Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Journal Homepage: http://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr Tantangan Implementasi Kurikulum PAI dalam Penguatan Karakter Raihan ArAorasyid1. Hilwa Azizah2. Nabiihah Nurshabila3. Alimah Inamasula4. Abdurrahmansyah5 1,2,3,4,5 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Indonesia Corresponding Author: : raihanarrasyidmuhammad138@gmail. ABSTRACT ARTICLE INFO Article history: Received 01 November 2025 Revised 05 November 2025 Accepted 07 November 2025 Key Word How to cite Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peranan penting dalam membentuk kepribadian peserta didik sesuai dengan nilai ajaran Islam sekaligus prinsip moral bangsa. Akan tetapi, pelaksanaan kurikulum PAI dalam konteks penguatan karakter masih menghadapi berbagai hambatan. Dari aspek internal, keterbatasan kompetensi pedagogik dan profesional guru, metode pembelajaran yang cenderung monoton, serta kurangnya pemanfaatan media dan inovasi pendidikan sering menjadi penghalang. Sementara itu, faktor eksternal seperti arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, lingkungan sosial yang kurang mendukung, dan lemahnya peran keluarga turut memperumit proses pembinaan karakter. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis berupa peningkatan kapasitas guru, penyusunan kurikulum yang adaptif, penggunaan teknologi secara bijak, serta sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Dengan dukungan seluruh pihak, implementasi kurikulum PAI diharapkan mampu menghasilkan generasi berakhlak, beriman, dan berkarakter kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. PAI. Kurikulum. Implementasi. Pembentukan Karakter. Tantangan Islamic Religious Education. Curriculum. Implementation. Character Building. Challenges https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu instrumen penting dalam membentuk kepribadian dan arah pembangunan suatu bangsa. Melalui pendidikan, nilai, norma, serta pengetahuan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Salah satu aspek krusial dari pendidikan adalah upaya menanamkan nilai-nilai karakter, yang pada hakikatnya tidak hanya membekali peserta didik dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk akhlak mulia dan sikap sosial yang harmonis. (M. Qomar, 2. Dalam konteks ini. Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peranan strategis karena tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga menekankan internalisasi nilai moral dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. (Al-Abrasyi, 2. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 968-975 Di Indonesia, kurikulum PAI diharapkan mampu menjadi sarana untuk menumbuhkan keimanan, ketaqwaan, serta akhlak mulia yang selaras dengan visi pendidikan nasional. (Kementerian Pendidikan, 2. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa implementasi kurikulum PAI dalam penguatan karakter masih menghadapi berbagai hambatan. Tantangan tersebut tidak hanya berasal dari faktor internal, seperti keterbatasan guru dalam mengembangkan metode inovatif atau penggunaan media pembelajaran yang masih terbatas, (Mustopa, 2. tetapi juga dari faktor eksternal, seperti derasnya arus globalisasi, pengaruh teknologi digital, serta lingkungan sosial yang kurang kondusif bagi pembinaan moral peserta didik. (Rahman, 2. Urgensi penguatan karakter melalui PAI semakin meningkat seiring dengan perubahan zaman. Generasi muda saat ini dihadapkan pada dilema antara nilai-nilai lokal yang berbasis budaya dan agama dengan nilai-nilai global yang seringkali tidak sejalan dengan prinsip moral bangsa. (Nuryana, 2. Oleh karena itu, kajian mengenai tantangan implementasi kurikulum PAI menjadi relevan untuk dilakukan. Kajian ini tidak hanya bertujuan mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi dalam praktik pembelajaran, tetapi juga mengusulkan strategi yang dapat ditempuh agar kurikulum PAI benar-benar berfungsi sebagai instrumen pembentuk karakter (Rahman A. , 2. Dengan memahami permasalahan yang ada secara komprehensif, diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan pendidikan, khususnya dalam memperkuat integrasi antara kurikulum PAI dan program pendidikan karakter. (Hasbullah, 2. Pada akhirnya, pendidikan agama diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepribadian tangguh, moral yang baik, serta kesiapan menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai umat beragama dan warga negara Indonesia. (Suryani, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan library research dengan metode kualitatif Tujuannya adalah untuk menggambarkan tantangan implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam penguatan karakter peserta didik melalui telaah literatur. Sumber utama diperoleh dari buku, jurnal, laporan penelitian, serta dokumen resmi kebijakan kurikulum. Literatur yang ditelaah mencakup teori implementasi kurikulum, peran guru PAI, strategi pembelajaran berbasis karakter, serta hasil penelitian terdahulu terkait integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran agama di sekolah menengah. (Al-Barasyi, 2. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis konten yang mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 968-975 kesimpulan/verifikasi. Validitas temuan diperkuat melalui triangulasi teori dan sumber, yaitu dengan membandingkan hasil kajian dari berbagai literatur yang relevan. Dengan demikian, penelitian berbasis pustaka ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai kendala dan strategi dalam penerapan Kurikulum PAI untuk memperkuat karakter peserta didik di lingkungan sekolah. (M. Qomar, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Tantangan Internal Implementasi Kurikulum PAI Hasil penelitian memperlihatkan bahwa salah satu hambatan utama dalam penerapan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) terletak pada faktor internal, yang mencakup aspek guru, metode pembelajaran, serta sarana pendukung. Dari sisi pendidik, kualitas guru masih menunjukkan variasi yang cukup lebar, baik dalam kompetensi pedagogik, profesionalisme, maupun kemampuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran. Tidak semua guru mampu mengaitkan materi ajar dengan konteks kehidupan nyata peserta didik, sehingga nilai karakter yang diajarkan sering kali berhenti pada tataran konsep dan belum sepenuhnya diaplikasikan dalam perilaku keseharian siswa. (Mustofa, 2. Selain itu, metode pembelajaran yang dipraktikkan sebagian besar guru masih didominasi oleh pendekatan tradisional berupa ceramah satu arah. Cara mengajar seperti ini memang mudah diterapkan, tetapi cenderung kurang memberi ruang bagi keterlibatan aktif siswa dalam diskusi, pemecahan masalah, maupun pengembangan keterampilan berpikir kritis. Kondisi tersebut berimplikasi pada rendahnya efektivitas pembelajaran dalam menanamkan nilai nilai karakter Islami, karena siswa hanya menerima informasi secara pasif tanpa kesempatan untuk merefleksikan dan mempraktikkannya secara langsung. (Sari, 2. Akibatnya, siswa cenderung kurang termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran dengan antusias. Hal ini semakin diperparah dengan kondisi beberapa sekolah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, seperti akses internet yang belum merata dan fasilitas teknologi yang minim. (Nurhadi, 2. Situasi ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa pelaksanaan Kurikulum PAI dihadapkan pada tantangan internal yang cukup kompleks. Ketidaksiapan guru dalam mengelola pembelajaran yang interaktif serta minimnya pemanfaatan media modern menjadikan proses pembelajaran berjalan kurang optimal. Padahal, dalam konteks penguatan karakter, peserta didik seharusnya tidak hanya diberikan materi kognitif, tetapi juga diarahkan untuk membangun sikap, perilaku, serta kebiasaan yang mencerminkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, keberhasilan implementasi Kurikulum PAI akan sangat bergantung pada kualitas guru dan sejauh mana sekolah mampu menyediakan dukungan internal yang memadai untuk menunjang pembelajaran. (Hidayat, 2. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 968-975 Lebih jauh, menegaskan bahwa hambatan internal dalam implementasi kurikulum, termasuk Kurikulum PAI, tidak hanya sebatas pada keterbatasan guru dan fasilitas, tetapi juga berkaitan dengan lemahnya integrasi aspek sosial dan kultural dalam pembelajaran. Padahal, menurut perspektif sosio-kultural, perkembangan kognitif dan karakter siswa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya yang melingkupinya. Jika faktor ini diabaikan, maka pembelajaran PAI akan sulit mencapai tujuannya secara optimal, khususnya dalam membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islami di tengah keragaman budaya peserta didik. (Suci Hidayati, 2. Tantangan Eksternal dalam Penguatan Karakter Selain kendala internal yang bersumber dari sekolah, penelitian ini juga mengidentifikasi adanya tantangan eksternal yang berpengaruh signifikan terhadap implementasi Kurikulum PAI, khususnya dalam penguatan karakter. Salah satu faktor utama adalah derasnya arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital yang begitu Peserta didik di era saat ini lebih banyak berinteraksi dengan konten digital melalui media sosial, internet, dan platform hiburan yang tidak selalu sejalan dengan nilai moral maupun ajaran agama. Kondisi tersebut menjadikan sekolah menghadapi kesenjangan yang cukup besar antara apa yang diajarkan melalui pembelajaran formal dengan realitas pengalaman sehari-hari peserta didik di luar sekolah. (Rahman F. Paparan yang intens terhadap budaya global sering kali mengubah pola pikir, gaya hidup, bahkan preferensi nilai generasi muda. Misalnya, kecenderungan untuk mengutamakan individualisme, kebebasan tanpa batas, dan pola konsumsi hedonistik yang mudah ditemukan di dunia maya. Hal ini menantang guru PAI untuk mampu menyaring serta mengaitkan ajaran Islam dengan situasi aktual yang dihadapi siswa. Tanpa upaya pedagogis yang relevan, pembelajaran PAI berisiko dianggap ketinggalan zaman atau tidak sesuai dengan kebutuhan hidup peserta didik di tengah derasnya arus informasi global. (Putra, 2. Selain itu, lingkungan sosial yang kurang mendukung juga memperkuat tantangan eksternal dalam penguatan karakter. Tidak semua komunitas atau masyarakat sekitar sekolah memiliki kepedulian terhadap pembentukan karakter anakanak. Lingkungan pergaulan yang permisif, praktik tawuran pelajar, hingga budaya konsumtif menjadi realitas sosial yang sering kali melemahkan nilai-nilai karakter Islami yang sudah ditanamkan di sekolah. Situasi ini semakin berat ketika peran keluarga, yang seharusnya menjadi fondasi utama pendidikan karakter, tidak berfungsi optimal dalam mengawasi anak. Banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kurang memberikan perhatian terhadap pembentukan sikap, perilaku, dan nilai moral anak-anak mereka. (Suryani N. , 2. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 968-975 Kondisi eksternal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter melalui PAI tidak dapat berjalan secara mandiri hanya dalam lingkup sekolah. Penguatan karakter membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lembaga pemerintah, agar tercipta sinergi dalam membentuk pribadi peserta didik yang berakhlak mulia. Tanpa adanya dukungan dari lingkungan sosial dan keluarga, maka pembelajaran PAI di sekolah akan menghadapi keterbatasan besar dalam menginternalisasikan nilai-nilai keislaman ke dalam kehidupan nyata siswa. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi keharusan untuk menjawab tantangan eksternal yang semakin kompleks di era modern. (Zahra. Table 1. Tantangan Internal dan Eksternal dalam Implementasi Kurikulum PAI. Strategi Penguatan Kurikulum PAI Untuk menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, diperlukan strategi implementasi kurikulum PAI yang menyeluruh, terencana, dan berkelanjutan. Salah satu langkah awal yang sangat penting adalah meningkatkan profesionalisme Guru PAI tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dalam membentuk karakter siswa. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan kompetensi guru harus dilakukan secara berkesinambungan, baik melalui workshop, seminar, maupun kegiatan pelatihan berbasis teknologi. Dengan adanya peningkatan profesionalisme, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan berorientasi pada pembentukan karakter Islami yang kokoh. (Abdurrahmansyah, 2. Selain peningkatan kualitas pendidik, kurikulum PAI juga perlu disusun secara adaptif agar selaras dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan perkembangan Adaptivitas ini mencakup penyesuaian materi, metode, dan strategi pembelajaran yang relevan dengan kondisi sosial, budaya, serta perkembangan Kurikulum yang kaku dan tidak kontekstual akan sulit menjawab tantangan Sebaliknya, kurikulum yang fleksibel memungkinkan siswa untuk tidak hanya memahami nilai-nilai agama secara teoritis, tetapi juga menerapkannya dalam konteks kehidupan nyata. (Abdurrahmansyah, 2. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 968-975 Untuk menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, diperlukan strategi implementasi kurikulum PAI yang menyeluruh, terencana, dan berkelanjutan. Salah satu langkah awal yang sangat penting adalah meningkatkan profesionalisme Guru PAI tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dalam membentuk karakter siswa. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan kompetensi guru harus dilakukan secara berkesinambungan, baik melalui workshop, seminar, maupun kegiatan pelatihan berbasis teknologi. Dengan adanya peningkatan profesionalisme, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan berorientasi pada pembentukan karakter Islami yang kokoh. (Hidayat R. , 2. Selain peningkatan kualitas pendidik, kurikulum PAI juga perlu disusun secara adaptif agar selaras dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan perkembangan Adaptivitas ini mencakup penyesuaian materi, metode, dan strategi pembelajaran yang relevan dengan kondisi sosial, budaya, serta perkembangan Kurikulum yang kaku dan tidak kontekstual akan sulit menjawab tantangan Sebaliknya, kurikulum yang fleksibel memungkinkan siswa untuk tidak hanya memahami nilai-nilai agama secara teoritis, tetapi juga menerapkannya dalam konteks kehidupan nyata. (Kurniawan, 2. Strategi berikutnya adalah pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pembelajaran yang positif. Dunia digital yang sebelumnya lebih banyak menjadi tantangan kini dapat dijadikan peluang untuk mendukung pendidikan karakter. Guru dapat mengintegrasikan aplikasi pembelajaran Islami, media interaktif, hingga platform e-learning berbasis nilai-nilai keislaman. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga diarahkan untuk menggunakan teknologi secara bijak. Dengan demikian, pendidikan PAI mampu hadir secara relevan dalam dunia digital yang memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. (Fauzi A. , 2. sementara masyarakat harus turut menciptakan iklim sosial yang kondusif bagi tumbuhnya karakter Islami. Kolaborasi yang harmonis antara ketiga elemen ini akan memperkuat keberhasilan pembelajaran PAI dalam menanamkan nilai iman, akhlak mulia, serta kesiapan menghadapi perubahan global yang dinamis. Dengan adanya strategi komprehensif ini, kurikulum PAI tidak hanya berhenti pada aspek normatif, tetapi juga aplikatif dalam membentuk generasi yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Susanto, 2. KESIMPULAN Implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam penguatan karakter menghadapi sejumlah tantangan yang tidak ringan, baik dari sisi internal maupun eksternal. Dari aspek internal, masalah utama terletak pada kualitas dan Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 968-975 profesionalisme guru yang masih beragam, penggunaan metode pembelajaran tradisional yang kurang interaktif, serta keterbatasan pemanfaatan media dan Faktor-faktor ini menjadikan proses pembelajaran PAI belum sepenuhnya optimal dalam membentuk pribadi peserta didik yang berakhlak mulia. Dari aspek eksternal, arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital membawa pengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku generasi muda. Peserta didik semakin terpapar pada konten-konten digital yang tidak selalu sejalan dengan nilai agama, ditambah dengan lingkungan sosial yang kurang mendukung dan lemahnya peran keluarga dalam pengawasan. Kondisi ini menegaskan bahwa pendidikan karakter melalui PAI tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus diperkuat dengan dukungan keluarga dan masyarakat. Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan strategi komprehensif yang mencakup peningkatan profesionalisme guru melalui pelatihan berkelanjutan, penyusunan kurikulum yang adaptif dengan perkembangan zaman, pemanfaatan teknologi secara positif melalui media interaktif Islami, serta sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Strategi ini diharapkan menjadikan Kurikulum PAI tidak hanya normatif dalam tataran konsep, tetapi juga aplikatif dalam membentuk generasi yang beriman, berkarakter, dan siap menghadapi dinamika global. Dengan demikian, keberhasilan implementasi Kurikulum PAI sangat bergantung pada kolaborasi multi-pihak dan keseriusan dalam mengatasi hambatan yang ada. Apabila tantangan internal dan eksternal dapat dikelola dengan baik, maka kurikulum PAI akan mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan karakter peserta didik dan pembangunan peradaban bangsa. DAFTAR PUSTAKA