KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 Historiografi Kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin sebagai Pemerkaya Bahan Ajar Sejarah untuk Penguatan Karakter Gen-Z Maluku Utara Suharlin Ode Bau Institut Sains dan Kependidikan Kie Raha. Maluku Utara. Indonesia Correspondence: suharlinodebau@isdikkieraha. Article Info Abstract Article history: Submitted : 07-10-2025 Accepted : 27-11-2025 Published : 11-12-2025 Keywords: Gen-Z Character. Haji Salahuddin Talabuddin. Historiography. History Learning Materials Copyright & License: How to cite this article: Bau Suharlin Ode, . Historiografi Kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin sebagai Pemerkaya Bahan Ajar Sejarah untuk Penguatan Karakter Gen-Z Maluku Utara. Kamboti: Jurnal Sosial dan Humaniora. https://doi. org/10. 51135/kambotivol6issue1p This study highlights the urgency of local hero historiography as a means to strengthen collective identity and foster the character of younger generations, particularly Gen-Z in North Maluku. Haji Salahuddin Talabuddin, officially recognized as a National Hero in 2022, is positioned as a representation of local resistance that is highly relevant to be integrated into history education. The purpose of this research is to reconstruct the heroic narrative of Salahuddin Talabuddin and to explore its potential integration into history learning materials as a medium for Gen-Z character development. This research employs a library research method with a qualitative approach by examining primary and secondary sources, including official archives, academic publications, and credible online news. The findings reveal that the historiography of Salahuddin Talabuddin reflects the fusion of religiosity and politics in anticolonial resistance while conveying values of courage, integrity, and solidarity that align with Gen-ZAos character education needs. The integration of his heroic narrative into learning materials is proven to enhance critical literacy, historical empathy, and national pride. Supported by digital media and contextual approaches, local historiography transforms from a mere historical record into a pedagogical instrument that adapts to contemporary challenges. This study enriches the historiographical discourse of Indonesian education by integrating local values of North Maluku into the character curriculum for Generation Z. PENDAHULUAN Kajian historiografi kepahlawanan lokal memegang peranan penting dalam menguatkan identitas kolektif masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran sejarah generasi muda. Dalam konteks pendidikan sejarah, narasi kepahlawanan lokal dapat menjadi sarana untuk memperluas pemahaman siswa tentang kontribusi daerah dalam proses perjuangan nasional. Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan pengajaran sejarah yang tidak hanya menekankan peristiwa berskala nasional, tetapi juga menempatkan tokoh-tokoh lokal sebagai bagian integral dari perjalanan bangsa. Perhatian publik terhadap narasi kepahlawanan semakin meningkat setelah pemerintah secara konsisten menetapkan tokoh-tokoh baru sebagai Pahlawan Nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, salah satu tokoh dari Maluku Utara, yakni Haji Salahuddin bin Talabuddin, resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Pengakuan ini membuka ruang lebih luas bagi masyarakat Maluku https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 Utara untuk memaknai ulang sejarah lokal mereka dalam kaitannya dengan sejarah Indonesia (Cut Salma. Haji Salahuddin bin Talabuddin lahir di Desa Gemia. Patani. Halmahera Tengah, pada tahun 1874. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin pergerakan yang aktif mengorganisasi masyarakat dalam melawan kolonialisme Belanda. Aktivitasnya yang erat dengan Sarekat Islam dan gerakan politik pada awal abad ke20 menunjukkan bahwa perjuangannya tidak semata berbasis lokal, tetapi terhubung dengan dinamika nasional yang lebih luas (Yuda Prinada, 2. Konteks biografis ini menunjukkan bagaimana tokoh lokal dapat memainkan peran strategis dalam jaringan pergerakan antikolonial. Sebagai aktivis politik. Haji Salahuddin sempat terlibat dengan Sarekat Islam Merah dan Partai Syarikat Islam Indonesia. Aktivitas tersebut membuatnya menjadi target represi pemerintah kolonial, termasuk pembuangan dan penahanan. Tindakan represif yang ia alami menjadi bukti perlawanan ideologis yang dilakukannya, yang tidak hanya berbasis perlawanan fisik, tetapi juga berakar pada gagasan pembebasan melalui organisasi dan mobilisasi sosial (Petrik Matanasi, 2. Pada masa revolusi kemerdekaan. Haji Salahuddin memainkan peran penting dalam mobilisasi massa di wilayah Patani. Ia dikenal sebagai tokoh yang berani mengibarkan bendera Merah Putih dan membentuk jaringan perjuangan yang berbasis keagamaan dan politik. Perjuangan tersebut diwarnai dengan instruksi keagamaan yang menegaskan dukungan terhadap Republik Indonesia sebagai bagian dari kewajiban agama, sehingga perjuangan kemerdekaan diposisikan tidak hanya sebagai politik, tetapi juga jihad moral (Petrik Matanasi, 2. Upaya yang dilakukan Haji Salahuddin direspons dengan tindakan represif pasukan Belanda. Pada tahun 1948, ia ditangkap dan kemudian dieksekusi. Peristiwa ini meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan kolektif masyarakat Maluku Utara, yang melihatnya sebagai simbol pengorbanan dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan (Cut Salma, 2. Kematian tersebut mempertegas posisinya sebagai tokoh yang rela menyerahkan nyawa demi tegaknya republik. Pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Haji Salahuddin tidak terlepas dari inisiatif masyarakat dan akademisi di Maluku Utara. Pada awal 2022. Universitas Khairun bersama pemerintah daerah menyelenggarakan seminar nasional untuk memperkuat basis akademik dan historis pengusulan tersebut. Proses ini menjadi contoh sinergi antara institusi akademik, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengangkat figur lokal ke panggung nasional (Suratin, 2. Pasca-penetapan Pahlawan Nasional, muncul berbagai inisiatif untuk menginstitusionalisasikan ingatan Pemerintah daerah, misalnya, merencanakan kebijakan peringatan tahunan serta penyusunan regulasi daerah yang berfokus pada pelestarian warisan Haji Salahuddin. Langkah tersebut menegaskan bahwa narasi kepahlawanan tidak hanya berhenti pada simbol penghargaan, tetapi juga menjadi instrumen pendidikan kolektif (Abdul Fatah, 2. Meski demikian, penelitian historiografis mengenai Haji Salahuddin menghadapi tantangan serius. Minimnya sumber tertulis menyebabkan sejarawan lebih banyak mengandalkan narasi lisan dan dokumentasi terbatas. Hal ini menuntut metode penelitian yang kritis, dengan verifikasi silang antarsumber agar kisah kepahlawanan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis (Petrik Matanasi, 2. Tantangan ini sekaligus membuka peluang pengembangan penelitian berbasis arsip lokal dan sejarah lisan. Berdasarkan penelusuran awal, riset historiografi Haji Salahuddin dikaitkan dengan pembelajaran sejarah lokal belum dilakukan. Meskipun demikian, topik riset yang mengaitkan pembelajaran sejarah lokal berkontribusi pada karakter siswa telah dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya. Wijayanti . menegaskan pentingnya sejarah lokal sebagai muatan kurikulum yang mampu menumbuhkan nasionalisme, kesadaran sejarah, dan sikap kritis siswa terhadap nilai-nilai masa lalu, seperti yang terlihat dalam pembelajaran sejarah Galuh di Ciamis. Sementara itu. Miskawi . mengembangkan pendekatan holistik dengan mengintegrasikan sejarah lokal dan nasional dalam pembelajaran SMA untuk memperkuat identitas nasional dan memperkaya perspektif siswa tentang kontribusi daerah terhadap sejarah bangsa melalui strategi seperti pembelajaran berbasis sumber dan karyawisata. Sejalan dengan itu. Susilo. Agus . menekankan bahwa pembelajaran sejarah berperan penting dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas, https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 toleran, dan berorientasi pada persatuan nasional melalui internalisasi nilai-nilai patriotisme, cinta tanah air, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, seluruh hasil penelitian tersebut berpadu dalam pandangan bahwa pembelajaran sejarah yang kontekstual, integratif, dan berbasis nilai mampu mencetak generasi muda yang berpengetahuan, berkarakter, dan berkomitmen terhadap keutuhan bangsa. Dalam konteks pendidikan, kisah Haji Salahuddin berpotensi besar digunakan sebagai bahan ajar sejarah lokal, maupun nasional. Generasi Z di Maluku Utara, yang tumbuh dalam era digital, membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan interaktif. Integrasi narasi kepahlawanan ke dalam kurikulum dapat membantu memperkuat karakter generasi muda melalui nilai-nilai seperti keberanian, solidaritas, religiositas, dan komitmen kebangsaan (Yuda Prinada, 2. Dengan demikian, berbeda dari kajian-kajian terdahulu yang menitikberatkan pada sisi historis, penelitian ini menggarisbawahi aspek pedagogis dalam historiografi Haji Salahuddin sebagai sarana pembentukan karakter bagi generasi digitalnative. Kebaruan studi ini terletak pada integrasi pendekatan historiografi lokal dengan karakteristik pembelajaran generasi digital (Gen-Z), yang belum banyak diulas dalam kajian historiografi pendidikan Indonesia. Penelitian ini tidak hanya merekonstruksi kisah kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin sebagai figur sejarah Maluku Utara, tetapi juga mengkontekstualisasikannya ke dalam model bahan ajar sejarah yang interaktif, digital, dan berbasis nilai karakter. Pendekatan ini menghadirkan sintesis baru antara rekonstruksi narasi heroik dan strategi pedagogis kontemporer, sehingga sejarah lokal bertransformasi dari sekadar catatan masa lalu menjadi instrumen pendidikan karakter yang relevan bagi identitas dan literasi kritis Gen-Z. Pengembangan bahan ajar berbasis historiografi lokal juga mendukung implementasi pendidikan karakter sebagaimana ditekankan dalam kebijakan pendidikan nasional. Kisah Haji Salahuddin dapat dirancang sebagai modul pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan informasi faktual, tetapi juga melibatkan siswa dalam aktivitas kreatif, seperti rekonstruksi sejarah melalui media digital, pembuatan film pendek, atau penelitian lapangan di situs sejarah lokal. Dengan demikian, historiografi kepahlawanan Haji Salahuddin tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi pendidikan. Melalui pendekatan pedagogis yang adaptif, narasi ini dapat menumbuhkan kebanggaan daerah, memperkuat identitas kebangsaan, dan menanamkan semangat juang dalam diri generasi muda Maluku Utara. Kajian ini menegaskan pentingnya menjadikan tokoh lokal sebagai bagian integral dalam pendidikan Narasi Haji Salahuddin bin Talabuddin merupakan contoh konkret bagaimana historiografi lokal dapat bertransformasi menjadi instrumen pedagogis yang relevan untuk membangun karakter Gen-Z. Dengan menempatkan kisahnya sebagai bahan pembelajaran, pendidikan sejarah dapat lebih dekat dengan realitas sosial siswa sekaligus memperkaya wawasan patriotisme untuk penguatan kebangsaan Indonesia. II. METODE Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan metode sejarah. Pendekatan metode sejarah sangat relevan dengan topik kajian historiografi kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin di Maluku Utara, melalui empat tahap, yaitu. tahap heuristik . engumpulan data dan sumbe. , . ritik dan penilaian sumbe. , . enafsikan dat. enulisan sejarah sistematis dan narati. Jenis analisis data penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman . , meliputi tahapan data reduction, data display, conclusion drawing dipadukan dengan analisis tematik untuk identifikasi nilai karakter dalam teks historiografi kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin di Maluku Utara yang dapat digunakan sebagai basis pengembangan bahan ajar sejarah yang relevan dalam penguatan karakter Gen-Z di Maluku Utara. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 i. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Historiografi Kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin Riwayat kelahiran dan pembentukan religius-kultural Haji Salahuddin bin Talabuddin menjelaskan keterkaitan kuat antara latar keluarga, pendidikan agama, dan orientasi politik. Catatan sumber menyatakan kelahirannya di Desa Gemia. Patani. Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara pada akhir abad ke-19 . ekitar 1874 menurut beberapa rujuka. dalam lingkungan keluarga yang memiliki tradisi keagamaan, sehingga pendidikan pesantren dan pengalaman ibadah haji berperan penting dalam pembentukan wacana kepemimpinan. Pengalaman tinggal di Mekah selama periode awal abad ke-20 juga tercatat memperkaya modal keagamaan sekaligus membuka akses terhadap perkembangan politik pergerakan di Nusantara (Yuda Prinada, 2. Kisah kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin merupakan denyut alur sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah eksistensial Maluku Utara. Petrik Matanasi . menjelaskan hal ini tidak bisa pula dilepaskan dari latar dan konteks dinamika sosial-politik Maluku Utara pada awal abad ke-20 menampakkan dinamika yang kompleks, di mana struktur kekuasaan kolonial Belanda bertemu dengan jaringan kelembagaan lokal seperti Kesultanan, komunitas desa, dan kelompok keagamaan, yang menghasilkan medan konflik sekaligus ruang mobilisasi sosial. Tekanan ekonomi kolonial, kebijakan penguasa lokal yang bersekutu dengan aparat Hindia Belanda, serta proses modernisasi budaya memberikan latar bagi munculnya kepemimpinan lokal yang mampu merangkai wacana religius dan politik sebagai alat perlawanan. Jejak perjalanan dan perlawanan tokoh sentral ini dapat dimulai di wilayah Halmahera Tengah, khususnya kawasan Patani dan Gebe, kehadiran organisasi pergerakan Indonesia dan jaringan Islam massa memengaruhi pola kesadaran politik masyarakat. Gelombang pergerakan yang bersinggungan dengan Sarekat Islam . an cabang-cabangny. pada dekade 1920Ae1930 serta kerangka politik pra-kemerdekaan selanjutnya membuka kesempatan bagi tokoh lokal untuk menyebarluaskan gagasan anti-kolonial melalui khotbah, pengajian, dan struktur organisasi berbasis masjid. Ruang-ruang pengajian tersebut menjadi arena politik praktis, di mana wacana agama dipadukan dengan seruan kedaulatan nasional sehingga basis dukungan di tingkat desa berkembang cepat (Petrik Matanasi, 2022. Yuda Prinada, 2. Kemunculan gerakan Islam di Maluku utara sangat terpola pada fokus penguatan ajaran keislaman. Selain itu, model gerakan ini juga mentransformasi ide dan gagasan kemerdekaan pada masa awal revolusi kemerdakaan Indonesia. Struktur jaringan yang terbentuk dikemas dalam sistem religiusitas berselaras dengan semangat kesadaran politik bercorak Islam menjadi modal gerakan penting terhadap penjajahan Belanda. Jejaring keterhubungan dengan organisasi nasional seperti Sarekat Islam Merah dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) memperlihatkan bahwa arus pergerakan dari Jawa hingga pusat politik nasional ikut mengalir ke kawasan timur. Hal ini memungkinkan gerakan lokal berkembang dengan memadukan dimensi sosial-ekonomi, identitas keagamaan, dan sikap anti-kolonial, sekaligus melahirkan tokoh-tokoh yang menjadikan agama sebagai landasan legitimasi perjuangan politik. Jejak keterlibatan politik dan organisasi menunjukkan transisi dari figur keagamaan lokal menjadi aktor pergerakan yang terhubung dengan jaringan nasional. Bukti historis mencatat keterlibatan dalam Sarekat Islam Merah pada 1928, keanggotaan PSII pada 1938, serta posisi dalam kepengurusan kelompokkelompok politik yang berkaitan dengan Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Pola ini menegaskan bahwa basis religius menjadi medium organisasi sekaligus kanal untuk membangun koalisi politik yang melampaui batas-batas desa, sehingga gerakan lokal dapat mengadopsi strategi-strategi nasional untuk melawan dominasi colonial (Yuda Prinada, 2. Perjuangan yang diprakarsai oleh organisasi-organisasi tersebut meletakkan dasar mobilisasi massa di Patani dan pulau-pulau sekitarnya. Dokumentasi sejarah menunjukkan bahwa organisasi keagamaanpolitik yang dibentuk di Gebe dan Patani mampu merekrut ribuan pengikut, termasuk tokoh dari komunitas Kristen setempat, melalui praktik baiat, zikir bersama, serta retorika yang menyatukan tujuan keagamaan dan nasional. Pola perekrutan ini mengubah masjid menjadi pusat koordinasi perlindungan wilayah republik dan perlawanan terhadap inisiatif kolonial-lokal yang bersekutu dengan Belanda (Petrik https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 Matanasi, 2. Pola perjuangan Haji Salahuddin dapat dipahami sebagai model juang bercorak agamais-nasionalis yang terbentuk dari religiusitas, fatwa yang diaktifkan oleh realitas kolonial. Agama menjadi instrumen penting didorong fatwa dukungan terhadap Republik Indonesia yang melarang secara tegas pelbagai kerjasama dengan kolonial. Jika ditelusuri secara seksama, bentuk barisan perlawanan ini mrupakan massa organisasi paramiliter yang mempersenjatai diri dengan alat-alat tradisional seperti parang . dan tombak yang digerakkan sistim mobilitas lokal terkomando. Perlawanan Haji Salahuddin bersifat total: ideologis, sosial, politik, dan fisik. Ia memadukan religiusitas, organisasi massa, strategi paramiliter rakyat, dan keberanian politik. Inilah yang kemudian membuatnya dihormati sebagai pahlawan nasional, karena perjuangannya melampaui batas lokal dan berakar kuat pada nilai moral serta komitmen kebangsaan. Menyikapi pelbagai mobilitas perlawanan, kolonial kemudian menangkap Haji Salahuddin pada pada 17 Februari 1947 dengan tuduhan menghasut rakyat melakukan pemberontakan. Setelah penangkapan itu, ia bersama para pengikutnya dibawa ke Ternate dan ditahan untuk menjalani proses peradilan. Dalam persidangan. Haji Salahuddin yang dikenal sebagai pendukung teguh Republik Indonesia membacakan Ia menegaskan kesetiaannya hanya kepada pemerintah RI dan menolak tunduk pada otoritas lain, baik Kesultanan Ternate. Kesultanan Tidore, maupun Negara Indonesia Timur (NIT) yang berada di bawah pengaruh Belanda. Pada 13 September 1947, pengadilan memutuskan dirinya bersalah bersama enam orang pengikutnya. Haji Salahuddin dijatuhi hukuman mati, sementara enam pengikutnya mendapat vonis penjara antara enam hingga dua belas tahun (Yuda Prinada, 2. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin memperlihatkan bagaimana religiusitas, pendidikan pesantren, dan pengalaman haji membentuk kepemimpinan lokal yang mampu merespons tekanan kolonial melalui wacana politik berbasis agama. Interaksi antara struktur kolonial, jaringan kesultanan, dan organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam dan PSII menciptakan ruang mobilisasi yang menyatukan gagasan keislaman dan nasionalisme. Melalui pengajian, baiat, dan jejaring politik. Haji Salahuddin mengonstruksi gerakan anti-kolonial yang terorganisasi hingga menjadi ancaman bagi Belanda. Penangkapannya pada 1947 menandai konsekuensi dari konsistensi perjuangannya mempertahankan Republik Indonesia. Karakteristik Gen-Z dan Tantangan Pendidikan Sejarah Gen-Z dalam diskursus wacana pendidikan menjadi harapan sekaligus tantangan. Kelahiran karakteristik generasi ini merupakan lonjakan perubahan demografis yang melahirkan wajah sosial baru seiring kemajuan teknologis yang canggih bertransformasi dalam dua dekade terakhir. Diperkirakan gen-Z ratarata berkelahiran dalam kuruan waktu setelah 1995 yang kini menjadi fokus sentral pendidikan di dunia Kehadiran generasi ini, menurut Rakhmah . menuntut adanya pemahaman mendalam mengenai karakteristik mereka agar strategi pengajaran dapat dirancang secara relevan. Dalam konteks pendidikan sejarah, pertanyaan klasik mengenai warisan nilai dan cara menghadirkan makna sejarah harus dijawab kembali, karena generasi yang tumbuh dengan ponsel pintar dan platform digital memiliki pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Berdasarkan hasil kajian para pakar pendidikan Indonesia mengungkapkan bahwa Gen-Z memiliki sejumlah ciri khas, antara lain sebagai digital native yang terbiasa mengakses informasi dengan cepat, cenderung menyukai pembelajaran yang praktis dan kontekstual, serta menunjukkan kebutuhan akan identitas kolektif sekaligus individual. Selain itu. Gen-Z memperlihatkan orientasi pragmatis terhadap masa depan, dengan perhatian besar pada kestabilan ekonomi dan fleksibilitas dalam menempuh pendidikan maupun karier (Rakhmah, 2. Temuan lain menunjukkan bahwa generasi ini juga mengalami tekanan psikologis terkait performa, sehingga membutuhkan pola pembelajaran yang adaptif dan suportif. Karakteristik tersebut menghadirkan tantangan nyata bagi pendidikan sejarah. Mata pelajaran sejarah kerap dipersepsikan hanya berisi deretan fakta kronologis yang pasif sehingga tidak menarik bagi peserta didik Gen-Z. Kecenderungan mereka terhadap format visual dan konten singkat mendorong pendidik untuk mengubah pendekatan dari ceramah satu arah menjadi pembelajaran yang menekankan pada https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 penemuan, kritik sumber, dan pemaknaan ulang. Apabila hal ini diabaikan, sejarah berisiko dianggap tidak relevan dan ditinggalkan generasi muda, padahal sesungguhnya disiplin ini sangat penting untuk memahami konteks sosial dan politik masa kini. Lebih jauh, budaya digital yang melingkupi kehidupan Gen-Z membentuk pola interaksi dengan pengetahuan yang serba instan. Preferensi pada konten pendek seperti video singkat dan infografik menciptakan ekspektasi instan terhadap hasil pembelajaran. Namun, arus informasi yang cepat juga membawa risiko disinformasi yang semakin marak di ruang publik. Oleh karena itu, pembelajaran sejarah harus menanamkan literasi digital dan keterampilan berpikir kritis agar peserta didik mampu memilah kebenaran informasi, memahami sumber sejarah secara mendalam, serta menempatkan narasi nasional maupun lokal dalam kerangka analisis yang tepat (Rakhmah, 2. Untuk menjawab tantangan ini, dibutuhkan pendekatan pembelajaran sejarah yang kontekstual dan Mengaitkan materi sejarah dengan kehidupan sosial peserta didik serta isu kontemporer akan menjadikan pelajaran lebih bermakna. Model inquiry, tugas kolaboratif, dan penggunaan media digital interaktif memberi ruang bagi Gen-Z untuk berperan aktif sebagai peneliti kecil yang mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan bukti sejarah. Melalui cara ini, pembelajaran tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kesadaran kebangsaan. Selain itu, kontekstualisasi sejarah lokal melalui bahan ajar juga menjadi salah satu strategi yang efektif untuk menguatkan karakter Gen-Z. Kisah perjuangan Haji Salahuddin bin Talabuddin, tokoh pergerakan dari Maluku Utara yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 96/TK/Tahun 2022, dapat dijadikan studi kasus yang kuat. Perjuangan melawan penjajahan, pengalaman sebagai tahanan politik, dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan menghadirkan teladan nyata tentang keteguhan, keberanian, dan pengabdian pada bangsa. Kisah ini dapat diangkat melalui metode digital storytelling, riset lapangan, atau dramatisasi, sehingga generasi muda tidak hanya mengenal nama, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalam perjuangan tersebut. Dengan demikian, pembelajaran sejarah tidak sekadar transfer fakta, melainkan juga ruang pembentukan karakter, empati historis, dan tanggung jawab kebangsaan yang relevan dengan dinamika kehidupan Gen-Z (Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, 2. Bahan Ajar Sejarah Kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin Penguatan karakter gen-Z dapat dibentuk melalui pembelajaran sejarah yang mengarus utamakan karakter kepahlawanan lokal seperti tercermin pada tokoh historis Haji Salahuddin Talabuddin. Bahan ajar sejarah dimaksud harus disusun secara terstruktur sebagaimana Kosasih . menjelaskan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk materi yang digunakan guru maupun peserta didik dalam proses pembelajaran, baik berupa buku teks, lembar kerja, maupun media lain yang disusun untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam konteks sejarah, bahan ajar ini berfungsi sebagai sarana membantu siswa memahami kronologi, tokoh, maupun dinamika sosial-politik masa lalu melalui materi yang sudah terorganisasi. Selanjutnya. Megawati, & Sari . , bahan ajar merupakan materi yang dikemas secara sistematis oleh guru agar dapat dipelajari, dipahami, dan diterapkan oleh peserta didik secara mandiri maupun bersama dalam kelas. Dalam pembelajaran sejarah, pengemasan ini sangat penting karena materi perlu disusun berdasarkan urutan peristiwa, hubungan antarfenomena, serta kegiatan analisis sumber sejarah sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Bahan ajar sejarah yang mengangkat tokoh kepahlawanan lokal memiliki urgensi penting dalam penguatan karakter gen-Z. Melalui kisah nyata perjuangan para pahlawan, peserta didik dapat mengenal nilai keberanian, integritas, pengorbanan, serta loyalitas terhadap bangsa secara konkret dan kontekstual. Hal ini menjadi semakin relevan karena gen-Z tumbuh dalam lingkungan digital yang sarat distraksi dan fragmentasi identitas, sehingga dibutuhkan medium pendidikan yang mampu membumikan nilai kebangsaan dalam pengalaman belajar sehari-hari (Rakhmah, 2. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Haji Salahuddin bin Talabuddin pada 7 November 2022 menegaskan relevansi historis sekaligus legitimasi tokoh ini sebagai sumber nilai lokal yang sahih untuk dimasukkan dalam kurikulum, https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 sebab rekam jejak perjuangannya menunjukkan kepemimpinan, keberanian, dan komitmen pada kemerdekaan bangsa (Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, 2. Agar nilai kepahlawanan tersebut dapat terinternalisasi, guru perlu menyusun bahan ajar secara Langkah pertama adalah mengkaji sumber-sumber primer dan sekunder, termasuk arsip resmi, siaran pers kenegaraan, serta catatan akademik agar narasi tidak bersifat mitologis, melainkan berbasis fakta historis (Petrik Matanasi, 2. Setelah itu, guru merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas, misalnya mendorong peserta didik menafsirkan motif tindakan tokoh, mengenali nilai yang terkandung, serta menarik implikasi etis bagi kehidupan masyarakat kontemporer. Desain pembelajaran dapat mengintegrasikan metode aktif, seperti pembelajaran berbasis masalah untuk melatih berpikir kritis, pembelajaran berbasis proyek untuk menumbuhkan kreativitas, serta pemanfaatan teknologi digital guna memvisualisasikan arsip dan narasi sejarah yang lebih menarik bagi gen-Z (Hendrastomo, 2. Proses ini diperkuat dengan instrumen penilaian yang tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga afektif melalui rubrik karakter, refleksi tertulis, serta observasi dalam aktivitas komunitas. Bahan ajar yang disusun dari kisah Haji Salahuddin bin Talabuddin memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan karakter gen-Z. Melalui materi ini, rasa tanggung jawab kolektif dapat ditumbuhkan dengan memahami perjuangan tokoh lokal dalam konteks kebangsaan. Nilai keberanian moral dan integritas diperoleh melalui kajian keputusan tokoh dalam menghadapi tekanan kolonial, sementara empati dan solidaritas sosial berkembang lewat pemahaman dampak perjuangan bagi masyarakat. Penyajian bahan ajar yang memberi ruang dialog kritis sesuai karakter gen-Z juga memungkinkan internalisasi nilai tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata seperti keterlibatan komunitas atau kampanye literasi sejarah lokal (Rakhmah, 2. Dengan demikian, kisah yang dapat dikemukakan dalam bahan ajar pada bagian ini adalah perjalanan perjuangan Haji Salahuddin sebagai pemimpin religius yang menggerakkan masyarakat Patani dan Gebe melalui jaringan keagamaan, organisasi pergerakan, serta keberanian moral menghadapi tekanan kolonial hingga menerima hukuman mati. Kisah ini penting bagi Gen-Z karena memperlihatkan teladan keteguhan, keberanian, dan integritas seorang tokoh lokal yang memperjuangkan kemerdekaan melalui nilai agama dan solidaritas sosial. Dengan menghadirkan narasi yang kontekstual dan inspiratif, proses pembelajaran dapat menumbuhkan empati historis, kebanggaan daerah, dan karakter kebangsaan yang relevan bagi generasi digital. Hubungan antara urgensi, langkah penyusunan, dan kontribusi bahan ajar menunjukkan kesinambungan yang erat. Urgensi menegaskan perlunya tokoh dengan legitimasi historis sebagai dasar penyusunan, langkah-langkah sistematis menjadikan narasi sejarah lebih kontekstual dan menarik, sedangkan kontribusinya tampak pada penguatan identitas, karakter, dan kompetensi kritis gen-Z. Dengan mengintegrasikan kearifan lokal dan pendekatan pedagogis kontemporer, sejarah lokal tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi menjadi sarana pendidikan karakter yang adaptif terhadap kebutuhan anak muda digital sekaligus menjaga identitas budaya setempat (Karima, 2. Dengan demikian, penyusunan bahan ajar sejarah berbasis kepahlawanan Haji Salahuddin bin Talabuddin merupakan langkah strategis dalam pendidikan karakter gen-Z. Legitimasi historis tokoh memastikan keotentikan materi, rancangan pembelajaran yang responsif menjamin keterlibatan peserta didik, dan sistem penilaian komprehensif memastikan internalisasi nilai. Integrasi sejarah lokal ke dalam pembelajaran bukan sekadar usaha menghidupkan heroisme masa lalu, tetapi merupakan strategi pedagogis nyata untuk membentuk generasi muda yang berakar pada identitas kolektif, memiliki integritas, serta mampu bersikap kritis dan empatik dalam menghadapi tantangan zaman. Implikasi Integrasi Historiografi dalam Pembelajaran Sejarah Integrasi historiografi berbasis tokoh lokal menuntut desain bahan ajar yang menempatkan tokoh sebagai sumbu naratif dan sumber heuristik bagi proses pembelajaran sejarah. Desain tersebut memadukan teks historis, arsip lokal, wacana lisan, dan artefak digital ke dalam modul pembelajaran yang sistematis sehingga siswa dapat melacak sumber, mempraktikkan kritik sumber, dan membangun interpretasi historis sendiri (Fikri. Syahza. , & Putra, 2. Penggunaan media digital dan multimedia seperti peta interaktif, rekonstruksi audio-visual, podcast https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 naratif, dan bahan bacan literasi juga memperkaya akses terhadap bukti primer lokal dan memungkinkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual serta partisipatif. strategi ini terbukti meningkatkan relevansi materi bagi peserta didik dan mengatasi kecenderungan pembelajaran sejarah yang hanya berorientasi hafalan. Pendekatan naratif yang menggabungkan historiografi lokal dengan representasi multimedia juga mendukung keterbacaan sumber-sumber lokal yang selama ini kurang terdokumentasi, sehingga materi ajar menjadi lebih inklusif dan mudah diadaptasi ke dalam kurikulum (Aderoben, 2. Pengakuan formal terhadap tokoh lokal seperti Haji Salahuddin Talabuddin memperkuat posisi tokoh daerah dalam irisan sejarah nasional dan membuka peluang besar bagi materialisasi narasi lokal ke dalam bahan ajar formal. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada H. Salahuddin pada 7 November 2022 memberikan legitimasi institusional yang dapat dimanfaatkan untuk pengumpulan sumber, publikasi biografi kritis, dan produksi materi pembelajaran berbasis bukti lokal sebagai langkah yang penting untuk memindahkan narasi dari memori lokal ke kanon sejarah nasional (Abdul Fatah, 2022. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, 2. Legitimasi semacam ini juga menstimulus penelitian lokal dan konservasi arsip oral serta materi budaya, sehingga sekolah dan pemerintah daerah memiliki dasar argumentatif untuk memasukkan kisah tokoh Maluku Utara ke dalam silabus dan buku teks lokal yang terintegrasi dengan pembelajaran sejarah nasional (Widhia Arum Wibawana, 2022. Yuda Prinada, 2. Dapat dipahami bahwa integrasi historiografi lokal ke dalam pengajaran sejarah memberi kontribusi langsung pada pendidikan karakter, terutama untuk membangun identitas dan kapasitas reflektif generasi gen-Z. Ketika historiografi lokal disajikan secara kritis akan menampilkan konteks sosial-politik, pilihan moral, dan konsekuensi tindakan tokoh dalam pembelajaran menjadi sarana pengembangan empati historis, pemikiran kritis, dan kebanggaan intrakomunitas yang sehat. semua aspek tersebut relevan untuk pembentukan identitas gen-Z dalam bingkai kebangsaan yang tidak terasing dari akar local (Aderoben. Strategi yang efektif meliputi pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. yang meminta siswa melakukan penelitian heuristik terhadap sumber lokal, pembuatan produk multimedia yang merefleksikan nilai-nilai lokal sebagai inspirasi tindakan sosial, serta kolaborasi lintas lembaga budaya untuk memperkuat relevansi moral dan praktis narasi lokal dalam kehidupan sehari-hari siswa (Aderoben. Selain itu, implikasi integrasi historiografi dalam pembelajaran sejarah meliputi pergeseran pedagogis dari hafalan ke praktik historis, penguatan legitimasi narasi lokal dalam kanon nasional, dan peran strategis pendidikan sebagai wahana pembangunan karakter generasi muda. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diperlukan kebijakan kurikulum yang memberi ruang bagi teks lokal yang terverifikasi, investasi pada pelatihan guru dalam metodologi historiografis dan penggunaan multimedia, serta kolaborasi antara sekolah, peneliti, dan institusi pemerintah daerah untuk mendokumentasikan dan memvalidasi sumbersumber lokal. Implementasi yang konsisten akan menjadikan tokoh-tokoh lokal bukan sekadar objek pengajaran, tetapi agen historis yang inspiratif dan relevan bagi pembentukan karakter kebangsaan generasi gen-Z. Pembahasan Historiografi kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin telah menyingkap jejak panjang perjuangan yang melampaui batas geografis dan generasi. Narasi tentang keberanian dan pengorbanannya bukan hanya catatan perlawanan terhadap kolonialisme, melainkan juga wujud peneguhan martabat sebuah daerah yang selama ini berada di pinggiran narasi besar bangsa. Dari desa kecil di Halmahera Tengah, semangat itu menjelma menjadi bagian dari denyut nasionalisme yang terus bergetar hingga kini. Kisah hidupnya merepresentasikan pergulatan sejarah yang lahir dari keseharian rakyat, di mana agama, politik, dan kebudayaan berpadu dalam satu tarikan nafas. Pertautan antara nilai religius dengan gagasan kebangsaan menjadikan perlawanan yang dijalankannya sarat dengan makna moral dan spiritual. Dari masjid dan pengajian, tumbuhlah jaringan perlawanan yang tidak hanya mengusir penindasan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan adalah harga diri yang tidak bisa ditawar. Keteguhan menghadapi represi kolonial, hingga keberanian menerima hukuman mati, meninggalkan warisan ingatan yang terus hidup dalam masyarakat Maluku Utara. Sosoknya menjelma menjadi simbol https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 keikhlasan dan pengorbanan, menjadi teladan bahwa perjuangan sejati bukan sekadar melawan dengan senjata, tetapi juga menegakkan keyakinan dengan sepenuh hati. Dalam diamnya tanah tempat ia beristirahat, tersimpan gema abadi yang mengingatkan generasi kini tentang arti kesetiaan pada cita-cita. Pengakuan negara melalui gelar Pahlawan Nasional merupakan bentuk penghormatan sekaligus pengakuan atas kontribusi daerah yang selama ini kerap terpinggirkan dari peta historiografi nasional. Dengan itu, kisahnya bukan lagi milik satu komunitas, tetapi menjadi bagian dari kesadaran kolektif bangsa. Maluku Utara, melalui Salahuddin Talabuddin, menyumbangkan bukan hanya nama, melainkan nilai yang tak lekang oleh waktu bagi perjalanan Indonesia. Dalam ruang pendidikan, kisah ini memiliki makna yang jauh lebih luas. Ia bukan hanya penggalan sejarah yang dipelajari sebagai fakta, tetapi energi inspiratif untuk membentuk karakter generasi muda. Nilai keberanian, integritas, dan solidaritas yang ia perlihatkan dapat mengisi kekosongan moral di tengah derasnya arus digitalisasi yang melanda kehidupan gen-Z. Melalui narasi lokal ini, pendidikan tidak lagi sekadar transfer pengetahuan, melainkan juga transformasi nilai, seperti karakter nasionalisme dari kisah Haji Salahuddin menampilkan keberanian moral, integritas, dan komitmen tanpa kompromi terhadap Keteguhannya melawan kolonialisme dengan landasan religius dan tanggung jawab kolektif dapat ditransformasikan bagi Gen-Z sebagai inspirasi untuk bersikap berani, jujur, peduli komunitas, serta bangga pada identitas lokal. Nilai-nilai tersebut relevan untuk membangun nasionalisme kritis di era digital yang penuh distraksi. Integrasi kisah kepahlawanan ke dalam bahan ajar sejarah membuka jalan baru bagi pedagogi yang lebih manusiawi dan kontekstual. Dari media digital hingga ruang kelas, jejak perjuangan itu dapat dihidupkan kembali dengan cara yang menyentuh dan menggerakkan. Anak-anak muda diajak bukan hanya untuk mengenal nama tokoh, melainkan untuk merasakan denyut perjuangan dan menyalakan kembali semangat keberanian di dalam diri mereka. Dengan cara itu, sejarah menjadi jembatan antara masa lalu, kini, dan masa depan. Berdasarkan elaborasi kajian ini, dapat dipahami bahwa historiografi kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin, dapat melahirkan keyakinan bahwa setiap daerah memiliki pahlawan yang pantas dikenang, setiap cerita memiliki nilai yang layak diwariskan. Dan dalam ingatan kolektif itu, tertanam harapan bahwa generasi muda akan terus menapaki jalan sejarah dengan kepala tegak, hati ikhlas, dan jiwa penuh IV. KESIMPULAN Kajian historiografi kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin menegaskan pentingnya mengangkat tokoh lokal sebagai bagian integral dari narasi sejarah nasional. Dari riwayat hidupnya, terlihat bagaimana latar religius, pendidikan, dan pengalaman organisasi membentuk karakter kepemimpinan yang berpadu antara dimensi spiritual dan politik dalam melawan kolonialisme. Sosoknya menjadi teladan tentang keberanian, integritas, dan pengorbanan yang meninggalkan jejak mendalam bagi identitas kolektif masyarakat Maluku Utara. Dari sisi pendidikan, historiografi ini menunjukkan relevansi besar bagi penguatan karakter generasi muda, khususnya gen-Z yang hidup dalam arus digitalisasi. Melalui integrasi ke dalam bahan ajar sejarah, kisah perjuangan Salahuddin Talabuddin dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus instrumen pedagogis untuk menumbuhkan empati historis, literasi kritis, dan kebanggaan kebangsaan. Dengan penyusunan bahan ajar yang sistematis, berbasis sumber sahih, serta diperkaya media digital, narasi lokal dapat dihadirkan secara menarik, interaktif, dan kontekstual bagi peserta didik. Pengakuan resmi negara melalui penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2022 mempertegas legitimasi historis tokoh ini serta membuka ruang lebih luas untuk penelitian, pelestarian, dan integrasi narasi lokal ke dalam kurikulum pendidikan. Proses ini sekaligus menguatkan peran institusi akademik, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengangkat tokoh daerah ke panggung nasional. Implikasi integrasi historiografi ke dalam pembelajaran sejarah menegaskan adanya pergeseran paradigma dari hafalan ke praktik historis yang kritis dan partisipatif. Dengan memanfaatkan pendekatan https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 1. Hal: 57-66 kontekstual, digital, dan berbasis proyek, kisah Salahuddin Talabuddin bukan hanya dipelajari sebagai cerita masa lalu, melainkan dijadikan fondasi pendidikan karakter yang adaptif terhadap kebutuhan generasi muda. Dengan demikian, historiografi kepahlawanan Haji Salahuddin Talabuddin tidak hanya bernilai sebagai rekonstruksi sejarah, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan karakter, penguat identitas lokal, serta penghubung nilai-nilai perjuangan dengan tantangan generasi kontemporer. Integrasi tokoh lokal ke dalam pendidikan sejarah merupakan langkah strategis untuk membangun generasi yang berakar pada identitas budaya, berjiwa nasionalis, dan memiliki ketangguhan moral dalam menghadapi masa depan. DAFTAR PUSTAKA