PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Model Integratif Pelayanan Farmasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien dan Rasionalitas Penggunaan Obat di Pelayanan Perawatan Primer Andyka WahabA. Endang Sri Mulyawati LA. Ayu Naningsi3 Keperawatan. Universitas Karya Persada MunaA,A,3 Email Korespondensi Author: andykawahab77@gmail. This is an open access article under the CC BY 4. 0 license. Kata kunci: rasionalitas penggunaan obat. Puskesmas, model Keywords: pharmaceutical services, patient safety, rational Abstrak Pelayanan farmasi di fasilitas kesehatan primer di Indonesia umumnya masih bersifat administratif dan belum terintegrasi secara optimal dalam proses pelayanan klinik. Kondisi ini berdampak pada rendahnya tingkat keselamatan pasien dan masih banyaknya praktik penggunaan obat yang tidak rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi model integratif pelayanan farmasi guna meningkatkan keselamatan pasien dan rasionalitas penggunaan obat. Penelitian ini menggunakan desain mixed methods dalam tiga fase: eksplorasi melalui wawancara mendalam, observasi, dan diskusi kelompok terfokus. pengembangan model dengan metode Delphi bersama para serta evaluasi implementasi model secara kuantitatif dengan pendekatan pre-post test. Indikator evaluasi mencakup rasionalitas resep obat . engacu pada indikator WHO), kejadian medication error, dan tingkat pemahaman serta kepuasan pasien terhadap edukasi obat. Model Integratif Farmasi Primer (MIFP) yang dikembangkan meliputi enam komponen utama: asesmen awal, kolaborasi interprofesi, dispensing dan edukasi pasien, monitoring terapi, evaluasi hasil penggunaan obat, dan umpan balik ke tim medis. Implementasi model selama tiga bulan menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan obat yang rasional, penurunan kejadian medication error hingga 45,8%, serta peningkatan pemahaman dan kepuasan pasien. MIFP terbukti efektif dalam meningkatkan mutu pelayanan farmasi di Puskesmas serta memberikan dampak positif terhadap keselamatan pasien dan rasionalitas penggunaan obat. Model ini layak direkomendasikan sebagai pedoman pelayanan farmasi klinik di tingkat layanan kesehatan primer. Abstrack Pharmaceutical services in Indonesian primary healthcare facilities remain largely administrative and are not yet fully integrated into clinical care processes. This condition contributes to low patient safety and a high prevalence of irrational medicine use. This study aimed to develop and evaluate an integrative pharmaceutical service model to improve patient safety and the rational use of A mixed-methods approach was employed in three phases: exploration through in-depth interviews, observations, and focus group discussions. development using the Delphi technique with expert panels. and quantitative evaluation of model implementation using a pre-post design. Evaluation indicators included WHO prescribing indicators, medication error rates, and patient understanding and satisfaction regarding drug education. The developed Integrative Primary Pharmacy Model (IPPM) consists of six core components: initial pharmaceutical assessment, interprofessional collaboration, dispensing and patient education, therapy monitoring, drug use evaluation, and feedback to the medical The three-month implementation of the model demonstrated significant improvements in rational drug use, a 45. 8% reduction in medication errors, and increased patient knowledge and satisfaction. The IPPM is proven to be effective in improving the quality of pharmacy services in primary healthcare settings and has a positive impact on both patient safety and rational drug use. This model is recommended as a clinical pharmacy service guideline at the primary care level. Pendahuluan Pelayanan farmasi merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang berperan penting dalam menjamin penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional. Di tingkat pelayanan kesehatan primer, seperti Puskesmas dan klinik pratama, pelayanan farmasi seharusnya tidak hanya terbatas pada PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals pengelolaan logistik obat, tetapi juga mencakup pelayanan farmasi klinis yang berorientasi pada pasien (Departemen Kesehatan RI, 2. Namun, di banyak negara berkembang termasuk Indonesia, praktik pelayanan farmasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya keterlibatan apoteker dalam proses klinis, hingga belum optimalnya kolaborasi antarprofesi kesehatan (Putri & Kartika, 2. Salah satu tantangan utama dalam pelayanan farmasi di FKTP adalah tingginya angka penggunaan obat yang tidak rasional. Berbagai studi menunjukkan bahwa masih banyak kasus penggunaan antibiotik tanpa indikasi tepat, polifarmasi, serta ketidaksesuaian dosis dan durasi terapi, yang dapat meningkatkan risiko resistensi antimikroba, efek samping, dan pemborosan sumber daya kesehatan (WHO, 2017. Kemenkes RI, 2. Selain itu, keselamatan pasien yang seharusnya menjadi prioritas utama seringkali terabaikan dalam proses peresepan, dispensing, maupun monitoring terapi obat. Medication errors, adverse drug reactions, dan drug-related problems (DRP. masih menjadi isu yang belum tertangani secara sistematis di layanan primer (Kurniawan et al. , 2020. Almazrou et al. , 2. Upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan farmasi di FKTP memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan integratif. Pendekatan ini mencakup penguatan peran apoteker tidak hanya sebagai pengelola obat, tetapi juga sebagai mitra klinis dalam proses pengambilan keputusan terapi (Anderson & Zhan, 2. Berbagai model pelayanan farmasi integratif telah dikembangkan di negara-negara maju, seperti Collaborative Drug Therapy Management (CDTM). Medication Therapy Management (MTM), dan Pharmaceutical Care Model (Cipolle. Strand, & Morley, 2. Namun, implementasi model-model tersebut di konteks layanan primer Indonesia masih terbatas dan memerlukan adaptasi terhadap karakteristik sistem kesehatan lokal (Setiawan & Ramadhani, 2. Dalam konteks inilah, penelitian ini menjadi relevan dan signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji model integratif pelayanan farmasi di FKTP yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan pasien dan rasionalitas penggunaan obat. Model ini diharapkan dapat menggabungkan aspek logistik, edukatif, dan klinis secara terpadu, serta mendorong kolaborasi interprofesional yang efektif antara apoteker, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Secara ilmiah, penelitian ini menawarkan kontribusi dalam bentuk model layanan berbasis bukti . vidence-based mode. yang dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan pelayanan farmasi primer. Dari sisi praktis, model ini diharapkan dapat diimplementasikan secara luas untuk memperkuat peran apoteker dalam sistem pelayanan kesehatan primer dan memperbaiki kualitas terapi pasien. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjawab kebutuhan empiris di lapangan, tetapi juga menjembatani kesenjangan antara praktik pelayanan farmasi saat ini dengan standar pelayanan farmasi yang ideal. Harapannya, hasil penelitian ini dapat berkontribusi pada perbaikan sistem kesehatan nasional, khususnya dalam aspek keselamatan pasien dan penggunaan obat yang rasional di tingkat pelayanan dasar. Metode Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini merupakan studi mixed methods yang menggabungkan pendekatan kualitatif eksploratif dan kuantitatif evaluatif, bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi model integratif pelayanan farmasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Desain penelitian dibagi ke dalam tiga fase utama: A Fase I - Eksplorasi Konteks dan Kebutuhan Model: Studi kualitatif untuk mengidentifikasi praktik pelayanan farmasi yang berjalan, permasalahan rasionalitas penggunaan obat dan keselamatan pasien, serta harapan dari para pemangku kepentingan. A Fase II Ae Pengembangan Model Integratif: Perumusan model berbasis data lapangan dan studi pustaka, disusun secara sistematis melalui konsultasi ahli dan proses validasi. A Fase i Ae Implementasi dan Evaluasi Model: Studi kuasi-eksperimen . on-randomized pre-post desig. untuk mengukur perubahan indikator sebelum dan sesudah penerapan model. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di dua Puskesmas, dipilih secara purposif berdasarkan kriteria: A Memiliki apoteker tetap. A Sistem pencatatan pelayanan farmasi yang terdokumentasi dengan baik, dan A Kesediaan untuk berpartisipasi dalam implementasi model. Waktu penelitian direncanakan berlangsung selama 12 bulan, dari Januari hingga Desember 2025. Subjek dan Informan Penelitian A Fase I (Kualitati. Informan dipilih secara purposif dan meliputi: o Apoteker o Dokter umum o Perawat o Kepala Puskesmas o Pasien dewasa (Ou18 tahu. pengguna layanan farmasi Total 20Ae25 informan diwawancarai hingga data mencapai saturasi. A Fase i (Kuantitati. o Responden: pasien dewasa yang mendapatkan obat selama 3 bulan sebelum dan sesudah implementasi model. o Unit data: resep, lembar pengobatan, laporan medication error dan DRPs. o Jumlah sampel minimum ditentukan berdasarkan rumus perbandingan dua rata-rata, dengan power 80% dan 0,05. Teknik Pengumpulan Data Fase I Ae Kualitatif: A Wawancara mendalam dengan panduan semi-terstruktur. A Observasi langsung alur pelayanan farmasi . ispensing, counseling, pengelolaan oba. A Focus Group Discussion (FGD) untuk penyusunan rancangan awal model. Fase i Ae Kuantitatif: A Audit resep dan dokumentasi farmasi . ndikator WHO): o Jumlah obat per resep o Penggunaan antibiotik o Penggunaan injeksi o Obat generik dan kesesuaian formularium A Kuesioner keselamatan pasien, meliputi: o Pemahaman pasien terhadap obat o Keterlibatan apoteker dalam pemberian informasi o Pengalaman efek samping atau kesalahan obat A Formulir dokumentasi Medication Error dan Drug Related Problems. Instrumen Penelitian Tabel 1. Instrmen penelitian Tujuan Bentuk Eksplorasi mendalam Semi-terstruktur Menggambarkan Check list Form WHO Audit resep Evaluasi rasionalitas obat Evaluasi Kuesioner keselamatan pasien Skala Likert pengalaman pasien Mengidentifikasi masalah Terstruktur . daptasi Cipolle Formulir DRPs & ME penggunaan obat et al. , 2. Instrumen Panduan wawancara dan FGD Lembar PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Teknik Analisis Data Data Kualitatif: A Analisis tematik menggunakan metode coding terbuka, axial, dan selektif. A Data dianalisis manual atau menggunakan NVivo untuk membantu kategorisasi. A Validitas dijaga dengan triangulasi sumber dan teknik. A Data Kuantitatif: A Statistik deskriptif: rata-rata, frekuensi, dan proporsi indikator WHO. A Statistik inferensial: o Paired t-test untuk data berdistribusi normal. o Wilcoxon Signed Rank Test untuk data ordinal atau tidak normal. A Software: SPSS versi 26. Indikator Evaluasi Model Keselamatan Pasien: A Penurunan insiden medication error A Penurunan kejadian DRPs A Peningkatan pemahaman pasien terhadap obat A Rasionalitas Penggunaan Obat: A Penurunan jumlah rata-rata obat per resep A Peningkatan penggunaan obat generik A Penurunan penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi Hasil dan Diskusi . pt, bold,) Temuan Fase I Ae Eksplorasi Kondisi dan Kebutuhan Model Berdasarkan wawancara mendalam dan observasi di dua Puskesmas, ditemukan bahwa praktik pelayanan farmasi masih bersifat administratif dan belum terintegrasi dalam proses pelayanan Apoteker umumnya hanya terlibat pada tahap dispensing, tanpa partisipasi dalam penentuan terapi maupun evaluasi klinis pasien. Beberapa isu utama yang diidentifikasi: A Tidak adanya standar komunikasi antara apoteker dan dokter. A Ketiadaan sistem dokumentasi DRPs dan medication errors secara sistematis. A Pasien sering menerima informasi obat yang minim dan bersifat umum. A Kebutuhan akan sistem monitoring dan edukasi berkelanjutan. Hasil FGD menghasilkan draft awal model integratif yang terdiri dari 5 komponen utama: A Asesmen Awal oleh Apoteker A Kolaborasi Klinik Antara Apoteker dan Dokter A Dispensing dan Edukasi Pasien A Monitoring dan Evaluasi Penggunaan Obat A Pelaporan dan Dokumentasi Terpadu Validasi dan Finalisasi Model Integratif Melalui dua putaran Delphi dengan 10 pakar . osen farmasi klinik, dokter Puskesmas, ahli manajemen pelayanan kesehata. , model disepakati dalam bentuk alur sistematis dengan tahapan sebagai berikut: Asesmen Ie Kolaborasi Ie Dispensing & Edukasi Ie Monitoring Ie Evaluasi Ie Umpan Balik ke Tim Medis PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Gambar 1. Model integratif Model ini disebut sebagai AuModel Integratif Farmasi Primer (MIFP)Ay, dengan indikator proses dan luaran yang terukur. Temuan Fase i Ae Evaluasi Implementasi Model Setelah implementasi model selama 3 bulan, dilakukan analisis terhadap 184 resep sebelum dan sesudah intervensi. Berikut hasil kuantitatifnya: Tabel. 2 Indikator Rasionalitas Penggunaan Obat (WHO Prescribing Indicator. Sebelum Sesudah i Perubahan Indikator p value Intervensi Intervensi (%) Rata-rata jumlah 3,4 A 1,1 2,6 A 0,9 Ae23,5% 0,002 obat per resep Penggunaan 61,4% 42,3% Ae31,1% 0,008 antibiotik (%) Penggunaan obat 78,9% 91,2% 15,6% 0,012 generik (%) Penggunaan obat 19,0% 9,3% Ae51,1% 0,015 injeksi (%) Indikator Keselamatan Pasien A Penurunan kejadian medication error sebesar 45,8% A DRPs berkurang dari 26 kasus menjadi 11 kasus A Kepuasan pasien terhadap edukasi obat meningkat . kor Likert dari 3,2 menjadi 4,. Diskusi Dampak Model Terhadap Rasionalitas Penggunaan Obat Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model integratif pelayanan farmasi berdampak signifikan terhadap perbaikan indikator rasionalitas penggunaan obat. Penurunan jumlah obat per resep mengindikasikan berkurangnya praktik polifarmasi, yang seringkali terjadi akibat kurangnya kolaborasi antarprofesi dalam pengambilan keputusan terapi (WHO, 2. Penurunan penggunaan antibiotik yang tidak tepat sebesar 31% memperkuat peran apoteker dalam mendorong penggunaan antibiotik yang rasional. Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnya oleh Almazrou et al. , yang menekankan pentingnya keterlibatan farmasis dalam antimicrobial stewardship di layanan primer. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Peran Edukasi dalam Keselamatan Pasien Model ini menempatkan edukasi pasien sebagai komponen kunci. Peningkatan skor pemahaman pasien terhadap penggunaan obat mencerminkan efektivitas strategi counseling yang lebih Apoteker tidak hanya menyampaikan nama obat, tetapi juga tujuan terapi, potensi efek samping, dan waktu konsumsi yang tepat. Penurunan medication error dan DRPs memperlihatkan bahwa keterlibatan apoteker dalam monitoring pascaterapi memberikan kontribusi nyata terhadap keselamatan pasien, seperti juga diungkap oleh Cipolle. Strand, & Morley . Kolaborasi Interprofesi sebagai Pilar Model Keberhasilan model tidak lepas dari terbentuknya pola komunikasi yang jelas antara apoteker dan Dalam praktik sebelumnya, keputusan terapi sepenuhnya dilakukan oleh dokter tanpa diskusi farmakoterapi. Setelah model dijalankan, tercipta sistem notifikasi antarprofesi, misalnya rekomendasi penggantian obat berdasarkan data efek samping atau potensi interaksi. Studi serupa oleh Anderson & Zhan . menekankan bahwa model pelayanan farmasi klinik berbasis kolaborasi mampu meningkatkan hasil klinis dan efisiensi penggunaan obat di layanan Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain: A Tidak adanya kelompok kontrol, sehingga tidak bisa membandingkan efek model dengan intervensi lain. A Waktu implementasi terbatas 3 bulan. evaluasi jangka panjang belum dilakukan. A Generalisasi hasil terbatas pada setting Puskesmas dengan apoteker aktif. Implikasi Praktis dan Rekomendasi Model Integratif Farmasi Primer (MIFP) dapat menjadi acuan penyusunan SOP pelayanan farmasi berbasis pasien di Puskesmas. Kementerian Kesehatan maupun dinas kesehatan daerah dapat mengadopsi model ini dalam bentuk pelatihan dan regulasi pendukung. Untuk pengembangan lebih lanjut, diperlukan uji coba model di berbagai setting . uralAeurba. serta integrasi ke dalam sistem digital rekam medis untuk memperkuat dokumentasi dan Kesimpulan Penelitian ini menghasilkan dan mengimplementasikan Model Integratif Farmasi Primer (MIFP) yang secara efektif meningkatkan kualitas pelayanan farmasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Model ini terdiri dari enam komponen utama: asesmen farmasi, kolaborasi interprofesi, dispensing & edukasi pasien, monitoring terapi, evaluasi hasil, dan umpan balik ke tim medis. Implementasi model terbukti berdampak positif terhadap: A Rasionalitas penggunaan obat, dengan penurunan jumlah obat per resep, penggunaan antibiotik, dan injeksi yang tidak rasional, serta peningkatan penggunaan obat generik. A Keselamatan pasien, melalui penurunan kejadian medication error dan Drug Related Problems (DRP. , serta meningkatnya pemahaman pasien terhadap terapi obat yang diterimanya. Model ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif apoteker dalam tim pelayanan kesehatan primer secara sistematis dan terstruktur mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pengobatan yang aman, rasional, dan berorientasi pada pasien. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Referensi