ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Keistimewaan Santri Abdi Dalem di Pondok Pesantren Maimunah Fil Madinah Mayangan Ahmad Dery Sulthonik Alamsyah1. Khudrotun Nafisah2. Mukari3 1, 2, 3 Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Darul Ulum konsulkulon@gmail. ABSTRAK Kajian yang diambil dalam penelitian ini adalah peran-peran yang lakukan oleh santri abdi dalem dalam pola hubungan yang ada pada Pondok Pesantren Maimunah Fil Madinah serta pengaruhnya terhadap privilege santri abdi dalem. Penelitian ini dilakukan di pondok pesantren Maimunah Fil Madinah, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) yang dikaji menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik milik George Herbert Mead dan didukung oleh teori Pertukaran Sosial milik Peter M. Blau. Informan dalam penelitian ini terdiri atas santri putra dan santri abdi dalem putra yang ada di Pondok Pesantren Mimunah Fil Madinah. Penelitian ini mengungkapkan beberapa temuan terkait peran santri abdi dalem, yang terdiri dari tiga peran utama, yakni sebagai penjaga tradisi dan teladan bagi seluruh santri, berperan penting dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai yang ada di sebagai penghubung antargenerasi, memfasilitasi komunikasi dan transfer sebagai asisten kiai yang membantu pelaksanaan berbagai aktivitas di pesantren. Peran-peran ini memberikan privilege, di antaranya santri ndalem mendapatkan kepercayaan khusus dan kedekatan dari kiai dan juga dari santri lainnya. memiliki akses eksklusif ke ndalem/tempat tinggal kiai. membentuk status sosial di antara pengasuh dan santri, menciptakan hierarki yang jelas dalam struktur komunitas pesantren. mendapatkan fasilitas yang lebih baik. Kata Kunci : Abdi dalem. Peran santri. Privilege. ABSTRACT The topic is about the roles played by abdi dalem students in the relationship patterns that exist at the Maimunah Fil Madinah Islamic Boarding School. This research was conducted at the Maimunah Fil Madinah Islamic boarding school, using a qualitative approach with the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) method which was studied using George Herbert Mead's Symbolic Interactionism Theory and supported by Peter M. Blau's Social Exchange theory. The informants in this research consisted of male students and male servants. This research reveals several findings regarding the role of abdi dalem santri, which consists of three main roles: abdi JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 dalem students function as guardians of tradition and role models for all students, playing an important role in maintaining and preserving the values in Islamic boarding schools. as a link between generations, facilitating communication and knowledge transfer. as an assistant to the kiai who helps in the implementation of various activities at the pesantren. These roles provide privileges, including ndalem students get special trust and closeness from the kiai and also from other students. have exclusive access to the ndalem/kiai residence. forming social status among caregivers and students, creating a clear hierarchy in the community structure of the pesantren. better facilities. Keywords: Abdi dalem. Role of Santri. Privilege PENDAHULUAN Kehidupan santri masa kini berbeda dengan kehidupan santri pada masa lampau. Saat ini, santri sering kali disebut sebagai "santri milenial," di mana setiap bidang keilmuan yang dipelajari dikombinasikan dengan pengetahuan modern dan sering kali melibatkan penggunaan teknologi dalam prosesnya. Tidak ada lagi kendala yang signifikan dalam mencari ilmu yang diajarkan, karena santri memiliki akses informasi yang luas dan terbuka dari berbagai sumber. Ilmu tidak hanya diperoleh melalui pengajian kitab, tetapi juga dapat diakses melalui internet dan berbagai media lain yang kini tersedia secara tak terbatas. Meskipun kemudahan akses informasi terutama dalam bidang ilmu agama yang menjadi inti pendidikan di pondok pesantren semakin meningkat, santri tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari kehidupan pondok pesantren hanya dengan memanfaatkan akses teknologi tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh Dawam dalam Abdul et al. , pondok pesantren mewarisi corak dan karakter masyarakat adat yang menanamkan ideologi pendidikan di Indonesia. Pesantren juga dianggap sebagai cikal bakal sistem pendidikan Islam di Indonesia yang mendidik santri dalam aspek keagamaan, akhlak, dan keilmuan sebagai bagian dari pendidikan nonformal. Pondok pesantren memiliki ciri khas tersendiri, baik dalam sistem pengajaran maupun organisasi, yang membedakannya dari bentuk pendidikan lainnya. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa santri tidak dapat hanya belajar melalui teknologi yang ada saat ini, dan pondok pesantren tetap relevan hingga sekarang. Menurut (Abdul et al. pondok pesantren bukan sekadar tempat untuk belajar, melainkan merupakan proses kehidupan itu sendiri, di mana terjadi pembentukan karakter, pengembangan potensi sumber daya, dan penguatan kemandirian sebagai bagian penting dari pengembangan diri di pondok pesantren. JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Keberadaan pondok pesantren juga didasarkan pada adanya komponenkomponen fundamental yang membentuknya. Seperti yang diungkapkan oleh Dhofier dalam (MaAoarif, 2. , suatu lembaga dapat dikategorikan sebagai pondok pesantren apabila memiliki lima elemen utama, yaitu pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kiai. Kiai dan santri merupakan aktor penting dalam kehidupan pesantren, yang menjadikan pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan yang unik. Pesantren berfungsi sebagai tempat untuk mendalami ilmu sekaligus menjadi ruang interaksi bagi para santri. Berdasarkan catatan sejarah, pendirian pondok pesantren dimulai dari seorang kiai yang menetap di suatu lokasi. Kemudian, para santri yang ingin menimba ilmu datang dan turut bermukim di tempat tersebut. Kebutuhan hidup dan biaya pendidikan dipenuhi bersama-sama oleh para santri, dengan dukungan masyarakat sekitar. Pola ini memungkinkan pesantren tetap berjalan stabil, tanpa terlalu terpengaruh oleh fluktuasi ekonomi eksternal. Pesantren telah dikenal di Indonesia sejak masa Walisongo, menjadikannya salah satu sarana utama untuk interaksi intensif antara kiai dan santri dalam proses transfer ilmu-ilmu keislaman dan pengalaman hidup. Salah satu contohnya adalah Sunan Ampel, yang mendirikan padepokan di Ampel. Surabaya, sebagai pusat pendidikan di Jawa, di mana santri dari berbagai wilayah, termasuk Jawa dan Sulawesi (Gowa dan Tall. , datang untuk belajar agama. Pembentukan pesantren melalui proses panjang ini menunjukkan peran pentingnya dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia (Herman, 2. Kepemimpinan dalam masyarakat dimulai dengan terbentuknya figur seorang kiai, yang tidak muncul begitu saja. Kepemimpinan kiai berkembang setelah mendapatkan pengakuan dari masyarakat, di mana kiai dianggap sebagai pemimpin informal yang memiliki keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu Kiai menjadi tokoh rujukan, tidak hanya dalam hal keagamaan tetapi juga dalam menangani berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Pengakuan ini menciptakan budaya ketundukan dan ketaatan, baik dari santri maupun masyarakat sekitar terhadap pesantren dan nilai-nilai yang dipegangnya (Herman, 2. Hubungan antara santri dan kiai merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari santri. Selain tugas utamanya untuk belajar mengaji, santri juga diajarkan untuk berlatih ta'zhim, yaitu sikap hormat dan penghargaan terhadap kiai. Santri yang telah lama tinggal di pondok dan menjadi kepercayaan kiai, dalam kondisi dan syarat tertentu, dapat diangkat menjadi abdi dalem. Hubungan ini menciptakan ikatan yang lebih kuat serta membentuk struktur sosial tertentu di dalam pondok pesantren. JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Konsep abdi dalem di pesantren merupakan hasil pengaruh budaya keraton, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian (Qurdhowi, 2. Tidak ada batasan yang tegas mengenai tugas seorang santri abdi dalem. Salah satu perannya adalah sebagai pelaksana operasional yang bertanggung jawab atas pengelolaan kegiatan organisasi di Dengan adanya santri abdi dalem, pesantren dapat berfungsi secara lebih optimal dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya. Dalam konteks keraton, abdi dalem dianggap sebagai sebuah pekerjaan, meskipun banyak di antaranya menerima gaji yang sangat rendah atau bahkan tidak digaji sama Konsep ini juga menjadi acuan bagi peran abdi dalem di pondok pesantren. Namun, dalam beberapa situasi, abdi dalem di pesantren mendapatkan kemudahan dalam mengakses sarana, prasarana, serta fasilitas yang sesuai dengan kebutuhannya. Meskipun demikian, abdi dalem tidak bekerja demi gaji (Rosyadi, 2. mereka bekerja dengan kesetiaan dan pengabdian penuh kepada kiai. Bahkan, beberapa abdi dalem telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Pengabdian ini tidak hanya dilakukan oleh santri laki-laki, tetapi juga santri perempuan. Abdi dalem di pesantren memiliki pemahaman yang mendalam mengenai masalah-masalah yang ada di sekitar pondok pesantren, karena mereka terlibat secara langsung dalam kehidupan dan operasional pesantren. Pengabdian yang dilakukan oleh abdi dalem merupakan fenomena unik dalam Dalam budaya Jawa, khususnya di lingkungan keraton, abdi dalem semakin jarang diminati karena pergeseran kebutuhan dan rendahnya gaji yang diterima. Namun, hal ini berbeda dengan pengabdian santri abdi dalem di pondok pesantren, yang berasal dari latar belakang dan kultur yang beragam. Meskipun ada pembagian tugas dalam proses menjadi santri dan mengabdi, tujuan mereka tidak semata-mata untuk mencari Santri abdi dalem bekerja dengan ketulusan untuk mengabdi kepada kiai dan pondok pesantren. Menurut peneliti, fenomena ini mencerminkan sesuatu yang unik dalam konsep pendidikan yang berkembang di Jawa, khususnya dalam konteks Sebagaimana dinyatakan oleh (Rosyadi, 2. , tradisi pengabdian ini adalah refleksi dari budaya Jawa yang menempatkan keraton sebagai pusat kehidupan, dan hal serupa terjadi di pesantren. Abdi dalem menjalankan pengabdiannya bukan untuk mendapatkan upah, melainkan untuk mencari berkah, ketenteraman, dan ketenangan. Pengabdian ini dilihat sebagai bagian dari pencarian ilmu yang tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga berkaitan dengan aspek batin dan spiritual (Alfajari, 2. Abdi dalem di pondok pesantren sering mengabdikan diri untuk mencari berkah dari kiai, sebuah praktik yang dikenal sebagai ngalap barokah. JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Berkah merupakan kunci dalam memahami pengabdian yang dilakukan oleh abdi Meskipun bersifat abstrak, berkah memiliki pengaruh yang sangat kuat dan dipegang erat oleh para abdi dalem (Sudaryanto, 2. Abdi dalem berfungsi sebagai simbol bagi santri yang mengabdikan diri kepada guru atau kiai mereka. Konsep diri mencerminkan cara individu memandang dirinya secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Hal ini juga mencakup persepsi individu mengenai sifat dan potensi yang dimilikinya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang terkait dengan pengalaman dan objek, serta tujuan, harapan, dan keinginan yang dimiliki (Sunaryo, 2. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Auerbach dan Silverstein mengatakan penelitian kualitatif adalah penelitian yang melakukan analisis dan interpretasi teks dan hasil interview dengan tujuan menemukan makna dari suatu fenomena. Sugiyono mengutip perkataan Sharan dan Merriam mengatakan bahwa tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam bagaimana orang-orang merasakan dalam proses kehidupannya, memberikan makna dan menguraikan bagaimana orang menginterpretasikan. Creswell mengatakan bahwa terdapat beberapa metode dalam penelitian kualitatif, dan yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Creswell mengatakan fenomenologi adalah salah satu jenis penelitian kualitatif, peneliti melakukan pengumpulan data dengan observasi partisipan untuk mengetahui fenomena esensial partisipan dalam pengalaman hidupnya. Fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Fenomenologi digunakan pada penelitian ini berdasarkan prinsip. Pertama, peneliti akan mencari tahu fenomena apa yang muncul pada diri abdi dalem ketika mengabdikan dirinya pada kiai di pesantren kemudian mencari pemahaman mengenai makna hidup di dalamnya. Kedua, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna hidup bagi abdi dalem kiyai Studi fenomenologi mempelajari sebuah fenomena atau konsep berdasarkan sudut pandang dan keyakinan langsung dari individu atau kelompok individu sebagai subjek yang mengalami langsung. Inilah sebabnya subjek yang dipilih adalah abdi dalem, agar mendapatkan pemahaman mengenai kebermaknaan hidup berdasarkan sudut pandang mereka yang menjalani pengabdian di pesantren milik kiainya tersebut. Pengambilan sample pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, teknik yang melibatkan pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 dengan penelitian. Santri abdi dalem yang memiliki peran penting atau telah lama mengabdi membutuhkan pendekatan yang berbeda maka dari itu peneliti menggunakan teknik ini. Kelebihan pada teknik ini yaitu memberikan fokus yang jelas pada kelompok yang relevan untuk dianalisis dalam konteks Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), terutama jika ingin menilai persepsi dan pengalaman santri terkait privilege yang mereka rasakan. Walaupun memang pada penggunaanya teknik ini rentan terhadap bias dan tidak representatif untuk generalisasi. Mengingat sifat konteks dalam asumsi kualitatif bersifat kritis, maka dalam penelitian ini tidak ada sampel acak dalam penentuan subjek (Sugiyono, 2. Subjek dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling atau pengambilan data bertujuan. Hal ini agar peneliti benar-benar mendapatkan sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga memperoleh data yang akurat. Pada teknik ini subjek yang akan diambil sebagai anggota sampel diserahkan pada pertimbangan pengumpul data yang sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Maka, sampel dalam penelitian ini adalah tiga subjek yang memiliki syarat atau kriteria Adapun kriteria subjek dalam penelitian ini, yaitu: Subjek adalah santri tetap yang mengikuti program serta aktifitas pondok pesantren setiap hari Santri yang memiliki hak sebagai santri tetap dengan mematuhi syarat dan prasyarat yang ada di Pondok Pesantren Maimunah Fil Madinah Subjek adalah santri yang menjadi abdi dalem kiai di Ponpes Maimunah Fil Madinah Mayangan. Yayasan MidanuttaAolim memiliki empat unit pesantren, setiap unit memiliki kiai atau pengasuh sendiri-sendiri, dan setiap kiai memiliki abdi dalem. Peneliti mengambil abdi dalem dari salah satu pesantren yang merupakan santri putra yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan formalnya (SMA/MA) yang kemudian memilih untuk menjadi abdi dalem daripada pulang dan meniti karier. Subjek adalah abdi dalem berusia 19-30 tahun atau belum menikah Usia 19 tahun didasarkan pada usia abdi dalem ketika ia lulus sekolah yakni pada masa-masa remaja. Sedangkan batas akhir 30 tahun ini didasarkan pada pengamatan peneliti yang melihat dan menerima informasi bahwa usia paling tua santri yang menjadi abdi dalem tidak sampai 30 tahun. Apabila dijumpai abdi dalem yang berpamitan pulang dan berhenti menjadi pengabdi kiai, menurut pengamatan peneliti JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 hal itu disebabkan karena abdi dalem akan menikah atau membangun rumah tangga. Maka, peneliti memberikan batasan usia subjek 19-30 tahun. Subjek telah mengabdi di pesantren sekurang-kurangnya tiga tahun. Agar mendapatkan pengalaman yang komprehensif maka peneliti memilih batas minimal santri abdi dalem yang telah menempuh masa pengabdian selama tiga tahun. Santri abdi dalem dapat digambarkan sebagai seorang yang menjalankan segala perintah kiai dan mengurusi segala keperluan keluarga kiai. Abdi dalem adalah santri yang telah selesai mengenyam pendidikan formal dan menerima atau memilih menjadi pengabdi kepada kiai. Adapun awal masuknya santri yang menjadi abdi dalem bisa melalui tawaran langsung dari kiai ataupun pengurus pesantren dan juga karena ditunjuk langsung oleh kiai karena sebelumnya telah menjadi pengurus Aktivitas keseharian abdi dalem adalah melakukan kegiatan yang sering dilakukan oleh asisten rumah tangga seperi mencuci, memasak, belanja, dan membersihkan halaman. Bahkan, ada pula abdi dalem yang mengurusi segala keperluan sekolah putra kiai. Semua hal tersebut dilakukan oleh abdi dalem dengan tanpa imbalan atau gaji dari kiai, santri abdi dalem hanya mengharapkan keberkahan dan kemanfaatan ilmu yang telah ia peroleh selama menjadi santri di pesantren. Setelah mendapatkan data yang dibutuhkan lalu data diolah dan dianalisis menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dengan teknik purpossive sampling. Metode pengambilan data dengan menggunakan obervasi, dokumentasi dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara ini dilakukan di Pondok Pesantren Maimunah Fil Madinah Mayangan. Pesantren beralamatkan di Yayasan MidanuttaAolim Dusun Tugurejo Desa Mayangan Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang. Pada teknik ini subjek yang akan diambil sebagai sampel diserahkan pada pertimbangan pengumpul data yang sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Maka, sampel dalam penelitian ini adalah tiga subjek yang memiliki syarat atau kriteria tertentu. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian akan dianalisis dengan mengkorelasikan data yang diperoleh di lapangan dengan teori yang digunakan. Teori yang digunakan yaitu teori interaksionalisme simbolik milik Mead yang menjelaskan mengenai peran santri abdi dalem dan pola hubungan yang ada di pondok pesantren untuk memahami eksistensi santri dalem yang menekankan pada bagaimana individu menciptakan makna melalui JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 penerapan teori ini. Untuk menganalisis peran santri abdi dalem menggunakan lensa teori Mead, penulis mempertimbangkan point penerapannya, yakni: Konstruksi identitas Santri dalem sebagai simbol status Santri hanya ditentukan oleh peran formalnya, tetapi juga oleh simbolsimbol yang melekat padanya, seperti pakaian khas, tempat tinggal khusus, dan akses ke kiai. Simbol-simbol ini membentuk persepsi orang lain terhadap santri dalem dan pada akhirnya membentuk identitas. Dari data yang didapat seorang santri memiliki ciri khas menggunakan pakaian busana muslim dan sarung serta kopiyah dan sering membantu di ndalem. Dengan adanya simbol status pada diri santri abdi dalem berpengaruh pada pola perilaku yang terjadi pada dinamika di dalam pondok pesantren. Interaksi dengan kiai Interaksi sehari-hari dengan kiai membentuk cara pandang santri dalem tentang dirinya sendiri dan perannya dalam pesantren. Melalui interaksi ini, santri dalem belajar tentang nilai-nilai, norma, dan harapan yang terkait dengan peran mereka. santri abdi dalem yang memiliki hubungan yang dekat dengan gus, kiai dan orang yang ada di dalem akan memiliki rasa ingin membantu, adanya hubungan yang intens ini akan membuat keterikatan santri dengan kiai atau warga ndalem. Proses internalisasi nilai-nilai tradisi pondok pesantren Sosialisasi primer Proses sosialisasi primer yang terjadi di lingkungan pesantren, terutama melalui interaksi dengan kiai dan santri senior, membentuk nilainilai dan norma yang diyakini oleh santri ndalem. Hubungan yang intens ini akan menumbuhkan sikap normatif yang diyakini dan diterapkan dalam kehidupan santri abdi dalem. Internalisasi peran Santri dalem secara aktif menginternalisasi peran dan tanggung jawab yang melekat pada status mereka. Mereka belajar untuk mengidentifikasi diri sebagai bagian integral dari pondok pesantren dan menjalankan tugas-tugas mereka dengan penuh tanggung jawab, peran yang terinternalisasi merupakan peran yang dapat berubah-ubah, dengan melihat kondisi pondok pesantren Maimunah Fil Madinah, peran dan tugas-tugas yang diemban oleh santri abdi JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 dalem juga tidak terlalu banyak, penugasan oleh kiai merupakan penugasan terapan yang dapat dilihat dari tugas yang dilakukan pada bidang masingmasing abdi dalem. Interaksi simbolik dalam keseharian santri abdi dalem Bahasa tubuh Bahasa tubuh, gestur, dan cara berbicara santri dalem mencerminkan status dan peran mereka. Peran dan tugas yang dilakukan oleh santri abdi dalem menekankan pada ketulusan dalam melakukannya, yang tercermin dalam perilaku santri abdi dalem. Ibadah dan program Partisipasi dalam program dan kegiatan yang ada di pondok pesantren akan memperkuat ikatan sosial dan identitas kolektif santri abdi dalem dalam memperkuat kepercayaan spiritual santri, serta keinginan santri abdi dalem mencari ilmu dan keberkahan. Sistem simbol Simbol-simbol yang digunakan dalam pesantren, seperti pakaian, gelar, dan tempat duduk, memiliki makna khusus yang hanya dipahami oleh warga yang ada di pesantren. Dinamika kekuasaan Hubungan kiai - santri abdi dalem Hubungan antara kiai dan santri abdi dalem merupakan hubungan yang tidak Kiai memiliki otoritas yang lebih tinggi dan dapat mempengaruhi perilaku santri abdi dalem. Pada hubungan ini pengaruh status santri yang lebih rendah dari kiai memiliki unsur patron yang dimplementasikan dengan konsep ngalap barokah. Negosiasi makna Meskipun ada hierarki, santri abdi dalem juga memiliki ruang untuk bernegosiasi dan membentuk makna bersama dengan kiai dan santri lainnya, negosiasi yang dimaksud merupakan negosiasi yang berhubungan dengan tugas dan peran abdi dalem itu sendiri. Pada teori ini juga memiliki implikasi pada penggunaannya dalam penelitian ini, di antaranya : Pentingnya simbol Simbol-simbol yang melekat pada santri abdi dalem memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan perilaku mereka sebab dengan adanya simbol JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 santri abdi dalem akan melakukan tugasnya sesuai dengan konsep hubungan yang berlaku. Dinamika sosial Eksistensi santri abdi dalem tidak statis, tetapi terus berubah seiring dengan perubahan sosial dan interaksi dengan orang lain. Pada penelitian ini peneliti menemukan hubungan yang ada di pesantren semakin kompleks, dengan adanya dinamika yang ada, peran santri abdi dalem tidak terputus hanya pada hubungan kiyai dan santri saja, namun juga pada hubungan santri dengan santri yang berstatus berbeda. Konstruksi sosial realitas Realitas sosial yang dialami oleh santri abdi dalem adalah hasil konstruksi bersama melalui interaksi sosial yang tumbuh atas kondisi sosial dalam pondok pesantren. Hasil dari interkasi yang menumbuhkan sikap dan mindset para santri dalam melakukan tindakan yang sesuai dengan aturan yang Pada dasarnya hasil kontruksi akan menghasilkan norma-norma yang akan berlaku di lingkungan sosial tersebut. Pada teori selanjutnya peneliti ingin melihat hubungan timbal balik yang ada di antara anggota pondok pesantren dengan menggunakan teori pertukaran sosial milik Peter M. Blau yang merupakan seorang sosiolog dan pemikir yang berasal dari Austria. Sebagian besar dari sumbangan terhadap Sosiologi adalah dalam bidang organisasi kelompok. Seperti cara peneliti menganalisis data yang di atas, penerapan teori dengan data yang sudah disajikan sebagai berikut : Pertukaran Layanan dan Pembelajaran Santri abdi dalem biasanya memberikan layanan tertentu kepada pesantren atau kiai, seperti membantu dalam urusan ndalem, kebersihan, atau tugastugas lain. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan pendidikan agama, bimbingan spiritual, dan juga akses ke sumber daya lain yang ada di pesantren yang memberikan sebuah privilege yang tidak dimiliki santri yang Hal tersebut menjadikan hubungan atau affiliate yang menguntungkan kedua pihak atau bisa merugikan salah satu pihak. Dalam pertukaran layanan ini santri abdi dalem memposisikan sebagai murid yang sedang belajar dengan hubunngan timbal balik yang saling menguntungkan sebab adanya hubungan guru dengan murid. Kepercayaan dan loyalitas JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Hubungan antara santri abdi dalem dan kiai atau pesantren didasari oleh kepercayaan dan loyalitas. Santri memberikan kepercayaan penuh kepada kiai sebagai pemimpin spiritual dan guru, sementara kiai atau pesantren memberikan kepercayaan kepada santri abdi dalem untuk melaksanakan tugas-tugas yang penting. Loyalitas santri abdi dalem dibalas dengan perhatian dan bimbingan yang diberikan oleh kiai. Pada posisi ini santri abdi dalem menjadi seorang pesuruh atau aisiten kiai dalam hubungan yang dibungkus dengan rasa percaya seorang asisten kepada atasannya, trust yang sudah tertanam juga merupakan hasil dari kosntruksi nilai yang diberikan melalui kewibawaan seorang kiai atau hal lain, di sini santri abdi dalem memiliki kecenderungan menerima instruksi dari kiainya. Penghargaan sosial dan spiritualitas Santri abdi dalem sering kali mendapat penghargaan sosial dari komunitas pesantren, seperti diakui sebagai orang yang taat dan berdedikasi. Di sisi lain, mereka juga memperoleh penghargaan spiritual, seperti kedekatan seorang abdi dalem dengan kiai atau kesempatan untuk belajar langsung dari tokoh yang dihormati. Adanya nilai penghargaan dari beberapa pihak yang memiliki keterkaitan menumbuhakan kepercayaan, kenyamanan dan rasa dihormati melalui nilai norma maupun materi. Saling memberi dan menerima Teori pertukaran sosial mengedepankan konsep timbal balik. Dalam konteks ini, santri abdi dalem memberikan kontribusi kepada pesantren Maimunah Fil Madinah melalui tenaga dan waktu, dan sebagai imbalannya, mereka menerima pendidikan, perlindungan, serta mungkin akses ke jaringan sosial yang lebih luas. Konsep ngalap barokah merupakan konsep timbal balik satu arah yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang diberikan dan diterima, pada posisi ini santri terkadang diberikan peluang yang kurang menguntungkan sebab kehadiran konsep timbal balik dalam pertukaran nilai ini tidak berpatokan pada nilai materi namun pada hubungan nilai adat. Komitmen dan Pengorbanan Hubungan ini juga melibatkan komitmen dan pengorbanan dari kedua belah Santri abdi dalem terkadang harus berkorban waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugas-tugasnya, sementara pesantren atau kiai JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 memberikan bimbingan dan dukungan yang diperlukan bagi pertumbuhan spiritual dan intelektual bagi santri. Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa santri abdi dalem memiliki peran Peran dan tugas yang diemban oleh sastri abdi dalem didasarkan pada momentum yang didapatkan oleh santri abdi dalem itu sendiri, adanya peran abdi dalem juga terdapat hubungan timbal balik antara santri dengan pondok pesantren ataupun kiai selaku pengasuh, hal tersebut berupa privilege berupa beberapa kemudahan yang digunakan dalam mengakses maupun mendapatkan kebutuhan santri abdi dalem dengan pola hubungan ini santri biasa juga akan dapat mendapatkan hal yang sama, pada konteks pengabdian pasti terdapat hubungan Patron-Client antara kiai dengan santri. Abdi dalem yang dekat dengan kiai bukan hanya soal fisik dan kedekatan ruang, tetapi juga tentang bagaimana seorang santri menunjukkan kemampuan dan kesungguhan dalam tugas yang dipercayakan. Setiap abdi dalem menjalani proses yang panjang dan penuh tanggung jawab sebelum akhirnya menjadi orang kepercayaan kiai. Sebagai contoh, ada seorang santri yang menjadi abdi dalem karena kemampuannya dalam memanajemen keuangan pondok. Awalnya, santri tersebut hanya diberikan tugastugas kecil, seperti membantu meberikan uang saku kepada santri lainnya menjadi bendahara saat iuran-iuran kecil. Namun, seiring waktu, kiai melihat potensi lebih dari santri itu, terutama dalam hal keuangan. Santri tersebut memiliki ketelitian dan tanggung jawab, sehingga ia mulai dipercaya untuk mengelola keuangan pondok, dari pengaturan pemasukan hingga pengeluaran pesantren. Keberhasilan dalam menjalankan tugas ini tidak hanya mendekatkan santri tersebut secara profesional dengan kiai, tetapi juga mempererat hubungan personal. Kiai mulai memberikan tanggung jawab yang lebih besar, dan seiring itu, kepercayaan juga tumbuh semakin kuat. Kedekatan ini bukan hanya karena santri mampu menjalankan tugas keuangan dengan baik, tetapi karena kiai melihat bahwa santri tersebut memiliki kesetiaan dan pemahaman yang mendalam tentang visi dan misi pondok. Selain itu, santri tersebut juga selalu menunjukkan sikap rendah hati dan rasa hormat kepada kiai, serta selalu berusaha memahami kehendak dan arahan kiai dengan sepenuh hati. Ini adalah salah satu bentuk khidmat tertinggi, di mana pengabdian santri tidak hanya berdasarkan perintah, tetapi dari keinginan untuk mendukung kiainya dengan ikhlas. Dalam prosesnya, kemampuan yang dimiliki santri seperti manajemen keuangan tidak hanya memberikan manfaat praktis bagi pondok, tetapi juga menciptakan hubungan yang semakin erat dengan kiai, yang melihat abdi dalem tersebut JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 sebagai seseorang yang kompeten, dan mendukung keberlangsungan pesantren melalui kemampuan yang dimiliki santri abdi dalem tersebut. Dari informasi yang peneliti dapatkan santri yang mengabdikan di ndalem merupakan santri yang memiliki kemampuan di bidangnya, seperti santri yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pengajar, santri tersebut akan membantu untuk melaksanakan program-program mengajar tertentu, lalu ada santri yang memiliki keahlian dalam memberikan kenyamanan dalam berkendara, maka santri tersebut akan diberikan tugas untuk menjadi sopir kiai. Pada status tertinggi santri abdi dalem yaitu santri yang paling dekat dengan kiainya, biasanya santri tersebut masih memiliki hubugan dekat sejak awal menjadi seorang santri yang lambat laun diberikan kepercayaan lebih dari santri ndalem lainnya. Saat ini di pondok pesantren Maimunah Fill Madinah memiliki santri abdi dalem yang sangat dekat dengan kiainya sebab banyak tugas yang dapat dilakukkannya bukan hanya pada satu atau bidang saja. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat beberapa rumusan masalah yang telah ditentukan dalam penelitian ini, yakni peran santri abdi dalem, bagaimana hubungan sosial dan pengetahuan para santri, dan apa saja privilege yang dimiliki oleh santri abdi dalem serta hal yang terjadi saat santri abdi dalem memiliki privilege di kalangan santri di pondok pesantren. Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, peneliti telah melakukan observasi di lapangan dan melakukan wawancara pada beberapa santri putra dan santri abdi dalem mengenai perannya di pondok Beberapa narasumber yang terdapat dalam penelitian ini yaitu empat santri putra dari kalangan santri lama dan santri baru yang mengabdikan dirinya ke pondok pesantren dan tiga santri putra sebagai informan penelitian. Peran Santri Abdi Dalem Santri abdi dalem memiliki peranan yang sangat yang sangat penting dalam operasional pondok pesantren dari beberapa tugas santri abdi dalem sebagai berikut : Sebagai penjaga tradisi dan teladan bagi semua santri Bagi santi abdi dalem yang menjaga hubungan dengan santri lainnya secara tidak langsung mengajarkan kepada santri tersebut mengenai etika dan tradisi yang telah ada di pondok pesanren Maimunah Fil Madinah. Di kalangan santri, santri senior merupakan santri yang biasa dijadikan panutan begitu pula santri abdi dalem posisi yang mengikat seorang abdi dalem selain seorang santri senior yaitu mengajarkan JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 tradisi-tradisi yang ada di pondok pesantren Maimunah Fil Madinah. Santri abdi dalem yang sering sekali memberikan arahan kepada santri yang lain melaksanakan aturan-aturan yang ada seperti yang dikatakan oleh Arul selaku ketua pondok pesantren Maimunah Fil Madinah dan santri abdi dalem, dalam memahami tradisi di pondok pesantren seorang santri juga harus lebih sering berintraksi dengan santrisantri lainnya yang lebih tua, peran abdi dalem juga tidak terlepas dari hal ini, tindak tumindak atau tingkah laku santri juga secara tidak langsung diajarkan oleh santri abdi dalem seperti contoh saat kiai memanggil sikap yang diterapkan oleh santri abdi dalem juga dilihat oleh santri lain. Pada kondisi tertentu santri abdi dalem membantu para santri menemukan jalan keluarnya, pada prosesnya santri abdi dalem juga tidak terlepas dari hubungan kiai dan santri di mana poin ini menjadi hubungan yang berkelanjutan berupa hubungan kekeluargaan ataupun hubungan yang saling menguntungkan. Sebagai penghubung antar generasi Waktu yang dibutuhkan santri abdi dalem untuk menghubungkan generasi ke generasi memerlukan waktu, ikatan yang baik antar santri akan menumbuhkan sikap saling mengerti. Sebagai asisten kiai Peran ini sering santri jumpai pada saat mereka melakukan aktifitas sehari-hari. Hal ini terbentuk melalui ikatan atau hubungan yang berkelanjutan yang mengedepankan keikhlasan. Santri abdi dalem juga memiliki privilege atau hak istimewa sebagai berikut : Kepercayaan khusus yang didapatkan oleh santri saat menjadi seorang santri abdi dalem memungkinkan santri mendapatkan kepercayaan lebih dari sekedar seorang santri biasa melalui peran dan tugas seorang abdi dalem yang besar, dengan kepercayaan ini santri akan mendapatkan peluang lebih dekat dengan kiai. Memiliki akses ke ndalem untuk mendapatkan hak lebih dari seorang abdi dalem dengan keuntungan yang didapatkan mulai dari sering mendapatkan benefit berupa imbalan materi atau nonmateri dari pengasuh maupun pondok pesantren, pada pertukaran ini santri abdi dalem nilai yang didapatkan tidak lebih atau hampir sama dengan santri lainnya yang membedakan hanya pada beberapa hal. Terbentuknya status sosial di antara pengasuh dan santri sebab ada hubungan senioritas di antara santri, kembali lagi pada kepentingan dan hubungan antar senior dan junior yang memiliki pengaruh, dan yang memiliki hubungan lebih dekat. JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Hubungan ini akan lebih menguntungkan santri abdi dalem sebab memiliki kuasa dalam mengatur. Terbantunya santri abdi dalem dengan adanya sarana yang diberikan oleh dalem saat santri abdi dalem membutuhkan, namun di sini juga terbatas pada penggunaan ndalem dan kepentingan lainnya. Memiliki status yang lebih tinggi dengan santri lainnya yang menyebakan hubungan Keleluasaan dalam mengikuti program yang ada di pondok pesantren Maimunah Fil Madinah dengan adanya keleluasaan tersebut santri abdi dalem dapat kapan saja untuk menetukan waktunya. Kemudahan dalam mengakses sarana dan prasarana seperti saat menggunakan kendaraan pondok pesantren, hal ini berlaku pada santri yang memiliki kepentingan Keringanan dalam pembayaran syahriyah bulanan bagi beberapa santri. Peluang untuk semakin dikenal oleh santri lain semakin tinggi dalam pesantren maupun di luar lingkunagn pesantren, peluang ini digunakan untuk membuat jaringan atau hubungan dengan pihak luar pondok pesantren. Peluang dalam memanajemen dan mengorganisir pondok pesantren akan tetap ada yang dilakukan saat menjadi pengurus, peluang ini tidak selalu berlaku pada santri abdi dalem saja namun juga santri lainnya. Dalam kemudahan dalam mengakses semua privillage diatas, santri abdi dalem memiliki tanggung jawab serta tugas yang besar dalam memenuhi perannya, namun terkadang hal ini tidak sebanding dengan tanggung jawab yang diberikan dengan adanya konsep ngalap barokah yang berlaku. JURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 DAFTAR PUSTAKA