Fajar Historia Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan https://e-journal. id/index. php/fhs/index ISSN: 2549-5585 . Vol. 9 No. 1 2025, hal 29-41 Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran Melda Amelia Rohana,1* Aria Putra,1 Syaifudin1 Universitas Negeri Jakarta. Indonesia amelia22@gmail. Dikirim: 06-09-2024. Direvisi: 12-02-2025. Diterima: 13-02-2025. Diterbitkan. 30-04-2025 Abstrak: Ken Angrok atau Sri Ranggah Rajasa Amurwabhumi merupakan salah satu tokoh sejarah yang terkenal pada masa kerajaan Hindu-Budha sebagai pendiri kerajaan Singhasari atau Tumapel yang berdiri pada tahun 1222. Meskipun tokohnya sangat terkenal, namun belum dapat dipastikan asal usul dan kebenaran ceritanya karena belum ditemukan sumber primer berupa prasasti yang dikeluarkan langsung oleh Ken Angrok. Sumber yang menjelaskan dan menyebutkan Ken Angrok adalah sumber nonkontemporer yaitu kakawin Pararaton dan Negarakrtagama, serta prasasti dari zaman Wisnuwarddhana . aja keempat Singhasari atau Tumape. dan prasasti dari zaman Majapahit. Artikel ini ditulis untuk mengkaji kebenaran tokoh Ken Angrok dalam sejarah dengan menggunakan tiga teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi, dan pragmatisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, kemudian dianalisis menggunakan model deskriptif analitis dengan pendekatan teori kebenaran dalam filsafat. Dengan menggunakan teori kebenaran ini, disimpulkan bahwa tokoh Ken Angrok merupakan tokoh yang nyata dalam sejarah, meskipun beberapa hal tidak dapat dipastikan karena kurangnya sumber yang mendukung. Kata Kunci: Ken Angrok. Singhasari. teori kebenaran. Tumapel Abstract: Ken Angrok or Sri Ranggah Rajasa Amurwabhumi is one of the famous historical figures during the Hindu-Buddhist kingdom as the founder of the Singhasari or Tumapel kingdom, which was established in 1222. Although his figure is very well-known, the origin and truth of his story cannot be ascertained because no primary source has been found in the form of an inscription issued directly by Ken Angrok. Sources that explain and mention Ken Angrok are non-contemporary sources, namely the Pararaton and Negarakrtagama kakawins, as well as inscriptions from the Wisnuwarddhana era . he fourth king of Singhasari or Tumape. and inscriptions from the Majapahit era. This article was written to examine the truth of the Ken Angrok figure in history using three theories of truth, namely coherence, correspondence, and pragmatism. The method used in this study is the historical research method, and then analyzed using a descriptive analytical model with an approach to the theory of truth in By using this theory of truth, it was concluded that the Ken Angrok figure was a real figure in history, although several things cannot be ascertained due to the lack of supporting Keywords: Ken Angrok. Singhasari. theory of truth. Tumapel This work is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. Pendahuluan Kerajaan Singhasari/Tumapel adalah salah satu kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia yang memiliki cerita yang sangat menarik. Vlekke . menyebut bahwa cerita salah satu kerajaan ini sangat dramatis dan penuh kisah ajaib. Prasasti kerajaan Kadiri atau Daha terakhir, dikeluarkan pada tahun 1205 dan baru muncul prasasti lagi pada tahun 1264 yang dikeluarkan DOI: https://doi. org/10. 29408/fhs. Page 29 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran pada masa kerajaan Singhasari/Tumapel saat pemerintahan raja Wisnuwarddhana yaitu raja ketiga atau keempat dari kerajaan Tumapel/Singhasari (Rahardjo, 2. Terdapat periode kekosongan informasi . ang biasanya ditandai dengan tidak dikeluarkannya prasast. selama 59 tahun tersebut yang membuat sejarah berdirinya kerajaan Singhasari/Tumapel bergantung pada teks-teks sastra pada masa Majapahit yaitu kakawin Pararaton dan Negarakrtagama. Berdasarkan kedua teks sastra tersebut, diketahui bahwa kerajaan Singhasari/Tumapel adalah kerajaan yang didirikan oleh Ken Angrok, yang mendirikan dinasti Rajasa (Rajasawangs. atau wangsa Girindra (Girindrawangs. yang menjadi akar wangsa pada kerajaan Majapahit. Ken Angrok yang namanya berarti Aoyang mengacaukan segalanyaAo mendirikan kerajaan di Tumapel yang sebelumnya merupakan salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Kadiri/Daha. Pada tahun 1222, dia berhasil mengalahkan kerajaan Kadiri/Daha dan mendirikan wangsa Rajasa di Tumapel (Reichle, 2. Meskipun dia adalah pendiri kerajaan Singhasari/Tumapel. Ken Angrok hanya memerintah kerajaan dalam waktu yang relatif singkat yaitu hanya 5 tahun . ersi Negarakrtagam. Pada masa sebelum didirikannya kerajaan Singhasari/Tumapel, wilayah Tumapel dipimpin oleh seorang akuwu yang bernama Tunggul Ametung. Saat itu, kerajaan Kadiri atau Daha mengalami ketidakstabilan sosial-politik di dalam wilayah kekuasannya. Kadiri atau Daha yang memiliki nama lain Panjalu bersama dengan kerajaan Jenggala merupakan pecahan dari kerajaan Medang, sebuah kerajaan besar di ujung Timur pulau Jawa pada abad kesebelas. Dalam kondisi tersebut, muncullah tokoh baru yang dijuluki dengan nama AuKen AngrokAy atau Ken Arok pada tahun 1104 oaka . 2 M). Ken Angrok diharapkan oleh masyarakat pada saat itu menjadi juru selamat atau penolong bagi masyarakat yang berada di Jawa agar bisa menyatukan kembali kedua kerajaan yang telah terbelah selama bertahun-tahun tersebut (Salindri, 2. Meskipun begitu, sampai sekarang asal-usul Ken Angrok dan kebenaran adanya tokoh ini dalam sejarah masih belum jelas diketahui, karena tidak ada sumber sezaman . eperti prasast. yang benar-benar menjelaskan mengenai tokoh Ke Angrok ini (Poesponegoro & Notosusanto. Kisah Ken Angrok pada kakawin Pararaton dan Negarakrtagama dituliskan dengan halhal yang tidak masuk akal. Pada Pararaton, dia disebutkan sebagai anak Dewa Brahma, yang saat lahir dibuang oleh Ken Endok, ibu dari Ken Angrok. Sedikit berbeda dengan Pararaton. Negarakrtagama juga menampilkan kisah Ken Angrok meskipun tidak sejelas kakawin Pararaton. Akhirnya kebenaran akan sosok Ken Angrok semakin jelas saat ditemukannya prasasti yang dikeluarkan dari masa kerajaan Singhasari/Tumapel, yaitu pada masa Wisnuwarddhana . aja ketiga atau keempat Singhasari/Tumape. yang memberikan petunjuk mengenai kebenaran pada kisah Ken Angrok dari Pararaton dan Negarakrtagama (Sidomulyo. Sejarawan harus bersifat logis dan rasional, yang berdasarkan bukti empiris yang dapat diuji kebenarannya (Thohir & Sahidin, 2. Kebenaran dalam sejarah akan terungkap bila sejarawan melakukan penelitian sejarah dengan baik dan tuntas agar fakta sejarah yang diungkapkan bersifat objektif (Kuntowijoyo, 2. Fakta sejarah itu muncul ketika ada sumber sejarah sebagai dasarnya. Berdasarkan hal tersebut, dalam mengungkap kebenaran adanya Ken Angrok dalam sejarah, diperlukan analisis bukti atau sumber sejarah agar didapatkan fakta sejarah yang sesuai dengan realita. Kebenaran dalam filsafat ilmu berarti kesesuaian pengetahuan realitas, atau kebenaran dapat diartikan sebagai realitas itu sendiri (Maksum, 2. Kebenaran bisa didapatkan dengan menggunakan teori kebenaran. Ada 3 teori kebenaran yaitu koherensi . eselarasan antara pernyataan logi. , korespondensi . eselarasan antara ide dengan semesta lua. dan pragmatisme . ebenarannya bersifat fungsiona. (Adian & Lubis, 2. Tiga teori kebenaran tersebut dapat Page 30 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran digunakan sebagai AopisauAo analisis dalam mengungkap kebanaran dalam sejarah, terutama dalam permasalahan kebenaran eksistensi sosok Ken Angrok dalam sejarah. Banyak penelitian yang telah membahas mengenai kerajaan Singhasari/Tumapel ini dan pemerintahan masa Ken Angrok seperti AuMenafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Dudus dalam Kitab PararatonAy oleh Munandar . AuKen Angrok Pendiri Wangua RAjasaAy oleh Firmansyah & Yahmin . dan AuKajian Struktural Dalam Serat Pararaton: Ken AngrokAy oleh Prastika . Namun sampai sekarang belum ada yang membahas kebenaran tokoh Ken Angrok dalam sejarah menggunakan teori kebenaran dalam filsafat ilmu . oherensi, korespondensi dan pragamatism. Hal tersebut membuat penulis ingin menganalisis lebih lanjut mengenai kebenaran eksistensi tokoh Ken Angrok berdasarkan sumber-sumber sejarah yang memberikan petunjuk mengenai adanya sosok Ken Angrok. Kemudian sumber-sumber tersebut dianalisis menggunakan teori kebenaran dalam filsafat ilmu, agar dapat memberikan pandangan yang lebih mendalam mengenai kebenaran adanya tokoh Ken Angrok dalam sejarah atau hanya mitos belaka. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini adalah metode historiographical analysis. Menurut Clark-Stallkamp et al. , historiographical analysis memungkinkan pemeriksaan ulang dan penafsiran ulang terhadap sejarah yang telah ditulis sebelumnya menggunakan pendekatan filosofis atau pendekatan analitis baru. Terdapat 3 format dalam historiographical analysis yaitu sequential historiography, topical historiography dan detached historiography (Wang, 2. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan format detached historiography. Menurut Wang . , format ini menawarkan penjelasan mengenai latar belakang sosial dari ide atau aliran, mencoba untuk melakukan refleksi filosofis tentang sejarah beberapa ide, atau tentang proses umum secara keseluruhan. Dalam melakukan refleksi filosofis sejarah, peneliti menggunakan historiografi reflektif. Historiografi reflektif dapat menguji secara kritis metodologi sejarah, menguji dan merumuskan kembali berbagai klaim kebenaran (Nordholt et al. , 2. Berdasarkan sejarah dari Ken Angrok, peneliti melakukan pemeriksaan ulang terhadap kisah Ken Angrok berdasarkan sumber-sumber sejarah yang memberikan penjelasan ataupun AusignalAy adanya tokoh ini dalam sejarah. Pemeriksaan ini menggunakan kritik sumber sejarah yang ada dalam metode penelitian sejarah. Terdapat dua kritik yaitu, kritik intern dilakukan untuk menilai kelayakan atau kredibilitas sumber dan kritik ekstern dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keabsahan dan autentisitas sumber (Kuntowijoyo, 2. Adapun sumber-sumber sejarah yang digunakan dalam penelitian ini adalah peninggalan-peninggalan yang menyebutkan Ken Angrok . rasasti-prasasti yang menyebutkan Ken Angro. , kakawin Pararaton dan Negarakrtagama. Selanjutnya, peneliti memeriksa dan menganalisis kembali kebenaran adanya tokoh Ken Angrok. dalam sejarah menggunakan 3 teori kebenaran dalam filsafat ilmu yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatis. Hasil Penelitian Analisis Sumber Sejarah Mengenai Ken Angrok Kerajaan Singhasari atau Tumapel adalah salah satu kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara yang terletak di wilayah timur Jawa . ekarang masuk wilayah Malan. yang berdiri pada tahun 1222 Masehi. Menurut Lombard . , periode kerajaan Singhasari/Tumapel ini mencakup jangka waktu terpendek . dibandingkan periode kerajaan Hindu-Buddha yang lain. Selain itu, dengan banyaknya konflik internal di kerajaan ini berdampak dengan sedikitnya prasasti yang dikeluarkan yang menyebabkan informasi mengenai kerajaan ini sangatlah Page 31 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran Bila dihitung, prasasti yang dikeluarkan pada masa kerajaan ini sangatlah terbatas bahkan untuk raja pertama, kedua dan mungkin ketiga (Tohjay. tidak ada prasasti yang dikeluarkan, hanya ada peninggalan berupa candi dan arca. Kurangnya sumber sejarah tertulis inilah yang membuat sejarah mengenai kerajaan ini banyak menyebabkan banyak penafsiran dan perdebatan. Sebelum berdirinya kerajaan ini, wilayah Tumapel adalah wilayah di bawah kekuasaan kerajaan Kadiri atau Daha. Kemudian muncullah tokoh Ken Angrok ini yang berhasil mengalahkan kerajaan Kadiri atau Daha dan membangun wangsa baru yaitu wangsa Rajasa (Rajasawangs. atau wangsa Girindra (Girindrawangs. yang melahirkan raja-raja Singhasari/Tumapel dan Majapahit. Namun, sampai sekarang asal-usul Ken Angrok dan kebenaran adanya tokoh ini dalam sejarah masih belum jelas diketahui (Poesponegoro & Notosusanto, 2. Meskipun begitu terdapat beberapa sumber sejarah yang menjadi dasar adanya tokoh Ken Angrok ini. Adapun sumber-sumber tersebut antara lain. Pararaton Pararaton adalah salah satu sumber sejarah kerajaan Singhasari/Tumapel dan Majapahit yang ditulis pada 1623 M dengan nama penulis yang belum diketahui sampai sekarang . (Muljana, 2. Menurut Purwoko . , bentuk sajian cerita Ken Angrok dalam Pararaton jelas berbentuk dongeng dan bukan tulisan sejarah, sehingga tidak heran banyak yang mengira bahwa tokoh ini bukan tokoh sejarah. Berdasarkan Pararaton, raja pertama Singhasari/Tumapel adalah Ken Angrok dengan nama sri Ranggah Rajasa Amurwabhumi (Soekmono, 1. Ibu Ken Angrok adalah Ken Endok yang merupakan istri dari Gajah Para, seorang petani biasa. Suatu waktu. Ken Endok sedang mengantarkan makanan ke sawah namun dia bertemu Dewa Brahma di Tegal Lalateng, lalu Ken Endok mengandung. Dewa Brahma berpesan kepada Ken Endok agar tidak melakukan hubungan suami-istri dengan suaminya karena anak yang Ken Endok kandung kelak akan menjadi raja Jawa yang bernama Ken Angrok. Saat mengandung besar. Ken Endok kehilangan suaminya dan 5 hari seteleh suaminya meninggal. Ken Endok akhirnya melahirkan. Setelah melahirkan, bayi tersebut dibuang di sebuah kuburan. Bayi tersebut memiliki keistimewaan yaitu dapat memancarkan sinar. Secara tidak sengaja, bayi Ken Angrok tersebut ditemukan oleh pencuri bernama Lembong dan oleh pencuri tersebut Ken Angrok diadopsi karena bayi itu memancarkan sinar (Poesponegoro & Notosusanto, 2. Oleh karena Ken Angrok diangkat oleh penjahat, maka dia tumbuh dengan tabiat yang kurang baik. Oleh karena kelakukan Ken Angrok, harta benda Ken Endok dan juga milik orang tua angkatnya habis dibuat taruhan dalam berjudi (Kusuma, 2. Saat dewasa. Ken Angrok mengembara di daerah sebalah timur Gunung Kawi dan melakukan banyak kejahatan seperti pencuri, perampok, pembunuh dan pemerkosa. Karena kejahatannya tersebut, dia dikejar-kejar rakyat Tumapel atas perintah raja Kadiri/Daha. Dalam usahanya kabur dari kejaran rakyat Tumapel. Ken Angrok diangkat anak oleh seorang Brahmana bernama Danghyang Lohgawe yang membuat Ken Angrok insyaf dari segala kejahatannya. Dengan bantuan Brahmana tersebut. Ken Angrok diterima untuk mengabdi pada Akuwu Tunggul Ametung. Saat mengabdi. Ken Angrok tertarik kepada istri Tunggul Ametung yaitu Ken Dedes. Akhirnya dengan keris Pu Gandring. Ken Angrok berhasil membunuh Tunggul Ametung (Poesponegoro & Notosusanto, 2. Namun anehnya, setelah pembunuhan tersebut, yang dituduh membunuh Tunggul Ametung adalah Kebo Ijo, bukan Ken Angrok. Apalagi ketika Ken Angrok memperistri Ken Dedes, janda Tunggul Ametung yang sedang hamil. Para pejabat di Tumapel hanya diam saja dan menyetujui Ken Angrok sebagai penguasa baru. Menurut Boechari dalam Munandar . Page 32 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran dengan diamnya para pejabat tersebut, muncullah teori bahwa Ken Angrok adalah anak dari Tunggul Ametung. Teori tersebut menyebutkan bahwa Tunggul Ametung lah yang memperkosa Ken Endok, ibu Ken Angrok. Dewa Brahma yang digambarkan pada Pararaton digunakan sebagai simbol saja. Oleh karena itu Ken Angrok dapat dengan mudah mengabdi di lingkungan kedaton Tumapel, rumah Tunggul Ametung. Setelah diangkat menjadi penguasa Tumapel dan semakin besar pengaruhnya. Ken Angrok memutuskan untuk melepaskan diri dari Kerajaan Kadiri (Dah. Pada saat yang sama, di kerajaan Kadiri terjadi perselisihan antara raja Kertajaya dengan para pendeta. Para pendeta tersebut akhirnya melarikan diri ke Tumapel dan berlindung di bawah Ken Angrok. Raja Kertajaya akhirnya mengetahui perihal Ken Angrok dan para pendetanya dan mulailah pertempuran antara Tumapel dan Kadiri. Pada pertempuran tahun 1222 di Desa Ganter, akhirnya pasukan Kadiri mengalami kekalahan. Sehingga pada tahun 1222. Ken Angrok mengangkat diri menjadi raja dari Kerajaan Singhasari atau Tumapel dan Kadiri menjadi bawahannya (Soekmono, 1. Dari pernikahan dengan Ken Dedes. Ken Angrok memiliki tiga orang putra dan seorang putri, yakni . Mahisa Wonga Teleng. Panji Saprang. Agnibaya. Dewi Rimbu. Anusapati sebagai anak tiri . nak Tunggul Ametung dengan Ken Dede. Dari pernikahannya dengan Ken Umang. Ken Angrok mendapat tiga orang putra dan seorang putri, yakni . Panji Tohjaya, . Panji Sudatu. tuan Wregola. Dewi Rambi (Muljana, 2. Berdasarkan cerita di atas, banyak hal-hal yang diluar nalar manusia. Hal tersebutlah yang menyebabkan cerita Ken Angrok ini jauh dari kata ilmiah. Oleh sebab itu, perlu adanya interpretasi mendalam mengenai maksud penulis Pararaton untuk mengambil inti sejarahnya. Pararaton juga menjelaskan perihal kronologi meninggalnya Ken Angrok. Suatu ketika. Anusapati yang merupakan anak tiri dari Ken Angrok mengetahui bahwa ayah biologisnya yaitu Tunggul Ametung telah dibunuh oleh ayah angkatnya. Ken Angrok. Dengan perasaan dendam. Anusapati mengutus pembunuh dari Batil untuk membunuh Ken Angrok. Akhirnya apada suatu senja menjelang malam. Ken Angrok yang sedang makan malam dan pembunuh tersebut berhasil membunuh Ken Angrok. Ken Angrok meninggal pada tahun 1169 Saka atau 1247 Masehi. Sebagai putra mahkota. Anusapati mengejar pembunuh tersebut dan membunuhnya, sehingga dia diakui oleh para pembesar istana bahwa dia berhasil membunuh pembunuh raja. Akhirnya Anusapati diangkat menjadi raja (Kusuma, 2. Setelah itu, sejarah pergantian kekuasaan di kerajaan Singhasari/Tumapel diwarnai keinginan untuk membalas Negarakrtagama Sedikit berbeda dengan Pararaton, kisah mengenai Ken Angrok pada kakawin Negarakrtagama memberikan informasi bahwa pada tahun 1104 Saka atau 1182 M ada seorang raja besar, putra Sri Girinatha. Kabarnya dia lahirnya tanpa melalui kandungan. Nama raja tersebut adalah Sri Ranggah Rajasa, seorang raja penggempur musuh dan pahlawan bijak. Semua orang tunduk kepadanya. Daerah subur yang luas di sebelah timur Gunung Kawi tempat menunaikan dharmanya. Ibu kota kerajaannya disebut Kutharaja. Pada tahun 1144 Saka atau 1222 M. Ken Angrok dapat mengalahkan Raja Kertajaya dari Kadiri. Di bawah kekuasaanya. Janggala dan Kadiri bersatu. Pada tahun 1170 Saka atau 1227 M, dia berpulang ke Swargaloka, dicandikan di Kagenengan sebagai Siwa dan di Usana sebagai Buddha (Poesponegoro & Notosusanto, 2. Cerita Ken Angrok pada Negarakrtagama juga perlu dianalisis lebih mendalam karena ada hal-hal yang di luar nalar, seperti Ken Angrok yang lahir tanpa kandungan. Bila dicermati lagi, terdapat perbedaan tahun meninggalnya Ken Angrok yaitu Negarakrtagama tertulis tahun Page 33 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran 1227 sedangkan Pararaton tertulis tahun 1247. Meskipun begitu. Negarakrtagama dan Pararaton sepakat dengan urutan kejadiannya (Kinney et al. , 2. Prasasti Masa Kerajaan Singhasari/Tumapel Menurut Poesponegoro & Notosusanto . , sampai sekarang belum ditemukan prasasti yang dikeluarkan langsung oleh Ken Angrok, namun ada beberapa prasasti di masa setelahnya yang mengarah kepada tokoh Ken Angrok ini yaitu masa raja Wisnuwarddhana yaitu raja ketiga/keempat kerajaan Singhasari/Tumapel. Wisnuwarddhana adalah anak dari raja Anusapati, yang merupakan raja kedua kerajaan Singhasari/Tumapel. Prasasti yang dikeluarkan pada masa raja Wisnuwarddhana yang memberikan petunjuk mengenai Ken Angrok adalah prasasti Maribong. Prasasti Maribong tertulis Auswapitamahastawana-bhinnasrantalokapalakaAy yang berarti kakeknya yang telah menenteramkan dan mempersatukan dunia. Bila dianalisis, kakek Wisnuwarddhana yang tertulis dapat mempersatukan dunia merupakan Ken Angrok sebagai pendiri kerajaan Singhasari/Tumapel yang dapat mengalahkan kerajaan Kadiri/Daha serta menyatukan kerajaan Panjalu dan Jenggala. Selain itu, ada prasasti Mula-Malurung yang dikeluarkan oleh Wisnuwarddhana. Pada prasasti tersebut disebutkan adanya kakek raja yang dijuluki dengan Bhattara Siwa. Menurut Boechari. Bhattara Siwa tersebut adalah Ken Angrok. Selain itu, tertulis juga seseorang yang dipanggil sebagai kakek buyut sang raja, yang menurut Boechari itu adalah Tunggul Ametung (Boechari memiliki teori bahwa Ken Angrok adalah anak Tunggul Ametun. (Munandar, 2. Selain itu, dalam prasasti ini juga dijelaskan mengenai meninggalnya Ken Angrok yang sesuai dengan isi Pararaton yaitu ". mangkat wong Batil dalem kedaton, kepanggih sang Amurwabhumi, sedengira anadah, teher sinuduk sira dening wong batil. Berangkat orang dari Batil menuju ke dalam pura, bertemu dengan sang Amurwabhumi, ketika itu sedang makan, segera ditusuk ia oleh orang dari Batil (Padmapuspita dalam Suwardono . Prasasti Masa Kerajaan Majapahit Selain prasasti masa Singhasari/Tumapel, kerajaan Majapahit juga mengeluarkan prasasti yang memberikan petunjuk mengenai adanya tokoh Ken Angrok. Pertama adalah Prasasti Balawi dikeluarkan oleh raja Jayawardhana dari Majapahit. Pada prasasti tersebut tertulis "rajasawangsamantwrndakastenaAy yang berarti Aoyang menjadi pelindung permata Dinasti RajasaAo. Sudah diketahui bersama bahwa rajasa adalah dinasti yang didirikan oleh Ken Angrok (Sri Ranggah Rajas. Selain prasasti Balawi, juga terdapat prasasti Kusmala yang memperingati penyelesaian sebuah bendungan batu oleh Rakryan Dmung Sang Martabun Rangga Sapu, menyebutkan Aumakamangala rakaking AmurwwabhumiAy (Poesponegoro & Notosusanto, 2. Kata AoAmurwwabhumiAo mengarah pada tokoh Ken Angrok yang merupakan raja pertama kerajaan Singhasari/Tumapel yang bergelar Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi. Hal ini jelas, bahwa sampai masa Majapahit-pun, sosok Ken Angrok dianggap leluhur sampai disebutkan dalam prasasti. Analisis Kebenaran Ken Angrok dalam Teori Kebenaran Klaim kebanaran di hampir semua ilmu sosial dan termasuk ilmu sejarah tidaklah bersifat Kebenaran yang tidak bersifat mutlak tersebut dikarenakan kebenaran masih bisa terus digali/dicapai, dimana bila ditemukan kebenaran baru yang mendekati kebenaran mutlak . , maka kebenaran sebelumnya dianggap tidak ada lagi atau musnah (Hetharion, 2. Klaim kebenaran dalam penulisan sejarah atau historiografi sangat penting karena hal tersebut dapat berfungsi sebagai alat memperkokoh identitas nasional ataupun identitas kolektif (Nordholt et al. , 2. Page 34 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan analisis mengenai tokoh legendaris seperti Ken Angrok sering kali diwarnai oleh perpaduan fakta historis dan mitos. Sejarawan perlu memilah antara narasi yang bersifat simbolis dan data empiris yang dapat Kisah hidup Ken Angrok yang yang sarat dengan dinamika politik dan pergolakan kekuasaan mengundang banyak interpretasi. Oleh karena itu, pendekatan multiperspektif dengan teori kebenaran dalam filsafat ilmu menjadi kunci dalam memahami eksistensi tokoh ini. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa sampai sekarang belum ditemukan prasasti yang dikeluarkan langsung oleh Ken Angrok yang merupakan pendiri kerajaan Singhasari/Tumapel. Kisah mengenai Ken Angrok dijelaskan pada kakawin Pararaton dan kakawain Negarakrtagama serta diperkuat dengan prasasti-prasasti yang dikeluarkan jauh setelah Ken Angrok memerintah. Hal tersebut menyebabkan beberapa sejarawan mempertanyakan apakah benar ada tokoh Ken Angrok ini dalam sejarah. Contohnya saja, disebutkan di Pararaton bahwa Ken Angrok adalah anak dari dewa Brahma. Selain itu, disebutkan juga bahwa saat Ken Angrok menjadi buronan Daha, dia mendapatkan petunjuk untuk berada di gunung Lejar, yaitu tempat bermusyawarahnya para dewa untuk menentukan siapakah yang pantas menjadi raja di pulau Jawa. Ken Angrok saat itu bersembunyi di tempat sampah yang ditimbuni dengan semak belukar oleh nenek kebayan Panitikan. Scene Ken Angrok di gunung Lejar sampai didalami oleh Bosch . dengan tulisannyan AuDe mythische achtergrond van de Kyn Angrok-legendeAy dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-. Land- en Volkenkunde. Dia mempertanyakan mengapa penulis Pararaton menulis setting Ken Angrok bersembunyi di gunung Lejar adalah tempat sampah, mengapa tidak memilih tempat lain lain yang baik. Dia juga memberikan pernyataan bahwa penulis Pararaton dalam menulis kisah Ken Angrok memiliki fantasi yang aneh. Anak dewa dan kisah-kisah diluar nalar lainnya yang membuat banyak pertanyaan tersebutlah yang membuat tokoh Ken Angrok terlihat tidak logis dan ilmiah. Mempertanyakan kebenaran terkait dengan eksistensi Ken Angrok dalam pandangannya mengenai kebenaran. Immanuel Kant berpendapat bahwa kebenaran adalah hasil dari interaksi antara subjek dan objek. Menurutnya, kita tidak dapat memahami realitas sebagaimana adanya . , tetapi hanya sebagai representasi yang kita alami . Pandangan ini memberikan fondasi bagi pemahaman bahwa kebenaran bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh struktur kognitif manusia (Basuki, 2. Sedangkan menurut Richard Rorty, seorang filsuf kontemporer, mempopulerkan pandangan relativisme mengenai kebenaran. Menurutnya, kebenaran adalah hasil dari percakapan yang berkelanjutan di dalam suatu komunitas. berargumen bahwa kebenaran ilmiah tidaklah mutlak tetapi ditentukan oleh konteks sosial dan historis tempat teori itu berkembang (Ernan Rustiadi, 2. Menurut Madjid & Wahyudhi . , dalam penerapan studi sejarah, hal yang sangat penting dan mendasar yang harus dimiliki oleh sejarawan, yakni cinta akan kebenaran (Madjid & Wahyudhi, 2. Kebenaran bisa didapatkan dengan menggunakan langkah yang tepat dan dalam filsafat ilmu, kebenaran ilmiah bisa didapatkan dengan cara yang tersistem (Endraswara. Kebenaran dalam filsafat ilmu bisa didapatkan dengan menggunakan teori kebenaran. Menurut Maksum . Auteori kebenaran berhubungan dengan teori perangkat pengetahuan yang dibangunnyaAy. Maksud dari hal tersebut adalah kebenaran dalam pengetahuan tidak dilihat dari keseluruhan melainkan dari pemahaman beberapa aspek saja yang dapat digunakan untuk memperoleh kebenaran. Selain menekankan cinta akan kebenaran sebagai prinsip utama dalam studi sejarah, pendekatan kritis terhadap sumber-sumber yang ada juga menjadi hal yang mendasar dalam Page 35 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran menilai kisah Ken Angrok. Sejarawan harus memiliki kemampuan untuk membedakan antara fakta, interpretasi, dan mitos yang terkandung dalam suatu narasi sejarah. Menurut Tosh . , penelitian sejarah menuntut pendekatan skeptis terhadap sumber, di mana setiap catatan harus diuji validitasnya melalui analisis kritis terhadap konteks produksi, tujuan, dan kredibilitas Dalam konteks Ken Angrok, narasi dari Pararaton dan Negarakrtagama sebagai sumber sekunder harus diperlakukan sebagai rekonstruksi masa lalu yang disusun dengan tujuan tertentu, bukan sebagai kebenaran mutlak. Pararaton, misalnya, cenderung bersifat kronik yang mencampurkan fakta dengan unsur simbolis dan mitologis. Hal ini sejalan dengan pandangan Collingwood . yang menyatakan bahwa sejarah bukan hanya tentang merekam kejadian masa lalu, melainkan tentang bagaimana sejarawan merekonstruksi peristiwa tersebut berdasarkan bukti yang ada. Dengan demikian, dalam meneliti kisah Ken Angrok, penting untuk menyadari keterbatasan sumber yang tersedia serta memperlakukan setiap narasi sebagai bagian dari konstruksi sejarah yang dipengaruhi oleh konteks sosial dan politik pada masanya. Upaya ini memastikan bahwa interpretasi terhadap eksistensi Ken Angrok tetap berpijak pada kaidah ilmiah tanpa mengabaikan kompleksitas sejarah yang melingkupinya. Dalam filsafat, kebenaran merupakan dasar ilmu pengetahuan yang mendasarkan diri dari kenyataan empiris dan serta evidensi. Terdapat 3 teori kebenaran dalam filsafat ilmu yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatis yang digunakan untuk mencari kebenaran (Azwar & Muliono, 2. Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang merujuk adanya tokoh Ken Angrok ini dapat dijadikan dasar analisis kebenaran dengan menggunakan teori kebenaran dalam filsafat ilmu. Adapun analisis teori kebenaran tokoh Ken Angrok dalam sejarah adalah sebagai Koherensi Menurut Collingwood, dalam penulisan sejarah, sejarawan harus menghindari penyajian yang mengarah pada prosa sastra sehingga sejarawan dituntut untuk memiliki kemampuan menulis yang baik, tata bahasa yang sesuai dan memperhatikan konsistensi, koherensi dan eksplanasi yang mudah dipahami oleh pembaca sejarah (Thohir & Sahidin, 2. Berdasarkan hal tersebut, didapatkan informasi bahwa koherensi sangat dibutuhkan dalam penulisan sejarah. Teori ini menyatakan bahwa pernyataan dianggap benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara logis (Maksum, 2. atau menurut Suriasumantri . , menganggap benar pernyataan tersebut bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap Berdasarkan teori ini, konsistensi adalah dasar dari kebenaran. Bila dilihat dari perbandingan cerita Ken Angrok dari Pararaton dan Negarakrtagama yang merupakan karya sastra pada masa Majapahit, terdapat hal-hal yang konsisten, meskipun ada beberapa yang tidak Pada Pararaton dan Negarakrtagama, terdapat konsistensi mengenai alur kisah Ken Angrok dari masa lahir sampai meninggal meskipun ada beberapa bagian yang tidak sama/konsisten. Dari kedua sumber tersebut, dapat diketahui bahwa pendiri kerajaan Singhasari/Tumapel serta pendiri wangsa rajasa adalah Ken Angrok. Kesamaan lainnya adalah Ken Angrok atau Rajasa ini sama-sama berhasil mengalahkan raja Kadiri pada tahun 1222 dan saat meninggal, sama-sama dicandikan di Kagenengan. Berdasarkan kesamaan atau konsistensi 2 sumber utama Ken Angrok ini, maka dapat disimpulkan bahwa benar bahwa Ken Angrok adalah pendiri kerajaan Singhasari/Tumapel pada tahun 1222 dengan mengalahkan kerajaan Kadiri/Daha. Hal Page 36 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran tersebut dikuatkan dengan beberapa prasasti masa Singhasari/Tumapel dan Majapahit yang menyebutkan nama Amurwabhumi yang merupakan nama besar Ken Angrok. Selain itu, ada sumber lainnya yang menguatkan kebenaran mengenai hal-hal yang ada di Pararaton dan Negerakrtagama yaitu prasasti Mula-Malurung. Meskipun prasasti ini tidak sezaman dengan masa Ken Angrok, namun prasasti ini dikeluarkan dari raja Singhasari/Tumapel yang masanya tidak jauh dari Ken Angrok. Disebutkan bahwa di prasasti tersebut bahwa pendiri kerajaan Singhasari/Tumapel adalah kakek Wisnuwardhana yaitu Ken Angrok atau Rajasa. Selain itu, dalam prasasti itu juga disebutkan bagaimana meninggalnya Ken Angrok yang memiliki kesamaan dengan kisah Pararaton yaitu Ken Angrok dibunuh saat ia sedang makan, pada waktu senja hari ketika matahari telah terbenam (Poesponegoro & Notosusanto, 2. Namun ada beberapa hal juga yang tidak konsisten seperti kejadian lahirnya Ken Angrok dan tahun kematian Ken Angrok. Di Negarakrtagama disebutkan bahwa Ken Angrok lahir tanpa kandungan dan meninggal tahun 1227 sedangkan Pararaton mengatakan bahwa Ken Angrok adalah anak dari Dewa Brahma yang meninggal tahun 1247. Kapan tahun kematian Ken Angrok perlu di analisis lebih dalam lagi agar mendapatkan fakta sejarah yang mendekati Korespondensi Teori kebenaran korespondensi atau correspondence theory of truth adalah teori yang menyatakan bahwa pernyataan dianggap benar bila ada kesesuaian . terhadap fakta yang ada di alam atau objek yang dituju, atau dengan kata lain pernyataan yang dianggap benar bila pernyataan tersebut sesuai dengan fakta (Maksum, 2. Sedangkan menurut Adian & Lubis . , korespondensi mensyaratkan adanya keselarasan antara ide dengan semesta luar, kebenarannya bersifat empiris-induktif. Pada ilmu sejarah, kebenaran didapatkan berdasarkan hasil interpretasi dari sumber sejarah yang sudah lolos tahap kritik sejarah dalam metode penelitian sejarah. Tanpa adanya sumber sejarah, maka itu bukan sejarah melainkan dongeng belaka. Berdasarkan Pararaton, cerita Ken Angrok atau Rajasa yang diuraikan dalam bentuk dongengan (Pararaton adalah sumber sejarah Singhasari/Tumapel dan Majapahit yang ditulis 1623 Maseh. (Muljana, 2. Disebutkan bahwa Ken Angrok adalah anak dewa Brahma yang membuat kisah Ken Angrok tidak masuk diakal. Ada juga cerita bahwa Ken Angrok menguping musyawarah para dewa di gunung Lejar. Hal-hal tersebut membuat kisah Ken Angrok begitu tidak realistis. Namun harus diketahui bahwa Pararaton adalah karya sastra yang ditulis oleh pujangga yang dapat memainkan imajinasi pembaca. Oleh sebab itulah, perlu dipilah mana yang merupakan data sejarah atau hasil imajinasi penulis Pararaton. Hampir sama dengan Pararaton, kakawin Negarakrtagama juga menguraikan kisah Ken Angrok dengan unsur yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar. Meskipun dalam cerita Ken Angrok dalam Pararaton dan Negarakrtagama diururaikan dengan kisah-kisah diluar nalar manusia, ada hal-hal yang memberikan petunjuk bahwa hal tersebut benar adanya atau fakta. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti yang dikeluarkan di masa setelah Ken Angrok, yang mendukung yang eksistensi Ken Angrok dalam sejarah. Adapun prasasti-prasasti itu antara lain prasasti Balawi dari tahun Saka 1227 . 5 M), prasasti Maribong (Trawulan II) dari tahun 1186 Saka . 4 M), prasasti Kusmala (Kandanga. dari tahun 1272 Saka . 0 M), dan prasasti Mula-Malurung dari tahun 1177 Saka . 5 M). Namun sayangnya prasastiprasasti tersebut tidak dikeluarkan langsung oleh Ken Angrok. Dalam prasasti-prasasti tersebut, disebutkan adanya raja Amurwabhumi yang merupakan pendiri Singhasari atau Tumapel, meskipun tidak ada yang menjelaskan Amurwabhumi Page 37 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran tersebut bernama Ken Angrok seperti pada Pararaton. Pada Negarakrtagama, disebutkan bahwa Ken Angrok adalah Sri Ranggah Rajasa yang mendirikan kerajaan Singhasari/Tumapel. Ternyata pada prasasti Belawi yang dikeluarkan oleh seorang raja Majapahit yaitu raja Jayawardhana yang menyebutkan dirinya sebagai "rajasawangsamantwrndakastenaAy . ang menjadi pelindung permata Dinasti Rajas. Adanya dinasti Rajasa ini memperkuat bahwa memang ada tokoh sejarah Rajasa yang mendirikan dinasti Rajasa, yang tidak lain merupakan Ken Angrok. Selain di Negarakrtagama, pernyataan dari Pararaton mengenai kisah kematian Ken Angrok juga dibuktikan dengan adanya prasasti Mula-Malurung, yaitu mengenai kematian Ken Angrok yang meninggal disaat dia makan pada waktu senja (Poesponegoro & Notosusanto. Selain itu, pada Negarakrtagama didapatkan informasi mengenai tempat Ken Angrok dicandikan di Kagenengan. Kagenengan ini masih menjadi perdebatan sampai sekarang. Blitar, ada candi Kagenengan dan banyak sejarawan menganggap bahwa benar ini candi Ken Angrok. Bila benar candi tersebut adalah candi pendharmaan Ken Angrok dimana sesuai dengan pernyataan Pararaton dan Negakrtagama, maka secara empiris, kebenaran Ken Angrok ini bisa dipertanggung-jawabkan. Pragmatis Kuntowijoyo . menyebutkan bahwa Thucydides adalah orang pertama yang menyadari bahwa sejarah bisa pragmatis, dimana pengetahuan yang akurat mengenai sejarah itu berguna dengan kemungkinan akan terjadi hal-hal yang sama. Selain itu menurut Maksum . , benar tidaknya suatu dalil tergantung kegunaannya dalil tersebut untuk kehidupan Kebenaran harus memiliki sifat fungsional untuk kehidupan. Teori pragmatis merujuk pada suatu pernyataan mengandung nilai kebenaran apabila pernyataan tersebut mempunyai sisi fungsional dalam kehidupan, atau memiliki kegunaan praktis bagi kehidupan manusia (Burhanuddin, 2. Bila dianalisis secara pragmatis, adanya tokoh Ken Angrok yang dituliskan pada Kakawin Pararaton dan Negarakrtagama memberikan informasi mengenai bagaimana kerajaan Singhasari/Tumapel itu berdiri, itu sangat berarti untuk kajian masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Namun, untuk kasus terAymentionAy-nya Amurwabhumi atau Ken Angrok dalam prasasti Singhasari/Tumapel dan masa Majapahit berfungsi sebagai penguat legitimasi raja bahwa di memang menerus kerajaan yang sah. Lebih jauh, kisah Ken Angrok dalam Pararaton bukan hanya berperan sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai simbol konstruksi identitas budaya dan politik masa lampau. Menurut Kuntowijoyo . dalam Pengantar Ilmu Sejarah, narasi sejarah tidak hanya berfungsi sebagai rekaman fakta, tetapi juga sebagai alat yang membentuk kesadaran kolektif suatu masyarakat. Dalam konteks ini, cerita Ken Angrok merepresentasikan proses legitimasi kekuasaan yang digunakan oleh dinasti-dinasti Jawa kuno untuk membangun otoritas mereka. Sartono Kartodirdjo . dalam Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah juga menekankan bahwa sejarah berperan sebagai sarana interpretasi untuk memahami dinamika sosial dan politik masa lalu. Dengan demikian, kisah Ken Angrok tidak hanya mencerminkan realitas historis, tetapi juga memberikan pengajaran simbolis tentang perjuangan, kekuasaan, dan perubahan yang membentuk tatanan politik baru pada masa Kerajaan Singhasari dan kelanjutannya hingga era Majapahit. Secara politik, adanya analisis mengenai kebenaran tokoh Ken Angrok ini juga dapat digunakan dalam narasi untuk memperkuat identitas diri/masyarakat ataupun tujuan penguasa atau pemerintah. Adanya analisis kebenaran tokoh Ken Angrok, bisa saja dapat digunakan sebagai alat politik untuk memperkuat/melegitimasi kekuasaan ataupun menyatukan masyarakat melalui identitas diri/daerah. Nilai-nilai keberanian Ken Angrok dan kedudukannya Page 38 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran sebagai tokoh pendiri dinasti Singhasari/Tumapel dan kerajaan Majapahit, secara kuat sudah dapat memberikan kekuatan yang dapat dimanfaatkan/digunakan dalam dunia politik. Terakhir, kisah-kisah Ken Angrok juga mengajarkan nilai-nilai tentang kekuasaan, keadilan, dan moralitas yang masih relevan hingga kini. Perjuangan Ken Angrok dari seorang rakyat biasa hingga menjadi raja Singhasari/Tumapel memiliki banyak makna serta nilai karakter yang dapat dipelajari. Ken Angrok berbeda dengan raja-raja kebanyakan yang berasal dari keluarga raja atau setidaknya berasal dari keluarga bangsawan yang berpengaruh. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Ken Angrok memiliki nilai karakter yang berbeda dari rajaraja lainnya dari berbagai kerajaan. Perjuangan Ken Angrok naik takhta setelah melalui berbagai rintangan dan tindakan baik dan buruk dapat dijadikan sarana pendidikan yang efektif, mengajarkan tentang moral dan karakter. Perjuangan kerasnya dalam mendirikan Kerajaan Singhasari/Tumapel menunjukkan nilai-nilai seperti ketangguhan dan keberanian yang dapat diambil sebagai contoh oleh generasi saat ini (Nainggolan, 2. Meskipun kontroversi menyelimuti hidupnya, kisah Ken Angrok tetap memiliki manfaat fungsional sebagai pelajaran berharga bagi masyarakat kita kedepan. Kesimpulan Kerajaan Singhasari/Tumapel adalah salah satu kerajaan Hindu-Buddha yang menjadi cikal bakal wangsa di kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Indonesia yaitu Kerajaan Majapahit. Dikarenakan keterbatasan sumber sejarah, sejarah mengenai kerajaan ini masih banyak penafsiran dan perdebatan. Berdirinya kerajaan Singhasari/Tumapel tidak terlepas dari keberadan Ken Angrok yang merupakan raja pertama bergelar Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi sekaligus pendiri kerajaan Singhasari/Tumapel serta pendiri dinasti Rajasa (Rajasawangs. atau wangsa Girindra (Girindrawangs. yang akar wangsa pada kerajaan Majapahi. Perjuangan Ken Angrok dalam mendirikan kerajaan Singhasari/Tumapel merupakan perjuangan yang panjang dan berliku. Masa pemerintahannya tergolong singkat yaitu dari 1222 sampai 1227 . erdasarkan Negarakrtagam. atau 1247 . erdasarkan Pararato. Kisah hidupnya sangat terkenal karena diwarnai dengan pengkhianatan dan tragedi. Sumber tentang Kerajaan Singhasari/Tumapel dan Ken Angrok dapat diketahui dari Kitab Pararaton dan Negarakrtagama yang merupakan sumber sejarah yang berbentuk sastra di zaman setelah kerajaan Singhasari/Tumapel. Adapun prasasti-prasasti yang dikeluarkan di masa setelah Ken Angrok, yang mendukung yang eksistensi Ken Angrok dalam sejarah antara lain prasasti Balawi dari tahun Saka 1227 . 5 M), prasasti Maribong (Trawulan II) dari tahun 1186 Saka . 4 M), prasasti Kusmala (Kandanga. dari tahun 1272 Saka . 0 M), dan prasasti Mula-Malurung dari tahun 1177 Saka . 5 M). Namun sayangnya prasasti-prasasti tersebut tidak dikeluarkan langsung oleh Ken Angrok. Melalui teori kebenaran, kebenaran mengenai eksistensi Ken Angrok dalam sejarah yang terdapat pada Pararaton dan Negarakrtagama atau peninggalan-peninggalan lain yang menyebutkan Ken Angrok dapat dianalisis. Teori kebenaran yang terdiri dari koherensi, korespondensi dan pragmatis menjadikan jejak-jejak Ken Angrok lebih bisa dimaknai secara Berdasarkan teori koherensi, fakta-fakta sejarah berdasarkan beberapa sumber memberikan petunjuk keserasian yang menunjukkan adanya kebenaran mengenai tokoh Ken Angrok. Pada teori korespondensi, kisah-kisah Ken Angrok dalam 2 kitab sastra yaitu Pararaton dan Negarakrtagama dapat dibuktikan dengan adanya sumber sejarah terkait seperti prasasti dan peninggalan bangunan. Sedangkan dari teori kebenaran pragmatis, sejarah Ken Angrok ini memang memiliki kegunaan fungsional seperti pengajaran karakter, membentuk kesadaran kolektif suatu masyarakat, dan politik identitas. Berdasarkan hasil analisis Ken Angrok berdasarkan peninggalan-peninggalan yang menyebut adanya tokoh Ken Angrok lalu dianalisis Page 39 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran menggunakan teori-teori kebenaran tersebut, maka dapat simpulkan bahwa keberadaan Ken Angrok dalam sejarah memang ada meskipun beberapa hal mengenai Ken Angrok masih belum bisa dipastikan kebenarannya karena kurangnya sumber pendukung. Daftar Rujukan Adian. , & Lubis. Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan. Penerbit Koekoesan. Ade Muharani. Hudaidah. Dampak Masuknya Hindu Budha Terhadap Pendidikan di Indonesia. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3. , https://doi. org/10. 31004/edukatif. Azwar. , & Muliono. Filsafat Ilmu: Cara Mudah Memahami Filsafat Ilmu. Kencana. Basuki. Rahman. Juansah. , & Nulhakim. Perjalanan menujupemahaman yang mendalam mengenai ilmu pengetahuan: studi filsafat tentang sifat realitas. Jurnal Ilmiah Global Education, 4. , 722Ae734. https://doi. org/10. 55681/jige. Bosch. De mythische achtergrond van de Kyn Angrok-legende. Bijdragen Tot de Taal-. Land- En Volkenkunde, 121. , 468Ae472. https://doi. org/10. 1163/2213437990002954. Burhanuddin. Filsafat Ilmu. Prenadamedia. Clark-Stallkamp. Johnson. , & Lockee. Exploring Dimensions of the Past: A Historiographical Analysis of Instructional Design and Technology Historical Works. Journal of Applied Instructional Design, 11. https://doi. org/10. 51869/112/rcsajbl. Collingwood. The idea of history (Revised Editio. Oxford: Oxford University Press. Endraswara. Filsafat Ilmu. CAPS. Ernan Rustiadi. Teori Perencanaan-Mazhab & Praktik Perencanaan Pengembangan Wilayah. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Firmansyah. , & Yahmin. Ken Angrok Pendiri Wangua RAjasa. Maharsi, 1. , 24Ae32. https://doi. org/10. 33503/maharsi. Hetharion. Filsafat Sejarah (M. Suardi. Ed. CV. Azka Pustaka. Kinney. Ann. Klokke. Marijke. , & Kieven. Worshiping Siva and Buddha : The Temple Art of East Java. University of Hawaii Press. Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Tiara Wacana. Kusuma. Pararaton. Diva Press. Lombard. Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya (Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentri. Gramedia Pustakan Utama Madjid. , & Wahyudhi. Ilmu Sejarah: Sebuah Pengantar. Kencana. Maksum, . Filsafat Ilmu Sosial. https://doi. org/10. 11594/ubpress9786232967748 Filsafat Ilmu Sosial. Muljana. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. LKiS. Page 40 of 41 Melda Amelia Rohana. Aria Putra. Syaifudin Membaca Ken Angrok dalam Kacamata Teori Kebenaran Munandar. Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Dudus dalam Kitab Pararaton. Manuskripta, 1. Nainggolan. Nilai-Nilai Karakter Dalam Perjuangan Ken Arok Mendirikan Kerajaan Singasari Tahun 1222. Bihari: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah, 4. , 43-50. https://jurnal. id/index. php/bihari/article/view/2801. Nordholt. Purwanto. , & Saptari. Memikir Ulang Historiografi Indonesia. Nordholt. Purwanto, & R. Saptari (Eds. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Poesponegoro. , & Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia II. Balai Pustaka. Prastika. Kajian Struktural Dalam Serat Pararaton: Ken Angrok. Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, 4. Purwoko. Sejarah Nusantara yang Disembunyikan. Anak Hebat Indonesia. Rahardjo. Supratikno. Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir. Komunitas Bambu. Reichle. Violence and serenity. https://doi. org/10. 1515/9780824865474. Violence Serenity. Salindri. Legitimasi Kekuasaan Ken Arok Versi Pararaton dan Negarakrtagama. Historia: Jurnal Ilmu Sejarah, 1. , 104-116. Tosh. The pursuit of history: Aims, methods, and new directions in the study of New York: Routledge. Kartodirdjo. Pendekatan ilmu sosial dalam metodologi sejarah. Jakarta: Gramedia Sidomulyo. From Kua RAja to SinghasAri: Towards a Revision of the Dynastic History Century Java. Archipel, 80. , https://doi. org/10. 3406/arch. Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan lndonenesia 2. Kanisius. Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Suwardono. Sejarah Indonesia masa Hindu-Buddha. Ombak Thohir. , & Sahidin. Filsafat Sejarah: Profetik. Spekulatif, dan Kritis. Kencana. Vlekke. Nusantara: Sejarah Indonesia. Kepustakaan Populer Gramedia. Wang. The alter ego perspectives of literary historiography: A comparative study of literary histories by stephen owen and Chinese scholars. In The Alter Ego Perspectives of Literary Historiography: A Comparative Study of Literary Histories by Stephen Owen and Chinese Scholars. https://doi. org/10. 1007/978-3-642-35389-5. Page 41 of 41