Vol. No. 1, 2024 Doi : https://doi. org/10. 70371/jise. Manajemen Laba : Analisis Good Corporate Governance pada JOURNAL OF Perusahaan Teknologi Periode 2019- INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION AThe Author. 2024 Iwan Juni Surya1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Alifa Pringsewu. Indonesia Hendra Prastya2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Alifa Pringsewu. Indonesia Vina Mazwini3 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Alifa Pringsewu. Indonesia Corresponding Author: Iwan Juni Surya E-mail: iwanjuni1983@gmail. Abstract: This study aims to analyze the influence of Good Corporate Governance (GCG) factors, namely the Audit Committee. Board Member Age, and Independent Commissioners, on Earnings Management in technology companies listed in the Economic and Statistical Data (DES) from 2019 to 2022. Earnings management is often used by companies to enhance the positive perception of their financial performance, although it can lead to financial statement manipulation. In this study, a quantitative approach is used with panel data regression to test the relationship between these variables. The results indicate that the Audit Committee has a negative impact on Earnings Management, meaning that the greater the number of Audit Committee members, the lower the likelihood of earnings management. Conversely. Board Member Age and Independent Commissioners show a positive influence on Earnings Management, with older board members and more independent commissioners leading to higher levels of earnings management. These findings support stakeholder theory, which suggests that companies must maintain stakeholder trust through good financial reporting. Overall, the three GCG factors have a positive impact on earnings management practices in technology companies listed in the DES from 2019 to 2022. Keywords: Earnings Management. Good Corporate Governance. Technology Companies. Pendahuluan Penyusunan Laporan keuangan merupakan hal yang paling penting dalam perusahaan. Berbagai cara perusahaan akan menyusun dengan baik baik segi penyajiannya maupun kinerjanya. Perusahaan tentu saja anak melakukan agan pada item laba dapat terlihat baik dan menarik bagi Sebab para investor tentunya akan lebih tertarik kepada perusahaan dengan laba yang tinggi, sehingga informasi laba seringkali ditargetkan pihak manajemen dalam melakukan manipulasi oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab (Pratomo dan Alma, 2. JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Berbagai cara perusahaan dalam mempercantik laporan keuangan guna menutupi hal yang tidak semestinya, baik mengurangi atau menambah item akun labanya dengan tujuan agar perusahaan tetap terlihat memiliki kinerja yang baik oleh stakeholder. Dalam berita yang bersumber dari Minilah. , beberapa tindakan manajemen laba memunculkan hal negatif, beberapa diantaranya memunculkan kasus di beberapa perusahaan, antara lain: Pada tahun 2017. PT Tiga Pilar Sejahtera Food dan PT Sekawan Intipratama pernah terlibat dalam kasus kesalahan penyajian laporan keuangan. Kesalahan ini terungkap melalui audit eksternal yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik Ernst and Young. Dalam hasil audit tersebut, ditemukan adanya kelebihan pencatatan piutang senilai sekitar Rp 1,4 triliun. Selain itu, diduga terdapat aliran dana dari perusahaan kepada pihak manajemen sebesar Rp 1,78 triliun. Kejadian ini terjadi di PT Tiga Pilar Sejahtera Food. Sebelumnya, kasus serupa juga pernah menimpa PT Timah Tbk pada tahun 2016, seperti yang dilaporkan oleh Tambang. Dalam hal ini PT Timah Tbk, diduga memberikan laporan keuangan tahun 2015 dengan tidak sebenarnya guna menutupi kinerja keuangan perusahaan yang melemah serta melakukan pembohongan publik. Manajemen laba merupakan tindakan yang dilakukan perusahaan melalui pemilihan kebijakan akuntansi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu, seperti demi keuntungan pribadi atau untuk meningkatkan nilai perusahaan di pasar. Agar praktik ini tidak dilakukan secara berlebihan, dibutuhkan suatu sistem pengawasan yang bisa menyeimbangkan kepentingan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan. Sistem tersebut dikenal sebagai tata kelola perusahaan . orporate governanc. Beberapa unsur dalam tata kelola yang diyakini dapat mengurangi praktik manajemen laba antara lain adalah komite audit, usia komisaris, dan komisaris independen. Unsur pertama yang berpengaruh terhadap manajemen laba adalah komite audit. Komite ini dibentuk untuk membantu dewan komisaris dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan Di Indonesia, pembentukan komite audit diatur dalam Keputusan Ketua Bapepam & LK No. Kep-643/BL/2012, yang menetapkan bahwa komite audit harus terdiri dari minimal tiga orang, yaitu satu komisaris independen dan dua orang lainnya yang berasal dari luar perusahaan atau dari perusahaan publik. Faktor kedua adalah usia komisaris. Umur seorang komisaris dapat menjadi penentu dalam menilai kinerja, karena karyawan yang lebih tua umumnya cenderung lebih setia pada perusahaan dan enggan memulai karir baru. Kemampuan untuk bersikap lebih dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan juga diharapkan dapat membantu mengurangi praktik manajemen laba. Faktor terakhir dalam penelitian ini adalah komisaris independen. Berdasarkan PBI No. 8/4/PBI/2006, komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak memiliki hubungan pribadi, keuangan, atau manajerial dengan perusahaan. Aturan mengenai proporsinya tercantum dalam POJK No. 57/POJK. 04/2017 Pasal 19 ayat 2, yang menyatakan bahwa setidaknya 30% dari total komisaris dalam perusahaan harus merupakan komisaris independen. Beberapa penelitian tentang manajemen laba belum juga konsistensi pada hasil perhitungannya, sehingga penulis tertarik untuk meneliti kembali tentang manajemen laba. Kebaharuan penelitian ini adalah penulis memasukan variabel usia komisaris sebagai variabel independen, sebab usia diduga dapat mengontrol manajemen laba. komisaris yang sudah mempunyai banyak pengalaman dan ilmu akan lebih bijak dalam manajemen laba dan menyadari risiko perusahaan yang akan didapatkan. Usia komisaris baru diteliti dalam penelitian tentang JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION CSR dan ISRD. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis memilih judul Manajemen Laba : Analisis Good Corporate Governance Pada Perusahaan Teknologi Periode 2019-2022. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang berawal dari teori dan menghasilkan data berupa angka dari lapangan, yang kemudian dianalisis dan disajikan secara deskriptif (Sugiyono, 2. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh perusahaan Teknologi yang tergabung dalam DES selama periode penelitian. Pada tahun 2022, tercatat sebanyak 23 perusahaan. Untuk teknik pengambilan sampel, peneliti menerapkan metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria Sampel Kriteria Sampel Perusahaan Teknologi yang tergabung dalam DES periode 2022 Perusahaan Teknologi yang tidak secara berturut-turut tergabung dalam DES selama periode 2020-2022 Perusahaan Teknologi yang tidak secara berturut-turut mempublikasikan laporan tahunan selama periode 2020-2022 Perusahaan yang tidak melaporkan laporan keuangan dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris Jumlah sampel Sumber : Laporan Tahunan Publikasi OJK Tahun 2019-2022 (Data diola. Jumlah . (-) . Kriteria sampel diatas menghasilkan 20 perusahaan teknologi, dalam kurun waktu penelitian 4 tahun, maka jumlah sampel 20 x 4 = 80 sampel penelitian. Sedangkan untuk teknik analisa data menggunakan Regresi data panel yang sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik dan uji penentuan model yaitu FEM. REM dan CEM melalui Uji Chow. Uji Hausman dan Uji LM serta menggunakan bantuan EVIEWS dan Microsoft Excel guna melakukan uji T. Uji F dan Uji R2. Kerangka Konseptual dalam penelitian ini adalah: Gambar 1 Kerangka Konseptual Berdasarkan kerangka konseptual yang telah dijelaskan, hipotesis yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Komite audit memiliki pengaruh positif terhadap manajemen laba. Usia komisaris memiliki pengaruh positif terhadap manajemen laba. Komisaris independen memiliki pengaruh positif terhadap manajemen laba. Hasil dan Diskusi Uji Asumsi Klasik Priyastama . menyatakan bahwa sebuah model regresi dianggap baik jika memenuhi beberapa asumsi dasar yang dikenal dengan istilah asumsi klasik. Asumsi tersebut antara lain adalah distribusi normal pada residual, tidak adanya multikolinearitas, tidak terdapat heteroskedastisitas, dan tidak ada autokorelasi. Tidak semua uji asumsi klasik diperlukan untuk memenuhi syarat Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) pada model regresi data panel. Jika model yang digunakan adalah Common Effect Model (CEM) atau Fixed Effect Model (FEM), maka yang diuji adalah heteroskedastisitas dan multikolinearitas. Sementara itu, pada model Random Effect Model (REM), uji asumsi klasik tidak diwajibkan. Penelitian ini menggunakan Fixed Effect Model (FEM), sehingga uji yang dilakukan adalah uji heteroskedastisitas dan multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Tabel 2. Uji Heteroskedastisitas Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. X1= Komite Audit X2 = Usia Komisaris X3 = Komisaris Independen Sumber: Olah data Eviews 10 Pada Tabel 2 Uji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji glejser di atas dapat dilihat bahwa nilai probabilitas dari masing-masing variabel independen yakni variabel X1 (Komite Audi. dengan nilai probabilitas 0,1230 > 0,05 dan untuk variabel X2 (Usia Komisari. memiliki nilai probabilitas 0,0900 > 0,05, dan untuk X3 (Komisaris Independe. nilai probabilitas 0. artinya tidak ada masalah heteroskedastisitas. Uji Multikolinearitas Tabel 3. Hasil Uji Multikolinearitas X1= Komite Audit X2 = Usia Komisaris X3 = Komisaris Independen Sumber: Olah data Eviews 10 X1= Komite Audit X2 = Usia Komisaris X3 = Komisaris Independen JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Pada Tabel 3, hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antar variabel independen kurang dari 0,85, yang berarti tidak ada masalah multikolinearitas dalam model regresi. Uji Pemilihan Model Regresi Data Panel bertujuan untuk menentukan model regresi yang paling tepat untuk digunakan dalam penelitian ini. Ada tiga jenis uji yang dilakukan untuk memilih model regresi data panel, yaitu uji Chow, uji Hausman, dan uji LM. - Uji Chow digunakan untuk memilih model regresi yang sesuai, apakah Common Effect Model (CEM) atau Fixed Effect Model (FEM). Penilaiannya adalah jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,5, maka CEM yang akan dipilih, sedangkan jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,5, maka FEM yang lebih cocok digunakan. Berikut adalah output data eviews untuk uji Chow : Tabel 4. Hasil Output Uji Chow Effects Test Statistic Cross-section F Cross-section Chi-square 2001. Prob. Sumber: Olah data Eviews 10 Tabel 4 menunjukkan hasil perhitungan yang mengindikasikan bahwa probabilitas 0. 0,5. Berdasarkan hipotesis uji Chow, keputusan yang diambil adalah bahwa Fixed Effect Model (FEM) lebih tepat digunakan dalam penelitian ini. Uji Hausman digunakan untuk menentukan model regresi yang paling tepat untuk data Uji ini bertujuan memilih antara Random Effect Model (REM) dan Fixed Effect Model (FEM). Keputusan diambil berdasarkan nilai probabilitas. jika lebih besar dari 0,5, maka REM yang dipilih, sedangkan jika kurang dari 0,5, maka FEM dianggap lebih tepat. Berikut adalah output data dari uji Hausman menggunakan Eviews: Tabel 5. Hasil Uji Hausman Test Summary Chi-Sq. Statistic Hi-Sq. Prob. Cross-section random Sumber: Olah data Eviews 10 Tabel 5 menunjukkan hasil perhitungan yang memperlihatkan probabilitas 0,0415, yang lebih kecil dari 0,5. Berdasarkan hasil uji Hausman, keputusan yang diambil adalah menggunakan model Fixed Effect Model (FEM) dalam penelitian ini. Setelah dilakukan uji Chow dan uji Hausman, pilihan model regresi data panel yang tepat adalah Fixed Effect Model (FEM), sehingga uji LM (Lagrange Multiplie. tidak diperlukan lagi. Uji regresi data panel . ooled dat. menurut Vulandari . adalah kumpulan data yang terdiri dari sampel individu seperti rumah tangga, perusahaan, kabupaten/kota, provinsi, negara, dan lainnya dalam periode waktu tertentu. Dalam penelitian ini, persamaan regresi JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION data panel adalah: Keterangan: Y = Manajemen Laba i = data cross section t = Data time series = Konstanta 1, 2, 3 = Koefisien regresi X1 = Komite Audit X2 = Usia Komisaris X2 = Komisaris Independen EN = Standard Error Uji R2 . oefisien determinasi R-square. adalah uji yang untuk mengukur ketepatan variabel independen dapat menjelaskan variabel dependennya dan dikatakan tepat jika estimasi nilainya mendekati angka 1. Tabel 6. Hasil Uji R2 dan Uji F-Statistik Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared of regression F-statistic Prob(F-statisti. Mean dependent var dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat Sumber: Olah data Eviews 10 Tabel 6 hasil diatas menunjukan bahwa nilai R-squared adalah 0, 420091 atau 42,0%, artinya variabel Komite Audit (X. Usia Komisaris (X. dan Komisaris Independen (X. menggambarkan 42,0% dari variabel Manajemen Laba (Y), sedangkan sisanya digambarkan dengan variabel lainnya. Tabel 6 di atas menunjukkan nilai probabilitas F-Statistik sebesar 0,017, yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa secara bersamaan. Komite Audit (X. Usia Komisaris (X. , dan Komisaris Independen (X. berpengaruh positif terhadap Manajemen Laba (Y). Uji T (Parsia. digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Jika nilai probabilitas t-statistik lebih kecil dari 0,05, berarti variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen, dan JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Tabel 7. Hasil Uji T (Parsia. Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. X1= Komite Audit X2 = Usia Komisaris X3 = Komisaris Independen Sumber: Olah data Eviews 10 Hasil diatas menunjukan bahwa: - Pada variabel Komite Audit (X. menunjukan nilai Coefficient -5. 149065 dan nilai probabilitas t-Statistic 0, 0351< 0,05 artinya Komite Audit (X. memiliki pengaruh negatif terhadap Manajemen Laba (Y). Pada variabel Usia Komisaris (X. menunjukan nilai Coefficient 2. 119470 dan nilai probabilitas t-Statistic 0,0100 < 0,05 artinya Usia Komisaris (X. memiliki pengaruh terhadap Manajemen Laba (Y). Pada variabel Komisaris Independen (X. menunjukan nilai Coefficient 0. 095299 dan nilai probabilitas t-Statistic 0,0091< 0,05 artinya Komisaris Independen (X. memiliki pengaruh terhadap Manajemen Laba (Y). Pembahasan Pengaruh Komite Audit (X. terhadap Manajemen Laba (Y). Pada variabel Komite Audit (X. menunjukan nilai Coefficient -5. 149065 dan nilai probabilitas t-Statistic 0, 0351< 0,05 maka Komite Audit (X. memiliki pengaruh negatif terhadap Manajemen Laba (Y). Artinya semakin banyak jumlah Komite Audit pada perusahaan Teknologi yang tergabung dalam DES, maka akan semakin kecil jumlah Manajemen Labanya. Tugas dari komite audit adalah mengawasi dan mengontrol manajemen perusahaan dari hal-hal yang curang. Dari situ perusahaan tentunya akan mengurangi manajemen laba, karena akan dianggap hal sia-sia dan akan menambah biaya untuk operasional manajemen laba perusahaan. Berdasarkan teori agensi, komite audit bekerjasama oleh pihak perusahaan serta komisaris dalam membentuk suatu tim dalam mencegah adanya kecurangan agar laporan tahunan perusahaan bersih dan dapat dipercaya. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardyanti dan Kurnia . dan Haliza et. namun bertentangan dengan penelitian oleh Ardila. Yusroni & Ricza . yang menyatakan bahwa komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Pengaruh Usia Komisaris (X. terhadap Manajemen Laba (Y). Pada variabel Usia Komisaris (X. menunjukan nilai Coefficient 2. 119470 dan nilai probabilitas t-Statistic 0,0100 < 0,05 maka Usia Komisaris (X. memiliki pengaruh positif terhadap Manajemen Laba (Y). Artinya semakin tua Usia Komisaris pada perusahaan Teknologi yang tergabung dalam DES Tahun 2019-2022 maka akan semakin tinggi nilai Manajemen JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Labanya. Komisaris dengan usia lebih tua tentunya akan lebih berpengalaman dan berhati-hati dalam mengambil sikap dan keputusan dalam perusahaan. Menurut teori stakeholder, komisaris dengan usia lebih tua akan cenderung memprioritaskan akan hubungan baik dengan para stakeholdernya dan menciptakan kepuasan untuk para stakeholdernya, oleh sebab itu mereka akan lebih senang dengan manajemen laba guna menciptakan laporan keuangan dan laporan tahunan yang baik. Karena laporan publikasi yang baik dan kinerja perusahaan yang sehat akan meningkatkan rasa percaya diri dalam menjalankan perusahaannya. Usia Komisaris belum pernah diteliti pada Manajemen Laba, sehingga peneliti membandingkan dengan CSR. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gianarkis . , yang menyatakan bahwa Usia Komisaris berpengaruh positif terhadap CSR namun bertentangan dengan penelitian Komariah . yang menyatakan bahwa Usia Komisaris berpengaruh negatif terhadap ISRD. Pengaruh Komisaris Independen (X. terhadap Manajemen Laba (Y). Pada variabel Komisaris Independen (X. menunjukan nilai Coefficient 0. 095299 dan nilai probabilitas t-Statistic 0,0091< 0,05 maka Komisaris Independen (X. memiliki pengaruh positif terhadap Manajemen Laba (Y). Artinya semakin banyak jumlah Komisaris Independen pada perusahaan Teknologi yang tergabung dalam DES periode 2019-2022 maka maka akan semakin tinggi nilai manajemen Labanya. Salah satu tugas dari dewan komisaris independen adalah bertanggung jawab terhadap pengawasan termasuk atas tanggung jawab akan pengawasan laporan keuangan perusahaan. Komisaris Independen mempunyai akses langsung kepada manajer perusahaan, sehingga mungkin saja kecurangan akan terjadi. berdasarkan teori stakeholder, hubungan antara komisaris independen dengan stakeholder adalah menjadi hal utama dalam Sehingga kemungkinan komisaris independen melakukan manajemen laba sangat besar untuk tetap memberikan kepercayaan kepada stakeholder. Penelitian ini didukung oleh Fionita & Fitra . namun bertentangan dengan penelitian oleh Pratomo & Alma . yang menyatakan bahwa komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba atau bahkan penelitian oleh Nanda dan Soemantri . yang menyatakan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Pengaruh Komite Audit (X. Usia Komisaris (X. dan Komisaris Independen (X. terhadap Manajemen Laba (Y). Nilai probabilitas F-Statistik sebesar 0,017 < 0,05 menunjukkan bahwa Komite Audit (X. Usia Komisaris (X. , dan Komisaris Independen (X. secara bersama-sama mempengaruhi Manajemen Laba (Y) secara positif. Dengan kata lain, ketiga indikator dari Good Corporate Governance (GCG) yang ada pada perusahaan Teknologi yang terdaftar dalam DES periode 20192022 memiliki dampak positif terhadap Manajemen Laba secara keseluruhan. Berdasarkan teori stakeholder, salah satu tujuan utama perusahaan adalah untuk mendapatkan laba yang optimal agar tidak mengecewakan para pemangku kepentingannya. Oleh karena itu, manajemen laba diperlukan untuk menghasilkan laporan keuangan yang tampak baik agar kinerja perusahaan dapat dinilai positif. JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Komite Audit (X. berpengaruh negatif terhadap Manajemen Laba (Y). Artinya, semakin banyak jumlah Komite Audit pada perusahaan Teknologi yang terdaftar dalam DES, semakin kecil tingkat Manajemen Laba yang dilakukan. Usia Komisaris (X. berpengaruh positif terhadap Manajemen Laba (Y). Ini berarti semakin tua usia Komisaris pada perusahaan Teknologi yang terdaftar dalam DES periode 2019-2022, semakin tinggi nilai Manajemen Laba yang tercatat. Komisaris Independen (X. berpengaruh positif terhadap Manajemen Laba (Y). Dengan kata lain, semakin banyak Komisaris Independen di perusahaan Teknologi yang tergabung dalam DES periode 2019-2022, semakin tinggi tingkat Manajemen Laba perusahaan Ketiga indikator dari Good Corporate Governance (GCG) dari seluruh perusahaan Teknologi yang terdaftar dalam DES tahun 2019-2022 secara bersama-sama memiliki pengaruh positif terhadap Manajemen Laba. Keterbatasan Penelitian dalam penelitian ini antara lain: Variabel yang mewakili Good Corporate Governance (GCG) dari penelitian ini hanya 3 variabel yakni Komite Audit (X. Usia Komisaris (X. dan Komisaris Independen (X. dan peneliti hanya berfokus pada 3 variabel tersebut, sedangkan indikator GCG yang lainnya masih banyak sekali. Peneliti hanya berfokus pada 1 sektor bidang pada perusahaan yang terdaftar dalam DES, sedangkan setidaknya ada 13 sektor perusahaan yang tergabung, namun peneliti hanya mengambil sektor Teknologi dengan pertimbangan tertentu. Saran peneliti dalam penelitian ini adalah: Pada uji R2 didapatkan hasil 41,0% peran Komite Audit (X. Usia Komisaris (X. dan Komisaris Independen (X. dalam mempengaruhi Manajemen Laba, sehingga masih ada 59% variabel lainnya. Penelitian selanjutnya kemungkinan dapat meneliti tentang peran Dewan Pengawas Syariah atau Maqasid Syariah sebagai variabel Independen pada perusahaan Syariah pula. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian Manajemen Laba pada seluruh sektor perusahaan DES yang pada tahun 2023 ini berjumlah setidaknya ada 627 Peneliti selanjutnya juga dapat melakukan penelitian yang sama dengan menambahkan variabel moderasi, misalnya dari faktor keuangan . everage,profitabilitas, likuiditas dan Daftar Pustaka