EFEKTIVITAS TEKNIK PERNAFASAN PAPWORTH TERHADAP PENGONTROLAN ASMA BALAI KESEHATAN PARU MASYARAKAT SEMARANG Erna Melastuti1. Lailya Husna1 Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas Islam Sultan Agung Semarang Korespondensi : Erna Melastuti, d/a Fakultas Ilmu Keperawatan Islam Sultan Agung Semarang Jln. Raya Kaligawe KM. 4 Ae Semarang Ae Jawa Tengah Email: mela_205@yahoo. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas teknik pernafasan papworth terhadap pengontrolan asma. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre eksperimen. Jumlah responden sebanyak 34 dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis penelitian ini dengan uji independent sample T-test. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah teknik pernafasan papworth Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini, adalah pengontrolan asma. Instrumen pada penelitian ini adalah Asthma Control Test dan Spirometri. Hasil penelitian sebanyak 34 responden telah menyelesaikan penelitian. Hasil analisa menggunakan hasil uji paired sample T-Test dengan hasil rata Ae rata . pengontrolan asma meningkat yaitu 18,88 menjadi 20,29 serta nilai signifkansinya . value < 0,. adalah 0,01. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa terdapat perbedaan kontrol asma sebelum dan sesudah dilakukan teknik pernafasan papworth. Kata kunci: papworth breathing tecnique, pengontrolan asma PENDAHULUAN Asma merupakan inflamasi kronik pada jalan nafas yang disebabkan oleh hiperresponsivitas jalan nafas, edema mukosa dan produksi mucus Inflamasi ini biasanya kambuh dengan tanda pada episode asthma seperti batuk, dada sesak, wheezing dan dyspnea (Smeltzer. Penyakit ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah udara yang dapat diinduksi oleh kontraksi otot polos, penebalan pada dinding jalan nafas serta terdapatnya sekresi berlebih dalam jalan nafas yang merupakan hasil dari respon berlebih pada alergen (Jeffrey M. C, 2. Alergi merupakan faktor predisposisi terkuat terhadap angka kejadian asma, paparan yang lama pada iritan jalan nafas atau alergen juga meningkatkan resiko berkembangnya asma. Sedangkan faktor pencetus terhadap gejala asma dan eksaserbasi pada pasien asma meliputi iritan jalan nafas, latihan, stress atau kesedihan yang men- dalam, sinusitis dengan postnasal drip, terapi pengobatan, infeksi traktus respiratorius yang disebabkan oleh virus dan gastroesophageal reflux (Suzanne, 2. Data National Health Interview Survey (NHIS) menunjukkan sebanyak 39,5 juta warga Amerika yang terdiagnosa Di Indonesia, berdasarkan data RISKEDAS tahun 2013, didapatkan hasil bahwa angka kejadian asma di Sulawesi Tengah 7,8%. Nusa Tenggara Timur 7,3 %. Daerah Istimewa Yogyakarta 6,7 % dan Sulawesi Selatan 6,7 % dimana angka kejadian asma lebih sering presentase 4,6 %, 2% lebih tinggi dibandingkan laki laki. Angka morbiditas yang diakibatkan oleh asma semakin meningkat setiap tahunnya, sehinga tujuan dari pengobatan asma yakni mengontrol asma yang ditunjukkan oleh fungsi pulmonar yang kembali normal maupun mendekati normal, mempertahankan level aktivitas normal, dan meminimalkan kebutuhan beta2 agonist inhalers yang berfungsi sebagai quick relief dari gejala asthma yang diberikan 2 kali seminggu dipantau secara adekuat (CER 71, 2014 ). Tanda dan gejala asma yang biasa sering muncul adalah mengi, peningkatan frekuensi pernafasan, hyperventilation, hyperinflasi, fluktuasi kadar CO2. Hyperventilation yang diikuti dengan kecemasan merupakan gejala penderita asma, sehingga mengakibatkan bronkokonstriksi jalan nafas (Holloway,2. Hyperventilation suatu kondisi dimana CO2 dalam darah dan alveoli berkurang sehingga kompensasi jalan nafas mengalami konstriksi bertujuan untuk menghindari kehilangan CO secara berlebih (Bruton, 2. Selain itu penebalan dinding jalan nafas karena remodelling jalan nafas meningkat dengan tajam dan berkontribusi terhadap obstruksi aliran udara (Wiley, 2. Pernafasan yang seperti ini berkontribusi dalam kerentanan dan kelemahan tubuh terhadap berbagai macam penyakit dan berhubungan erat dengan cara bernafas yang efektif dan benar (Adryani, 2. Pengobatan dibedakan atas dua macam yaitu pengobatan secara farmakologis dan non farmakologis. Terdapat dua golongan medikasi secara farmakologis yakni pengobatan jangka panjang dan pengobatan cepat atau quick relief sebagai pereda gejala kebutuhan (Brunner and SuddarthAos. Bentuk pengobatan non farmakologis adalah pengobatan . eknik pernafasa. , acupunture, exercise theraphy, psychological therapies, manual therapies (NAC, 2. Dewasa ini, teknik pernafasan yang dikembangkan berupa olah raga aerobik, senam, taichi, waitankung, yoga, mahatma, buteyko dan Teknik pernafasan ini ditujukan tidak hanya untuk mereka para penderita asthma, namun juga penderita penyakit paru lainnya (Adryan, 2. Sepanjang data april 2012 data dari RCTs menyebutkan bahwa pernafasan Papworth dapat memperbaiki gejala asma (CER 71. Berdasarkan bukti penelitian yang dilakukan oleh Holloway pada 85 responden tahun 2007, teknik Papworth mampu mengurangi gejala asma yang ditimbulkan (Holloway, 2. Sehingga prinsip dalam pengontrolan asma dimana derajat gejala dan keterbatasan fungsi dapat diminimalisasi akan mempengaruhi pengobatan yang didasarkan pada derajat pengontrolan asma. Berdasarkan pengontrolan asma menggunakan teknik pernafasan menjadi alternative pilihan bagi penderita asma (NAC. Pada teknik pernafasan papworth, selain dapat mengurangi mengurangi tingkat kecemasan dan (Holloway, 2. Populasi pada penelitian ini adalah pasien asma yang melakukan pemeriksaan di BKPM Semarang. Jumlah pasien yang melakukan pemeriksaan di BKPM Semarang adalah sebanyak 165, terhitung dari bulan Agustus Ae Oktober 2014. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah anggota dari populasi yang memiliki kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut : Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: Pasien yang menderita asma dan menjalani pemeriksaan di BKPM Semarang. Pasien asma dengan kriteria asma persisten ringan dan Bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah : Pasien komplikasi berkelanjutan. Pasien dengan penyakit paru lain seperti tuberkulosis, emfisema, kanker paru, dan lain sebagainya. Tidak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November - Desember 2014 di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang METODE PENELITIAN Variabel bebas dalam penelitian papworth dan dalam penelitian ini, pengontrolan asma. Penelitian penelitian kuantitatif yang menggunakan desain penelitian pre experimen dengan menggunakan kelompok yang mendapat perlakuan (Riyanto, 2. Tabel 1 Definisi operasional Teknik Pernafasan Papworth Terhadap Pengontrolan Asma Di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Teknik Teknik Gejala harian tidak pernafasan terpadu Papworth mengkombinasikan Tidak ada pembatasan teknik pernafasan dengan relaksasi yang bertujuan terbangun dimalam Kebutuhan pereda tidak ada, fungsi paru normal. PEV FEV1 Mengurangi kondisi Variabel Merupakan hasil Asthma < 19 tidak terkontrol klien control 19 - 24 terkontrol Pengontrol terhadap pengontrolan test an Asma 25 terkontrol total menggunakan quesioner Asthma Control test. Instrumen penelitian yang digunakan diekspirasikan dari satu kali dalam penelitian ini adalah : inspirasi yang dalam (Plottel. Kuesioner A Berisi Analisa data dalam penelitian ini . ama, umur, jenis kelamin, alamat, diagnosa medi. Analisa univariat bertujuan Asthma control test (ACT) untuk menggambarkan frekuensi Asthma control test merupakan serta karakteristik responden, kuesioner yang terdiri dari 5 seperti umur, jenis kelamin, aspek yang digunakan untuk mengkaji gejala asma . agi dan responden pada klien asma mala. , kegunaan pengobatan menjalani pengobatan di Balai penolong dan dampak asma pada Kesehatan Paru Masyarakat kehidupan sehari hari. Uji Semarang. validitas dan reliabilitas menurut Analisa Bivariat Masbimoro, 2009 asthma control Analisis bivariat digunakan test ini valid . hitung 0,. dan dalam penelitian ini untuk reliabel . lpha cronchbach mengetahui pengaruh variabel 0,83>0,. yaitu Spirometri teknik pernapasan Papworth Spirometri adalah salah satu alat yang digunakan untuk tes fungsi yaitu pengontrolan Uji yang digunakan adalah Independent T-Test. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Analisa Univariat Umur Responden Tabel 2 Distribusi responden dengan asma berdasarkan umur di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang, 2015 (N=. Umur Jumlah Prosentase (%) 26 - 45 26,5 % 46 - 65 64,7 % > 66 8,8 % Total Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa karakteristik usia responden di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang yang yang paling banyak berumur 46-65 tahun terdapat 22 responden . ,7%). Jenis Kelamin Tabel 3 Distribusi Responden Dengan Asma Berdasarkan Jenis Kelamin Di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang, 2015 ( N=. Jenis kelamin Jumlah Prosentase (%) Laki-laki 41,2 % Perempuan 58,8% Total Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa karakteristik jenis kelamin responden di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang 20 responden berjenis kelamin perempuan . ,8%). Pendidikan Resonden Tabel 4 Distribusi Responden Dengan Asma Berdasarkan Pendidikan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang, 2015 (N=. Pendidikan Jumlah Prosentase (%) SMP SMA Total Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa karakteristik pendidikan responden di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang paling banyak SMA 20 responden . ,8%). Pekerjaan Responden Tabel 5 Distribusi Responden Dengan Asma Berdasarkan Pekerjaan Di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang, 2015 (N=. Pekerjaan Jumlah Prosentase (%) Swasta Ibu Rumah Tangga Lain-lain Total Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa karakteristik pekerjaan responden di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang yang bekerja sebagai wiraswasta ada 9 responden . ,5%), sebagai ibu rumah tangga 10 responden . ,4%) dan yang bekerja selain sebagai wiraswasta maupun ibu rumah tangga sebanyak 15 responden . ,1%). Pengontrolan asma sebelum dilakukan teknik pernafasan papworth Tabel 6. Distribusi Responden Dengan Asma Berdasarkan Pengontrolan Asma Sebelum Diberikan Teknik Pernafasan Papworth Di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang, 2015 (N=. Kontrol Jumlah Prosentase (%) Tidak terkontrol Terkontrol sebagian Terkontrol total Total Berdasarkan di atas menunjukan hasil bahwa sebelum dilakukan teknik pernafasan papworth jumlah responden asma tidak terkontrol sebanyak 41,2% . dan terkontrol sebagian sebanyak 58,8% . Pengontrolan asma sesudah dilakukan teknik pernafasan papworth Tabel 7 Distribusi Responden Dengan Asma Berdasarkan Pengontrolan Asma Sesudah Diberikan Teknik Pernafasan Papworth Di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang, 2015 (N=. Kontrol Jumlah Prosentase (%) Tidak terkontrol Terkontrol sebagian Terkontrol total Total Berdasarkan tabel di atas menunjukan hasil bahwa sesudah dilakukan teknik pernafasan papworth jumlah responden asma paling banyak terkontrol sebagian sebanyak 70,6% . Analisa Bivariat Perbedaan efektivitas teknik pernafasan papworth terhadap pengontrolan Tabel 8 Perbedaan Efektivitas Pengontrolan Asma Sebelum dan Sesudah Diberikan Teknik Pernafasan Papworth Di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang, 2015 (N=. Variabel Mean P value Pengontrolan asma sebelum 18,88 3,982 0,001 Pengontrolan asma sesudah 20,29 3,368 Berdasarkan tabel di atas merupakan tabel hasil uji paired sample T-Test dengan hasil rata Aerata . pengontrolan asma meningkat yaitu 18,88 menjadi 20,29 serta nilai signifkansinya ( p value < 0,. adalah 0,01. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kontrol asma sebelum dan sesudah dilakukan teknik pernafasan dalam setiap menit sehingga dapat memper-tahankan level CO2. Pembahasan Mengetahui perbedaan efektifas pengontrolan asma sebelum dan sesudah dilakukan teknik pernafasan Papworth. Hasil penelitian setelah Papworth menunjukan bahwa nilai signifikansinya . value < 0,. adalah 0,001 untuk pengukuran menggunakan asthma control test. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Holloway . yang menyatakn teknik Papworth menurunkan frekuensi pernafasan, memperbaiki pola nafas pasien bahkan hiperventilasi. Selain itu, penggunaan metode ini diyakini mampu mengontrol gejala asma dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Cluff . menyatakan setelah melakukan penelitian selama 6 bulan, teknik pernafasan Papworth terbukti mampu mengontrol gejala asma dan mempertahankan fungsi Hal ini sesuai dengan konsep teori yang menerangkan bahwa setiap satu kali tarikan nafas dalam . eep breathin. mampu mengakibatkan penurunan kadar CO2 2025% dalam darah sehingga ketika seseorang dalam keadaan overbreathing yang terus menerus akan mengakibatkan penurunan kadar Co2 dalam tubuh secara cepat maka dapat mengakibatkan penurunan aliran darah ke otak. Selain itu kurva disosiasi hemogobin akan bergeser ke kanan yang mengakibatkan berkurangnya kadar oksigen dalam Oleh sebab itu, tehnik pernafasan Papworth dikembangkan untuk melatih seseorang mampu mengoreksi pola nafas dengan memperlambat frekuensi pernafasan KESIMPULAN Karakteristik umur responden di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang dari 34 responden sebagian besar berada pada rentang usia 45-65 tahun sebanyak 22 responden . ,7%), sedangkan dari segi jenis kelamin, sebagian besar jenis perempuan . ,8%), dari sedi responden pendidikan SMA yaitu sebanyak 20 responden . ,8%) dan berdasarkan jenis pekerjaan responden pekerjaan paling banyak adalah pekerjaan lain yaitu 15 responden . ,1%) Rata-rata pengontrolan asma pernafasan Papworth 18,88 kemudian menjadi 20,29 setelah dilakukan teknik pernafasan Papworth. SARAN Bagi profesi keperawatan Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi tambahan keperawatan dalam memberikan edukasi kepada pasien asma Sehingga resiko komplikasi dapat dicegah yang pada Bagi institusi pendidikan Hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu rujukan dalam pengembangan penelitian papworth terhadap pengontrolan Sehingga pengembangan teknik pernafasan tersebut dapat digunakan sebagai bahan ajar terapi non farmakologi terhadap pengontrolan asma. Bagi masyarakat Masyarakat yang telah mengetahui fungsi dari teknik pernafasan tersebut diharapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tingkat pengontrolan pada pasien asma semakin baik. Selain itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi pasien dan keluarga agar mengguakan teknik pernafasan papworth untuk mengontrol Medical-Surgical Nursing 10th OAoConnor E. Patnode CD. Burda BU. Buckley DI. Whitlock EP. Breathing Exercises and/or Retraining Techniques in the Treatment Asthma:. Comparative Effectiveness Review No. (Prepared by the Oregon Evidence-based Practice Center under Contract No. 290-2007-10057-I. ) AHRQ Publication No. 12-EHC092-EF. Rockville: Agency Healthcare Research Quality. ov/reports/final. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2. Global initiative for asthma. Pocket guide for asthma management and prevention . or adults and children older than 5 http://w. org/docu ments/1/Pocket-Guide-forAsthma-Management-andPrevention. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal pengendalian Penyakit Penyehatan Lingkungan. Pedoman Pengendalian Asma. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. National Asthma Council. Asthma Management Handbook Melbourne : National Asthma Council LTD Katerine. Medison. Irvan. Rustam. Erlina. Hubungan Tingkat Pengetahuan Mengenai Asma DAFTAR PUSTAKA