Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra P-ISSN: 1978-8800. E-ISSN: 2614-3127 http://journal. um-surabaya. id/index. php/Stilistika/index Vol. 13 No. Januari 2020, hal 1 - 11 VARIASI SAPAAN PEDAGANG BUAH-BUAHAN DI MADURA VARIATION OF FRUIT TRADERS IN MADURA Yunita Suryani1*. Taswirul Afkar2. Siti Umi Hanik3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Ronggolawe Tuban. Indonesia 1. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Islam Majapahit. Mojokerto. Indonesia2. Administrasi Pendidikan. Universitas Gresik. Indonesia3 n1t4@gmail. com1, taswirulafkar26@gmail. com2 , hany. akasah@gmail. *penulis korespondensi Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Diterima: 27 November 2019 Direvisi: 26 Desember 2019 Disetujui: 14 Januari 2020 Variasi sapaan pedagang buah-buahan di pasar tradisional. Bangkalan. Madura terjadi secara alamiah saat tawar-menawar. Penelitian ini mendeskripsikan variasi sapaan pedagang kepada pembeli yang dipengaruhi faktor usia dan jenis kelamin pembeli. faktor hubungan kekerabatan. faktor etnis yang berbeda. Metode analisis data menggunakan teknik padan Hasil penelitian menunjukkan variasi sapaan pedagang, . berdasarkan usia dan jenis kelamin: sapaan Buk untuk wanita yang sudah menikah atau berusia lebih dari 30 tahun, sapaan Lek [Le?] untuk laki-laki muda berusia kurang lebih 17--20 tahun. berdasarkan hubungan kekerabatan: sapaan Lek [Le?] digunakan pedagang karena sudah mengenal . berdasarkan etnis yang berbeda: sapaan pada pembeli etnis Jawa menggunakan sapaan Dek yang biasa digunakan juga oleh orang Jawa untuk menyapa anak muda, begitu pula pada pembeli etnis Cina, pedagang menggunakan sapaan Ko atau Koko, . berdasarkan kelas sosial: Mik [Mi?] untuk wanita yang sudah haji atau usianya lebih tua dari pedagang. Kata kunci: variasi sapaan, pedagang buah. Madura Article Info ABSTRACT Article history: Received: 27 November 2019 Revised: 26 December 2019 Accepted: 14 January 2020 Variations in the greetings of fruit traders in traditional. Bangkalan. Madura occur naturally during bargaining. This study describes variations in the greeting of traders to buyers who are influenced by age and gender factors of buyers. kinship factors. and different ethnic factors. The data analysis method uses padan pragmatic techniques. The results showed variations in merchant greetings, . based on age and gender: book greetings for women who were married or over 30 years old, greetings lek . e?] For young men aged around 17-20 years. based on kinship: greeting lek . e?] used by traders because they already know the buyer. based on different ethnicities: greetings to Javanese ethnic buyers using dek greetings which are also used by Javanese to greet young people, as well as ethnic Chinese buyers, traders using ko or koko greetings, . based on social class: mik . i?] for women who are already on Hajj or are older than traders. Keywords: variations in greetings, fruit traders. Madura Copyright A 2020. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra DOI: http://dx. org/10. 30651/st. Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 PENDAHULUAN Sosiolinguistik pemakaiannya di dalam masyarakat. Menurut Appel sebagai sistem komunikasi, bahasa merupakan bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi kongkret (Samsuddin, 2. Dalam masyarakat sosial, bahasa adalah sistem komunikasi yang memungkinkan pemakainya saling berinteraksi dalam suatu peristiwa yang Pemakaian bahasa melibatkan dua orang atau lebih. Pemakaian tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu, menjalin kerjasama dan kesepakatan Guna mencapai kerjasama dan kesepakatan bersama, diperlukan saling paham atau kesepahaman bahasa yang digunakan dalam konteks sosial saat tertentu. Kesepahaman bahasa adalah saling mengerti bahasa yang digunakan dalam suatu peristiwa tutur. Kesepahaman tersebut meliputi: dapat memergunakan dan memahami bahasa yang sama, dapat memahami maksud yang terkandung dalam bahasa tersebut, serta dapat merespon atau memberikan umpan balik terhadap maksud bahasa guna mencapai kerjasama dan kesepakatan bersama. Kesepahaman bahasa terjadi dalam konteks sosial tertentu. Konteks sosial tersebut memunculkan ragam atau variasi bahasa, hal ini dikarenakan anggota masyarakat penutur bahasa juga beragam terlebih bahwa bahasa digunakan untuk keperluan yang beraneka ragam. Masyarakat penutur bahasa memiliki kesepakatan untuk berdasarkan status pemakaiannya. Pertama, variasi bahasa dipakai dalam situasi resmi, atau bahasa formal. kedua, variasi bahasa dipakai dalam situasi tidak resmi atau disebut bahasa Variasi bahasa tidak resmi atau nonformal dipelajari secara langsung dalam masyarakat umum. Setiap bahasa memiliki variasi bahasa sebagai perwujudan dari hubungan antara individu, kelompok, dan sikap masyarakat terhadap penggunaan bahasa. Wujud sikap dan hubungan tersebut tidak hanya berupa variasi bahasa saja, namun juga hubungan sistem bahasa. Wujud sistem bahasa tersebut seperti nama pangilan, cara bertegur sapa, tingkat berbahasa, dan gaya berbahasa (Aslinda& Leni, 2007:. Variasi bahasa berkaitan dengan penggunaan, pemakaian, atau fungsi disebut fungsiolek, ragam atau register (Nababan, 1. Variasi bahasa ini digunakan berdasarkan bidang, gaya, atau tingkat keformalan, dan sarana. Variasi bahasa berdasarkan bidang, menyangkut bahasa tersebut digunakan untuk keperluan atau bidang Misalnya, jurnalistik, medis, pendidikan dan perdagangan. Salah satu variasi bahasa yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah variasi bahasa berkenaan dengan sapaan. Sistem sapaan merupakan salah satu kajian yang bertujuan untuk Hal tersebut seperti yang Sumampouw . yang menyatakan bahwa setiap tindak ujaran yang dihasilkan dalam peristiwa ujaran yang tercipta bersemuka dalam ragam apa pun melibatkan salah satu segi yang penting, yakni sistem penyapaan. Dalam interaksi sosial sistem sapaan mempunyai istilah lain, yaitu tutur Kridalaksana . bahwa sistem tutur sapa merupakan pertautan seperangkat kata atau ungkapan guna menyebut atau memanggil pemakai Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 bahasa dalam suatu peristiwa tuturan. Lebih lanjut Kartomiharjo mengatakan bahwa sapaan merupakan salah satu komponen bahasa yang penting karena dalam sapaan tersebut dapat ditentukan suatu interaksi tertentu akan berlanjut (Subiyatningsih, 2. Berdasarkan hal tersebut di atas, jelas bahwa sapaan sangat penting dalam suatu peristiwa bahasa, meskipun para pemakai bahasa tidak menyadarinya. Sapaan tersebut berfungsi mempermudah penyampaian maksud tuturan, serta menjalin hubungan kerjasama agar tercapai Dalam berbagai lingkungan, saat seseorang dihadapkan pada struktur hirarkis, ada bentuk sapaan yang harus Seseorang yang berada di bagian bawah hirarki akan mengurangi perbedaan status dari orang yang berada di atas, sebaliknya orang yang berada di bagian atas hirarki akan tetap memperbesar perbedaan itu. Setiap kelompok hirarki menggunakan istilah tertentu dalam menyapa, misalnya kelompok di bagian bawah hirarki kelompok atas menggunakan istilah Variasi sapaan berhubungan dengan status sosial seseorang, tingkat Status sosial, tingkat keakraban, istilah bertingkat, dan struktur sosial masyarakat dalam penelitian ini menunjuk pada pedagang kepada pembeli yang terjadi di lingkungan pasar tradisional. Pasar tradisonal adalah tempat bertemunya pedagang dan pembeli, ditandai adanya transaksi secara langsung, biasanya disertai proses tawar menawar. Bangunan pasar tradisional biasanya berupa kios atau gerai, akses keluar masuk dan jual beli di pasar lebih luas bagi para produsen dan konsumen dengan dasaran terbuka. Pasar tradisional menjual kebutuhan seharihari seperti daging, ikan, buah, sayur, telur, kain, serta kue (Malano, 2011:. Pedagang di pasar tradisional sama halnya dengan pedagang di pasar Mereka akan memerlakukan pembeli sebagai raja, agar transaksi berjalan dengan lancar tanpa proses tawar-menawar yang panjang, maka pedagang akan memanggil atau menyapa pembeli dengan bentuk sapaan orang dengan status sosial tingkat tinggi. Seperti menggunakan bentuk sapaan Umi guna menyapa pembeli yang sudah paruh baya, atau Ibu-Ibu yang memakai pakaian muslim dan berhijab. Bentuk sapaan umi biasa digunakan untuk menyebut wanita atau ibu yang sudah berhaji. Meskipun pedagang tidak mengetahui apakah pembeli wanita tersebut sudah berhaji atau belum, guna menghormati dan membuat pembeli terkesan maka pedagang menggunakan bentuk sapaan tersebut agar transaksi berjalan dengan lancar tanpa proses tawar-menawar yang lama. Penelitian pedagang secara umum pernah dilakukan oleh Iswatiningsih . dalam Jurnal Humanity dengan judul Keanekaan Sapaan dalam Tuturan Kontraktual Penjual dan Pembeli di Pasar Besar Malang. Penelitian tersebut mendeskripsikan . bentuk sapaan dalam tuturan kontraktual penjual di Pasar Besar Malang, dan . faktor penentu sistem sapaan dalam tuturan kontraktual penjual. Bentuk sapaan dalam tuturan kontraktual penjual di Pasar Besar Malang secara umum menggunakan sapaan Mbak. Mas. Bu [Bu. atau Ibu [Ibu. dan Pak [Pa. Bentuk sapaan lain adalah Mi [Mi. atau Umi [Umi. Pak Haji. Dik. Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 Ko. Cik. Te serta nama diri. Faktor penentu sistem sapaan meliputi: . jenis kelamin, . usia, . kedudukan, . status sosial, serta . asal-usul. Penelitian di atas menunjukkan bahwa bentuk sapaan di setiap daerah dapat berbeda, meskipun ada beberapa bentuk sapaan yang sama. Pada penelitian di atas, data diambil dan diperoleh di pasar semi tradisional pada pedagang yang menjual berbagai macam produk di toko atau stand, antara lain kain, crayon, sepatu, daging. Pada penelitian terbaru ini, peneliti mengambil dan memeroleh data hanya dari pedagang buah-buahan di pasar Selain itu, penelitian variasi bahasa juga pernah dilakukan oleh Ghofur . dengan judul Analisis Ragam Tuturan Para Pelaku Pasar Kabupaten Pamekasan. Penelitian mendeskripsikan . bentuk sapaan penjual di pasar Kabupaten Pamekasan, . ragam sapaan yang muncul didalam respon petutur di pasar Kabupaten Pamekasan, . faktor-faktor yang melatar belakangi penggunaan sapaan di Pasar Kabupaten Pamekasan. Hasil dalam penelitian tersebut yaitu: . bentuk sapaan penjual Le . Nom . Nyah . Pak . Bhi . Yu . Mbhug . bU?]. Bak . Nak . Empean . Ceng . aU]. Ning . IU]. Jih . ragam sapaan yang muncul di dalam respons petutur bersifat asimetris, meskipun antara penutur-petutur menggunakan istilah . faktor-faktor yang melatar belakangi penggunaan sapaan antara lain jenis kelamin dan usia, cara berpakaian pembeli. Penelitian di atas, data diambil dan diperoleh dari tuturan pedagang dalam hal ini adalah pelayan toko yang berada di pasar tradisional. Penelitian pedagang buah-buahan di pasar tradisional. Bangkalan. Madura yang tidak memiliki stand khusus atau berada di dalam ruang seperti toko. Pedagang buah-buahan tersebut hanya menggunakan meja dari kayu, keranjang bahkan karung beras sebagai alas dagangannya dan tidak memiliki Ragam atau variasi bahasa yang digunakan di pasar bersifat nonformal. Bahasa yang digunakan tidak mengikat penuturnya menggunakan bahasa sesuai kaidah yang benar, namun mengikat penuturnya dengan bahasa yang baik. Pembeli memiliki latar belakang yang berbeda-beda, namun pedagang tidak perlu mengetahuinya untuk mencapai kesepakatan dalam Hal sapaan pedagang pada pembeli. Menurut Chaer . sapaan menegur, atau menyebut orang kedua, atau mitra bicara. Sapaan pada setiap bahasa memiliki keunikan selain bersifat universal sapaan juga memiliki sifat khas yang spesifik yang tidak dimiliki atau berbeda dengan bahasa Bentuk sapaan yang digunakan suatu masyarakat bahasa tidak selalu sama, walaupun makna yang dimaksud Hal tersebut dipengaruhi oleh letak geografis daerah. Setiap daerah memiliki bahasa masing-masing yang Setiap daerah memiliki variasi bahasa yang digunakan berdasarkan perbedaan latar belakang pemakainya, seperti faktor usia, jenis kelamin, etnis, dan tingkat sosial pemakainya. Tentu saja variasi bahasa yang muncul dalam pemakaian adalah bentuk sapaan. Variasi sapaan dapat muncul di berbagai situasi kebahasaan. Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 lingkungan rumah, sekolah, kantor, bahkan umum seperti di pasar. Variasi sapaan di pasar cenderung bersifat Pedagang dapat menyapa pembeli tanpa perlu tahu dan bertanya latar belakang pembeli seperti apakah pembeli adalah seorang Guru, seorang Dokter, atau seorang Ibu rumah tangga. Meskipun ada beberapa pedagang yang mengetahui latar belakang pembeli, biasanya mereka mengetahui dari pakaian yang dikenakan oleh pembeli, pada saat bertransaksi pembeli menyampaikan bahwa dirinya harus segera dinas atau memang ada hubungan kekerabatan di antara mereka seperti bertetangga. Berdasarkan penelitian ini mendeskripsikan variasi pedagang buah-buahan di pasar tradisional Bangkalan. Madura. Variasi sapaan dapat dipengaruhi oleh perbedaan usia dan jenis kelamin, hubungan kekerabatan, perbedaan etnis, dan kelas sosial. METODE Penelitian penelitian deskriptif kualitatif. Penulis menggunakan tiga langkah kerja, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian hasil analisis data, hal ini sesuai dengan yang dimaksudkan Sudaryanto . Data diperoleh di pasar tradisional Bancaran. Bangkalan. Madura. Subjek dalam penelitian ini adalah pedagang buah-buahan. Metode pada tahap penyediaan data, yaitu metode simak dengan teknik dasar Pada teknik sadap peneliti memeroleh data dengan menyadap penggunaan bahasa tuturan pedagang buah-buahan di pasar dan diikuti dengan teknik lanjutan yaitu simak bebas libat cakap (SBLC). Pada teknik tersebut peneliti hanya menyimak percakapan yang berlangsung antara pedagang dan pembeli tanpa ikut serta dalam proses percakapan. Peneliti menggunakan metode refleksif-introspektif mengembangkan jenis kalimat yang kurang dari perolehan data diawal (Sudaryanto, 1993:. Teknik analisis data menggunakan metode padan pragmatis dengan alat penentu adalah mitra tutur. Metode penyajian hasil analisis data menggunakan (Sudaryanto, 1993:. Metode formal guna mendeskripsikan lambanglambang transkripsi tuturan, seperti lambang Au[. ]Ay yaitu kurung siku sebagai transkripsi fonetis. yaitu hasil analisis data berupa kata dan kalimat, kata-kata. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli 2019 selama dua hari dengan memerhatikan kecukupan data guna menjawab fokus penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahasa Madura digunakan oleh etnis Madura sebagai alat komunikasi dengan anggota keluarga dan orangorang dari etnis Madura. Guna mengurangi salah paham dalam komunikasi serta menghargai mitra tutur, maka digunakan bentuk sapaan untuk memanggil, menyebut, atau menyapa mitra tutur. Biber (Nengsih, 2013:. menyatakan bahwa sapaan penting guna menjelaskan serta memelihara hubungan sosial antara petutur dan mitra tutur di dalam percakapan. Sapaan akan muncul dengan sendirinya terkecuali di lingkungan pasar. Pada dideskripsikan bentuk variasi bahasa melatarbelakangi penggunaan sapaan Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 tersebut oleh pedagang sebagai petutur kepada pembeli sebagai mitra tutur. Variasi sapaan pedagang buahbuahan berdasarkan usia dan jenis Setiap sapaan yang digunakan pasti mempunyai fungsi, yaitu untuk Sapaan yang digunakan oleh pedagang kepada pembeli bervariasi. Variasi tersebut didasarkan pada usia dan jenis kelamin pedagang dan Data 01 ( X = Pembeli . Y = Penjual ) Pedagang pisang X : berampah passeh Mik? . erapa pasnya Ibu?) Y : wes sepolo ebuh BuAo . udah, sepuluh ribu B. X : loAo korang BuAo, enjek pas wes BuAo pei toAo setong MiAo? . idak boleh kurang Bu?sudah pas ya B. Y : lo olle korang BuAo, lakarage pas wes sangang ebuh BuAo, endek . idak boleh kurang bu, harganya pas sembilan ribu Bu, tidak boleh Informan pembeli Nama : Nur Hayati Umur : 31 tahun Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Asal : Bangkalan. Madura Berdasarkan data 01 di atas, bentuk sapaan pedagang kepada pembeli adalah BuAo . u?]. Bentuk sapaan BuAo digunakan untuk seorang wanita yang sudah menikah atau berusia lebih dari 30 tahun. Bentuk sapaan BuAo merupakan bentuk singkat dari kata sapaan Ebuh. Bentuk sapaan Ebuh sudah umum atau biasa digunakan untuk menyebut atau menyapa wanita dewasa. Bentuk sapaan Ebuh biasanya juga digunakan menggendong atau membawa serta anak saat berbelanja. Selain itu, bentuk sapaan Ebuh digunakan untuk menyebut atau menyapa wanita yang berseragam dan bersepatu saat berbelanja, seperti Guru atau Karyawan Pada saat pengambilan data, peneliti tidak menemukan pembeli berjenis kelamin laki-laki dengan perkiraan usia 30 tahun. Bentuk sapaan lainnya yang dapat ditemukan adalah seperti data berikut ini. Data 02 Pedagang rambutan: Y : telo ebuh . iga rib. X : du ebu lemaAo olle BuAo? . ua ribu boleh Bu?) Y : loAo bisa Lek. Lakar hargena telo ebuh. LoAo ngajeAoi pole . ak boleh nak. Memang harganya tiga ribu. Belom bole. X : berempa BuAo, telo ebuh ye ?, tella wes buAo, melle sekilo bei . erapa bu, tiga ribu ya? iya deh Bu, beli satu kilo saj. Y : wes naber ceAo abitte, mellena nek sekilo bei, lo nambah LeAo ? . udah, hanya ini, belinya cuma satu kilo saja, tidak nambah Dek?) X : wes, enjek BuAo lo nambah. Cokop sakilo bei. udah, tidak nambah Bu. Cukup satu kilo saj. Informan Nama : Saiful Umur : 22 tahun Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 Pekerjaan : Mahasiswa Asal : Bangkalan. Madura Data 02, seorang pedagang akan menggunakan bentuk sapaan LeAo [Le?] pada seorang laki-laki yang masih muda yang berusia kurang lebih 17 Ae 20 tahun atau belum menikah. Bentuk sapaan LeAo merupakan bentuk singkat dari Alek. LeAo dapat digunakan juga untuk seorang perempuan yang masih Jadi LeAo dalam masyarakat Madura sifatnya netral. Bentuk sapaan lain yang muncul dan digunakan oleh pedagang kepada pembeli adalah Dek [De?] dan Nak [Na?]. Bentuk sapaan lain yang digunakan untuk menyapa seorang yang berjenis kelamin perempuan adalah Ning [NiU], atau Bak [Ba?]. Bentuk sapaan LeAo. Nak, dan Dek sifatnya netral bisa digunakan untuk wanita atau laki-laki yang usianya sekitar 7 Ae 20 tahun. Variasi sapaan pedagang buahbuahan berdasarkan kekerabatan Ada pula bentuk sapaan yang biasanya ditandai oleh keintiman atau keduanya, seperti data di bawah ini. Data 03 Pedagang sirsak X: MbuAo sirsakna setong petong ebu lema ratos ye? (Bu, sirsaknya satu tujuh ribu lima ratus ya?) Y:mare abit ta beli nyong. ama tidak beli nyon. Y: lo olle nyong, eberri sapoloh ebu ye, laghanan, laena duAobelles . idak boleh nyong. Saya beri sepuluh ribu ya, sudah langganan. Lainnya dua belas ribu. X: enjek MbuAo, petong ebuAolema duAoolle Mbu?biyasahna bellih dinna . idak Bu, tujuh ribu lima ratus, boleh apa tidak Bu? Biasanya beli di sini diberi. X: ye wes LeAo, berempa?. a sudah Le, berapa?) Y: lema . Informan Nama Umur Pekerjaan Asal : Pendik : 23 tahun : Pedagang Es : Madura Data 03, pedagang menggunakan kata sapaan Nyong dan LeAo pada pembeli karena sudah mengenal Pembeli sudah lama tidak datang membeli sempat membuat pedagang menaikkan harga dari harga jual yang dibeli pembeli tersebut sebelumnya namun masih di bawah harga normal pembeli lainnya. Bentuk sapaan Nyong pedagang kepada pembeli diciptakan sendiri oleh Pedagang tidak mengetahui awal mula menyapa dengan bentuk sapaan Nyong. Pedagang memakai bentuk sapaan Nyong begitu saja kepada pembeli karena sebelumnya sering membeli buah dagangannya jumlah cukup banyak. Pedagang menggunakan bentuk sapaan Nyong untuk menunjukkan bentuk kekerabatan dengan pembeli karena telah menjadi pelanggannya. Selain itu, pedagang menggunakan bentuk sapaan LeAo. Bentuk sapaan tersebut adalah bentuk singkat yang berupa suku kata akhir . LaAo dari kata AlaAo yang menunjuk pada kata ganti Aak atau Pedagang menggunakan bentuk sapaan LeAo di akhir percakapan guna menunjukkan persetujuan kepada Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 Variasi sapaan pedagang buahbuahan berdasarkan etnis yang Apabila seorang pembeli diduga berasal dari etnis Madura yang ditandai dengan penggunaan bahasa Madura ketika melakukan transaksi, pedagang juga akan menggunakan bahasa Madura untuk meresponnya. Namun apabila pembeli dari etnis lain seperti Jawa, menggunakan bahasa Jawa pedagang tidak fasih berbahasa Jawa namun paham maksud pembeli, maka pedagang akan menggunakan bahasa Indonesia untuk merespon. Berikut transaksi antara pedagang rambutan dengan pembeli. Data 04 Pedagang rambutan Y : rambutanne piroan BuAo? ( rambutanya harganya berapa BuAo?) X teloAoebuAo lima ratus Dek . iga ribu lima ratu. Y : telong ewu limangatos? gak oleh kurang Bu? . iga ribu lima ratus, tidak boleh kurang bu?) X : ya nggak boleh dek. Dari sananya saja sudah tiga ribu. Jadi saya jualnya ya tiga Informan Nama Umur Pekerjaan Asal : Ida : 20 tahun : Mahasiswa : Surabaya Data 04, bentuk sapaan pedagang dari etnis Madura pada pembeli etnis Jawa menggunakan bentuk sapaan [De. dari bentuk [Ade. yang biasa digunakan juga oleh orang Jawa untuk menyapa anak muda. Pembeli berasal dari Surabaya, pembeli menggunakan bahasa Jawa saat bertransaksi. Pedagang tersebut karena pembeli masih muda dan dari bahasa yang digunakan, pedagang mengetahui jika pembeli adalah orang beretnis Jawa, sehingga pedagang menggunakan sapaan Dek, bentuk sapaan yang dapat digunakan secara umum untuk menyebut atau menyapa anak muda. Ada pula pembeli yang tidak dapat berbahasa Madura sehingga hanya menunjukkan sikap yang dibantu mimik dan isyarat tangan. Sedangkan pedagang yang mengetahui jika lawan bicaranya dari etnis Cina, maka pedagang menggunakan kata sapaan Ko atau Koko. Data 05 Pedagang pisang X : . erbahasa isyarat dengan menunjukkan enam jari yang berarti pembeli mau membeli pisang dengan harga enam rib. Y : . erusaha memakai bahasa Indonesi. Kemarin ditawar enam belas ribu dua. Sampeyan bayar delapan ribu ndak apa-apa Ko! X : . emberikan uang tujuh rib. Y : . engembalikan uang pembel. Nambah seribu lagi Kukasih! X : . imiknya masih menyatakan tidak setuju, hampir pergi Y : Cuma nambah seribu KoA X : . iba-tiba kembali dan memberikan uang delapan ribu kepada penjua. Informan Nama : Okim . tnis Cin. Umur : 25 tahun Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 Pekerjaan: Wiraswasta Asal : Baru beberapa bulan tinggal di Bangkalan. Madura Data 05, dari awal menawar sampai terjadi kesepakatan, calon Cina mengujarkan apapun. Pembeli hanya menggunakan isyarat tangan untuk menawar barang dagangan. Keduanya berusaha menyesuaikan . eraba-rab. maksud isyarat tersebut agar terjadi Bentuk sapaan yang digunakan oleh pedagang adalah bentuk singkat yang berupa suku kata akhir . Ko dari bentuk sapaan Koko untuk menyebut atau memanggil anak laki-laki atau laki-laki muda beretnis Cina. Selain itu, pedagang menggunakan kata ganti Sampeyan untuk menunjuk pembeli. Kata sapaan Sampeyan umum digunakan untuk menunjuk kata ganti orang kedua dalam Pedagang menggunakan kata sapaan Sampeyan kepada pembeli beretnis Cina, dengan harapan agar pembeli memahami maksud pedagang. Transaksi terjadi cukup lama karena baik petutur maupun mitra tutur berbeda etnis. Guna memudahkan proses transaksi. maka pembeli menggunakan bahasa isyarat atau bahasa Indonesia kepada pedagang. Begitupula sebaliknya, pedagang akan menggunakan bahasa Indonesia guna mencapai kesepakatan dalam transaksi. Variasi sapaan pedagang buahbuahan berdasarkan kelas sosial Bentuk sapaan yang ditandai oleh kelas sosial, seperti data di bawah Data 06 Pedagang nangka X : MiAo, ariya berampa? (Mi,ini berapa?) Y : empaAo ebuh . mpat rib. X : loAo olle yo MiAo, telo ebuh? . idak boleh kurang ya Mik, tiga Y : loAo olle MiAo, wes ngepas hargena, empaAo ebuh . idak boleh Mi, sudah pas harganya empat rib. X : yo wis MiAo. Masak loAo olle? . a sudah Mi, masak tidak Y : iye tadek Mik. Wes hargena pas, apa pole nagka riya genteng . ya tidak bisa MiAo. Sudah pas harganya, apalagi nangka ini X : yo wis MiAo, berampa passe . ya sudah Mi, berapa pasnya Y : yella wis Mik, nambah lemaAo ratos laghi . a sudahMiAo, nambah lima ratus Informan Nama : Nursiah Umur : 50 tahun Pekerjaan: Ibu rumah tangga Asal : Bangkalan. Madura Data 06 pedagang telah mengenal akrab pembeli sehingga bentuk sapaan yang digunakannya pun Pedagang menggunakan kata sapaan Mik [Mi?], panggilan tersebut di Madura digunakan untuk menyapa seorang wanita/ ibu-ibu yang sudah Proses tawar-menawar terjadi cukup cepat. Meskipun ada penolakan dari pedagang, namun pada akhirnya pedagang memberikan potongan harga. Pedagang menggunakan kata sapaan [Mi?] dari bentuk sapaan Umi guna meninggikan kelas sosial pembeli Suryani. Afkar, dan Hanik/Variasi Sapaan Pedagang Buah-buahan di Madura Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Januari 2020 Hal 1 Ae 11 juga sebagai bentuk penghormatan pedagang kepada pembeli yang berusia paruh baya dengan memakai pakaian muslimah dan berhijab. Selain itu, pedagang berharap dengan memakai bentuk sapaan MiAo atau Umi, pembeli merasa terkesan sehingga mau membeli barang dagangannya dengan harga yang telah ditentukan tanpa menawar. Untuk lebih mempermudah pemerian variasi bentuk sapaan di Pasar Bangkalan. Madura dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 1. Variasi Sapaan Usia Jenis Sapaan Kelamin 7Ae25 Wanita bak . a?] - mbak ning . iU] lek . A?] - alek nak . a?] dek . e?] Ae adek Lakilek . A?] - alek nak . a?] dek . e?] Ae adek ko . - koko 25Ae Wanita buk . U?] - ebuh mik . i?] - umi Variasi sapaan tersebut di atas diperoleh berdasarkan perolehan data di lapangan saat terjadi transaksi jual beli buah-buahan. Hingga saat peneliti ditemukan penelitian terkait variasi sapaan pedagang buah-buahan di pasar tradisional. Bangkalan. Madura. Penulis berharap agar penelitian ini dapat bermanfaat guna pelestarian budaya terkait kesantunan berbahasa dalam bentuk sapaan di Madura. Selain itu, penulis juga berharap agar penelitian selanjutnya terkait dengan bentuk sapaan di Madura lebih mendalam dan berkembang pada ranah penelitian bahasa lainnya. PENUTUP Variasi sapaan di lingkungan nonformal dipengaruhi latar belakang penutur dan mitra tutur. Lingkungan nonformal dalam penelitian ini adalah di pasar tradisional. Bangkalan. Madura. Variasi sapaan diperlukan dalam setiap peristiwa tutur guna menunjukkan status sosial seperti menunjuk orang yang sudah berhaji dengan bentuk sapaan Umi, tingkat keakraban seperti menyebut atau memanggil dengan nama diri atau nama panggilan yang diciptakan oleh petutur guna menunjukkan keakraban dengan mitra tutur seperti memanggil mitra tutur dengan Nyong, dan struktur sosial masyarakat seperti seperti petutur yang lebih tua akan menyapa dengan sapaan LeAo. DeAo. Nak. Latar memengaruhi variasi sapaan pedagang kepada pembeli antara lain faktor usia dan jenis kelamin pembeli, faktor hubungan kekerabatan, faktor etnis yang berbeda, dan faktor kelas sosial. Variasi disesuaikan oleh pedagang kepada pembeli saat proses tawar-menawar guna mempermudah proses transaksi, dengan harapan terjadi kesepakatan harga antara pedagang dan pembeli. DAFTAR PUSTAKA