JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 MEMBEDAH KEPEMIMPINAN YOSUA DI ERA DISRUPSI (SEBUAH TELAAH KEPEMIMPINAN MENURUT BUKU LEADERSHIP EXCELLENCE KARYA PAT WILLIAMS) Feri Aman Mendrofa1. Antonius Natan2. Herbin Simanjuntak3 Randy Marimbunna4 Sekolah Tinggi Teologi Tabgha Batam1 Sekolah Tinggi Teologi Lighthouse Equipping Theological School2 Sekolah Tinggi Teologi Sidang Jemaat Kristus3 Sekolah Tinggi Teologi Pantekosta Batam4 Email: feri@st3b. id, antoniusnatan2018@gmail. com,2 bcoci@yahoo. randykadang@gmail. Abstract The disruption era is an era human life is rapidly changing and evolving. Technological advancements have acted as catalysts for these changes and developments. Christian leadership is also not exempt from the demand for change. However, some churches and their leaders not ready to face significant changes in the disruption era. Leadership stagnation and the stronghold of traditions in the church are the principal causes. Yet, the changes in the disruption era are moving towards critical conditions that require Christian leaders to be vigilant. This anticipation is crucial because sometimes globalization and technological advancements can undermine spirituality. Therefore, the leadership paradigm is needed to keep Christianity as the salt and light of the world. To respond to this, in this article, the author uses the leadership of Joshua as a role model for leaders that should be emulate in the disruption era. Using a literature study method, the author conducted a series of activities to examine Joshua's leadership. Analyze the context and the meaning of words in interpreting texts related to Joshua's leadership. Analyzing the interpretation results through the theory of leadership in the book "Leadership Excellence: The Seven Sides of Leadership for the 21st Century" written by Pat Williams. The results show that Joshua's leadership emphasizes several crucial aspects of leadership in the disruption era, namely having a vision from God, consistently communicating vision, being able to build relationships with others, having a character that fears God, being competent as a leader, daring to face challenges, and having a sincere heart to serve. Keywords: Joshua's Leadership. Christian Leader. Disruption Era. Church Leader. Spiritual Leader. Abstrak Era disrupsi dikenal sebagai era dimana kehidupan manusia berubah dan berkembang dengan Kemajuan teknologi telah turut menjadi katalisator meningkatnya perubahan dan Kepemimpinan Kristen juga tidak terluput dari tuntutan untuk berubah, namun yang memprihatinkan adalah sebagian gereja dan pemimpinnya belum siap menghadapi perubahan besar di era disrupsi. Stagnasi kepemimpinan dan kuatnya gereja dalam mempertahankan tradisi menjadi penyebab utama. Padahal, perubahan-perubahan di era disrupsi sedang menuju kepada kondisi kritis yang mengharuskan pemimpin Kristen waspada. Antisipasi tersebut diambil karena terkadang globalisasi dan kemajuan teknologi menjadi ajang yang dapat melumpuhkan kerohanian. Oleh sebab itu dibutuhkan paradigma kepemimpinan yang tepat untuk tetap menjadikan kekristenan sebagai garam dan terang dunia. Untuk menanggapi hal tersebut maka, dalam artikel ini penulis menggunakan kepemimpinan Yosua sebagai role model pemimpin yang patut diteladani. Menggunakan metode studi kepustakaan, penulis melakukan serangkaian kegiatan untuk menelaah kepemimpinan Yosua. Melakukan analisis konteks dan analisis makna kata dalam menafsirkan teksteks yang terkait kepemimpinan Yosua. Lalu, menganalisis hasil penafsiran melalui teori kepemimpinan dalam buku Leadership Excellence: The Seven Sides of Leadership for the 21st Century yang ditulis Pat Williams. Hasilnya penulis mendapatkan bahwa kepemimpinan Yosua menekankan beberapa hal penting bagi kepemimpinan di era disrupsi yaitu mempunyai visi dari Allah, konsisten mengkomunikasikan visi, mampu membangun hubungan dengan orang lain, berkarakter takut akan Tuhan, berkompetensi sebagai pemimpin, berani menghadapi tantangan, dan memiliki hati yang tulus melayani. Kata Kunci: Kepemimpinan Yosua. Pemimpin Kristen. Era disrupsi. Pemimpin Gereja. Pemimpin Rohani. JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 PENDAHULUAN Era disrupsi dikenal sebagai era dimana kehidupan manusia berubah dan berkembang dengan pesat. Kemajuan teknologi telah turut menjadi katalisator Di era disrupsi, manusia kehidupan yang mampu mengakomodir tujuan kehidupan masyarakat era tersebut. Oleh karena itu maka, sebagai sebuah sistem yang terkait dengan kehidupan manusia, kepemimpinan tidak terlepas dari tuntutan untuk berubah. Pemimpin yang tidak melakukan transformasi dalam kepemimpinannya diyakini cepat atau lambat akan kehilangan pengaruh dan Fenomena tersebut terjadi karena organisasi yang memiliki kesiapan untuk berubah akan berkembang dan mampu mencapai tujuan dalam memenuhi kebutuhan pengikutnya (Saukani and Meria 2021, . Jadi, pemimpin yang memikirkan dan siap melakukan segala yang terbaik bagi pengikutnya harus senantiasa siap, bersedia dan berani melakukan perubahan dalam segala hal. Kondisi lingkungan yang tidak sesuai dalam menjalankan tujuan dari organisasi dapat menjadi instrumen penanda bagi pemimpin untuk melakukan perubahan (Henriyani 2013, . Totok Suprijadi telah menuliskan dalam artikelnya bahwa perubahan harus selalu datang dari pemimpin dan dilakukan dengan sukarela (Suprijadi 2021, . Fakta itu juga dikuatkan oleh Kusworo yang menuliskan bahwa hambatan yang paling sulit dalam melakukan perubahan dan pengembangan suatu organisasi adalah mengubah kebiasaan dan pola pikir dari pemimpin itu sendiri (Kusworo 2019, . Tercetusnya pernyataan itu karena tidak sedikit tantangan perubahan dalam Sulitnya perubahan dilakukan apabila pemimpin telah terlanjur memiliki E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 status quo yang menguntungkan dirinya atau dapat juga karena takut merubah mekanisme yang sudah ada (Taufik and Sapto Nugroho 2020, . Masalah ini juga menimpa kepemimpinan Kristen. Daniel Ronda memprihatinkan adalah sebagian gereja dan pemimpinnya belum siap menghadapi perubahan besar di era disrupsi ini. Stagnasi kepemimpinan dan kuatnya gereja dalam mempertahankan tradisi menjadi penyebab utama (Ronda 2019, 1Ae Padahal, berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia saat ini menuju kepada kondisi yang kritis yang mengharuskan pemimpin Kristen waspada. Hal itu karena globalisasi dan kemajuan teknologi kadang menjadi ajang yang dapat melumpuhkan kerohanian (Suprijadi 2021, . Merujuk terdahulu, ada beberapa tulisan yang telah membahas kepemimpinan Kristen di era disrupsi, seperti tulisan Daniel Ronda tentang AuKepemimpinan Kristen di Era Disrupsi TeknologiAy (Ronda 2019, 1Ae. Akdel Parhusip yang menulis AuModel Kepemimpinan Kristen Inovatif-Efektif: Sebuah Tawaran dalam Merespons Tantangan di Era DisruptifAy (Parhusip 2023, 302Ae. Umumnya kepemimpinan Kristen diperhatikan di era diperlukan contoh pemimpin Alkitab yang dapat menjadi role model kepemimpinan di era disrupsi. Maka, berkaca dari tulisan Mega Intan Tambunan dkk dengan judul AuMeretas Tipe Kepemimpinan Militeristis dalam Kepemimpinan Kristen Di Era Disrupsi DigitalAy (Tambunan. Nadeak, and Gea 2023, 14Ae. penulis memakai kepemimpinan Yosua dalam artikel ini. Untuk menelaah kepemimpinan Yosua, penulis memakai teori kepemimpinan yang umumnya telah diterima di era disrupsi. Teori kepemimpinan yang dimaksud diambil dari buku yang ditulis oleh Pat Williams tentang tujuh sisi kepemimpinan. JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 Pembedahan Yosua bukan tanpa alasan. Yosua selain tokoh militer Israel yang hebat juga merupakan salah satu tokoh Alkitab yang berhasil dalam memimpin. Kepemimpinan Yosua tantangan dari kalangan Israel sendiri dan orang-orang Kanaan memberikannya ganjaran sebagai salah satu pemimpin besar Israel. Kepemimpinan Yosua paradigma Israel dari bangsa budak menjadi penakluk. Kepemimpinan Yosua yang kuat, diakui di kalangan Israel dan suku-suku Kepemimpinan Yosua juga telah banyak menjadi rujukan dari para pemimpin Kristen dan non-Kristen. Hal itu dapat dilihat dari berbagai artikel, buku maupun seminarseminar yang membahas kepemimpinan Yosua. Hal ini yang mendorong penulis Yosua. Tujuannya, supaya pemimpin Kristen melihat esensi kepemimpinan Yosua yang telah bertahan selama berabad-abad dan pada akhirnya menjadikanya teladan dalam memimpin di era disrupsi. E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 akhirnya untuk mendapatkan hasil akhir dari penulisan ini, maka penulis melakukan analisis naratif dari seluruh hasil penafsiran teks dan buku Leadership Excellence: The Seven Sides of Leadership for the 21st Century yang ditulis Pat Williams (Williams 2012, 1Ae. Hasil dari analisis tersebut menjadi teori baru yang merupakan inti penting dari artikel ini. PEMBAHASAN & HASIL Kepemimpinan dan Era Disrupsi Ada banyak pendapat para ahli Dari banyaknya arti kepemimpinan, penulis setuju dengan tulisan John Maxwell yaitu kepemimpinan adalah pengaruh (Maxwell 1995, . Pemimpin yang tidak dapat mempengaruhi tidaklah dapat dikatakan pemimpin karena untuk memimpin harus mempunyai pengikut yaitu orang-orang yang berhasil Pernyataan John Mac Arthur juga mendukung hal itu, karena menurutnya inti dari kepemimpinan adalah mengajak orang lain untuk menjadi pengikut (Arthur 2010. Adanya pengikut menandakan seseorang dianggap layak menjadi pemimpin dan untuk mendapatkan pengikut tidak ada jalan lain selain mempengaruhi orang lain. Oleh sebab itu, pengaruh adalah kekuatan pemimpin karena dengan pengaruh ia akan mempengaruhi pemikiran orang lain, membuat orang mengikutinya, percaya dan Jadi kecakapan yang dimiliki pemimpin untuk mempengaruhi orang lain. Menurut tulisan Johanis Ohoitimur era disrupsi adalah perubahan secara sosiologis yang disebabkan teknologi Era disrupsi telah menjadi katalisator yang mengubah secara sosial bentuk-bentuk komunikasi, membaurkan METODE PENELITIAN Penulisan artikel ini menggunakan Studi kepustakaan adalah serangkaian kegiatan yang terkait dengan pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian (Zed 2018, . Melalui kegiatan tersebut maka penulis membaca, mencatat dan mengolah literatur yang bersumber dari jurnal-jurnal dan buku-buku yang relevan dengan judul Selanjutnya dalam menjelaskan kepemimpinan Yosua dalam Alkitab, penulis melakukan penelusuran teks-teks yang terkait dengan peran Yosua sebagai pemimpin Israel. Penafsiran teks-teks yang telah ditentukan tersebut kemudian memakai analisis konteks dan analisis makna kata yang sesuai dengan metode hermeneutik yang ditulis oleh Hasan Sutanto (Sutanto 2007, 299Ae. Pada JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 berbagai kebudayaan dan menciptakan jaringan-jaringan sosial (Ohoitimur 2018. Era disrupsi tidak dapat dihindarkan karena itu perubahan adalah suatu Era AuZero to OneAy sudah berakhir dan era disrupsi telah memaksa orang bekerja dan berpikir lebih cepat dengan disruptive mindset, yaitu cara berpikir yang memungkinkan orang bergerak tanpa batasan ruang dan waktu (Wibisono 2020, . Kekristenan saat ini berada di era disrupsi maka untuk mempengaruhi pengikutnya pemimpin Kristen harus mampu berubah sesuai kebutuhan tatanan sosial masyarakat. Perubahan itu misalnya dapat dilakukan dalam sistem komunikasi, dalam sudut pandang melihat budaya yang berbeda ataupun ketika menghadapi jaringanjaringan sosial masyarakat yang telah E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 dalam buku ini dihasilkan dari pengalaman kepemimpinan yang panjang dan hasil dari ratusan buku yang telah dibaca dan Adapun kepemimpinan yang ditulisnya adalah sebagai berikut: Vision Menurut Pat William, kepemimpinan yang pertama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah visi. Kepemimpinan berorientasi tentang masa depan sehingga semua dimulai dengan visi. Seorang pemimpin visioner akan mampu melihat lebih awal, lebih jauh dan lebih banyak dari orang lain. Kemudian mereka mengumpulkan pengikutnya untuk mewujudkan impian tersebut menjadi Visi akan menolong para pemimpin untuk tetap fokus, membuat para pemimpin tetap bersemangat, dan membantu pemimpin menyelesaikan sebuah tujuan. Oleh sebab itu, visi adalah hati dan jiwa kepemimpinan, segala sesuatu yang berkaitan dengan kepemimpinan seseorang bersumber dari visi yang didapatkannya. Communication Meskipun visi merupakan hati dan jiwa dari sebuah kepemimpinan akan tetapi tidak ada gunanya jika visi tersebut tidak diketahui orang lain. Visi saja tidak cukup tetapi selanjutnya pemimpin harus mengomunikasikan visi kepada pengikutnya untuk menciptakan fokus Untuk mengkomunikasikan visi dibutuhkan kemampuan komunikasi yang efektif supaya dapat mempengaruhi orang Komunikasi yang efektif dapat dilakukan ketika seorang pemimpin mempercayai kekuatan komunikasi, berkomunikasi bertujuan membuat mengkomunikasikan hal yang optimis, mengkomunikasikan sebuah harapan The Seven Sides of Leadership (Tujuh Sisi Kepemimpina. Teori Tujuh Sisi Kepemimpinan yang dimuat dalam artikel ini diambil dari buku Leadership Excellence: The Seven Sides of Leadership for the 21st Century. Buku ini ditulis oleh Pat Williams seorang yang telah berkecimpung lama sebagai praktisi kepemimpinan, penulis dan motivator kepemimpinan. Pengalaman menjadi pemimpin dalam dunia olahraga telah diakui secara Internasional sehingga berhasil menjadi Hall of Famer pada dunia Pat Williams adalah salah satu pendiri Orlando Magic, pernah menjadi manajer tim di Chicago. Atlanta. Philadelphia dan Orlando, termasuk juara dunia basket tahun 1983. Pengalamannya telah membuat dia menjadi salah satu pembicara yang memberikan motivasi dan inspiratif terkemuka di Amerika, dan telah berbicara kepada karyawan di banyak perusahaan Fortune 500. Keberhasilannya telah menempatkan dirinya sebagai salah satu dari 50 orang paling berpengaruh National Basketball Association (NBA). Oleh sebab itu teori JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 bersama, mengkomunikasikan hal memotivasi, dan mampu menjadi komunikator yang handal. Prinsip ini menjadikan kegiatan berbicara sebagai kekuatan dalam mempengaruhi dan memimpin orang lain. People Skill Pemimpin yang hebat mengasihi orang-orang yang dipimpinnya. Dia tidak memperlakukan pengikutnya sebagai bidak catur yang hanya Kasih keterampilan utama yang seharusnya Pemimpin tidak dapat mencapai visi kepemimpinannya sendirian, karena kepemimpinan bekerja melalui orangorang yang juga mencapai tujuan Keterampilan berinteraksi memungkinkan pemimpin hubungan yang harmonis, bergaul dengan orang lain, bernegosiasi dengan orang lain, menyelesaikan konflik dengan orang lain, dan berinteraksi dengan cara yang saling Untuk melakukan semua itu membutuhkan kasih yang tulus dan tidak menjadikannya teknik untuk memanipulasi orang lain. Untuk mempelajari keterampilan tersebut maka seorang pemimpin harus melakukan 5 prinsip yaitu menjadi pemimpin harus tetap terlihat dan selalu ada bagi tim, mampu menjadi delegatif, setia pada anggota tim, siap konflik, dan bersikap terbuka dengan anggota tim. Semua prinsip ini dapat dilakukan oleh ketika pemimpin mempunyai kasih agape yaitu kasih yang tidak mengharapkan balasan dari orang lain. Character E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 Karakter adalah serangkaian ciri kepribadian yang telah dibangun seorang pemimpin. Ciri-ciri kepribadian ini menentukan bagaimana pemimpin berperilaku dalam berbagai hal dan situasi tertentu, termasuk saat-saat mengalami tekanan, bahaya, stres, dan Ada beberapa karakter yang sangat relevan dengan kepemimpinan saat ini yaitu pemimpin seorang yang berintegritas, pekerja keras, mampu menyerah, bertanggung jawab, dan memiliki kerendahan hati. Competence Pemimpin tidak dilahirkan tetapi dibentuk dan siapapun dapat menjadi Ketika seseorang memilih kompetensi tertentu yang harus terusmenerus dipelajari untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan. Ada lima belas kompetensi yang harus dimiliki oleh pemimpin yaitu kompetensi memecahkan masalah, kompetensi dalam menjual ide, gagasan, produk dll, kompetensi untuk terus belajar, kompetensi mengajar, kompetensi mengorganisir dan merencanakan, kompetensi mengelola perubahan, kompetensi mencapai keseimbangan, kompetensi untuk tetap tenang, kompetensi menjadi diri sendiri, dan kompetensi untuk sabar. Boldness Pemimpin harus berani membuat Di setiap tim, di setiap organisasi, seseorang harus membuat Itulah arti kepemimpinan. Peran seorang pemimpin adalah mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, berkonsultasi dengan orangorang kunci, merenungkan semua pilihan, potensi positif, potensi negatif. JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 resiko dan akhirnya mengambil Begitu mengambil keputusan, dia tidak boleh lagi menoleh ke belakang ataupun melainkan berusaha mewujudkan keputusan tersebut sampai berhasil. A Serving Heart Kepemimpinan adalah pelayanan. Pemimpin hadir mewujudkan tujuan Pemimpin adalah orang yang melayani sehingga tidak boleh Kepemimpinan adalah melayani dan ini Pemimpin yang siap melayani orang lain akan dapat menjadi pemimpin yang Untuk dapat menjadi pemimpin yang melayani maka beberapa tips yang harus dilakukan yaitu melepaskan hak untuk mengendalikan, belajar melihat pelayanan sebagai sebuah tujuan, membiarkan orang lain terbiasa melihat pemimpin dalam melayani, turut serta dalam mengambil bagian dalam melayani, tetap memfokuskan diri pada pengaruh, dan mampu memaafkan orang yang bersalah. E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 Musa mengenai Kanaan. Pada akhirnya Allah kepemimpinan Musa dilanjutkan oleh Yosua. Peralihan dinyatakan dengan penumpangan tangan Musa ke atas Yosua sehingga ia penuh dengan roh hikmat dan kebijaksanaan (Ul 34:. Keberhasilannya menaklukan tanah Kanaan membuat tanah tersebut menjadi milik pusaka orang Israel sampai hari ini. Nama Yosua diterjemahkan dari kata Ibrani dan dapat diartikan sebagai Allah adalah keselamatan (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini 2011, 626Ae. Membedah Kepemimpinan Yosua Menaklukan Kanaan Kenneth A. Mathews menjelaskan bahwa narasi yang tertulis pada Yosua 1:1-9 kepemimpinan Yosua ketika memulai memimpin Israel (Mathews 2. Dalam persiapan tersebut. Allah memberikan tujuan utama mereka menyeberangi sungai Yordan yaitu, pergi memasuki tanah yang dijanjikan-Nya. Kata preposisi A( AauAE. yang diterjemahkan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) AumenujuAy dapat juga diartikan sebagai pergerakan yang menunjukan kehadiran di sebuah tempat (Brown. Drive, and Briggs Thomas penyeberangan (Aba. sungai Yordan merupakan inti dari kitab Yosua dan muncul 20 kali dalam di pasal 3-4. Abar adalah istilah teknis yang terkait tindakan dan biasanya dihubungkan dengan pemilik tanah yang menjanjikan (Dozeman 2015. Tujuan ini dapat dikatakan adalah visi yang diberikan Allah kepada Yosua. Visi ini juga merupakan visi yang sama yang pernah diberikan Allah kepada Musa ketika membawa Israel keluar dari Mesir. Jadi, sebagai pemimpin yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Musa. Yosua juga mengemban visi yang sama yaitu membawa Israel memasuki dan menaklukan Kanaan. Di masa penaklukan Kanaan, visi ini adalah perekat seluruh suku-suku Israel karena visi ini telah Profil Yosua Yosua merupakan tokoh penting dalam sejarah Israel yang memimpin pengambilalihan kembali tanah yang pernah diberikan Allah kepada Abraham orang-orang Kanaan. Yosua merupakan anak Nun dan cucu Elisama kepala suku Efraim (I taw 7:27. Bil 1:. Saat masih muda. Yosua adalah pemimpin pasukan Israel yang pernah mengalahkan suku Amalek, seorang abdi kepercayaan Musa dan salah satu dari dua belas pemimpin suku-suku Israel yang diutus Musa menyelidiki tanah Kanaan (Bil 1. Yosua beserta rekannya Kaleb menjadi orang Israel yang lahir di Mesir yang mendapat janji Allah akan berhasil masuk ke tanah Kanaan (Bil 14:. Apresiasi tersebut mereka dapatkan terkait berita baik yang mereka bawa kepada JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 mereka nantikan selama 40 tahun saat di masa pengembaraan. Setelah mendapatkan perintah persiapan dari Allah maka kemudian Yosua mengkomunikasikan visi itu kepada para pemimpin pasukan dalam bentuk instruksi, hal ini sebagai pengordinasian seluruh suku Israel dalam mempersiapkan diri menduduki Kanaan. Perintah Yosua supaya bangsa Israel mempersiapkan bekal adalah perintah yang bersifat Bentuk komunikasi visi ini juga terlihat ketika Yosua menagih komitmen suku Ruben. Gad dan setengah suku Manasye untuk membantu kesembilan setengah suku lainnya merebut Kanaan (Yos 1:12-. Pengkomunikasian visi juga Yosua mengingatkan tujuh suku Israel yang melakukan tugasnya menduduki Kanaan supaya jangan bermalas-malasan (Yos 18:. Jadi sepanjang kepemimpinannya Yosua komunikasinya dengan visi yang diberikan Allah. Konsistensinya pengkomunikasian visi kepada bangsa Israel telah membuat mereka tetap fokus pada tujuan bersama yaitu merebut tanah Kanaan. Yosua kemudian memulai usaha merebut Kanaan setelah menyeberangi sungai Yordan. Ia mengirim dua orang pasukannya pergi mengamati kota Yerikho. Kegiatan pengintaian berjalan dengan baik sampai kehadiran mereka diketahui raja Yerikho yang langsung memerintahkan menangkap kedua pengintai itu. Mereka kemudian berhasil meloloskan diri dari pengejaran karena bantuan seorang wanita yang bernama Rahab. Atas jasanya Rahab meminta orang-orang Yosua membinasakan keluarganya apabila Israel berhasil menghancurkan kota Yerikho (Yos 2:12-. Ketika kedua pengintai kembali Yosua, menceritakan hasil pengintaian termasuk janji yang telah mereka berikan kepada E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 Rahab. Sebagai Yosua melakukan pendelegasian tugas kepada kedua pengintai, ia pun mengakui keputusan dan janji itu bahkan memberikan penyerang untuk tidak melanggar janji itu (Yos 6:22-. Keputusan ini merupakan salah satu keputusan yang berbeda selama kepemimpinan Yosua. Rahab menjadi satu-satunya keluarga yang tidak dibinasakan ketika Yosua menyerang kotakota Kanaan. Pengecualian ini diberikan Yosua karena sangat memahami usaha Rahab dalam mempertaruhkan nyawanya saat menampung kedua pengintai Ibrani (Mathews 2016, . dan juga untuk menjaga sumpah para bawahannya. Peristiwa ini memperlihatkan usaha Yosua dalam membangun hubungan yang erat dengan orang-orangnya. Kepercayaan yang diberikan Yosua telah membangun interaksi yang hangat di antara mereka. Keberhasilan Yosua ditopang oleh karakternya sebagai pribadi yang takut akan Allah. Karakter ini kuat tertanam dalam dirinya sehingga orang Israel sangat meyakininya sebagai pemimpin yang mampu melanjutkan kepemimpinan Musa. Sebelum menyeberangi sungai Yordan Allah telah memberikan kunci kesuksesan kepada Yosua yaitu, supaya jangan menyimpang dari ketetapan-ketetapan hukum Allah yang telah diperintahkan Musa kepada Yosua (Yos 1:. Prinsip ini dipegang teguh oleh Yosua sehingga karakter takut akan Allah terlihat sangat menonjol dalam kehidupannya. Pada akhirnya karakter ini mempengaruhi kesetiaan, kebijaksanaan, keberanian dan prinsip hidup lain yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Di beberapa kondisi sulit Yosua berhasil melewatinya melalui karakter takut akan Allah. Seperti ketika ia hampir mati saat akan dilempari batu oleh orang Israel karena melawan pandangan yang mayoritas (Bil 14:. Ketika ia pada akhirnya dengan setia memberikan Hebron kepada Kaleb (Yos 14:6-. , ketika ia JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 diakui oleh seluruh Israel ketika ia melakukan perpisahan kepada seluruh pemimpin Israel (Yos 23-. Tanpa karakter yang kuat Yosua tidak akan dapat memimpin Israel di hadapan suku-suku Kanaan. Di kitab Yosua pasal 1:16-17 terlihat orang-orang Israel berjanji akan mendengarkan dan mematuhi perintah Yosua. Pengakuan ini adalah pernyataan bahwa kepemimpinan Yosua patut didengar karena kemampuannya dapat dipersamakan dengan Musa. Pernyataan ini tidak terlalu mengherankan karena sejak dari mudanya Yosua telah dikenal sebagai pemimpin yang mempunyai kompetensi. Proses kehidupan, membuat Yosua bertumbuh sebagai pribadi yang harus siap mengambil keputusan ketika menghadapi Keputusan-keputusan tersebut telah menjadikan Yosua kaya dengan pengalaman dan juga hikmat (Yunianto 2018, . Oleh sebab itu, pemilihan Yosua sebagai suksesor Musa bukan kedekatannya dengan Musa, namun juga karena pertimbangkan kompetensinya. Yosua berpengalaman di medan perang dan sejak muda telah ikut berperang dan mempelajari Kompetensi dibutuhkan untuk memimpin seluruh suku Israel menaklukan Kanaan. Kompetensi sebagai ahli strategi militer berpengalaman terlihat ketika ia mengirim mata-mata sebelum menaklukan Yerikho (Yos 2:1-. , memancing pasukan Ai keluar dari kotanya sebelum pasukan Israel yang bersembunyi menyerang kota tersebut (Yos 8:3-. , menyerang tiba-tiba saat merebut bagian selatan dan utara Kanaan (Yos 10:9, 11:. Jadi kompetensi kepemimpinan militer Yosua yang hebat tidak dapat dilepaskan dari kemenangan Israel atas suku-suku Kanaan. Dari setiap peperangan yang telah dijelaskan di kitab Yosua sangat terlihat keberanian Yosua di medan perang. E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 langsung turun ke medan tempur dengan mengambil alih penaklukan suku-suku Kanaan. Keberanian di medan perang juga dibarengi dengan keberaniannya dalam Beberapa keputusan penting yang pernah dilakukan Yosua menyelamatkan Rahab (Yos 6:. , keputusan mengeksekusi mati Akhan (Yos7:. , keputusannya membiarkan Gibeon (Yos 9:. , keputusannya dalam berdoa kepada Allah agar matahari dan bulan berhenti (Yos 10:. , keputusannya untuk membagi tanah Kanaan dengan undi (Yos 14:1-. Semua keputusan itu diambil Yosua setelah mendengar Firman Allah, melihat mempertimbangkan pendapat orang lain. Dari hal tersebut dapat dipahami keberanian Yosua bukanlah keberanian yang tidak berdasar. Keberanian Yosua ada karena telah melewati pertimbangan yang penuh perhitungan. Menjadi pemimpin dari suku-suku Israel memiliki tantangan berat dimana Yosua telah memahami hal itu sejak ia bersama-sama dengan Musa. Allah sendiri mengatakan bahwa Israel adalah bangsa tegar tengkuk atau yang dapat diartikan sebagai bangsa yang tidak penurut atau bebal (Kel 33:. Karakteristik ini menuntut siapapun yang menjadi pemimpin Israel harus benar-benar memiliki hati yang siap untuk melayani. Ketika orang Gibeon menipu para pemimpin Israel, seluruh rakyat kemudian bersungut-sungut (Yos 9:. dan menyalahkan para pemimpin. Namun Yosua tetap dengan sikap yang melayani menghadapi mereka. Ia tidak keputusan yang terbaik. Sinaga dalam pengalaman Yosua selama 40 tahun menjadi pelayan Musa adalah kunci keberhasilannya memiliki hati yang Yosua adalah a man of humility karena bersedia belajar, dibimbing, dan diperlengkapi oleh Musa. Kerendahan hati JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 itu memampukan Yosua tidak pernah melawan Musa. ia selalu mendengar dan menaati Musa. (Bilangan 27:12-23. Ulangan 3:23-29. dan 31:1-. (Sinaga and Tambunan 2021, . Oleh sebab itu ketika Yosua diperhadapkan pada banga Israel yang memiliki karakteristik tidak penurut maka ia dapat memposisikan dirinya Ketulusan hati dari pada Yosua ini kemudian diakui oleh para pemimpin Israel. E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 Perubahan yang sangat cepat di era disrupsi sering membuat tujuan awal organisasi menjadi kabur. Dengan memiliki visi yang jelas maka pemimpin dapat terarah memimpin pengikutnya tantangan era disrupsi. Konsisten mengkomunikasikan visi Seorang pemimpin yang berhasil harus kepada seluruh pengikutnya supaya mereka memahami visi dengan baik dan membuat strategi terpadu untuk menjadikan visi itu tergenapi (Boestam 2009, . Kemampuan komunikasi dibutuhkan karena sekalipun seorang pemimpin memiliki berbagai ide terbaik dalam memimpin maka semua itu tidak berguna jika tidak disampaikan (Woolfe 2002, . Era disrupsi yang tidak menentu membutuhkan pemimpin yang tetap konsisten mengkomunikasi Konsistensi akan membantu pemimpin untuk tetap menempatkan pengikutnya kepada tujuan bersama. Jika hal ini tidak dilakukan maka situasi era disrupsi dikhawatirkan dapat membuat tujuan bersama semakin kabur dan dapat terhilang. Yosua adalah pemimpin yang komunikator mengkomunikasikan visi. Sepatutnya kemampuan ini diteladani pemimpin Kristen, mempengaruhi gerak bersama dalam mencapai sebuah tujuan organisasi. Mampu membangun hubungan dengan orang lain. Keberhasilan Yosua tidak terlepas dari kerjasama seluruh pimpinan suku-suku Israel dalam mewujudkan visi yang Allah. Kerjasama terbangun karena Yosua menghargai orang-orang Menurut siagian hubungan antara dipimpinnya bukanlah hubungan yang Keteladanan Kepemimpinan Yosua di Era Disrupsi Era tantangan yang baru pada kepemimpinan Kristen. Disrupsi mengganggu perilaku manusia dan menggambarkan perubahan perilaku yang berkelanjutan. Disrupsi membuat perubahan yang begitu cepat, masif dengan alur yang sulit ditebak, mengakibatkan kompleksitas hubungan faktor-faktor perubahan, ketidakjelasan arah perubahan yang menyebabkan kebingungan (Ulfah. Supriani, and Arifudin 2022, . Era mempunyai sisi kepemimpinan yang dapat menghadapi tantangan ini. Berdasarkan kepemimpinan Yosua yang telah penulis jelaskan di atas maka di bawah ini dituliskan sisi kepemimpinannya yang patut diteladani pemimpin Kristen. Mempunyai visi dari Allah Yakob Tomatala menuliskan bahwa visi yang didapatkan Yosua bersifat ilahi, berasal dari Allah dan akan terus mendorongnya untuk mencapainya (Tomatala Visi kepemimpinan Yosua memang bukan visi yang baru, tetapi kelanjutan dari visi yang pernah diberikan Allah kepada Musa. Tetapi visi itu telah membantu Yosua mengarahkan dirinya dan bangsa Israel kepada rencana Allah. Meneladani kepemimpinan Yosua di era disrupsi maka hal pertama yang harus pemimpin Kristen miliki adalah JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 faktor produksi tetapi hubungan yang materi, emosional dan psikologis (Siagian 2009, . Era disrupsi pengikutnya sebagai batu pijakan maka ia akan ditinggalkan dan berakibat pada terganggunya pencapaian visi. Oleh sebab itu Hubungan antara pemimpin dengan bawahan hendaknya tidak sebatas hubungan kerja formal antara hubungan tersebut harus terjalin secara luas dimana pemimpin dapat bawahan dalam mengatasi hambatan dan dapat memotivasi bawahan untuk berprestasi secara maksimal (Linawati 2016, . Berkarakter takut akan Tuhan Kemajuan teknologi yang sangat cepat terjadi di era disrupsi telah berdampak pada perubahan dari sikap dan perilaku setiap orang (Topayung 2023, . Dalam kehidupan kerohanian era disrupsi juga telah menimbulkan krisis di bidang moral dan spiritual (Baskoro and Yermianto 2021, . Hal itu disebabkan karena teknologi akan memudahkan siapa saja melihat berbagai hal termasuk cara hidup yang menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam kondisi ini pemimpin Kristen harus tampil sebagai pribadi yang berkarakter takut akan Tuhan. Sama halnya seperti Yosua yang menunjukan dirinya takut akan Tuhan ketika orang-orang sekelilingnya melawan kehendak Allah. Pemimpin Kristen harus berani menunjukkan karakter Kristianinya di era disrupsi. Ketika pemimpin Kristen dapat melakukan hal itu maka ia akan mendapat pengakuan dari orang-orang sekelilingnya sehingga ia akan lebih mudah mengarahkan pengikutnya mencapai visi yang dijadikan tujuan Berkompetensi sebagai pemimpin E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 Era disrupsi membutuhkan pemimpin yang memiliki kompetensi dalam melakukan perubahan. Kompetensi akan membuat pemimpin melihat peluang yang ada dan kemudian melakukan perubahan supaya visi organisasi dapat tercapai. Kompetensi Yosua saat memimpin militer Israel terlihat dari strateginya yang berbeda saat menaklukan sebuah suku. Yosua mempelajari peluang yang ada dan mencapai visi yang diberikan Allah. Linawati menjelaskan bahwa Pemimpin yang dapat merubah hambatan menjadi kinerja yang bagus akan kepercayaan diri bawahan (Linawati 2016, 135Ae. Jadi kompetensi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pemimpin, ia adalah harapan dari pengikutnya untuk membawa mereka mencapai tujuan bersama. Jadi, pemimpin yang berhasil akan terus kompetensi-kompetensi yang ada. Berani menghadapi tantangan Pemimpin masa kini dituntut untuk berani memulai sesuatu yang baru, berani mengambil resiko dan berani bertanggung jawab pada keputusannya (Iwan Iswanto 2023, . Sebaik apapun tindakan dan keputusan pasti memiliki resiko termasuk mengambil keputusan di era disrupsi. Namun, kondisi yang beresiko dapat dihadapi apabila pemimpin mendasari setiap tindakan dan keputusannya dengan penuh kehati-hatian dan penuh pertimbangan. Penulis telah membahas di atas tentang keberanian Yosua dalam bertindak dan mengambil putusan. Keberanian ini tidak terlepas dari pengetahuan dan pengalaman Yosua memimpin di masa-masa mudanya. Keteladanan ini seharusnya membuat para pemimpin Kristen mendasari tindakan dan keputusannya dengan mempelajari banyak pengetahuan. JURNAL TABGHA Volume 4 No. 2 Oktober 2023 belajar dari pengalaman pribadi, belajar dari pengalaman pemimpin yang berhasil dan yang paling penting mencari tuntunan dan kehendak Allah. Memiliki hati yang tulus melayani Di era disrupsi, kepemimpinan yang tulus melayani sangat dibutuhkan karena kecenderungan manusia pada era disrupsi lebih berfokus kepada unsur pribadi dan egois pribadi serta individualistik yang sangat kuat (Baskoro and Yermianto 2021, . Keadaan ini sama seperti ketika Yosua menghadapi orang Israel yang terkenal dengan sebutan tegar tengkuk. Yosua dapat memimpin mereka karena memiliki ketulusan hati dalam melayani dan ketulusan hati dimiliki ketika memiliki kerendahan hati. Tantangan di era disrupsi memang memiliki kesulitan yang kompleks namun dengan memiliki hati yang melayani dengan tulus maka kepemimpinan dapat dirasakan oleh orang lain, karena ketulusan itu akan terpancar dari sikap dan tindakan pemimpin menghadapi orang lain (Gunawan et al. 2023, . E-ISSN 2830-5299 P-ISSN 2722-6190 kepemimpinan Yosua dapat menjadi teladan pemimpin Kristen di era disrupsi. Sebab, setelah penulis membedah kepemimpinan Yosua berdasarkan teori sisi kepemimpinan yang dikemukakan Pat Williams, penulis dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan Yosua ideal untuk Hal itu karena Kepemimpinan Yosua menekankan beberapa hal yang sangat penting bagi kepemimpinan yaitu mempunyai visi dari Allah, konsisten membangun hubungan dengan orang lain. Tuhan, berkompetensi sebagai pemimpin, berani menghadapi tantangan, dan memiliki hati yang tulus melayani. Menurut penulis jika pemimpin Kristen dapat meneladani hal ini maka era disrupsi tidak dapat meng erupsi organisasi-organisasi Kristen. DAFTAR PUSTAKA