Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 PENGARUH VARIASI SUHU DAN BAHAN KIMIA AKTIVATOR PADA ARANG AKTIF BIJI KELOR TERHADAP KADAR AIR DAN pH EKSKRETA Cokorda B. Mahardika1*. Nimrot Neonufa2. Yohan Nenomnanu1. Yefri N. Baunsele1. Andri Modok1 Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Politeknik Pertanian Negeri Kupang Program Studi Manajemen Pertanian Lahan Kering. Politeknik Pertanian Negeri Kupang *e-mail: cokbagusdharma@gmail. ABSTRAK Karbon aktif cukup efektif mengadsorpsi berbagai jenis polutan dengan efisien dan kinetika adsorpsi yang cepat. Biji kelor dapat diubah menjadi karbon aktif melalui proses karbonisasi dan aktivasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh dari aktivasi arang aktif biji kelor dengan variasi suhu dan bahan kimia terhadap kadar air dan pH ekskreta ayam ras pedaging. Penelitian ini didesain secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 3x3 dengan faktor utama adalah suhu aktivasi . 0C, 4000C dan 6000C) dan faktor kedua yaitu bahan kimia aktivator (H2SO4. NaCl dan HC. Peubah yang diteliti adalah kadar air dan kadar pH ekskreta. Data yang telah diperoleh dianalisis ragam secara statistik pada taraf nyata 5%. Apabila hasil analisis sidik ragam ada perlakuan yang nyata, maka analisis dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa suhu aktivasi dan bahan kimia aktivator masing-masing memiliki pengaruh signifikan terhadap pH ekskreta . <0,. , namun tidak ada interaksi signifikan antara suhu dan jenis aktivator . >0,. Semakin tinggi suhu aktivator cenderung menurunkan pH ekskreta pada ketiga jenis aktivator. HCl menghasilkan pH ekskreta paling rendah, menunjukkan bahwa aktivator ini paling efektif dalam menurunkan pH ekskreta. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa baik jenis bahan kimia aktivator maupun suhu tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kadar air ekskreta, serta tidak ada interaksi signifikan antara keduanya . >0,. Penambahan arang aktif biji kelor pada ekskreta memiliki pengaruh dalam penurunan pH ekskreta. Kata kunci : arang, ekskreta, kadar air, kelor, pH PENDAHULUAN Karbon aktif banyak digunakan di berbagai sektor, termasuk industri makanan dan kimia, pengolahan limbah serta pengendalian polusi udara (Sugumaran et. , 2. Karbon aktif terbukti efektif mengadsorpsi berbagai jenis polutan dengan efisien dan kinetika adsorpsi yang cepat (Birtukan , 2. Sifat penyerapan karbon aktif berasal dari luas permukaan yang besar, struktur mikropori, dan tingkat reaktivitas permukaan yang tinggi. Efisiensi dalam menghilangkan polutan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti konsentrasi larutan, pH larutan, kekuatan ionik, karakteristik adsorbat, metode modifikasi adsorben, serta sifat fisik dan kimia karbon aktif, termasuk luas permukaan dan porositasnya (Abdullah et al. , 2. Kelor (Moringa oleifer. merupakan spesies tanaman yang paling tersebar luas dalam famili tanaman Moringaceae (Marsh & Reinoso, 2. Lebih lanjut diuraikan bahwa kelor khususnya kulit bijinya dapat diubah menjadi karbon aktif melalui proses karbonisasi dan aktivasi. Terdapat beberapa metode dalam pembuatan karbon aktif dari biomassa, yaitu teknik aktivasi kimia dan aktivasi fisik. Pemilihan metode aktivasi juga bergantung pada bahan awal dan jenis seperti serbuk atau granular dengan kepadatan rendah dan tinggi (Dabrowski, 2. Kemampuan serap yang rendah dari arang biasa disebabkan oleh luas permukaannya yang kecil dan sangat terbatas, karena pori-porinya sebagian besar terisi oleh resin atau produk pembakaran tidak sempurna yang terbentuk selama proses pembuatan arang (Mohammad-Khah & Ansari, 2. Proses aktivasi membersihkan bahan tersebut, membuka pori-pori, mengembangkan porositas, dan secara signifikan meningkatkan luas permukaan. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Karbon adsorben dalam fase gas atau uap biasanya berbentuk butiran dan dibuat menggunakan metode aktivasi fisik atau gas. Karbon dapat berupa butiran keras, pelet yang relatif bebas debu dengan diameter pori kurang dari 3 nm (Mohammad-Khah & Ansari, 2. Menurut Ansari dan Masoudi . bahwa metode kimia dalam proses karbonisasi dan aktivasi dilakukan secara bersamaan. Bahan baku yang digunakan dicampur dengan bahan kimia dalam rasio tertentu, dikeringkan, dan dikarbonisasi pada suhu tertentu. Setelah karbonisasi selesai, sisa agen impregnasi dihilangkan melalui pencucian dengan air. Bahan kimia anorganik seperti asam dan alkali digunakan untuk menguraikan atau mendehidrasi molekul organik selama karbonisasi sehingga mencegah deposisi hidrokarbon pada permukaan karbon. Kalsinasi atau karbonisasi dilakukan dalam tungku agar memungkinkan penghilangan seluruh hidrokarbon yang teradsorpsi dan sebagian karbon, sehingga meningkatkan luas permukaan (Mohammad-Khah & Ansari, 2. Arang aktif sebagai adsorben yang ideal memiliki area luas permukaan dan struktur pori yang kecil yang diperlukan untuk mengurangi kontaminasi dengan kapasitas reduksi yang tinggi (Yeom & Younghun-Kim, 2. Arang aktif yang dikarbonasi dari 400-5000C dilaporkan efektif dalam mengadsoprsi gas amonia yang telah diberi perlakuan asam pada permukaannya (Asada et al. , 2. Pada peternakan ayam ras pedaging, jika ternak mengalami stres oksidatif yang mengakibatkan termoregulasi dan metabolisme terganggu. Hal ini menyebabkan inefisiensi dalam penyerapan protein yang berimplikasi pada keluaran nitrogen (N) yang lebih banyak dalam bentuk uric acid. Uric acid selanjutnya akan dikonversi menjadi amonia oleh bakteri ureolitik dengan didukung kondisi lingkungan (Saputra et al. , 2. Ekskreta dengan kadar air tinggi yang bercampur dengan litter akan memicu peningkatan kadar air litter. Kadar air yang tinggi dan lembab serta didukung dengan pH dan suhu litter yang tinggi akan meningkatkan kinerja mikroorganisme dalam mendekomposisi protein tidak tercerna dan uric acid menjadi amonia (Knyatovy et al. Kondisi kadar air litter dan pH litter yang tinggi ini mengindikasikan kondisi litter yang buruk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh dari aktivasi arang aktif biji kelor dengan variasi suhu dan bahan kimia terhadap karakteristik ekskreta ayam ras pedaging. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana hubungan suhu dalam proses aktivasi memengaruhi pH dan kadar air Suhu yang berbeda kemungkinan dapat memengaruhi ukuran pori dan struktur karbon aktif, yang pada gilirannya berpotensi memengaruhi kemampuan arang aktif dalam mengikat kontaminan yang ada dalam ekskreta ayam. Selain itu menguji berbagai bahan kimia aktivator, seperti asam sulfat, natrium klorida, dan asam klorida, yang digunakan dalam proses aktivasi karbon dari biji kelor. berfungsi untuk meningkatkan efisiensi aktivasi dengan cara memperluas pori dan meningkatkan area permukaan karbon aktif sehingga berpotensi memengaruhi kualitas arang aktif dalam menyerap Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 METODE PENELITIAN Pengambilan Sampel Ekskreta Ekskreta didapatkan dari kandang ayam ras pedaging yang berada di Kebun SUT Politani Kupang. Sampel ekskreta ditempatkan pada aluminium foil steril kemudian dimasukan kedalam plastik bening yang rapat dan disimpan pada suhu 400C selama 2 jam. Ekskreta tersebut diambil sebanyak 100 gram dan dimasukan kedalam gelas kaca beaker berukuran 500 ml, ditutup menggunakan plastik PET kemudian dibungkus rapat menggunakan plastik wrap. Sampel ekskreta diinkubasi pada suhu 370C selama 60 menit. Preparasi Arang Aktif Biji Kelor Biji kelor yang telah disortir bersih dimasukan kedalam wadah khusus dan ditempatkan pada tungku pembakaran kemudian dikarbonasi selama 12 jam dengan suhu 500 0C. Wadah khusus tersebut diputar hingga proses pengarangan merata. Biji kelor yang sudah menjadi arang didiamkan pada suhu ruangan selama 24 jam kemudian diayak diayak hingga mencapai ukuran A 0,5-0,41 mm. Arang aktif kemudian diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 55 0C. Arang aktif sebelum diaplikasikan pada ekskreta dibilas dan dicuci terlebih dahulu menggunakan akuades. Desain Penelitian Penelitian ini didesain secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 3x3 dengan tiga ulangan sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan aktivasi dengan faktor utama adalah suhu aktivasi . 0C, 4000C dan 6000C) dan faktor kedua yaitu bahan kimia (H2SO4. NaCl dan HC. Arang aktif yang sudah teraktivasi kemudian diaplikasikan pada sampel ekskreta yang sudah diinkubasi sebanyak 5% dari berat ekskreta. Peubah yang diteliti adalah kadar air dan kadar pH Kadar air . ditentukan dengan cara metode oven yang dikeringkan pada suhu 1050C selama 24-48 jam (AOAC, 2. pH . erajat keasaama. diukur menggunakan pH meter ATC EZ-9908 dengan prosedur (AOAC, 2. Analisis Data Data yang telah diperoleh dianalisis ragam . nalysis of varianc. secara statistik pada taraf nyata 5%. Apabila hasil analisis sidik ragam ada perlakuan yang nyata, maka analisis dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (Bewick et. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh suhu aktivasi dan bahan kimia aktivator terhadap kadar pH ekskreta Pada Tabel-1 dijelaskan pengaruh suhu aktivasi . 0C, 4000C dan 6000C) dan bahan kimia aktivator (H2SO4. NaCl dan HC. terhadap kadar pH ekskreta. Hasil penelitian menujukan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara suhu aktivasi dan bahan aktivator terhadap kadar pH . <0,. Perbedaan yang nyata antara suhu dan bahan aktivator menunjukkan bahwa baik suhu maupun aktivator berperan dalam mengatur pH ekskreta. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Tabel 1. Kadar pH ekskreta yang ditambahkan arang aktif biji kelor dengan suhu aktivasi dan bahan activator yang berbeda Suhu . C) H2SO4 NaCl HCl 6,91 A 0,20a 7,52 A 0,34a 6,89 A 0,31a 7,07 A 0,40a 7,27 A 0,29a 6,82 A 0,32a 6,45 A 0,22b 6,96 A 0,22b 6,50 A 0,35b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji lanjut Duncan . >0,. Huruf kecil secara vertikal menunjukan perbandingan antara suhu aktivasi pada bahan aktivator yang sama. Huruf kapital secara horisontal membandingkan antara bahan aktivator pada suhu aktivasi yang sama. Arang aktif biji kelor yang diaktivasi H2SO4, menunjukan bahwa pH ekskreta yang dikarbonasi pada suhu 200AC . ,91 A 0,. tidak berbeda nyata dengan pH pada suhu 400AC . ,07 A 0,. >0,. Karbonasi hingga suhu 600AC, pH menurun signifikan menjadi 6,45 A 0,22 . <0,. Hal ini juga terlihat serupa pada arang aktif yang diaktivasi dengan NaCl yaitu pada suhu 200AC, pH ekskreta mencapai 7,52 A 0,34 yang merupakan nilai tertinggi diantara semua perlakuan. Suhu 400AC pH turun menjadi 7,27 A 0,29, meskipun masih dalam rentang mendekati netral. Pada suhu 600AC menunjukkan penurunan signifikan pada pH ekskreta yaitu 6,96 A 0,22 . <0,. Aktivasi menggunakan HCl menunjukan pada suhu 200AC, pH ekskreta adalah 6,89 A 0,31, relatif stabil dan tidak berbeda nyata dengan suhu 400AC, walaupun sedikit menurun menjadi 6,82 A 0,32 . >0,. Peningkatan suhu karbonasi mencapai 600AC, menunjukan bahwa pH ekskreta berbeda nyata dibandingkan suhu karbonasi 2000C dan 4000C . <0,. Pada tabel-1 juga menunjukan perbandingan antar bahan aktivator pada suhu yang sama memberikan informasi tentang keefektifan masing-masing aktivator dalam memengaruhi pH ekskreta. Arang aktif pada suhu karbonasi 200AC. NaCl menunjukan pH ekskreta tertinggi . ,52 A 0,. dibandingkan HCCSOCE dan HCl . ,91 A 0,20 dan 6,89 A 0,. <0,. Tidak terdapat perbedaan nyata antara HCCSOCE dan HCl . >0,. , menunjukkan bahwa kedua bahan kimia ini memiliki efek serupa pada pH ekskreta pada suhu rendah. Pada suhu 400AC, aktivasi dengan H2SO4, pH ekskreta tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pH ekskreta yang ditambahkan arang aktif aktivasi NaCl dan HCl . >0,. Namun terdapat perbedaan yang nyata antara pH ekskreta yang diberi arang dengan aktivasi bahan HCl dan NaCl . <0,. Pada suhu 600AC, arang aktif aktivasi NaCl tetap memberikan pH ekskreta yang lebih tinggi . ,96 A 0,. dibandingkan dengan HCCSOCE . ,45 A 0,. dan HCl . ,50 A 0,. Hasil ini mengindikasikan bahwa H2SO4 memiliki kemampuan yang lebih menurunkan pH secara dibandingkan NaCl . <0,. Sehingga suhu aktivasi berpengaruh signifikan terhadap pH ekskreta, dengan tren umum bahwa pH cenderung menurun pada suhu yang lebih tinggi. Aktivator HCCSOCE dan HCl cenderung dapat menurunkan pH ekskreta dibandingkan pH yang ditambahkan arang aktif menggunakan aktivasi NaCl. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Grafik-1. Tren penurunan pH ekskreta yang ditambahkan arang aktif dengan aktivasi suhu dan bahan kimia yang berbeda Hasil penelitian menunjukan bahwa pH ekskreta cenderung menurun seiring dengan peningkatan suhu untuk semua jenis aktivator (HCCSOCE. NaCl, dan HC. Semakin tinggi suhu aktivasi arang aktif, semakin rendah pH ekskreta yang dihasilkan . Hal ini menerangkan bahwa arang aktif yang diaktivasi pada suhu tinggi lebih efektif dalam menurunkan pH ekskreta. Pada dasarnya suhu tinggi dapat menyebabkan hilangnya gugus fungsi atau teroksidasi seperti senyawa kimia alkohol, fenol dan asam (Demibras, 2. Namun suhu tinggi pada karbonisasi bahan organik menjadi arang dan aktivasi arang menjadi arang aktif dapat merubah karakteristik struktur dan susunan senyawa kimia bahan dengan karakteristik dan susunan senyawa kimia baru yang berbeda dengan asalnya (Lempang et. , 2. Asam kuat seperti HCCSOCE dan HCl tidak hanya menambah gugus asam pada permukaan karbon, tetapi juga dapat meninggalkan residu kimia yang bersifat asam . eperti sulfonat atau klorid. Pada suhu tinggi, meskipun beberapa gugus asam hilang karena deoksigenasi, residu ini dapat tetap bertahan dan memengaruhi sifat asam arang aktif, sehingga pH tetap rendah. Suhu tinggi menyebabkan perubahan signifikan dalam struktur pori arang aktif yaitu pori yang lebih besar memungkinkan pelepasan ion HA lebih mudah ke dalam larutan, meningkatkan keasaman Menurut Lempang et. , proses aktivasi menggunakan suhu 7500C menghasilkan arang aktif dengan permukaan pori yang bersih dan semakin lama waktu aktivasi semakin lebih bersih permukaan arang aktif. Asam sulfat dan asam klorida cenderung meninggalkan residu asam pada permukaan arang aktif, yang memperkuat sifat asam arang pada suhu tinggi. Sesuai dengan hasil penelitian dari Al-Qodah dan Shawabkah . , yang dimana menyebutkan bahwa aktivasi kimia menggunakan asam kuat dapat meningkatkan keasaman permukaan. Kadar pH basa dapat memicu meningkatnya gas amonia sehingga kadar pH rendah dapat mengurangi terbentuknya amonia volatil sehingga meningkatkan taraf kenyamanan ayam yang dipelihara. Kenyamanan dapat berhubungan Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 dengan performa ayam khususnya yang berkaitan dengan lingkungan mikroklimat sekitar kandang (Mahardika et. , 2. Pengaruh suhu aktivasi dan bahan kimia aktivator terhadap kadar air ekskreta Hasil penelitian yang disajikan pada Tabel-2 yaitu pengaruh suhu aktivasi . 0C, 4000C dan 6000C) dan bahan kimia aktivator (H2SO4. NaCl dan HC. terhadap kadar air ekskreta. Hasil ANOVA menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara suhu dan bahan aktivator terhadap kadar air ekskreta . >0,. Tabel 2. Kadar air ekskreta yang ditambahkan arang aktif biji kelor dengan suhu aktivasi dan bahan activator yang berbeda Kadar air (%) Suhu . C) H2SO4 NaCl HCl 79,46 A 4,72 79,77 A 4,12 72,34 A 5,99 77,24 A 0,32 80,33 A 1,62 71,70 A 5,11 71,23 A 5,32 78,12 A 6,06 73,51 A 7,92 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji lanjut Duncan . >0,. Berdasarkan tabel-2, kadar air ekskreta yang ditambahkan arang aktif biji kelor dengan aktivasi H2SO4, cenderung menurun seiring meningkatnya suhu aktivasi, walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Pada suhu 200AC, kadar air ekskreta adalah 79,46 A 4,72 %, relatif tinggi dibandingkan pada suhu 400AC, kadar air sedikit menurun menjadi 77,24 A 0,32 %. Pada suhu 600AC, kadar air turun menjadi 71,23 A 5,32 % dan termasuk paling rendah diantara semua perlakuan bahan aktivator dan suhu. Pada bahan kimia aktivator NaCl dan HCl tidak menunjukan hasil yang bervariasi seiring meningkatnya suhu karbonasi. Aktivasi dengan HCl menghasilkan kadar air ekskreta yang paling rendah di semua suhu, yaitu 72,34 A 5,99 % pada 200AC dan 71,70 A 5,11 % pada 400AC. Aktivator NaCl memberikan kadar air ekskreta tertinggi . ,77 A 4,. jika dibandingkan HCCSOCE . ,46 A 4,. dan HCl . ,34 A 5,. pada suhu karbonasi 200AC. Pada suhu 400AC dan 600AC. Aktivator NaCl masih mempertahankan kadar air ekskreta tertinggi jika dibandingkan HCCSOCE dan HCl walaupun secara statistik tidak berbeda nyata . >0,. Aktivasi dengan NaCl pada suhu ini terlihat secara umum menghasilkan arang aktif dengan pori-pori yang cenderung mempertahankan Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Grafik-2. Kadar air ekskreta (%) yang ditambahkan arang aktif dengan aktivasi suhu dan bahan kimia yang berbeda Grafik-2 menunjukan bahwa secara umum terdapat tren penurunan kadar air ekskreta yang diberikan arang aktif aktivasi bahan kimia HCCSOCE dan NaCl, sedangkan pada aktivator HCl menunjukan kadar air ekskreta yang terendah . AC dan 400AC) kemudian terlihat ada peningkatan pada suhu 600AC. Meningkatnya suhu karbonasi juga menunjukkan tren penurunan kadar air ekskreta . ecuali aktivasi dengan HC. dan paling besar persentase penurunannya adalah HCCSOCE. Kadar air feses yang turun dapat mengurangi cemaran amonia volatil ke atmosfir, karena air merupakan salah satu unsur yang mempercepat terbentuknya amonia atau gas polutan lainnya. Kadar air feses yang turun juga dapat mengurangi kelembaban litter dan juga mengurangi frekuensi pengantian alas litter karena berkurangnya jumlah air yang diresap pada pori-pori bahan litter (Mahardika et. , 2. Menurut Ritz, et. , jika alas litter kadar kelembabanya berkurang, maka performa ayam ras dapat meningkat karena penyebab ketidaknyamanan ayam dapat diminimalisir. Suhu aktivasi yang lebih tinggi biasanya mengubah sifat fisik dan kimia dari arang aktif (Lempang et. , 2. Lebih lanjut dijelaskan pada suhu tinggi, gugus fungsional seperti hidroksil (OH) atau karboksil (-COOH) cenderung terdekomposisi, menciptakan pori-pori lebih banyak dan meningkatkan area permukaan spesifik. Perubahan ini diharapkan memengaruhi kemampuan menyerap air. Namun, suhu yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan pada struktur karbon, sehingga penting untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara suhu dan waktu aktivasi (Laili et al. , 2. Jika perubahan sifat fisik dan kimia arang tidak cukup signifikan antar suhu, kemampuan menyerap air dari ekskreta tetap seragam. Pada suhu tinggi, pori-pori arang aktif mungkin sudah mencapai batas kapasitas penyerapan air sehingga peningkatan suhu tidak lagi memberikan dampak tambahan. Hal ini sesuai dengan penelitian Kirani & Ali . yang mendapatkan bahwa jika adsorben terus menerima beban, hal ini dapat mengakibatkan adsorben mencapai titik jenuhnya, di mana semua pori-pori sudah terisi penuh oleh adsorbat, sehingga laju adsorpsi menurun dan mungkin terjadi proses desorpsi. Selain itu, aktivator yang digunakan mungkin menghasilkan struktur pori dan gugus fungsional yang serupa, sehingga kemampuan menyerap air tidak berbeda secara nyata. Bahan dasar biji kelor mungkin memiliki sifat kimia yang mendominasi sehingga efek bahan aktivator tidak cukup kuat untuk menciptakan perbedaan signifikan. Hasil penelitian Putri dan Wildansyah . Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 menerangkan bahwa aktivator seperti NaOH atau HCl dapat meningkatkan porositas dan jumlah gugus fungsional pada permukaan adsorben. Namun, jika struktur pori yang dihasilkan serupa dengan yang sudah ada pada biji kelor, maka peningkatan kemampuan menyerap air mungkin tidak terlihat secara Lebih lanjut dijelaskan bahwa aktivator bertujuan untuk membuka pori-pori dan meningkatkan daya serap, tetapi jika bahan dasar sudah memiliki sifat adsorptif yang tinggi, efek tambahan dari aktivator mungkin tidak cukup kuat untuk menciptakan perbedaan yang nyata dalam performa adsorpsi. KESIMPULAN Suhu karbonasi dan bahan kimia aktivator masing-masing memiliki pengaruh signifikan terhadap pH ekskreta . <0,. , namun tidak ada interaksi signifikan antara suhu dan jenis aktivator . >0,. Semakin tinggi suhu karbonasi arang, dapat menurunkan pH ekskreta pada ketiga jenis aktivator. Arang aktif biji kelor yang diaktivasi HCl merupakan adsorben yang paling efektif dalam menurunkan pH ekskreta. Bahan kimia aktivator maupun suhu tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kadar air ekskreta, serta tidak ada interaksi signifikan antara keduanya . >0,. DAFTAR PUSTAKA