HYMNOS Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Volume 2 No. : 87-100 e-ISSN 3109-2586 DOI: https://doi. org/10. 64533/hymnos. Submitted, 24 Maret 2026. Revised, 09 April 2026. Accepted, 29 Mei 2026. Published, 30 Juni 2026 Model Kepemimpinan Perdana: Analisis Eksegetis 1 Timotius 3:1-7 Dan Implikasinya Bagi Manajemen Kepemimpinan Kristen Kontemporer LafaAoDiana1 Paulus Kunto Baskoro2 Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia. Yogyakarta1,2 Lafadiana83@gmail. ABSTRACT Leadership within the ecclesiastical context has become a crucial subject in theological and Christian management discourse, especially regarding holistic qualification standards. Previous studies on Christian leadership have tended to focus on charisma and administrative competency while neglecting the moral character and relational quality as articulated in Scripture. This study aims to exegetically examine 1 Timothy 3:1-7 in order to formulate a comprehensive model of exemplary leadership and its implications for contemporary Christian leadership management. The methodology employed is biblical exegesis through grammatical, syntactical, and historical-theological analysis of the Greek text. The findings reveal that the text presents three inseparable dimensions of leadership: moral character . , managerial competence . , and social reputation . arturyan kaly. This study contributes to constructing an integrated Christian leadership model encompassing spiritual, relational, and managerial dimensions as a theological foundation for developing contemporary church leaders. Keywords: 1 Timothy 3:1-7. Leader. Christian Leadership. Leadership Management. Church. ABSTRAK Kepemimpinan dalam konteks gereja telah menjadi perhatian serius dalam diskursus teologi dan manajemen Kristen, khususnya terkait standar kualifikasi yang bersifat holistik. Penelitian-penelitian terdahulu tentang kepemimpinan Kristen cenderung memfokuskan diri pada aspek karisma dan kemampuan administratif, namun mengabaikan dimensi karakter moral dan kualitas relasional sebagaimana dinyatakan teks Alkitab. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara eksegesis teks 1 Timotius 3:1-7 untuk merumuskan model kepemimpinan perdana yang komprehensif dan implikasinya bagi manajemen kepemimpinan Kristen kontemporer. Metode yang digunakan adalah eksegesis biblika melalui analisis gramatikal, sintaksis, dan teologi-historis terhadap teks bahasa Yunani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks ini memaparkan tiga dimensi kepemimpinan yang tak terpisahkan: dimensi karakter moral . , dimensi kompetensi manajerial . , dan dimensi reputasi sosial . arturyan kaly. Penelitian ini berkontribusi dalam membangun model kepemimpinan Kristen yang terintegrasi antara dimensi spiritual, relasional, dan manajerial sebagai landasan teologis bagi pengembangan pemimpin gereja kontemporer. Kata Kunci: 1 Timotius 3:1-7. Pemimpin. Kepemimpinan Kristen. Manajemen Kepemimpinan. Gereja. Copyright A2026 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. PENDAHULUAN Studi tentang kepemimpinan dalam komunitas iman merupakan salah satu topik yang terus berkembang dalam ranah teologi biblika dan manajemen Kristen. Dalam konteks gereja masa kini, persoalan tentang siapa yang layak disebut pemimpin dan standar apa yang harus dipenuhi menjadi semakin krusial mengingat kompleksitas tantangan sosial, moral, dan organisasional yang dihadapi oleh komunitas-komunitas iman. Surat Pertama Timotius, yang merupakan bagian dari korpus surat-surat Pastoral . ersama 2 Timotius dan Titu. , memberikan perhatian signifikan terhadap persoalan ini dengan memaparkan kualifikasi kepemimpinan secara eksplisit dan sistematis. Para pakar Perjanjian Baru sepakat bahwa surat-surat Pastoral ditulis dalam konteks ancaman ajaran sesat yang merongrong integritas doktrin dan moralitas gereja mula-mula. James David Pitcher mengobservasi bahwa kepemimpinan dalam Perjanjian Baru tidak pernah dipandang sebagai jabatan birokratis, melainkan sebagai panggilan yang menuntut kualitas karakter yang teruji dalam kehidupan sehari-hari. 1 Observasi ini menjadi titik tolak yang penting untuk memahami mengapa 1 Timotius 3:1-7 menempatkan daftar kualifikasi yang sangat rinci sebelum membicarakan fungsi kepemimpinan itu sendiri. Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji teks 1 Timotius 3:1-7 dari berbagai Stanley Porter dalam karyanya yang monumental mengenai Surat-Surat Pastoral meneliti kata-kata Yunani dalam daftar kualifikasi ini dan menyimpulkan bahwa sebagian besar kualifikasi bersifat etis dan relasional, bukan teknis-administratif. 2 Sementara itu. Philip H. Towner menempatkan teks ini dalam konteks sosio-historis kota Efesus abad pertama dan menunjukkan bahwa kualifikasi tersebut merespons konteks budaya Romawi-Helenis secara 3 Sehingga kualifikasi menjadi bagian penting sinergi yang dibangun. Dari perspektif teologi biblika. Rodman MacIlvaine telah mengkaji teologi kepemimpinan dalam Perjanjian Baru secara menyeluruh dan menyimpulkan bahwa model kepemimpinan yang diajukan Alkitab bersifat karakter-sentris, bukan karisma-sentris. 4 Paul M. Zher dalam komentarnya menekankan bahwa daftar kualifikasi dalam 1 Timotius 3 sebenarnya adalah cermin dari karakter Kristus yang harus terpantul dalam diri setiap pemimpin gereja. 5 Lee Gatiss memandang kualifikasi ini sebagai perpaduan antara tuntutan universal karakter Kristen dan tuntutan khusus bagi mereka yang mengemban tanggung jawab kepemimpinan komunal. Kepemimpinan yang sejati bukan saja bicara struktur namun bicara tentang karakter yang dewasa secara rohani. Meskipun penelitian-penelitian di atas telah memberikan kontribusi berharga, terdapat beberapa kesenjangan yang belum terjawab. Pertama, penelitian-penelitian tersebut belum secara memadai mengintegrasikan analisis eksegesis mendalam dengan kerangka manajemen kepemimpinan kontemporer. Analisis biblika seringkali berhenti pada pemaknaan teologis tanpa menjembataninya dengan implikasi manajerial yang konkret. Kedua, belum ada penelitian yang secara eksplisit merumuskan sebuah model kepemimpinan yang holistik berdasarkan 1 Timotius 3:1-7, yang mencakup dimensi karakter, kompetensi, dan reputasi secara sintetis dan David Pitcher Jr. AuBiblical Leadership Themes of the New Testament,Ay Journal of Applied Christian Leadership 16, no. : 12Ae17. Stanley E. Porter. The Pastoral Epistles: A Commentary on the Greek Text (Baker Books, 2. , 155. Philip H. Towner. The Letters to Timothy and Titus (Eerdmans, 2. , 248. Rodman MacIlvaine i et al. AuA Biblical Theology and Pastor Survey on Local Church Leadership. ,Ay Journal of Ministry & Theology 20, no. Paul M. Zehr, 1 & 2 Timothy. Titus: Believers Church Bible Commentary (MennoMedia. Inc. , 2. , 45. Lee Gatiss and Bradley G. Green, 1-2 Thessalonians, 1-2 Timothy. Titus. Philemon: New Testament Volume 12 (InterVarsity Press, 2. , 12:107. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 proporsional. Ketiga, implikasi teks ini bagi manajemen kepemimpinan Kristen kontemporer khususnya dalam konteks Indonesia masih menyisakan persoalan yang perlu dijawab lebih Berdasarkan kesenjangan penelitian di atas, penelitian ini dirumuskan dalam dua pertanyaan penelitian: . Apa makna teologis dari kualifikasi kepemimpinan yang dipaparkan dalam 1 Timotius 3:1-7 berdasarkan analisis eksegesis gramatikal dan historis-teologis? . Bagaimana implikasi dari temuan eksegesis tersebut bagi manajemen kepemimpinan Kristen kontemporer, khususnya dalam konteks gereja di Indonesia? Penelitian ini bertujuan: . Menghasilkan eksegesis yang komprehensif terhadap 1 Timotius 3:1-7 dengan memperhatikan aspek gramatikal, sintaksis, dan historis-teologis. Merumuskan model kepemimpinan perdana yang terintegrasi berdasarkan temuan eksegesis. Mengidentifikasi implikasi model tersebut bagi manajemen kepemimpinan Kristen Secara akademik, penelitian ini berkontribusi dalam tiga area yaitu kontribusi hermeneutik melalui analisis bahasa Yunani yang presisi, kontribusi teologi biblika melalui sintesis teologis yang sistematis dan kontribusi kepemimpinan gereja melalui konstruksi model yang aplikatif dan kontekstual. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kualitatif7 yang menggunakan pendekatan eksegesis biblika . iblical exegesi. Pendekatan ini dipilih karena objek utama penelitian adalah teks Alkitab berbahasa Yunani yang membutuhkan analisis linguistik mendalam. Eksegesis biblika merupakan metode interpretasi sistematis yang bertujuan mengungkap makna asli teks dalam konteks historis, linguistik, dan teologisnya. Dalam penelitian ini, eksegesis dilakukan dengan menggabungkan pendekatan gramatikal, sosio-historis, dan teologi biblika. Sumber data primer adalah teks 1 Timotius 3:1-7 dalam bahasa Yunani (Novum Testamentum Graece, edisi Nestle-Aland ke-. Sumber data sekunder meliputi: komentar akademik terhadap surat-surat Pastoral, artikel jurnal teologi dan kepemimpinan Kristen, leksikon bahasa Yunani Perjanjian Baru (BDAG. Thayer's. Liddell-Scot. , dan artikel jurnal manajemen kepemimpinan yang relevan. Analisis dilakukan melalui empat tahap: . Analisis gramatikal, yaitu mengkaji setiap kata kunci dalam teks bahasa Yunani, mencakup kelas kata, kasus, bentuk, dan fungsi sintaksisnya. Analisis historis, yaitu menempatkan teks dalam konteks situasi gereja Efesus abad pertama, latar belakang penulis, dan pembaca aslinya. Analisis teologis, yaitu mengeksplorasi dimensi-dimensi teologis yang terkandung dalam teks dan mengaitkannya dengan teologi kepemimpinan Perjanjian Baru secara menyeluruh. Sintesis aplikatif, yaitu merumuskan implikasi temuan eksegesis bagi manajemen kepemimpinan Kristen kontemporer melalui konstruksi model kepemimpinan yang integratif. HASIL DAN PEMBAHASAN Konteks Historis Teks Latar Belakang Surat Pertama Timotius Tesis utama bagian ini adalah pemahaman yang tepat terhadap kualifikasi kepemimpinan dalam 1 Timotius 3:1-7 hanya dapat dicapai dengan memahami konteks historis dan situasi komunitas yang menjadi alamat surat ini. Osvaldo Padilla menegaskan bahwa surat Pertama Timotius ditulis kepada Timotius yang sedang bertugas di gereja Efesus sebuah kota Albi Anggito and Johan Setiawan. Metodologi Penelitian Kualitatif (CV Jejak (Jejak Publishe. , 2. , 45. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 kosmopolitan yang menjadi pusat perdagangan dan agama di Asia Kecil. 8 Konteks ini penting karena nilai-nilai kepemimpinan yang berlaku dalam masyarakat Romawi-Helenis akan secara langsung memengaruhi ekspektasi jemaat terhadap pemimpin mereka. Howard Marshall menjelaskan bahwa pada masa penulisan surat ini, gereja di Efesus sedang menghadapi ancaman serius dari para pengajar sesat yang mengklaim otoritas kepemimpinan tetapi hidup dalam kemerosotan moral. 9 Situasi ini menjelaskan mengapa Paulus merasa perlu memaparkan kualifikasi kepemimpinan secara rinci: bukan sekadar daftar syarat administratif, melainkan sebuah respons pastoral yang bertujuan melindungi integritas dan kesaksian komunitas iman. George Montague mengamati bahwa daftar kualifikasi semacam ini memiliki padanan dalam literatur Yunani-Romawi tentang figur ideal seorang pemimpin, namun Paulus mengisinya dengan konten yang secara fundamental berbeda yaitu dimensi karakter yang lahir dari transformasi Injil. 10 Kepemimpinan berkaitan erat dengan figur yang dapat dipercaya oleh setiap orang, sebab kepemimpinan identic keteladanan. Sebagai sintesis, penulis memandang bahwa konteks historis ini tidak boleh direduksi menjadi sekadar latar belakang informatif. Konteks ini adalah bagian integral dari makna teks itu sendiri, kualifikasi kepemimpinan yang diajukan Paulus adalah sebuah antitesis yang disengaja terhadap model kepemimpinan yang berlaku di masyarakat Efesus abad pertama model yang bertumpu pada kekuasaan, prestise, kekayaan dan sekaligus sebuah tesis tentang kepemimpinan yang bertumpu pada karakter, integritas, dan pelayanan. Situasi Gereja Mula-Mula dan Kebutuhan Regulasi Kepemimpinan Tesis yang diajukan di sini adalah pengaturan kepemimpinan dalam 1 Timotius 3 mencerminkan fase perkembangan institusional gereja yang membutuhkan struktur yang lebih formal tanpa mengorbankan substansi karakter. James Thompson mengargumentasikan bahwa gereja mula-mula bergerak dari struktur kepemimpinan yang sangat karismatik dan fleksibel menuju struktur yang lebih terorganisir dan terstandarisasi, dan teks 1 Timotius 3 merupakan dokumen normatif dari transisi tersebut. 11 Towner memperkuat argumen ini dengan menunjukkan bahwa kebutuhan akan pemimpin yang memenuhi kualifikasi tertentu muncul sebagai respons terhadap pertumbuhan gereja dan meningkatnya kompleksitas tantangan yang 12 Gereja mula-mula berfokus kepada pribadi yang kuat dalam karakteristik Knight mencatat bahwa istilah episkopos . skup/penili. yang digunakan dalam teks ini merujuk pada fungsi pengawasan dan kepemimpinan pastoral yang mencakup dimensi doktrin, moral, dan administratif secara bersamaan. 13 Ini menunjukkan bahwa model kepemimpinan yang diajukan teks ini bersifat integratif, bukan fragmentaris, seorang pemimpin tidak dapat memisahkan kompetensi teknisnya dari integritas pribadinya. Penulis berpendapat bahwa prinsip integrasi ini memiliki relevansi langsung bagi manajemen kepemimpinan Kristen kontemporer, di mana seringkali terjadi dikotomi antara profesionalisme manajerial dan keutuhan karakter spiritual. Osvaldo Padilla. The Pastoral Epistles: An Introduction and Commentary (InterVarsity Press, 2. , 14:155. Howard Marshall and Philip H. Towner. The Pastoral Epistles (A&C Black, 2. , 472. George T. Montague and Mary Healy. First and Second Timothy. Titus (Baker Academic, 2. , 68. James Thompson. AuAuthority and Leadership in the New Testament,Ay Leaven 2, no. : 53. Philip H. Towner. The Letters to Timothy and Titus (Eerdmans, 2. , 253. Howard Marshall and Philip H. Towner. The Pastoral Epistles (A&C Black, 2. , 153. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 Analisis Eksegesis Teks 1 Timotius 3:1-7 Analisis Kata Kunci dan Struktur Gramatikal Tesis utama pada bagian ini adalah analisis gramatikal terhadap kata-kata kunci dalam 1 Timotius 3:1-7 mengungkapkan bahwa kualifikasi kepemimpinan yang dipaparkan bersifat menyeluruh dan mencakup tiga dimensi yang saling melengkapi yaitu moral, relasional, dan Teks ini diawali dengan frasa Pistos ho logos "terpercayalah perkataan ini" yang berfungsi sebagai penanda formal untuk menegaskan otoritas dan kepentingan pernyataan yang 14 Hubungan yang penting dalam moral, relasional dan komunikatif menjadi kajian penting dalam kepemimpinan. Kata pertama yang perlu dianalisis adalah anepilymptos (Yunani: aEC), yang diterjemahkan sebagai "tak bercacat" atau "tidak dapat dipersalahkan. " Mounce menjelaskan bahwa kata ini secara harfiah berarti "tidak dapat dipegang" atau "tidak dapat ditangkap berdasarkan kesalahan" suatu gambaran tentang integritas yang menyeluruh dan konsisten yang tidak memberikan celah bagi tuduhan yang valid. 15 Heinrich menambahkan bahwa kata ini bukan merujuk pada kesempurnaan moral yang absolut, melainkan pada reputasi yang tidak ternodai dan karakter yang terpelihara dalam kehidupan yang terlihat oleh komunitas. 16 Rodman menegaskan bahwa posisi kata ini di awal daftar kualifikasi menunjukkan bahwa integritas menyeluruh adalah kualitas yang mendasari dan melingkupi semua kualifikasi lainnya. Karakter menjadi kunci kehidupan dalam kekuatan kepemimpinan. Diskusi para pakar ini membawa pada kesimpulan sintesis bahwa anepilymptos bukan hanya soal moralitas pribadi yang bersifat privat, melainkan soal integritas publik yang terverifikasi dalam relasi sosial dan komunal. Ini berarti bahwa dalam manajemen kepemimpinan Kristen kontemporer, evaluasi terhadap karakter pemimpin tidak dapat hanya mengandalkan asesmen subjektif internal, melainkan membutuhkan verifikasi komunal yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan jemaat, keluarga, dan bahkan komunitas di luar Kualifikasi berikutnya yang memerlukan perhatian eksegesis adalah mias gunaikos andra ("suami dari satu istri"). George Montague mengargumentasikan bahwa frasa ini bukan semata tentang monogami dalam arti teknis-hukum, melainkan tentang kesetiaan dan dedikasi eksklusif dalam relasi pernikahan suatu kualitas yang secara langsung mencerminkan kemampuan seseorang untuk menjaga komitmen dan kepercayaan dalam konteks lain, termasuk kepemimpinan. 18 Thomas memperkuat interpretasi ini dengan menunjukkan bahwa dalam konteks budaya Romawi yang toleran terhadap perceraian dan hubungan ekstra-marital, frasa ini merupakan pernyataan yang sangat radikal tentang integritas relasional pemimpin. Sebuah integritas dalam membangun kepemimpinan yang kokoh, secara khusus dalam kehidupan keluarga. Towner melihat bahwa kualifikasi tentang pernikahan ini sebenarnya berfungsi sebagai mikrokosmos dari keseluruhan profil kepemimpinan, bagaimana seseorang mengelola relasi paling intim dan mendasar dalam hidupnya merupakan indikator bagaimana ia akan mengelola George W. Knight. The Pastoral Epistles (Eerdmans, 2. , 457. Knight. The Pastoral Epistles (Eerdmans, 2. , 346. Heinrich August Wilhelm Meyer. Critical and Exegetical Commentary on the New Testament (Funk & Wagnalls, 1. , 8:478. Rodman MacIlvaine i et al. AuA Biblical Theology and Pastor Survey on Local Church Leadership. ,Ay Journal of Ministry & Theology 20, no. : 128. George T. Montague and Mary Healy. First and Second Timothy. Titus (Baker Academic, 2. , 272. Thomas R. Schreiner. AuAn Interpretation of 1 Timothy 2: 9Ae15,Ay Women in the Church. An Analysis and Application of 1 Timothy 2: 9 15 . : 47. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 relasi dalam komunitas yang lebih luas. 20 Penulis menyimpulkan bahwa prinsip ini memiliki implikasi metodologis yang penting bagi proses seleksi pemimpin dalam gereja kontemporer, kualitas kepemimpinan seseorang tidak dapat dilepaskan dari kualitas kehidupan pribadinya, dan evaluasi terhadap keduanya harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi. Kualifikasi . erpikiran sehat/berjaga-jag. ijaksana/penguasaan dir. yang disebutkan berurutan dalam teks menunjukkan dimensi pengendalian diri yang mencakup aspek kognitif dan emosional. Lea dan Griffin menjelaskan bahwa nephaliou berakar dari kata yang berarti "tidak mabuk" tetapi berkembang secara metaforis menjadi kemampuan untuk mempertahankan kejernihan pikiran dan penilaian dalam segala situasi. 21 Marshall menambahkan bahwa syphronos merupakan salah satu nilai tertinggi dalam etika Yunani dan dipinjam Paulus untuk mengisi makna baru dalam konteks kepemimpinan Kristen pengendalian diri yang lahir bukan dari disiplin stoik, melainkan dari kerja Roh Kudus. 22 Dimana kemampuan untuk mempertahankan kehidupan yang benar sesuai Firman Tuhan menjadi bagian penting. Kata didaktikos ("cakap mengajar") merupakan satu-satunya kualifikasi yang secara eksplisit merujuk pada kemampuan teknis-fungsional, bukan karakter moral. John Norman mencatat bahwa posisinya di tengah daftar kualifikasi yang didominasi oleh karakter moral menunjukkan bahwa kemampuan mengajar bukan sekadar keterampilan komunikasi, melainkan ekspresi dari penguasaan dan penghayatan kebenaran yang mendalam. 23 Simpson mengamati bahwa didaktikos dalam konteks Surat Pastoral mencakup kemampuan untuk mengajar, membantah ajaran sesat, dan mempertahankan doktrin yang sehat suatu kompetensi yang menuntut penguasaan intelektual sekaligus integritas moral. 24 Sehingga kekuatan kepemimpinan ada pada pengajaran yang sehat sesuai kebenaran Firman Tuhan. Analisis sintesis penulis terhadap didaktikos adalah bahwa kemampuan ini merupakan jembatan antara dimensi karakter dan dimensi pengaruh pemimpin. Seorang pemimpin yang berkarakter baik tetapi tidak mampu mengkomunikasikan kebenaran dan memimpin pertumbuhan rohani komunitasnya tidak memenuhi standar kepemimpinan dalam teks ini. Sebaliknya, kemampuan mengajar tanpa landasan karakter moral yang kokoh akan menjadi alat yang berbahaya. Integrasi keduanya menghasilkan otoritas kepemimpinan yang legitimate dan Kualifikasi Rumah Tangga sebagai Laboratorium Kepemimpinan Tesis pada bagian ini adalah pengelolaan rumah tangga yang baik . ou idiou oikou kalys proistymeno. merupakan indikator dan prediktor yang valid bagi kemampuan kepemimpinan dalam komunitas gereja yang lebih luas. Teks secara eksplisit menggunakan analogi ini dalam ayat 5 "jika seseorang tidak tahu mengelola rumah tangganya sendiri, bagaimana ia dapat merawat jemaat Allah?" Heinrich menjelaskan bahwa logika analogi ini didasarkan pada kenyataan bahwa rumah tangga dalam dunia Romawi abad pertama adalah unit sosial-ekonomi yang kompleks dan kemampuan mengelolanya membutuhkan keterampilan kepemimpinan yang nyata otoritas, yang berwibawa, kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, dan Philip H. Towner. The Letters to Timothy and Titus (Eerdmans, 2. , 256. Thomas Lea and Hayne P. Griffin, 1, 2 Timothy. Titus: An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture (B&H Publishing Group, 1. , 34:110. Howard Marshall and Philip H. Towner. The Pastoral Epistles (A&C Black, 2. , 163. John Norman Davidson Kelly. Pastoral Epistles (A&C Black, 1. , 7:161. Edmund Kidley Simpson. The Pastoral Epistles (Eerdmans. , 1. , 72. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 kemampuan membangun relasi yang sehat. 25 Kehidupan keluarga menjadi pondasi penting dalam kepemimpinan. Daniel J. Harrington menambahkan nuansa penting bahwa ayat ini tidak hanya berbicara tentang kemampuan manajerial dalam mengelola rumah tangga, tetapi secara khusus menekankan cara pengelolaan tersebut dilakukan "dengan mengutamakan kewibawaan yang penuh kehormatan" . n pysy semnotyt. Aspek "bagaimana" ini sama pentingnya dengan aspek "apa" dari kepemimpinan. 26 Towner melihat bahwa frasa en pysy semnotyti menekankan kualitas kepemimpinan yang menginspirasi rasa hormat tanpa harus menciptakan rasa takut sebuah model kepemimpinan yang mengintegrasikan otoritas dan kehangatan. Kepemimpinan yang sejati tertuang dalam kehidupan yang berkualitas secara kerohanian. Dalam perspektif manajemen Kristen kontemporer, prinsip rumah tangga sebagai laboratorium kepemimpinan ini memiliki implikasi seleksi yang signifikan. Penulis berpendapat bahwa gereja-gereja kontemporer perlu mengembangkan sistem penilaian yang memperhatikan kualitas kehidupan pribadi dan keluarga calon pemimpin sebagai bagian dari proses seleksi yang terintegrasi, alih-alih hanya berfokus pada kemampuan profesional atau akademik yang bersifat teknis. Kualifikasi Reputasi Eksternal Kualifikasi terakhir dan penutup yang disebutkan dalam 1 Timotius 3:7 adalah keharusan memiliki "nama baik dari orang-orang luar" . arturyan kalyn ychein apy tyn exythe. Tesis yang diajukan adalah kualifikasi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristen memiliki dimensi misioner yang tidak dapat diabaikan pemimpin gereja adalah wajah publik dari komunitas iman dan kesaksian tentang Injil di hadapan dunia. Paulus Kunto Baskoro mengamati bahwa kualifikasi ini sering diabaikan dalam diskusi kepemimpinan Kristen, padahal ia merupakan salah satu kualifikasi yang paling relevan bagi konteks misi gereja di tengah masyarakat plural. Sehingga kualifikasi kehidupan pemimpin menjadi penting dalam kepemimpinan. James Thompson menjelaskan bahwa istilah tyn exythen ("orang-orang luar") secara spesifik merujuk pada mereka yang berada di luar komunitas gereja suatu kenyataan bahwa standar kepemimpinan Kristen tidak boleh hanya divalidasi secara internal oleh komunitas iman, tetapi juga harus dapat diakui oleh masyarakat umum. 29 Knight menambahkan bahwa frasa "jatuh ke dalam celaan dan jerat Iblis" yang mengikuti kualifikasi ini menunjukkan konsekuensi teologis yang serius dari pemimpin yang memiliki reputasi buruk di masyarakat, tidak hanya merusak kesaksian gereja, tetapi juga membuktikan bahwa ia telah terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh kuasa yang berlawanan dengan kehendak Allah. 30 Reputasi pemimpin menjadi dasar dalam pelaksanaan kepemimpinan. Knight memberikan perspektif yang melengkapi dengan menyatakan bahwa kualifikasi reputasi eksternal ini bukan tentang kebutuhan akan popularitas atau penerimaan sosial yang bersifat oportunistik, melainkan tentang integritas yang konsisten antara kehidupan publik dan privat suatu kualitas yang akan diakui dan dihormati oleh siapa pun yang mengamatinya dengan Heinrich August Wilhelm Meyer. Critical and Exegetical Commentary on the New Testament (Funk & Wagnalls, 1. , 8:481. Daniel J. Harrington. The Pastoral Epistles: First Timothy. Second Timothy. Titus, no. 12 (Liturgical Press, 2. , 279. Philip H. Towner. The Letters to Timothy and Titus (Eerdmans, 2. , 261. Paulus Kunto Baskoro. AuROLE MODEL KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF MENURUT SURAT 1 TIMOTIUS 3 DAN IMPLEMENTASI BAGI KEPEMIMPINAN GEREJA DI ERA 5. 0,Ay Manna Rafflesia 11, no. : 368Ae86. James Thompson. AuAuthority and Leadership in the New Testament,Ay Leaven 2, no. : 346. Howard Marshall and Philip H. Towner. The Pastoral Epistles (A&C Black, 2. , 235. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 jujur. 31 Penulis mensintesiskan bahwa dalam era media sosial dan transparansi publik yang semakin tinggi, kualifikasi ini semakin relevan dan membutuhkan perhatian yang lebih serius dalam proses pengembangan pemimpin Kristen. Sintesis Teologis: Model Kepemimpinan Perdana Tiga Dimensi Kepemimpinan yang Integratif Berdasarkan analisis eksegesis di atas, penulis merumuskan model kepemimpinan perdana sebagai model yang terdiri dari tiga dimensi yang saling melengkapi dan tidak dapat Tesis utama pada bagian ini adalah model kepemimpinan yang dibangun dari 1 Timotius 3:1-7 bersifat holistik dan integratif, mencakup dimensi karakter moral, kompetensi fungsional, dan reputasi sosial sebagai satu kesatuan yang tak terbagi. Rodman mengargumentasikan bahwa Paulus tidak menyusun daftar kualifikasi ini secara acak, melainkan secara terstruktur membangun sebuah profil kepemimpinan yang komprehensif. Sehingga pola kepemimpinan yang menjadi profil yang menjadi pondasi sebuah gereja. Dimensi pertama adalah dimensi karakter moral yang dicerminkan oleh kualifikasikualifikasi seperti anepilymptos, syphronos, kosmios, dan nephaliou. Dimensi ini merupakan fondasi yang tidak dapat dibangun di atas kualifikasi lainnya karena tanpa integritas moral yang kokoh, semua kompetensi teknis akan menjadi batu sandungan. Towner menyebutnya sebagai "inner life" dari kepemimpinan kehidupan batiniah yang menentukan kualitas kepemimpinan secara keseluruhan. 33 Dimana moral menjadi pondasi penting dalam kepemimpinan. Dimensi kedua adalah kompetensi fungsional yang terutama tercermin dalam didaktikos dan kemampuan mengelola rumah tangga. Dimensi ini mencakup kemampuan teknis dalam mengajar, mengorganisasi, dan memimpin keterampilan yang harus diasah dan dikembangkan secara aktif. Robert menegaskan bahwa kehadiran didaktikos dalam daftar ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristen tidak boleh anti-intelektual atau alergi terhadap kompetensi namun sebaliknya, ia menuntut penguasaan kebenaran yang mendalam dan kemampuan mengkomunikasikannya secara efektif. 34 Kemampuan dalam mengelola keluarga menjadi pondasi citra yang dibangun dalam kepemimpinan. Dimensi ketiga adalah reputasi sosial yang dicerminkan oleh kualifikasi pernikahan, pengelolaan keluarga, dan terutama marturyan kalyn. Dimensi ini menempatkan kepemimpinan dalam konteks relasional dan misioner yang luas. Lea dan Griffin mengingatkan bahwa reputasi bukan sesuatu yang dapat dibangun secara artifisial, melainkan merupakan akumulasi dari konsistensi karakter dan kompetensi yang dibuktikan dalam kehidupan nyata. 35 Scott menyimpulkan bahwa ketiga dimensi ini bersama-sama membentuk kepemimpinan yang memiliki ethos . , logos . , dan pathos . oneksi relasiona. tiga elemen retorika klasik yang direkontekstualisasi dalam kerangka kepemimpinan Kristen. 36 Sehingga kualitas kepemimpinan menjadi dasar kehidupan sosial. Sintesis penulis dari ketiga dimensi ini menghasilkan apa yang disebut sebagai "Model Kepemimpinan Perdana" (Prime Leadership Mode. sebuah model yang menempatkan karakter George W. Knight. The Pastoral Epistles (Eerdmans, 2. , 462. Rodman MacIlvaine i et al. AuA Biblical Theology and Pastor Survey on Local Church Leadership. ,Ay Journal of Ministry & Theology 20, no. : 234. Philip H. Towner. The Letters to Timothy and Titus (Eerdmans, 2. , 45. Robert Jamieson et al. A Commentary Critical and Explanatory on the Whole Bible (Zondervan, 1. , 324. Thomas Lea and Hayne P. Griffin, 1, 2 Timothy. Titus: An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture (B&H Publishing Group, 1. , 34:23. John Stott. The Message of 1 Timothy & Titus (InterVarsity Press, 2. , 123. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 sebagai fondasi, kompetensi sebagai kerangka, dan reputasi sebagai kesaksian. Model ini bersifat dinamis yaitu karakter yang baik akan menghasilkan kompetensi yang bermoral, dan kompetensi yang bermoral akan membangun reputasi yang positif namun sebaliknya, reputasi yang terjaga akan memperkuat otoritas karakter dan memotivasi pengembangan kompetensi lebih lanjut. Relevansi Model dalam Teologi Kepemimpinan Model kepemimpinan perdana yang dirumuskan dari 1 Timotius 3:1-7 memiliki landasan teologis yang kuat dalam teologi Perjanjian Baru secara keseluruhan. Susanto mengobservasi bahwa model kepemimpinan yang berfokus pada karakter ini selaras dengan konsep kepemimpinan pelayan . ervant leadershi. yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus Kristus 37 Simpson melihat kontinuitas teologis antara model kepemimpinan dalam 1 Timotius 3 dengan ajaran Yesus tentang kebesaran yang dicapai melalui pelayanan, bukan melalui dominasi kekuasaan. 38 Kepemimpinan dengan hati hamba menjadi pola penting kepemimpinan Rodman menegaskan bahwa model kepemimpinan Perjanjian Baru secara keseluruhan, termasuk yang dipaparkan dalam 1 Timotius 3, bersifat teosentris, standar kepemimpinan yang tertinggi bukan ditentukan oleh konvensi budaya atau tuntutan pasar, melainkan oleh hakikat dan karakter Allah sendiri yang tercermin dalam Yesus Kristus. 39 Ini berarti bahwa model kepemimpinan perdana bukan hanya sebuah panduan praktis, melainkan sebuah visi teologis tentang kepemimpinan yang mencerminkan karakter Allah di tengah komunitas manusia. Implikasi bagi Manajemen Kepemimpinan Kristen Kontemporer Implikasi bagi Seleksi dan Rekrutmen Pemimpin Temuan eksegesis di atas memiliki implikasi langsung bagi proses seleksi dan rekrutmen pemimpin dalam gereja kontemporer. Tesis yang diajukan adalah gereja-gereja kontemporer membutuhkan sistem seleksi pemimpin yang komprehensif, mencakup evaluasi karakter, kompetensi, dan reputasi secara terintegrasi. Marshall menekankan bahwa kualifikasi dalam 1 Timotius 3 bukanlah daftar syarat minimum yang dapat dikurangi atau dikompromikan berdasarkan kebutuhan situasional, melainkan standar yang harus dipenuhi secara 40 Kualifikasi kehidupan menjadi standart kehidupan pemimpin yang menjadi dasar Implikasi praktisnya mencakup: . Penilaian multi-dimensi yang melibatkan evaluasi karakter melalui referensi dari berbagai pihak termasuk orang-orang di luar komunitas gereja. Periode probasi yang cukup untuk mengamati konsistensi karakter dalam berbagai situasi. Perhatian khusus terhadap kualitas kehidupan keluarga sebagai indikator kemampuan kepemimpinan yang lebih luas. Towner mengingatkan bahwa teks secara eksplisit melarang menempatkan orang yang baru bertobat . dalam posisi kepemimpinan prinsip kematangan yang memerlukan waktu dan proses yang tidak dapat dipercepat secara artifisial. Imeldayanti Mangape et al. AuModel Kepemimpinan Kristen Yang Relevan Untuk Pemuda Dalam Konteks Kontemporer,Ay Jurnal Pendidikan Dan Keguruan 3, no. : 189Ae203. Edmund Kidley Simpson. The Pastoral Epistles (Eerdmans. , 1. , 58. Rodman MacIlvaine i et al. AuA Biblical Theology and Pastor Survey on Local Church Leadership. ,Ay Journal of Ministry & Theology 20, no. : 123. Howard Marshall and Philip H. Towner. The Pastoral Epistles (A&C Black, 2. , 172. Philip H. Towner. The Letters to Timothy and Titus (Eerdmans, 2. , 270. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 Karakter pemimpin menjadi dasar kekuatan dalam kepemimpinan yang ideal dan sesuai kebenaran Firman Tuhan. Implikasi bagi Pengembangan dan Pembinaan Pemimpin Model kepemimpinan perdana juga memiliki implikasi signifikan bagi program pengembangan pemimpin gereja. Simpson menegaskan bahwa karena kepemimpinan dalam teks ini bersifat holistik, maka pengembangannya pun harus holistik tidak dapat hanya berfokus pada keterampilan berkhotbah atau manajemen organisasi, tetapi harus mencakup pembentukan karakter yang menyeluruh. 42 Paulus Kunto Baskoro mengusulkan bahwa program pembinaan pemimpin gereja di Indonesia perlu mengintegrasikan komponen spiritual formation, pengembangan kompetensi pastoral, dan pelatihan kepemimpinan organisasi dalam satu kurikulum yang terintegrasi. 43 Pengembangan program kepemimpinan harus disertai dengan kajian penting dalam kehidupan kepemimpinan yang berdaya guna. Iswanto menambahkan dimensi relasional dengan menekankan pentingnya mentoring dan pendampingan dalam proses pembinaan pemimpin sebuah pendekatan yang selaras dengan pola Paulus - Timotius yang tercermin dalam surat ini sendiri. 44 Penulis berpendapat bahwa implikasi ini sangat relevan bagi konteks gereja Indonesia, di mana seringkali terdapat tekanan untuk mempercepat promosi pemimpin berbakat tanpa memberikan waktu dan ruang yang cukup bagi pematangan karakter dan pengalaman kepemimpinan yang sesungguhnya. Implikasi bagi Akuntabilitas dan Tata Kelola Gereja Dimensi reputasi dalam model kepemimpinan perdana memiliki implikasi langsung bagi sistem akuntabilitas dan tata kelola gereja. Tesis yang diajukan adalah gereja-gereja kontemporer membutuhkan sistem akuntabilitas yang melibatkan evaluasi eksternal, bukan hanya internal. Ezra Tari mengobservasi bahwa salah satu kelemahan tata kelola gereja di Indonesia adalah kurangnya mekanisme akuntabilitas yang transparan dan melibatkan pemangku kepentingan yang beragam. 45 Temuan eksegesis yang menekankan reputasi eksternal sebagai syarat kepemimpinan seharusnya mendorong gereja-gereja untuk membangun sistem akuntabilitas yang lebih terbuka dan responsif terhadap masukan dari luar. Heinirich menegaskan bahwa frasa "tidak suka bergumul" . dan "tidak tamak" . yang disebutkan dalam teks menunjukkan bahwa Paulus sangat memperhatikan potensi penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh finansial dalam kepemimpinan gereja. Keegan menjelaskan bahwa dalam konteks sosial-ekonomi Efesus yang makmur, godaan untuk menggunakan posisi kepemimpinan demi keuntungan finansial sangat nyata, dan kualifikasikualifikasi ini merupakan pagar yang melindungi integritas kepemimpinan. 47 Marshall menambahkan bahwa sifat "tidak keras" . e plykte. tetapi "peramah" . menunjukkan model kepemimpinan yang mengandalkan pengaruh moral dan relasional, bukan dominasi dan Simpson. The Pastoral Epistles (Eerdmans. , 1. , 34. Paulus Kunto Baskoro and Farel Yosua Sualang. AuPrinsip-Prinsip Pelayanan Tuhan Yesus Menurut Matius 11: 28-31 Dan Relevansinya Bagi Karakteristik Kepemimpinan Gembala Sidang Masa Kini,Ay Miktab: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 2, no. : 35Ae51. Yun Iswanto. AuKepemimpinan Pelayan Era Modern,Ay Jurnal Administrasi Kantor 5, no. : 157Ae72. Ezra Tari et al. AuKepemimpinan Kristen Berdasarkan 1 Timotius 3: 1-7,Ay Jurnal Teruna Bhakti 2, no. : 15Ae21. Heinrich August Wilhelm Meyer. Critical and Exegetical Commentary on the New Testament (Funk & Wagnalls, 1. , 8:490. Terence J. Keegan. First and Second Timothy. Titus. Philemon: Volume 9 (Liturgical Press, 2. , 9:45. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 intimidasi. 48 Kekuasaan dalam kepemimpinan yang tidak ideal akan membawa pengaruh tidak Implikasi praktis bagi tata kelola gereja mencakup: . Pembentukan majelis atau dewan gereja yang memiliki kewenangan nyata untuk melakukan pengawasan terhadap . Transparansi dalam pengelolaan keuangan gereja sebagai wujud kualifikasi "tidak tamak". Mekanisme pengaduan yang aman bagi anggota jemaat yang menyaksikan pelanggaran karakter pemimpin. Keterbukaan terhadap evaluasi dari komunitas di luar gereja sebagai bagian dari akuntabilitas publik. Implikasi bagi Kesaksian Misi Gereja Dimensi reputasi eksternal dalam model kepemimpinan perdana memiliki implikasi misioner yang mendalam. Sitepu menekankan bahwa integritas pemimpin gereja merupakan prasyarat bagi efektivitas misi gereja di tengah masyarakat kredibilitas Injil yang diberitakan tidak dapat dilepaskan dari kredibilitas karakter orang yang memberitakannya. 49 Rodman memperluas perspektif ini dengan menunjukkan bahwa kepemimpinan yang bermartabat dan berintegritas merupakan bagian integral dari kesaksian gereja kepada dunia sebuah misi yang harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari pemimpin, bukan hanya dalam program-program misi formal. 50 Integritas menjadi bagian terpenting dalam program-program misi dalam Djemia Djadi mengingatkan bahwa dalam konteks Indonesia yang majemuk secara agama dan budaya, pemimpin gereja yang memiliki reputasi baik di tengah masyarakat luas bukan hanya di dalam komunitas Kristen menjadi jembatan yang sangat berharga bagi dialog antar-iman dan kesaksian Injil yang kontekstual. 51 Purwanti menambahkan bahwa kualitas kepemimpinan yang mencerminkan nilai-nilai universal kebaikan seperti kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama akan lebih mudah diakui dan dihormati oleh masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya. 52 Kepemimpinan dengan reputasi yang baik akan membawa kestabilan kepemimpinan yang sedang dibangun. Penulis menyimpulkan bahwa implikasi misioner ini menuntut gereja-gereja kontemporer untuk mempertimbangkan dimensi publik dari kepemimpinan mereka secara lebih Pemimpin gereja bukan hanya manajer internal komunitas iman, melainkan juga representan publik dari komunitas tersebut dan dari Injil yang dipercayakan kepadanya. Model kepemimpinan perdana yang dirumuskan dari 1 Timotius 3:1-7 menjadi landasan teologis yang kuat untuk membangun kesadaran ini dalam budaya kepemimpinan gereja kontemporer. KESIMPULAN Penelitian ini telah menjawab dua pertanyaan penelitian yang diajukan di awal. Pertama, analisis eksegesis terhadap 1 Timotius 3:1-7 menunjukkan bahwa kualifikasi kepemimpinan yang dipaparkan dalam teks ini bersifat holistik dan terdiri dari tiga dimensi yang saling melengkapi yaitu dimensi karakter moral yang mencakup integritas, pengendalian diri, dan Howard Marshall and Philip H. Towner. The Pastoral Epistles (A&C Black, 2. , 47. Elisabeth Sitepu. AuKepemimpinan Kristen Di Dalam Gereja,Ay Jurnal Pendidikan Religius 1, no. : 7Ae Rodman MacIlvaine i et al. AuA Biblical Theology and Pastor Survey on Local Church Leadership. ,Ay Journal of Ministry & Theology 20, no. : 46. Jermia Djadi. AuKepemimpinan Kristen Yang Efektif,Ay Jurnal Jaffray 7, no. : 16Ae30. Eni Purwanti et al. AuKepemimpinan Kristen Dalam Konteks Penggembalaan Gereja Di Indonesia,Ay Journal of Religious and Socio-Cultural 2, no. : 89Ae107. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2026: 87-100 keteraturan hidup. Selanjutnya dimensi kompetensi fungsional yang mencakup kemampuan mengajar dan kecakapan manajerial, serta dimensi reputasi sosial yang mencakup integritas relasional dalam keluarga dan nama baik di hadapan masyarakat luas. Ketiga dimensi ini tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan membentuk satu kesatuan profil kepemimpinan yang tidak dapat dipilah-pilah. Kedua, dari temuan eksegesis ini dirumuskan Model Kepemimpinan Perdana sebuah model yang menempatkan karakter sebagai fondasi, kompetensi sebagai kerangka, dan reputasi sebagai kesaksian. Model ini memiliki empat implikasi utama bagi manajemen kepemimpinan Kristen kontemporer: . Proses seleksi pemimpin yang komprehensif dan multi-dimensional. Program pembinaan dan pengembangan pemimpin yang holistik, mencakup pembentukan karakter, pengembangan kompetensi, dan pengasahan kepekaan misione. Sistem akuntabilitas yang transparan dan melibatkan perspektif dari luar komunitas internal. Kesadaran misioner bahwa integritas kepemimpinan merupakan bagian integral dari kesaksian Injil kepada dunia. Kontribusi ilmiah penelitian ini mencakup tiga area. Secara hermeneutik, penelitian ini memberikan analisis gramatikal dan historis yang mendalam terhadap setiap kata kunci dalam teks, menghasilkan pemaknaan yang presisi dan kontekstual. Secara teologi biblika, penelitian ini merumuskan Model Kepemimpinan Perdana sebagai konsep teologis yang integratif dan Secara kepemimpinan gereja, penelitian ini menjembatani temuan eksegesis dengan implikasi manajerial yang konkret dan aplikatif, serta mengkontekstualisasikannya bagi kepemimpinan gereja Indonesia kontemporer. Untuk penelitian lanjutan, penulis merekomendasikan tiga arah pengembangan: . Studi komparatif antara kualifikasi kepemimpinan dalam 1 Timotius 3:1-7 dengan kualifikasi dalam Titus 1:5-9 dan 1 Timotius 5:17-22 untuk menghasilkan gambaran yang lebih komprehensif tentang model kepemimpinan pastoral dalam Surat-Surat Pastoral. Penelitian empiris tentang sejauh mana gereja-gereja di Indonesia menerapkan kualifikasi ini dalam proses seleksi dan evaluasi pemimpin mereka. Kajian teologis tentang relevansi Model Kepemimpinan Perdana bagi konteks kepemimpinan non-gerejawi, termasuk kepemimpinan dalam organisasi Kristen, lembaga pendidikan Kristen, dan dunia bisnis Kristen. DAFTAR PUSTAKA