Civil Engineering Collaboration https://jcivil-upiyptk. org/ojs Vol. Hal: 1-7 No . e-ISSN: 2615-5915 ANALISA PENGARUH PENGGUNAAN BRACING TERHADAP KINERJA STRUKTUR BETON BERTULANG PADA BANGUNAN BERTINGKAT Weri Afrizal . Deded Eka SahputraA. Rita Nasmirayanti3 1 Universitas Putra Indonesia YPTK Padang Universitas Putra Indonesia YPTK Padang Universitas Putra Indonesia YPTK Padang Weriafrizal0819@gmail. Abstract The planning of earthquake-resistant buildings can be done in two ways: either the building is designed to behave elastically during an earthquake or it is designed to behave inelastically during an earthquake. One effort to ensure that a building remains sturdy in the face of an earthquake is by using concentric bracing, which functions as a lateral force restraint on the structure of a construction. This research aims to analyze the effect of using steel profile bracing on the performance of reinforced concrete structures in a three-story building, with Model A representing a building without bracing. Model B with inverted-V bracing, and Model C with cross Based on data processing and analysis, the results show that the greatest internal forces occurred in the building without bracing, and the moments acting on the beams of the building without bracing were 536% larger than those in the building with X-type . bracing and 55. 817% larger than those in the building with Inverted-V bracing. The structural performance based on performance-based design for both braced and unbraced buildings was categorized at the immediate occupancy level, as the maximum total drift values obtained for each building were less than 0. 01 and the maximum total inelastic drift values were less than Keywords: Multi-story Building. SNI 1726-2019. Bracing. Elastic. Inelastic. Abstrak Perencanaan bangunan tahan gempa ada dua cara yaitu, bangunan direncanakan berperilaku elastis saat terjadi gempa atau bangunan direncanakan berperilaku inelastis saat terjadi gempa. Salah satu usaha agar bangunan dapat tetap berdiri kokoh karena dampak gempa bumi adalah dengan menggunakan bracing konsentrik yang berfungsi sebagai penahan gaya lateral pada struktur dari suatu konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan bracing dengan profil baja terhadap kinerja struktur beton bertulang pada bangunan bertingkat tiga dengan pemodelan A untuk bangunan tanpa bracing, model B dengan bracing invertedV, dan model C dengan bracing cross. Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data, didapatkan hasil bahwa gaya dalam terbesar terjadi pada bangunan tanpa menggunakan bracing, dan momen yang bekerja pada balok bangunan tanpa menggunakan bracing 57,536% lebih besar daripada yang menggunakan bracing tipe X . dan 55,817% lebih besar dari pada bangunan menggunakan bracing Inverted-V. Kinerja struktur berdasarkan performance based design untuk bangunan menggunakan bracing dan bangunan tanpa menggunakan bracing yang dimodelkan, dikategorikan ke dalam level immediate occupancy karena nilai maksimum total drift yang didapatkan pada masing-masing bangunan lebih kecil dari 0,01 dan nilai maksimum total inelastic drift kecil dari 0,005. Kata Kunci: Bangunan Bertingkat. SNI 1726-2019. Bracing, elastis CEC is licensed under a Creative Commons 4. 0 International License. Diterima: 02-06-2025 | Revisi: 12-06-2025 | Diterbitkan: 16-06-2025 | doi: 10. 35134/jcivil. Weri Afrizal, dkk Pendahuluan Kejadian gempa bumi di Indonesia menyebabkan banyaknya korban jiwa, kerugian bangunan fisik, dan Kondisi ini perlu untuk di minimalisir, mengingat bahwa bangunan merupakan tempat tinggal yang dihuni manusia. Untuk meminimalisir terjadinya korban jiwa, maka diperlukan perancangan struktur bangunan yang mampu menahan gaya akkibat gempa sehingga dapat menahan bangunan agar tidak roboh sampai penghuni didalamnya dapat menyelamatkan diri . Salah satu wilayah di Indonesia yang rawan terhadap terjadinya gempa bumi adalah Kota Padang. Kota Padang yang berbatasan langsung dengan laut Samudera Hindia menjadikan salah satu wilayah rawan gempa berpotensi tsunami di Indonesia. Pada 30 September 2009, terjadi gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter yang menyebabkan banyak kerusakan pada gedung bertingkat seperti hotel, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Sehingga untuk mencegah terjadinya kerusakan yang cukup parah dimasa depan akibat gempa, pembangunan gedung di Kota Padang perlu didesain dengan perencanaan yang baik. Perencanaan bangunan tahan gempa ada dua cara yaitu, bangunan direncanakan berperilaku elastis saat terjadi gempa atau bangunan direncanakan berperilaku inelastis saat terkadi gempa. Keunggulan dari struktur elastis adalah tidak ada bagian yang berdeformasi permanen pada struktur, namun penampang dari elemen struktural yang dipakai akan jauh lebih besar. Keunggulan dari struktur berperilaku inelastis adalah pada elemen struktur tertentu akan mengalami kelelehan atau terplastifikasi akibat menyerap energi gempa, dan elemen struktur tersebut akan mangalami deformasi plastis, tetapi masih cukup kaku untuk tetap Sehingga saat terjadi gempa dengan intensitas tinggi, bangunan tidak mengalai keruntuhan total . otally collaps. Salah satu penyebab keruntuhan bangunan adalah ketidakstabilan struktur. Saat mendesain suatu struktur, ketidakstabilan pada struktur merupakan hal dasar harus dihindari. Hal ini harus diperhatikan untuk berbagai jenis tinggi gedung. Struktur yang tidak stabil apabila menerima beban maka struktur tersebut mengalami perubahan bentuk . yang lebih besar dibandingkan struktur yang stabil. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar struktur menjadi lebih stabil adalah mengkombinasikan struktur dengan bracing . lemen pengak. Salah satu usaha agar bangunan dapat tetap aman dari dampak yang disebabkan oleh gempa bumi adalah dengan menggunakan bracing konsentrik yang berfungsi sebagai penahan gaya lateral yang terjadi pada struktur suatu konstruksi bangunan gedung. Elemen pengaku . raced frames elemen. adalah elemen struktur yang ditempatkan secara menyilang . pada struktur portal, yang berfungsi menopang portal terhadap beban lateral . Sistem bracing dapat digunakan untuk menahan gaya vertikal seperti beban gravitasi dan gaya horizontal/gaya lateral seperti gempa, sehingga dapat mencegah goyangan berlebih pada struktur. Penggunaan bracing juga dimaksudkan agar saat terjadi gempa, gaya lateral yang mengenai struktur tidak hanya ditahan oleh elemen balok dan kolom pada struktur tetapi juga ditaham oleh sistem bracing. Penggunaan bracing pada struktur portal bertingkat banyak dinilai dapat meningkatkan kekakuan dan kekuatan struktur bangunan tersebut, selain itu penggunaan bracing juga cenderung lebih efisien. Portal dengan Bracing diharapkan tahan gempa karena bracing memiliki kekuatan tarik maksimum. Dalam struktur baja, pilihan jenis detail rakitan sambungan merupakan faktor penting yang tidak dapat . Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penelitian ini akan dilakukan analisis pengaruh penggunaan bracing dengan profil baja terhadap kinerja struktur beton bertulang pada bangunan bertingkat dengan metode respon spektrum gempa. Penelitian ini akan memodelkan bangunan bertingkat dengan tiga pemodelan yang berbeda yaitu, model A untuk bangunan tanpa bracing, model B untuk bangunan dengan bracing Inverted-V, dan model C untuk bangunan dengan bracing Cross atau X Sehingga didapatkan hasil penelitian berupa perbandingan bentuk bracing yang ideal untuk digunakan pada bangunan dengan fungsi rumah sakit di Kota Padang Metodologi Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam analisis pengaruh penggunaan bracing terhadap kinerja struktur beton bertulang pada bangunan bertingkat adalah penelitian kuantitatif. Adapun data primer yang akan digunakan adalah sebagai berikut. Fungsi bangunan : Gedung rumah sakit Jenis Struktur : Struktur beton bertulang Lokasi : Kota Padang Jenis tanah : Tanah lunak Sedangkan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung (SNI 2847:2. Beban desain minimum dan kriteria terkait untuk bangunan gedung dan struktur lain (SNI 1727: Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung (SNI 1726:2. Civil Engineering Collaboration Oe Vol. 10 No. Weri Afrizal, dkk Peraturan pembebanan Indonesia untuk gedung (PPIUG 1. Spesifikasi untuk bangunan gedung baja Struktural (SNI 1729:2. Teknik Pengolahan Data Setelah data-data yang digunakan untuk analisis pengaruh penggunaan bracing terhadap kinerja struktur beton bertulang pada bangunan bertingkat didapatkan, selanjutnya dilakukan pengolahan data untuk memecahkan permasalahan yang ada untuk mendapatkan tujuan akhir dari penelitian ini. Berikut ini adalah teknik pengolahan data pada penelitian ini, adalah sebagai berikut. Studi Literatur Penelitian ini berupa studi perencanaan gedung bertingkat. Terdapat 3 model yang memperoleh struktur gedung yang memiliki kinerja struktur lebih baik terhadap beban Model yang dibandingkan adalah gedung model tanpa bracing, bracing type Inverted-V dan bracing type cross. Data Struktur Setelah selesai dan memahami pada studi menentukan data struktur dimana pada tahapan ini akan dibandingkan struktur 3 model gedung bertingkat memakai bracing dan tidak memakai bracing. Ketiga gedung masing-masing memiliki luas 325 m2 dan tinggi 20 m . Untuk dimensi stuktur dilakukan Preliminary design. Pembebanan Statis (Beban Hidup dan Beban Mat. Beban statis merupakan beban tetap yang bekerja secara terus menerus pada struktur yang terdiri atas beban hidup dan beban mati. Diagram Alir Penelitian Berikut ini diagram alir dari kegiatan penelitian analisis pengaruh penggunaan bracing terhadap kinerja struktur beton bertulang pada bangunan bertingkat adalah sebagai berikut. Mulai Studi Pendahuluan Menentukan Topik Penelitian Studi Literatur Data Perencanaan Luas bangunan 325 m2 Tinggi bangunan 20 m . Pembebanan Preliminary Design Permodelan Bracing Type V-Inverted dan Type Cross Permodelan Tanpa Bracing Not Ok Kontrol Design Analisis Kinerja Struktur Menggunakan ETABS Analisa Hasil Kesimpulan Selesai Pembebanan Gempa Pada pembebanan gempa akan ditentukan kategori risiko dan faktor keutamaan bangunan, menentukan kategori desain seismik, menentukan metode analisis beban gempa, dan menghitung gaya lateral. Analisis Setelah pembebanan gempa dihitung, maka dilakukan analisis kinerja struktur yang bekerja pada gedung bertingkat tanpa bracing dan menggunakan bracing tipe inverted-V dan Cross yang akan dibantu dengan software ETABS. Gambar 1. Diagram Alir Penelitian Hasil dan Pembahasan Berdasarkan data dimensi perencanaan awal yang telah didapatkan dengan preliminary design, elemen struktur tersebut dimodelkan menjadi bangunan 3D dengan software ETABS dan dilakukan analisis untuk kontrol bangunan yang dimodelkan dengan bantuan microsoft Civil Engineering Collaboration Oe Vol. 10 No. Weri Afrizal, dkk Pemodelan Struktur Pemodelan struktur di software ETABS dilakukan dengan beberapa langkah yaitu: Pembuatan grid pada ETABS sesuai dengan perencanaan ukuran bangunan. Input data material berdasarkan mutu yang telah direncanakan, yaitu fcAo = 25 Mpa atau beton K-300. Input dimensi kolom, balok dan pelat lantai berdasarkan data hasil preliminary design yang telah Setelah melakukan input material dan dimensi elemen struktur maka dilakukan pemodelan untuk ketiga bangunan berdasarkan grid yang telah dibuat sesuai ukuran bangunan yang direncanakan. Input beban mati, beban hidup, dan beban gempa sesuai dengan data yang telah dikumpulkan. Dan input kombinasi beban berdasarkan SNI 1727-2020 tentang beban desain minimum terkait sruktur gedung. Gambar 2. Grafik Perbandingan Momen Terbesar pada Balok Analisis Gaya Dalam Kolom Pada masing-masing lantai bangunan diambil gayagaya dalam terbesar yang bekerja pada kolom, kemudian dilakukan perbandingan dan perhitungan rasio selisih antar gaya-gaya dalam terbesar pada kolom yang bekerja pada masing-masing lantai struktur bangunan yang dimodelkan. Selanjutnya dilakukan analisis struktur bangunan untuk kontrol elemen struktur apakah sudah memadai atau belum. Jika kontrol belum memadai, dilakukan perubahan dimensi elemen struktur dan di analisis Kontrol Struktur Setelah dilakukan pemodelan struktur 3 dimensi dengan program bantu ETABS, hasil analisis struktur harus dikontrol terhadap suatu batasan-batasan tertentu sesuai dengan peraturan SNI 1726:2019 untuk menentukan kelayakan sistem struktur tersebut. Adapun hal-hal yang harus dikontrol adalah sebagai Kontrol partisipasi massa Kontrol perioda struktur Kontrol gaya geser dasar seismik Kontrol batas simpangan antar lantai struktur Dari analisis tersebut juga diambil gaya dalam yang terjadi pada masing-masing elemen struktur untuk dilakukan pengecekan kapasitas penampang. Analisis Struktur Analisis Gaya Dalam Balok Analisis gaya-gaya dalam pada balok dilakukan secara umum pada masing-masing lantai bangunan. Pada masing-masing lantai bangunan diambil gaya-gaya dalam terbesar yang bekerja pada balok, kemudian dilakukan perbandingan dan perhitungan rasio selisih antar gaya-gaya dalam terbesar pada balok yang bekerja pada masing-masing struktur bangunan yang Gambar 3. Grafik Perbandingan Aksial Terbesar pada Kolom Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa gaya aksial terbesar terjadi pada bangunan tanpa bracing 79,045% menggunkan bracing inverted-V dan 78,868% dengan bangunan menggunakan bracing X, hal ini dikarenakan bangunan tanpa bracing memiliki berat yang lebih besar dialami oleh kolom dari pada gedung menggunakan bracing x dan bracing inverted-v yang Pada perbandingan momen arah sumbu 2, bangunan dengan tanpa bracing memikul momen yang lebih besar dari pada kedua bangunan menggunakan Bracing dengan rasio selisih 96,864% dengan bangunan menggunakan bracing X yang memikul momen arah sumbu 2 lebih kecil ketimbang bangunan menggunakan bracing Inverted-V dengan selisih 5,754%. Civil Engineering Collaboration Oe Vol. 10 No. Weri Afrizal, dkk Analisis Perbandingan Kinerja Struktur Perbandingan Base Shear Gambar 4. Grafik Perbandingan Momen (M. Terbesar Pada Kolom Perbandingan base shear atau gaya geser dasar seismik didapatkan data bahwa bangunan tanpa Bracing memiliki gaya geser dasar terbesar dengan selisih 11,903% dengan bangunan menggunakan bracing X dan 10,586 % dengan bangunan menggunakan Bracing Inverted-V. Sedangkan bangunan menggunakan Bracing X merupakan bangunan dengan gaya geser dasar terkecil dengan selisih 0,057 % dengan gedung Menggunakan Bracing Inverted V. Tabel 1. Perbandingan base shear Base Shear . N) Selisih TB Selisih BV Selisih TB & BV & BX & BX 2903,493 2596,137 2594,655 11,903 0,057 10,586 2903,493 2596,137 2594,655 11,903 0,057 10,586 *TB : Ged. Tanpa Bracing. BX : Ged. Bracing X. BV : Ged. Bracing V - Inverted Perbandingan Displacement Gambar 5. Grafik Perbandingan Momen (M. Terbesar Pada Kolom Namun pada momen arah sumbu 3, gedung menggunakan bracing X memikul momen yang hampir sama dengan bangunan menggunkan bracing InvertedV dengan rasio selisih hanya 3,973%. Sedangkan gedung menggunakan tanpa menggunakan bracing memikul momen yang lebih besar daripada bangunan menggunakan bracing X dengan rasio selisih 69,881% dan 68,952% dengan bangunan menggunakan bracing Inverted-V. Hasil dan Pembahasan Rangkaian hasil penelitian berdasarkan urutan/susunan logis untuk membentuk sebuah cerita. Isinya menunjukan fakta/data dan jangan diskusikan hasilnya. Dapat menggunakan Tabel dan Angka tetapi tidak menguraikan secara berulang terhadap data yang sama dalam gambar, tabel dan teks. Untuk lebih memperjelas uraian, dapat mengunakan sub judul. Pembahasan adalah penjelasan dasar, hubungan dan generalisasi yang ditunjukkan oleh hasil. Uraiannya menjawab pertanyaan penelitian. Jika ada hasil yang meragukan maka tampilkan secara objektif. Spesifikasi Gunakan tipe huruf Times New Roman pada seluruh naskah . ecuali pseudocod. , dengan ukuran huruf seperti yang telah dicontohkan pada panduan penulisan Jarak spasi adalah single dan isi tulisan atau naskah menggunakan perataan kiri-kanan . Pada perbandingan displacement, simpangan terbesar terjadi pada bangunan tanpa Bracing dengan selisih 1,059 mm arah x dan 1,202 mm arah y dengan gedung Menggunakan Bracing X. Sedangkan simpangan terkecil terjadi pada bangunan menggunakan Bracing X 0,623 mm arah x dan 0,725 mm arah y dengan bangunan menggunakanBracing Tipe Inverted-V. Untuk bangunan tanpa Bracing dengan bangunan menggunakan Bracing Tipe Inverted-V selisih simpangan yang terjadi yaitu 0,436 mm arah x dan 0,477 mm arah y. Tabel 2. Perbandingan displacement arah X Lantai Selisih TB Selisih BV Selisih TB Displacement (X) . & BV & BX & BX 20,725 15,827 16,847 3,878 1,020 4,898 13,269 13,43 -0,161 0,730 0,569 9,961 9,864 10,534 -0,573 0,670 0,097 6,482 6,534 7,02 -0,538 0,486 -0,052 2,741 2,959 3,167 -0,426 0,208 -0,218 Rata-Rata 0,436 0,623 1,059 *TB : Ged. Tanpa Bracing. BX : Ged. Bracing X. BV : Ged. Bracing V - Inverted Tabel 3. Perbandingan displacement arah Y Lantai Displacement (Y) . Selisih TB Selisih BV Selisih TB & BV & BX & BX 23,315 17,34 18,786 4,529 1,446 5,975 15,053 14,084 15,168 -0,115 1,084 0,969 11,216 10,868 11,788 -0,572 0,920 0,348 7,212 7,13 7,762 -0,550 0,632 0,082 3,038 3,202 3,471 -0,433 0,269 -0,164 Rata-Rata 0,477 0,725 1,202 *TB : Ged. Tanpa Bracing. BX : Ged. Bracing X. BV : Ged. Bracing V - Inverted Civil Engineering Collaboration Oe Vol. 10 No. Weri Afrizal, dkk Perbandingan Drift Ratio Perbandingan drift ratio merupakan perbandingan rasio simpangan antar lantai yang terjadi pada bangunan menggunakan bracing dan bangunan tanpa Bracing, dimana rasio yang dimaksud adalah selisih simpangan antar lantai dalam kondisi inelastic drift dibagi dengan jarak ketinggian per lantainya. Tabel 4. Perbandingan drift ratio arah X Lantai Tinggi Lantai Drift Ratio (X) (%) 0,683 0,208 0,228 0,303 0,189 0,193 0,319 0,222 0,234 0,343 0,238 0,257 0,251 0,197 0,211 Hal ini karena nilai maksimum total drift yang didapatkan pada masing-masing bangunan lebih kecil dari 0,01 dan nilai maksimum total inelastic drift kecil dari 0,005 sesuai dengan persyaratan level kinerja struktur berdasarkan ATC 40. Pada kategori ini, kondisi struktur bangunan dapat sepenuhnya melawan gaya geser dasar vertikal maupun horizontal yang Kerusakan struktur sangat kecil, resiko korban jiwa saat terjadi kerusakan sangat kecil, dan gedung dapat segera difungsikan kembali. Kesimpulan Gaya-gaya dalam terbesar umumnya terjadi pada bangunan tanpa menggunakan bracing, artinya gaya yang bekerja pada bangunan tanpa menggukan bracing lebih besar daripada bangunan dengan menggukana Base shear pada bangunan tanpa *TB : Ged. Tanpa Bracing. BX : Ged. Bracing X. BV : Ged. Bracing V - Inverted menggunakan bracing 11,903% lebih besar daripada bangunan menggunakan bracing tipe Inverted-V dan Berdasarkan analisis yang dilakukan, rasio simpangan 10,586% lebih besar daripada bangunan dengan antar lantai arah x pada ketiga bangunan yang menggunakan bracing tipe X. Pada perbandingan dimodelkan hampir sama, namun bangunan tanpa displacement, simpangan terbesar terjadi pada bracing merupakan bangunan dengan rasio simpangan bangunan dengan tanpa menggunakan bracing dengan antar lantai terbesar diantara ketiga bangunan yang selisih 1,059 mm arah x dan 1,202 mm arah y dengan gedung menggunakan bracing tipe X. Sedangkan Tabel 4. Perbandingan drift ratio arah Y menggunakan bracing tipe X dengan rasio selisih 623 mm arah x dan 0,725 mm arah y dengan Tinggi Drift Ratio (X) (%) bangunan menggunakan bracing tipe inverted-V. Lantai Lantai Rasio simpangan antar lantai untuk masing-masing 0,683 0,208 0,228 bangunan tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Drift 0,303 0,189 0,193 ratio pada arah X hampir sama untuk setiap bangunan 0,319 0,222 0,234 dengan rata-rata 0,379%. Namun pada arah Y, 0,343 0,238 0,257 bangunan menggunakan bracing lebih kecil 0,251 0,197 0,211 dibandingkan bangunan tanpa menggunkan bracing *TB : Ged. Tanpa Bracing. BX : Ged. Bracing X. BV : Ged. Bracing V - Inverted dengan rata-rata 0,231% dan 0,250%. Pada rasio simpangan antar lantai arah y, simpangan antar lantai terkecil terjadi pada bangunan menggunakan Bracing tipe X, sedangkan simpangan antar lantai pada bangunan tanpa Bracing dan bangunan menggunakan bracing Inverted-V, namun pada lantai lima rasio simpangan antar lantai bangunan tanpa bracing cukup besar ketimbang bangunan dengan menggunakan bracing tipe Inverted-V. Perbandingan ATC 40 Tabel 5. Perbandingan Berdasarkan ATC 40 Level Kinerja Ged. Tanpa Bracing Ged. Bracing X Ged. Bracing Inverted -V Level Kinerja Arah X Immediate Occupancy Immediate Occupancy Immediate Occupancy Struktur Arah Y Immediate Occupancy Immediate Occupancy Immediate Occupancy Dari data tabel diatas dapat dilihat bahwa gedung tanpa bracing dan gedung menggunakan bracing yang telah dimodelkan termasuk ke dalam kategori immediate Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk analisis perbandingan kinerja struktur pada bangunan dengan menggunakan bracing dan bangunan tanpa menggunkan bracing dengan variasi bentuk bracing Analisis dilakukan sesuai dengan SNI 17262019 dan SNI 1729-2019, dengan kegunaan dan pemodelan struktur yang lebih kompleks. Daftar Rujukan . Farhana. Euneke Widyaningsih. , dan Bernardius. Studi perilaku struktur bangunan gedung rangka baja asimetrik horizontal menggunakan bracing terhadap beban gempa. Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol 1 No 10 Januari 2023. Hayu. , & Sulistyo. Pemodelan Sambungan Las pada Struktur Balok Kolom Baja Berbasis Program Elemen Hingga. PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa, 10. , 375Ae384. Kartika. Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Hotel Swiss-Belhotel Surabaya dengan Menggunakan Sistem Rangka Bresing Eksentrik. Undergraduate thesis. Institut Teknologi Sepuluh Nopember . Mohammad Rosul Zainuddin Malik, dan Bantot Sutriono, . Studi Perbandingan Perilaku Gedung Struktur Baja Sistem Bresing Eksentris Tipe Inverted-V dan Sistem Bresing Civil Engineering Collaboration Oe Vol. 10 No. Weri Afrizal, dkk Konsentris Tipe- X Terhadap Beban Gempa. Journal of Scientech Research and Development Volume 5. Issue 2 . Rienanda. Ellen J. , dan Kummat. Reky S Windah. Pengaruh Bracing Pada Bangunan Bertingkat Rangka Baja Yang Berdiri Di Atas Tanah Miring Terhadap Gempa. Jurnal Sipil Statik. 7 no 6. Sandy Kurniawan Hariadi. Wahiddin. , dan Sugiharti. Analisis Pengaruh Pengekang (Bracin. Sebagai Elemen Penahan Gempa Terhadap Kekakuan Lateral Struktur Gedung Sepuluh Lantai. Jurnal online. Civil Engineering Collaboration Oe Vol. 10 No.