Literat: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume II, No. 1, Februari 2023 ISSN 2963-4342 https://ejournal.unsap.ac.id/index.php/literat NILAI DIDAKTIS DAN BUDAYA NOVEL ISLAMMU ADALAH MAHARKU KARYA ARIO MUHAMMAD SEBAGAI UPAYA PEMANFAATAN BAHAN PEMBELARAN APRESIASI SASTRA DI SMA Imas Siti Masinah1, Kuswara*2, Yeni Yuliani3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – FKIP Universitas Sebelas April Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima 21/1/2023 Disetujui 30/1/2023 Dipublikasikan 22/2/2023 Kata kunci: nilai didaktis, nilai budaya, novel Islammu Adalah Maharku. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya ketertarikan untuk menganalisis nilai didaktis dan budaya yang terdapat dalam novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad, karena nilai-nilai tersebut perlu diajarkan lebih dalam lagi untuk perkembangan remaja saat ini yang kurang memperhatikan aturan dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan unsur pembangun, nilai didaktis dan dan skenario pembelajaran nilai didaktis novel Islammu Adalah Maharku. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode penelitian deskriptif dengan teknik pengumpulan data dan analisis data. Berdasarkan hasil analisis, novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad memiliki tebal 326 halaman ini berisi tentang perjalanan dua insan yang berbeda agama, dan budaya, menceritakan tentang usaha dan perjuangan dalam mencapai cita-cita, impian, serta memiliki nilai-nilai yang dapat memberikan pelajaran tentang kehidupan. Nilai didaktis berupa nilai religius menceritakan tentang rasa syukur; nilai moral tentang rasa kepedulian; nilai etika berupa etika dalam bertingkah laku; nilai motivasi tentang perjuangan, usaha, dan semangat yang tinggi dalam mencapai tujuan; dan nilai intelektual tentang bagaimana seseorang dapat mengambil keputusan dan manfaat dari suatu kejadian. Serta, nilai budaya berupa hubungan manusia dengan diri, hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran apresiasi sastra di kelas XII SMA dengan skenario pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran TGT (Team Game Tounament). ABSTRACT Keywords: didactic values, cultural values, novel Islammu Adalah Maharku. This research is motivated by an interest in analyzing the didactic and cultural values contained in the novel Islammu Is Maharku by Ario Muhammad, because these values need to be taught more deeply for the development of today's youth who pay less attention to the rules and values that exist in society. . The purpose of this study is to describe the building blocks, didactic values and scenarios of learning didactic values in the novel Islammu Is Maharku. The method used in this research is descriptive research method with data collection and data analysis techniques. Based on the results of the analysis, the novel Islammu Is Maharku by Ario Muhammad has a thickness of 326 pages, it contains the journey of two people of different religions and cultures, tells about the efforts and struggles in achieving goals, dreams, and values that can provide lessons. about life. Didactic values in the form of religious values tell about gratitude; moral values about caring; ethical values in the form of ethics in behavior; motivational values about struggle, effort, and high enthusiasm in achieving goals; and intellectual values about how a person can make decisions and benefit from an event. Also, cultural values are in the form of human 32 Volume II, No. 1, Agustus 2022, Hal. 32-41 33 relationships with self, human relationships with other humans, and human relationships with God. The novel Islammu Is Maharku by Ario Muhammad can be used as learning material for literary appreciation in class XII SMA with a learning scenario that uses the TGT (Team Game Tournament) learning model. © 2023 Universitas Sebelas April – Sumedang *Corresponding Author: Kuswara, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas April Sumedang, Jl. Angkrek Situ No.19 Situ, Kec. Sumedang Utara, Kab. Sumedang (453523) e-mail: kuswara@unsap.co.id 1. PENDAHULUAN Perkembangan zaman yang semakin maju, membuat pola kehidupan manusia pun terus berganti dari masa ke masa. Perubahan tersebut membuat berubahnya juga sistem sosial, termasuk nilai, sikap, dan perilaku masyarakat, terutama pada remaja SMA. Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Perkembangan remaja pada saat ini mengalami kemunduran dalam perilaku karakter dan kebiasaannya, sekarang mereka hidup dalam kebebasan mereka sendiri, tidak lagi memperhatikan aturan-aturan dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Pendampingan pada remaja dibutuhkan, karena remaja akan banyak melakukan pencarian terhadap jati diri mereka untuk mempersiapkan diri menjadi dewasa. Sama seperti riset, pencarian ini membutuhkan sumber yang jelas dan mereka sebaiknya paham akan menjadi seperti apa bahkan seperti siapa. Kemampuan berpikir pada remaja berkembang pada saat mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan disekitarnya. Sehingga mereka merasa perlu mempertanyakan dan menkonstruksi pola pikir dengan kenyataan yang baru. Selain orang tua, peran pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan para remaja. Dalam hal ini, guru agama, guru ppkn, dan guru ips di SMA mempunyai kewajiban secara langsung untuk mengajarkan tentang nilai agama, nilai moral, dan nilai sosial. Namun, sisi lain guru dalam mata pelajaran apapun memiliki kewajiban untuk ikut serta memajukan pendidikan karakter bangsa, termasuk peneliti sebagai calon guru Bahasa Indonesia secara tidak langsung juga ikut mengajarkan tentang nilai-nilai, baik itu nilai agama, moral, etika, motivasi, intelektual, dan budaya yang tertuang dalam pembelajaran sastra. Karena nilai-nilai tersebut sangatlah penting bagi kemajuan pendidikan karakter bangsa. Masing-masing nilai tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi. Dalam hal ini, peneliti ingin menggunakan karya sastra untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut melalui pembelajaran sastra di sekolah. Sebuah karya sastra pasti memiliki nilainilai didalamnya, karya sastra yang digunakan peneliti adalah karya sastra berupa novel. Berdasarkan permasalahan tersebut, disamping untuk memperkarya kajian terhadap karya sastra, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam novel tersebut dengan judul “Nilai Didaktis dan Budaya Novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad sebagai Upaya Pemanfaatan Bahan Pembelajaran 34 Masinah, Kuswara & Yuliani – Nilai Didaktis dan Budaya Novel Islammu adalah Maharku Apresiasi Sastra di SMA”. Karena, novel ini sangat sarat dengan nilai-nilai didaktis dan budaya yang dapat dijadikan contoh bagi pembacanya di era perkembangan zaman yang semakin pesat ini. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan unsur pembangun, nilai didaktis, nilai budaya, keterkaitan nilai didaktis dan budaya dalam novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad, dan menyusun skenario pembelajaran nilai didaktis dengan model pembelajaran kooperatif TGT (Team Game Tournament) untuk siswa kelas XII di SMA. 1.1. Novel Novel adalah bentuk karya sastra yang paling populer di dunia, bentuk karya sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Novel yang baik dibaca untuk penyempurnaan diri, novel yang baik ialah novel yang isinya dapat memanusiakan para pembacanya. Waluyo (2002: 37) menyatakan bahwa novel berasal dari bahasa Latin novellus yang kemudian diturunkan menjadi noveis yang berarti baru. Perkataan baru ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa novel merupakan jenis cerita fiksi yang muncul belakangan dibandingkan cerita pendek dan roman. Dalam perkembangannya novel sering dianggap bersinonim dengan fiksi. Secara harfiah novel diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2000: 9). Pendapat berbeda juga disampaikan oleh Freye (dalam Wardani, 2009: 15) menyatakan bahwa novel merupakan karya fiksi realistik, tidak saja bersifat khayalan, namun juga dapat memperluas pengalaman akan kehidupan dan dapat pembaca kepada dunia yang lebih berwarna. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa novel adalah prosa fiksi realistik, tidak saja bersifat khayalan, namun juga memperluas pengalaman pembaca yang dibangun oleh beberapa unsur. Unsur-unsur itu membangun sebuah struktur di mana keseluruhan unsur itu saling berkaitan secara erat dan berhubungan untuk membangun kesatuan makna, serta merupakan karangan yang mleukiskan perbuatan pelakunya menurut isi dan jiwanya masing-masing yang diolah menjadi sebuah kisah sesuai dengan tujuan pengarang. Unsur pembangun sebuah novel secara garis besar dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur-unsur yang secara langsung turut membangun cerita. Sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra atau secara khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. 1.2. Nilai Didaktis Nilai didaktis dalam suatu karya sastra adalah “Gagasan, tanggapan, evaluatif dan sikap pengarang terhadap kehidupan yang merupakan butir-butir nilai kependidikan yang memberikan manfaat, petunjuk, dan keteladan bagi pembacanya” (Aminudin, 2009: 47). Gagasan, tanggapan, dan sikap pengarang itu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun religius sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkarya kehidupan rohaniah pembaca. Adapun jenis-jenis nilai didaktis meliputi: Volume II, No. 1, Agustus 2022, Hal. 32-41 35 1. Nilai religius, seperangkat dimensi yang muncul dari sikap ide dan pandangan hidup penulis sastra dan akhirnya terefleksi dalam karyanya. Karya sastra merupakan wujud repsentasi dunia dalam bentuk lambang kebahasaan. Oleh karena itu, karya sastra merupakan salah satu media yang dapat menjadi satu pengalaman estetik yang mengantarkan seseorang untuk mencapai religius. Kemendiknas (2010: 27) mendeskripsikan religius sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Adapun contoh nilai regius berupa iman kepada Allah, takwa kepada Allah, tawakal, dan sabar. 2. Nilai moral, merupakan semua yang berhubungan dengan adat kebiasaan manusia yang dapat dikatakan baik jika sesuai dengan adat budi pekertinya, dan moralitas mencakup baik buruknya perbuatan manusia di lingkungan sosialnya. 3. Nilai etika, sistem nilai di dalam hidup manusia, baik perorangan maupun bermasyarakat (K. Bertens, 2013:107-112). Adapun.perilaku tersebut berupa etika dalam berbicara, berpakaian, dan bergaul. 4. Nilai motivasi, proses seseorang untuk mencapai tujuannya, seperti seberapa giat seseorang itu berusaha, dan bagaimana seseorang itu dapat mempertahankan usahanya. 5. Nilai intelektual, meliputi kebiasaan hidup, pengambilan keputusan yang tepat, cepat tanggap terhadap situasi tertentu, usaha peningkatan kesejahteraan hidup, dan mengambil manfaat dari suatu kejadian tertentu. 1.3. Nilai Budaya Dalam praktek kehidupan nilai-nilai selalu beroperasi dalam kebudayaan, nilai budaya dapat digambarkan dalam kebudayaan. Nilai budaya merupakan ide abstrak yang secara implisit dan eksplisist berbagi tentang apa yang baik atau benar, dan apa yang diinginkan oleh masyarakat (Williams dalam Alo, 2015: 18). Nilai-nilai itu dapat disampaikan kepada masyarakat melalui paparan adat istiadat, hukum, norma, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang tampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan sosial atau organisasi masyarakat. Suatu sistem nilai budaya terdiri atas konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap bernilai. Sehingga sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman bagi perilaku manusia yang tingkatnya lebih konkret, seperti aturan-aturan khusus, hukum-hukum, dan norma yang semuanya berpedoman pada nilai budaya. Djamaris (1993: 2) menjelaskan sistem nilai budaya dapat dikelompokkan berdasarkan lima kategori hubungan, yaitu 1. Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri Perilaku tersebut dapat dilihat dari bagaimana diri kita berkembang, misalnya memiliki tujuan hidup, kerja keras, pantang menyerah, menuntut ilmu, bertanggungjawab, dan lainlain. 2. Hubungan Manusia dengan Masyarakat Perilaku tersebut dapat dilihat dari bagaimana mereka saling berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, seperti musyawarah, gotong royong, dan saling menolong sesama. 3. Hubungan Manusia dengan Manusia Perilaku tersebut dapat dilihat dari bagaimana kehidupan sehari-hari, misalnya suka menolong, rendah hati, suka memberi, mudah memaafkan, jujur, dan sebagainya. 36 Masinah, Kuswara & Yuliani – Nilai Didaktis dan Budaya Novel Islammu adalah Maharku 4. Hubungan Manusia dengan Alam Dalam kehidupan ini manusia hidup dengan menikmati dan memanfaatkan unsur-unsur alam untuk menopang kehidupannya. Pemanfaatan itu menyadarkan manusia untuk terus menjaga dan melestarikan alam. 5. Hubungan Manusia dengan Tuhan Hubungan manusia dengan Tuhan merupakan pengabdian manusia kepada pemiliknya, di mana ia menyadari bahwa manusia merupakan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang bertugas untuk menyebah-Nya, menjalani perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Perilaku tersebut tercermin dalam ketakwaan, ketaatan, keimanan-Nya kepada Tuhan. 2. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Narbuko (2015: 44) menyatakan penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data dengan menyajikan, menganalisis, dan menginterpretasikannya. Melalui metode penelitian deskriptif ini peneliti dapat menganalisis dan mendeskripsikan nilai didaktis dan nilai budaya yang terdapat dalam novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad. Teknik analisis teks pada penelitian ini dilakukan pada karya sastra berupa novel yang diarahkan dengan masalah dan tujuan penelitian yang sesuai. Data-data dari penelitian merupakan data otentik untuk dicermati lebih dalam lagi sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Teknik analisis teks ini digunakan untuk menganalisis nilai didaktis dan budaya yang terdapat dalam novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang berorientasi pada teks, di mana peneliti akan memberikan pandangan subjektifnya terhadap fokus penelitian. Dengan kata lain, dari semua data yang peneliti kumpulkan akan diinterpretasikan berdasarkan pada lingkungan sekitar tempat tinggal peneliti, dan kemudian disusun kesimpulan bedasarkan perspektif pribadinya. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah data nilai didaktis dan budaya yang terdapat dalam novel Islammu Adalah Maharku 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad, PhD ini mengisahkan tentang perjalanan dua insan yang berbeda agama, dan budaya. Yakni, tentang Profesor Yo Ming Chen atau yang sering di panggil Prof. Chen, seorang profesor muda sukses, dan seorang agnostik asal Taiwan yang jatuh cinta pada Gusti Kanjeng Syakila Daniarti atau yang sering di panggil Kila, seorang muslimah Indonesia, sekaligus mahasiswa master bimbingannya. Novel mempunyai tema tentang perjuangan dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Cerita dalam novel ini menggunakan alur maju dan plot lurus, progresif plot, peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa-peristiwa yang pertama diikuti oleh peristiwa –peristiwa yang kemudian atau secara runtut cerita dimulai dari tahap awal, tengah dan akhir. Latar cerita di negeri Formosa, Taiwan. Novel ini memiliki pesan yakni, tentang cara kita harus ikhlas menerima segala sesuatu yang telah diberi oleh-Nya, tetap berperasangka baik kepada Allah, dan percaya bahwa semua terjadi atas kehendakNya. Setelah peneliti menganalis nilai didaktis dan budaya pada novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad, hasil analisis peneliti paparkan pada tabel sebagai berikut. Volume II, No. 1, Agustus 2022, Hal. 32-41 37 Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Didaktis NO Nilai Didaktis 1. Nilai Religius 2. Nilai Moral 3. Nilai Etika 4. Nilai Motivasi 5. Nilai Intelektual Jumlah Frekuensi Keterangan Taat, rajin beribadah, selalu mengingat 7 Allah, ikhlas, selalu bersyukur. Tolong menolong, memiliki kepedulian 7 terhadap sesama. Etika dalam bertingkah laku, baik 6 berbicara, bergaul, bersikap,. Pantang menyerah, rajin, bekerja keras, 17 memiliki semangat yang tinggi, dan selalu berusaha dalam mengejar impian. Mengambil keputusan dan manfaat dari 3 suatu kejadian. 40 Takdir untuk Syakila berkata lain, untuk ke sekian kalinya ia gagal mendapatkan beasiswa di kampus impiannya. Namun, ia tak pernah putus asa. Ia mendapatkan tawaran beasiswa penuh di Taiwan, dengan dukungan dari orang tua ia mengambil kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya di Taiwan. Meskipun Taiwan bukan negara impiannya, ia tetap semangat menjalani kuliahnya, dengan ketekunannya ia dapat menyelesaikan S-2 nya hanya 1,5 tahun dan siadang tesisnya pun berjalan dengan baik tanpa hambatan. Selain menjadi mahasiswa di Taiwan, ia suka membantu mengajarkan anak-anak muslim Taiwan mengaji, ia juga merupakan muslimah yang sangat taat dalam menjalani ajaran agama Allah. Kegigihan Syakila dalam mengejar impian dan ketaatannya kepada Allah dapat dijadikan motivasi bagi peserta didik untuk mencontoh kepribadian Syakila. Saat menempuh pendidikan SMA, pengarang merupakan siswa teladan dan Duta Anak Indonesia, juga merupakan lulusan terbaik, tercepat, dan termuda di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dengan tekad dan keyakinannya kepada Allah ia dapat melanjutkan pendidikan S-2 di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), dan S-3 di University of Bristol dengan beasiswa penuh. Cerita yang disajikan pengarang dalam novel ini juga berkaitan dengan kisah pengarang itu sendiri, dengan latar belakang negeri Formosa (Taiwan) dan lingkungan sekitarnya, seperti kampus, masjid, asrama, dan tempat lainnya, itu semua merupakan tempat yang pernah ditinggali pengarang saat sedang menempuh pendidikan S-2 nya di Taiwan. Cerita tokoh utama dalam novel, yakni Prof. Chen dan Syakila berkaitan dengan kisah pengarang dan istri. Tokoh Prof. Chen yang terpana dengan Syakila mahasiswa bimbingannya, merupakan kisah pengarang yang terpana pada istrinya saat menjadi maba di NTUST. Kampus yang sama, asrama yang berdampingan, dan satu forum muslim membuat pengarang gugup setiap bertemu dengan istri. Selain tentang perjuangan dalam mengejar cita-cita, cerita dalam novel menggambarkan tentang keikhlasan seorang muslim dalam menjalani ajaran agamanya, meskipun di negara minoritas muslim. Saat SMA pengarang merupakan ketua ROHIS, dan saat kuliah merupakan seorang aktivis Forum Mahasiswa Muslim di Taiwan (FORMMIT). Maka dari itu, banyak pengetahuan dan ajaran agama Islam yang tertuang dalam novel ini. Pengarang menceritakan tentang pengalaman hidup di Taiwan, menjalani hidup di negara dengan mayoritas non muslim tidak mudah baginya, namun tidak ada alasan untuk tidak menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, dan menyebarkan ajaran agama Islam Masinah, Kuswara & Yuliani – Nilai Didaktis dan Budaya Novel Islammu adalah Maharku 38 kepada sesama. Pengarang dan istri yang sama-sama menempuh pendidikan S-2 di NTUST menjadi salah satu aktivis Forum Mahasiswa Muslim di Taiwan, di tengah kesibukan kuliah ia dan istri mengisi acara dakwah, pengajian, dan acara keagamaan lain dengan semangat tanpa mengeluh dengan tetap menjaga pergaulan, dan etika sesuai dengan ajaran agamanya. Dalam menjalani hidup, selain dengan usaha fisik, ia juga selalu mengirim pinta pada Allah dengan istikharah, tilawah, tahajud, dan doa agar Allah dimudahkan setiap hal dalam hidupnya. Nilai-nilai didaktis yang terdapat dalam novel ini tersusun rapi, dan disajikan dengan bahasa yang santun, novel ini bermanfaat untuk mengajarkan hal-hal baik kepada siswa. Pengalaman yang dimiliki pengarang dapat dijadikan motivasi bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan tekad dan keyakinan yang kuat, serta cara untuk mempertahankan keimanan kita dalam situasi apa pun. Tabel 2. Rekapitulasi Nilai Budaya NO Nilai Budaya Frekuensi Keterangan 1. Hubungan manusia dengan diri sendiri 3 2. Hubungan manusia dengan manusia 14 3. Hubungan manusia dengan Tuhan 11 Konsisten dalam memegang teguh prinsip hidup, yakin akan diri sendiri, taat. Sikap, perilaku, pandangan, dan cara hidup manusia saat hidup berdampingan dengan manusia lain. Meyakini adanya Tuhan, rajin beribadah, selalu mengingat Allah, menerima takdir Allah dengan ikhlas. 28 Jumlah Berdasarkan tabel 2, terdapat nilai budaya berupa hubungan manusia dengan manusia sebanyak 14 buah, hubungan manusia dengan Tuhan sebanyak 11 buah, dan hubungan manusia dengan diri sendiri sebanyak 3 buah. Hubungan manusia dengan manusia lain banyak ditemukan dalam novel ini, tergambar dari cara pandang tokoh Syakila terhadap manusia lain, cara berperilaku terhadap orang lain, dan cara hidup manusia saat berdampingan hidup dengan manusia lain. Novel ini berisi tentang keikhlasan dan perjuangan, keikhlasan dalam menerima jalan hidup yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan perjuangan dalam menggapai cita-citanya. Berlatar di negeri Formosa (Taiwan), dan di Surabaya, cerita disajikan dengan beberapa perbedaan agama dan budaya. Namun, pengarang menggambarkan karakter tokoh yang memiliki kepribadian baik dalam hidup berdampingan dengan orang lain, meskipun berada dalam lingkungan yang berbeda, baik itu perbedaan agama, budaya, dan kebiasaan hidup. Tokoh Syakila yang digambarkan sebagai seorang muslimah asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S-2 di Taiwan, dan Prof. Chen merupakan profesor muda tak beragama asal Taiwan. Perbedaan tersebut menjadi konflik dalam cerita, namun mereka diceritakan sebagai seseorang yang dapat beradaptasi dengan baik, saling menghargai, dan menghormati. Perbedaan antara keduanya menjadi hambatan dalam penyatuan cinta mereka, Volume II, No. 1, Agustus 2022, Hal. 32-41 39 namun mereka dapat berdampingan dengan baik. Syakila yang selalu bersikap ramah dan menghormati semua orang, menjalani hidup dengan baik sesuai dengan ajaran agamanya, berani menentang apa yang menurutnya tidak baik. Budaya Taiwan merupakan budaya barat, di mana masyarakat lingkungannya hidup bebas dengan sesuka mereka. Kurangnya bimbingan orang tua kepada anak, membuat remaja tidak memiliki aturan yang mengikat dirinya. Sehingga, banyak anak muda yang hidup bebas, melakukan seks bebas, berciuman di tempat umum tanpa memiliki rasa malu, dan orang-orang disekitarnya pun tidak peduli. Mereka kurang memiliki rasa kepedulian terhadap sesama, jika bukan urusan bisnis. Syakila kaget dengan budaya Taiwan, namun ia selalu mengingat Allah agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan seperti itu. Ia selalu menjaga pandangannya, dan selalu memilih pergaulan yang baik untuknya, yaitu dengan selalu mengikuti pengajian yang diadakan oleh masjid-masjid sekitar Taipei, dan ikut mengajarkan ngaji kepada anak-anak muslim Taiwan dan pekerja Indonesia yang sedang bekerja di Taiwan, dapat berdambingan dengan masyarakat sekitar membuat dirinya senang. Kepribadian Syakila, membuat Prof. Chen dan teman-temannya kagum, Syakila merobohkan keyakinan mereka akan agama Islam yang selama ini dipandang sebagai agama teroris. Sehingga, mereka dapat lebih menghormati dan menghargai seorang muslim. Berlatar belakang negeri Formosa (Taiwan), dengan latar tempat sekitarnya dan Indonesia, dangan berlatar di Surabaya dan latar tempat lainnya, seperti Surabaya, dan kampus ITS. Itu semua berkaitan dengan kisah pengarang, yang mana negeri Formosa merupakan tempat tinggal dan bertemunya pengarang dengan istri saat sedang menempuh pendidikan S-2 di Taiwan, yaitu di kampus NTUST, dan masjid-masjid sekitar Taiwan, sedangkan Surabaya dan kampus ITS yang digambarkan merupakan tempat tinggal dan kampus sang istri. Pengarang merupakan seorang muslim asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Taiwan, sehingga pengarang menyajikan cerita dengan perbedaan budaya yang dominan, baik perbedaan agama maupun kebiasaan hidup antara budayanya dengan budaya Taiwan. Penduduk Indonesia mayoritas muslim, sedangkan di negara lain, termasuk Taiwan minoritas. Sehingga ajaran agama Islam, dan kebiasaan hidup banyak diceritakan dalam novel ini, disajikan dengan rapi dan sesuai dengan fakta yang ada, seperti perbedaan pola pikir, cara kerja, sikap dan kebiasaan lain. Pengarang menuangkan pengalamannya saat berada di Taiwan yang merupakan negara maju, perbedaan budaya dan kebiasaan hidup sangat kontras. Pengarang menceritakan tentang sang istri yang membuat dirinya kagum, saat taaruf ia hanya mahasiswa berbeasiswa yang tidak memiliki modal untuk menikah, namun sang istri tidak meminta hal yang mewah untuk mahar, dan sangat menghormati dirinya sebagai seorang suami. Ia beruntung memiliki seorang istri yang baik, seiman, dan dapat menerima kekurangannya, berbeda dengan perempuan di Taiwan yang lebih mementingkan karir dibanding dengan menikah, dan jika menikah harta lebih utama, sehingga di negara Taiwan banyak pasangan yang tinggal bersama seperti suami istri, namun tidak ada ikatan nikah. Hal seperti itu dianggap biasa di Taiwan, para remaja yang bercinta tanpa rasa malu di depan umum, pasangan tanpa ikatan pernikahan, dan rasa kepedulian yang kurang antar sesama. Sedangkan dalam Islam hal itu adalah sesuatu yang tidak wajar. Kekaguman pengarang kepada sang istri dan bagaimana sang istri menghormatinya sebagai seorang suami diceritakan dalam novel ini. Pengarang menuangkan dengan jelas bahwa Islam menempatkan posisi wanita sangat agung dan dengan hijab wanita lebih terjaga, terhormat, dan tidak di ganggu, seperti itu cara Islam menjaga wanitanya. Sehingga, tokoh Syakila digambarkan sebagai seorang muslimah yang sangat menjaga kehormatannya, seperti sang istri yang selalu menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan. Setelah 40 Masinah, Kuswara & Yuliani – Nilai Didaktis dan Budaya Novel Islammu adalah Maharku menikah, sang istri sangat menghormatinya sebagai seorang suami. Dalam budaya Islam kedudukan suami seperti seorang raja, seorang istri harus memuliakan suami seperti yang dicontohkan istri-istri Nabi. Hubungan manusia dengan manusia juga berkaitan dengan budaya Islam yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama, dan menghargai siapa pun itu. mengajarkan untuk saling menghormati, mencintai, mengharagai, dan membantu satu sama lain. Nilai budaya yang tersusun rapi dengan jelas tersebut bermanfaat untuk diajarkan kepada siswa, agar mereka dapat memahami tentang hal-hal baik yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mereka dalam lingkungan masyarakat. 4. SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan dalam menganalisis nilai didaktis dan budaya novel Islammu Adalah Maharu karya Ario Muhammad, peneliti dapat memberi simpulan sebagai berikut. 1. Novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad mengisahkan tentang dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh perbedaan iman. Dua tokoh utama dalam novel ini, yakni Prof. Chen merupakan seorang profersor muda yang tak beragama, dan Syakila merupakan muslimah Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S-2 di Taiwan. Masalah utama dalam novel ini, yaitu tentang penyatuan cinta antara keduanya, tentang bagaimana Syakila dapat melanjutkan pendidikan dengan baik, dan Prof. Chen seorang profesor muda asal Taiwan yang mencari agama atas dasar cinta. 2. Novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad terdapat nilai didaktis sebanyak 40 buah. Nilai religius sebanyak 7 buah yang mencerminkan tentang ketaatan, kerajinan, keikhlasan tokoh Syakila pada Tuhan-Nya, selalu mengingat Allah, dan selalu bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Nilai moral 7 buah yang mencerminkan tentang sikap tolong menolong, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Nilai etika 6 buah yang mencerminkan tentang tingkah laku berbicara, bergaul, dan bersikap dalam lingkungannya Nilai motivasi merupakan nilai yang paling banyak, yakni sebanyak 17 buah yang mencerminkan tentang sikap pantang menyerah, memiliki semangat tinggi, rajin, bekerja keras, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam mengejar impian. Serta nilai intelektual sebanyak 3 buah yang mencerminkan tentang bagaimana mengambil keputusan terbaik dan manfaatnya dari suatu kejadian. 3. Novel Islammu Adalah Maharku karya Ario Muhammad terdapat nilai budaya sebanyak 28 buah. Hubungan manusia dengan diri sendiri sebanyak 3 buah yang mencerminkan tentang konsistensi dalam memegang teguh prinsip hidup. Hubungan manusia dengan manusia lain merupakan yang paling banyak, yakni sebanyak 14 buah yang mencerminkan sikap, perilaku, pandangan, dan cara hidup berdampingan dengan manusia lain dalam lingkungannya. Serta, hubungan manusia dengan Tuhan sebanyak 11 buah yang mncerminkan tentang sikap meyakini adanya Tuhan, rajin beribadah, dan menerima takdir Allah dengan ikhlas. Volume II, No. 1, Agustus 2022, Hal. 32-41 41 REFERENSI Aminuddin. (2009). Pengantar Apresiasi karya sastra. Bandung : Sinar Baru. Bertens, K. (2013). Etika. Yogyakarta: Kanisius. Djamaris, E. (1983). Nilai Budaya dalam beberapa Karya Sastra Nusantara. Jakarta : Depdikbud. Kemendiknas. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kemendiknas. Muhammad, A. (2021). Islammu Adalah Maharku. Jakarta: PT. NEA Publishing. Narbuko. (2015). Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara. Nurgiyantoro, B. (2009). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.