Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Faktor yang Berhubungan dengan Stres Kerja pada Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar Factors Associated with Work Stress in Tronton Drivers of PT. Tirta Kencana Pratama at the Makassar Container Terminal Muh. Ilham Syamsul*, 2Nismawati, 3Marhtyni, 4Jusman Usman, 5A. Indrawati 1,2,3,4,5 UniversitasIndonesia Timur Makassar (*)Email Korespondensi: muhammadilhamsyamsul01@gmail. Abstrak Pengemudi yang stres dapat menyebabkan kecenderungan disposisional untuk mengemudi dengan cara yang negatif. Pengemudi yang stres dapat menyebabkan kurangnya tingkat konsentrasi, peningkatan kecelakaan, dan perilaku mengemudi yang agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada supir tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar. Jenis penelitian yang digunakan observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 50. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode total Analisis data yaitu univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian berdasarkan analisis bivariat menyatakan ada hubungan masa kerja dengan stres kerja dengan nilai p= 0,000, ada hubungan kelelahan kerja dengan stres kerja dengan niali p= 0,000. Beban kerja tidak berhubungan terhadap stres kerja dengan nilai p= 0,108, umur tidak berhubungan terhadap stres kerja dengan nilai p= 0,643. Kesimpulan pada pinilitian ini adalah ada hubungan antara masa kerja, kelelahan dengan stres kerja pada supir dan tidak ada hubungan antara beban kerja dan umur dengan stres kerja pada supir. Penelitian ini menyarankan untuk supir tronton hindari beban kerja tambahan. Supir yang memiliki masa kerja lama sebaiknya mendapatkan perhatian khusus. Supir dengan umur yang tidak produktif sebaiknya tidak menempuh jarak yang jauh. Supir harus memiliki waktu istirahat yang cukup agar tidak mudah kelelahan. Kata Kunci: Sress Kerja. Beban Kerja. Masa Kerja. Umur. Kelelahan Abstract Stressed drivers can cause a dispositional tendency to drive in a negative way. Stressed drivers can cause a lack of concentration, increased accidents, and aggressive driving behavior. This study aims to determine the related factors of occupational stress among semi-trailer truck drivers of PT. Tirta Kencana Pratama performance at Makassar Container Port. The type of this study is observational with the Cross-Sectional Study design. The population is 50 drivers as respondents chosen using total sampling technique. Data analysis is univariate and bivariate using the chi-square test. The result of this study showed that there was a correlation between a work period . = 0,. and work fatigue . = 0,. through occupational stress, but there was no correlation between workload . = 0. and age . = 0. through occupational stress. The conclusion of this study is that there is a relationship between work period, fatigue with occupation stress on the driver and there is no relationship between workload and age with occupation stress on the driver. This study recommends that the tronton driver avoid additional workload. Drivers who have a long service life should get special Drivers with unproductive age should not travel long distances. The driver must have enough rest so that he does not get tired easily. Keywords: Occupation stress. Workload. Work Period. Age. Fatigue 30 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 PENDAHULUAN Stres kerja merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh karyawan dalam lingkungan kerjanya, sumber stress dapat terjadi karena pengaruh internal perusahaan maupun ekstrenal perusahaan. Menurut data dari International labour organization (ILO) dalam job ayodele Eundayo . , menunjukkan bahwa sekitar 10% pekerja mengalami depresi, stress, dan kecemasan di Amerika Serikat, inggris, jerman dan Finlandia, ada 50% pekerja yang melaporkan tanda-tanda stress1. Northwestern National Life Insurance melakukan penelitian tentang dampak stress ditempat kerja, menunjukkan yaitu satu juta absensi di tempat kerja berkaitan dengan masalah stres, 27% mengatakan bahwa aspek pekerjaan menimbulkan stress paling tinggi dalam hidup mereka, 46% menganggap tingkat stress kerja sebagai tingkat stress yang sangat tinggi, sepertiga pekerja berniat untuk langsung mengundurkan diri karena stress dalam pekerjaan mereka dan 70% berkata stress kerja telah merusak kesehatan fisik dan mental mereka. Losyk . alam Marchelia, 2. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) Didalam penelitian Ibrahim . menyatakan Amerika Serikat mencatat sejak pada tahun 90-an, 80% biaya kompensasi kesehatan tenaga kerja digunakan untuk penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan (Work Related Disease. yaitu Stress Related Disorder dan sedangkan di Inggris (UK) tercatat sebesar 71% manager mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental akibat dari stress kerja dan juga dijumpai di Australia3. Mental health commission Canada . , mencatat bahwa setidaknya terdapat 1 dari 5 orang kanada yang mengalami masalah kesehatan psikologis pada tahun tertentu, serta terdapat 47% kanada menganggap bahwa pekerjaan mereka merupakan bagian yang paling menyebabkan stress dalam kehidupan sehari-hari4. Berdasarkan hasil survey yang diperoleh dari CFO innovation Asia Staf . , tingkat stress kerja dinegara-negara seperti Malaysia mencapai 57%. Hongkong 62%. Singapura 63%. Vietnam 71%, cina 73%. Indonesia 73%, dan Thailand 75%3. Menurut data dari Indonesia police watch (IPW), sejak tahun 2011 hingga 2016 terdapat puluhan polisi telah melakukan aksi bunuh diri. hasil riset mabes polri yang menyebutkan 80% anggota polisi reserse kriminal . dan polisi lalu lintas . , mengalami stress akibat beban atau tekanan kerja . Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Provinsi dengan prevalensi gangguan mental emosional atau stres tertinggi adalah Sulawesi tengah sebesar 11,6%. Sedangkan prevalensi penduduk Sulawesi Tenggara yang mengalami gangguan mental emosional atau stress sebesar 4,1% data ini menempatkan Sulawesi tenggara berada diurutan 9 dengan prevalensi jumlah gangguan mental dan emosional terendah dan dataini masih dibawah data nasional jumlah gangguan mental dan emosional6. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh AWibowo. Arifin Budhu. 2012A terkait Dampak Beban Kerja Terhadap Stres Kerja Pada Perawat RSUD Prof. Dr. Soekandar Mojokerto bahwares ponden memiliki tingkat beban kerja rendah sebanyak 18,9%, beban kerja sedang 67,8% dan beban kerja tinggi sebanyak 13,3%. Sedangkan kategori tidak mengalami stres kerja sebanyak 95,6% sedangkan untuk stres kerja sebesar 4,4% 7. Hasil penitian lainya kusuma . dilakukan pada pekerja di PT Fresnel Perdana Mandiri Jakarta Selatan dari hasil uji statistik dengan metode chisquare menunjukan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja6. Berdasarkan penjelasan tersebut peneliti ingin mengetahui Faktor Yang Berhubungan Dengan Stres Kerja Pada Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama Di Terminal Petikemas Makassar. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah Observasional dengan pendekatan cross sectional study, yaitu variabel independen dan dependen diamati pada periode waktu yang sama dengan tujuan untuk mengetahui Faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada supir tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar. Penelitian inidilakukan di Terminal Petikemas Makassar sedangkan waktu penelitiannya mulai dari bulan Agustus 2019 Ae September 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari variabel yang menyangkut masalah yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar sebanyak 50 populasi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Total Sampling 31 | P a g e Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Data primer yaitu data yang diperoleh peneliti pada saat melakukan observasi langsung dengan menggunakan lembar observasi . Pengolahan Data digunakan dengan system komputerisasi melalui alat bantu program analisis komputer untuk memperoleh nilai statistik dalam bentuk tabel dari data hasil observasi melalui kusioner. HASIL Hasil analisis univariat diketahui bahwa dari 50 supir tronton yang mengalami stres kerja sebanyak 54,0% dan yang tidak mengalami sebanyak 46,0%, beban kerja berat sebanyak 36,0% dan beban kerja ringan sebanyak 64,0%, umur yang tidak produktif sebanyak 40,0% sedangkan yang produktif sebanyak 60,0%, dan yang mengalami kelelahan sebanyak 56,0% dan yang tidak mengalami kelelahan sebanyak 44,0%. Hubungan masa kerja dengan stres kerja supir tronton Dari tabel 1 menunjukkan bahwa variabel masa kerja ada hubungan dengan stres kerja dengan nilai p= Tabel 1. Hubungan Masa Kerja Dengan Stres Kerja Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar Tahun 2019 Stres Kerja Masa Kerja Jumlah . Mengalami Tidak Mengalami 18,013 Lama . Baru Jumlah Sumber. Data primer Hubungan kelelahan dengan stres kerja supir tronton Tabel 2. Hubungan Kelelahan Dengan Stres Kerja Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar Tahun 2019 Stres Kerja Jumlah . Mengalami Tidak Mengalami 20,290 . Kelelahan Lelah Tidak Lelah Jumlah Sumber. Data primer Dari tabel 2 menunjukkan bahwa variabel kelelahan ada hubungan dengan stres kerja dengan nilai p=0. 32 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Hubungan beban kerja dengan stres kerja supir tronton Tabel 3. Hubungan Beban Kerja Dengan Stres Kerja Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar Tahun 2019 Stres Kerja Jumlah Mengalami Tidak Mengalami . Beban Kerja Berat Ringan 2,585 Jumlah Sumber. Data primer Dari tabel 3 menunjukkan bahwa variabel beban kerja tidak ada hubungan dengan stres kerja dengan nilai p= 0. Hubungan umur dengan stres kerja supir tronton Dari tabel 4 menunjukkan bahwa variabel umur tidak ada hubunngan dengan stres kerja dengan nilai p= Tabel 3. Hubungan Umur Dengan Stres Kerja Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar Tahun 2019 Stres Kerja Umur Jumlah Mengalami Tidak Mengalami . Tidak Produktif 0,215 Produktif Jumlah Sumber. Data primer PEMBAHASAN Hubungan masa kerja dengan stres kerja supir tronton Masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Panjangnya waktu terhitung mulai pertama kali pekerja masuk kerja hingga saat penelitian berlangsung. Masa kerjasupir pada penelitian ini dikelompokkan dalam 2 kategori yaitu masa kerja lama apabila Ou 6 tahun dan masa kerja baru apabila masa kerjanya < 6tahun. Pekerja yang bekerja sebagai supir mempertahankan pekerjaannya karena pendidikan yang rendah sehingga tidak ada pilihan lain sehingga tetap bekerja sebagai supir selama bertahun-tahun. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diperoleh dari 50 supir tronton terdapat tertinggi masa kerja lama sebanyak 62,0% dan terendah masa kerja baru sebanyak 38,0%. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa supir tronton masa kerja lama yang mengalami stres kerja sebanyak 77,4Au, hal ini dikarenakan supir tronton mengalami bosan dengan pekerjaannya dan sudah lama bekerja dan insentif tidak naik. Supir tronton masa kerja lama dan tidak mengalami stres kerja sebanyak 22,6Au, hal ini dikarenakan hubungan dengan atasan sangat baik sehingga supir tronton tidak mengalami stres. Supir tronton masa kerja baru dan mengalami stres kerja sebanyak 15,8Au, hal ini dikarenakan supir tronton belum berinteraksi dengan baik sesama supir, dan lingkungan kerjanya yang cukup panas. Supir tronton masa kerja baru dan tidak mengalami stres kerja sebanyak 84,2Au, hal ini dikarenakan supir tronton masa kerja baru belum terlu banyak mengalami tekanan dalam bekerja. Dari hasil uji chi-square antara masa kerja dengan stres kerja dapat diketahui nilai X 2 hitung A18,013A A X2 tabel A3,841A dan nilai pA0,000A A AA0,05A artinya ada hubungan masa kerja dengan stres kerja. 33 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasbi Ibrahim dkk A2016A menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara masa kerja dengan stres kerja pada pekerja Factory 2 PT. Maruki Internasional Indonesia Makassar8. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Apriliani R Manabung dkk A2018A menyatakan bahwa terdapat hubungan antara masa kerja dengan stres kerja pada tenaga kerja di PT. Pertamina TBBM Bitung6. Hubungan kelelahan dengan stres kerja supir tronton Kelelahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah faktor gejala kelelahan yang dialami oleh supir Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diperoleh dari 50 supir tronton terdapat mengalami kelelahan sebanyak 56,0% dan yang tidak mengalami sebanyak 44,0%. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa supir tronton lelah yang mengalami stres kerja sebanyak 82,1Au, hal ini disebabkan ketika supir tronton yang sudah capek tapi belum sampai ditempat tujuannya dan harus sampai tepat waktu. Supir tronton lelah yang tidak mengalami stres kerja sebanyak 17,9Au, hal ini disebabkan ketika supir tronton yang lelah supir tersebut menyempatkan untuk istrirahat sejenak. Supir tronton tidak lelah tapi mengalami stres kerja sebanyak 18,2Au, hal ini disebabkan ketika supir tronton berkendara mengalami macet selama Supir tronton tidak lelah dan tidak mengalami stres kerja sebanyak 81,8Au, hal ini disebabkan supir tronton ini memiliki jam istirahat yang cukup sehingga tidak muda mengalami lelah. Dari hasil uji chi-square antara kelelahan dengan stres kerja dapat diketahui nilai X 2 hitung A20,290A A X2 tabel A3,841A dan nilai pA0,000A A AA0,05A artinya ada hubungan kelelahan dengan stres kerja. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adila Windyananti A2010A di bagian tenaga kerja pengolahan kayu lapis Wreksa Rahayu. Boyolali yang mengemukakan bahwa kelelahan berhubungan denga stres kerja9. Hubungan beban kerja dengan stres kerja supir tronton Bekerja sebagai supir tronton tergolong pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik dalam menjalankan Beban kerja yang dalam penelitian ini adalah pekerjaan yang dibebankan kepada supir tronton yang sesuai dengan tupoksi dan lingkunganya. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diperoleh bahwa dari 50 supir terdapat 36,0% supir yang termasuk kategori bebankerja berat dan beban kerja ringan sebanyak 64,0%. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa supir tronton yang beban kerja berat mengalami stres kerja sebanyak 38,9Au, hal ini disebabkan karena adanya faktor lingkungan seperti suhu panas yang dialami supir tronton disaat mengemudi. Supir tronton yang beban kerja berat tapi tidak mengalami stres sebanyak 61,1Au, hal ini disebatkan walaupun supir tronton mengalami beban kerja berat tetapi supir tronton tidak mengalami hambatan ketika mengendarai. Supir tronton yang beban kerja ringan tapi mengalami stres kerja sebanyak 62,5Au, hal ini disebabkan karena supir tronton jenuh sepanjang perjalan dan juga beban kerjanya terlalu ringan sehingga terlalu monoton. Supir tronton yang beban kerja ringan dan yang tidak mengalami stres kerja sebanyak 37,5Au, hal ini dikarenakan supir tronton mempunyai hubungan baik sesama supir lainnya dan waktu kerjanya juga tidak terlalu banyak. Dari hasil uji chi-square antara beban kerja dengan stres kerja dapat diketahui nilai X 2 hitung A2,585A A X2 tabel A3,841A dan nilai pA0,108A A AA0,05A artinya tidak ada hubungan beban kerja dengan stres kerja. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Apriliani R Manabung dkk A2018A menyatakan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada tenaga kerja di PT. Pertamina TBBM Bitung6. Penelitian ini juga bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Arifin Budhi Wibowo A2012A menyatakan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada perawat RSUD Prof. Dr. soekandar Mojokerto7. Hubungan umur dengan stres kerja supir tronton Umur yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah tahun yang dihitung mulai dari supir tronton lahir sampai waktu penelitian ini dilakukan. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diperoleh dari 50 supir tronton terdapat umur tidak produktif sebanyak 40,0%, sedangkan umur produktif sebanyak 60,0%. 34 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Dalam penelitian ini ditemukan bahwa supir tronton umur tidak produktif dan mengalami sters kerja sebanyak 50,0Au, hal ini disebabkan supir tronton dengan umur tidak produktif mengalami banyak tekanantekanan yang didapati dalam pekerjaannya sehingga muda mengalami stres. Supir tronton umur tidak produktif dan tidak mengalami stres kerja sebanyak 50,0Au, hal ini disebabkan supir tronton sering mendengarkan musik sehingga nyaman dalam saat bekerja. Supir tronton umur produktif dan mengalami stres kerja sebanyak 56,7Au, hal ini disebabkan supir tronton umur produktif malas disaat memiliki kerjaan dengan jarak yang jauh. Supir tronton umur produktif dan tidak mengalami stres kerja sebanyak 43,3Au, hal ini disebabkan supir tronton umur produktif masih memiliki fisik dan mental yang kuat dalam bekerja. Dari hasil uji chi-square antara umur dengan stres kerja dapat diketahui nilai X 2 hitung A0,215A A X2 tabel A3,841A dan nilai pA0,643A A AA0,05A artinya tidak ada hubungan umur dengan stres kerja. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Julius Habibi dan Jefri A2018A menyatakan bahwa tidak ada hubungan umur dengan stres kerja pada pekerja di unit produksi PT. Borneo Melintang Buana Export3. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurafian Majid Pranomo A2013A menyatakan bahwa tidak ada hubungan umur dengan stres kerja pada anggota polisi satuan lalu lintas Polres Metro Bekasi Kota5. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan pada pinilitian ini adalah ada hubungan antara masa kerja, kelelahan dengan stres kerja pada supir dan tidak ada hubungan antara beban kerja dan umur dengan stres kerja pada supir. Penelitian ini menyarankan untuk supir tronton hindari beban kerja tambahan. Supir yang memiliki masa kerja lama sebaiknya mendapatkan perhatian khusus. Supir dengan umur yang tidak produktif sebaiknya tidak menempuh jarak yang Supir harus memiliki waktu istirahat yang cukup agar tidak mudah kelelahan. DAFTAR PUSTAKA