ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 2 (Desember, 2. : 255-272 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian H Mahoklory,1* Izak Y. Lattu,2 Mariska Lauterboom. Universitas Kristen Satya Wacana *Corresponding Author Email: videlanonovian28@gmail. Submitted: 05-07-2024 Accepted: 25-10-2024 Published: 23-12-2024 Abstract This article aims to examine the Maluku Protestant Church (GPM) Congregation Songbook using the kinetic memory study to find the representation of folksong in implementing worship in Maluku. The author uses descriptive qualitative methods with data collection techniques and interviews with key informants, including the GPM synod chairman and two songwriters from this congregational songbook, to obtain the desired results. Based on the results of the research, the author found that it is true that the GPM congregational songbook is the work of the Maluku people used in the worship life of the Maluku people, which is inseparable from the context of the social and cultural life of the Maluku people so that this congregational song can be referred to as the folksong of the Maluku people which is contextualized by theological and cultural understanding. The next finding also presents several song titles and lyrics that contain kinetic memory so that when sung with body movements, it will liven up the atmosphere of worship that is more vibrant and excite the congregation. Keywords: Congregational singing. Folksong. Kinetic Memory. Contextualization. Abstrak Artikel ini bertujuan menelaah buku nyanyian jemaat Gereja Protestan Maluku dengan pendekatan studi memori kinetik untuk menemukan representasi folksong dalam peribadatan. Untuk memperoleh hasil yang diinginkan maka penulis mengunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara bersama beberapa informan kunci antara lain Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku dan beberapa pencipta lagu dari buku nyanyian jemaat GPM. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa buku nyanyian jemaat GPM merupakan hasil karya orang Maluku yang digunakan dalam ritual peribadatan. Nyanyian ini tidak terlepas dari konteks kehidupan sosial dan kebudayaan orang Maluku sehingga nyanyian jemaat tersebut dapat disebutkan sebagai folksong orang Maluku yang dikontekstualisasi sesuai dengan pemahaman teologis dan Temuan berikutnya juga menghadirkan beberapa judul dan lirik lagu yang mengandung memori kinetik sehingga ketika dinyanyikan akan menggunakan gerakan tubuh untuk menghidupkan suasana peribadatan yang lebih kreatif dan menggairahkan jemaat. Kata-kata Kunci: Nyanyian Jemaat. GPM. Folksong. Memori Kinetik. Kontekstualisasi. @ Copyright: Author 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Musik merupakan salah satu sarana orang untuk mengekspresikan diri. Melalui musik orang dapat mengungkapkan perasaannya, seperti sedih, gembira, resah, dan seterusnya. Musik telah ada sejak zaman dahulu. Manusia pada zaman dahulu telah mengenal musik walaupun masih dalam tahap sederhana. Seiring perkembangan zaman, musik mengalami proses perkembangan. Demikian juga dalam kehidupan masyarakat pada berbagai daerah di Indonesia. Musik-musik daerah di Indonesia ada yang masih menjaga keaslian dari daerah tersebut, seperti pada musik daerah Maluku, namun pada sisi yang lain ada juga pula musikmusik yang terkena campuran dari daerah lain bahkan dari luar negeri. Masyarakat Maluku memahami diri mereka sebagai masyarakat bermusik sejak dahulu hingga saat ini. Hal inilah yang menjadi alasan kuat kenapa pemerintah Kota Ambon mendeklarasikan Kota Ambon sebagai city of music. Walikota Ambon kala itu. Richrad Louhenapessy, menegaskan bahwa penamaan Ambon sebagai kota musik adalah hanya semata-mata untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif semua orang mengenai identitas masyarakat Maluku. Musik telah menjadi jiwa yang menghidupi seluruh gerak aktivitas sosial dan kebudayaan masyarakat orang Maluku. Segala bentuk peristiwa atau kenyataan hidup akan selalu diungkapkan dengan berbagai lagu seperti ada lagu peperangan, perpindahan penduduk, persaudaraan, perjuangan dan kerja, hingga lagu-lagu ratapan. Budaya musik Maluku melekat dengan kehidupan setiap hari sebab musik telah menjadi bagian integral dalam budaya dan hidup keseharian masyarakat Maluku. Kebiasan bermusik dan bernyanyi orang Maluku selain dapat ditemukan dalam kehidupan sosial namun juga hadir di dalam ruang-ruang kehidupan spritualitas keagamaan, seperti dalam peribadatan yang dilakukan oleh setiap warga Gereja Protestan Maluku (GPM) dengan menyanyikan nyanyian jemaat dan memainkan musik tradisional yang dielaborasi dengan musik gereja. Musik modern dan musik gereja sangat penting dalam ritual peribadatan. Musik dapat membantu ibadah dan menjadi medium yang lebih ekspresif ketimbang ucapan biasa. Musik memungkinkan kita mengekspresikan intensitas perasaan melalui kepelbagian dalam kecepatan, pola, titik, nada, keras lembut, melodi dan ritme. Jadi, ketika bernyanyi, seseorang mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri dengan lebih Noor Said. Mengenal Tarian Dan Seni Maluku Dan Halmahera (Semarang: Penerbit Alprin, 2. Hlm14. Dewi Tika Sari. Musik Konflik Dan Perdamaian (Yogyakarta: PT Kanisius, 2. , 126. Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian Hendrik Mahoklory. Izak Y. M Lattu. Mariska Lauterboom luas dibandingkan pada saat berbicara, karena musik dapat menyampaikan emosi dengan lebih kuat dan mendalam dibandingkan ungkapan verbal yang tanpa iringan melodi. Penelitian mengenai musik telah banyak dilakukan dalam berbagai studi sebelumnya. Agus Budi Handoko, dalam penelitiannya menemukan bahwa estetika musik gereja adalah estetika musik yang menjadi bagian dari filsafat keindahan musik di Gereja, untuk mendukung kegiatan beribadah dan meningkatkan keimanan jemaat serta mendukung tugas panggilan gereja dalam bersekutu, melayani dan bersaksi. 4 David Haharap dan Simon juga meneliti, penurunan perhatian gereja terhadap musik gereja. Padahal jika ditelisik lebih jauh musik gereja dapat berdampak dalam pertumbuhan kerohanian jemaat. 5 Michael Sasongko yang meneliti makna lirik dalam lagu-lagu pujian Kristen karismatik, menjelaskan bahwa selain aspek melodi, ritme dan harmoni, yang dapat mengubah perilaku manusia tetapi juga lirik, konteksnya, dan makna yang terkandung dalam lagu dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, dan tindakan seseorang. Pada sisi yang lain penelitian tentang lagu dalam konteks kebudayaan Maluku, seperti yang dilakukan oleh Jovico dan Jourlief Samallo, menunjukkan bahwa imajinasi memungkinkan individu merasakan pengalaman luas, baik yang sudah dialami maupun yang belum. Hal ini membantu masyarakat Nusalaut dan Ambalau memaknai relasi mereka sebagai kohesi dalam konteks kemalukuaan. Lebih lanjut Folklor dan lagu, seperti "Dua Adi Kaka," berfungsi sebagai teks mnemonik yang menumbuhkan prinsip kekeluargaan dan mengonstruksikan kehidupan bersama sebagai orang basudara. Hubungan ini tidak hanya mencerminkan perjumpaan budaya lokal, tetapi juga sebagai jembatan antaragama lintas pulau yang memperkuat kehidupan sosial masyarakat Maluku. Selain itu, imajinasi ini dapat melawan radikalisme dan intoleransi serta mendukung nilai-nilai bersama. Dewi Tika Lestari juga telah meneliti dan menemukan bahwa dalam nyanyian jemaat GPM terdapat interelasi kuat antara unsur-unsur budaya atau etnisitas Maluku, teologi gereja, dan musik, yang kemudian disebut sebagai suatu etnotheomusikologis. Lestari While James. Pengantar Ibadah Kristen (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2. , 103. Agus Budi Handoko. AuEstetika Musik Gereja Dalam Perspektif Estetika Musik Dan Teologi Kristen,Ay Tonika: Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Seni 5, no. : 72Ae83, https://doi. org/10. 37368/tonika. David Harahap and Simon Simon. AuPentingnya Musik Gereja Dalam Ibadah Untuk Pertumbuhan Kerohanian Jemaat,Ay TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2, no. : 135Ae146. Michael Hari Sasongko. AuMenelaah Lagu Puji-Pujian Kristen: Kajian Ekstramusikal,Ay Tonika: Jurnal Penelitian dan Pengkajian Seni 4, no. : 96Ae110. Jovico Onis Samallo and Jourlief J Samallo. AuAnalisis Netnografi Lirik Lagu Dua Ade-Kaka Sebagai Jembatan Merawat Imajinasi Dan Relasi AntaragamaAy 5, no. : 330Ae345. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. menambahkan bahwa nyanyian GPM menjadi bagian dari eksistensi musik lokal Maluku, di mana musik mengalami kontekstualisasi atau supuasimusik dan liturgi. Selain itu, dalam analisis etnomusikologi dan teomusikologi ditemukan bahwa musik memiliki kekuatan asosiatif yang menghubungkan rasa musikal dengan pengalaman hidup manusia atau komunitas pemilik musik, baik dalam konteks teologis maupun sosial budaya. Melalui studi etnotheomusikologis dalam Nyanyian Gereja ditemukan bahwa umat tidak hanya memuliakan Allah, tetapi juga mengalami kehadiran-Nya dalam pengalaman sosial-budaya yang diekspresikan melalui musik. 8 Selain itu, banyak penelitian berkaitan dengan kontekstualisasi musik gereja, style dan struktur musik, serta teologi musik, yang memberikan inspirasi bagi penelitian ini. Beranjak dari temuan-temuan ilmiah di atas maka penulis dalam artikel ini akan memberikan sebuah kebaharuan yang terletak pada studi memori kinetik melalui representasi folksong dalam buku nyanyian jemaat GPM pada peribadatan di Maluku. Sebagai gereja suku yang ada di Indonesia, wilayah pelayanan GPM ini unik, karena melintasi laut-pulau dari Maluku Utara hingga Selatan sehingga GPM membutuhkan suatu model berteologi kontekstual yang bisa relevan dengan kondisi jemaat. Ada beragam bahasa serta tradisi budaya di berbagai wilayah pelayanan GPM yang memungkinkan tindakan berteologi dengan simbol-simbol budaya setempat termasuk di dalamnya musik. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis buku nyanyian jemaat GPM sebagai representasi nyanyian rakyat (Folkson. karena banyaknya syair lagu yang mengunakan bahasa Melayu Ambon dan bahasa tradisional orang Maluku. Analisis ditujukan pada studi memori kinetik . erakan tubu. yang mewujudkan makna melalui beberapa lagu yang diciptakan. METODE PENELITIAN Kajian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang menggali data utama dari wawancara dan observasi. Adapun pengumpulan data didapatkan melalui wawancara secara langsung dengan beberapa informan, yaitu Pendeta Elifas Tomix Maspaitela (Ketua Sinode Dewi Tika Lestari. AuEtnisitas. Teologi. Dan Musik Dalam Nyanyian Gereja: Sketsa Awal Studi Etnoteomusikologi Nyanyian Gereja Protestan Maluku,Ay Kurios 7, no. : 81. Leon Stei. Structure and Style: The Study and Analysis of Musical Form (New Jersey: SummyBichard Music, 2. Anthony Ruff. AuRevisiting Joseph RatzingerAos Theological Basis of Church Music: Amen Corner,Ay Worship 91 (May 2. : 196Ae202, http://https//digital. org (Subscriber Monique Ingalls. Christian Congregational Music: Local and Global Perspectives (Famham: Asghate, 2. Christian Izaac Tamaela. AuContextualization of Music and Liturgy in the Moluccan ChurchAy (Vrije Universiteit. Amsterdam, 2. Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian Hendrik Mahoklory. Izak Y. M Lattu. Mariska Lauterboom GPM), dan para pencipta lagu-lagu dalam nyanyian GPM, yakni Jhon F. Beay. Peter Salenussa. Egy Picanussa. Esaf Maloy, dan Bartje Istia. Kajian ini dimulai dengan pendahuluan yang menguraikan topik dan tujuan penelitian secara jelas. Setelah itu, bagian metodologi menyajikan penjelasan tentang pendekatan yang digunakan. Kemudian, pembahasan dilanjutkan dengan sejarah lahirnya buku nyanyian GPM dan menemukan folksong dalam nyanyian GPM. Selanjutnya, analisis nyanyian jemaat GPM melalui lensa memori kinetik. Penelitian ini ditutup dengan kesimpulan yang merangkum temuan utama dan memberikan rekomendasi untuk penelitian di masa mendatang. HASIL DAN PEMBAHASAN Konteks Historis Pembuatan Nyanyian GPM Nyanyian Jemaat (NJ) GPM dibuat untuk menampung refleksi teologi dan kekayaan rohani umat dan pelayan GPM dalam bentuk hymnal, sehingga bisa membangkitkan penghayatan iman jemaat dalam ibadah dan hidup sesehari. Konteks hadirnya buku ini adalah upaya GPM membangun kemandirian teologi warga gereja di tengah gempuran praktek liturgi yang marak berlangsung dewasa ini, termasuk munculnya karya-karya bermutu dalam banyak lagu POP Rohani di Ambon, oleh para musisi muda bertalenta. Oleh karena itu, gereja berkomitmen untuk menampung karya dan kreativitas umat dalam menciptakan nyanyian hymnal sebagai pujian dalam ibadah. Dengan cara ini, karya-karya tersebut dapat menjadi abadi dan dinyanyikan oleh jemaat sepanjang masa. Sebelumnya ada tiga buku nyanyian yang telah menjadi kekayaan rohani GPM, sebagai kitab nyanyian tua, yaitu Tahlil. Dua Sahabat Lama (DSL), dan Kitab Njanjian Kesukaan Kristen, atau lazim disebut Nyanyian Uktolseja, karya J. Uktolseja . Selain itu juga digunakan Kidung Jemaat dan Pelengkap Kidung Jemaat. Tiga buku Nyanyian yang disebutkan pertama dirasakan sebagai representasi kekristenan tua . yang masih dipegang teguh oleh GPM dan gereja-gereja arus utama lainnya. Khusus untuk Njanjian Kesukaan Kristen ini hanya dipakai di GPM, dan saat ini termasuk langka karena jarang sekali dinyanyikan, kecuali di beberapa jemaat tua, seperti Ema. Allang, di Saparua dan Buru Selatan. Tiga kidung tua itu dibuat dengan bahasa Melayu Ambon sangat tua, yang nyaris hilang dalam komunikasi masyarakat Maluku dewasa ini dengan notasi balok. Sementara itu, kecakapan membaca notasi balok tidak dikuasai secara merata oleh warga gereja saat ini. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Nyanyian Jemaat GPM disusun sebagian besar dengan bahasa Melayu Ambon dan bahasa Indonesia disertai notasi angka agar mudah dinyanyikan warga gereja. Bagi GPM dengan buku nyanyian jemaat ini, warga jemaat GPM bisa meresapi pergumulan 10 Buku nyanyian jemaat ini dimiliki oleh Gereja Protestan di Maluku dan Gereja Injili Maluku (GIM) di Belanda. Buku nyanyian jemaat ini merupakan buku yang berisi 342 nyanyian untuk dipakai dalam ibadah, perkumpulan, rumah tangga, ataupun peristiwa-peristiwa lainnya. Ada 79 pencipta lagu yang menyerahkan hasil karyanya untuk dimuat dalam nyanyian ini. Mereka berasal dari wilayah Maluku dengan latar belakang seni dan budaya berbeda yang terlihat jelas dalam hasil karyanya. Dalam perkembangannya buku nyanyian GPM telah memasuki cetakan ketiga yang merupakan hasil perbaikan pada kualitas lirik serta ketilitian penulisan naskah lagu yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian buku nyanyian jemaat ini akan digunakan oleh semua warga gereja dari GPM dan GIM, maupun saudara-saudara seiman lainnya secara oikumenis memuji dan memuliakan Tuhan Yesus Kristus serta memberitakan kabar sukacita dan injil Makna Simbolik Sampul Buku Nyanyian Jemaat GP Sebagai nyanyian yang lahir dari proses kontekstualisasi budaya maka dalam perumusannya parakomposer dan musisi rohani di Maluku melukiskan sampul buku dengan melambangkan beberapa simbol. Gambar 1. Sampul Buku Nyanyian GPM. Sumber: Penulis, 2024. Elifas Maspaitela. AuWawancara Virtual,Ay 2024. Di ambil Dari Prakata Dalam Alkitab Dan Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku (Ambon: Gereja Protestan Maluku, 2. Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian Hendrik Mahoklory. Izak Y. M Lattu. Mariska Lauterboom Pada sampul depan buku terdapat beberapa gambar, yaitu salib yang tertancap tegak, kuat, hidup, dan indah pada badan sebuah not balok yang berwarna putih. Gambar-gambar ini melambangkan semua nyanyian dalam buku ini merupakan bagian integral dari pelayanan liturgis dan ibadah gerejawi. Sebuah kulit bia yang terletak menyatu dengan badan not balok dan salib tersebut melambangkan buku nyanyian jemaat ini mengandung sejumlah nyanyian yang bernuansa budaya seni musik daerah Maluku. Hal ini mercerminkan semangat GPM dalam membangun dan mengembangkan misi pelayanan di bidang musik gereja dan ibadahnya yang kontekstual, relevan, konstruktif dan ouikumenis, baik dari segi musik, teologi, bahasa, dan budaya lokal. Not balok, yang tangkainya ke atas sebagai simbol pertumbuhan dan kehidupan GPM sesuai jiwa serta semangat moto GPM, yaitu AuAku menanam. Apolos menyiram, dan Allah yang memberi pertumbuhanAy . Kor: Simbol teologi dan musikal yang menghias kulit buku nyanyian jemaat yang berwarna biru mempesona ini mengekspresikan suatu realitas tercipta dan berkumandangnya nyanyian-nyanyian jemaat hasil kreasi, apresiasi, inovasi, transpransi, dan aspirasi para composer Kristen yang tersebar di Maluku sebagai daerah kepulauan. Folksong Orang Maluku dalam Nyanyian Jemaat Menurut Jan Harold Brundvand, nyanyian rakyat adalah salah satu genre atau bentuk folklore yang terdiri dari kata-kata dan lagu-lagu yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu dalam bentuk tradisional, serta mempunyai varian. Nyanyian rakyat berasal dari bermacam-macam media sehingga dalam nyanyian rakyat kata-kata atau lagu merupakan dwitunggal yang tak terpisahkan. Dengan demikian nyanyian rakyat dapat dibedakan dari nyanyian rakyat lainnya, seperti lagu-lagu pop, atau klasik karena sifatnya yang dapat berubah-ubah baik secara isi maupun bentuk isinya. Sedangkan, ciri yang membedakan nyanyian rakyat dengan nyanyian yang lainnya ialah penyebarannya menggunakan tradisi lisan yang mempermudah orang lain untuk dapat mengingatnya secara terus menerus. 12 Dengan demikian kehadiran nyanyian rakyat dalam kehidupan masyarakat sosial menjadi sesuatu yang penting sebagai sarana untuk mengenang dan menghidupkan memori kolektif secara komunal dalam kehidupan bersama sebagai suatu komunitas, seperti nyanyian rakyat yang ada di daerah Maluku. Samsiami Lira Hayu Adelfis Mana. Buku Ajar Mata Kuliah Foklor (Yogyakarta: deepublish, 2. , 98. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Sejalan dengan pemikiran di atas. Izak Lattu dalam buku Rethinking Interreligious Dialogue, menegaskan bahwa nyanyian rakyat . Maluku merupakan representasi kolektif yang penting bagi kohesi sosial di Maluku, sehingga melalui lagu-lagu daerah ini, orang-orang Maluku masuk dalam identitas bersama serta terikat secara emosional dalam identitas primordial sebagai orang Maluku. Lebih lanjut nyanyian rakyat . dan lagu-lagu Ambon menjadi narasi yang berfungsi sebagai perekat kolektif untuk memperkuat solidaritas sosial dan berfungsi juga sebagai modal budaya bagi masyarakat untuk menghidupkan ajaran dan nilai-nilai komunal. Berdasarkan realitas tersebut maka masyarakat Maluku lebih cenderung untuk mengeksplorasi peran folksong sebagai sarana memori kolektif untuk memperkuat kohesi sosial. 13 Bagi masyarakat Maluku folksong mengambil peran yang penting dalam keberlangsungan kehidupan, tidak hanya berfokus pada kehidupan kebudayaan sebagai representasi identitas primordial orang Maluku saja, tetapi ada hal yang lebih menarik lainnya. Seperti penuturan folksong yang diwujudkan dalam nyanyian jemaat GPM pada pelaksanaan peribadahan. Jhon F Beay, salah satu pencipta lagu-lagu dari nyanyian Jemaat GPM mengungkapkan bahwa folksong mengandung nilai-nilai kehidupan seperti nilai sosial, budaya, moral, dan agama yang dapat mempererat relasi antara sesama manusia maupun dengan Allah. Folksong adalah produk budaya yang diwarisakan dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Maluku sebagai sarana dalam memberikan nilai-nilai dan pengajaran kehidupan secara turun temurun. Dalam konteks keimanan, folksong hadir sebagai upaya kontekstualisasi teologi. Lebih lanjut dalam perumusan buku nyanyian jemaat, sinode GPM menyadari bahwa sangat diperlukan nyanyian tradisi sebagai produk Gereja dan sarana komunikasi Injil, milik orang Maluku yang ketika dinyanyikan dapat mempengaruhi penghayatan dan emosional dalam memuji Tete Manis (Yesus Kristu. Pemaknaan lebih lanjut dari folksong juga dapat dipahami sebagai nyanyian tradisi, yang diperformansikan dalam wujud nilai-nilai budaya, irama-irama yang mengikat secara emosional dengan tujuan untuk menghadirkan identitas dan memperkuat karakter kehidupan sosial dan kerohanian orang Maluku. Nyanyian rakyat ini dapat kembali mengingatkan nilainilai luhur dan tradisi budaya masyarakat Maluku untuk dihidupi. Folksong dalam nyanyian jemaat walaupun sudah dikemas dengan perpaduan musik-musik modern, tetapi akan Izak Y. Lattu. Rethinking Interreligious Dialogue, (Jerman: Brill Schoningh, 2. , 31-32. Jhon F Beay. AuWawancara Virtual,Ay 2024. Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian Hendrik Mahoklory. Izak Y. M Lattu. Mariska Lauterboom menjadi harmoni yang indah untuk memperkaya suasana peribadahan orang Maluku dengan mempertahankan tradisi folksong dalam aspek kehidupan sosial maupun spiritual. Dalam pembuatan buku nyanyian jemaat GPM setiap syair dan lirik nyanyian diubah menjadi empat jenis bahasa, bahasa Indonesia. Melayu Ambon (Contoh:nomor lagu 148, 157, 210, dan lain-lai. , bahasa-bahasa daerah Maluku . ontoh nomor lagu. 7,19,27,199,141,193,214, 308, 326, 331, dan lain-lai. , dan bahasa tradisional gerejawi yaitu bahasa Ibrani . ontoh lagu nomor 225,226,33, dan lain-lai. , serta dalam bahasa Yunani seperti lagu nomor: 55. Semua ini mencerminkan bahwa nyanyian jemaat GPM merupakan bentuk nyanyian kontekstual yang kaya akan kearifan budaya lokal, ekumenis, tradisional gerejawi, dan nasional. Dengan demikian, berbagai muatan teologis dalam musik gerejawi yang terdapat dalam semua klasifikasi nyanyian mencerminkan pesan yang relevan dalam konteks teologis, selaras dengan kearifan lokal. Adapun dalam setiap lirik yang mengunakan bahasa-bahasa lokal dan bahasa tanah . seperti Melayu Ambon. Yamdena. Buru. Wemale. Alune. Jenis-jenis bahasa yang digunakan tersebut bersumber langsung dari pencipta lagu . , sekaligus merepresentasikan kekayaan spiritual masyarakat Maluku. Misalnya, pada beberapa lagu dengan bahasa tanah, misalnya nyanyian jemaat (NJ) No. 248, dengan judul Tobon Yesus, merupakan lagu yang menceritakan semangat pemberitaan injil di pulau Buru bagi masyarakat, jauh sebelum nyanyian jemaat ini dibuat. Berikut penulis akan memaparkan ilustrasi gambar lagu Tobon Yesus: Gambar 2: Nyanyian Jemaat GPM. No. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Masyarakat beragama Kristen di daerah Buru ketika mendengarkan lagu Tobon Yesus mereka akan secara emosional diingatkan dengan semangat pemberitaan injil, sehingga mereka akan memiliki keberanian untuk memberitakan injil. Lagu ini menerangkan bahwa Yesus adalah pemilik segala sesuatu (Tobon Yesu. Yesus Sebagai pemilik memanggil umat-Nya dengan suara merdu. Yesus memberi keselamatan seutuhnya sampai selamalamanya. Syair terakhir lagu ini berbunyi AuTobon Yesus da pun matak haik e, tu na elet e, fidi ring na human milit eAy Artinya Yesus sebagai pemilik telah mati dan tempat-Nya di rumah yang kudus. Semangat penginjilan di Buru menjadi hidup disaat lagu Tobon Yesus dinyanyikan, dan lagu itu di maknai oleh seluruh warga gereja yang menyanyikan. Buktinya adalah upaya kontekstualisasi budaya sebagai pintu masuk pemberitaan injil dilakukan secara terus-menerus di daerah Buru. Representasi folksong juga turut memberikan narasi dan pesan-pesan yang disampaikan melalui nyanyian rakyat seperti dalam nyanyian jemaat Gereja Protestan Maluku no. 281 AuHidup dalam TuhanAy. Gambar 3: Nyanyian GPM. No. Maspaitela. AuWawancara Virtual. Ay Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian Hendrik Mahoklory. Izak Y. M Lattu. Mariska Lauterboom Jhon F. Beay. menjelaskan bahwa kehidupan persaudaraan dari orang Maluku tidak boleh berhenti sampai pada relasi sosial pela-gandong, tetapi rasa persaudaraan dalam Tuhan harus jauh lebih manis. Narasi-narasi lokal seperti Ausagu salempeng bage dua, baku sayang sampe mati, susah sanang sama-sama rasa, pegang tangan manise, jang buang muka, bangong hidup sama-sama,satu hati-satu jantongAy jika diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut. Ausebuah sagu dibagi menjadi dua menggambarkan rasa kebersamaan dan keharmonisan dalam berbagi, saling menyangi sampai mati menjelaskan rasa persaudaraan, saling bergandengan tangan sebagai wujud saling topang-menopang, dan jangan pernah membuang muka dari orang lain atau tidak membeda-bedakan perlakuan kepada orang lain, sehingga dapat membangun kehidupan bersama dengan baik dan Ay Pemaknaan tersebut yang kemudian dituangkan dalam syair-syair lagu ini akan mempengaruhi aspek emosional, kerohanian dan memori kolektif orang Maluku dalam konteks kehidupan sosial yang harus juga diterapkan dalam ruang-ruang ibadah sebagai sarana untuk memuji Tuhan dengan konteks kearifan lokal. Contoh lain dapat terlihat dalam syair ciptaan almarhum Chris Tamaela yang menuliskan lagu AuTuhan KasihaniAy pada no. 55 dalam nyanyian jemaat GPM. Lagu ini diciptakan terinspirasi dari cerita rakyat orang Maluku tentang kisah batu badaong sehingga not dan nada yang diciptakan seirama dengan nyanyian cerita ini yang menurutnya bahwa setiap orang Maluku ketika menyanyikan lagu ini pasti akan memunculkan memori kolektif Lagu ini memang diadaptasi dari lagu batu badaong, karena cerita batu badaong itu adalah cerita tentang penyesalan yang sudah terlambat. Itu menjadi inspirasi untuk dibuat lagu pengakuan dosa dengan maksud agar selalau ada pertobatan dan jangan sampai terlambat menyesal. Artinya, dengan sadar pencipta lagu telah memicu kesadaran kolektif umat untuk tidak lagi berbuat kesalahan melalui lagu yang bersumber dari folksong kemudian, diadaptasi dalam suatu suasana pengakuan dosa. Nyanyian Jemaat GPM yang menggunakan tradisi folksong dapat dilihat juga dalam Nyanyian jemaat GPM 273 yang bersumber dari folksong masyarakat Tanimbar. O Ubu Ratu. Ketika lagu itu dinyanyikan di Tanimbar, akan memicu respon emosional masyarakat yang beragam, bisa bergandengan sambil bergoyang ataupun terharu dan menangis. Nyanyian Jemaat GPM dalam Memori Kinetik Beay. AuWawancara Virtual. Ay Peter Salenussa. AuWawancara Virtual,Ay 2024. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Mencermati bahasan di atas maka buku nyanyian jemaat GPM yang digunakan dalam peribadatan di Maluku dapat dikatakan bersumber dari kehidupan sosial orang Maluku atau cerita rakyat yang dikontekstualisasikan dalam kehidupan spiritual. Oleh karena itu, makna dari setiap lirik dan syair dapat tercermin dalam respon emosional yang ditunjukkan melalui gerakan tubuh, seperti bergandengan sambil bergoyang atau mengekspresikan rasa terharu. Analisis ini menjadi menarik ketika diterapkan melalui lensa teori memori kinetik. Menurut Marina Trakas, memori kinetik adalah gerakan tubuh terkait peristiwaperistiwa atau tindakan yang terjadi di masa lampau. Memori kinetik merupakan eksternalisasi dari niat batin untuk mewakili pengalaman pribadi masa lampau. Memori kinetik merepresentasikan pengalaman masa lalu yang terkadang meniru gerakan masa lalu, melalui simbol dan metafora yang terkandung. Untuk lebih memahami sifat representatif dari memori kinetik, ada dua pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, kita perlu memahami kondisi yang harus dipenuhi agar gerakan tubuh dapat merepresentasikan cerita dari masa Kedua, kita perlu menganalisis bagaimana ingatan kinetik merepresentasikan gerakan tubuh di masa lalu. Penuturan konsep teori kinetik memberikan pemahaman bahwa memori kinetik memiliki korelasi langsung dengan gerakan-gerakan tubuh manusia. Gerakan tubuh yang dilakukan dimaknai sebagai sesuatu yang merepresntasikan peristiwa masa lalu yang kembali dihidupkan dalam konteks kehidupan saat ini. Dengan kata lain melalui memori kinetik pemaknaan gerakan-gerakan tubuh akan mampu memberikan pengaruh buat seseorang, sehingga studi memori kinetik bisa ditemukan dan dianalisa pada entitas masyarakat Maluku yang memiliki kekayaan kebudayaan berupa tradisi bernyanyi yang terus dipelihara dan dilestarikan untuk menyampaikan perasaan senang, sedih, sukacita, dukacita, bahagia, relasi persaudaraan, takut dan hormat baik dalam relasi kehidupan sosial, maupun dalam kehidupan keagamaan di Maluku. Sebagai sarana dalam menyampaikan emosi seseorang, maka bernyanyi pun juga adalah gerakan tubuh, dan bernyanyi adalah identitas orang Maluku baik dalam kehidupan sosial sebagai narasi-narasi kebudayaan maupun dalam konteks keagamaan yang lahir dari integrasi antara teologi dan kearifan lokal. Oleh sebab itu, dalam mengeksplorasi memori kinetik dalam nyanyian Jemaat GPM tidak hanya sekedar ditelusuri secara harafiah melainkan harus melihat makna-makna di balik tindakan simbolik yang dimaksudkan dalam Marina Trakas. AuKinetic Memories: An Embodied Form of Remembering the Personal Past,Ay Journal of Mind and Behavior 42, no. : 139Ae174. Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian Hendrik Mahoklory. Izak Y. M Lattu. Mariska Lauterboom setiap syair lagu. Karena itu, makna kinetik penting untuk dieksplorasi, mengingat ekspresi di saat mendengarkan nyanyian akan melahirkan tindakan-tindakan simbolik, dan hal tersebut merupakan bagian yang sangat penting dalam studi memori kinetik. Berikut ini penulis melampirkan salah satu nyanyian jemaat Gereja Protestan Maluku dengan judul AuAkang Manis LawangAy dan di dalam syair lagu ini mengandung unsur gerakan tubuh yang menjadi ciri khas kehidupan orang Maluku: Gambar 4: Nyanyian GPM. No. Lagu AuAkang Manis LawangAy dalam struktur nyanyian jemaat Gereja Protestan Maluku, ditempatkan dalam rumpun menghadap Allah. Pujian ini sebagai pembukaan peribadahan gereja. Artinya umat diajak untuk berkumpul, menyanyi dan memuji Tuhan (Tete Mani. , sambil menari dengan sukacita . , bergandeng tangan, menari, berdoa, sebagai wujud penyembahan kepada Tuhan. Dengan irama tifa . lat music tradisiona. khas Maluku Tengah, sebagai tempat asal penciptanya, lagu ini dinyanyikan dalam suasana hati riang, penuh kegembiraan, sambil bergandengan tangan di antara jemaat. Ada makna mendalam yang terkandung di dalam lagu pembuka ini, untuk mewujudkan Egy Picanussa. AuWawancara Virtual,Ay 2024. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. kesatuan jemaat secara emosional sebagai kesatuan yang beribadah dan memuliakan Tuhan dengan penuh kegembiraan dan sukacita, diiringi musik dan tarian adat/tarian daerah. Lebih lanjut lagi, gerakan tubuh dalam syair lagu ini merepresentasikan kehidupan orang Maluku seperti gerakan manari . , goyang badan, bakugandeng . , badendang . , yang dimasukan dalam nyanyian ini sebagai semangat dalam Somba Upu Yesus . enyembah Yesus Kristu. 21 Gerakan-gerakan kinetik yang dijelaskan di atas merepresentasikan tradisi orang Maluku dalam mengadakan sebuah Orang Maluku memperlihatkan kebersamaan dan persaudaraan dalam ekspresi emosional komunal untuk menandakan satu hati dalam identitas primordial, badendang . mencerminkan bahwa orang Maluku sangat suka untuk bernyanyi dalam beberapa situasi seperti saat berjumpa maupun berpisah. Badendang akan disertai gerakangerakan tubuh untuk memaknai sebuah pertemuan dan hal tersebut menjadi narasi-narasi kebudayan yang berguna untuk menghidupi memori kolektif orang Maluku dalam persaudaraan . idop orang basudar. Selaras dengan pemaparan di atas, ada juga gerakan kinetik dalam tarian lenso . arian sapu tanga. khas orang Maluku sebagai tarian adat maupun tarian penyambutan tamu Tarian ini jika ditelusuri lebih jauh lagi, merupakan tarian yang sering dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan, upacara adat, dan memperingati hari-hari besar dalam kehidupan orang Maluku. Tradisi penyambutan inilah kemudian diintegrasikan dalam nyanyian jemaat Gereja Protestan Maluku sebagai tarian yang mempersiapkan umat Allah menyembah dan menyambut kehadiran-Nya dengan rasa hormat, kesantunan, juga rekognisi dalam cinta kasih sebagai pengikat persaudaran dalam suasana penyambutan Selanjutnya performansi memori kinetik juga dapat ditemukan dalam kedua syair nyanyian yang diciptakan oleh Bung Bartje Istia. Misalnya Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku no, 40. Terciptanya lagu ini diperkasai oleh pemahaman pencipta terhadap mazmur-mazmur pujian yang menjadi ekspresi pujian terhadap Allah dengan menggunakan gambus, kecapi, tarian, dan ceracap. Sehingga direpresentasikan dalam kebudayaan Maluku agar dapat menyembah Tuhan dengan menggunakan tifa, tototobuang dan tahuri . lat-alat Maspaitela. AuWawancara Virtual. Ay Esaf Maloy. AuWawancara Virtual,Ay 2024. Norman Sambodo. Anisya Oktaviana Anindyatri, and Yosep Riva Argadia. Profil Budaya Dan Bahasa Kota Ambon Provinsi Maluku. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Sekretariat Jenderal Pusat Data Dan Statistik Pendidikan Dan Kebudayaan, 2019. Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian Hendrik Mahoklory. Izak Y. M Lattu. Mariska Lauterboom musik tradisional masyarakat Maluk. , sehingga ketika mendengarkan lantunan irama alat musik ini maka tentunya akan menciptakan gerakan kinetik tubuh. Begitupun juga dengan syair lagu dari Katong Bakumpul Rame-Rame. Lagu ini diangkat berdasarkan Mazmur 133. Lagu ini bagaikan lagu wajib pada saat organisasi gereja mengadakan koinonia atau wisata keesaan begitupun pertemuan-pertemuan antar keluarga seiman dari satu negeri dengan negeri yg lain. Diiringi hentakan pola ritme tifa, dan gerakan tari lenso . arian sapu tanga. , seirama dalam langkah. Bentuk-bentuk lagu yang bercorak tradisional dalam beberapa nyanyian GPM seperti pada lagu Tiop Tahuri Pukul Tifa . Mae Pese Eko . Mae o Basudara e . Amar Inbe Wulan Inbee Wali . dari Tanimbar. Dua oWo . dari Kei. Uplera M'mopi M'moi . dari Babar, adalah nyanyian yang bercirikhas irama tarian. Orang Maluku memiliki ciri khas yang sama dalam berdendang mengikuti irama. Umumnya tarian seperti Makomako atau maru-maru (Maluku Tenga. Tnabar Ila (Tanimba. , seka (MBD). bentukbentuk gerakan tarian yang lazim di Maluku lebih mengandalkan gerakan kaki dibandingkan Namun, beberapa lagu dalam nyanyian GPM menghadirkan gerakan kinetik tubuh, apalagi kalau nyanyian ini dinyanyikan pada jemaat perkotaan, memang tidak sampai menimbulkan respons gerakan, kecuali bila ada penari khusus. Di jemaat pedesaan sangat mungkin menimbulkan respons kinestetis mengingat pola ritmenya memang selaras dengan tarian adat setempat. Upaya-upaya seperti ini yang sedang dilakukan dalam mengatasi ketidakbiasaan orang Maluku yang beribadah dengan menggunakan gerakan tubuh agar tidak dipandang menyimpang kecuali jikalau diarahkan secara langsung. Meski secara tradisional menyanyi dan menari adalah satu kesatuan yang dihayati secara sosial budaya, namun dalam hal ibadah, apalagi ibadah di gereja, cukup hanya bernyanyi. Bertepuk tangan sambil bernyanyi saja masih sesuatu yang dianggap tabu. Dalam bentuk-bentuk ibadah kreatif, ada para penari khusus yang disiapkan sedangkan jemaat hanya bernyanyi. Butuh waktu untuk bisa sampai pada titik di mana warga jemaat GPM bisa menerima dengan penuh pengertian bahwa respons musikal dalam bentuk gerakan tubuh dapat terjadi juga pada jemaat pada saat mengikuti ibadah, baik itu diatur secara liturgis maupun tanpa perlu diatur . Sejauh ini, hanya di jemaat-jemaat yang masih kuat mempertahankan tradisi budaya setempat seperti contoh disebutkan di atas itu, yang cukup terbuka ruang bagi suatu ekspresi musikal Bartje Istia. AuWawancara Virtual,Ay 2024. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. yang nampak dalam respons kinestetis mereka. Karena itu, perlu dibuka ruang bahwa ekspresi kinetik itu adalah ekspresi iman, sehingga kesan "tabu" atau "takut salah" atau "takut mirip karismatik," tidak dianggap sesuatu yang menyimpang dari tradisi gereja. Pada akhirnya melalui penelitian yang dilakukan penulis dengan mencoba mengeksplorasi kekayaan kebudayan melalui buku nyanyian jemaat GPM dalam peribadatan di Maluku maka ditemukan pengalaman-pengalaman dari beberapa para Pendeta GPM yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini. Mereka turut merasakan secara langsung bagaimana folksong mampu mempengaruhi pikiran dan tubuh seseorang, sehingga dapat menciptakan gerakan tubuh baik dalam pelaksanaan peribadatan maupun di saat penjemputan tamu-tamu gereja. Fakta-fakta ini yang menghadirkan indikasi-indikasi bahwa dengan mengunakan pendekatan bahasa daerah mampu merangsang respon kinestetis spontanitas, ketika nyanyian berbasis budaya digunakan. Temuan-temuan berharga inilah yang menjadi alasan bagi Gereja Protestan di Maluku untuk secara serius menggunakan pendekatan budaya . dan bentuk lagu yang terinspirasi dari nyanyian adat atau tradisional setempat dan kemudian dikemas secara baik oleh para musisi, komposer atau penggubah lagu dapat menerapkannya dengan tepat sebagai suatu cara berteologi yang kontekstual. KESIMPULAN Berdasarkan kajian yang dilakukan, penulis menemukan dua temuan utama. Pertama. Nyanyian Jemaat merupakan buku nyanyian produk dari Gereja Protestan Maluku, sebagai upaya kontekstualisasi maupun integrasi kebudayaan Maluku dalam lingkup kehidupan Buku nyanyian ini ditulis menggunakan empat bahasa baik bahasa daerah Maluku dari beberapa daerah, bahasa Melayu Ambon, bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Penuturan dari setiap syair-syair dan judul lagu mengandung banyak sekali nyanyiannyanyian rakyat atau folksong dengan tujuan untuk memperkaya nuansa musik gereja serta mempertahankan tradisi masyarakat Maluku dengan pemahaman iman. Kedua, melalui kontekstualisasi maupun integrasi folksong dalam nyanyian jemaat Gereja Protestan Maluku, menunjukan bahwa keseriusan Gereja Protestan Maluku dengan menggunakan pendekatan budaya, bahasa, dan nyanyian yang mengandung memori kinetik dari setiap daerah sehingga melahirkan gerakan kinetik tubuh dalam tindakan-tindakan simbolik untuk Salenussa. AuWawancara Virtual. Ay Representasi Folksong dan Memori Kinetik dalam Nyanyian Jemaat Gereja Protestan Maluku Novian Hendrik Mahoklory. Izak Y. M Lattu. Mariska Lauterboom mengekspresikan makna dari integrasi folksong dengan nyanyian jemaat dalam kegembiraan, persaudaraan, dan sukacita bagi masyarakat Maluku khususnya Gereja Protestan Maluku. DAFTAR PUSTAKA