Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 PERAN PELATIHAN MODERASI BERAGAMA TERHADAP PERSEPSI PESERTA PELATIHAN TENTANG PANDANGAN, SIKAP. PRAKTIK MODERASI BERAGAMA Dermawati Balai Diklat Keagamaan Jakarta. Indonesia E-mail: dermazky@gmail. Abstract This research aims to see the role of religious moderation training on participants' perceptions in the form of views, attitudes, and religious practices regarding the concept of religious moderation, national insight, religious insight, and implementation of religious moderation after attending training to strengthen religious moderation in East Jakarta. This research method combines data collection techniques using qualitative and quantitative data from pre-test and post-test results. The test instrument consists of questions with open answers and a Likert scale. The two data sets were compared and analyzed descriptively and using a t-test. The results of this research show that the introduction to the concept of religious moderation after training in the form of an understanding of religious moderation, indicators of religious moderation, and the values of religious moderation are broadly not fully understood. For the concept of insight, which includes Pancasila, the training participants stated that it was final, but there were differences of opinion between political movements that were considered to be able to change the basis of the country while regarding the concept of religious insight and the implementation of religious moderation before and after the training the results were almost the same on average. This research concludes that the role of religious moderation training is insignificant in participants' perceptions of the views, attitudes, and practices of religious moderation and the need to increase participants' understanding of the concept of religious moderation. Keywords: views, attitudes, religious practices, mobilization training, religious moderation Abstrak Penelitian ini bertujuan melihat peran pelatihan moderasi beragama terhadap persepsi peserta berupa pandangan, sikap, praktik beragama tentang konsep moderasi beragama, wawasan kebangsaan, wawasan keagamaan dan implementasi moderasi beragama setelah mengikuti pelatihan penggerak penguatan moderasi beragama Jakarta Timur. Metode penelitian ini adalah penelitian campuran . ixed method. dengan teknik pengumpulan data menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang didapatkan dari hasil pre-test dan post-test . Instrumen tes terdiri dari pertanyaan dengan jawaban terbuka dan skala likert. Kedua data dibandingkan serta dianalisis secara deskriptif dan uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan pengenalan terhadap konsep moderasi beragama setelah pelatihan berupa pengertian moderasi beragama, indikator moderasi beragama, serta nilai-nilai moderasi beragama sebagian besar belum memahami secara utuh. Untuk konsep wawasan kebangsaan mencakup Pancasila, peserta pelatihan menyatakan sudah final tapi ada perbedaan pendapat antara gerakan politik yang dianggap dapat mengubah dasar negara, sedangkan tentang konsep wawasan keagamaan dan implementasi moderasi beragama sebelum dan sesudah pelatihan hasilnya rata-rata hampir sama. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa peran pelatihan moderasi beragama tidak signifikan terhadap persepsi peserta terhadap pandangan, sikap dan praktik moderasi beragama serta perlu peningkatan tentang pemahaman peserta terhadap konsep moderasi beragama. Kata Kunci: pandangan, sikap, praktik beragama, pelatihan penggerak, moderasi beragama Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 PENDAHULUAN Indonesia merupakan bangsa yang sangat beragam dalam berbagai segi. Keberagaman itu antara lain menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2. terdiri dari 1331 suku atau 633 suku besar, sedangkan menurut (Budiwiyanto, 2. ada 707 bahasa, dialek dan sub dialeknya. Indonesia 504 pulau, 250-an agama dan Dalam sudut pandang agama Islam, keragaman adalah anugerah dan kehendak. Dengan keberagaman tersebut maka muncullah wawasan kebangsaan sebagai semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan dan konflik-konflik yang mungkin muncul. Dalam sejarah nasional, pahlawan memperjuangkan negara kesatuan Republik Indonesia. Sebagai masyarakat Indonesia kita harus sadar untuk menjaga keutuhan kebangsaan Komitmen kebangsaan merupakan indikator yang sangat penting untuk melihat sejauh mana cara pandang, sikap, dan praktik beragama seseorang berdampak pada kesetiaan terhadap konsensus dasar kebangsaan, terutama terkait dengan penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara, sikapnya terhadap tantangan ideologi yang berlawanan dengan Pancasila, serta Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia terdapat antara berbagai bentuk keagamaan yang hidup bersama secara harmoni, toleransi, berdialog serta mengalami pengaruh satu dari yang lain. Adakalanya dengan perkembangan agama juga ada konfrontasi antara satu dengan yang lain. Untuk dialog dan hubungan baik antar agama dan mengetahui kekhasan serta jati diri agama maka kita perlu mengenal dan mengetahui agama-agama yang lain. Moderasi beragama di Indonesia Pertama, kebangsaan yang menjadi indikator kemoderatan cara pandang dan sikap Kedua, toleransi sebagai sikap/sifat pendapat pandangan kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian dirinya sendiri. Ketiga, anti kekerasan atau anti Keempat, akomodatif terhadap kebudayaan lokal. konsep tersebut dilatar belakangi tiga alasan utama. Keempat bertujuan untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan, termasuk menjaga untuk tidak menghilangkan nyawanya. Kedua, keberagaman yang sudah ada sejak lama dan pertambahan jumlah manusia di berbagai negeri dan wilayah. Ketiga, sebagai strategi kebudayaan dalam Namun praktiknya dan teorinya ditemukan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 beberapa problem yang pada akhirnya mengarah pada prinsip pluralisme Problematik konsep moderasi beragama di Indonesia dalam hal ini dapat dikemukakan ke dalam tiga isu. Pertama moderasi beragama wajah baru pluralisme agama, kedua problem bias makna toleransi beragama, ketiga problem kebenaran yang relatif. Dengan toleransi yang disertai sikap hormat, positif, menerima orang yang berbeda sebagai bagian dari diri yaitu berupa sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan lembut dalam menerima perbedaan. Semakin tinggi toleransinya terhadap perbedaan, maka demokratis, demikian juga sebaliknya. Aspek toleransi sebenarnya tidak hanya terkait dengan keyakinan agama, namun bisa terkait dengan perbedaan ras, jenis kelamin, perbedaan orientasi seksual, suku, budaya, dan sebagainya. Melalui relasi antar agama, kita dapat melihat sikap pada pemeluk agama lain, kesediaan berdialog, bekerja sama, pemeluk agama lain. Islam adalah mengajarkan untuk menyeimbangkan antara ruh dan akal, akal dan hati, hati nurani dan nafsu, dan sebagainya. Selain itu, agama ini memberikan bagian khusus bagi wahyu dan akal. Moderasi beragama kemudian dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama (Kementerian Agama RI, 2. Agar masyarakat bisa memahami hal ini maka pemahaman tentang moderasi beragama sangat penting sehingga tergambar dalam tingkah laku dan sehari-hari. Dengan menjiwai 4 . indikator moderasi beragama . komitmen kebangsaan. anti-kekerasan. akomodatif terhadap kebudayaan lokal maka akan terwujud negara NKRI yang adil, berimbang dan taat konstitusi (Kementerian Agama RI, Indikator dipraktikkan oleh individu-individu masyarakat di Indonesia, dan seberapa besar kerentanan yang dimiliki. Dengan beragama maka kerentanan yang bisa terjadi di tengah masyarakat bisa dikenali dan menentukan langkahlangkah yang tepat sebagai solusinya. Secara sebena1arnya diajarkan oleh Islam yang sudah tergambar dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran istilah moderasi disebut dengan Al-Wasathiyyah, namun juga terdapat perdebatan tentang pemahaman moderasi di tinjau dalam konteks kekinian. Secara sederhana, pengertian Wasathiyyah bersumber dari makna-makna secara etimologis yang artinya suatu karakteristik terpuji yang menjaga seseorang dari kecenderungan bersikap ekstrem (Abror M. , 2. Dalam Moderasi Beragama, maka konsep Moderasi Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 Beragama. Wawasan Kebangsaan. Wawasan Keagamaan Implementasi Kehidupan Keagamaan hendaknya harus dimiliki masing-masing Masyarakat. Sebagai masyarakat yang fanatik dengan keyakinannya, maka pendekatan keagamaan menjadi pilihan untuk membangun keharmonisan umat yang damai, sesuai dengan kultur Masyarakat Indonesia pendekatan ini, moderasi beragama yang ramah, terbuka, toleran, fleksibel dapat menjadi jawaban terhadap kekhawatiran konflik yang marak Tengah mulkultural (Akhmadi, 2. Untuk mengetahui bagaimana peningkatan pemahaman masyarakat tentang moderasi beragama maka perlu pelatihan-pelatihan, worskshop, bimtek atau sosialisasi serta analisis dan evaluasi terhadap capaian dari kegiatan tersebut. Dalam penelitian ini masalah yang dikaji adalah tentang pandangan, sikap, praktik beragama tentang konsep Wawasan Kebangsaan. Wawasan Keagamaan dan Implementasi peserta setelah mengikuti Pelatihan Penggerak Penguatan beragama Jakarta Timur. Penelitian ini bertujuan antara lain melihat peran pelatihan Moderasi Beragama terhadap persepsi peserta pelatihan tentang pandangan, sikap, praktik beragama tentang konsep Moderasi Beragama. Wawasan Kebangsaan. Wawasan Keagamaan dan Implementasi Moderasi Beragama setelah mengikuti Pelatihan Penggerak Penguatan Moderasi Beragama Jakarta Timur. METODE Penelitian dilakukan di aula Kantor Kementerian Agama Jakarta Timur pada tanggal 10-15 Juli 2023 dalam kegiatan Pelatihan Penggerak Penguatan Moderasi Beragama Jakarta Timur. Peserta terdiri dari 14 wanita dan 16 pria yang memiliki jabatan 7 orang sebagai pengadministrasi di KUA dan Kantor Kementerian Agama, 3 orang penghulu dan 20 orang Penyuluh Agama Islam. Penelitian di lingkungan Kota Jakarta Timur dengan durasi waktu 50 jam Pelajaran yang tercantum pada kurikulum pelatihan. Metode penelitian campuran . ixed method. Penelitian pendekatan, yaitu kemampuan untuk mengukur dan generalisasi . serta kemampuan untuk memahami . (Creswell. , 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang didapatkan dari hasil pre-test pada awal sebelum pelatihan dan post-test setelah proses pelatihan selesai diadakan. pretest dan post-test merupakan instrumen yang sama terdiri dari pertanyaan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 dengan jawaban terbuka dan pilihan jawaban dengan 5 pilihan. Penggunaan skala likert dengan uji-t dan pertanyaan terbuka dengan analisis mendalam pertanyaan terbuka. Data yang diperoleh dari hasil tes sebelum dan sesudah pelatihan dibandingkan dan dianalisis secara deskriptif yaitu dengan statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Creswell. , 2. memahami secara utuh tentang Moderasi Beragama. Sedangkan setelah pelatihan peserta sudah memahami moderasi beragama secara menyeluruh. Dengan mengikuti pelatihan secara menyeluruh peserta sudah memahami tentang pengertian moderasi beragama. Dalam sepuluh tahun terakhir, moderasi beragama telah menjadi subjek diskusi yang cukup hangat. Konsep moderasi beragama akan dalam masyarakat, terutama masalah konflik antara umat beragama dan antar umat beragama. Hal ini disebabkan fakta bahwa radikalisme kekerasan disematkan kepada kelompok Islam, meskipun ini sebenarnya kelompok Islam yang nyata. Umat Islam dapat menggunakan Al-Quran, sebagai kitab suci, dan Hadis, sebagai sabda Nabi Muhammad SAW, sebagai pedoman hidup dan sumber rujukan dalam setiap masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Al-Quran dan Hadis telah memberikan beberapa abad yang lalu moderasi beragama, yang berarti mengikuti jalan tengah, tidak berlebihan, dan tidak ekstrem bahkan dalam hal moderasi religius (Syaf. Lebih lanjut (Habibie, 2. merupakan konsepsi yang bernilai luhur sangat dianjurkan oleh Allah SWT, dengan sebutan Wasathiyah. Prinsip-prinsip wasathiyah yang baik HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah pelatihan dilaksanakan selama 5 hari maka dari proses kuantitatif terkait dengan pertanyaanpertanyaan dalam instrumen tes yang dikerjakan oleh peserta pelatihan melalui link Google form . Mengenal Moderasi Beragama Pengertian Moderasi Beragama Yang pertama perlu dipahami peserta adalah pemahaman tentang Moderasi Beragama. Dilihat dari jawaban peserta sebelum pelatihan menyatakan antara lain cara pandang, sikap dan perilaku beragama yang dianut dan dipraktikkan oleh sebagian besar penduduk negeri ini, dari dulu hingga sekarang 50% masih belum Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 untuk keberlangsungan kehidupan yang damai dan penuh cinta kasih. Prinsip tersebut antara lain Tawazzun . I'tidal . urus dan tega. Tasamuh . Tawassuth . engambil jalan tenga. Syura . Ishlah . Tahadhdhur . Musawah . Aulawiyah . endahulukan yang priorita. , dan Tathawwur wa Ibtikar . inamis dan inovati. Nilai moderasi yang terkandung di atas diaplikasikan dalam proses kaderisasi melalui pendidikan Islam, sehingga kelak semakin banyak generasi pluralis yang menjunjung tinggi asas persamaan dan saling menghargai asas perbedaan, semakin muncul generasi yang cinta keberagaman dalam keberagamaan sehingga Indonesia menjadi Negara yang Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur. Oleh karena itu, jelas bahwa moderasi beragama sangat terkait dengan menjaga kebersamaan melalui sikap "tenggang rasa", sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk memahami satu sama lain meskipun kita berbeda. Sikap Inklusif harus Moderasi berfungsi sebagai jalan tengah di tengah-tengah keberagaman agama di Indonesia. Dengan budaya Nusantara moderasi menggabungkan agama dan kearifan lokal . earifan loka. Pada awal pelatihan pemahaman peserta tentang ektrimisme beragama fanatisme beragama yang berlebihan, terlalu menganggap diri sendiri dan agamanya saja yang terlalu kaku dan berlebihan dalam memahami ajaran ekstrem dilandasi pemahaman agama yang keliru. Dan pemahaman yang lebih berkembang yaitu tentang sebuah pandangan yang secara aktif dan vokal berlandaskan interpretasi tertentu dari suatu agama yang bertentangan dengan nilai-nilai fundamental yang diyakini dan disepakati bersama dalam sebuah masyarakat yang beragama dan Demikian juga dengan paham pemikiran moderat moderasi yang sekuler atas agama dan nilai-nilai keberagamaan atas sosial eksperimen Keberagaman budaya, paham radikal . , ekstremisme beragama adalah sebuah pandangan yang secara aktif dan vokal berlandaskan interpretasi tertentu dari suatu agama yang bertentangan dengan nilai-nilai fundamental yang . dan disepakati bersama dalam sebuah masyarakat yang beragama dan Setelah peserta menunjukkan pemahaman yang lebih berkembang terkait dengan moderasi beragama, terutama dalam Ekstrimisme Beragama menurut pemahaman peserta pelatihan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 pandanganpandangan ekstremis dan radikal yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar dalam kehidupan beragama dan Pemahaman ini mencakup beberapa konsep penting, antara lain: pemikiran tentang radikalisasi dan ekstremisme Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan berhasil memperluas pemahaman peserta tentang konsep moderasi beragama, serta membekali mereka dengan pemahaman yang lebih matang mengenai radikalisasi dan ekstremisme beragama. Peserta kini mampu memahami bahwa ekstremisme beragama adalah pandangan yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar demokratis, serta memiliki kemampuan untuk membedakan antara moderasi beragama dan sekularisme dalam konteks keberagaman sosial dan Dengan pemahaman ini, peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang proaktif dalam menangkal paham radikal, menjaga masyarakat yang lebih harmonis, toleran, serta inklusif, berdasarkan nilai-nilai moderasi beragama yang Indikator-indikator Moderasi Beragama Indikator Moderasi Beragama seperti yang tercantum dalam Buku Moderasi Beragama (Saifuddin, 2. , indikator moderasi beragama ada empat hal, yaitu: . akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Keempat indikator digunakan untuk mengenali seberapa kuat moderasi beragama yang Indonesia, kerentanan yang dimiliki. Kenyataan walaupun sudah mengikuti pelatihan peserta sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan sekitar 50% masih belum memahami secara utuh tentang indikator moderasi beragama. Walaupun mengenai moderasi beragama, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa masih ada tantangan besar dalam memastikan pemahaman yang utuh dari peserta. Faktor-faktor seperti latar belakang peserta, metode pelatihan yang digunakan, serta keterbatasan mempengaruhi sejauh mana peserta dapat menguasai dan menerapkan indikator moderasi beragama. Menurut (Aluf. A dkk, 2. evaluasi pentingnya perencanaan yang matang dalam mengembangkan sikap toleransi pada peserta pelatihan. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 Tujuan beragama adalah untuk mencapai pengamalan ajaran agama, mencegah ekstremisme, dan mendorong hidup berdampingan dalam keberagaman. Oleh karena itu, evaluasi lebih pendekatan pelatihan sangat penting untuk meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam dan aplikatif di masa memastikan bahwa peserta tidak hanya mengetahui, tetapi juga mampu menginternalisasi dan mengaplikasikan nilai-nilai moderasi beragama secara Penanaman nilai-nilai moderasi kecerdasan sosial generasi milenial dapat dicapai melalui pemanfaatan media sosial untuk menyebarkan nilainilai Islam moderat, melibatkan generasi milenial dalam aktivitas positif yang sebenarnya, mengadakan forum diskusi dengan mereka tentang pemahaman agama dalam rumah, lingkungan sekolah, dan masyarakat, dan mengoptimalkan peran keluarga sebagai pusat pembinaan karakter (Darimi, 2. Apa saja tantangan kehidupan Indonesia yang menurut Anda paling penting Pada poin ini ditanyakan tentang beberapa hal yang terkait dengan kehidupan beragama sesuai pandangan masing-masing. Hasil yang didapatkan sebelum pelatihan pernyataan tentang tantangan kehidupan beragama dan berbangsa mencakup tentang fanatisme Madzhab, perbedaan dalam cara pandang yang sempit dalam beragama, diskriminasi dalam pemenuhan hak-hak agamanya, minoritas, sedangkan setelah pelatihan jawaban hampir sama dengan nada Nilai-nilai Moderasi Beragama Pengetahuan peserta terkait nilainilai Moderasi Beragama dari 9 nilai baru mengetahui paling banyak 5 nilai dan sebagian besar baru mengetahui 13 nilai. Dan dari hasil pelatihan rata-rata sudah menjawab 4-5 nilai, hanya 20% yang masih menjawab 2-3 nilai Moderasi Beragama. Hal menunjukkan adanya perkembangan meskipun masih ada ruang untuk meningkatkan pemahaman secara lebih menyeluruh dan mendalam. Hasil mengindikasikan bahwa meskipun kesenjangan dalam penguasaan nilainilai tersebut. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih interaktif, aplikatif, dan berkelanjutan dalam pelatihan di masa depan untuk Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 tambahan tantangan seperti LGBT, isu ras & politik, pertikaian antar kelompok agama kelompok agama Hasil penelitian ini menunjukkan peserta mengenai tantangan kehidupan beragama dan berbangsa setelah Sebelum tantangan-tantangan diidentifikasi lebih bersifat klasik dan terbatas pada isu-isu internal dalam kehidupan beragama, seperti fanatisme dan ekstremisme. Setelah pelatihan, peserta mulai memperluas cakupan tantangan mereka dengan memasukkan isu-isu sosial-politik kontemporer, seperti LGBT, ras, politik, dan pertikaian antar kelompok agama. Peningkatan mencerminkan keberhasilan pelatihan dalam membuka wawasan peserta mengenai kompleksitas kehidupan beragama dan berbangsa di dunia yang semakin plural dan terpolarisasi. Oleh karena itu, pelatihan ke depan perlu lebih banyak mencakup isu-isu sosial mempersiapkan peserta menghadapi tantangan-tantangan sebelumnya, sekaligus mendorong mereka untuk terus mengembangkan sikap moderat yang inklusif dalam konteks sosial dan agama Pancasila sebagai dasar negara Pancasila Sebagai Warganegara Sebelum Pelatihan Sesudah Pelatihan sudah final dan tidak bertentangan dengan ajaran agama = tidak dapat diubah sama sekali, kecuali dilakukan referendum = karena ada janji sejarah, masih harus memperjuangkan 7 kata dalam Piagam Jakarta D = masih Gambar 1. Pancasila sebagai warganegara Sumber: Data PDWK Penggerak Moderasi Beragama Untuk Wawasan Kebangsaan, terkait dengan pendapat peserta tentang Pancasila. Gerakan politik untuk mengubah dasar negara, dan Indonesia dalam perspektif agama 90 % menjawab tidak bertentangan dengan ajaran agama. Setelah pelatihan 100% peserta mengatakan bahwa Pancasila sudah final dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Perubahan sikap ini menunjukkan adanya dampak positif dari pelatihan dalam memperkuat pemahaman dan sikap nasionalisme peserta, serta memperkokoh nilai-nilai Wawasan Kebangsaan Dari hasil penelitian pendapat peserta pelatihan dapat dilihat pada Gambar 1. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 Tabel 1 Uji-t hasil pre-test dan post-test tentang Pancasila sebagai dasar negara Instrumen Rata-rata p-value Pre-test Post-test kembangkanlah moderasi agama dalam kehidupan nasional untuk mencegah masuknya ideologi dan paham yang tidak sesuai dengan bangsa. (Hasan. Tidak setiap gerakan politik untuk mengubah dasar negara Dari hasil uji-t nilai p Ou 0. 05 tidak menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan perubahan positif dalam Pancasila dan hubungannya dengan ajaran agama. Sebelum pelatihan, peserta sudah memiliki pemahaman bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Setelah pelatihan, mereka semakin yakin bahwa Pancasila adalah dasar negara yang final dan harus diterima oleh semua pihak, tanpa ada niatan Hal menunjukkan bahwa pelatihan telah kebangsaan peserta dan meningkatkan komitmen mereka terhadap persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia. Apabila penyebaran informasi yang bebas tanpa mempertimbangkan kesesuaian budaya lokal melalui alkulturasi budaya dapat menyebabkan kehilangan identitas bangsa dan merusak Pancasila sebagai ideologi berbangsa (Hasan, 2. Penyebaran menyebabkan kehilangan identitas nasional, dan ideologi ekstrimisme tidak mempengaruhinya. Untuk itu Tidak Setiap Gerakan Politik untuk Mengubah Dasar Negara Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Sebelum Pelatihan Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Sesudah Pelatihan Gambar 2. Tidak Setiap Gerakan Politik untuk Mengubah Dasar Negara Sumber: Data PDWK Moderasi Beragama untuk Penggerak Gambar 2 terlihat bahwa untuk pernyataan tentang Autidak setiap Gerakan politik untuk mengubah negara pendapat peserta berimbang sebelum dan sesudah pelatihan antara persepsi sangat setuju dan tidak setuju. Hal ini mengindikasikan adanya keraguan atau perbedaan pandangan mengenai legitimasi dan dampak dari gerakan politik semacam itu terhadap stabilitas dan keberlanjutan negara. Tabel 2 Uji-t hasil pre-test dan post-test tentang tidak setiap gerakan politik untuk mengubah dasar negara Instrumen Rata-rata p-value Pre-test Post-test Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 Dari hasil uji-t nilai p Ou 0. 05 tidak menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setelah pelatihan, meskipun peserta tentang nilai-nilai kebangsaan dan stabilitas negara, persepsi mereka mengubah negara tetap terbelah. Hal ini menunjukkan bahwa tema ini sangat kompleks dan melibatkan banyak faktor, baik dari segi pemahaman tentang demokrasi, stabilitas politik, keberagaman agama, serta proses perubahan itu sendiri. Perbedaan pendapat yang tetap kewarganegaraan dan politik dalam konteks Indonesia adalah hal yang tidak dapat dipandang sederhana. Perubahan terhadap struktur dasar negara harus dipertimbangkan dengan hati-hati agar tidak merusak kerukunan sosial dan Namun, hal ini juga mengedukasi masyarakat, khususnya perubahan dalam kerangka demokrasi harus tetap memperhatikan prinsipprinsip dasar negara yang telah disepakati bersama. Pandangan Indonesia dalam perspektif agama Pandangan tentang kewarganegaraan Indonesia dalam perspektif beragama setara di hadapan hukum dan pemerintahan Indonesia terlihat pada Gambar 3 sesudah pelatihan sudah 100% sama. Gambar 3. Pandangan Kewarganegaraan Indonesia dalam Perspektif Agama Sumber: Data PDWK Moderasi Beragama untuk Penggerak Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mengikuti pelatihan, peserta memiliki pandangan yang sepenuhnya seragam bahwa semua warga negara Indonesia setara di hadapan hukum dan pemerintahan, tanpa membedakan agama atau latar Hal mengindikasikan bahwa pelatihan berhasil memperkuat pemahaman mereka mengenai prinsip kesetaraan, keadilan, dan kerukunan sosial yang menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pelatihan ini telah berhasil mengedukasi peserta tentang pentingnya memperlakukan semua warga negara dengan adil, sesuai Wawasan Keagamaan Untuk keagamaan ada 9 (Sembila. instrumen berdasarkan persepsi masing-masing Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 yaitu . membantu dan menyediakan tempat ibadah agama lain bila tidak memiliki tempat ibadah. HAM dan demokrasi bertentangan dengan ajaran agama menurut pandangan keagamaan yang mendalam. Dalam pandangan keagamaan saya yang murni tentang toleransi dan membantu agama lain Dalam pandangan keagamaan saya tentang negara berdasar agama seharusnya diterapkan untuk Indonesia karena bangsa Indonesia sejak dulu sangat . Pemerintah Indonesia adalah bukan aparat keagamaan yang otoritatif keagamaan saya tidak wajib ditaati. Setiap memperjuangkan ajaran agamanya untuk menjadi ideologi negara. memilih negara berdasar agama sebagai panggilan keimanan saya. Beragama seharusnya berbasis pada tradisi masyarakat di mana agama pertama lahir, tidak boleh berbasis tradisi yang tumbuh di Indonesia. Sikap Dari tabel 3, untuk 9 instrumen p-value Ou Angka probabilitasnya tidak signifikan di rata-rata pelatihan sebelum dan sesudah pelatihan hampir sama. Pemahaman peserta pelatihan Wawasan Keagamaan menyangkut tentang antara satu umat beragama dengan umat beragama lain menyediakan tempat ibadah agama lain bila tidak memiliki tempat ibadah serta toleransi dan juga anggapan bangsa Indonesia sejak dulu sangat religius, dan Pemerintah Indonesia adalah bukan aparat keagamaan yang otoritatif, keagamaan saya tidak wajib ditaati. Untuk keagamaan berupa pertanyaan Auapakah memperjuangkan ajaran agamanya untuk menjadi ideologi negara. Jika tidak, maka dia bukan umat beragama yang loyal terhadap agamanyaAy, hasilnya sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan hampir sama yaitu menyatakan ini bukan pandangan yang tepat untuk hubungan antar umat beragama di Indonesia. Hal ini sesuai dengan pendapat (Zulham & dkk, 2. bahwa sudah menjadi karakter peserta tentang toleransi mengakui dan menerima perbedaan, multi budaya, terbuka, dan memahami bahwa orang menyesatkan amalan keagamaan yang berbeda dan layak disesatkan tidak bertentangan dengan sikap moderasi dalam Tabel 3 Uji-t hasil pre-test dan post-test tentang Konsep Wawan Keagamaan Instrumen Rata-rata Rata-rata pPre-test Post-test Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 lain dan tidak mempersoalkannya meskipun mereka tidak setuju. Perubahan pandangan peserta terhadap kewajiban memperjuangkan ajaran agama sebagai ideologi negara menunjukkan kemajuan positif dalam hubungan antar umat beragama di Indonesia. Setelah pelatihan, peserta lebih memahami bahwa kesetaraan agama, toleransi, dan kerukunan sosial adalah prinsip-prinsip yang seharusnya dijunjung tinggi dalam kehidupan berbangsa, dan tidak perlu ada satu agama yang dipaksakan menjadi ideologi negara. Pelatihan ini berhasil memperkenalkan pandangan yang keberagaman, dan mengutamakan kerjasama antar umat beragama demi menjaga kesatuan dan keutuhan Memposisikan diri yang tepat dalam masyarakat multi religius sehingga keseimbangan kehidupan sosial, untuk menumbuhkan komitmen kebangsaan beragama, anti kekerasan, kerukunan antar umat beragama, agar terjaga NKRI Karena termasuk dalam RPJMN. Peran Dari hasil instrumen yang dijawab peserta baik sebelum dan sesudah pelatihan memperlihatkan jawaban yang sudah sesuai dengan indikator Dapat disimpulkan dari jawaban peserta antara lain mencari kemaslahatan bersama, memberikan penerangan penyuluhan dan pemahaman dalam beragama, mendukung ikut serta dan ikut andil menjaga keharmonisan bersama para tokoh masyarakat, bertoleransi, pendekatan persuasif dan mengadvokasi, sebagai penggerak dan keberagamaan, menghargai perbedaan saling menghormati dan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk memediasi dengan netral dan tidak memihak, saling menghargai & menghormati, pendekatan persuasif, mengadvokasi mereka, berdiri di atas dan untuk semua golongan, saling menghargai, berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi terbaik, mempersatukan masyarakat yg Implementasi Moderasi Beragama Alasan Penguatan Moderasi Beragama Hasil instrumen pre-test dan posttest untuk pendapat peserta tentang alasan pemerintah membuat penguatan moderasi beragama tidak berbeda pendapat sebelum dan sesudah Pendapat peserta dapat dirangkum antara lain menyatakan agar pentingnya untuk toleransi dalam beragama, sering muncul konflik mengatas namakan agama, terjadi Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 dinamis tersebut, dan sebagai pelopor dan penggerak dalam moderasi beragama dan menjadi mediator. Berdasarkan hasil instrumen yang diisi oleh peserta sebelum dan sesudah pelatihan, terdapat peningkatan yang signifikan dalam pemahaman dan penerapan sesuai dengan indikatorindikator moderasi beragama. Dari jawaban peserta, dapat disimpulkan memahami dan menerapkan prinsipprinsip utama moderasi beragama, yang mencakup berbagai aspek penting keharmonisan sosial dan kerukunan antar umat beragama. Secara penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan telah berhasil nilai-nilai beragama di kalangan peserta. Peserta tidak hanya mampu memahami konsep dasar moderasi beragama, tetapi juga menunjukkan kesadaran dan komitmen yang lebih tinggi untuk menjadi pelopor, mediator, dan penggerak dalam menciptakan keharmonisan Mereka siap untuk menjadi agen kebersamaan, dan menjaga kerukunan dalam keberagaman, serta berdiri di atas kepentingan semua golongan tanpa 5 . instrumen dengan skala likert yaitu . tanggung jawab Kementerian Agama terhadap sikap warga negara yang tidak moderat dalam beragama. kewajiban setiap pegawai Kemenag dalam melayani semua agama dan umat . melindungi dan melayani semua agama dan umat beragama dalam pemerintahan. sikap apabila ada pertentangan antara "pendapat keagamaan" dari suatu organisasi keagamaan dengan "Undang-UndangAy. dan sikap jika ada masyarakat yang berperilaku tidak moderat, tidak toleran, dan melakukan kekerasan. Hasil rata-rata, pre-test, post-test dan p-value dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4 Uji-t hasil pre-test dan post-test tentang tanggung jawab dan sikap individu terhadap Implementasi Moderasi Beragama pada Instrumen Rata-rata Rata-rata pPre-test Post-test Tabel 4 juga p-value Ou 0. 5, sehingga tidak cukup bukti keterkaitan pelatihan terhadap peningkatan nilai pre-test terhadap post-test. Alasan paling penting mengapa Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 beragama terwujud di ruang lingkup masyarakat Sebelum dan sesudah pelatihan pendapat peserta hampir sama yaitu karena kondisi masyarakat yang kewajiban sebagai umat beragama dan kewajiban yang harus dilakukan. Hal ini salah satunya disebabkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdiri dari pulaupulau yang membentuk negara kesatuan yang tidak terpisahkan serta mencakup beraneka ragam etnis/suku, bahasa, agama, budaya, status sosial (Manap, 2. Multikulturalnya ini merupakan peristiwa alami dengan berinteraksinya beragam individu dan kelompok dengan membawa perilaku budaya, memiliki cara hidup berlainan dan spesifik yang saling berinteraksi dalam komunitas masyarakat Indonesia dan dapat dapat menjadi Ayintegrating forceAy yang mengikat kemasyarakatan namun dapat menjadi penyebab terjadinya benturan antar budaya, antar ras, etnik, agama dan antar nilai-nilai Moderasi beragama merupakan solusi terhadap dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ekstremis ultrakonservatif atau sayap kanan di satu sisi dan juga di sisi lain liberal atau ekstrem Oleh karena itu konsep moderasi beragama sampai kapan pun akan tetap dianggap sangat relevan, karena sikap ini dinilai sebagai pendorong bagi sikap beragama yang seimbang antara praktik keagamaan sendiri . dan praktik keagamaan orang lain yang memiliki keyakinan berbeda . (Kementerian Agama RI, 2. Dengan adanya keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik keagamaan itu akan menjadikan seseorang tidak menjadi ekstrem yang berlebihan, fanatik dan revolusioner dalam beragama. Sebagai negara. Indonesia memiliki banyak variasi yang berbeda, termasuk adat, suku, budaya, tradisi, agama, dan kekayaan, tetapi semuanya bersatu dalam ideologi Pancasila. Kesatuan dan kesatuan yang telah bertahan selama berabad-abad dipertahankan agar tidak berantakan (Hasan, 2. Problematik konsep moderasi beragama di Indonesia dalam hal ini dapat dikemukakan ke dalam tiga isu yaitu moderasi beragama wajah baru pluralisme agama, problem bias makna toleransi beragama, dan problem kebenaran yang relatif (Shalahuddin & dkk, 2. Setiap Kementerian Agama, menerapkan moderasi beragama, agar menjadi ciri khas agama di Indonesia. (Fales & Sitorus, 2. Meskipun memperkuat moderasi beragama hanya dapat dicapai oleh kelompok tertentu, upaya ini harus dilakukan secara kelembagaan dan sistematis, bahkan di seluruh negara. Negara harus bertanggung jawab untuk menciptakan ruang publik yang aman Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 yang memungkinkan interaksi antar umat beragama dan kepercayaan. Bukan peraturan yang dianut dan ditegakkan di ruang publik berdasarkan nilai agama tertentu. Karena masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, bahasa, dan budaya, maka sangat penting untuk mendorong pemikiran yang inklusif terhadap perbedaan. Karena . diperlukan nilai-nilai toleransi yang tidak hanya terkait dengan undang-undang tetapi juga dengan sikap sosial. Nilai-nilai toleransi tidak terdiri dari klaim agama seseorang yang tidak menolak ajaran agama lain. Oleh karena itu, toleransi dikembangkan (Aziz, 2. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membangun peradaban kehidupan beragama yang rukun dan masyarakat Indonesia yang plural. Setiap upaya kita harus bertujuan untuk mengubah kehidupan setiap orang ke arah yang lebih baik daripada hal-hal merugikan dirinya sendiri dan orang (Darmayanti & Maudin, 2. Semua Indonesia beragama, terlepas dari etnis, suku, agama, bahasa, dan budaya mereka. Keunggulan, kekuatan, dan pluralitas keragaman ini menciptakan masyarakat multikultural yang memiliki intensitas interaksi yang tinggi. Indonesia memiliki budaya yang beragam yang berasal dari berbagai suku, agama, ras, bahasa, dan banyak Bertemunya berbagai budaya, berinteraksinya berbagai individu dan kelompok, serta membawa perilaku budaya yang berbeda, membuat keragaman budaya, atau multikultural. Keragaman budaya akan saling berinteraksi satu sama lain dalam Indonesia. Dengan banyaknya kebudayaan membentuk pemahaman multikulturalisme bahasa. Kebudayaan sebagai idiologi dan alat untuk mencapai tingkat kemanusian (Susanti, 2. Mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Namun, situasi ini tidak membuat Indonesia sebagai negara Republik adalah keyakinan Oleh karena itu, negara dan komunitas harus mengayomi dan melindungi keragaman agama. Ketika ada perbedaan, itu harus disikapi dan diakui sebagai sunnatullah. Sebagai umat Islam dan juga agama lain, kita bertanggung jawab untuk membantu mewujudkan kondisi yang tenteram dan damai. Kondisi damai akan memudahkan untuk mencapai kemaslahatan umat manusia (Faiqah & Pransiska, 2. Setelah agama telah dipecahkan kelompok, radikalisme dan intoleran muncul, yang merusak kehidupan nasional dan negara. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 Agar memahami indahnya kemajemukan, dipromosikan secara luas. Lebih lanjut (Santoso dkk, 2. menyatakan bahwa moderasi agama dapat dicapai dengan tidak fanatik terhadap institusi agama melainkan hanya kepada Tuhan. Mereka yang beragama tidak sama dengan serigala yang memaksa beragama saling menunjukkan kasih. Moderasi penting dalam rangka mencegah perpecahan bangsa, terutama di perguruan tinggi. Ini adalah filterisasi dari individu-individu yang tidak bertanggung jawab yang berusaha meracuni pemikiran siswa yang lebih emosional dan suka melakukan aksi. Tidak mengherankan apabila moderasi beragama sangat umum di universitas, baik melalui kelas atau kegiatan Dalam masyarakat, moderasi beragama adalah cara bijak untuk mencerdaskan bangsa sehingga orang-orang yang membenci negara tidak mudah terprovokasi oleh kebencian agama (M. Anzaikhan. Dari sabang sampai Merauke, kebersamaan umat telah menjadi komitmen bersama bagi masyarakat Indonesia. Empat pilar utamaAi Pancasila. UUD 1945. NKRI, dan Bhineka Tunggal IkaAimengikat nilainilai persatuan ini. Jika masyarakat mengadopsi gagasan dan prinsip moderasi beragama serta bertindak adil terhadap setiap masalah dengan memberikan porsi yang proporsional dan adil kepada masing-masing pihak, keempat komponen utama ini dapat berjalan dengan baik. Untuk terwujudnya kerukunan umat antar agama atau keyakinan, moderasi dalam kerukunan beragama harus dilakukan. Untuk mengelola keadaan keagamaan yang sangat beragam di Indonesia ini, kita membutuhkan visi dan solusi yang dapat menciptakan kerukunan dan intoleransi (Abror, 2. KESIMPULAN Dari hasil instrumen pre-test dan post-test tentang pandangan, sikap, praktik beragama peserta pelatihan Penggerak Penguatan Moderasi Beragama Jakarta Timur Moderasi Beragama, secara signifikan tapi pemahaman tentang indikator Moderasi Beragama walaupun sudah mengikuti pelatihan masih belum memahami secara utuh. begitu juga dengan nilai-nilai moderasi Sedangkan pandangan, sikap, dan praktik beragama tentang Wawasan Kebangsaan dan Wawasan Keagamaan serta Implementasi Moderasi Beragama persepsi peserta hampir sama sebelum Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 188-206 dan sesudah pelatihan sehingga penelitian tidak cukup berpengaruh terhadap persepsi sesudah mengikuti Hal ini dikarenakan peserta sudah memiliki dasar pandangan, sikap dan praktik beragama yang hampir sama sebelum mengikuti pelatihan. Dari Lebih penekanan materi pada pengertian Moderasi Beragama dan nilai-nilai Moderasi Beragama Konsep tentang gerakan politik dapat mengubah dasar negara lebih menimbulkan ambigu Strategi pelatihan lebih ditingkatkan dengan inovasinya sesuai dengan kondisi peserta pelatihan. Peningkatan berkelanjutan bagi pemateri untuk DAFTAR PUSTAKA