|ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. HUBUNGAN PRODUKTIVITAS WIRAUSAHA DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA DI DUSUN PUHREJO DESA TULUNGREJO KECAMATAN PARE KABUPATEN KEDIRI Junianto Fitriyadi 1*. Servin May Nggiri 2 Program Studi Ilmu Keperawatan (Universitas dr Soeband. Program Studi Sarjana Keperawatan (STIKes Bhakti Mulia Kedir. *Email: junivikakhanza@gmail. ABSTRAK Lansia yang tidak poduktif akan mengalami harga diri rendah, karena merasa tidak berguna yang dapat menurunkan kualitas hidupnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia. Peneliti menggunakan analitik korelasional dengan sampel yang diambil sampel sebanyak 30 lansia di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo Kecamatan Pare menggunakan teknik purposive sampling. Uji statistik menggunakan Spearman Rho. Identifikasi produktif wirausaha cukup sebanyak 13 responden . ,3%) dan kualitas hidup lansia yang baik sebanyak 12 responden . %). Analisis hasil uji Spearman Rho dengan nilai sig 2tailed adalah 0,000 yang artinya ada hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia. Lansia yang produktif berwirausaha dapat meningkakan kualitas hidupnya dengan memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Kata kunci: Produktivitas Wirausaha. Kualitas Hidup. Lansia THE RELATIONSHIP OF ENTREPRENEURS PRODUCTIVITY AND QUALITY OF LIFE IN PUHREJO HAMLET TULUNGREJO VILLAGE PARE DISTRICT KEDIRI REGENCY ABSTRACT Lansia yang tidak poduktif akan mengalami harga diri yang rendah, karena merasa tidak berguna yang dapat menurunkan kualitas hidupnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia. Peneliti menggunakan analitik korelasional dengan sampel yang diambil sampel sebanyak 30 lansia di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo Kecamatan Pare menggunakan teknik purposive sampling. Uji statistik menggunakan Spearman Rho. Penciptaan wirausaha produktif cukup sebanyak 13 responden . ,3%) dan kualitas hidup lansia yang baik sebanyak 12 responden . %). Analisis hasil uji Spearman Rho dengan nilai sig 2tailed adalah 0,000 yang artinya ada hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia. Lansia yang produktif berwirausaha dapat meningkakan kualitas hidupnya dengan memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Keywords: Entrepreneurial Productivity. Quality of Life. Elderly Jurnal Teras Kesehatan -1 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. PENDAHULUAN Lansia yang tidak produktif memiliki kegiatan yang tidak bermanfaat dalam mengisi waktu luangnya dan hanya bertumpu pada anggota keluarganya, sehingga kurang bahagia dan mempengaruhi kesejahteraan sosial-ekonomi lansia yang belum terpenuhi membuah kualitas hidup lansia menurun (Prakarsa, 2. Lansia yang tidak poduktif akan mengalami masalah psikologis dengan masalah harga diri rendah, karena merasa tidak berguna. Lansia yang sudah tidak produktif dalam memenuhi kebutuhannya secara mandiri dapat menurunkan kualitas hidupnya (Febriyati & Suyanto, 2. Munculnya permasalah yang dihadapi lansia dengan adanya keterbatasan yang dimiliki lansia akibat penurunan fungsi tubu perlu tindakan yang nyata dari dukungan keluarga dan dukungan sosial disekitarnya. Kualitas hidup lansia yang buruk berdampak pada penurunan produktifitas, kesejahteraan, kebahagian dan mudah mengalami sakit sakitan akibat proses pikir lansia yang banyak mengalami keterbatas (Bornet et. al, 2. Menurut World Health Organization (WHO), memperkirakan tahun 2025 jumlah lansia di seluruh dunia akan mencapai 1,2 miliar orang yang akan terus bertambah hingga 2 miliar orang di tahun WHO juga memperkirakan 75% populasi lansia di dunia pada tahun 2025 berada di negara berkembang, setengah jumlah lansia di dunia berada di Asia (WHO, 2. Pada tahun 2021, sekitar satu dari dua . ,46 perse. lansia masih aktif bekerja. Lapangan usaha pertanian menjadi sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja lansia, yaitu sebesar 53,10 persen. Sekitar enam dari sepuluh lansia bekerja sebagai pemilik usaha, baik yang berusaha sendiri . ,34 perse. , berusaha dibantu buruh tidak dibayar . ,76 perse. , maupun dibantu buruh dibayar . ,23 perse. Sebanyak 86,02 persen lansia bekerja di sektor informal, yang menjadikannya rentan karena tidak memiliki perlindungan ketenagakerjaan, kontrak pekerjaan, maupun imbalan yang layak. Menurut jam kerja, sekitar satu dari lima . ,54 perse. lansia bekerja secara berlebihan, yaitu jumlah jam kerja yang lebih dari 48 jam dalam seminggu (BPS, 2. Berdasarkan studi pendahuluan di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo pada tanggal 4 Februari 2022 dengan melihat data penduduk Dusun Puhrejo, menunjukkan data bahwa total lansia di Dusun tersebut sebanyak 45 lansia. Jenis kelamin lansia paling banyak adalah perempuan sejumlah 29 lansia . %) dan lansia yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 lansia . %). Lansia yag masih produktif sebanyak 32 lansia. Peneliti juga melakukan studi dengan wawancara pada 3 lansia yang masih produktif terkait dengan wirausaha yang sudah dijalankannya, mereka mengatakan bahwa sudah menjalankan wirausahanya lebih dari 15 tahun. Lansia tersebut memiliki sikap yang interaktif, suka bergaul dengan teman sebayanya dan lingkungan disekitarnya, kondisi fisik yang sehat, serta perasaan senang dan masih berguna bagi anak-anaknya. Lansia atau lanjut usia produktif memiliki kegiatan yang lebih bermanfaat dalam mengisi waktu luang sehingga lebih bahagia. Pandangan selama ini bahwa lansia merupakan kelompok rentan yang menjadi beban keluarga, masyarakat, dan negara harus diubah. Usia lanjut memungkinkan seseorang bekerja memperoleh penghasilan barang dan jasa bagi orang lain. Mereka yang masih mau dan mampu berdaya guna (Akhmad, 2. Kesehatan lansia yang baik berimplikasi pada peningkatan akses terhadap pasar kerja, peningkatan produktivitas dan kekayaan, pengurangan biaya perawatan kesehatan, serta hubungan sosial yang baik dan usia harapan hidup lansia. Ekspektasi terhadap kualitas kehidupan lansia adalah salah satu indikator untuk mengukur kondisi kesehatan lansia (Phadli dkk, 2. Menurut World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) menjelaskan bahwa kualitas hidup merupakan suatu persepsi individu dalam konteks budaya dan sistem nilai yang terkait di masyarakat dalam mencapai tujuan, harapan, standar dan perhatian terhadap kehidupanya (Iwan. Indra dan Udin, 2. Menurut Seangpraw et al. kualitas hidup merupakan salah satu indikator hidup sehat, khususnya pada lansia. Aspek penting untuk menjaga kualitas hidup adalah Jurnal Teras Kesehatan -2 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. dimensi psikologis. Perubahan fungsi psikologis pada lansia akan sangat mempengaruhi kualitas Para lansia yang memiliki kondisi mental yang baik cenderung melakukan hal positif untuk menunjang kualitas hidup. Sebaliknya lansia yang mengalami kondisi mental yang buruk dapat mengarah pada penurunan kesehatan dan kualitas hidupnya. Oleh karena itu sangatlah penting untuk memperhatikan kesehatan jiwa lansia (Ratnawati et al. , 2. Pada lansia penurunan kualitas hidup dapat diakibatkan oleh adanya gangguan-gangguan psikologis kejiwaan yang muncul seiring dengan proses menua (Mahadewi & Ardani, 2. Peran anggota keluarga untuk tidak memberikan tanggung jawab yang besar kepada lansia, karena sudah selayaknya penduduk lanjut usia menikmati hari tuanya tanpa beban berat keluarga, namun lansia dapat bekerja sesuai dengan kemampuan fisiknya dan tidak berlebihan. Seharusnya lansia tidak mencurahkan waktunya untuk bekerja secara berlebihan dan lebih meluangkan waktunya untuk beristirahat (Iwan. Indra dan Udin, 2. Solusi peningkatan produktivitas usaha lansia ditunjang dengan strategi dari Rencana Aksi Nasional Lanjut Usia 2016Ai2019 dalam mewujudkan peningkatan kualitas hidup lansia adalah dengan memperkuat dasar hukum pelaksanaan pelayanan kesehatan lansia. Strategi nasional kelanjutusiaan berisi tentang: . Pembangunan masyarakat dan Sumber Daya Manusia terkait kelanjutusiaan. Penguatan institusi pelaksana strategi kelanjutusiaan. Peningkatan perlindungan sosial, jaminan pendapatan, dan kapasitas individu. Peningkatan kualitas kesehatan lanjut usia. Perlindungan, pemenuhan, dan penghormatan terhadap lansia (Phadila dkk, 2. Berdasarkan hal diatas, peneliti tertarik meneliti tentang AyHubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten KediriAy METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian crossectional study. Desain ini digunakan untuk mempelajari hubungan produktivitas wirausaha yang dilakukan lansia dalam aktifitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang dijalani lansia. Desain ini hanya mengidentifikasi satu kali saja dan pengukuran variabel responden dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut, kemudian peneliti tidak melakukan tindak lanjut. Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh lansia yang masih produktif dalam wirausaha di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo Kecamatan Pare sebanyak 32 lansia. Peneliti dalam mementukan sampel menggunakan rumus slovin untuk mengantisipasi ketersediaan responden, sehingga didapatkan jumlah sebanyak 30 responden. Penelitian menggunakan teknik purposive sampling yang bertujuan untuk mengetahui jumlah sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian dan sesuai proses pemilihan pada kondisi tenpat penelitian. Kriteria sampel dalam penelitian ini berupa: Lansia yang tinggal di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo, . Lansia yang aktif melakukan kegiatan sehari Ae hari secara produktif, . Lansia yang memiliki wirausaha. Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner pada variabel produktivitas wirausaha dan variabel kualitas hidup lansia. Instrumen produktivitas wirausaha memiliki empat indikator produktivotas kerja, antara lain : . Pengetahuan. Keterampilan. Kemampuam. Sikap. Empat indikator tersebut dikembangkan menjadi dalam 10 item pernyataan lansia menggunakan skala linkert dengan jawaban favorable . dan unfavorable . dengan penilaian skor 03. Hasil skor seluruh item dijumlahkan dan diprosentasekan dengan kategori tingkat produktifitas wirausaha lansia : . Kurang = <56%. Cukup = 57 Ae 75%. dan Baik = 76 Ae 100%. Hasil validitas instrumen produktivitas wirausaha menggunakan uji Person dengan nilai r hitung diatas 0,623 > 0,444 ( r tabel dengan n=. yang menunjukkan valid pada 10 item pertanyaan, sedangkan hasil Jurnal Teras Kesehatan -3 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. reliabilitas instrumen produktivitas wirausaha menggunakan Cronbach's Alpha dengan nilai 0,722 yang menunjukkan reliabel pada 10 item pertanyaan. Instrumen pada kualitas hidup lansia menggunakan kuesioner WHOQOL (World Health Organization Quality Of Lif. -BREEF yang memiliki empat domain yaitu domain fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Semua pertanyaan berdasarkan pada skala Likert lima poin . yang fokus pada intensitas, kapasitas, frekuensi dan evaluasi. Skor pada variabel kualitas hidup lansia berdasarkan WHOQOL-BREFF memiliki jenis scoring yang bersifat positif dan negatif dengan jumlah pertanyaan sebanyak 26 item. Pertanyaan pada instrumen WHOQOL-BREFF memiliki jenis jawaban terhadap setiap item pertanyaan yang berbeda-beda. Terdapat lima pilihan jawaban pada setiap pertanyaan. Pada tiap pertanyaan jawaban poin terendah adalah 1 dan tertinggi adalah 5, kecuali untuk pertanyan nomor 3, 4, dan 26 karena pertanyaan bersifat negatif maka memiliki poin terendah adalah 5 dan tertinggi adalah 1. Skor tiap domain . aw scor. ditransformasikan dalam skala 0-100. Hasil dipersentasikan dengan cara pemberian skor dan diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : skor 0-20 = Kualitas hidup sangat skor 21-40 =Kualitas hidup buruk. skor 41-60 = Kualitas hidup sedang. skor 61-80 = Kualitas hidup baik . dan skor 81-100 = Kualitas hidup sangat baik. Analisa uji statistik untuk menganalisa hubungan antar variabel menggunakan uji spearman rho dengan tingkat signifikan 0,05. Jika hasil nilai p < 0,05 maka H0 Ditolak dan H1 diterima yang artinya ada hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Kemudian, peneliti menginterprestasikan seberapa kuat tingkat hubungan antar kedua variabel dalam bentuk kata berdasarkan hasil koefisien korelasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian ini akan menyajikan data tentang data umum dan data khusus kedua variabel. Hasil identifikasi data umum responden meliputi karateristik berdasarkan umur, jenis kelamin, riwayat pendidikan dan pekerjaan, serta status ekonomi dan sumber informasi yang akan dijabarkan dalam tabel dibawah ini. Tabel 1. Identifikasi Karakteristik Responden Karakteristik Lansia Hasil Umur Lansia 60-69 Tahun 70-79 Tahun 80-89 Tahun Jenis Kelamin Lansia Laki-laki Perempuan Riwayat Pendidikan Lansia Tidak sekolah SMA Riwayat Pekerjaan Tidak bekerja Petani Swasta Wiraswasta PNS Jurnal Teras Kesehatan -4 Total |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Karakteristik Lansia Status Ekonomi Rendah Sedang Tinggi Sumber informasi Televisi Radio Tenaga Kesehatan Hasil Total Berdasarkan tabel 1, didapatkan data tentang karakteristik lansia, antara lain . lansia memiliki umur antara 60-69 tahun sebanyak 21 responden . %), sebagian besar lansia berjenis kelamin perempuan sebanyak 16 responden . ,3%), pendidikan SD sebanyak 21 responden . %), pekerjaan sebagai wiraswasta sebanyak 11 responden . ,7%), status ekonomi sedang sebanyak 16 responden . ,3%) dan sumber informasi kesehatan lansia dari menonton TV sebanyak 17 responden . ,7%). Tabel 2. Identifikasi Produktivitas Wirausaha dan Kualitas Hidup pada Lansia Variabel Hasil Total Produktifitas wirausaha Kurang Cukup Baik Kualitas Hidup Sangat Buruk Buruk Sedang Baik Sangat Baik Berdasarkan tabel 2diatas , diketahui bahwa dari 30 lansia hampir setengah responden mempunyai produktivitas wirausaha dengan kategori cukup sebanyak 13 responden . ,3%). hampir setengah responden mempunyai kualitas hidup dengan kategori baik dan sangat baik dengan jumlah yang sama sebanyak 12 responden . %). Hasil analisis data uji spearman rho terhadap hubungan kedua variabel dapat dilihat pada tabel Tabel 4. Hasil Analisa Bivariat Hubungan Produktivitas Wirausaha Dengan Kualitas Hidup Lansia Variabel p-value Correlation Produktivitas wirausaha dengan 0,000 0,772 Kualitas hidup *nilai kemaknaan uji spearman rho A < . , dan n = 30 Berdasarkan tabel 4, hasil analisis spearman rho terhadap hubungan hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia yang mempunyai nilai sig . -taile. A = 0,05 atau A = 0,000 dan ini menunjukkan bahwa jadi A < A, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, artinya ada hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Tahun 2022, sedangkan nilai coefficient correlation sebesar Jurnal Teras Kesehatan -5 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. 0,749 yang artinya kekuatan hubungan termasuk kategori sangat kuat dan bersifat positif dengan interpretasi bahwa apabila produktifitas wirausaha lansia baik, maka kualitas hidup pada lansia akan baik dan bahkan sangat baik. Pembahasan Identifikasi Produktivitas Wirausaha Lansia Hasil identifikasi berdasarkan tabel 2 menunjukkan data bahwa dari 30 lansia hampir setengah responden mempunyai produktivitas wirausaha dengan kategori cukup sebanyak 13 responden . ,3%). Sedangkan produktivitas wurausaha yang paling sedikit ada pada ketegori kurang sebanyak 5 responden . ,7%). Menurut Fachrurazi . , wirausaha adalah orang yang mendirikan, mengelola, mengembangkan dan melembagakan usaha miliknya atau kemampuan yang dimiliki untuk melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengmbil keuntungn dalam rangka meraih sukses. Menurut Sukardi . , produktivitas kerja adalah suatu keberhasilan individu dalam mengerjakan tugasnya yang bisa dilihat dari segi dimensi keterikatan, keahlian merencanakan, daya usaha dalam pekerjaan dan produktivitas kerja secara keseluruhan. Menurut Elbandiansyah . , produktivitas dapat diukur melalui beberapa faktor yaitu . pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan sikap. Peneliti memberikan opini tentang hasil identifikasi produktivitas wirausaha lansia di Dusun Puhrejo memiliki kategori yang cukup dengan menunjukkan adanya data faktor yang mempengaruhi dari data demografi lansia dengan usia lansia yang masih produktif dalam melakukan wirausaha berusia antara 60-69 tahun dengan usia tersebut kondisi lansia masih dalam keadaan fisik yang mampu melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri. Lansia yang masih produktif dalam wirausaha paling banyak adalah berjenis kelamin laki-laki, karena laki-laki sebagai kepala keluarga dan sudah terbiasa mencari nafkah secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan Peneliti juga berpendapat selain faktor diatas, lansia yang masih produktif dalam wirausaha memiliki riwayat pendidikan dengan lulusan Sekolah Dasar (SD), karena pada zamannya lansia yang memiliki pendidikan SD sudah mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam melakukan usaha secara mandiri dengan memahami kondisi yang dialami pada zamannya dalam memenuhi perekonoman keluarga. Faktor lain yang dapat mempengaruhi produktivitas lansia yang cuku karena adanya riwayat bekerja sebagian besar berprofesi sebagai wirausahawan atau pedagang, karena lansia sudah terbiasa bekerja sebagai pedagang sejalan dengan pengalaman wirausaha sampai menuju lansia. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Fani dan I Gusti . menyatakan bahwa Umur responden yang memiliki jumlah terbanyak yaitu pada kelompok umur lansia muda yang berumur 65-69 tahun. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak lansia yang memiliki keinginan untuk bekerja cukup besar, karena adanya motivasi yang tinggi untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Identifikasi Kualitas Hidup Lansia Hasil identifikasi berdasarkan tabel 3 menunjukkan data bahwa dari 30 lansia hampir setengah responden mempunyai kualitas hidup dengan kategori baik dan sangat baik denhgan jumlah yang sama sebanyak 12 responden . %). Sedangkan kualitas hidup lansia yang paling sedikit adalah dengan kategori buruk sebanyak 2 responden . ,7%) Jurnal Teras Kesehatan -6 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Menurut teori Kualitas hidup menurut World Health Organization Quality Of Life atau WHOQOL dapat diartikan sebagai persepsi individu mengenai posisi mereka dalam kehidupan dimana dalam konteks budaya dan sistem nilai mereka memiliki suatu tujuan, harapan serta standar dalam hidup (World Health Organization, 2. Aspek kualitas hidup memiliki empat domain yang menjadi parameter dalam penilaian kualitas hidup seseorang dan terdapat beberapa aspek dalam setiap domain berupa kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan (Ekasari. Riasmini, & Hartini, 2. Peneliti berpendapat bahwa lansia di Dusun Puhrejo sebagian besar memiliki kualitas hidup dengan kategori baik dan bahkan sangat baik. Lansia yang memiliki kualitas hidup yang baik mendapatkan kesejahteraan baik secara fisik, psikologis, sosial, budaya dan spiritualnya. Lansia yang memiliki kualitas hidup yang baik memiliki keterkaitan tentang usia yang masih tergolong mengalami masa lansia pada tahap awal dengan kondisi fisik yang masih mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan tidak melibatkan anggota keluarganaya untuk membantu kebutuhan hidupnya, sehingga lansia memiliki persepsi diri yang positif dan merasa hidup bahagia, serta sejahtera. Lansia yang memiliki kualitas hidup yang baik tersebut paling banyak adalah berjenis kelamin lakilaki yang sudah terbiasa hidup dengan pengalaman dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga, sehingga lansia berupaya untuk tetap tegar menghadapi kehidupannya dengan adanya pengalaman yang lebih keras dimasa mudanya. Kualitas hidup lansia yang baik juga dapat dipengaruhi karena adanya statis ekonomi yang dapat dikategorikan dengan tingkat perekonomian yang sedang, sehingga lansia sudah cukup puas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut dipengaruhi karena keadaan perkonomian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sisanya dapat membantu anggota keluarganya yang membutuhkannya, sehingga lansia memiliki harga diri yang tinggi untuk tetap memiliki persepsi untuk berguna bagi orang lain. Kualitas hidup lansia yang baik tersebut juga karena adanya dukungan keluarga yang baik untuk mendukung seluruh kegiatan lansia yang positif dan selalu membantu lansia jika membutuhkan bantuan sewaktu-waktu, serta masih diperhatikan oleh Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Indrayani dan Sudarto . , bahwa ada hubungan antaradukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia. Bentuk dukungan keluarga yang dapat diberikan oleh keluarga denan mendengarkan dan memperhatikan masalah yang dihadapi oleh lansia baik masalah kesehatan maupun masalah yang Selain itu, keluarga membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi lansia. Keluarga juga diharapkan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan lansia dalam upaya memecahkan masalah yang dihadapinya. Analisis Hubungan Peran Keluarga dengan Pemenuhan Aktualisasi Diri pada Lansia Demensia Hasil identifikasi berdasarkan tabel 4 menunjukkan data bahwa dari 30 responden hampir setengah responden yang memiliki produktivitas wirausaha dengan kategori AuBaikAy mempunyai kualitas hidup pada lansia dengan katogori AuBaik dan Sangat BaikAy dengan jumlah yang sama sebanyak 9 responden . %). Sedangkan berdasarkan hasil analisis spearman rho terhadap hubungan hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia yang mempunyai nilai sig . A = 0,05 atau A = 0,000 dan ini menunjukkan bahwa jadi A < A, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, artinya ada hubungan hubungan produktivitas wirausaha dengan kualitas hidup lansia di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Tahun 2022, sedangkan nilai coefficient correlation sebesar 0,749 yang artinya kekuatan hubungan termasuk kategori sangat Jurnal Teras Kesehatan -7 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. kuat dan bersifat positif dengan interpretasi bahwa apabila produktifitas wirausaha lansia baik, maka kualitas hidup pada lansia akan baik dan bahkan sangat baik. Produktivitas lansia yang masih berkerja dan wirausaha memiliki berkontribusi kepada terciptanya status kesehatan lansia. Kecukupan mobilitas fisik dalam sebuah pekerjaan akan berkontribusi terciptanya status kesehatan tinggi, interaksi sosial yang baik di lingkungannya termasuk tempat bekerja membuat lansia tidak akan merasa kesepian dalam hidupnya dan dapat meningkatkan kualitas hidupnya termasuk didalamnya status kesehatan (Agus, 2. Kualitas hidup pada lansia merupakan tingkat kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh lansia tentang berbagai aspek dalam kehidupannya. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa aspek dari domain kualitas hidup memiliki skor yang rendah seperti asupan energi yang kurang memadai, kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari, kepuasan dengan kapasitas kerja, kemampuan berkonsentrasi, penerimaan penampilan fisik, kepuasan kehidupan seks, pemenuhan keuangan, ketersediaan informasi, peluang untuk kegiatan rekreasi dan transportasi (Hidayati et al. , 2. Peneliti berpendapat bahwa adanya hubungan kualitas produktifitas wirausaha yang baik dengan kualitas hidup lansia yang baik, maka dapat dinyatakan sebagai hubungan korelasi yang positif untuk meningkatkan hubungan kedua variabel tersebut, sehingga lansia terus mendapatkan kebagaiaan dan kesejahteraan seiring dengan usia yang bertambah, namun masig berguna dan produktif dalam memenuhi kebutuhan secara mandiri. Lansia yang masih produktif dalam bekerja dalam kegiatan wirausaha dengan mengandalkan pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya disesuaikan dengan kondisi fisiknya mampu meningkatkan kesehatan secara psikologis yang membuat lansia memiliki harga diri yang tinggi dan hidup bahagia, sehingga lansia tidak merasa merepotkan anggota keluarga untuk menanggung beban hidup di hari tuanya. Peneliti juga berpendapat hubungan antara produktifitas usaha lansia dengan kualitas hidup lansia yang baik dapat membuat lansia tetap semangat dalam menjali sisa hidupnya dengan berpegang teguh pada keyakinan akan pengalaman dimasa muda yang diadaptasikan dengan kondisi fisik dimasa sekarang saat usia tua. Hal tersebut membuat lansia masih cukup puas dan memiliki arti yang cukup menghadapi permasalah hidupnya, sehingga lansia dapat bergerak bebas dan aktif memberikan manfaat bagi anak-anaknya dan bahkan orang disekelilingnya. Hal tesebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Seangpraw et al. , . memberikan rekomendasi yang jelas untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan menyiapkan program promosi kesehatan untuk meningkatkan aktivitas fisik dan mental, sumber pendapatan, keterlibatan masyarakat, hubungan keluarga dan persepsi status kesehatan. Penelitian Yen & Lin, . menunjukkan bahwa jenis aktivitas fisik yang disukai untuk orang dewasa yang lebih tua adalah serupa setelah relokasi dengan peningkatan keterlibatan produktif dalam aktivitas fisik. KESIMPULAN Lansia yang aktif dalam berwirausaha agar dapat hidup lebih bahagia dan sejahtera, sehingga lansia memiliki kualitas hidup yang baik dengan berupaya memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan merasa bangga akan kemampuan yang dimilikinya. Keluarga dapat memberikan bantuan kepada lansia yang masih produktif untuk membantu wirausaha yang ditekuninya, sehingga lansia tidak mudah lelah dan cepat tanggap dalam berwirausaha, serta memotivasi untuk tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat untuk kesehatannya. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Kepala Desa Tulungrejo, serta RT dan RW Puhrejo setempat yang telah berpartisipasi aktif dalam memberikan arahan dan mengkoordinasikan kepada lansia yang masih produktif dalam berwirausaha. Jurnal Teras Kesehatan -8 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. DAFTAR PUSTAKA