Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 ISSN (Onlin. : 2797-6424 Journal homepage: https://ejurnal. id/index. php/HealthPublica Faktor Risiko Heat Strain pada Pekerja Konstruksi Proyek Pembangunan BSI Tower Andre Oktadian. Putri Handayani. Ahmad Irfandi. Ade Heryana Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan. Universitas Esa Unggul Jakarta. Indonesia Corresponding Author Email: andreoktadian33@gmail. Article Info ABSTRACT Global climate change has led to rising temperatures, significantly impacting the Submitted : 08/04/2025 health of construction workers, primarily through the risk of heat strainAia In Reviewed : 13/01/2026 Accepted : 09/04/2026 physiological response to excessive body heat accumulation. This study aims to Available online : 31/05/2026 analyze the factors associated with heat strain among workers at the BSI Tower construction project. Using a quantitative approach with a cross-sectional study design, 97 workers were selected through simple random sampling. Heat strain was measured using the Heat Strain Score Index (HSSI), while heat stress was assessed with the Questtemp Heat Stress Monitor. Data analysis, conducted via the Chi-Square statistical test, evaluated the relationship between independent variables . eat stress, age, obesity, chronic disease, and hydration statu. and heat strain. The results indicated that 50. 5% of workers experienced heat strain, with hydration status showing a significant relationship with the incidence of heat strain . < 0. Conversely, heat stress, age, obesity, and a history of chronic disease did not demonstrate a significant association. These findings underscore the necessity of implementing work environment and health control strategies, such as enhancing ventilation, ensuring adequate fluid intake, and optimizing work schedules, to prevent the adverse effects of heat strain. Keywords: heat exhaustion, risk factors, construction workers ABSTRAK Perubahan iklim global menyebabkan peningkatan suhu yang berdampak pada kesehatan pekerja konstruksi. Salah satu risiko yang muncul adalah heat strain, yaitu respons fisiologis tubuh akibat akumulasi panas berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan heat strain pada pekerja proyek pembangunan BSI Tower. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling terhadap 97 pekerja. Pengukuran heat strain dilakukan dengan Heat Strain Score Index (HSSI) dan pengukuran tekanan panas menggunakan Questtemp Heat Stress Monitor. Data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square untuk menentukan hubungan antara variabel independen . ekanan panas, usia, obesitas, penyakit kronis, dan status hidras. dengan heat strain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50,5% pekerja mengalami heat strain. Variabel status hidrasi memiliki hubungan signifikan dengan kejadian heat strain . -value < 0,. , sedangkan tekanan panas, usia, obesitas dan riwayat penyakit kronis tidak memiliki hubungan signifikan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya strategi pengendalian lingkungan kerja dan kesehatan pekerja, seperti peningkatan ventilasi, penyediaan cairan, serta pengelolaan waktu kerja untuk mencegah dampak negatif heat strain. Kata Kunci: heat strain, faktor risiko, pekerja konstruksi PENDAHULUAN Perubahan iklim global yang terus berlangsung telah mengakibatkan peningkatan suhu rata-rata di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Hal ini berdampak pada lingkungan kerja, terutama pada sektor konstruksi yang sering dilakukan di area terbuka dengan paparan langsung terhadap panas. Salah satu risiko kesehatan yang muncul akibat kondisi ini adalah Heat Strain, yaitu respons fisiologis tubuh akibat akumulasi panas yang berlebih. Kondisi ini sering dialami oleh pekerja bangunan yang terpapar sinar matahari dalam jangka waktu lama tanpa perlindungan memadai, dan sering kali diperburuk oleh faktor-faktor seperti beban kerja fisik yang tinggi dan kurangnya fasilitas ventilasi yang memadai di lingkungan kerja (Zulhanda et al. Menurut Occupational Safety & Health Standards. Heat Strain adalah dampak yang muncul secara akut maupun kronis akibat paparan panas, yang memengaruhi seseorang baik secara fisik maupun mental. Dampak fisik yang dialami dapat bervariasi, mulai dari gangguan ringan seperti munculnya ruam pada kulit atau pingsan, hingga kondisi serius yang dapat mengancam nyawa, seperti berhentinya produksi keringat dan serangan Heat Stroke (OSHS, 2. Respon fisik tersebut dapat menjadi lebih parah apabila didukung oleh buruknya faktor lain seperti faktor umur, kondisi fisik, tingkat aklimatisasi, dan dehidrasi pada pekerja. Hal ini kemudian dapat menimbulkan beberapa penyakit atau keluhan yang berhubungan dengan panas, seperti heat cramps. Heat Exhaustion, ataupun Heat Stroke. (National Safety Council, 2. Menurut National Institute of Occupational Safety and Health. Gejala Heat Stress ditandai dengan pekerja yang mulai berkeringat, mengalami peningkatan detak jantung, dan merasa cepat lelah. Seorang pekerja dapat mengalami dehidrasi apabila mereka tidak segera meminum air dengan cukup untuk menggantikan cairan tubuh mereka yang keluar lewat keringat tubuh. dan jika pekerja terus menerus memaksa diri di lingkungan panas, mereka akan mengalami kram otot karena terlalu banyak berkeringat. (NIOSH, Menurut ketetentuan yang ditetapkan oleh pemerintah yang berkaitan dengan temperatur tempat kerja. Permenaker No. 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas untuk Iklim Kerja dan Nilai Ambang Batas untuk Temperatur Tempat Kerja. Ditetapkan : Nilai Ambang Batas (NAB) untuk iklim kerja adalah situasi kerja yang masih dapat dihadapi oleh tenaga kerja dalam pekerjaan sehari-hari yang tidak mengakbatkan penyakit atau gangguan kesehatan untuk waktu kerja terus menerus tidak melebihi dari 8 . jam sehari dan 40 . mpat pulu. jam seminggu. NAB terendah untuk ruang kerja adalah 25AC dan NAB tertinggi adalah 32,2AC, tergantung pada beban kerja dan pengaturan waktu kerja. Menurut laporan National Institute of Occupational Safety and Health, insiden yang disebabkan oleh panas merupakan masalah signifikan di berbagai industri, khususnya yang melibatkan pekerjaan di luar ruangan atau lingkungan bersuhu tinggi. Pada tahun 2010, tercatat ada 4. 190 kasus penyakit atau cedera kerja akibat panas lingkungan yang menyebabkan pekerja harus absen setidaknya satu hari. Pada tahun yang sama, terdapat 40 kematian akibat paparan panas, dengan jumlah kematian terbanyak . terjadi di industri Sektor lain yang terdampak mencakup sumber daya alam dan pertambangan . , layanan profesional dan bisnis . , serta manufaktur . (NIOSH, 2. Kejadian Heat Strain pada pekerja di Indonesia dapat dilihat dari beberapa penelitian terkait yang telah Pada penelitian yang dilakukan oleh Tumbol pada tahun 2018 (Tumbol, 2. , terdapat 80% pekerja di bidang konstruksi mengalami Heat Strain. Kemudian pada penelitian yang dilakukan oleh Zulhanda pada tahun 2021 (Zulhanda et al. , 2. pada pekerja pembuat tahu menunjukan bahwa 64,8% pekerja mengalami Heat Strain. Berbagai studi menunjukkan bahwa Heat Strain dapat menyebabkan dampak kesehatan serius, termasuk kelelahan, dehidrasi. Heat Exhaustion, hingga Heat Stroke. Dalam penelitian yang dilakukan di proyek pembangunan LRT di Jakarta, ditemukan adanya hubungan antara paparan panas dengan gejala Heat Strain yang ditunjukkan oleh peningkatan kelelahan serta keluhan kesehatan seperti sakit kepala dan kram otot pada para pekerja (Nafis, 2. PT. PP (Perser. Tbk melakukan usaha di bidang Industri. Konstruksi. Engineering Procurement dan Construction (EPC), perdagangan, pengelolaan kawasan, layanan jasa peningkatan kemampuan di bidang konstruksi, jasa engineering dan perencanaan, pengembangan serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. Proyek pembangunan gedung BSI Tower merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memajukan bidang bisnis dan investasi. BSI Tower memiliki lokasi yang tidak jauh dari Monumen Nasional (Mona. Lokasi BSI Tower juga bersebelahan dengan Menara Danareksa yang keduanya merupakan gedung perkantoran yang Health Publica : Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 dibangun PT. PP (Perser. Tbk. Proyek pembangunan BSI Tower dibangun dengan skema Build. Operate & Transfer (BOT) antara PT Bank Syariah Indonesia (Perser. Tbk (BRIS) dan PT PP. (Perser. Tbk. BSI Tower mengusung konsep green building. BSI Tower akan memiliki 22 lantai area kantor, 1 Ballroom, 1 lantai basement, dan 9 lantai podium parkir. Proyek BSI Tower telah melakukan groundbreaking pada bulan November tahun 2023 oleh PT. PP (Perser. Tbk sebagai kontraktor utama. Pada saat ini pekerjaan konstruksi yang sedang dilakukan adalah struktur atas. Pekerjaan proyek ini terbagi menjadi beberapa bagian pekerjaan, diantaranya pembesian, bekisting, pengecoran dan pembajaan. Proyek BSI Tower sudah berjalan selama 13 bulan yang mana pekerjaan di mulai pada Mei 2023 dan target penyelesaian pembangunan hingga Desember Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 orang pekerja dengan menggunakan metode HSSI (Heat Strain Score Inde. didapatkan bahwa 3 orang . %) berada pada zona hijau atau tidak mengalami Heat Strain dan 7 orang . %) berada pada kategori zona kuning atau mengalami Heat Strain. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa orang pekerja, bekerja di bawah suhu lingkungan yang tinggi dalam waktu yang cukup lama dengan aktivitas yang berat berdampak pada beberapa pekerja yang mengeluh seperti merasa sangat berkeringat, kelelahan, lemas, dan merasa haus. Dampak bekerja di bawah suhu lingkungan yang tinggi dengan aktivitas yang berat ini dapat menjadi lebih berbahaya apabila tidak ada penanganan lebih lanjut terkait suhu lingkungan yang tinggi tersebut dan dapat menurunkan produktivitas pekerja. PT. PP (Perser. Tbk pada proyek pembangunan BSI Tower memiliki program pengendalian berupa Coffee Break 15 menit setiap 3 jam sekali untuk mencegah para pekerja mengalami kelelahan, selain itu pada setiap subkon menyediakan air isi ulang agar para pekerja tetap terhidrasi dengan baik, dan juga rotasi pekerjaan akan dilakukan apabila diperlukan. Program-program pengendalian ini diadakan mengingat lingkungan kerja pada proyek ini merupakan lingkungan kerja yang terbuka sehingga area kerja menjadi panas yang dapat mengganggu produktivitas para pekerja karena dapat menyebabkan pekerja kehilangan konsentrasi, dan juga mengalami gejala Heat Strain. Selain itu untuk program K3 yang rutin dilaksanakan seperti inspeksi, safety patrol. Toolbox Meeting (TBM), training dan sosialisasi terkait bahaya dan keselamatan K3. Tetapi belum pernah dilakukan pengukuran terkait iklim kerja pada lingkungan kerja proyek pembangunan BSI Tower. Sehingga perlu dilakukan pengukuran terkait iklim kerja pada lingkungan kerja proyek Pembangunan BSI Tower dan menentukan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kejadian heat strain pada pekerja proyek Pembangunan BSI Tower tahun 2024 agar para pekerja tidak mengalami Heat Strain. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai AuFaktor-faktor yang berhubungan dengan Heat Strain pada pekerja di proyek pembangunan BSI Tower tahun 2024Ay. PT. PP (Perser. Tbk pada proyek pembangunan BSI Tower memiliki program pengendalian berupa Coffee Break 15 menit setiap 3 jam sekali untuk mencegah para pekerja mengalami kelelahan, selain itu pada setiap subkon menyediakan air isi ulang agar para pekerja tetap terhidrasi dengan baik, dan juga rotasi pekerjaan akan dilakukan apabila diperlukan. Program-program pengendalian ini diadakan mengingat lingkungan kerja pada proyek ini merupakan lingkungan kerja yang terbuka sehingga area kerja menjadi panas yang dapat mengganggu produktivitas para pekerja karena dapat menyebabkan pekerja kehilangan konsentrasi, dan juga mengalami gejala Heat Strain. Selain itu untuk program K3 yang rutin dilaksanakan seperti inspeksi, safety patrol. Toolbox Meeting (TBM), training dan sosialisasi terkait bahaya dan keselamatan K3. Tetapi belum pernah dilakukan pengukuran terkait iklim kerja pada lingkungan kerja proyek pembangunan BSI Tower. Sehingga perlu dilakukan pengukuran terkait iklim kerja pada lingkungan kerja proyek Pembangunan BSI Tower dan menentukan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kejadian heat strain pada pekerja proyek Pembangunan BSI Tower tahun 2024 agar para pekerja tidak mengalami Heat Strain. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai AuFaktor-faktor yang berhubungan dengan Heat Strain pada pekerja di proyek pembangunan BSI Tower. METODE Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling terhadap 97 pekerja. Pengukuran heat strain dilakukan dengan Heat Strain Score Index (HSSI) dan pengukuran tekanan panas menggunakan Questtemp Heat Stress Health Publica : Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 Monitor. Data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square untuk menentukan hubungan antara variabel independen . ekanan panas, usia, obesitas, penyakit kronis, dan status hidras. dengan heat strain. HASIL Berdasarkan tabel diatas, kejadian heat strain pada pekerja di proyek pembangunan BSI Tower oleh PT. PP (Perser. Tbk. Tahun 2024. Proporsi tertinggi terdapat pada responden yang mengalami heat strain sebanyak 49 orang . ,5%) dan proporsi terendah terdapat pada responden yang tidak mengalami Heat Strain sebanyak 48 orang . ,5%). Diketahui bahwa dari beberapa titik area kerja yang dilakukan pengukuran tekanan panas, didapatkan hasil 32 orang pekerja . %) berada pada tekanan panas 31,2 AC, 30 orang pekerja . ,9%) berada pada tekanan panas 31,4 AC, 14 orang pekerja . ,4%) berada pada tekanan panas 31,6 A, 21 orang . ,6%) berada pada tekanan panas 31,7 AC. Diketahui bahwa gambaran usia pekerja pada proyek pembangunan BSI Tower. Proporsi tertinggi terdapat pada pekerja yang tidak beresiko . sia O 40 tahu. yaitu sebanyak 73 orang . ,3%), dan proporsi terendah terdapat pada pekerja beresiko . sia > 40 tahu. yaitu sebanyak 24 orang . ,7%). Diketahui proporsi tertinggi terdapat pada pekerja yang tidak obesitas yaitu sebanyak 89 orang . ,8%), dan proporsi terendah terdapat pada pekerja yang obesitas yaitu sebanyak 8 orang . ,2%). didapatkan hasil dari 97 pekerja proporsi tertinggi didapatkan oleh pekerja yang tidak memiliki penyakit kronis yaitu 89 orang . ,8%) dan proporsi terendah didapatkan oleh pekerja yang memiliki penyakit kronis yaitu 8 orang . ,2%). diketahui bahwa proporsi tertinggi terdapat pada pekerja yang terhidrasi sebanyak 56 orang . ,7%) dan proporsi terendah terdapat pada pekerja yang dehidrasi sebanyak 41 orang . ,3%). Hasil penelitian untuk variabel-variabel pada penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian Heat Strain pada pekerja Proyek Pembangunan BSI Tower tahun 2024 dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Analisis Univariat dengan Melihat Distribusi Frekuensi Variabel Tekanan Panas. Usia. Obesitas. Penyakit Kronis, dan Status Hidrasi Karakteristik Heat Strain Heat Strain 50,5% Tidak Heat Strain 49,5% Tekanan Panas 30,9% 14,4% 21,6% Usia Beresiko 24,7% Tidak Beresiko 75,3% Obesitas 8,2% Tidak 91,8% Penyakit Kronis 8,2% Tidak 91,8% Status Hidrasi Dehidrasi 42,3% Hidrasi 57,7% Berdasarkan tabel 2, uji statistik Chi-Square menunjukkan bahwa adanya hubungan antara status hidrasi dengan heat strain . -value<0,. , tidak adanya hubungan antara usia dengan heat strain . -value>0,. , tidak adanya hubungan antara obesitas dengan heat strain . -value>0,. , tidak adanya hubungan antara penyakit kronis dengan kejadian hipertensi . value>0,. Health Publica : Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 Tabel 2. Analisis Bivariat Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Heat Strain Pada Pekerja Proyek Pembangunan BSI Tower Oleh PT. PP (PERSERO) Tbk. Tahun 2024. Heat Strain p-value Nilai OR . %CI) Tidak Usia (Tahu. Beresiko > 40 66,7% 33,3% 0,112 2,424 Tidak Beresiko <40 45,2% 54,8% Obesitas Ya >25 1,000 0,978 Tidak <25 50,6% 49,4% Penyakit Kronis 37,5% 62,5% 0,487 0,561 Tidak 51,7% 48,5% Status Hidrasi Dehidrasi 70,7% 29,3% 4,350 Hidrasi 64,3% PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, didapatkan nilai p = 0,001 . -value < 0,. yang artinya terdapat hubungan antara penyakit kronis dengan kejadian Heat Strain pada pekerja proyek pembangunan BSI Tower. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Septiani . dan Erdiana . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status hidrasi pekerja dengan Heat Strain pada pekerja. Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, didapatkan nilai p = 0,112 . -value > 0,. yang artinya tidak ada hubungan antara usia dengan kejadian Heat Strain pada pekerja proyek pembangunan BSI Tower. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amelinda . pada industri kapal kota Makassar yang menyatakan bahwa usia pekerja tidak memiliki hubungan dengan kejadian Heat Strain pada pekerja. Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, didapatkan nilai p = 1,000 . -value > 0,. yang artinya tidak ada hubungan antara obesitas dengan kejadian Heat Strain pada pekerja proyek pembangunan BSI Tower. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tumbol . dan Erdiana . yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pekerja yang mengalami obesitas dengan Heat Strain pada pekerja. Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, didapatkan nilai p = 0,689 . -value > 0,. yang artinya tidak ada hubungan antara penyakit kronis dengan kejadian Heat Strain pada pekerja proyek pembangunan BSI Tower. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tumbol . dan Erdiana . yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pekerja yang memiliki penyakit kronis dengan Heat Strain pada KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pekerja proyek pembangunan BSI Tower mengalami heat strain, yang menunjukkan besarnya risiko paparan panas di lingkungan kerja konstruksi terbuka. Hasil analisis mengungkapkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara status hidrasi dengan kejadian heat strain, sementara obesitas, penyakit kronis, usia, dan tekanan panas tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan strategi pengendalian lingkungan kerja seperti peningkatan ventilasi, penyediaan air minum yang cukup, rotasi kerja, dan manajemen waktu kerja untuk menjaga kesehatan dan produktivitas pekerja. Pengukuran dan pemantauan iklim kerja secara berkala juga perlu dilakukan guna mencegah dampak negatif dari heat strain, terutama dalam konteks perubahan iklim global yang meningkatkan risiko paparan panas di tempat kerja. Health Publica : Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 DAFTAR PUSTAKA