 2. dengan memposisikan fleksibilitas kerja sebagai variabel independen, minat terhadap gig economy sebagai variabel dependen, serta self-efficacy sebagai variabel moderasi, dan menerapkannya dalam konteks sosial Indonesia. Kebaruan riset ini terletak pada penerapannya di dunia nyata, bukan hanya virtual, serta relevansinya terhadap dinamika kerja digital yang terus berkembang. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian PENGARUH FLEKSIBILITAS KERJA TERHADAP MINAT SESEORANG DALAM GIG ECONOMY YANG DIMODERASI OLEH SELF-EFFICACY (Studi Masyarakat di Kabupaten Suban. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merumuskan masalah sebagai Bagaimana fleksibilitas kerja pada Kabupaten Subang? Bagaimana Kabupaten Subang? Bagaimana self-efficacy pada Kabupaten Subang? Apakah fleksibilitas kerja terhadap minat seseorang dalam gig economy pada masyarakat di Kabupaten Subang? Apakah self-efficacy memoderasi hubungan fleksibilitas kerja terhadap minat seseorang Kabupaten Subang? Tujuan Penelitian Berdasarkan identifikasi masalah di atas, tujuan dari penelitian ini sebagai Untuk mengetahui fleksibilitas Kabupaten Subang. Untuk seseorang dalam gig economy pada masyarakat di Kabupaten Subang. Untuk mengetahui self-efficacy pada masyarakat di Kabupaten Subang. Untuk terdapat pengaruh fleksibilitas kerja terhadap minat seseorang masyarakat di Kabupaten subang. Untuk mengetahui self-efficacy memoderasi hubungan fleksibilitas kerja terhadap minat seseorang masyarakat di Kabupaten Subang. KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Manajemen Sumber Daya Manusia Menurut (Desler, 2. Perencanaan tenaga kerja, rekrutmen, pelatihan, manajemen penggajian, evaluasi kinerja, hubungan ketenagakerjaan semuanya merupakan aspek penting dari proses perekrutan, pelatihan, penilaian dan Volume 07. No. 02 Ae Januari pembayaran karyawan serta pengelolaan hubungan ketenagakerjaan, kesehatan, keselamatan dan kesetaraan. Fleksibilitas Kerja Menurut (Mishra & Prasad, 2. fleksibilitas kerja memberikan kebebasan kepada individu dalam menjalankan profesinya, memungkinkan mereka untuk mengatur waktu dan tempat kerja dengan lebih baik, sehingga mengurangi beban dan stress. Indikator Fleksibilitas Kerja Menurut (Moorhead dkk, 2. , fleksibilitas kerja dapat diukur melalui beberapa indikator yaitu durasi kerja (Time Flexibilit. , waktu mulai bekerja (Timing flexibilit. dan dengan kebebasan memilih tempat pekerjaan (Place Flexibilit. Time Flexibility Fleksibilitas pengusaha yang dimaksud dalam mengubah lama kerja, para pekerja bebas menentukan sendiri panjang panjangnya, hal ini terjadi pada rekanan manajemen di mana karyawan dapat menentukan berapa waktu ia bekerja sesuai kesepakatan awal dengan pihak Timing Flexibility Keleluasaan karyawan diminta untuk memilih jadwal kerjanya, disini karyawan dapat mengatur kapan mereka bekerja sesuai dengan jadwalnya, sesuai dengan keputusan manajer yang di mana karyawan dapat mengatur jam berapa ia bekerja dalam waktu yang telah disepakati. Place Flexibility Fleksibilitas dimaksud dalam memilih pekerjaan. Karyawan dapat mengatur tempat bekerja dalam melakukan pekerjaan, yang di mana pekerjaan tersebut masih di dalam lingkup perusahaan. Minat Seseorang dalam Gig Economy Menurut (Zahra & Tanjung, 2. minat merupakan perasaan suka dan ketertarikan pada sesuatu tanpa adanya Pada merupakan bentuk penerimaan suatu ikatan antara internal individu dengan eksternal individu. Jenis Minat Purwanto sebagai motivasi intrinsik individu yang terarah pada suatu objek yang disukai. Minat ini dapat diwujudkan dalam berbagai ekspresi, seperti: Minat yang Diekspresikan (Ekspressed Interes. Minat dapat ditunjukkan secara verbal dengan mengekspresikan preferensi atau ketertarikan terhadap sesuatu. Sebagai contoh, seseorang dapat menyatakan antusiasme mereka untuk membangun pesawat model. Minat yang Diwujudkan (Manifest Interes. Minat tidak hanya dapat disampaikan secara verbal, tetapi juga melalui perilaku, seperti terlibat dalam kegiatan yang sesuai dengan minat untuk memperdalam Sebagai contoh, mahasiswa dapat mengambil bagian dalam kegiatan di dalam dan di luar kampus yang berkaitan dengan bidang yang mereka Self-Efficacy Menurut (Azhari et al. , 2. Kepercayaan diri yang dimiliki seseorang agar orang lain termotivasi dalam mencapai tugas-tugas tertentu. Sehingga dengan adanya kepercayaan diri ini diharapkan termotivasi agar mendapatkan tujuan yang diinginkan. Aspek Self-Efficacy Menurut Bandura . 7:203-. , self-efficacy memiliki beberapa ciri unik yang dapat diuraikan sebagai berikut: Self-efficacy melibatkan penilaian kemampuan diri untuk melakukan suatu tugas, bukan kualitas pribadi karakteristik psikologis. Siswa menilai kemampuan pribadi mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, bukan siapa mereka atau bagaimana perasaan mereka tentang diri mereka secara umum. Self-efficacy bersifat multidimensi yang berarti keyakinan efikasi terkait dengan beragam area operasi. Akibatnya, keyakinan self-efficacy siswa untuk mata pelajaran sains mereka mungkin berbeda dengan keyakinan efikasi diri yang mereka miliki untuk mata pelajaran bahasa Inggris atau mata pelajaran lainnya. Karena dalam proses melakukan suatu keterampilan, banyak faktor yang dapat memengaruhi baik secara positif maupun negatif, pengukuran self-efficacy sangat bergantung pada Sebagai contoh, ruang kelas yang nyaman dan kooperatif dapat self-efficacy dibandingkan dengan ruang kelas meminimalkan self-efficacy siswa. Self-efficacy siswa lebih bergantung pada kriteria penguasaan kinerja daripada kriteria lainnya. Sebagai contoh, siswa menilai keyakinan mereka bahwa mereka dapat menulis esai yang baik dengan topik yang bervariasi, bukan seberapa baik mereka berharap untuk melakukannya dibandingkan dengan siswa lain. Self-efficacy dinilai sebelum siswa melakukan kegiatan yang relevan. Fitur sebelumnya ini memberikan urutan temporal untuk mengevaluasi peran keyakinan self-efficacy dalam struktur kausal. Penelitian Terdahulu Dalam sebagai tolok ukur dan acuan untuk Berbagai studi menunjukkan bahwa topik gig economy, fleksibilitas kerja, dan self-efficacy telah banyak diteliti baik secara global maupun lokal. Khan et al. menyoroti peran self-efficacy dalam adaptabilitas karier pada adopsi gig work di metaverse, sedangkan penelitian di Indonesia oleh (Darmawan dan Muttaqin, 2. serta (Prakoso & Anggraini, 2. menegaskan bahwa fleksibilitas waktu dan potensi penghasilan menjadi faktor utama bagi generasi Z untuk memilih gig work. (Siregar & Syahrizal, 2. juga menekankan pentingnya efikasi diri digital dalam meningkatkan kepuasan karier pekerja jarak jauh. Unit analisis umumnya individu, dengan pendekatan kuantitatif berbasis survei dan analisis statistik seperti SEM. PLS-SEM, atau regresi linier. Temuantemuan tersebut menegaskan peran selfefficacy menghadapi pekerjaan fleksibel dan keterlibatan gig economy. Namun, penelitian sebelumnya banyak berfokus pada wilayah perkotaan berinfrastruktur digital maju. Penelitian ini mengisi celah moderasi self-efficacy dalam hubungan fleksibilitas kerja dan minat gig economy di masyarakat dengan karakteristik sosialekonomi berbeda, seperti di Malang atau daerah serupa. Kerangka Pemikiran Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory/SCT) dikembangkan oleh Bandura . menjelaskan bahwa perilaku individu merupakan hasil interaksi timbal balik antara faktor personal . eperti selfefficac. , lingkungan sosial . eperti fleksibilitas kerj. , dan perilaku itu sendiri . eperti minat kerj. Teori ini relevan untuk memahami dinamika gig economy merespons peluang kerja fleksibel. Dalam fleksibilitas kerja dipandang sebagai faktor lingkungan, minat terhadap gig economy sebagai perilaku, dan self-efficacy sebagai faktor kognitif personal yang memoderasi hubungan keduanya. Individu dengan selfefficacy tinggi cenderung lebih adaptif dan tertarik pada pekerjaan gig karena merasa mampu mengatur waktu, mengambil keputusan secara mandiri, dan mencapai tujuan kerja. Penelitian Khan et al. self-efficacy berperan signifikan dalam meningkatkan adaptabilitas karier dan partisipasi dalam kerja fleksibel, khususnya di lingkungan Volume 07. No. 02 Ae Januari besar pula minat untuk terlibat dalam gig H1 : Terdapat pengaruh fleksibilitas (X) seseorang dalam gig economy (Y). Gambar 4 Bagan Kerangka Pemikiran Sumber: Dikembangkan dari Siregar et . Manuardi. Rivera et al. ,2025 Pengembangan Hipotesis Fleksibilitas pendapatan merupakan faktor utama yang mendorong minat individu terhadap gig Kebebasan dalam menentukan waktu dan tempat kerja serta peluang penghasilan yang kompetitif menjadi Kedua faktor ini turut self-efficacy, keyakinan individu atas kemampuannya dalam menyelesaikan tugas secara Self-efficacy memperkuat minat untuk terlibat dalam gig economy, sehingga fleksibilitas dan langsung maupun tidak langsung melalui peran mediasi self-efficacy. Fleksibilitas kerja, yaitu kemampuan individu dalam mengatur waktu dan lokasi kerja, menjadi faktor penarik utama dalam keseimbangan kerja dan kehidupan. Studi (Hartono & Tarigas, 2. menunjukkan bahwa fleksibilitas pekerja gig berdampak positif terhadap kinerja perusahaan jasa. Temuan (Green et al. , n. ) menguatkan meningkatkan motivasi individu untuk memilih pekerjaan fleksibel. Berdasarkan teori motivasi Maslow, fleksibilitas juga mendukung aktualisasi diri, sehingga semakin tinggi fleksibilitas kerja, semakin Self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mencapai memoderasi hubungan antara fleksibilitas kerja dan minat terhadap gig economy. Fleksibilitas kerja memungkinkan individu mengatur waktu, tempat, dan cara kerja, yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, mengurangi stres, dan mendorong Berdasarkan Social Cognitive Theory (Bandura, 1986, 1. , individu dengan self-efficacy tinggi sebagai peluang, sementara mereka yang Temuan empiris (Khan et , 2. dan (Silva & Moreira, 2. mendukung bahwa self-efficacy memperkuat dampak positif fleksibilitas terhadap minat bekerja dalam gig Maka, self-efficacy merupakan faktor kunci dalam memahami pengaruh fleksibilitas kerja terhadap pilihan karier di era digital. H2 : Self-efficacy (M) berperan sebagai hubungan antara fleksibilitas kerja (X) dan minat seseorang dalam gig economy (Y). Gambar 5 Model Penelitian Sumber: Dikembangkan dari Bandura, (Khan et al. , 2. Silva & Moreira. Duanguppama et al. , 2025 Pada gambar 5 model hipotesis ini beberapa faktor yang memengaruhi ketertarikan seseorang terhadap gig Terdapat tiga variabel utama yang dianalisis, yaitu fleksibilitas kerja, pendapatan dan self-efficacy, yang membentuk minat individu untuk bekerja di sektor ini. aktivitas yang dilakukan oleh peneliti untuk menggunakan alat ukur yang disesuaikan METODOLOGI PENELITIAN Kuesioner Menurut (Sekaran & Bougie, 2017:. kuesioner merupakan daftar pertanyaan tertulis yang telah dirancang sebelumnya, dimana responden mencatat jawaban mereka berdasarkan alternatif yang ditentukan secara jelas. Dalam penelitian ini, pertanyaan atau pernyataan diukur menggunakan skala interval. Penelitian ini menggunakan metode explanatory survey dengan pendekatan deskriptif verifikatif untuk memahami hubungan kausal antar variabel dan (Chairunnisa Susandy, 2. Pendekatan deskriptif fenomena pada tiga identifikasi awal, bertujuan menguji hubungan antara variabel independen dan dependen pada identifikasi masalah keempat dan kelima. Jenis dan Sumber Data Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data kuantitatif merupakan data dalam bentuk angka yang mengindikasikan AubesaranAy AujumlahAy (Fauzi 2019:. (Fauzi et al. , 2019:. Sumber Data Data Primer Data primer merupakan data mentah pengolahan dan dikumpulkan secara khusus oleh peneliti untuk keperluan penelitian (Fauzi et al. , 2019:. Dalam penelitian ini, data primer diperoleh melalui masyarakat di Kabupaten Subang. Data Sekunder Data sekunder merupakan data yang telah diolah oleh pihak ketiga untuk tujuan tertentu dan kemudian dikumpulkan oleh peneliti sebagai bagian dari penelitian yang dilakukan (Fauzi et al. , 2019:. Dalam penelitian ini, sumber data sekunder diperoleh dari buku, literatur dan Teknik Pengumpulan Data Menurut (Djaali, 2. , teknik pengumpulan data adalah serangkaian Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh data sekunder penelitian. Sumber-sumber studi pustaka dalam penelitian ini diperoleh dari buku, jurnal dan situs web. Populasi dan Sampel Populasi Populasi merujuk pada sekumpulan individu, peristiwa atau hal-hal menarik dimana kita ingin melakukan penelitian dan menarik kesimpulan (Sekaran & Bougie, 2017:. Populasi yang diteliti yaitu masyarakat Kabupaten Subang yang berminat untuk bekerja sebagai freelancer. Sampel Menurut (Sekaran & Bougie, 2017:. sampel adalah bagian dari populasi, yang terdiri dari sejumlah individu yang diambil dari populasi tersebut. Menurut Rosceo dalam (Sekaran & Bougie, 2017:. Pengukuran sampel dalam penelitian dijelaskan sebagai berikut: Ukuran sampel antara 30 sampai 500 layak serta tepat untuk sebagian besar penelitian. Jika sampel dibagi ke dalam kategori, maka setiap kategori harus memiliki minimal 30 anggota. Dalam analisis multivariate, seperti korelasi atau regresi berganda, jumlah anggota sampel yang diperlukan minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti atau lebih besar. Untuk analisis eksperimental, baik yang sederhana maupun ketat, maka Volume 07. No. 02 Ae Januari penelitian yang tetap dengan sampel ukuran kecil yaitu antara 10 hingga Teknik Pengambilan Sampel Purposive sampling digunakan dalam penelitian ini, yang termasuk ke dalam kategori non-probability sampling. Teknik purposive sampling merupakan teknik pemilihan sampel yang didasarkan pada pertimbangan tertentu yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan secara spesifik yang hanya memiliki fakta informasi yang dibutuhkan serta memberikan infromasi yang dicari (Sekaran & Bougie, 2017:. Tabel 6 Kriteria Responden Kriteria Responden Masyarkat yang berdomisili di Kabupaten Subang Usia minimal 17 tahun Sumber: Data diolah penulis, 2025 Skala Pengukuran Dalam penelitian ini, pengukuran variabel independen dan dependen dengan skala interval dan skala numerik. Peneliti menerapkan skala Likert 7 poin, yang memungkinkan responden memilih satu jawaban dari setiap pernyataan berdasarkan tingkat persetujuan mereka. Penelitian ini mengukur tiga variabel, yaitu Fleksibilitas Kerja. Minat seseorang dalam gig economy, self-efficacy. Seluruh menggunakan indikator yang diadaptasi dari literatur terdahulu dan diukur melalui kuesioner terstruktur dengan skala interval 7 poin . = sangat tidak baik hingga 5 = sangat bai. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis deskriptif dalam penelitian ini mendapatkan responden. Responden yang diperoleh serta dapat dijadikan sampel yaitu responden yang dapat melengkapi data mengenai email, usia, jenis kelamin, propesi, pendidikan terakhir, rata-rata/bulan, kecamatan, pekerjaan yang diminati, pertanyaan untuk memastikan responden telah mengetahui apa itu gig economy, berminat untuk bekerja menjadi freelancer serta tanggapan responden mengenai variabel yang diteliti yaitu fleksibilitas kerja (X), minat seseorang dalam gig economy (Y) dan self-efficacy (M). Dalam penelitian ini, responden keseluruhan berjumlah 111 responden Kabupaten Subang. Data yang digunakan dalam penelitian ini data primer dengan memperoleh jawaban responden melalui Kuesioner disebarkan melalui media sosial seperti Whatsapp dan Instagram. Beberapa pernyataan yang telah disebarkan kepada responden mencakup diantaranya: ua bela. pernyataan untuk variabel (X) yaitu fleksibilitas kerja yang harus dijawab oleh responden masyarakat di Kabupaten Subang yang berminat bekerja sebagai 6 . pernyataan pernyataan untuk variabel (M) yaitu self-efficacy yang harus dijawab oleh responden masyarakat di Kabupaten Subang yang berminat bekerja sebagai 6 . pernyataan pernyataan untuk variabel (Y) yaitu minat seseorang dalam gig economy yang harus dijawab oleh responden masyarakat di Kabupaten Subang yang berminat bekerja sebagai Uji Statistik Deskriptif Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Statistik deskriptif digunakan untuk menunjukkan berbagai karakteristik data yang diperoleh dari satu sampel. Analisis ini mencakup ukuran-ukuran seperti rata-rata . , median, persentil, desil dan kuartil, baik dalam bentuk angka maupun visualisasi seperti diagram atau Adapun hasil dari analisis statistik deskriptif disajikan sebagai berikut: Tabel 7 Hasil Uji Analisis Statistik Deskriptif Tabel 9 Hasil Uji Validitas Self-Efficacy (M) Descriptive Statistics N Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation Fleksibilitas Kerja Self-efficacy Minat Seseorang dalam Gig Valid N . Sumber: Data SPSS diolah, 2025 Item r-hitung r-tabel 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 Keterangan VALID VALID VALID VALID VALID VALID Sumber: Data SPSS diolah, 2025 Sumber: Data diolah peneliti, 2025 Uji Validitas Uji validitas bertujuan untuk menilai apakah suatu kuesioner dapat secara akurat mengukur tujuan yang telah Kuesioner dinyatakan valid apabila nilai signifikansi di bawah 0,05 atau 5% serta nilai r hitung lebih besar dari r tabel (Ghozali, 2. Nilai r hitung diperoleh dari kolom Corrected Item-Total Correlation. Sementara itu, nilai r tabel ditentukan berdasarkan tingkat signifikansi () sebesar 5% dengan uji dua sisi serta jumlah data . , dengan derajat kebebasan . yaitu n Ae 2. Jumlah reponden yang digunakan sebanyak 111 responden, sehingga df = 111 Ae 2 = 109. Berdasarkan tingkat signifikansi 5% maka diperoleh nilai r tabel yaitu sebesar 0,1865. Berikut disajikan rincian dari setiap variabel. Tabel 8 Hasil Uji Validitas Fleksibilitas Kerja (X) Item X10 X11 X12 r-hitung r-tabel 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 Keterangan VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID Tabel 10 Hasil Uji Validitas Minat Seseorang dalam Gig Economy (Y) Item r-tabel Keterangan 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 0,1865 VALID VALID VALID VALID VALID VALID Sumber: Data SPSS diolah, 2025 Uji Realibilitas Uji reliabilitas merupakan metode yang digunakan untuk menilai konsistensi dan stabilitas suatu kuesioner sebagai indikator variabel penelitian. Variabel dianggap reliabel apabila nilai Cronbach Alpha lebih dari 0,70 (Ghozali, 2018:4. Hasil uji reliabilitas disajikan pada tabel berikut. Tabel 11 Hasil Uji Reabilitas Variabel Fleksibilita s Kerja (X) Selfefficacy (M) Minat Gig (Y) Cronba Alpha Ketentua Keterang 0,866 0,70 RELIABEL 0,807 0,70 RELIABEL 0,827 0,70 RELIABEL Sumber: Data diolah penulis, 2025 Volume 07. No. 02 Ae Januari Berdasarkan menggambarkan bahwa hasil dari uji Konstruk yang digunakan dalam penelitian ini dari semua variabel memiliki nilai cronbachAos alpha lebih besar dari 0,70. artinya semua instrument dalam penelitian ini dinyatakan reliabel, sehingga semua pertanyaan dapat dipercaya dan Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Pendekatan Grafik Uji normalitas bertujuan untuk menentukan apakah variabel penganggu atau residual dalam model regresi memiliki distribusi normal (Ghozali, 2018:. Untuk menguji hal tersebut, dapat dilakukan analisis melalui histogram dan normal P-P Plot. Hasil pengujian normalitas yakni sebagai berikut: Grafik 4 Hasil Uji Normalitas Histogram Sumber: Hasil diolah SPSS ver. 25, 2025 Berdasarkan grafik 4 maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal karena grafik membentuk sebuah diagonal dan terpusat di sekitarnya. Dapat disimpulkan bahwa data dalam studi ini sesuai untuk diuji menggunakan model regresi dan memenuhi uji asumsi Pendekatan Kolmogorov-Smirnov (K-S) Uji normalitas juga dapat dilakukan Kolmogorov-Smirnov (K-S). Dasar pengambilan keputusan dalam metode ini yaitu apabila nilai signifikansi () < 5%, artinya data dinyatakan tidak berdistribusi Sebaliknya, signifikansi () > 5%, artinya data dianggap berdistribusi normal. Untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal dari sampel yang bernilai acak atau terlalu ekstrem, langkah alternatif adalah menggunakan metode Monte Carlo (Mustofa & Nurfadillah, 2. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov (K-S) yakni sebagai Tabel 12 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov Ae Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardi zed Residual Normal Mean Parametersa,b Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Monte Carlo Sig. Sig. -taile. 99% Lower Confidence Bound Interval Upper Bound Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Based on 10000 sampled tables with starting Sumber: Hasil output SPSS, 2025 Grafik 5 Hasil Uji Normalitas P Ae P Plot Sumber: Hasil output SPSS, 2025 Pada grafik 5 menunjukkan bahwa titik-titik sebar mengikuti arah garis Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat, berdasarkan nilai pada tabel One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test yaitu sebesar 0,001 dengan ketentuan jika nilai signifikansi diatas 5% atau 0,05 maka data memiliki distribusi normal. Hal ini menunjukan bahwa model ini memiliki nilai dibawah 0,5 atau 5%, sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini belum berdistribusi normal dan tidak dapat digunakan dalam penelitian ini. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menentukan apakah terdapat ketidaksamaan dalam model regresi terkait perbedaan residual antara dua variabel (Ghozali, 2018:. Scatterplot atau grafik plot dapat digunakan untuk mendeteksi heteroskedastisitas dengan analisis berikut ini. Heteroskedastisitas terjadi ketika titiktitik membentuk pola tertentu atau melebar lalu semakin menyempit. Heteroskedastisitas apabila titik-titik tidak membentuk pola tertentu, melainkan tersebar secara acak tanpa pola yang jelas. Grafik 6 Hasil Uji Heteroskedastisitas Sumber: Hasil diolah SPSS ver. 25 , 2025 Berdasarkan hasil output pada grafik 6 scartterplot diatas menunjukkan bahwa titik-titik tersebut tersebar secara acak dan tidak membentuk pola yang jelas, dapat dikatakan bahwa model regresi tidak mengandung heteroskedastisitas, sehingga persamaan regresi tidak dapat digunakan dalam penelitian ini. Uji SpearmanAos Rho digunakan sebagai metode pelengkap dalam mendeteksi gejala heteroskedastisitas (Melinda Kriteria pengambilan keputusan yaitu: Heteroskedastisitas apabila nilai signifikansi (Sig. 2-taile. > dari 5%. Heteroskedastisitas terjadi apabila nilai signifikansi (Sig. 2-taile. kurang dari 5%. Tabel 13 Hasil Uji SpearmanAos Rho Correlations Spearman's Fleksibilitas Kerja Fleksibilitas Kerja Self-Efficacy Unstandardized Residual Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. Unstandardize Correlation d Residual Coefficient Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Self-Efficacy Sumber: Hasil output SPSS, 2025 Berdasarkan hasil uji SpearmanAos rho pada tabel 13 diperoleh hasil bahwa nilai Sig. -taile. variabel fleksibilitas kerja 539 lebih besar dari 0. Kemudian untuk nilai Sig. -taile. variabel selfefficacy 0. 187 lebih besar dari 0. Maka berdasarkan hasil tersebut, data dalam penelitian ini tidak mengalami masalah heteroskedastisitas, karena nilai Sig. dari masing-masing variabel > Hasil Uji Hipotesis Uji Regresi Sederhana Dalam penelitian ini, regresi linier sederhana dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh fleksibilitas kerja (X) terhadap minat seseorang dalam gig economy (Y). Tabel 14 Hasil Uji Regresi Linear Sederhana Coefficientsa Model (Constan. Standardize Unstandardize d Coefficients Coefficients Std. Beta Error Sig. FLEKSIBILITA S KERJA (X) Dependent Variable: MINAT SESEORANG DALAM GIG ECONOMY (Y) Sumber: Hasil output SPSS, 2025 Berdasarkan persamaan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa: Nilai 9,982 merupakan nilai konstanta yang menyatakan bahwa apabila fleksibilitas kerja tidak ada yang memengaruhi atau sama dengan nol. Volume 07. No. 02 Ae Januari maka variabel minat seseorang dalam gig economy sebesar 9,982. Variabel fleksibilitas kerja memiliki nilai koefisien sebesar 0,365. Artinya, jika terjadi penambahan sebesar 1 . pada variabel fleksibilitas kerja, maka minat seseorang dalam gig economy akan meningkat sebesar 0,514. gig economy sebesar 49,1%. Sedangkan sisanya . % - 49,1% = 50,9%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ada dalam penelitian ini. Uji Moderated Regression Analysis (MRA) Tabel 17 Hasil Uji Moderated Regression Analysis (MRA) Uji t (Parsia. Tabel 15 Hasil Uji t (Parsia. Model Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients (Constan. Standardized Coefficients Std. Error Sig. Beta FLEKSIBILITAS KERJA (X) Dependent Variable: MINAT SESEORANG DALAM GIG ECONOMY (Y) Sumber: Hasil output SPSS, 2025 Berdasarkan hasil output SPSS pada tabel 10 diketahui nilai signifikansi . variabel fleksibilitas kerja (X) sebesar 000 dengan nilai t-hitung 10. Karena nilai sig 0. 000 < nilai probabilitas 05 dan t-hitung 10. 261 > dari t-tabel 65895, maka dapat disimpulkan hipotesis pertama diterima. Artinya fleksibilitas kerja berpengaruh secara signifikan terhadap minat seseorang dalam gig economy. H1 : Terdapat pengaruh fleksibilitas (X) seseorang dalam gig economy (Y). Diterima Koefisien Determinasi (R. Tabel 16 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Model Summary Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. FLEKSIBILITAS KERJA Sumber: Hasil output SPSS, 2025 Berdasarkan tabel 16 menunjukkan bahwa nilai R Square adalah 0. dapat disimpulkan bahwa besaran pengaruh variabel fleksibilitas kerja terhadap variabel minat seseorang dalam Coefficientsa Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta (Constan. FLEKSIBILITAS KERJA SELF-EFFICACY FLEKSIBILITAS KERJA* SELF. EFFICACY Dependent Variable: MINAT SESEORANG DALAM GIG ECONOMY Sig. Sumber: Hasil output SPSS, 2025 Dari tabel 17 menunjukkan bahwa hasil pengujian Moderated Regression Analysis (MRA) pada variabel fleksibilitas kerja dan self-efficacy sebelum terjadi interaksi, interaksi moderasi antara self-efficacy terhadap minat seseorang dalam gig economy nilai t hitung yang diperoleh sebesar 0,975 lebih kecil dibandingkan dengan t tabel sebesar 1,657 serta tingkat signifikansi sebesar 0,332 yang melebihi batas 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, meskipun self-efficacy menunjukkan kecenderungan sebagai variabel yang memperkuat hubungan antara fleksibilitas kerja dan minat individu dalam gig economy, pengaruh tersebut tidak signifikan secara H2 : Self-efficacy (M) berperan sebagai hubungan antara fleksibilitas kerja (X) dan minat seseorang dalam gig economy (Y). Ditolak PEMBAHASAN Fleksibilitas Kerja pada Masyarakat di Kabupaten Subang Berdasarkan responden yang telah diolah mengenai fleksibilitas kerja diketahui bahwa total skor sebesar 7. 674 dari skor maksimal 324 atau secara persentase setara dengan 83%. Jika dikaitkan skala interval, maka total skor tersebut berada pada range . 042 Ae 8. dimana jumlah skor tersebut berada pada kriteria baik. Skor pernyataan AuKebebasan menentukan waktu mulai dan berhenti bekerja membuat kualitas pekerjaan saya lebih baikAy dengan skor sebesar 656 atau persentase 84%. Hal ini menunjukan bahwa responden memberikan penilaian yang baik terhadap pernyataan tersebut. Dapat memberikan penilaian baik terhadap indikator tersebut dibandingkan dengan indikator lainnya. Adapun skor terendah terdapat pada pernyataan AuKebebasan berpindah tempat bekerja sesuai kebutuhan membantu saya lebih produktif dan fokusAy dengan skor 615 atau 79%. Hal ini menunjukan bahwa responden memberikan tanggapan yang kurang baik terhadap pernyataan tersebut. Dapat memberikan penilaian kurang baik terhadap indikator tersebut dibandingkan dengan indikator lainnya. Rata-rata responden yang memiliki indikator skor tertinggi berjenis kelamin perempuan, dengan usia 17-27 tahun, berpropesi pelajar/mahasiswa, pendidikan terakhir SMA/SMK, rata-rata penghasilan per bulan kurang dari Rp1. 000 dan pekerjaan yang diminati content creator. Dalam hal ini fleksibilitas kerja di Kabupaten Subang dapat dikatakan baik. Minat Seseorang dalam Gig Economy pada Masyarakat di Kabupaten Subang Berdasarkan responden yang telah diolah mengenai minat seseorang dalam gig economy diketahui bahwa total skor sebesar 3. dari skor maksimal 4. 662 atau secara presentase sebesar 83%. Jika dikaitkan skala interval, maka total skor tersebut berada pada range . 521 Ae 4. dimana jumlah skor tersebut berada pada kriteria Skor tertinggi diperoleh pada indikator AuSenang dan ketertarikan, perasaan senang dalam melaksanakan pekerjaan, tertarik dalam bidang pekerjaanAy, yaitu AuSaya termotivasi untuk mencari peluang kerja economyAy mendapatkan skor tertinggi sebesar 651 atau persentase 84%. Hal ini menunjukan bahwa responden memberikan penilaian yang baik terhadap pernyataan tersebut. Dapat memberikan penilaian baik terhadap indikator tersebut dibandingkan dengan indikator lainnya. Adapun skor terendah terdapat pada indikator yang sama yaitu pada pernyataan AuPekerjaan di gig economy selaras dengan cara saya menjalani aktivitas sehari-hariAy dengan skor 631 atau Hal ini menunjukan bahwa responden memberikan tanggapan yang kurang baik terhadap pernyataan tersebut. Dapat memberikan penilaian kurang baik terhadap indikator tersebut dibandingkan dengan indikator lainnya. Rata-rata responden yang memiliki indikator skor tertinggi berjenis kelamin perempuan, dengan usia 17-27 tahun, berpropesi pelajar/mahasiswa, pendidikan terakhir SMA/SMK, rata-rata penghasilan per bulan kurang dari Rp 1. 000 dan pekerjaan yang diminati content creator. Dalam hal ini minat seseorang dalam gig economy di Kabupaten Subang dapat dikatakan baik. Self-Efficacy pada Masyarakat di Kabupaten Subang Berdasarkan responden yang telah diolah mengenai self-efficacy diketahui bahwa total skor 781 dari skor maksimal 4. atau secara persentase sebesar 81%. Jika dikaitkan skala interval, maka total skor tersebut berada pada range . 521 Ae . dimana jumlah skor tersebut berada pada kriteria baik. Skor tertinggi diperoleh pada indikator Auketahanan menghadapi kesulitanAy, pada AuSaya kemampuan saya untuk belajar hal-hal baru yang diperlukan dalam pekerjaanAy mendapatkan skor sebesar 644 atau 83%. Hal ini menunjukan bahwa responden memberikan penilaian yang baik terhadap indikator tersebut. Dapat dilihat bahwa Volume 07. No. 02 Ae Januari responden memberikan penilaian baik terhadap indikator tersebut dibandingkan dengan indikator lainnya. Adapula skor terendah terdapat pada indikator yang sama yaitu Auketahanan menghadapi kesulitanAy, pada pernyataan AuSaya tetap memiliki semangat kerja tinggi walaupun hasil belum sesuai harapanAy dengan skor sebesar 615 atau 79%. Hal ini memberikan tanggapan yang kurang baik terhadap indikator tersebut. Dapat dilihat bahwa responden memberikan penilaian kurang baik terhadap indikator tersebut dibandingkan dengan indikator lainnya. Rata-rata responden yang memiliki indikator skor tertinggi berjenis kelamin perempuan, dengan usia 17-27 tahun, berpropesi pelajar/mahasiswa, pendidikan terakhir SMA/SMK, rata-rata penghasilan per bulan kurang dari Rp 1. 000 dan pekerjaan yang diminati content creator. Dalam hal ini self-efficacy di Kabupaten Subang dapat dikatakan baik. Pengaruh Fleksibilitas Kerja terhadap Minat Seseorang dalam Gig Economy pada Masyarakat di Kabupaten Subang Berdasarkan hasil dari pengujian hipotesis secara parsial diketahui nilai t hitung > t tabel dimana nilai t hitung 261 > 1. 65895 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Artinya variabel fleksibilitas kerja (X) berpengaruh terhadap minat seseorang dalam gig economy (Y), maka H0 ditolak. H1 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Greenhaus dan Allen . , juga mendukung pandangan ini, di mana keseimbangan yang baik dapat mendorong individu untuk mengeksplorasi berbagai jenis pekerjaan yang lebih Selain itu, teori motivasi Maslow menunjukkan bahwa kebutuhan untuk mendorong individu untuk mencari peluang yang lebih sesuai dengan preferensi dan gaya hidup mereka. Self-Efficacy Memoderasi Hubungan Fleksibilitas Kerja terhadap Minat Seseorang dalam Gig Economy pada Masyarakat di Kabupaten Subang Berdasarkan hasil dari uji Moderating Regression Analysis (MRA) diketahui nilai signifikansi interaksi antara variabel fleksibilitas kerja (X) dengan variabel selfefficacy (M) berpengaruh terhadap selfefficacy (M) yang ditunjukan oleh nilai signifikansi sebesar 0. 332 > 0. Hasil uji Moderating Regression Analysis (MRA) menunjukkan bahwa bergabung dengan gig economy. Hal ini didukung oleh nilai signifikansi yang sangat rendah (<0. dan Adjusted R2 491, yang berarti bahwa self-efficacy bersama-sama setengah dari variasi minat tersebut. Hal ini sebenarnya cukup terlihat di kalangan pekerja gig di Indonesia, termasuk pengemudi layanan ride-hailing online, kurir dan pekerja lepas, yang tertarik pada gig economy karena memberikan fleksibilitas untuk memilih jam kerja, lokasi dan jenis pekerjaan mereka Studi oleh Santoso dkk. menemukan bahwa fleksibilitas jadwal adalah alasan mengapa 92% pengemudi layanan ride-hailing online memilih pekerjaan ini. Selain itu, dibandingkan dengan profesi konvensional, penelitian dari Unesa dan Telkom University juga menghasilkan kepuasan kerja yang lebih tinggi dan tingkat stres yang lebih rendah. Namun, yang menarik adalah bahwa interaksi antara fleksibilitas dan selfefficacy tidak menunjukkan efek tambahan yang signifikan . ilai sig. = 0,332 > 0,. Artinya, dalam praktiknya, meskipun kedua faktor tersebut memainkan peran masing-masing, self-efficacy seseorang tidak secara mutlak memperkuat atau dalam menciptakan motivasi untuk Berdasarkan hal tersebut menunjukan bahwa self-efficacy tidak secara langsung memperkuat hubungan tersebut, individu tetap termotivasi untuk masuk ke gig economy karena mereka dapat menentukan jadwal dan lokasi kerja mereka sendiri, meskipun self-efficacy tidak memodifikasi tingkat pengaruh Di dunia nyata, platform digital memang memfasilitasi proses kerjaAi tetapi keberadaan mereka saja tidak cukup untuk menimbulkan minat. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana pekerjaan mereka dan merasa mampu Fokus utama tetap pada aspek pribadi dan psikologis, bukan sekadar teknologi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh seseorang dalam gig economy yang dimoderasi oleh self-efficacy pada masyarakat di kabupaten subang, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Masyarakat Kabupaten Subang menunjukkan tingkat fleksibilitas kerja yang cukup tinggi. Hasil kuesioner mengindikasikan bahwa sebagian menentukan waktu dan tempat kerja. Hal ini menunjukkan bahwa nilai fleksibilitas kerja menjadi faktor penting dalam preferensi pekerjaan mereka, terutama di tengah dinamika kerja yang semakin digital dan tidak terikat tempat. Minat masyarakat terhadap gig economy tergolong tinggi, terutama pada kalangan usia produktif. Banyak responden menunjukkan ketertarikan terhadap model kerja fleksibel berbasis proyek atau tugas jangka menggunakan platform digital seperti Gojek. Grab, maupun pekerjaan daring seperti content creator dan Hal ini mencerminkan perubahan preferensi kerja dari sistem formal ke sistem kerja independen yang lebih adaptif. Self-efficacy atau keyakinan individu tergolong baik. Masyarakat Subang menunjukkan kepercayaan diri dalam menyelesaikan tugas kerja secara berkaitan dengan gig economy. Namun, masih terdapat variasi antar individu tergantung tingkat pendidikan dan pengalaman digital masingmasing. Melalui hasil uji regresi yang menunjukkan bahwa semakin tinggi dirasakan seseorang, maka semakin tinggi pula minatnya untuk terlibat dalam gig economy. Fleksibilitas waktu dan lokasi menjadi faktor pendorong utama minat ini. Berdasarkan hasil analisis Moderated Regression Analysis (MRA), selfefficacy tidak terbukti signifikan dalam fleksibilitas kerja dan minat dalam gig Ini berarti bahwa walaupun self-efficacy berpengaruh secara langsung terhadap minat, namun perannya sebagai moderator dalam hubungan antara fleksibilitas kerja dan minat gig economy tidak terbukti secara statistik . = 0,332 > 0,. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Implikasi Bagi Pemerintah Daerah Pemerintah Kabupaten Subang perlu merancang program pelatihan yang tidak hanya fokus pada keterampilan teknis . eperti mengoperasikan aplikasi digita. , tetapi juga pada pengembangan selfefficacy, seperti pelatihan problemsolving, manajemen diri, dan kepercayaan diri bekerja mandiri. Bagi Platform Gig Economy Perusahaan atau penyedia platform gig dapat mempertimbangkan faktor efikasi diri dalam perekrutan dan pelatihan Misalnya, menyisipkan modul pelatihan tentang manajemen waktu, menghadapi tantangan kerja fleksibel, serta strategi bertahan dalam model kerja tanpa struktur tetap. Volume 07. No. 02 Ae Januari Bagi Masyarakat atau Calon Pekerja Gig Individu yang tertarik pada pekerjaan gig perlu menyadari bahwa fleksibilitas tidak serta-merta berarti kemudahan, dan kemampuan untuk bekerja secara mandiri merupakan kunci keberhasilan dalam sektor ini. Implikasi Teoritis Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan teori memperluas penerapan konsep selfefficacy dalam konteks pekerjaan fleksibel berbasis platform digital. Temuan bahwa self-efficacy hubungan antara fleksibilitas kerja dan minat terhadap gig economy menunjukkan bahwa keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya merupakan faktor keputusan karier nonkonvensional. Dengan demikian, penelitian ini tidak struktural, tetapi juga menegaskan peran aspek psikologis dalam membentuk preferensi kerja pada sektor informal Selain itu, hasil penelitian ini turut berkontribusi dalam membangun model konseptual baru yang dapat digunakan dalam penelitian lanjutan mengenai perilaku kerja dalam ekonomi digital. Keterbatasan Penelitian ini dilakukan sesuai prosedur ilmiah yang telah ditetapkan, keterbatasan diantaranya: Penelitian ini menggunakan sampel Kabupaten Subang. Meskipun upaya telah dilakukan untuk keterbatasan pada jumlah responden. Peneliti mengalami kendala dalam memperoleh data yang lengkap mengenai durasi dan tempat penelitian, yang memengaruhi kedalaman analisis terhadap pengaruh fleksibilitas kerja terhadap minat seseorang dalam gig REFERENCES