BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 5 Nomor 1. January 2026 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Pengembangan Buku Panduan Kontekstual Berbasis Buku Cerita untuk Penguatan Literasi Budaya Anak Usia 5Ae6 Tahun Fitriyani1*. Sukiman2. Brigita Puridawaty3 1,2,3 Universitas Panca Sakti Bekasi. Indonesia Received: January 13th, 2026. Revised: January 18th, 2026. Accepted: January 31st, 2026. Published: January 31st, 2026 Abstrak Literasi budaya pada anak usia dini penting untuk membentuk identitas dan menumbuhkan sikap apresiatif terhadap keberagaman sejak dini. Penelitian ini bertujuan mengembangkan buku panduan kontekstual berbasis buku cerita untuk penguatan literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun serta menilai kelayakan dan keterlaksanaannya dalam pembelajaran PAUD. Penelitian menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D) dengan model 4D . efine, design, develop, disseminat. Tahap disseminate dilakukan melalui uji coba terbatas, sehingga penelitian berfokus pada kelayakan produk dan keterlaksanaannya, bukan pada uji efektivitas secara luas. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, validasi ahli materi, bahasa, dan media, serta uji coba terbatas. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif sederhana . ersentase dan N-gai. untuk menggambarkan kelayakan produk dan perubahan capaian literasi budaya anak sebelum dan sesudah penggunaan buku panduan. Hasil menunjukkan buku panduan dinyatakan layak berdasarkan penilaian ahli, dan uji coba terbatas mengindikasikan peningkatan capaian literasi budaya, terutama pada ketertarikan terhadap cerita budaya, keterlibatan dalam kegiatan bercerita, pemahaman isi cerita, serta respons emosional anak selama pembelajaran. Temuan ini menunjukkan buku panduan praktis digunakan guru PAUD dan mendukung pengembangan bahan ajar berbasis cerita budaya lokal. Kata kunci: anak usia dini, buku cerita, buku panduan kontekstual, literasi budaya, pengembangan media pembelajaran Abstract Cultural literacy in early childhood is important for shaping identity and fostering an appreciative attitude towards diversity from an early age. This study aims to develop a contextual guidebook based on storybooks to strengthen cultural literacy for children aged 5Ae6 years and assess its feasibility and implementation in early childhood education. The study used a Research and Development (R&D) method with the 4D model . efine, design, develop, disseminat. The dissemination stage was carried out through a limited trial, focusing on the product's feasibility and implementation, rather than broad effectiveness testing. Data were collected through observations, interviews, validation by content, language, and media experts, and a limited trial. Data were analyzed descriptively and quantitatively . ercentage and N-gai. to assess the product's feasibility and the changes in children's cultural literacy achievements before and after using the guidebook. The results showed that the guidebook was deemed feasible based on expert evaluation, and the limited trial indicated an improvement in cultural literacy, particularly in childrenAos interest in cultural stories, involvement in storytelling activities, comprehension of story content, and emotional responses during learning. These findings suggest that the guidebook is practical for use by PAUD teachers and supports the development of instructional materials based on local cultural stories. Keywords: early childhood, storybooks, contextual guidebook, cultural literacy, learning media Copyright . 2026 Fitriyani. Sukiman. Brigita Puridawaty * Correspondence Address: Email Address: fitriyani. syahidah999@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Fitriyani. Sukiman, & Brigita Puridawaty Pendahuluan Literasi budaya merupakan kemampuan fundamental yang perlu dikembangkan sejak usia dini sebagai dasar pembentukan identitas, sikap apresiatif, serta pemahaman terhadap keberagaman budaya. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, anak-anak semakin terpapar budaya populer global yang berpotensi menggeser pengenalan dan kecintaan terhadap budaya lokal. UNESCO . menegaskan bahwa literasi budaya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis tentang budaya, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menghargai, dan berpartisipasi dalam praktik budaya yang beragam. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran strategis dalam penguatan literasi budaya karena berada pada periode emas . olden ag. perkembangan anak. Pada rentang usia 0Ae6 tahun, perkembangan kognitif, sosial, dan emosional berlangsung sangat pesat, sehingga stimulasi yang tepat pada fase ini akan memberikan dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, integrasi literasi budaya dalam pembelajaran PAUD menjadi sangat penting sebagai fondasi pendidikan selanjutnya. Namun demikian, kondisi literasi di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Laporan UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, sementara hasil studi International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) menempatkan kemampuan membaca anak Indonesia pada peringkat bawah dibandingkan negara lain. Rendahnya kemampuan literasi membaca ini tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga berimplikasi pada terbatasnya kemampuan anak dalam memahami makna, nilai, dan konteks budaya yang terkandung dalam berbagai teks dan pengalaman belajar. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, lemahnya literasi membaca berpotensi menghambat perkembangan literasi budaya anak, karena kemampuan mengenal, memahami, dan mengapresiasi budaya sangat bergantung pada pengalaman literasi yang bermakna dan kontekstual. Anak usia dini membutuhkan stimulasi literasi yang tidak hanya berfokus pada pengenalan huruf atau kata, tetapi juga pada pemaknaan simbol, cerita, dan praktik budaya yang dekat dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, rendahnya literasi secara umum di Indonesia menjadi tantangan awal bagi penguatan literasi budaya di satuan PAUD. Kondisi tersebut menjadi semakin krusial mengingat Indonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman budaya yang tinggi. Namun, pada kenyataannya, anak-anak usia dini cenderung lebih mengenal budaya asing melalui media digital dibandingkan budaya lokal di lingkungan sekitarnya (Lestari & Suryana, 2. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kekayaan budaya bangsa dengan pemahaman budaya yang dimiliki anak sejak usia dini. Permasalahan tersebut diperparah oleh keterbatasan bahan ajar yang kontekstual dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia 5Ae6 tahun. Hasil observasi menunjukkan bahwa materi pembelajaran budaya yang tersedia masih bersifat abstrak, kurang interaktif, dan belum mengaitkan konten budaya dengan pengalaman nyata anak. Padahal, anak usia dini membutuhkan pembelajaran yang konkret, menyenangkan, dan bermakna agar pesan budaya dapat dipahami secara optimal. Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji penguatan literasi budaya anak usia dini melalui berbagai pendekatan. Garcia-Martinez & Rodriguez . mengembangkan model literasi budaya berbasis storytelling, sementara Kim & Park . memanfaatkan aplikasi digital interaktif. Penelitian lain mengembangkan program literasi budaya multikultural Thompson et al. , penggunaan buku bergambar bermuatan budaya lokal (M. Banks & Wilson, 2. , serta pembelajaran berbasis kearifan lokal tertentu (Fatimah et al. , 2. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pengembangan Buku Panduan Kontekstual Berbasis Buku Cerita untuk Penguatan Literasi Budaya Anak Usia 5Ae 6 Tahun Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa media dan pendekatan berbasis budaya memiliki potensi besar dalam meningkatkan pemahaman dan sikap apresiatif anak terhadap budaya. Namun, sebagian studi lebih menekankan pada pemanfaatan media tertentu atau model pembelajaran secara umum, tanpa disertai panduan pembelajaran yang terstruktur dan mudah digunakan oleh pendidik PAUD dalam praktik kelas sehari-hari. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan buku cerita bermuatan budaya lokal memiliki peran penting dalam menanamkan nilai budaya pada anak usia dini. Kusuma & Pratiwi, . & Listyaningsih et al. menegaskan bahwa buku cerita berbasis budaya lokal mampu meningkatkan pemahaman anak terhadap simbol, nilai, dan praktik budaya di lingkungannya. Nurhayati & Sari . menemukan bahwa buku cerita efektif sebagai media pembelajaran karena menghadirkan pengalaman belajar yang konkret dan menyenangkan bagi anak usia dini. Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut umumnya berhenti pada pemanfaatan buku cerita sebagai media, tanpa mengembangkan buku panduan kontekstual yang secara sistematis mengintegrasikan perencanaan kegiatan, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi literasi budaya anak. Dengan demikian, dari antarpenelitian menunjukkan bahwa meskipun efektivitas cerita dan budaya lokal dalam pembelajaran anak usia dini telah banyak dibuktikan, masih terdapat keterbatasan pada aspek pengembangan perangkat pembelajaran yang komprehensif, praktis, dan kontekstual untuk digunakan oleh guru PAUD. Secara khusus, belum banyak penelitian yang mengembangkan buku panduan pembelajaran berbasis buku cerita budaya lokal yang dirancang secara terstruktur untuk meningkatkan literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun. Berdasarkan kajian tersebut, research gap penelitian ini terletak pada belum tersedianya buku panduan pembelajaran kontekstual berbasis buku cerita yang mengintegrasikan konten budaya lokal dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini, serta dilengkapi dengan panduan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian literasi budaya. Kebaruan . penelitian ini terletak pada pengembangan buku panduan pembelajaran kontekstual berbasis buku cerita budaya lokal yang dirancang secara sistematis dan aplikatif bagi pendidik PAUD, khususnya untuk meningkatkan literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun. Pendekatan kontekstual dipilih karena memungkinkan anak mengaitkan materi budaya dengan pengalaman nyata di lingkungan sekitarnya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengembangkan buku panduan pembelajaran kontekstual berbasis buku cerita serta menilai kelayakan dan keterlaksanaannya dalam penguatan literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun melalui uji coba Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memperkaya kajian literasi budaya dan pembelajaran kontekstual pada pendidikan anak usia dini, khususnya pengembangan bahan ajar berbasis cerita budaya lokal. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan menjadi rujukan bagi pendidik PAUD dalam merancang dan mengintegrasikan muatan budaya lokal ke dalam pembelajaran melalui panduan yang terstruktur, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak Indonesia. Tinjauan Pustaka Literasi budaya dalam konteks pendidikan dipahami sebagai kemampuan individu untuk memahami, menghargai, dan mengekspresikan nilai, simbol, serta praktik budaya dalam kehidupan sosial (UNESCO, 2. Pada anak usia dini, literasi budaya mencakup kemampuan mengenal simbol budaya, menumbuhkan sikap positif terhadap keberagaman, serta mengekspresikan nilai budaya melalui bahasa dan aktivitas bercerita. Banks . menegaskan bahwa literasi budaya sejak usia dini berperan penting dalam BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Fitriyani. Sukiman, & Brigita Puridawaty pembentukan identitas dan sikap toleransi anak. Pandangan ini diperkuat oleh Nieto . yang menyatakan bahwa pengenalan budaya pada tahap awal perkembangan anak dapat meningkatkan kesadaran sosial dan penghargaan terhadap perbedaan. Pengembangan literasi budaya pada anak usia dini selaras dengan teori konstruktivisme sosial yang dikemukakan oleh L. Vygotsky . , yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan pengalaman bermakna. Anak usia 5Ae6 tahun berada pada tahap perkembangan di mana mereka belajar secara optimal melalui pengalaman konkret dan konteks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pembelajaran yang mengaitkan materi budaya dengan pengalaman nyata anak menjadi penting dalam mendukung proses konstruksi pengetahuan budaya. Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learnin. sebagaimana dikemukakan oleh Johnson . menekankan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan situasi nyata yang dialami peserta didik. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pembelajaran kontekstual memungkinkan anak memahami konsep budaya yang bersifat abstrak melalui pengalaman konkret, seperti tradisi lokal, cerita rakyat, dan kegiatan keseharian. Pendekatan ini memberikan dasar teoretis yang kuat bagi penggunaan media pembelajaran berbasis budaya yang dikaitkan langsung dengan lingkungan anak. Salah satu media pembelajaran yang relevan dengan pendekatan kontekstual adalah buku cerita. Buku cerita tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan bahasa, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai dan simbol budaya. Utami & Yanti . menyatakan bahwa buku cerita bermuatan budaya lokal mampu menjembatani konsep budaya yang abstrak menjadi pengalaman belajar yang konkret bagi anak. Penelitian Megawati et al. menunjukkan bahwa penggunaan buku cerita berbasis budaya lokal dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap simbol budaya serta menumbuhkan sikap positif terhadap keberagaman. Sejumlah penelitian empiris menunjukkan bahwa storytelling berpotensi meningkatkan literasi budaya anak usia dini. Garcia-Martinez & Rodriguez . menemukan bahwa pembelajaran berbasis cerita berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan anak dalam mengenali simbol budaya dan mengekspresikan nilai budaya melalui bahasa. Temuan serupa dikemukakan oleh Apriliani & Radia . yang menyatakan bahwa penggunaan buku cerita dalam pembelajaran anak usia dini meningkatkan keterlibatan anak dan pemahaman nilai budaya. Meskipun demikian, kedua penelitian tersebut memiliki keterbatasan, baik dari segi konteks maupun desain Studi Garcia-Martinez dan Rodriguez . berfokus pada implementasi storytelling sebagai strategi pembelajaran tanpa mengembangkan perangkat panduan yang dapat direplikasi oleh pendidik dalam konteks yang berbeda. Sementara itu, penelitian Apriliani dan Radia . lebih menekankan pada dampak penggunaan buku cerita sebagai media, tanpa mengkaji bagaimana guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran literasi budaya secara sistematis. Dengan demikian, penelitian-penelitian tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pendidik akan panduan pembelajaran kontekstual yang terstruktur untuk mendukung implementasi literasi budaya secara konsisten di satuan PAUD. Dalam konteks pengembangan bahan ajar, buku panduan pembelajaran memiliki peran strategis dalam membantu pendidik merancang dan mengimplementasikan pembelajaran secara terarah, konsisten, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Borg & Gall . menegaskan bahwa produk hasil penelitian dan pengembangan harus dirancang secara sistematis melalui tahapan analisis kebutuhan, pengembangan produk, uji coba, serta revisi agar layak digunakan dalam praktik pendidikan. Oleh karena itu, pengembangan buku panduan pembelajaran kontekstual berbasis buku cerita menjadi relevan sebagai upaya menjembatani kesenjangan antara potensi pemanfaatan cerita BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pengembangan Buku Panduan Kontekstual Berbasis Buku Cerita untuk Penguatan Literasi Budaya Anak Usia 5Ae 6 Tahun bermuatan budaya dan kebutuhan pendidik PAUD akan panduan praktis yang terstruktur dalam mengembangkan literasi budaya anak usia dini. Secara teoretis, keterkaitan antara buku panduan kontekstual berbasis buku cerita dan literasi budaya anak dapat dijelaskan melalui integrasi teori konstruktivisme sosial dan pendekatan pembelajaran kontekstual. Buku panduan berfungsi sebagai kerangka pedagogis yang membantu pendidik mengaitkan isi cerita dengan pengalaman nyata anak, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara aktif dan bermakna. Melalui interaksi dengan cerita, aktivitas pembelajaran, dan lingkungan sosialnya, anak membangun pemahaman budaya secara konstruktif yang tercermin dalam kemampuan mengenal simbol budaya, menumbuhkan sikap positif terhadap keberagaman, serta mengekspresikan nilai-nilai budaya melalui kegiatan bercerita. Secara konseptual, literasi budaya anak usia dini dipahami sebagai kemampuan anak dalam mengenali, memahami, dan mengekspresikan nilai, simbol, serta praktik budaya melalui pengalaman belajar yang bermakna. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menekankan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan pengalaman nyata anak, sehingga relevan untuk mengembangkan literasi budaya yang bersifat konkret dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Buku cerita bermuatan budaya berfungsi sebagai sarana representasi nilai dan simbol budaya yang dapat dipahami anak secara naratif dan visual, sementara buku panduan pembelajaran berperan sebagai perangkat pedagogis yang membantu pendidik merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran secara Integrasi keempat komponen tersebut menjadi kerangka konseptual penelitian ini dalam upaya memperkuat literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun melalui pembelajaran yang kontekstual dan terstruktur. Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian terdahulu, pengembangan buku panduan pembelajaran kontekstual berbasis buku cerita dinilai memiliki dasar teoretis dan empiris yang kuat dalam mendukung penguatan literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan serta menilai kelayakan dan potensi manfaat buku panduan tersebut melalui uji coba terbatas, sebagai salah satu alternatif media pembelajaran dalam memperkuat literasi budaya pada anak usia dini. Metodologi Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) yang bertujuan untuk mengembangkan serta mengkaji kelayakan buku panduan kontekstual berbasis buku cerita dalam mendukung literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun (Sugiyono. Metode ini dipilih karena penelitian berfokus pada proses pengembangan produk pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran di satuan PAUD. Penelitian dilaksanakan di PAUD Generasi Peduli Ummah. Kota Medan, selama Juni hingga Agustus 2025 dengan memanfaatkan data kualitatif dan kuantitatif untuk memperoleh gambaran kelayakan produk dan keterlaksanaan penggunaannya. Subjek penelitian adalah 15 anak kelompok B usia 5Ae6 tahun yang terlibat dalam tahap uji coba terbatas, sehingga hasil penelitian tidak dimaksudkan untuk generalisasi Pemilihan subjek didasarkan pada hasil observasi awal dan informasi dari guru kelas yang menunjukkan bahwa sebagian anak masih mengalami kesulitan dalam literasi budaya lokal, yang terlihat dari keterbatasan anak dalam mengenali unsur budaya di lingkungan Selain anak, guru kelompok B dilibatkan sebagai informan dalam uji coba awal dan penilaian kelayakan buku panduan. Objek penelitian ini adalah buku panduan kontekstual berbasis buku cerita yang dikembangkan untuk mendukung pembelajaran literasi budaya anak usia dini, dengan mempertimbangkan karakteristik anak yang belajar melalui pengalaman konkret dan bermakna serta pentingnya pembelajaran kontekstual yang dikaitkan dengan kehidupan nyata anak (Khadijah, 2. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Fitriyani. Sukiman, & Brigita Puridawaty Prosedur pengembangan produk mengacu pada model 4D (Four-D Mode. yang meliputi tahap define, design, develop, dan disseminate, dengan penyesuaian konteks Tahap define, dilakukan melalui observasi dan wawancara untuk mengidentifikasi kondisi awal literasi budaya anak dan kebutuhan pembelajaran. Tahap design mencakup perancangan modul pembelajaran berbasis buku cerita bergambar Arsik Ikan Mas, aktivitas pembelajaran kontekstual, serta penyusunan instrumen literasi budaya anak berupa lembar observasi yang digunakan pada kegiatan pretest dan posttest. Indikator literasi budaya meliputi ketertarikan anak terhadap buku cerita, keterlibatan dalam kegiatan, pemahaman isi cerita, dan respon emosional anak. Tahap develop meliputi penyusunan draf buku panduan, validasi ahli materi, bahasa, dan media, serta revisi produk berdasarkan masukan validator. Tahap disseminate dilakukan melalui uji coba terbatas pada anak kelompok B di PAUD Generasi Peduli Ummah untuk mengetahui respons pendidik dan kecenderungan perubahan capaian literasi budaya anak. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman . yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memahami proses pembelajaran, respon anak dan guru, serta keterlaksanaan penggunaan buku panduan. Data kuantitatif dianalisis menggunakan teknik persentase untuk menilai kelayakan produk berdasarkan validasi ahli. Pada tahap disseminate, perbandingan skor pretest dan posttest literasi budaya anak dianalisis menggunakan N-gain untuk melihat kecenderungan perubahan capaian literasi budaya setelah penggunaan buku panduan, tanpa dimaksudkan sebagai pengujian efektivitas secara luas. Penelitian ini memperhatikan aspek etika penelitian. Pelaksanaan penelitian dilakukan setelah memperoleh izin dari pihak sekolah serta persetujuan orang tua/wali anak terkait keterlibatan anak dalam kegiatan pembelajaran dan pengumpulan data. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian ini disajikan berdasarkan tahapan pengembangan model 4D yang meliputi tahap define, design, develop, dan disseminate. Setiap tahap menggambarkan capaian pengembangan buku panduan kontekstual berbasis buku cerita dalam meningkatkan literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun di PAUD Generasi Peduli Ummah. Hasil Tahap Define (Pendefinisia. Tahap define bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran literasi budaya anak usia dini sebagai dasar pengembangan buku panduan kontekstual. Pada tahap ini dilakukan analisis awal, analisis kebutuhan pembelajaran, dan analisis kurikulum. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa kemampuan literasi budaya anak kelompok B PAUD Generasi Peduli Ummah masih rendah, khususnya dalam pengenalan makanan khas budaya lokal Sumatera Utara. Ketika guru menanyakan contoh makanan tradisional, sebagian besar anak menyebutkan makanan instan dan modern seperti ayam goreng cepat saji atau burger, sementara hanya sedikit anak yang mengenal arsik ikan mas sebagai makanan khas daerah. Selama kegiatan pembelajaran, anak juga tampak kurang antusias ketika materi budaya disampaikan secara lisan tanpa media pendukung. Temuan ini diperkuat oleh keterangan guru yang menyatakan bahwa materi budaya dalam RPPH disampaikan secara singkat dan belum didukung media pembelajaran yang kontekstual dan terstruktur, sehingga anak memiliki keterbatasan kesempatan untuk mengenal dan mengaitkan budaya lokal dengan pengalaman sehari-hari. Analisis kebutuhan pembelajaran menunjukkan bahwa guru membutuhkan buku panduan yang praktis, mudah digunakan, serta dilengkapi dengan aktivitas pembelajaran dan instrumen penilaian literasi budaya anak. Selain itu, buku panduan diharapkan mampu BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pengembangan Buku Panduan Kontekstual Berbasis Buku Cerita untuk Penguatan Literasi Budaya Anak Usia 5Ae 6 Tahun mengaitkan materi budaya dengan pengalaman nyata anak. Hasil analisis kurikulum menunjukkan bahwa pengembangan buku panduan selaras dengan kurikulum PAUD yang berlaku dan mendukung capaian perkembangan anak usia 5Ae6 tahun. Hasil Tahap Design (Perancanga. Tahap design menghasilkan rancangan awal buku panduan kontekstual berbasis buku cerita berdasarkan hasil analisis kebutuhan pada tahap define. Rancangan buku panduan memuat konsep pembelajaran kontekstual berbasis cerita budaya lokal AuArsik Ikan MasAy, dengan alur perancangan sebagaimana disajikan pada Gambar 1. Analisis Kebutuhan Perancangan Buku Panduan . erita budaya, aktivitas, instrumen observas. Draft 1 Produk Gambar 1. Alur Perancangan Buku Panduan Kontekstual Struktur buku panduan mencakup tujuan pembelajaran, alur cerita, aktivitas pembelajaran kontekstual, serta panduan penggunaan bagi guru. Selain itu, dirancang instrumen observasi untuk mengukur kemampuan literasi budaya anak selama proses Strategi pembelajaran disusun dengan pendekatan aktif dan eksploratif dengan guru berperan sebagai fasilitator. Hasil Tahap Develop (Pengembanga. Tahap develop meliputi penyusunan draft buku panduan, pemilihan media pendukung, serta validasi dan revisi produk berdasarkan masukan ahli. Tabel 1. Rekapitulasi Validasi Ahli Aspek Validasi Ahli Materi Ahli Bahasa Ahli Media Total Rata-rata Skor Perolehan Skor Maksimal Persentase (%) 88,57 96,67 88,57 91,94 Kategori Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Berdasarkan rekapitulasi, buku panduan memperoleh rata-rata skor 91,94% dengan kategori sangat layak. Hal ini menunjukkan bahwa dari aspek materi, bahasa, maupun media, buku panduan sudah memenuhi kriteria kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran anak usia dini. Hasil validasi menunjukkan bahwa Buku Panduan Kontekstual Berbasis Buku Cerita sangat layak digunakan dalam pembelajaran literasi budaya anak usia dini. Dari aspek materi, buku sudah sistematis, aplikatif, dan relevan dengan literasi budaya Dari aspek bahasa, buku komunikatif, konsisten, dan mudah dipahami baik oleh guru maupun anak. Dari aspek media, buku praktis, menarik, dan mendukung kegiatan literasi fase fondasi . ertutur, kosakata, pemahaman lata. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Fitriyani. Sukiman, & Brigita Puridawaty Hasil Tahap Disseminate (Penyebaran/Uji Coba Terbata. Tahap disseminate dilakukan melalui uji coba terbatas buku panduan kontekstual berbasis buku cerita pada anak kelompok B PAUD Generasi Peduli Ummah. Penilaian pada tahap disseminate dilakukan melalui observasi terhadap ketertarikan, keterlibatan, pemahaman cerita, dan respon emosional anak selama penggunaan buku panduan. Indikator-indikator tersebut merupakan bentuk representasi operasional literasi budaya anak usia dini yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak. Ketertarikan dan pemahaman cerita merepresentasikan aspek kognitif dalam mengenali simbol dan makna budaya lokal, keterlibatan serta respon emosional mencerminkan aspek afektif berupa sikap dan penghargaan terhadap budaya, sedangkan respon anak selama kegiatan menunjukkan aspek ekspresif dalam mengekspresikan pemahaman budaya melalui tindakan. Tabel 2. Hasil N-Gain Literasi Budaya Anak Per Aspek Aspek yang Diukur Ketertarikan anak terhadap buku Keterlibatan anak dalam kegiatan Pemahaman anak terhadap cerita Respon emosional anak Rata-rata Skor Pretest Rata-rata Skor Posttest N-Gain Kategori 0,64 Sedang 0,50 0,58 0,44 Sedang Sedang Sedang Hasil perhitungan N-Gain menunjukkan bahwa kemampuan literasi budaya anak mengalami peningkatan pada seluruh aspek dengan kategori sedang. Aspek ketertarikan terhadap buku cerita memperoleh nilai N-Gain 0,64, keterlibatan anak dalam kegiatan 0,50, pemahaman terhadap cerita 0,58, dan respon emosional anak 0,44. Data ini menunjukkan adanya perubahan capaian literasi budaya anak setelah penggunaan buku panduan berbasis cerita budaya dibandingkan kondisi awal. Peningkatan yang diperoleh masih berada pada kategori sedang dan menggambarkan hasil uji coba terbatas sesuai dengan tujuan penelitian Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan melalui model 4D layak secara teoretis dan empiris, serta menunjukkan adanya peningkatan literasi budaya anak pada tahap uji coba terbatas. Temuan ini menjadi dasar untuk membahas lebih lanjut bagaimana karakteristik produk, pendekatan pembelajaran yang digunakan, serta konteks pembelajaran memengaruhi capaian literasi budaya anak usia dini. Temuan pada tahap define menunjukkan bahwa rendahnya literasi budaya anak berkaitan dengan minimnya paparan budaya lokal dalam kegiatan pembelajaran serta kuatnya pengaruh budaya populer dari media digital. Anak lebih familiar dengan simbol budaya modern dibandingkan unsur budaya lokal yang ada di lingkungan sekitarnya. Kondisi ini sejalan dengan pandangan M. Banks & Wilson . yang menekankan bahwa literasi budaya berkembang melalui kesempatan anak untuk mengenal, memahami, dan terlibat dalam praktik budaya secara langsung. Ketidakhadiran media pembelajaran yang secara khusus mengangkat budaya lokal menyebabkan pemahaman budaya anak bersifat terbatas dan kurang bermakna, sehingga kebutuhan akan media pembelajaran kontekstual menjadi relevan. Pada tahap design, buku panduan dirancang dengan mengintegrasikan cerita budaya lokal sebagai inti pembelajaran. Pendekatan ini sesuai dengan teori perkembangan kognitif Piaget yang menyatakan bahwa anak usia 5Ae6 tahun berada pada tahap praoperasional, di mana pembelajaran lebih efektif apabila disajikan melalui media konkret dan visual (Piaget, 1. Cerita bergambar tentang arsik ikan mas memberikan representasi konkret budaya lokal yang dapat dipahami anak melalui simbol, gambar, dan alur cerita sederhana BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pengembangan Buku Panduan Kontekstual Berbasis Buku Cerita untuk Penguatan Literasi Budaya Anak Usia 5Ae 6 Tahun yang memungkinkan anak mengenal budaya lokal melalui pengalaman yang dekat dengan dunia mereka. Hal ini sejalan dengan temuan Utami & Yanti . yang menyatakan bahwa buku cerita budaya lokal menjadikan konsep budaya abstrak lebih konkret bagi Hasil validasi pada tahap develop menunjukkan bahwa buku panduan dinilai sangat layak dari aspek materi, bahasa, dan media. Temuan ini dapat dipahami melalui perspektif Vygotsky yang menekankan peran cultural tools dalam proses belajar anak (L. Vygotsky & Luria, 1. Buku cerita budaya berfungsi sebagai alat budaya yang membantu anak membangun pemahaman melalui interaksi dengan guru dan teman sebaya, sehingga proses belajar tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga sosial. Hasil uji coba terbatas pada tahap disseminate menunjukkan peningkatan literasi budaya anak pada aspek ketertarikan, keterlibatan, pemahaman cerita, dan respon Peningkatan ini berkaitan dengan penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam buku panduan. Menurut Johnson . , pembelajaran kontekstual memungkinkan peserta didik mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Cerita tentang arsik ikan mas yang dekat dengan kehidupan budaya lokal anak memungkinkan mereka menghubungkan isi cerita dengan pengalaman sehari-hari, seperti kegiatan makan bersama keluarga atau mengenal bahan makanan tradisional. Garcia-Martinez & Rodriguez . juga menemukan bahwa pembelajaran berbasis cerita meningkatkan kemampuan anak mengenal simbol budaya dan mengekspresikan nilainya. Temuan penelitian ini juga sejalan dengan prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP) sebagaimana dikemukakan oleh Bredekamp & Copple . Dari sisi age appropriate, bahasa sederhana dan ilustrasi berwarna dalam buku panduan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Hal ini didukung oleh pendapat Setyawati . yang menyatakan bahwa media visual dan cerita konkret membantu anak memahami konsep sosial budaya secara lebih efektif. Dari sisi individually appropriate, variasi aktivitas seperti bercerita, menggambar, bernyanyi, dan bermain peran memberikan ruang bagi perbedaan kemampuan dan minat anak, sebagaimana juga ditegaskan oleh Shidiqqa et al. bahwa pembelajaran yang fleksibel mampu meningkatkan partisipasi aktif anak. Dari sisi culturally appropriate, isi cerita yang mengangkat budaya lokal Sumatera Utara menjadikan pembelajaran relevan dengan konteks sosial budaya anak, sejalan dengan pandangan Yulaichah et al. tentang pentingnya pembelajaran yang responsif terhadap budaya peserta didik. Kesesuaian ini menjelaskan mengapa anak menunjukkan peningkatan keterlibatan dan respon emosional positif selama pembelajaran. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Herina et al. yang menunjukkan bahwa penggunaan buku cerita berbasis budaya lokal efektif meningkatkan pemahaman dan sikap positif anak terhadap budaya daerah. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Komalasari et al. , yang menegaskan bahwa media cerita kontekstual mampu meningkatkan keterlibatan dan minat anak usia dini dalam pembelajaran budaya. Selain itu, penelitian Pertiwi et al. menemukan bahwa cerita berbasis kearifan lokal dapat memperkuat identitas budaya anak sejak usia dini melalui proses internalisasi nilai yang berlangsung secara alami. Penelitian lain oleh Wahyuni . juga menunjukkan bahwa integrasi budaya lokal dalam media pembelajaran berdampak positif terhadap rasa bangga anak terhadap lingkungan budayanya. Penelitian ini memperluas temuan-temuan tersebut dengan mengembangkan buku panduan yang tidak hanya menyajikan cerita budaya, tetapi juga dilengkapi dengan rencana kegiatan pembelajaran dan instrumen penilaian literasi budaya yang terstruktur. Perbedaan tingkat peningkatan literasi budaya yang berada pada kategori sedang dapat dijelaskan melalui konteks uji coba yang masih terbatas. Uji coba hanya dilakukan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Fitriyani. Sukiman, & Brigita Puridawaty pada satu kelas dengan durasi penerapan yang relatif singkat. Hal ini sejalan dengan temuan Nawir et al. yang menyatakan bahwa penguatan literasi budaya memerlukan proses yang berkelanjutan dan berulang agar dapat membentuk pemahaman dan sikap yang stabil. Temuan ini juga didukung oleh penelitian Rohyana et al. yang menunjukkan bahwa intervensi pembelajaran berbasis budaya dengan durasi singkat cenderung menghasilkan peningkatan pada level awal, namun membutuhkan penerapan jangka panjang untuk mencapai hasil yang lebih tinggi. Dengan demikian, hasil kategori sedang tidak menunjukkan kelemahan produk, melainkan mencerminkan kebutuhan implementasi yang lebih konsisten dan berkelanjutan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Jumlah subjek yang terbatas, durasi uji coba yang singkat, dan konteks yang hanya pada satu satuan PAUD membuat temuan ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati. Keterbatasan ini berarti bahwa peningkatan literasi budaya yang terlihat mungkin belum mencerminkan potensi penuh anak-anak pada populasi yang lebih luas atau dalam penerapan jangka panjang. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar, durasi yang lebih panjang, dan berbagai konteks PAUD akan sangat membantu untuk memperkuat generalisasi temuan serta memastikan efektivitas media pembelajaran yang dikembangkan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian literasi budaya anak usia dini dengan menegaskan bahwa literasi budaya tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan budaya, tetapi juga melibatkan aspek afektif dan partisipatif Pandangan ini sejalan dengan konsep literasi budaya yang dikemukakan oleh Rahman dan Abdulkarim . yang menekankan keterkaitan antara pemahaman budaya, sikap apresiatif, dan keterlibatan aktif individu dalam praktik budaya. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Wahyudi et al. yang menegaskan bahwa pembelajaran berbasis budaya dapat memperkuat keterhubungan emosional anak dengan lingkungan sosialnya. Buku panduan kontekstual berbasis cerita budaya dalam penelitian ini mampu mengintegrasikan ketiga aspek tersebut ke dalam satu kesatuan pembelajaran yang utuh dan bermakna. Secara praktis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru PAUD memerlukan panduan yang sistematis dan aplikatif untuk mengintegrasikan budaya lokal dalam Temuan ini sejalan dengan penelitian Mulyani et al. yang menyebutkan bahwa guru sering mengalami kesulitan dalam mengaitkan materi pembelajaran dengan budaya lokal karena keterbatasan media dan referensi yang tersedia. Buku panduan yang dikembangkan dalam penelitian ini terbukti membantu guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran literasi budaya secara lebih terarah, kreatif, dan menyenangkan. Selain itu, penggunaan buku panduan ini juga berpotensi mendukung upaya pelestarian budaya lokal, sebagaimana ditegaskan oleh Rohmah et al. bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya melalui proses pewarisan nilai sejak usia dini. Dengan demikian, penelitian ini memberikan implikasi bahwa pengembangan media pembelajaran berbasis budaya lokal perlu terus didorong sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan karakter anak sejak usia Kesimpulan Penelitian ini menghasilkan buku panduan kontekstual berbasis cerita budaya untuk penguatan literasi budaya anak usia 5Ae6 tahun, dan uji coba terbatas menunjukkan adanya peningkatan pada ketertarikan anak terhadap cerita budaya, keterlibatan dalam kegiatan bercerita, pemahaman isi cerita, serta respons emosional yang lebih positif selama Buku panduan yang dilengkapi rencana kegiatan dan instrumen penilaian membantu guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran literasi budaya BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 1. January 2026 Pengembangan Buku Panduan Kontekstual Berbasis Buku Cerita untuk Penguatan Literasi Budaya Anak Usia 5Ae 6 Tahun secara lebih sistematis serta selaras dengan karakteristik perkembangan anak. Secara keilmuan, temuan ini memperkuat kajian PAUD bahwa pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan cerita budaya lokal dapat menumbuhkan pengetahuan, sikap apresiatif, dan partisipasi anak terhadap budaya. Namun, penelitian ini terbatas pada satu satuan PAUD, jumlah subjek yang terbatas, dan durasi penerapan yang relatif singkat, sehingga generalisasi temuan masih terbatas. Penelitian lanjutan disarankan menguji buku panduan pada konteks yang lebih luas dan beragam, serta mengembangkan panduan serupa dengan muatan budaya lokal yang berbeda untuk memperkaya praktik literasi budaya di PAUD. Referensi