KESKOM. : 129-135 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal. Terapi Perilaku Kognitif Terhadap Pasien Depresi Pasca Stroke di Kota Palangka Raya Cognitive Behavioral Therapy for Post-Stroke Depressed Patients in Palangka Raya Maria Magdalena Purba1. Christine Aden2 Poltekkes Kemenkes PalangkaRaya ABSTRACT ABSTRAK Post-stroke depression is found to be around 20-65%, this prevalence shows a high enough number. Lack of a en on to post-stroke depression causes the pa ent's condi on worsen, while appropriate interven on and treatment of depression can beneAt healing and even shorten the rehabilita on process. This study aims to determine the eAect of cogni ve-behavioral therapy on post-stroke depression pa ents in the city of Palangka Raya. The method of this research is quan ta ve research with a type of pre-test post-test control group design research with a total sample of 50 post-stroke depression pa ents divided into two groups: the treatment group and the control group. Kuesinoer in this study used the Hamilton scale instrument (HDRS) consis ng of 20 ques ons to measure the level of depression in post-stroke pa ents. In the treatment group, cogni ve behavioral therapy interven on sessions session 1-4 were given with two mee ngs. Data analysis in this study was carried out through univariate and bivariate analysis with paired t-tests. The results showed that there were signiAcant diAerences in the average value of depression rates of post-stroke pa ents in the treatment group before and a er cogni ve behavior therapy with p <0. 05 and IK did not exceed zero. It is expected that nurses can become educators, mo vators, and facilitators as well as family support systems in trea ng post-stroke depression pa ents. Depresi pasca stroke ditemukan sekitar 20-65 %, prevalensi ini menunjukkan angka yang cukup nggi. Kurangnya perha an terhadap depresi pasca stroke menyebabkan kondisi pasien semakin memburuk. Sementara intervensi dan pengobatan depresi yang tepat dapat memberi keuntungan dalam penyembuhan dan mempersingkat proses rehabilitasi. Peneli an ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi perilaku kogni f tehadap pasien depresi pasca stroke di kota Palangka Raya. Metode peneli an ini adalah penelitan kuan ta f dengan pe peneli an eskperement pre- test post Aetest kontrol group design dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang pasien depresi pasca stroke yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok kasus dan kelompok kontrol. Kuesioner dalam peneli an ini menggunakan instrumen Hamilton Depression Ra ng Scale (HDRS). Ada 20 pertanyaan untuk mengukur ngkat depresi pasien pasca stroke. Pada kelompok perlakukan diberikan intervensi Terapi perilaku kogni f sesi 1-sesi 4 dengan intervensi yang dilakukan sebanyak dua kali. Analisa data dalam peneli an ini dilakukan melalui analisis univariate dan bivariate dengan uji t berpasangan. Hasil peneli an menunjukkan ada perbedaan yang bermakna nilai rata-rata ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok perlakukan sebelum dan sesudah dilakukan terapi perilaku kogni f dengan nilai p < 0. 05 dan IK dak melewa nol. Diharapkan perawat dapat menjadi edukator, mo vator dan fasilitator serta support system dari keluarga dalam merawat pasien depresi pasca stroke. Keywords : Cogni ve therapy, depression, post-stroke. Kata Kunci :Terapi perilaku kogni f, depresi, pasca stroke. Correspondence : Maria Magdalena Purba Email : mariapurba45@gmail. com, 081349048826 A Received 01 April 2021 A Accepted 15 April 2021 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: h ps://doi. org/10. 25311/keskom. Vol7. Iss1. Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 Interna onal License . p://crea vecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium Keskom. Vol. No. 130 April 2021 PENDAHULUAN Perubahan yang terjadi dalam hidup pasien setelah terserang stroke membawa dampak secara luas dalam kehidupannya, terutama dampak kepada fungsi Asik, mental maupun sosial. Secara psikologis pasien pasca stroke memiliki perubahan dan keterbatasn dalam bergerak, berkomunikasi dan berpikir yang sangat menggangu terhadap fungsi peran pasien. Perubahan Asik membuat pasien merasa terasing dari orang lain dan mereka berpikir bahwa dirinya dak berguna lagi karena hidup mereka lebih banyak tergantung pada orang lain. Sebagian pasien pasca stroke dak dapat melakukan pekerjaan seper biasa hal ini dapat memicu terjadinya stress bahkan depresi (Acivena, 2. Depresi merupakan gangguan neuropsikiatri yang paling banyak terjadi pada pasien pasca stroke. Depresi pada pasien pasca stroke ditemukan sekitar 20-65 %. Prevalensi ini menunjukkan angka yang cukup nggi. Tingginya angka prevalensi depresi pada pasien pasca stroke sering dihubungkan dengan lokasi lesi anatomik dari stroke. Pada umumnya gejala depresi muncul 1-2 bulan setelah serangan stroke (Biantoro dkk. Depresi pasca stroke ditandai dengan perasaan sedih, hilangnya minat terhadap ak vitas dan berkurangnya energi. Depresi pasca-stroke merupakan salah satu komplikasi stroke yang ditandai oleh abnormalitas mood, menyalahkan diri sendiri, kesedihan bahkan dapat menghambat proses rehabilitasi dan penyembuhan yang buruk serta peningkatan mortalitas (Susilawaty, 2. Depresi pasca stroke menjadi prioritas masalah yang harus ditangani karena masih sedikit pasien yang mendapat perawatan dan pengobatan, karena kurangnya perha an terhadap depresi pasca stroke menyebabkan kondisi pasien semakin memburuk, sementara intervensi dan pengobatan depresi yang tepat dapat memberi keuntungan dalam penyembuhan dan bahkan mempersingkat proses rehabilitasi. Memperha kan hal tersebut sehingga kontribusi perawat sebagai tenaga kesehatan yang berperan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien depresi pasca stroke sangat diperlukan agar dapat membantu mengurangi terjadinya depersi pada pasien pasca stroke. Adapun Intervensi keperawatan yang dapat diberikan dalam menagani pasien depresi pasca stroke yaitu dengan melakukan edukasi tentang terapi perilaku kogni f kepada pasien dan keluarga. Terapi perilaku kogni f adalah bentuk psikoterapi yang menekankan pen ngnya peran pikiran yang dilandasi kognisi, asumi, kepercayaan dan perilaku dengan tujuan mempengaruhi emosi yang terganggu. Terapi perilaku kogni f betujuan membantu pasien untuk dapat merubah sistem kenyakinan yang nega f, irasional dan mengalami penyimpangan menjadi posi f dan rasional sehingga secara bertahap menjadi reaksi soma k dan perilaku yang lebih sehat dan normal. Dengan pemberian terapi perilaku kogni f diharapkan pasien pasca stroke dapat h p://jurnal. memiliki cara berpikir lebih baik untuk membantu proses penyembuhannya (Lincoln & Flannaghan, 2. Terapi perilaku kogni f mengajarkan klien mengatasi pikiran yang nega f yang dipengaruhi oleh perasaan dak berdaya, serta kemampuan untuk mengontrol pikiran nega f tersebut menjadi pikiran dan perilaku yang posi f. Hal ini sependapat dengan peneli an yang dikemukan oleh (Kristyaningsih, 2. , bahwa terapi perilaku kogni f yang diberikan pada pasien hemodialisa akibat gagal ginjal kronis mampu meningkatkan harga diri dan berpeluang menurunkan depresi pada pasien. Demikain juga peneli an yang dilakukan oleh (Setyaningrum dkk, 2. pada pasien Diabetes Melitus terapi perilaku kogni f dapat meningkatkan ak vitas perawatan diri. Peneli an ini berbeda dengan dengan peneli an terdahulu, peneli an ini difokuskan kepada pasien depresi pasca stroke yang dirawat di rumah dan datang berobat jalan ke Puskemas. Depresi paska stroke merupakan faktor yang penyebabkan sulitnya pasien stroke untuk sembuh, sehingga diperlukan penangan untuk mengatasi depresi pasca stroke. Untuk itulah sehingga peneli tertarik melakukan peneli an tentang pengaruh terapi kogni f terhadap pasien depresi pasca stroke. METODE Peneli an ini merupakan peneli an yang menggunakan pendekatan kuan ta f dengan pe peneli an eksperimen. Desain yang digunakan adalah pre-test post-test kontrol group menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen atau kelompok perlakukan dan kelompok kontrol. Intervensi yang diberikan pada kelompok perlakukan adalah terapi perilaku kogni f. Peneli an ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada perubahan kondisi depresi pasien pasca stroke sebelum dan sesudah dilakukan terapi perilaku kogni f. Peneli an ini membandingkan dua kelompok pasien depresi pasca stroke yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kota Palangka Raya. Kelompok perlakukan adalah kelompok diberikan terapi perilaku kogni f, sedangakn kelompok kontrol adalah kelompok yang dak diberkan terapi perilaku kogni f. Analisis dalam peneli an ini dilakukan dengan memelalui uji t berpasangan. Populasi dan sampel dalam peneli an ini adalah pasien pasca stroke di 4 . wilayah Puskemas yaitu Puskemas Menteng. Puskesmas Bukit Hindu. Puskesmas Pahandut dan Puskesmas Panarung kota Palangka Raya dengan kriteria inklusi berusia 40 65 tahun, bersedia menjadi responden, kesadaran baik, komunika f dan koopera f, mengalami depresi pasca stroke yang diukur berdasarkan kuesioner HDRS dengan jumlah responden sebahyak 50 orang yang ditetapkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakukan dan kelompok kontrol yang dilakukan selama 3 ( g. bulan dari bulan September s. Desember 2019. Pengumpulan data pada peneli aan ini dilakukan melalui lembar pertanyaan kuesioner berupa biodata respoden yang Maria Magdalena Purba, et al Cogni ve Behavioral Therapy for Post-Stroke Depressed Pa ents Terapi Perilaku Kogni f Terhadap Pasien Depresi Pasca Stroke berisi karakteris k responden yang melipu inisial responden, jenis kelamin, usia, status perkawian, pendidikan dan pekerjaan. Dan kuesioner pengumpulan data pengukuran ngkat depresi pasien pasca stroke menggunakan skala nilai depresi dari Hamilton (HDRS). Telah diuji reabilitasnya dengan koeAsien CronbachAos alpha 0,86 dengan 20 pertanyaan yang melipu perasaan bersedih, perasaan bersalah, perasaan bunuh diri, sulit dur, ak vitas, retardasi, agitasi, soma k, hipokondriasis dan perasaan dak berharga dengan pilihan jawaban memiliki interpretasi rentang nilai 0-50 dengan nilai keseluruhan 8-13 depresi ringan, 14-18 depresi sedang, 19-22 depresi berat, dan > 23 depresi sangat berat. Setelah kuesioner terkumpul sesuai dengan jumlah sampel maka peneli melakukan analisis terhadap kondisi depresi pasien pasca stroke. Hasil analisis dikelompokkan sesuai dengan ngkat depresi yang dialami responden. Responden yang mengalami depresi sedang sampai berat diberikan intervensi terapi perilaku kogni f. Terapi perilaku kogni f ini bertujuan untuk menurunkan ngkat depresi pasca stroke. Pelaksanaan terapi perilaku kogni f dilakukan melalui 4 sesi yaitu: sesi 1: mengiden kasi pikiran otoma s yang nega f. sesi 2: penggunaan tanggapan rasional terhadap pikiran otoma s yang nega f, sesi 3: manfaat tanggapan rasional terhadap pikiran otoma s yang nega f . ngkapan hasil dalam mengiku terapi perilaku konig . , sesi 4: melibatkan keluarga sebagai support system. Terapi perilaku kogni f ini diukur melalui buku catatan harian dan buku evaluasi yang diisi oleh terapis. Pengelohan dan analisa data dalam peneli an ini dilakukan dengan menggunakan so ware computer, melalui 2 tahap yaitu melalui analisis deskrip f univariat dan bivariat, diskrip f univariat dilakukan untuk melihat gambaran karakteris k masing-masing variabel, baik kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Sedangkan analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji korelasi regresi sederhana untuk kesetaraan karekteris k responden serta uji t berpasangan untuk menguji hubungan yang signiAkan antara dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen, yaitu perubahan ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok intervensi setelah diberikan intervensi terapi perilaku kogni f. HASIL Analisis univariat Karakteris k responden berdasarkan skala depresi. Karakteris k reponden pada peneli an ini ukur berdasarkan skala depresi HDRS dapat dijelaskan seper pada tabel 1 berikut Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteris k responden berdasarkan skala depresi HDRS Tabel 1 di atas menjelaskan bahwa ngkat depresi pasien pasca stroke pada jenis kelamin laki-laki pada kategori ngkat depresi berat lebih nggi dari pada jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 57. Berdasarkan kelompok usia menunjukkan bahwa frentang dalam rentang katogeri ngkat depresi sedang yaitu sebanyak 66. Berdasarkan status pernika--n menunjukkan bahwa status menikah 84. 2% mengalamai kategori ngkat depresi berat, sedangkan berdasarkan status pekerjaan wiraswasta mengalami katergori ngkat depresi berat Tingkat depresi pasien pasca stroke Tingkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok perlakukan mengalami penurunan atau berada pada rentang kategori normal . setelah mendapatkan perlakukan terapi perilaku kogni f. Terapi perilaku kogni f ini diberikan dari sesi 1 sampai sesi 4 sebanyak dua kali. Sesi 1 melipu iden Akasi pikiran otoma s yang nega f dengan tujuannya adalah untuk: . pasien mampu mengungkapkan pikiran-pikiran otoma s nega vf. Pasien mampu memilih satu pikiran otoma s nega f yang dirasakan paling utama . untuk didiskusikan dalam pertemuan saat ini, . Pasien mampu memberikan tanggapan rasional terhadap pirian otoma s nega f pertama, . pasien dapat menuliskan pikiran otoma s nega f dan tanggapan rasional lainnya, . pasien dapat meningkatkan kemampauan untuk menyelesaikan masalah. Sesi 2 yaitu penggunaan tanggapan rasional terhadap pikiran otoma s yang nega f. Sesi ini bertujuan untuk: . Evaluasi kemampuan pasien dalam memberi tanggapan rasional dan pembuatan catatan harian terhadap pikiran otoma s pertama yang telah didiskusikan dalam pertemuan sebelumnya . ertemuan sesi-. , . mampu memilih pikiran otoma s nega f kedua yang diselesaikan dalam pertamuan kedua, . Pasien mampu memberikan tanggapan rasional terhadap pikiran otoma s nega f kedua dan menuliskannya dilembar/buku catatan harian, j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. 132 April Pasien mampu meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah terkait dengan pikiran otoma s yang mbul, . Pasien mampu menuliskan kembali pembuatan catatan harian terkait dengan penyelesaian masalah dalam mengatasi pikiran otoma s lainnya. Sesi 3 manfaat tanggapan rasional terhadap pikiran otoma s yang nega f . ngkapan hasil dalam mengiku terapi perilaku kogni . adapun tujuan dari sesi ini adalah : . Evaluasi kemampauan pasien dalam memberikan tanggapan ra onal dan pembuatan catatan harian terhadap pikiran otoma s nega f pertama dan kedua tentang dirinya yang telah didiskudikan dalam pertemuan sebelumnya, . Pasien mampu memilih pikiran otoma s nega f ke ga yang akan diselesaikan dalam pertemuan kedua ini, . Pasien mampu memberikan tanggapan rasional terhadap pikiran otoma s nega f ke ga tentang dirinya dan menuliskannya di lembar tanggapan rasional dalam buku catataan harian pasien, . Pasien mampu meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah terkait dengan pikiran otoma s yang mbul, . Pasien mampu menuliskan kembali pembuatan catatan harian terkait dengan penyelesaian masalah dalam mengatasi pikiran otoma s lainnya, . Pasien dapat memberi tanggapan . terhadap pelaksanaan terapi kogni f, . Pasien dapat mengungkapkan hambatan yang ditemui dalam membuat catatan harian, . Pasien dapat mengungkapkan hasil dan manfaat dalam mengiku terapi kogni f, . dapat meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah terkait dengan pikiran-pikiran otoma s nega f yang mbul. Sesi 4 melibatkan keluarga sebagai support system pasien dengan tujuan adalah: Meningkatkan komunikasi perawat dengan pasien dan keluarga / pengasuh, . Pasien mendapat dukungan (Support sys . dari keluarga / pengasuh, . keluarga / pengasuh dapat menjadi Support sys m bagi pasien. Dari paparan tersebut di atas maka dapat dianalisis ngkat depresi pasien pasca stroke setelah dilakukan intervensi terapi perilaku kogni f pada kelompok perlakukan yang dijelaskan pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Distribusi ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok perlakuan setelah diberikan intervensi terapi perilaku kogini f Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok perlakukan setelah diberikan terapi perilaku kogni f diperoleh hasil bahwa ngkat depresi pasien pasca stroke mengalami penurunan atau berada pada kategori ngkat depresi normal dalam rentang 0-7 sebanyak 25 orang atau 100%. h p://jurnal. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk menganalisis hubungan antara dua variabel kelompok yaitu antara variabel kelompok intervensi dengan variabel kelompok kontrol serta untuk membuk kan hipotesis peneli aan. Dari hasil analisis data yang telah dilakukan didapatkan bahwa data adalah berdistribusi normal sehingga uji sta s k yang digunakan pada peneli an ini adalah analsis bivariat dengan uji t berpasangan. Berikut dijelaskan hasil analisis uji t berpasangan untuk mengetahui apakah ada perbedaan ngkat depresi pasien pasca stroke berdasarkan skala depresi HDRS menurut jenis kelamin, kelompok umur, status perkawainan, pendidikan dan pekerjaan. Serta untuk mengetahui apakah ada perbedaan nilai rata-rata ngkat depresi pasien pasca stroke berdasarkan skala depresi HDRS sebelum dan setelah diberikan intervensi kepada kedua Berikut disajikan hasil analisis uji t berpasangan. Hubungan Tingkat depresi pasien pasca stroke berdasarkan skala depresi menurut jenis kelamin, kelompok umur, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan. Analisis hubungan ngkat depresi pasien pasca stroke berdasarkan skala depresi HDRS menurut jenis kelamin, kelompok umur, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan dijelaskan seper tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Analisis hubungan ngkat depresi pasien pasca stroke terhadap depresi menurut jenis kelamin, kelompok umur, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan Tabel 3 menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejadian depresi pasien pasca stroke yaitu nilai p < 0,05. Sehinga ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian depresi pada pada pasien pasca stroke. Sedangkan pada jenis kelamin, kelompok umur dan status perkawinan dak ada hubungan kejadian depresi yaitu nilai p > 0,05. Intervensi terapi kogni f pada peneli an ini dilakukan sebanyak 4 sesi. Pada Sesi 1 dan sesi 2 peneli menjelaskan tentang informasi terapi perilaku kogni f, sesuai dengan masing- Maria Magdalena Purba, et al Cogni ve Behavioral Therapy for Post-Stroke Depressed Pa ents Terapi Perilaku Kogni f Terhadap Pasien Depresi Pasca Stroke masing tujuan sesi, dimana respoden memperoleh pengetahuan mengenai keterkaitan pikiran-perasaan perilaku dan Asiologis, serta menginden asi perasaan nega f dari dalam diri responden dan tanggapan rasional tentang pikiran otoma s yang Pada sesi ini pasien menuliskan da ar pikiran otoma s nega f, tanggapan rasional terhadap pikiran otoma s tersebut, dan pada catatan harian pasien dituliskan bagaimana hasil dari tanggapan rasional itu. Pada pertemuan kedua untuk sesi 1 dan sesi 2 peneli melakukan evaluasi dengan cara menanyakan perasaan pasien setelah menjalani terapi sesi 1 dan sesi 2, serta mengajurkan pasien agar senan asa berla h dirumah tentang melawan pikiran otoma s nega f dengan aspek posi f yang dimiliki pasien. Pertemuan kedua yaitu sesi 3 dan sesi 4 peneli bersama responden mendiskuisikan tentang tanggapan rasional otama s yang nega f yaitu ungkapan dari responden dalam mengiku terapi perilaku kogni f dan adanya dukungan Evaluasi pada sesi ini pasien mampu memberi tanggapan rasional dan membuat catatan harian terhadap pikiran otoma s nega f pertama dan kedua tentang dirinya yang telah didiskusikan dalam pertemuan sebelumnya, serta mampu menyebutkan pikiran otoma s ke ga pada petemuan sesi ini serta menuliskan dalam lembar tanggapan rasional dan catatan Dan pada sesi 4 peneli menganjurkan kepada keluarga/pengasuh untuk dapat menerima dan merawat pasien serta mengingatkan keluarga untuk melakukan apa yang telah dilakukan oleh peneli bersama pasien. Dari paparan tersebut diatas maka dapat dianalisis perbedan nilai rata-rata ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok intervensi sebelum dan setelah intervensi seper dijelaskan pada table 4 berikut ini. Tabel. Perbedaan nilai rata-rata ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok intervensi sebelum dan setelah intervensi Dari tabel 4 tersebut di atas menunjukkan bahwa nilai p < 0,05 dan IK dak melawa nol, secara sta s k terdapat perbedaan nilai rata-rata ngkat depresi pasien pasca stroke berdasarkan skala depresi HDRS pada kelompok intervensi sebelum dilakukan terapi perlaku kogni f dan setelah dilakukan terapi perlaku kogni f sesi 1-sesi 4, hasil analysis ini menunjukkan skore nilai ngkat depresi pasien pasca stroke mengalami penurunan atau lebih banyak berada pada ngkat kategori normal, yaitu pada rentang . PEMBAHASAN Karakteris k subjek peneli an Hasil analisis peneli an ini menunjukkan bahwa jenis kelamin responden lebih banyak laki-laki dari pada perempuan. Studi terdahulu mengemukan bahwa wanita lebih rentan mengalami depresi dari pada pria (Frisch & Frisch, 2006 dalam Kristyaningsih Karakterisitk responden berdasarkan usia dari kedua kelompok yang ter nggi adalah rentang usia 51-60 tahun dimana kelompok intervensi sebanyak 13 orang atau sebesar 54. 2% dan kelompok kontrol sebanyak 11 orang atau sebesar 45. Depresi dapat terjadi pada se ap individu , apalagi pada individu mengalami suatu penyakit depresi pasca stroke, semakin meningkat usia prevalensi depresi pasca stroke juga semakin meningkat, dimana usia lebih dari 55 tahun berisoko 5. menderita stroke dibandingkan usia 15-44 tahun (Ratep dan Putera, 2. Munir et. juga mengemukakan bahwa ada pengaruh yang signiAkan antara usia dengan depresi pasca stroke dengan nilai p<0. 05, hal ini juga sependapat dengan hasil peneli an (Purba, 2. menunjukkan hasil usia berpengaruh signiAkan terhadap depresi dengan nilai p <, 0. Sedangkan Karakteris k responden berdasrkan status perkawinan baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol yang terbanyak adalah status menikah yaitu 52. 4% untuk kelompok intervensi dan 6% untuk kelompok kontrol. Pasien depresi pasca stroke pada umumnya cenderung sudah menikah dan mempunyai pasangan. Kakteris k responden berdasarkan Pekerjaan diperoleh hasil sama pada pekerjaan sebagai wiraswasta antara kelompok intervensi dan kelompok yang paling banyak adalah wiraswasta. Tingkat depresi pasien pasca stroke Hasil analisis dari peneli an ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara ngkat depresi pasien pasca stroke sebelum dilakukan intervensi dengan setelah dilakukan intervensi dimana hasil score nilai ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok perlakukan setelah diberikan intervensi berada dalam rentang katagori normal yaitu rentang 0-7. Depresi pada pasien pasca stroke adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah (Azizah, 2. Pada pasien pasca stroke Depresi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang mengalam gangguan yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang berkelanjutan serta penurunan ak vitas psikomotor dan perasaan dak berguna karena dak mampu melakukan ak vitas sehari-hari nya secara mandiri. Depresi juga menghambat proses rehabilitasi pada pasien stroke. Terapi perilaku kogni f merupakan terapi yang efek f untuk pasien depresi pasca stroke. Terapi perilaku kogni f dapat mengurangi gejala depresi pada beberapa pasien stroke, dengan memberikan terapi perilaku kogni f kepada pasien pasca stroke dapat membantu pasien memiliki cara berpikir yang lebih baik untuk membantu proses (Lincoln dan Flannaghan, 2. Pendapat ini juga diperkuat oleh (Setyoadi dkk, 2. yang mengemukakan bahwa terapi perilaku kogni f merupakan proses j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. 134 April mengiden Akasi atau mengenal pikiran-pikiran nega f yang mendorong menurunnya depresi yang menetap. Terapi kogni f juga dapat membantu pasien dalam mengiden kasi, menganalisis dan menentang keakuratan kognisi pasien agar dapat mengatasi depresi. Perbedaan nilai rata-rata ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok intervensi sebelum dan setelah intervensi Hasil analisis uji t ngkat depresi pasien pasca stroke terhadap skala depresi HDRS menurut jenis kelamin, kelompok umur, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan menunjukkan hasil bahwa dak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, kelompok umur dan status perkawinan dengan kejadian depresi yang ditunjukkan dengan nilai p > 0,05. Hal ini dak sependapat dengan peneli an terdahulu yang dikemukan oleh Kaplan & Sandock dalam Biantoro . yang mengemukakan bahwa pasien pasca stroke berjenis kelamin laki-laki lebih banyak mengalami depresi dibanding dengan perempuan. Sedangkan berdasarkan teori Bowden 1997 dalam (Biantori 2. mengemukan bahwa perempuan dan laki-laki pada umumnya beresiko sama terhadap depresi. Sedangkan hubungan pekerjaan dengan kejadian depresi pasien pasca stroke menunjukkan hasil yang bermakna yaitu nilai p < 0,05. Hasil analisis dari uji tersebut diperoleh perbedaan mean adalah 12,9 atau IK 95% 8,602 sampai 17,198 dan nilai p < 0,05 dan IK dak meliwa nol, maka secara sta s k terdapat perbedaan rata-rata skor nilai ngkat depresi pasien pasca stroke yang bermakna pada kedua kelompok sebelum dan setelah dilakukan Sedangkann hasil analisis Perbedaan nilai rata-rata score ngkat depresi pasien pasca stroke berdasarkan skala depresi HDRS pada kelompok intervesni sebelum dan setelah intervensi menunjukkan bahwa nilai p < 0,05 dan IK dak melawa nol, secara sta s k terdapat perbedaan nilai rata-rata ngkat depresi pasien pasca stroke berdasarkan skala depresi HDRS pada kelompok intervensi sebelum dilakukan terapi perlaku kogni f dan setelah dilakukan terapi perlaku kogni f sesi 1-4, menunjukkan skore nilai ngkat depresi pasien pasca stroke mengalami penurunan atau berada pada kategori normal. Hasil peneli an ini menunjukkan adanya penurunan yang bermakna nilai ngkat depresi pasien pasca stroke pada kelompok intervensi . elompok yang mendapat terapi kogni . , sebelum mendapat terapi kogni f dan setelah mendapat terapi kogni f. Hasil peneli an ini sependapat dengan yang apa dikemukan oleh Stuart . , bahwa terapi perilaku kogni f di indikasikan untuk pasien dengan depresi. Lincoln dan Flannaghan, . juga berpendapat bahwa Terapi perilaku kogni f dapat mengurangi gejala depresi pada beberapa pasien stroke, dengan memberikan terapi perilaku kogni f kepada pasien depresi pasca stroke maka dapat membantu pasien memiliki cara berpikir yang lebih baik untuk membantu proses penyembuhannya, hal ini menunjukkan bahwa terapi perilaku kogni f merupakan terapi yang tepat untuk mengatasi atau menurunkan kondisi depresi pada pasien pasca stroke di wilayah kerja Puskesmas kota Palangka Raya. Hasil peneli an ini juga memperkuat oleh hasil peneli an Rizki dkk . yang mengemukakan bahwa terapi perilaku kogni f berpengaruh dalam menurunkan derajat symptom depresi, yang ditandai dengan menurunnya simton emosi nega f pada pasien pasca stroke, meningkatkan mo vasi untuk meningkatkan kesehatan dan menurunkan keluhan Asik. Kesimpuan akhir dari peneli an ini adalah bahwa terapi perilaku kogni f bepengaruh terhadap penurunan nilai score ngkat depresi pasien pasca stroke di Kota Palangka Raya. KESIMPULAN Terapi perilaku kogni f dapat menurunkan score nilai ngkat depresi pasien pasca stroke. Sebelum diberikan terapi perilaku kogni f, 89,5% berada pada kategori berat . core 19-. Namun setelah diberikan intervensi terapi perilaku kogni f score nilai ngkat depresi pasien pasca stroke berada pada rentang kategori dak depresi dan kategori ringan . core 0-. Perlu dukungan keluarga untuk mengubah Akiran nega f pasien pasca stroke kearah yang lebih posi f sehingga mampu meningkatkan mo vasi dan harapan kepada kesembuhan dengan melakukan terapi perilaku kogni f dengan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan dalam pemberian edukasi. Ucapan Terima Kasih Terima kasih diucapkan kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya peneli an ini terutama kepada direktur Poltekkes Kemenkes Palangka Raya yang telah memberikan dana untuk pelaksanaan peneli an ini. DAFTAR PUSTAKA Acivena, . Perubahan Fisiologis Pasca Stroke. Rineka Cipta. Jakarta A r d i M u h a m m a d ( 2 0 1 1 ) A n a l i s i s H u b u n ga n Ke dakmampuan Fisik Dan Kogni f Dengan Keputusasaan Pada Pasien Stroke Di Makasar. Fakultas Keperawatan. Universitas Indonesia, h p://lib. id /tesis/ Azizah, . Keperawatan Jiwa (Aplikasi Prak k Klini. Yogyakarta : Graha Ilmu. Badan Peneli an dan Pengembangan Kementerian Kesehatan. RI . Laporan Nasional Riskesdas h p://w. Litbang. Biantoro. Tohri. Juariah. Hubungan Karakteris k Individu Dengan Tingkat Depresi Pasca Stroke di Poliklinik Saraf RS Rajawali Bandung. (Jurnal S kes Ahmad Yan. FIK UI, . Modul Terapi Keperawatan Jiwa. j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Maria Magdalena Purba, et al Cogni ve Behavioral Therapy for Post-Stroke Depressed Pa ents Terapi Perilaku Kogni f Terhadap Pasien Depresi Pasca Stroke Hamilton. AA Ra ng Scale For DepressionA. J o u n a l O f N e u r o l o g y A n d P s y c h i a t r y, . p://w. Disability. Journal of Disability Policy Studies,16,No. ,Januari2. p://dps. com/content/16/4/. Kauhanen. Poststroke Depression Correlates with Cogni ve Impairment and Neurological DeAcits. Dallas: American Heart Associa on. Kristyaningsih. T, . Pengaruh perilaku kogni f terhadap harga diri dana kondisi depresi pada penderita gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa RSUP Fatmawa Jakarta. Tesis Universitas Indonesia Lincoln. NB & Flannaghan, . Cogni ve Behavioral Psycotherapy for Depression following Stroke:A Random Controlled Trial. Jurnal American Heart Assosia on Maria Magdalena Purba, & Nang Randu Utama, . Disabilitas Klien Pasca Steroke terhadap Depresi. Jurnal Kesehatan. 10(No. 3 November 2. , 364353. Munir. Nasu on. , dan Purnamasari. Determinan yang Mempengaruhi Depresi pada Pasien Post Stroke Infark di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Malang Neurology Journal. (No. Pp : 59 Ae 62. Mu aqin. Arif, . Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika Nidya Rizky, . Pengaruh cogni ve Behavior Therapy (CBT) Untuk Menurunkan Symtom Depresi Pada Pasien Pasca Stroke. Pustaka.